Kelabu

Kelabu
Episode 25


__ADS_3

Bel rumah kupencet. Seseorang yang muncul di balik pagar membuatku terkaget.


“Elang?!!”


Eh, bukan. Dia bukan Elang. Posturnya lebih tinggi dengan bekas luka gores memotong garis alis kirinya. Dia terdiam mengamatiku beberapa saat kemudian tersenyum.


“Aku tahu kamu akan tetap datang!” serunya tiba-tiba menggandeng tanganku dan mengajakku masuk. Rasanya horor melihat wajah yang serupa Elang tersenyum riang dengan demikian ramahnya, sementara selama ini yang kutahu Elang selalu terlihat garang dengan alis tampak menyatu. Jika dia benar-benar Elang, mungkin perlu kutanya apakah dia sedang kesurupan?


“Aku tidak terkejut, semua teman Aang yang pernah main ke sini selalu mengira kami kembar, padahal kami terpaut lima tahun! Mari, silakan duduk!” ujarnya ramah.


“Aang?”


“Ah, kamu tidak terbiasa ya? Itu panggilan Elang di lingkungan keluarga,” jawabnya. Oh, benar, dia pernah cerita.


“Jadi ... Anda Kak Garuda?” tanyaku belum sembuh dari keterkejutan.


“Ya iyalah, Shira! Meski mirip, Elang tidak mungkin seganteng dan sebaik aku. Iya ‘kan?” katanya membuatku ingin cepat-cepat pulang. Sungguh, dengan Elang yang asli saja aku tak tahan! Apalagi dengan kepribadian berbalik 180 derajat ini!


“Wah, terima kasih ya! Sebetulnya kamu tidak perlu repot-repot!” katanya menerima sekantong jajanan pemberian Nike yang sebenarnya tidak pernah kuserahkan.


“Se ... sebenarnya itu bukan untuk ....”


“Iya, aku tahu! Ini bukan untukku, tapi untuk yang sakit. Aku mengerti, kok!”


BUKAN BEGITU MAKSUDKU!!! Ah, tidaaak! Roti sobek manis dan susu coklatkuuu!


“Anggap rumah sendiri ya! Elang masih tidur di kamarnya. Aku akan menanyakan apa kamu boleh masuk atau tidak,” kata Kak Garuda. Aku masih terdiam memijit keningku. Bodo amat! Ya ampun! Takdir apa yang menyebabkanku terjebak di sini?!


Kusandarkan punggungku di sofa, mau tak mau akhirnya mengamati isi ruang tamu ini. Di hadapanku setangkai mawar putih segar di dalam vas –sepertinya baru dipetik dari taman depan– bersebelahan dengan beberapa toples camilan. Satu-dua buku tebal masih terbuka di meja sudut ruangan beserta kertas-kertas berserakan.


Foto keluarga yang amat besar menjadi pajangan paling mencolok. Pose di dalamnya adalah sepasang suami istri dan dua bocah laki-laki. Satu-satunya perempuan dalam potret itu begitu cantik dengan wajah khas timur tengah, matanya yang meneduhkan seolah benar-benar nyata sedang balik menatapku. Di samping perempuan yang kuyakini ibu Dirgaraja bersaudara itu, berdiri laki-laki setengah baya dengan setelan jas rapi penuh wibawa dan sorot mata tajam di balik kacamatanya. Hanya dipandang seperti itu, aku bisa merasakan karakter orang yang tegas dan disiplin, yang diwariskan kepada Elang.


Bagian paling menarik, dua bocah yang sekilas tampak mirip, mengenakan kemeja sewarna seolah mereka benar-benar kembar. Si kecil pemurung berwajah bulat di gendongan ibunya tak mau menatap kamera, sementara kakaknya meringis lucu, memamerkan gigi ompongnya sambil merentangkan tangan lebar, seolah ingin memeluk siapa pun yang memandang foto keluarga ini. Aku menahan tawa geli, sebab lihatlah dua bocah dalam foto itu sekarang! Mungkin tingginya sudah melebihi tinggi si ibu ditambah garis rahang mereka yang semakin tegas –bukan bulat seperti di foto.


“Itu foto dua belas tahun yang lalu. Lucu ‘kan?” Suara Kak Garuda mengalihkan perhatianku. Dia kembali dengan segelas sirop dingin.


