Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 61. Kembali ke Palm Garden, Lagi.


__ADS_3

Setelah dokter melakukan pemeriksaan ulang dan tak menemukan hal-hal yang mengkhawatirkan, keduanya segera pergi dari ruang perawatan.


Kennard duduk di kursi di sebelah tempat tidur. Dia meraih wajah Lisle yang menunduk dengan lembut hingga bisa menatapnya dengan seksama. “Apa masih sakit?” tanyanya.


“Sedikit,” jawab Lisle dengan suara tersekat. Bekas tamparan tuan Adolf masih menyisakan nyeri di pipi kirinya. Bengkaknya masih sedikit terlihat.


“Apa kau sudah makan?” tanya Kennard lagi setelah melepaskan tangannya dari wajah Lisle. Dia melihat ke meja tempat makanan di siapkan dan mendapati sisa makanan yang masih separuh.


Kali ini Lisle hanya mengangguk. Dia ragu-ragu untuk mengucapkan terima kasih, hal yang terus dipikirkannya sepanjang malam.


“Hm, makanlah sedikit lebih banyak. Kau terlihat sangat kurus. Apa kehidupan di luar sana sangat susah?” ujar Kennard lagi membuat Lisle mengangkat wajahnya yang tadi sudah kembali menunduk.


Tuan Kent ternyata memperhatikannya.


“Tidak juga,” sahut Lisle. “Aku sudah terbiasa bekerja. Mungkin karena sedikit lelah saja.”


“Kalau begitu, tidak usah bekerja saja,” ujar Kennard cepat. “Jadi kau tidak perlu merasa lelah.”


Uh, dia mulai bicara seenaknya. Lisle meringis. Dia tak mencoba membantahnya karena tak ingin membuat masalah baru.


Sesaat keduanya terdiam. Kennard menerima sebuah panggilan telepon tanpa beranjak dari duduknya, hanya mendengarkan sejenak dan berbicara pendek lalu memutuskan sambungan.


“Terima kasih sudah menolong.” Akhirnya dengan susah payah Lisle mengatakan itu. “Kupikir Tuan tidak akan datang. Maaf karena sudah menyusahkan. Tapi aku inibenar-benar tidak mengatakan apa pun tentang hubungan kita. Aku tidak pernah berkata kalau kita... memiliki semacam hubungan khusus....”


“Aku tahu, kau tidak sepintar itu. Kau pasti membantahnya meski itu berarti kau membuat dirimu sendiri dalam bahaya. Lain kali katakan apa saja yang bisa membuatmu selamat. Kau boleh menggunakanku sebagai tameng. Aku tak keberatan. Jangan pikirkan nantinya. Kita akan membahasnya setelah itu.” Kennard tahu sejak awal, gadis ini tidak akan sesumbar tentang hubungan yang dianggapnya tidak ada.

__ADS_1


Lisle tidak tahu harus berkata apa lagi. Lalu dia teringat. “Tuan, kapan aku boleh pulang?”


“Sebentar lagi. Steve sedang mengurus administrasinya.”


Setelah menunggu beberapa saat, mereka akhirnya pulang.


Steve mengemudi dengan pelan. Dia hanya melirik sekali ke kursi belakang dan tersenyum sendiri. Sikap tuannya beberapa bulan ini sempat membuatnya berpikir bahwa laki-laki itu sudah tidak menginginkan gadis itu lagi. Nyatanya tuannya pergi juga untuk menyelamatkan gadis itu.


Setelah berkendara selama setengah jam, mobil memasuki jalan pribadi yang mengarah ke Palm Garden. Lisle merasa jantungnya berdebar kencang. Meski sudah memperkirakan kemungkinan tuan Kent akan membawanya kembali ke sini, tapi dia masih merasa gugup. Ini ketiga kalinya dia merasa seperti seorang yang baru tiba.


Lisle ingin protes. Sebenarnya lebih baik jika dia pulang ke apartemennya. Dia akan merasa tidak nyaman tinggal di rumah lelaki yang sudah menyelamatkannya berkali-kali ini. Hanya saja ini bukan saat yang tepat untuk membicarakannya. Ada hal lain yang lebih penting untuk dibahas, misalnya tentang hubungan mereka.


Thomas sang kepala pelayan seperti biasa menyambut mereka. Dia tersenyum sopan dan tampak senang melihat kedatangan Lisle.


Lisle mengangguk sopan sembari tersenyum. Kennard meraih pinggang gadis itu, menuntunnya ke lantai atas menuju kamar.


“Mandi dan ganti pakaianmu kemudian istirahatlah,” ujar Kennard saat tiba di kamar.


