
“Namaku Sekti!” katanya.
Aku terperangah, berusaha menerima fakta bahwa orang di depanku ini sama sekali bukanlah Sakti meski wujudnya benar-benar seperti Sakti. Sungguh, tidak satu pun bagian dari Sekti yang berbeda dengan Sakti, semuanya sama. Rambut putih sutra itu sama, mata hitam pualamnya juga, kulit pucatnya, postur tubuhnya, alis, hidung, dan semuanya.
Oh, tunggu, jelas ada yang beda. Ekspresi dan sifatnya jelas berbeda dengan Sakti yang hangat dan ramah.
“Buatlah dirimu berguna! Daripada hanya bengong, cepat bantu aku!” serunya ketus. Aku terperanjat, buru-buru menuruti perintahnya. Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa diperlakukan seperti ini oleh Elang. Eh, Elang? Ah, kenapa orang semacam Elang ada di mana-mana bahkan hingga di dunia kelabu ini?
“Bawakan ke mari kayu-kayu itu!” perintahnya. Lagi-lagi aku hanya menurut. Seketika kayu itu terlihat jauh lebih baik di tangan Sekti. Yang semula keropos kembali terlihat kokoh, kemudian Sakti hanya mengarahkan telapak tangannya, kayu-kayu itu bergerak sendiri menyusun ulang dinding bilik yang hancur. Satu per satu kembali tersusun, seperti bermain puzzle. Aku sama sekali tidak heran. Jika Sakti punya kekuatan, maka Sekti juga pasti memilikinya.
Meski kelihatannya mudah, ekspresi Sekti benar-benar terlihat serius, mengerahkan segala kekuatannya. Aku hanya mengamati. Setetes peluh mengalir dari keningnya. Dinding bilik yang hampir utuh kembali luruh, berguguran menimbulkan debu yang tidak sedikit. Kami terbatuk-batuk.
“Ada apa?” tanyaku. Sekti masih terbatuk-batuk, terlihat sekali kalau dia lelah.
“Ada potongan yang tidak sesuai. Dinding ini tidak mau solid seperti semula,” jawabnya menyeka peluh di leher. Aku hanya diam tidak mengerti.
“Sebaiknya kamu istirahat dulu,” ujarku.
“Sayangnya aku tidak punya banyak waktu hingga matahari terbenam,” jawabnya kembali bangkit, mengerahkan kekuatannya lagi. Yang dikatakan Sakti benar. Sekti memang menghancurkan segalanya dalam mode monster, tetapi ketika kembali ke wujud manusia, dia memperbaiki segalanya. Untuk apa? Pikirku.
Tak lebih dari setengah menit, dinding yang berusaha ia susun utuh kembali roboh. Kali ini disertai ledakan yang membuat kepingannya terlempar ke mana-mana. Aku menundukkan kepala, beberapa potongan sempat mengenaiku. Dia menggeram kesal.
“Apa kau terluka?” tanyanya. Aku menggeleng. Dia membuang napas kesal, lalu duduk tak jauh di sebelahku.
“Kau pasti sudah bertemu kembaranku,” katanya dengan nada dingin.
“Iya, kalian berdua sangat mirip!” jawabku berusaha mencairkan suasana, “dia bilang dia sangat merindukanmu! Dia sangat ingin menemuimu!”
Sekti hanya membuang muka, terlihat sama sekali tidak tertarik dengan informasi tentang saudaranya.
“Siapa namamu?”
“Shira.”
“Sudah berapa lama kau tersesat di sini?” tanyanya masih dengan nada menginterogasi.
“Hm ... Entahlah, mungkin ini yang keempat atau kelima kalinya. Sebenarnya aku tidak sepenuhnya terjebak ....”
“Iya, aku tahu!” jawabnya ketus memotong kata-kataku, “aku tahu makhluk yang masih punya tubuh fisik sepertimu hanya terisap ke mari dalam waktu-waktu tertentu.”
“Kau sudah tahu?”
“Tentu saja! Kau bukanlah yang satu-satunya tersesat di sini. Lagi pula, peristiwa ini sering terjadi setiap enam dekade, itu hal yang biasa bagiku!”
“Enam dekade?”
“Iya, paling sedikit ada sepasang jiwa yang terjebak di sini setiap enam dekade,” jawabnya.
“Sepasang? Aku dan Elang?”
“Kau kenal dengan jiwa bernama Elang?” tanya Sekti. Aku mengangguk.
“Apa dia temanmu?” tanyanya lagi. Aku agak bingung menjawabnya. Eh, apa aku sebenarnya berteman dengannya?