“Sepertinya Elang tidak mau keluar. Aku lupa kalau dia tidak suka terlihat tak berdaya di depan orang lain. Oh, maaf ya, hanya ada ini, silakan!” kata Kak Garuda. Aku berterima kasih demi sopan santun meski tidak berniat berlama-lama di sini.


“Maaf lagi ya, aku sambil mengerjakan tugas kuliahku. Huhu! Semester tua memang sedikit menyiksa. Semalam aku tak sempat menyentuhnya karena kondisi Elang yang tiba-tiba drop. Maka dari itu aku mohon bantuanmu,” kata Kak Garuda sibuk berkutat dengan laptop dan tumpukan kertasnya di sudut ruangan tadi. Aku tak tahu apakah kehadiranku di sini akan benar-benar membantu?


Basa-basi, aku bertanya tentang fakultas kuliah Kak Garuda. Dia menjawab lebih dari jawaban yang ingin kuketahui. Aku tak habis pikir bagaimana dia bisa tetap fokus mengerjakan tugas sambil mengobrol begini.


“Ngomong-ngomong kamu mau pilih fakultas apa kalau kuliah nanti?” tanyanya.


“Eh, belum tahu ... kan masih lama, dipikir nanti-nanti saja,” jawabku.


“Satu tahun itu cepat, lho! Kalau tidak dipikir dari sekarang nanti bisa menyesal karena salah jurusan. Kenapa belum memutuskan pilihan padahal kamu peringkat satu di kelas? Pasti bingung ya karena kamu bisa semuanya?”


“Bukan begitu, sih! Belum menemukan yang cocok, Kak,” jawabku. Bisa semuanya? Dia pikir aku dewa?! Eh, dari mana dia tahu kalau aku peringkat satu?!


“Oh, benar juga. Menguasai bidang tertentu bukan berarti menyukainya, belum tentu cocok di hati, tapi sebaiknya kamu segera memutuskan pilihan. Sebelum banyak orang yang kesal karena sikapmu yang terlalu santai ini.”


“Maksud Kakak?”


Kak Garuda melirikku sekilas dengan lesung pipi yang tampak jelas karena senyumnya, “Sebenarnya aku tahu hubunganmu dengan Elang memang tidak sedekat yang kukira. Dia sangat kesal dikalahkan orang sesantai kamu sementara dia sendiri berjuang mati-matian. Dulu saat kalian masih kelas sepuluh sempat kulihat sticky note di meja belajarnya bertuliskan sumpah bahwa dia akan mengalahkanmu.”


Eh? Segitunya ya?


“Sejak dulu Elang memang begitu, memiliki tujuan jelas, ingin jadi peringkat teratas. Sayangnya, dia selalu kalah darimu. Maaf ya, kalau dia membencimu dan bersikap kasar.”


“Tidak apa-apa, aku sudah tahu. Elang pernah blak-blakan mengatakannya padaku.”


“Sungguh?” Kak Garuda terkekeh tidak percaya, “terkadang aku kasihan melihatnya hidup dipenuhi tekanan. Maksudku, apa-apaan dengan ambisinya itu? Apakah dia tidak jenuh? Tapi dia sudah memilih seperti itu dan aku tak bisa menghentikannya.”


“Belajar dengan tekun memang bagus, sih! Tapi persetanlah dengan peringkat di kelas. Memangnya akan dapat apa dengan reputasi seperti itu? Tidak ada yang terlalu istimewa karena menjadi juara kelas dan aku memang tidak mengharapkannya. Bukankah bagian yang terpenting dari belajar adalah prosesnya?” sanggahku. Kak Garuda mengangguk-angguk.


“Aku sangat sependapat denganmu. Masalah hasil kan urusan Tuhan. Sayangnya Papa kami tidak berpikir demikian. Dia selalu membanding-bandingkan Elang denganku. Beliau mendidik kami dengan keras, mengharuskan kami menentukan target dan berjuang hingga meraihnya. Sebenarnya itu bagus, tetapi ketika Elang gagal seharusnya Papa tidak perlu mencemooh dan merendahkannya. Menurutku itu hukuman kejam yang berubah menjadi tekanan besar.”


Aku melirik foto Papa mereka. Dari sekilas pandang saja sudah ketahuan kalau orangnya seperti itu.

