Kekasih Terpaksa Sang Penguasa

Kekasih Terpaksa Sang Penguasa
Bab 22. Tiga Tuan Muda


__ADS_3

Lisle mendengar suara baling-baling helikopter di luar. Para tamu itu pasti sudah datang, pikirnya. Dia tak bisa memejamkan mata mesti merasa lelah dan mengantuk. Pikirannya menebak-nebak seperti apa teman-teman Kennard itu.


Di luar dekat tempat pendaratan, tiga lelaki muda dengan wajah menawan turun dari kendaraan udara itu sambil memandang berkeliling seperti sedang mencari sesuatu.


“Di mana gadis itu? Kau tidak bermaksud menyembunyikannya dari kami ‘kan?” David mendekat pada Kennard yang berdiri memperhatikan kedatangan mereka dengan wajah tidak senang.


“Dia sudah tidur. Besok saja acara perkenalannya.” Kennard berkata acuh lalu berbalik dan melangkah menuju sebuah ruangan dengan sofa-sofa dan bar. Ketiga lelaki mengikuti di belakangnya.


“Kau tidak mengirimnya pulang lebih dulu ‘kan?” Nathan bertanya dengan nada mengejek. “Sepertinya kau takut sekali memperlihatkan gadis itu pada kami. Jangan membuat kami tersanjung dengan mengatakan kau takut gadis itu terpesona dengan salah satu dari kami.”


“Apa kau sedang melucu?” Kennard berjalan menuju bar. “Dia bukan gadis murahan yang sering kalian temui. Jadi, bila dia tidak kabur saat melihat tampang kalian, itu sudah lumayan.”


Ketiga lelaki muda yang baru datang itu saling berpandangan kemudian terbahak bersamaan.


“Ken, selama gadis itu menyukai uang, dia masih bisa dibeli. Dan selama masih bisa dibeli seberapa mahal pun harganya, dia tetap murahan.” Benyamin yang mengikuti Kennard ke bar mengambil sebotol anggur dan menuangkannya ke sebuah gelas. “Kau tahu pasti itu!”


Wajah Kennard menjadi suram, tapi dia tak mengatakan apa-apa. Direbutnya minuman di tangan Benyamin dan meminumnya dalam sekali teguk. Diletakkannya gelas ke permukaan meja dengan kasar hingga menimbulkan suara hempasan keras.


“Kalian bersenang-senanglah. Aku mau istirahat.” Ujar Kennard tiba-tiba sambil beranjak menuju pintu. Di sana dia berhenti. “O ya, besok sebaiknya kalian bangun pagi-pagi dan buat sarapan. Kebetulan aku tak membawa pelayan di kapal ini. Jadi buatlah diri kalian berguna!” Dan tanpa merasa ada yang salah dengan ucapannya dia benar-benar berlalu.


Tiga lelaki muda, David, Nathan dan Benyamin tercengang demi mendengar itu. Maksud hati hendak mengganggu kesenangan Kennard yang mengabaikan mereka, tapi kini justru menjadi bumerang bagi mereka sendiri.


David tiba-tiba tertawa, antara merasa lucu dan kesal. “Lihatlah, dia malah menjadikan kita pelayan. Aku jadi makin penasaran dengan gadis itu. Sepertinya dia sangat memanjakannya.”


Di luar pintu ruangan, Kennard menemukan Lisle yang bersandar pada dinding. Begitu melihatnya, gadis itu buru-buru menyeka airmata.


Kennard tak mengatakan apa pun. Dia tahu Lisle pasti mendengar ucapan Benyamin hingga menjadi sangat sedih. Sebenarnya kata-kata itu dia juga yang mengatakannya, dulu, sebelum bertemu Lisle.

__ADS_1


Namun sekarang dia tahu, ada sesuatu yang bisa dibeli tapi tak  pernah benar-benar dimiliki.


***


Lisle berjalan di belakang Kennard setengah bersembunyi. Begitu mencapai pintu ruang makan dia berhenti. “Apa boleh tidak menemui mereka? Aku akan di kamar saja.” Lisle enggan bertemu ketiga teman Kennard.


Tadi malam karena tak bisa tidur, Lisle memutuskan berjalan-jalan di luar dan tak sengaja melewati ruangan tempat keempat orang itu berkumpul. Dia sempat mengintip ke dalam dan melihat tiga tamu itu. Bukan orang biasa, menurutnya. Tapi orang-orang yang bisa sangat dekat dengan tuan Kent tentulah bukan orang biasa. Tak hendak terlibat dalam pertemuan mereka, Lisle bermaksud pergi. Namun sebelum berlalu dari sana, dia sempat mendengar kata-kata Benyamin tentang ‘gadis murahan’ itu, karenanya dia merasa ppsangat malu jika harus bertemu mereka. Pastilah pandangan mereka padanya akan sangat merendahkan.


“Mereka teman-temanku. Aku tak mungkin menyembunyikanmu dari mereka. Lagipula lama-lama mereka juga akan tahu. Penciuman mereka setajam anjing pemburu.” Kennard memegang lengan Lisle, menariknya lembut ke dalam ruang makan.


“Tapi....” Lisle hendak membantah namun mereka sudah tiba di dalam ruang makan.