“Um, sebenarnya tidak, tapi anggap saja iya,” jawabku asal-asalan. Sekti mengernyit.
“Membingungkan!” komentarnya. Aku hanya nyengir. Dia bangkit dari duduknya, lagi-lagi mengerahkan kekuatan memperbaiki dinding bobrok ini.
__ADS_1
“Setiap enam dekade, setidaknya sepasang jiwa tersesat di sini tanpa diketahui penyebabnya,” katanya masih sibuk bekerja. Intonasinya lebih tenang dan tertata, “takdir yang menentukan, siapa yang akan menemui aku dulu atau siapa yang akan menemui saudaraku dulu, Sakti.”
Aku masih menyimak. Apa pengaruhnya jika bertemu dengan yang mana dulu?
“Kamu adalah yang beruntung, sebab kamu bertemu dengan saudaraku dulu. Kamu pasti akan terhindar dari segala tipu daya dunia ini. Bahkan kalau kamu beruntung, kamu bisa lolos dari tempat ini, hanya jika kamu beruntung.”
Aku menelan ludah. Bagaimana jika aku tidak beruntung?
“Tapi Elang jelas sangat sial, dia bertemu denganku lebih dulu. Hanya urusan waktu, dia akan berakhir di tanganku, menjadi monster mengerikan yang sama denganku. Sakti pasti sudah menceritakan hal itu.”
Aku terenyak mendengarnya. Sakti memang sudah banyak bercerita, tetapi dia tidak pernah membahas tentang ketentuan semacam ini! Elang? Akan berakhir di sini?
“Kalau dia temanmu dan kau sangat menyayanginya, kau harus bersiap kehilangannya, atau kau teman yang setia menemaninya di sini dalam keadaan apa pun,” kata Sekti menurunkan telapak tangannya. Dinding bilik telah berhasil ia perbaiki, terlihat seperti bangunan baru yang kontras dengan bangunan bobrok di kanan-kirinya.
Aku menggeleng atas pernyataan Sekti tadi.
“Tidak, Sekti! Meski aku dan Elang tidak begitu akrab apalagi menyayangi satu sama lain, aku tidak akan membiarkan manusia mana pun terjebak di tempat ini selamanya, itu mengerikan!” jawabku, “dan maaf juga, tetap tinggal di sini hanya untuk menemani Elang juga bukan pilihan yang bagus, itu jauh lebih mengerikan!”
“Lalu apa maumu?”
“Aku ingin kami berdua bisa pergi dari tempat ini,” jawabku tegas. Sekti menatapku cukup lama, kemudian mengalihkan pandangan.
“Jika itu bisa terjadi, seharusnya aku dan Sakti tidak akan tetap ada di sini.”
“Maksudmu?”
“Sejak tempat ini ada, ketentuan itulah yang berlaku,” kata Sekti, “sebenarnya tempat ini adalah ujian bagi orang sepertimu. Apa kau mau mendengar cerita lama?” tanyanya. Aku mengangguk. Sekti menatap langit berkabut kelabu sejenak.
“Baiklah, sepertinya waktu yang tersisa cukup untuk menceritakannya kepadamu,” kata Sekti.
“Aku dan kakak kembarku, Sakti, hanyalah anak manusia biasa ketika terlahir ke dunia. Namun, pada suatu waktu, kakakku tumbuh layaknya seorang dewa yang dipuja.”
“Itu adalah kiasan, Shira! Yang sebenarnya terjadi adalah kakakku memiliki kelebihan dan kecerdasan melampaui anak-anak seusianya. Dia bisa melakukan pekerjaan orang dewasa sejak kecil, lalu tumbuh menjadi remaja yang cerdas, dan menjelma menjadi orang dewasa yang tangguh. Semua orang memujanya, dia menjadi kebanggaan keluarga besar, tetapi tidak denganku.”
“Aku hanyalah anak manusia biasa, dari lahir hingga usia dewasa. Sungguh, aku hanya manusia biasa, yang tidaklah dungu atau terlampau hebat seperti kakakku, tetapi keberadaan Sakti sungguh menyilaukan. Semua perhatian tertuju padanya, semua mata menatapnya penuh pesona, tapi yang terjadi padaku adalah sebaliknya.”
“Aku memang tidak seperti saudaraku. Aku tak pernah layak mendapat semua sanjungan dan penghormatan itu, tetapi setidaknya aku masih layak mendapat penghormatan sebagai manusia biasa. Namun, kehadiran Sakti yang seperti cahaya hanya membuatku terlihat seperti noktah gelap tak berarti,” kata Sekti tak kehilangan nada arogannya meski menceritakan bagian paling menyedihkan.