__ADS_1


“Hasilnya lihatlah Elang sekarang, pendiam, ambisius, dingin ... dan sangat membenciku. Aku tahu ini bukan salahnya. Seandainya aku ada di posisinya, mungkin aku juga merasa muak dibanding-bandingkan dengan kakakku yang sedikit lebih beruntung.”


“Sepertinya aku pernah dengar cerita seperti ini,” gumamku lirih.


“Maaf, apa katamu tadi?”


“Ah, tidak! Bukan apa-apa!”


Kak Garuda terdiam sambil memejamkan mata menyesali segala memori tidak menyenangkan di kepalanya, “Aku tak tahan melihat Elang selalu diperlakukan demikian, tapi Papa seolah sengaja memupuk kebencian dengan alasan demi kebaikan Elang sendiri. Kebaikan yang mana? Yang ada Elang justru terpuruk dan merasa terbuang. Itu sebabnya ketika mulai kuliah di kota ini, kuajak Elang tinggal bersamaku agar ia jauh dari teror Papa. Awalnya Papa tidak setuju dan Elang sendiri juga menolak, tetapi akhirnya berhasil juga.”


Tanpa sadar aku tersenyum. Bagaimanapun Kak Garuda sudah berhasil menyelamatkan adiknya. Jadi begitu rasanya punya kakak. Dari dulu aku sempat mendambakannya, saudara yang lebih tua dengan tangan hangat terulur kapan pun ketika aku butuh. Sayangnya Elang belum juga membuka mata. Sikap dingin dan tidak sopannya itu, apa-apaan coba?!


“Eh, sebentar, berarti rumah keluarga kalian sebenarnya bukan di sini?!” tanyaku menyadari sesuatu.


“Benar, rumah ini hanya salah satu aset Mama yang kupakai selama kuliah di kota ini. Rumah keluarga utama ada di kota sebelah, kantor utama perusahaan Papa juga. Mungkin kamu tidak asing dengan Dirgaraja Group? Nah, itulah perusahaan keluarga yang suatu hari nanti akan diwariskan kepada aku atau Elang, tapi sssttt ... sejujurnya aku tidak tertarik,” kata Kak Garuda. Aku malah sibuk mengingat-ingat. Dirgaraja Group ya ... sepertinya teman-teman juga pernah menggosipkannya. Oh, jangan-jangan perusahaan real estate yang satu tahun terakhir iklannya muncul di televisi itu. Hm, ternyata aku sedang mengobrol dengan calon pewarisnya.


“Oh, Dirgaraja Group yang itu,” jawabku.


“Kamu tidak terkejut?”


“Apa aku wajib terkejut?”


“Tidak, sih!”


“Sudah selesai pamer-pamernya?” sahut sebuah suara tiba-tiba. Entah sejak kapan Elang sudah berdiri tak jauh dari kami dengan wajah kuyu dan mata cekung khas orang sakit. Mungkin dia tidak sadar ada plester penurun panas di dahinya.


“Wah, hai, adikku! Aku terkejut kamu bisa meninggalkan tempat tidur sendiri! Padahal kami baru saja akan memaksa masuk ke kamarmu! Dan lagi ... aku tidak sedang pamer, lho!” balas Kak Garuda. Elang hanya diam, mengalihkan pandangan kepadaku.


“Kau juga ... kupikir Garuda hanya membual ketika bilang ada yang menjengukku.”


“Kamu benar-benar tidak memanggilnya kakak? Bagaimanapun dia saudaramu,” protesku. Elang hanya membuang napas kesal kemudian duduk menjaga jarak dari Kak Garuda. Bahkan ketika sakit pun dia masih tetap menyebalkan. Seandainya adikku di rumah seperti dia, aku tidak akan ragu memberinya pelajaran.


“Sudah agak baikan?” tanyaku.


“Ya jelaslah, tadi pagi Elang tidak bisa berjalan tegak seperti ini. Sekarang kamu mengerti kenapa aku mengundangmu ke mari, Shira? Itulah ... aduh!” Kata-kata Kak Garuda terpotong ketika tutup toples melayang di jidatnya.


“Oke, baik,” jawab Kak Garuda pasrah. Heh?! Melawan, dong! Masa adiknya kurang ajar dia diam saja?!


