Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 18. Dokumen Kesepakatan


__ADS_3

Palm Garden adalah rumah berlantai dua bergaya eropa, didominasi warna putih dengan lantai granit dan kaca-kaca di beberapa sekatnya. Ada taman-taman di tengah ruangan yang membuat suasana terasa segar. Tidak banyak pelayan yang terlihat tapi tetap saja Lisle merasa canggung saat di ruang makan. Kepala pelayan yang mengantarnya ke sana tengah menata sarapan yang dibawa seorang pelayan. Kennard tampak sedang menatap layar ponselnya di ujung meja.


Tadi Kennard meninggalkannya di kamar setelah lelaki itu mandi dan berpakaian rapi. Lisle tidak berani beranjak dari tempatnya meringkuk di ujung ranjang. Baru ketika Kennard keluar, Lisle ke kamar mandi menyegarkan diri. Dipilihnya sebuah baju sederhana di walk in closet dan setelahnya duduk kebingungan di sofa. Dia tidak tahu yang mesti dilakukan hari ini. Kennard memang menyinggung soal sarapan tapi Lisle tidak tahu harus kemana. Untunglah kemudian kepala pelayan setengah tua bernama Thomas itu datang dan memberitahunya untuk segera ke ruang makan.


Tidak ada percakapan berarti di meja makan besar itu. Kennard hanya menatapnya  sejenak dan menyuruhnya makan banyak untuk memulihkan kesehatannya. Lisle tidak menyahut, hanya menunduk pada sarapannya dan menyuap perlahan. Dalam perasaannya, pagi ini secara fisik dia sangat sehat. Hatinyalah yang kacau.


Hanya setelah sarapan, Thomas memberitahu kedatangan Steve, sang asisten, yang kini tengah menunggu di ruang tamu. Kennard hanya mengangguk.


“Ikut aku ke ruang tamu!” ujarnya pada Lisle sambil bangkit dan berjalan ke luar.


Lisle mengikuti di belakang. Tiba di ruang besar dengan sofa-sofa rendah itu, tampak Steve tengah menunggu. Dia hanya berdiri. Di tangannya tampak sebuah dokumen. Begitu melihat tuannya, Steve memberi hormat dan mengulurkan dokumen tersebut. Kennard duduk di salah satu sofa sementara Lisle mengambil tempat di sofa yang lain. Perasaannya makin tidak nyaman. Dokumen itu sepertinya memiliki hubungan dengannya.


Kennard membolak-balik lembaran itu dan sesekali berhenti membaca. Setelah selesai dia meletakkan dokumen itu di meja.


“Kau bacalah. Jika ada yang ingin kau tambahkan atau kurangi, katakan sekarang. Aku ingin kesepakatan yang adil tanpa paksaan. Kau juga bisa tidak menyetujui kesepakatan ini,” ujar Kennard sambil memandang pada gadis bertubuh mungil yang seperti tenggelam di sofa besar yang didudukinya.


Tangan Lisle meraih dokumen itu dengan gugup.


“Bacalah perlahan.” Kennard menyarankan. Punggungnya di tarik ke sandaran sambil matanya terus mengawasi gadis itu.


Lisle membaca isi lembaran itu dengan perlahan. Kepalanya pening. Susah payah dia berusaha fokus dengan dokumen di tangannya.


Di dokumen itu tertulis dia bersedia menjadi kekasih Kennard dan tinggal di rumah yang sama dengan lelaki itu selama  bibinya dalam pengurusan Kennard.


Lisle mengangkat wajahnya memandang pada sosok tegap yang duduk di sofa di seberangnya. Bibirnya sudah bergerak-gerak hendak bertanya tapi kemudian urung. Jadi berapa lama dia mesti bersama lelaki ini? Bagaimana kalau bibinya tidak kunjung sembuh? Apakah dia mesti berharap kematian bibinya sebagai pengakhir penderitaannya kelak?


Tidak boleh berhubungan dengan lelaki lain. Bersikap layaknya kekasih yang baik dan penurut. Selalu melaporkan keberadaannya....


“Ada yang membuatmu keberatan?” tanya Kennard. Dia membaca kerutan di kening gadis itu dan menebak kemungkinan ada yang mengganggu pikirannya.

__ADS_1


Sesungguhnya Lisle keberatan dengan seluruh isi dokumen itu, tapi tentu saja konyol sekali jika dia mengatakannya. Akhirnya dia hanya menggeleng lemah.


“Ada yang ingin kau tambahkan?” tanya Kennard lagi.


“Aku ingin kuliah dan bekerja seperti biasa. Aku juga tidak ingin bersamamu di tempat umum. Maksudku, aku tidak ingin hubungan kita diketahui orang banyak.”