Ketiga lelaki muda di sana tampak sibuk. Ada yang mengangkat beberapa hidangan dari dapur ke meja. Ada yang menata peralatan makan. Dan seseorang lagi tengah mengambil sesuatu dari kulkas. Ketiganya tampak terbiasa dengan kesibukan itu. Waktu masing-masing dari mereka melihat kedatangan Kennard dan Lisle, ketiganya menghentikan kegiatannya.


Lisle spontan bersembunyi di belakang Kennard, menghindari semua mata yang tengah mengawasinya, berharap menjadi transparan agar tak terlihat siapa pun.


Kennard meraih gadis itu ke sisinya, menarik sebuah kursi. “Duduklah!” ujarnya. Dia sendiri mengambil kursi di sebelah Lisle dan duduk di sana.


“Hai, aku David.”


“Aku Nathan.”


“Aku Benyamin.”


Ketiganya melambai pada Lisle sambil tersenyum. Lisle membalas senyuman mereka sambil mengangguk dengan canggung. Bagi Lisle, ketiganya sama tampan dan ramah. Tapi mengingat ucapan salah satu dari mereka tadi malam, Lisle akhirnya hanya menundukkan kepala.


 Saat itu Lisle mengenakan gaun terusan selutut berwarna putih polos dengan model yang sederhana. Rambut panjangnya dikuncir satu menyamping dan wajahnya tak memakai riasan. Siapa pun yang melihatnya akan terpesona dengan kecantikannya yang murni. Tak terkecuali dengan tiga tuan muda yang tampak tercengang sesaat. Melihat Lisle memang membuat orang ingin menyentuhnya dengan rasa sayang sekaligus gairah secara bersamaan.

__ADS_1


“Sepertinya kalian telah bekerja keras menyiapkan sarapan pagi ini.” Kennard tak mempedulikan ketiga temannya yang masih terpana memandang gadis di sebelahnya. Kalau bukan karena mereka adalah teman-temannya, mungkin dia sudah akan memberi pelajaran pada mereka yang tak juga melepaskan pandang.


“Ehem, Lisle, semoga masakannya sesuai dengan seleramu....” Nathan berbicara setelah berkedip beberapa kali berusaha menjadi terbiasa dengan pemandangan di depannya. Baginya Kennard yang dingin berpasangan dengan gadis selembut dan sepolos ini adalah pemandangan langka yang menarik. “Kau bisa memesan jenis masakan yang kau suka. Tak ada yang tak bisa dimasak Benyamin.”


Benyamin yang duduk di bagian ujung meja terbatuk demi mendengar namanya disebut. Dia sedang menyesali perkataannya tadi malam tentang Lisle. Baginya saat ini, gadis itu tak tampak seperti gadis murahan.


“Tidak juga. Tapi kau bisa menyebutkan makanan kesukaanmu, aku akan coba memasaknya untukmu.” Benyamin menyahut dengan suara rendah. Dia memang sang koki yang dipercaya di antara ketiga lelaki itu saat mereka memilih berkumpul dan menyingkirkan para pelayan. Walau pun Kennard juga memiliki kemampuan masak yang hebat, lelaki itu tak akan sudi memasak untuk mereka berempat.


Kennard menatap sinis pada Benyamin. Lelaki yang bicara buruk tentang Lisle tadi malam kini mencoba mengambil hati gadis itu. Dia tahu, David sang casanova tak akan mau ketinggalan.


Tapi perkataan yang keluar dari mulut David adalah, “Lisle, berapa lama kalian sudah saling kenal?”


Lisle yang sedang tengadah pada Kennard di sampingnya sambil mengucapkan terima kasih karena lelaki itu membantunya menuangkan jus tak mengira akan pertanyaan itu.


“ Eh, emm... baru setengah bulan....” Dia sadar itu waktu yang terlalu cepat untuk hubungan sedekat sekarang. Lisle menunduk tak berani melihat pada orang-orang di sekeliling meja.


Mendengar jawaban Lisle, David tak berkomentar apa-apa, tapi dia melihat pada Kennard dengan pandangan menuduh. ‘Kau pasti melakukan sesuatu pada gadis kecil ini!”


Ditatap seperti itu, Kennard hanya menyeringai. Dia dengan santai mengambil sepotong salad dan mengunyahnya.


“Sayang, karena mereka di sini, kita bisa benar-benar bersantai tanpa perlu berpikir untuk memasak sesuatu.” Ujar Kennard sambil melanjutkan suapannya.


Terdengar makian beberapa orang hampir bersamaan.


Sarapan pagi itu akhirnya berjalan tanpa banyak lagi pembicaraan berarti. Tiga tuan muda beberapa kali menjadi saksi bagaimana Kennard memperlakukan gadis itu dengan lembut. Mereka nyaris tak percaya kalau tidak menyaksikannya sendiri. Dan sikap Lisle yang kadang tampak malu-malu dengan perlakuan Kennard itu membuat ketiganya menjadi gemas dan ingin segera meninggalkan kapal.


Ketika akhirnya acara makan pagi itu selesai dan Lisle membantu mengemasi peralatan makan dan meletakkannya ke dalam bak cuci, David berjalan mendekatinya. Kata-katanya kemudian membuat Lisle tercengang.

__ADS_1


“LisLe, kalau suatu hari kau dan Kennard putus, kau bisa mencariku.” Ujarnya sambil bersandar pada bak cuci dengan santai.


 


__ADS_2