“Apa menurutmu salah jika ada bibit iri dan kebencian bersemi dalam diriku? Sejujurnya ini bukan salah Sakti, sebab meski demikian dia tetaplah saudara yang mengasihiku, satu-satunya yang memperlakukanku seperti manusia. Namun, dia jugalah satu-satunya yang membuat orang lain tak memperlakukanku seperti manusia. Itu menyebalkan, Shira!”
“Maka dari itu, aku yang gelap mata pada saat itu meminta bantuan kekuatan hitam untuk menjebloskan Sakti dalam kesengsaraan. Pada mulanya aku senang melihat bagaimana Sakti jatuh sakit dan kehilangan kejayaannya. Itu melegakan! Tapi bantuan kekuatan hitam itu tidaklah gratis, Shira! Harus ada jiwa yang dikorbankan. Seiring berjalannya waktu pun, kejahatanku terbongkar. Tidak ada yang lebih tepat untuk dikorbankan selain jiwaku sendiri. Kebusukanku sudah terkelupas, aku sudah tega menyakiti saudaraku dengan bantuan kekuatan hitam, orang-orang akan semakin membenciku. Jadi lebih baik aku mati dan menghilang dari muka bumi.”
“Namun, apa kamu tahu? Urusan tidak selesai setelah aku mati. Kekuatan hitam itu menuntut banyak hal yang tak lagi bisa kupenuhi. Jiwaku dikutuk dan terjebak di dunia kelabu ini selamanya. Kupikir aku bisa berdamai dengan kenyataan itu dan melupakan apa yang telah terjadi, tetapi entah bagaimana caranya, Sakti juga menyusul ke tempat ini, berjanji akan membawaku kembali. Lihatlah betapa konyolnya saudaraku itu! Dia sudah kucelakai kemudian dia mempertaruhkan nyawanya sendiri, menjemputku di sini? Orang bodoh macam apa dia itu?”
“Padahal ada banyak kesempatan baginya untuk pergi dari sini, tetapi tidak ia pedulikan sebab aku tidak bisa keluar. Begitu keras kepalanya dia meyakini bahwa dia pasti menemukan cara agar aku bisa kembali! Sudah ribuan kali kuperingatkan, aku tidak bisa lolos dari tempat ini. Hingga batas waktunya, dia memilih tetap berada di sini, sambil terus mencari tahu jalan keluar, meski itu sama sekali tidak berguna. Kami sudah ratusan tahun di sini. Sekali pun kami bisa keluar, kami tidak akan bisa hidup seperti dulu lagi. Permainan sudah berakhir.”
“Itu adalah sejarah lama yang melandasi kisah setiap jiwa yang tersesat di tempat ini. Ada yang di posisiku, lambang kebencian dan iri hati, selamanya akan terjebak di sini. Ada juga yang di posisi Sakti, lambang kebaikan dan kasih tanpa batas —yang kusebut kebodohan— boleh jadi bisa keluar selama belum melampaui batas waktunya. Setiap pasang jiwa yang terjebak pasti akan memiliki kisah yang serupa dengan kisahku dan Sakti. Sebab orang yang baik seperti kamu selalu mengorbankan jiwanya sendiri demi tetap bersama pasangannya. Kalau kamu ingin kisah yang berbeda, cepatlah cari tahu jalan keluarnya tanpa memedulikan Elang lagi.”
“Sekti, aku ingin keluar bersama Elang dari tempat ini! Aku akan sekuat tenaga mencari jalan keluarnya!” seruku keras kepala.
“Kalau begitu kamu hanya akan mengulangi kisah yang sama, Shira. Kamu tahu tentang rahasia ini lebih awal dari siapa pun yang pernah tersesat di sini. Aku harap kamu mendengarkan saranku dan bisa keluar dari tempat ini,” jawab Sekti.
Aku menggeleng lemah. Apa ceritanya benar? Apa dia bisa dipercaya? Kenapa Sakti tidak menceritakannya kepadaku?Selembar misteri tentang jalan keluar dari dunia ini telah kuketahui, tetapi keadaannya jadi semakin rumit.
Kabut kelabu semakin menipis. Cahaya kemerahan mulai bersemu di langit. Pergantian waktu tidak lama lagi.
“Aku memang tidak bisa membaca pikiran seperti Sakti, tapi dengan tekadmu yang juga ingin menyelamatkan Elang, kau telah mengingkari kata-katamu, bahwa kau sebenarnya menyayangi jiwa bernama Elang itu,” kata Sekti.