“Kenapa? Apa kau malu terlihat bersamaku? Apa aku begitu memalukan untuk kau akui sebagai kekasihmu?” Kennard tiba-tiba merasa marah mendengar syarat yang diajukan Lisle. Mulanya memang dia tertarik untuk bermain-main dengan gadis ini, ingin memiliki dan menjadikannya kekasih untuk beberapa saat. Tapi kemudian dia mulai sedikit menyukainya dan tak menampik kemungkinan jika mereka bisa saja akan bersama lebih lama dari perkiraannya.


Tapi gadis ini tidak ingin hubungan mereka diketahui umum? Sebegitu tidak inginkah dia bersama Kennard? Padahal banyak gadis di luar sana memimpikan posisinya.


“Bu... bukan begitu. Aku hanya belum terbiasa bersama Tuan. Aku juga belum pernah memiliki hubungan dengan laki-laki. Aku belum pernah punya kekasih....” Lisle menunduk. Mukanya memerah saat mengatakan itu. “Apalagi mungkin akan terlihat aneh jika kita bersama. Aku... gadis sepertiku rasanya bisa bertemu tuan saja adalah hal yang mustahil. Dunia kita berbeda. Tolong... jangan bebani saya.”


Amarah Kennard mereda mendengar alasan Lisle. Apalagi melihat rona merah di pipi halus itu. Ada kesedihan yang kemudian terasa pada kalimat-kalimat terakhirnya.


“Baik. Tambahkan itu pada dokumen kesepakatan!” perintah Kennard pada asistennya.


“Apa boleh saya tidur di kamar lain?” tanya Lisle takut-takut.


Lisle memang sudah mengira Kennard akan menolak hal terakhir yang dimintanya, tapi tetap saja dia kecewa dengan penolakan itu. Mungkin dia tidak akan pernah merasakan malam-malam yang tenang lagi setelah hari ini.


“Satu lagi. Mulai sekarang, berhentilah memanggilku tuan!”


“Tapi....” Lisle hendak membantah tapi Kennard memberi isyarat dengan tangannya agar gadis itu berhenti berdebat dengannya.


“Aku akan ke kantor sekarang. Kau istirahat di rumah baik-baik. Bila memerlukan sesuatu kau bisa memintanya pada Thomas. Aku akan berusaha pulang cepat sebelum makan malam.”


Kennard pergi diiringi Steve di belakangnya. Tinggallah Lisle dalam sangkar kaca indahnya. Dia kembali ke kamar dan memeriksa ponselnya yang telah penuh baterainya. Begitu dinyalakan, beberapa panggilan tak terjawab segera memenuhi layar kecil itu. Tiga puluh sembiilan panggilan dari Celine dan lima panggilan dari Daisy. Ada juga pesan dari keduanya.


Kenapa kau tak bisa dihubungi. Apa yang terjadi?

__ADS_1


Apa baterainya mati? Lisle, segera hubungi aku kalau kau sudah mengisi baterainya!


Kenapa masih belum bisa dihubungi?


Bagaimana bibimu. Apa kata dokter?


Kapan kau pulang?


Padahal ini baru hari kedua. Celine sudah sekalut itu. Bagaimana jika dia tak kembali untuk selamanya? Bukankah dia hampir saja menjadi simpanan tuan Aaron dan mesti menetap di Glassville untuk waktu yang tidak bisa ditentukan?


Kau menginap dimana? Jangan lupa untuk makan. Jangan sampai kau menjaga orang sakit tapi kau sendiri akhirnya malah jatuh sakit!


Celine memang sahabat yang sangat perhatian. Sayang Lisle tidak bisa banyak bercerita beberapa masalahnya.


Rasanya tidak enak sendirian di apartemen. Lisle, cepat pulang!


Ada sudut mata yang tergenang. Saat Lisle berkedip, bening itu jatuh.


Celine. Mulai sekarang kau akan sendiriran di apartemen. Aku tidak tahu kapan bisa kembali bersamamu....


Dia akan memikirkan alasannya nanti. Tak mungkin mengatakan kalau dia tinggal bersama seorang laki-laki karena sebuah kesepakatan.


Lalu ada pesan pendek dari Daisy.


Kau curang, Lisle. Kau membuat kafe ini ramai lalu meninggalkan aku sendirian. Aku harus apa?


Dan sebuah pesan yang datang pagi ini.


Aku terpaksa mempekerjakan mahasiswi sepertimu juga untuk membantu. Dia hanya akan bekerja selama kau pergi. Jadi jangan lama-lama. Kalau tidak aku mungkin akan mengangkatnya menjadi pegawai tetap.

__ADS_1


Pada Celine, Lisle membalas. Bibiku akan pulang dalam beberapa hari lagi.


Balasan untuk Daisy. Maaf sudah membuatmu kerepotan. Aku akan kembali secepatnya begitu bibiku sembuh.


__ADS_2