
Sudah lebih dari seminggu Shopia gelisah. Sejak pertemuannya dengan Sally di penjara kota, Shopia terus memikirkan perkataan gadis itu. Semua yang diucapkan Sally terdengar sinting. Tapi gadis itu tampak baik-baik saja. Dia berperilaku layaknya orang normal.
Adakah yang dikatakan gadis itu cuma halusinasinya saja, karena terlalu membenci Lisle dan tuan Kent? Hingga dia berkhayal membunuh sang penguasa itu. Bukankah itu terdengar mustahil?
Namun bagaimana kalau yang dikatakan Sally benar? Bagaimana kalau ada sekelompok orang atau seseorang yang sedang berusaha menghancurkan tuan Kent? Apakah dia akan membiarkan dan menyimpan rahasia ini atau berdiri mendukung di belakang mereka semua?
"Tidak. Tidak." Shopia bergerak gelisah di tempat tidur. Membolak-balik badan, mencari kenyamanan posisi tapi tak menemukannya. Dia malah semakin gelisah. Kalau yang dikatakan Sally bukan hasil dari imajinasinya yang berlebihan, ini adalah sebuah rahasia besar. Persekongkolan maut. Dan itu membuatnya ketakutan
Ternyata mengetahui sebuah rahasia tidaklah selamanya menyenangkan. Shopia tidak tahu harus bagaimana agar tidak menjadi segelisah ini. Akhirnya dia memutuskan bangun.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Belum terlalu larut. Pada jam begini biasanya, ayahnya tuan Harfey masih terjaga di ruang kerjanya. Selalu saja ada yang dia kerjakan. Urusan perusahaan memang tak ada habisnya bagi ayah Shopia. Wajar saja jika dulu keluarga ibunya menerima pinangan ayahnya yang cuma berasal dari keluarga biasa.
Shopia turun dari tempat tidur, keluar kamarnya dan berjalan ke ruang kerja ayahnya. Lampu di ruangan itu masih menyala. Dugaan Shopia tidak salah. Ayahnya terlihat duduk di belakang meja kerjanya yang besar, menekuni berkas-berkas yang bertebaran. Lelaki itu mengangkat wajahnya sambil memperbaiki letak kacamatanya saat merasakan kehadiran seseorang di ruangan itu.
"Shopia. Ada apa? Kau masih belum tidur?" sapa ayahnya sambil merapikan beberapa kertas, menjadikannya satu tumpukan rendah.
"Aku tidak bisa tidur. Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranku. Apa ayah ada waktu sebentar?" Shopia duduk di sebuah sofa dekat meja kerja.
Tuan Harfey meletakkan alat tulis di tangannya dan melepaskan kacamatanya. Dia memijit kening di atas pangkal hidungnya, berusaha mengurangi rasa pening karena terlalu lama membaca.
"Tentu saja. Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya tuan Harfey. Dia melihat putrinya tampak lelah. Dan tidak tenang. Dia mencoba menduga-duga sumber kegelisahan putrinya.
"Seminggu yang lalu aku pergi menemui seseorang di penjara kota." Shopia mulai bercerita.
__ADS_1
"Hm, Sally. Gadis itu, kan?" Tuan Harfey menebak.
Shopia tidak heran jika ayahnya tahu beberapa hal yang dilakukannya. Jadi dia mengangguk mengiyakan.
"Berhubungan dengan seorang musih tuan Kent sama saja dengan mengumumkan permusuhan dengannya. Hentikan perbuatan bodohmu itu!" Ayahnya sudah mengetahui tentang kunjungan itu tapi belum memberi peringatan pada putrinya.
Shopia mengangkat wajah menatap ayahnya. "Aku tak bermaksud begitu. Aku tidak tahu kalau Lisle memiliki hubungan dengan tuan Kent, jadi aku ingin memberinya pelajaran."
"Tapi akhirnya malah kau yang mendapat pelajaran," sela tuan Harfey sambil mengangguk-angguk.
Shopia tidak menanggapi komentar ayahnya. Dia enggan mengakui itu.
"Sally menceritakan sesuatu yang membuatku takut," lanjut Shopia. "Kupikir dia gila. Tapi dia terlihat waras."