__ADS_1
Kata-katanya terdengar seperti benang kusut. Aku tak sempat meluruskannya sebab aroma menyengat lebih dulu menyebar di atmosfer.
“Menjelang pergantian waktu, gas beracun yang dilepaskan monster Sakti semakin meningkat. Aromanya bisa meluas ke segala ruangan di dunia ini. Sebentar lagi aku juga akan berubah menjadi monster. Kamu bisa berlindung di bilik yang kokoh ini selama kamu menahan pintunya. Cepatlah!”
Aku hanya sempat mengangguk. Sungguh, aroma ini membuatku mual. Entahlah, apakah aku berhasil masuk ke bilik sebelum akhirnya jatuh pingsan?
****
“Dia belum siuman?”
“Belum, Yas, aku sudah mencoba segala cara agar membuatnya sadar. Aku takut terjadi apa-apa.”
“Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa. Jika terjadi hal seperti ini, artinya dia tidak tidur semalaman.”
“Insomnia?”
“Kurasa begitu.”
Percakapan itu lamat-lamat semakin jelas. Sepasang mataku terbuka. Aku terbangun di ruangan sejuk yang nyaman, terbaring di ranjang yang lebih nyaman pula. Seandainya ini di rumah, aku pasti akan menaikkan selimut dan melanjutkan tidur. Sayangnya, ini masih di UKS sekolah.
“Ini sudah pulang, apa perlu kita telepon orang tuanya?”
“Um ... Hei, dia sudah sadar!” seru suara yang kukenali milik Yasinta itu. Petugas UKS yang tadi mengobrol dengannya tampak lega.
“Syukurlah!”
“Jadi, bagaimana putri tidur? Tidurmu nyenyak? Mimpi indah?” ledek Yasinta.
“Ah, begitukah sapaan yang pantas untuk teman yang baru saja siuman dari pingsan?” tanyaku balik.
“Habisnya kamu itu susah sekali dibilangi! Kalau malam istirahat yang cukup! Mengarang cerita halu atau baca novel ya boleh! Tapi jangan bablas sampai pagi, dong!”
Aku berbalik dan menutup telinga rapat-rapat. Enak saja! Cerita halu katanya?!
“Maaf, Dik Shira, ini sudah pulang. Sebaiknya kamu istirahat di rumah, kalau besok masih tidak fit tidak perlu masuk sekolah dulu, tidak apa-apa, kok!” kata petugas UKS yang dari tadi hanya diam melihat cek-cokku dan Yasinta.
“Sudahlah, ayo kita pulang! Aku akan mengantarmu,” kata Yasinta.
“Tidak perlu, terima kasih! Aku bisa pulang sendiri,” jawabku beranjak dari tempat tidur.
“Oh, membantah lagi ya?” kata Yasinta yang entah kenapa tidak berani kulawan lagi. Eh? Yasinta kan bukan ibuku!
Kami keluar dari UKS. Halaman sekolah masih ramai sebab akan ada kegiatan ekstrakurikuker di sana. Beberapa anak tampak menuntun motor keluar dari area parkir.
“Ini tasmu, aku mau mengambil motor dulu,” kata Yasinta.
“Baik, ibu!” jawabku setengah meledeknya. Dia hanya terkekeh pelan. Puh, aku masih menguap. Rasa-rasanya baru tidur sebentar, tahu-tahu sudah pulang.
Kuperiksa isi tasku, memastikan tidak ada yang tertinggal di kelas. Harusnya tidak ada, tetapi ada sesuatu yang perlu kuambil, buku kuno itu. Aku belum selesai menelitinya. Kalau tidak ada yang memedulikannya, buku itu mungkin masih ada di sudut baca.
Pada akhirnya aku mengingkari pesan Yasinta. Aku pergi ke kelas dulu. Di tangga aku berpapasan dengan Elang. Langkahku tiba-tiba terhenti, teringat kata-kata Sekti dalam mimpiku tadi, tentang Elang dan kaitannya dengan kisah lama itu.
Dia hanya menatapku sekilas, masih dengan tatapan tak bersahabat itu, kemudian terus jalan, tidak peduli. Apa Elang perlu kuberi tahu tentang hal itu? Atau dia sudah tahu dari Sekti lebih dulu? Aku menghela napas, kembali menuju kelas.
Ternyata kelas sudah kosong dan buku yang kucari tidak ada di sudut baca, tidak di laciku atau laci Yasinta, tidak di laci siapa pun.
Buku itu hilang.
__ADS_1
.Bersambung.