“Ini sudah waktunya minum obat, Ang. Perutmu tidak boleh kosong. Aku tidak perlu memaksa-maksamu seperti tadi ‘kan? Malu loh dilihat Shira ....”


“Kau yang malu, Gar! Aku bisa mengambil makan sendiri,” jawab Elang yang baru saja bangkit segera disentil dahinya oleh si kakak.


“Kubilang duduk saja kau, jelek! Panasmu belum turun, nih! Diam di tempat!” Kak Garuda ternyata bisa memaksa. Elang mendengus sebal sambil menyingkirkan tangan kakaknya dari dahinya.


Sial, kenapa aku jadi iri ya? Maksudku, aku jadi ingin punya kakak yang baik dan perhatian seperti itu. Masalahnya, apakah aku selama ini sudah menjadi kakak yang baik untuk adikku? Hehe, tak sadar diri!


“Hari ini ada apa di sekolah?” tanya Elang ketika aku mulai canggung tak menemukan topik obrolan.


“Penilaian kelas, ulangan Bahasa Indonesia, PR Bu Lis dikumpulkan ... um, sepertinya hanya itu,” jawabku.


“Bagaimana penilaian kelas?”


“Beres, semuanya sudah tertangani. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Besok pun agendanya longgar. Jika masih kurang sehat sebaiknya istirahat saja dulu.”


“Ah, aku sudah istirahat penuh seharian ini,” jawab Elang. Apakah dia juga terisap di dunia kelabu selama tidur sehari ini? Jika iya mungkin dia bertemu Sekti, tetapi aku tak mungkin membahasnya sekarang.


Lengang lagi. Kak Garuda belum juga kembali. Sebenarnya apa yang harus kuperbuat di sini?


“Berapa lama kamu tersesat mencari rumahku?” tanya Elang jelas sekali mengejek. Memangnya siapa yang tersesat?!


“Asal kamu tahu, Lang! Aku sama sekali tidak ada niat untuk datang ke sini. Sebenarnya tadi aku sedang ... HEH! YA AMPUN! AKU LUPA!” teriakku panik. Aduh, barang pesanan Sindi!


“Aku sedang mencari rumah Sindi untuk mengantar barang! Ya ampun! Sindi pasti sedang menunggu! Bagaimana ini?!” ujarku panik memeriksa ponsel. Tidak ada pesan masuk, berarti Sindi belum tahu aku terlambat datang ke rumahnya.


“Tidak apa-apa, Sindi sedang tidak di rumah. Tadi mamanya bilang sebelum menjemput Sindi bahwa mereka akan menginap di rumah kerabat. Jadi sekarang tidak ada orang di rumahnya,” jawab Kak Garuda muncul dari dalam membawakan makanan dan obat untuk Elang, “nih, dihabiskan loh, Ang!”


“Bodo amat!”


Aku merasa sedikit lega, agak jengkel juga karena Nike menyuruhku sebelum memastikan Sindi ada atau tidak.

__ADS_1


“Oh, jadi tadi kronologinya seperti itu? Wajar, sih, jika kamu salah alamat. Rumah kami memang mirip dan saling berhadapan. Eh, jangan-jangan barang yang dipesan Sindi ... sekantong makanan ringan tadi ya?” tanya Kak Garuda nyengir dengan wajah memerah. Elang tersedak mendengarnya.


“Ya ampun, Gar! Memalukan! Kenapa kakakku harus sepertimu!”


“Maaf ya, Shira! Akan kukembalikan ....”


“Ti ... tidak perlu, Kak. Bukan itu, kok! Barang pesanan Sindi ada di tas,” jawabku.


“Yang benar?”


“Iya, benar. Seharusnya aku yang minta maaf karena salah alamat,” jawabku.


“Oh, berarti yang tadi memang sengaja dibawakan untuk Aang ‘kan? Aku tahu sebenarnya kamu juga ingin sekaligus mampir ke mari. Tidak usah malu-malu begitu, ah!” canda Kak Garuda sama sekali salah.


“Aku bahkan tidak tahu sebelumnya kalau kalian bertetangga dengan Sindi,” jawabku mementahkan pernyataannya, “pantas saja Elang dan Sindi terlihat dekat.”


“Apa? Kamu dekat dengan Sindi, Ang?!”


“Mana ada?! Dasar Sindi saja yang ganjen!”