Lalu Shopia mengulangi perkataan Sally saat itu. Tuan Harfey mendengarkan dengan serius. Dia tidak heran dengan cerita putrinya. Tuan Kent pasti memiliki banyak musuh yang menginginkan kehancurannya. Jika cerita putrinya benar, mungkin dia bisa mengambil sedikit keuntungan.
"Apa menurut ayah itu benar? Apa yang dikatakan gadis itu bukan halusinsinya saja?" Shopia terlihat penasaran.
"Ayah bilang lupakan perkataan gadis itu. Kau tidak pernah mendengarnya. Sisanya ayah yang akan urus. Mungkin keluarga Harfey bisa mengambil keuntungan dari ini." Tuan Harfey mengulangi perkataannya sebentar lalu. Dia tak ingin anak gadisnya berbuat ceroboh dan mengumbar cerita itu ke orang yang salah.
"Dan ingat, jaga sikapmu. Terutama pada gadis yang bernama Lisle itu. Ayah rasa sebentar lagi akan terjadi sesuatu. Berhati-hatilah bertindak." Kali ini tuan Harfey memberi putrinya peringatan. Dia tak ingin gadis manja itu salah langkah.
***
__ADS_1
Pulau XXX
Sejak kejadian di arena latihan saat Lisle membuat Andra yang berada di level 7 pelatihan terjatuh, pandangan penghuni pulau XXX padanya berubah. Kini mereka tampak makin segan padanya. Bukan saja karena dia adalah nyonya Kent, tapi karena ternyata istri kecil bos mereka yang tampak lemah lembut ini bisa berubah segalak macan betina. Jika semula gadis itu tampak sebagai kucing kecil yang senang merajuk, tapi saat dia marah bahkan tuan Kent pun akan digertak habis-habisan.
Di minggu kedua, selain latihan fisik rutin dan mengulangi beberapa teknik bela diri yang diajarkan Kennard, Lisle mulai berlatih menggunakan senjata.
Awalnya Lisle terlihat gugup saat menyentuh benda kecil namun berat itu. Dia gemetar merasakan dingin dari benda yang digenggamnya. Teringat saat moncong benda itu menyentuh pelipisnya.
"Membidik sasaran diperlukan olah napas yang benar, kekuatan untuk menstabilkan tembakan dan kemampuan memperhitungkan arah dan kecepatan angin." Kennard memperbaiki posisi tubuh Lisle saate memegang senjata. Dia melihat jari-jari lentik itu tidak tenang.
"Fokus!" Suara keras suaminya yang mengingatkan malah membuat Lisle terlonjak.
Kennard menautkan alisnya dan merapatkan headphone ke telinga istrinya.
Sebelumnya Kennard telah memberi contoh dengan menembak sasaran di seberang lapangan. Dari tiga tembakan, semuanya tepat mengenai pusat sasaran. Kemudian dia menembak lagi pada sasaran yang bergerak. Semua tembakan juga menemui sasarannya.
Lisle tentu saja kagum dengan kemampuan lelaki yang kini menjadi suaminya itu. Seperti di film-film, Kennard terlihat keren dengan ketepatannya membidik sasaran. Tapi tentu saja Lisle tidak bertepuk tangan. Dia malah mencibir dan menahan diri untuk tidak terlihat kagum.
"Dasar pamer." Lisle malah menggerutu.
Untuk apa Kennard memperlihatkan kemampuannya menembak sasaran bergerak? Dia cuma perlu mencontohkan caranya memegang senjata lalu menembak sasaran diam beberapa kali. Tidak mungkin Lisle langsung mengarahkan senjatanya pada sasaran bergerak pada latihan pertamanya.
Kennard tidak menghiraukan gerutuan istrinya. Dia mulai terbiasa dengan kelakuan istrinya yang menjengkelkan. Sesungguhnyalah yang dikatakan Lisle benar. Dia pamer. Dia ingin istrinya mengagumi dan memujinya seperti suatu hari saat Lisle bertepuk tangan di pinggir lapangan tembak hanya karena seseorang berhasil menyarangkan seluruh pelurunya ke sasaran yang bergerak. Padahal tak satupun dari tembakan itu mengenai pusat sasaran.
__ADS_1
"Mulai!" seru Kennard sambil memberi kode pada Lisle yang pendengarannya tertutup rapat.
Lisle menarik napas dan bersiap. Matanya menatap lurus ke depan, berusaha fokus pada sasaran.