
Kennard mendengarkan suara di ujung sambungan.
“Benar. Aku sendiri.” Dia berkata dengan suara datar, kemudian mendengarkan lagi.
Wajahnya terlihat dingin saja saat seseorang di sana mengatakan sesuatu. Matanya menatap suram pada segala yang ada di depannya. Itu hanya sebuah pembicaraan satu arah karena Kennard tak mengatakan apa-apa lagi setelahnya. Saat sambungan terputus, lelaki itu meletakkan telepon kembali ke tempatnya.
Steve sudah pamit meninggalkan ruangan karena merasa tidak diperlukan lagi. Saat langkahnya hampir mencapai pintu, dia mendengar sebuah tawa aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri. Steve berbalik dan mendapati sang presdir menyeringai dengan mata dipenuhi kilatan hitam.
Kennard tertawa dalam raut yang meyeramkan. Steve pernah melihat hal itu saat suatu waktu tuannya pernah menghabisi puluhan orang yang mengkhianatinya. Laki-laki itu sempat tertawa bagai iblis sebelum menembaki orang-orang malang itu tanpa berkedip.
“Ada yang bisa saya lakukan untuk Tuan?” tanya Steve. Dia yakin, tuannya telah mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan.
“Tidak. Tidak, Steve. Tak ada yang perlu kau lakukan.” Sudut bibir Kennard tampak terangkat menyisakan perasaan geli, tapi matanya berkilau jahat. “Aku hanya sedang merasa heran. Seseorang menelponku dan mengatakan bahwa gadisku ada dalam kekuasaannya. Dia meminta sejumlah besar uang dan mengancam akan menyakitinya bila aku tak segera memenuhi permintaan mereka. Selain aneh, bukankah itu terdengar lucu?”
Steve terpana mendengar penjelasan tuan Kent. Itu memang terdengar aneh karena selama ini tidak ada yang berani mengancam tuannya, apalagi dengan trik tua semacam menculik seseorang dan meminta tebusan.
Salah satu hal yang membuat tuannya begitu kuat dengan posisinya saat ini adalah kenyataan bahwa lelaki itu tak memiliki siapa pun lagi. Seluruh keluarganya musnah dalam sebuah serangan para pengkhianat di suatu hari pada musim dingin enam tahun lalu. Tuan Kent kemudian menggila dalam kesendiriannya. Dia membuat Black Mountain dalam genggamannya dan menghancurkan musuh-musuhnya hanya dalam waktu setahun. Lelaki itu tak memiliki kelemahan yang disebut keluarga. Dan mengancamnya atas nama seorang gadis memang terdengar konyol.
Hanya saja Steve sama sekali tidak merasa lucu. Seseorang menculik nona Lisle dan meminta tebusan pada tuannya saat hubungan mereka sudah berakhir. Dia membayangkan hal buruk yang akan menimpa gadis itu jika tuannya menolak memenuhi permintaan orang-orang bodoh itu.
__ADS_1
Apakah tuannya benar-benar menganggap ini semua lucu dan akan membiarkan para penculik itu melaksanakan ancamannya? Atas nama sebuah kebersamaan masa lalu, tidakkah tuannya mau bermurah hati? Tidak terlalu sulit bagi lelaki ini jika ingin menyelamatkan nona Lisle.
Steve mencoba mencari sedikit harapan yang tersisa dari mata tuannya. Dia menatap sekilas pada tuan Kent tapi lantas buru-buru menunduk dan berbalik keluar ruangan ketika Kennard memberi isyarat menyuruhnya pergi. Terbayang di benak Steve wajah memohon Celine, sahabat Lisle. Gadis itu pasti akan sangat kecewa jika melihat bagaimana reaksi tuan Kent saat ini.
***
Gudang tua, sebelah barat kota Black Mountain.
Lisle tidak mengenali lelaki berusia sekitar empat puluhan di depannya, tapi melihat seringai menjijikkan di wajahnya membuat perut gadis itu mendadak mual. Hari ini dia mulai pandai menandai niat buruk seseorang hanya dari senyumnya yang terlihat berbeda. Lelaki ini bahkan membuatnya menggigil ketakutan hanya dari caranya memandangi Lisle dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Kau tidak mengenaliku, Cantik?” Lelaki dengan jaket kulit hitam itu mendekat dan duduk di pinggiran ranjang dekat ujung kaki Lisle. “Tak apa. Aku mengenalimu. Aku masih mengingatmu meski hanya sempat melihatmu sekilas.”