Sesaat mata Lisle menatap sekeliling. Kamar ini terlihat berbeda dari terakhir kali dia di sini. Semua perabotannya sudah berganti. Bahkan tirai jendela yang dulu masih terlihat baru pun sudah berubah. Waktu mata Lisle bertemu pandang dengan Kennard, wajahnya dipenuhi tanda tanya.


Lelaki itu berdehem sedikit. Selama Lisle mengenalnya, tuan Kent tak pernah terlihat secanggung ini.


“Aku hanya ingin sedikit perubahan.” Kennard beralasan seperti mengerti apa yang dipikirkan Lisle. Sebenarnya saat itu dia memerintahkan Thomas untuk menghilangkan setiap jejak gadis ini di kamarnya. Dia sedang sangat kesal. Dan marah. Bahkan baju-baju yang diperuntukkan bagi gadis itu pun telah disuruhnya buang.


Sekuat hati Kennard berusaha untuk tidak peduli. Dia melepaskan pengawasannya dari gadis itu begitu Lisle melangkah keluar dari Palm Garden, hal yang kemudian disesalinya begitu mendengar kabar bahwa gadis itu tiba-tiba menghilang. Andai dia tidak menarik orang suruhannya untuk mengawasi, tentulah kejadian itu dapat dihindari. Orang yang telah diperintahkannya untuk mengawasi Lisle bukanlah orang biasa. Dia adalah mantan seorang agen yang pernah bertugas di luar negeri, mengatasi penjahat kecil seperti para penculik itu tidak akan sulit baginya.

__ADS_1


Namun sekarang, Kennard telah memutuskan tak akan melepas gadis ini lagi sendirian. Suka atau tidak suka, ia akan membuatnya tetap berada di sisinya. Jika tidak, gadis ini akan menimbulkan levih banyak masalah. Itu akan membuat Kennard lebih sibuk lagi.


Tidak ada yang tahu betapa paniknya dia begitu tahu Lisle menghilang. Saat para penculik itu menghubunginya kemudian, Kennard merasa sedikit lega. Laki-laki itu tidak perlu bersusah payah lagi mencari. Dia tinggal menghubungi Hans dan membuat sedikit rencana pembebasan.


“Tuan....” Pintu kamar di ketuk disertai panggilan Thomas.


“Masuk!” ujar Kennard.


Pintu didorong dan wajah Thomas muncul dari baliknya.


“Saya pikir, Nona memerlukan baju-baju ini.” Thomas masuk sambil membawa banyak pakaian wanita. Dia memandang pada tuannya dengan malu-malu. “Sebenarnya saya tidak membuangnya waktu itu. Siapa tahu nona akan kembali suatu hari.”


“Letakkan saja di lemari.” Kennard berujar acuh. Dia sudah hendak menyuruh Thomas mencarikan pakaian untuk Lisle, ternyata pelayannya cukup tanggap.


Lisle keluar kamar mandi dan mendapati Kennard yang telah melepas kaosnya bersiap untuk membersihkan diri. Gadis itu tersipu dan buru-buru mencari baju ganti.


Semua itu tak lepas dari pengamatan Kennard. Sudah lama dia tak melihat gadis itu tersipu. Dia menjadi gemas sendiri. Jadi saat dia kembali dari kamar mandi dan menemukan gadis itu berbaring di pinggir ranjang, dia tak tahan untuk tidak memeluknya.


Lisle terkejut waktu sebuah tangan yang kuat menariknya dan menenggelamkannya dalam pelukan. Namun meski begitu, berbeda dengan waktu-waktu lalu, kali ini dia tidak menolaknya. Dia bermaksud menyembunyikan wajahnya yang terbakar, saat Kennard menunduk dan menciumnya. Itu sebuah ciuman yang lembut awalnya tapi menjadi semakin dalam dan panas setelah beberapa saat.


Setelah beberapa lama, apalagi telah tak bersama selama tiga bulan lebih, Lisle masih belum terbiasa. Kedua tangannya masih mengepal di antara tubuhnya dan Kennard. Waktu ciuman itu terasa makin membakar, Lisle mendorong dengan tangannya.


Dengan enggan Kennard melepaskan ciumannya tapi tetap menahan gadis itu dalam pelukannya. Dia bahkan memimpikan gadis ini saat terjaga dan itu sangat mengganggu. Sebelumnya, tak pernah ada gadis yang membuatnya serepot ini.


“Mulai sekarang, patuhlah padaku,” ujar Kennard dengan suara serak.

__ADS_1


__ADS_2