“Itu tandanya dia ingin perhatianmu, Lang! Masa kamu tidak sadar?” balasku.


“Bukan, Sindi tidak menginginkanku. Dia mengincar Garuda dan pedofil satu ini justru senang digoda cewek centil itu!” jawab Elang.


“Tidak apa-apa, dong! Toh, kamu tidak cemburu. Lagi pula sebenarnya aku tidak ada maksud apa-apa selain menginginkan adik perempuan! Tapi serius kan kamu tidak cemburu, Ang? Aku tidak mau semakin dibenci adikku hanya karena masalah sepele,” jawab Kak Garuda.


“Tidak, yang model begitu buat kau saja! Selain itu, maaf jika aku adalah adik laki-laki yang tidak diharapkan,” jawab Elang. Wah, cek-cok dua bersaudara ini seru juga. Aku hanya menonton sambil meminum sirop dinginku.


“Ya ampun, Ang! Bukan begitu maksudku! Bukannya aku tidak mengharapkanmu, sepertinya punya satu adik perempuan lagi akan lebih seru! Akan ada penengah di antara kita, tapi sepertinya mustahil minta adik lagi! Ah, sudahlah! Lagi pula adik iparku nanti perempuan ‘kan?”


“YA IYALAH!” Elang ngegas dengan suaranya yang agak serak. Aku tak bisa menahan tawa. Aduh, Kak Garuda ini ada-ada saja!


“Maaf, apa aku boleh meminjam toilet?” tanyaku.


“Oh, iya. Dari sini lurus lalu ke kanan setelah dapur. Perlu kuantar?” tanya Kak Garuda.


“Terima kasih, bisa sendiri.”


“Sama-sama! Ang, kalau kamu sudah selesai letakkan saja piringnya di meja biar nanti aku yang pindahkan ke dapur. Kamu langsung minum obat saja, mengerti?”


“Terima kasih, bisa sendiri,” jawab Elang mengulang kata-kataku. Kami bersenggolan ketika sama-sama hendak menuju ke belakang. Kurasakan tadi kulitnya begitu panas. Tidak, dia tidak sepulih kelihatannya.


“Lang, kamu ... terbakar.”


“Ha?”


“Kondisimu sekarang sangat buruk dan apa kamu benar-benar tidak bisa mematuhi kakakmu?!”


“Aku bukannya senang merepotkan ....”


“Kamu merepotkan orang sekelas gara-gara tadi tidak masuk dan kakakmu juga menunda tugas kuliahnya! Jika memang kamu tidak suka merepotkan tolong cukup beristirahatlah dan lekas sembuh, paham?!” ujarku tak tahan menghadapi betapa keras kepalanya manusia satu ini, “cepat minum obatmu dan kembali ke tempat tidur!” perintahku sambil mengambil alih piring dari tangannya, meletakkannya di dapur. Elang berdecak sebal, tapi menurut juga.


“Cih, demam sialan! Cepatlah enyah, aku tak tahan!” gerutu Elang samar-samar kudengar.


Sekembalinya aku dari belakang Kak Garuda sudah membereskan pekerjaannya, mencabut flashdisk dari laptop sementara Elang terbaring di sofa panjang, tertidur dengan lengan kanan diangkat menutupi matanya.


“Kurasa aku harus pamit, Kak, sudah sore,” ujarku.


“Oh, iya. Kamu jalan kaki ‘kan? Biar kuantar, sekaligus mau nge-print di luar. Printer-ku rusak, maklumlah sudah bertahun-tahun,” jawab Kak Garuda.


“Eh, tidak perlu. Rumahku jauh! Nanti terlalu lama, Elang tertidur sendirian di sini.”


“Justru karena jauh maka perlu kuantar, jalanan sekitar sini juga rawan kalau sore. Sudah ya, menurut saja!” kata Kak Garuda memyambar jaket dan mengenakannya.


“Maaf jika aku tidak banyak membantu di sini,” ujarku.


“Oh ya? Menurutku tidak mudah menjinakkan anak satu ini, tapi kamu berhasil melakukannya. Jadi, kamu jelas sangat membantu!” jawab Kak Garuda dengan senyum yang benar-benar tidak biasa bagiku, “lain waktu mainlah ke sini lagi ya!”


.Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2