“Kau tahu, karena dosa kecil ‘sempat melihatmu’, tuan Kent menghancurkan seluruh hidupku. Sedangkan kau? Aku melihat kalian mulai bersenang-senang. Padahal seperti diriku, kalian hanyalah dua orang yang baru kenal satu sama lain.” Lelaki itu tampak tersenyum pahit.
Lisle menggerak-gerakkan wajah nya ke kiri kanan berupaya melepaskan tangan itu dari wajahnya, tapi cengkeraman itu malah semakin kuat hingga gadis itu merasa wajahnya seperti akan remuk dalam sekali genggam.
“Si... siapa kau,” tanya Lisle lirih dalam keputusasaan. Dia merasa tidak mengenali orang ini meski sudah mencoba mengingatnya.
“Kau melupakan sebuah malam di klub? Kita hampir saja bersenang-senang kalau kau tidak kabur dan bertemu lelaki iblis itu.” Si lelaki mencondongkan badannya pada Lisle, merasa tergoda dengan bibir mungil itu.
__ADS_1
“Tuan Adolf?” Lisle membelalak ngeri. Dia mengingatnya. Nama itu hanya pernah didengarnya tanpa pernah tau seperti apa orangnya dan Lisle juga tidak oernah mau tahu. Berhasil lolos malam itu memang sebuah keberuntungan besar bagi Lisle. Malam itu juga dia bertemu tuan Kent untuk pertama kalinya.
Adakah hari ini dia bisa kembali menghindar dari niat jahat tuan Adolf ini? Lisle menjadi tidak yakin. Dia sedang berada di sebuah tempat asing yang tersembunyi dan hanya sendirian terbelenggu tangan dan kaki. Bagaimana dia bisa berharap bisa kabur?
Tuan Adolf menyeringai senang. “Kau mengingatku. Aku sangat senang. Mungkin aku akan berbaik hati dengan memperlakukanmu lebih lembut. Tentu saja bila kau juga mau bekerja sama. Layani aku dengan baik.”
“Tidak. Tuan, tolong menjauh. Aku....” Lisle berusaha mendorong tubuh tuan Adolf dengan dua tangan terikat tapi tidak berhasil.
Adolf menghimpit gadis itu dengan tubuhnya dan menunduk bermaksud mencium mulut yang tampak menggairahkan itu ketika seseorang membuka pintu kamar.
“Tuan, anak buahku tidak melihat adanya pergerakan dari tuan Kent. Anda yakin, kalau gadis ini memang berharga?” Seorang bertubuh tinggi besar dengan tampang kasar berdiri di ambang pintu. Dia berdiri agak menunduk karena puncak kepalanya hampir menyentuh bagian atas kusen.
Adolf menarik dirinya dari Lisle seraya melepaskan cengkeramannya pada wajah gadis itu. Lisle tampak pucat tapi juga lega. Sesaat tadi dia sempat berpikir lebih baik mati saja daripada harus merasakan sentuhan tuan Adolf pada bibirnya.
“Aku mengikutinya berbulan-bulan sebelum pergi keluar negeri dan bertemu denganmu. Gadis ini istimewa. Dia bahkan tinggal di Palm Garden, tempat yang tidak pernah didatangi para gadis yang pernah bersama dengan tuan Kent.” Adolf berbicara dengan nada kesal karena telah diragukan oleh rekannya.
“Aku sudah tidak memiliki hubungan apa pun dengan tuan Kent!” Lisle tiba-tiba menyela. Dia mengasihani dirinya sendiri dan dua orang di depannya. Sementara keduanya berharap bisa mengambil keuntungan dari Lisle, gadis itu membayangkan reaksi tuan Kent saat para penculik ini menghubungi lelaki itu. Saat ini, mungkin tuan Kent tengah mentertawakan kekonyolan mereka.
“Dia tidak akan datang, percayalah....” Lisle menunduk pada lengannya yang terikat. Airmatanya kembali tak terbendung.
__ADS_1