Kelabu

Kelabu
#S2 Episode 27


__ADS_3

“Aku punya penjelasan ... Tolong, dengarkan dulu ....”


Kak Garuda menghalangi satu-satunya pintu akses keluar masuk dari ruangan ini. Ia tampak panik berusaha menenangkanku, tetapi aku lebih panik lagi, beringsut mundur menjauhinya.


“Si ... siapa kamu sebenarnya?” tanyaku sambil mengumpulkan semua kekuatan di telapak tangan. Sekali dia mencoba macam-macam, akan kubuat keributan yang mengundang banyak orang ke sini.


“Aku ... aku Garuda, Garuda Dirgaraja ....”


“Bukan! Kamu iblis! Jangan-jangan Labe yang sudah lenyap menyamar menjadi Kak Garuda?! Kurang ajar!”


“Tidak, Shira! Tidak ... Sungguh! Aku benar-benar Garuda ... dan kuakui ... memang ada kekuatan iblis yang merasukiku,” jawabnya kian merendahkan suara. Masih bergeming di tempat, kucerna lambat-lambat kata-kata Kak Garuda tadi. Dirasuki kekuatan iblis?


“Sejak kapan?” tanyaku masih waspada.


“Sejak ... sejak lama ... aghk!”


Tiba-tiba Kak Garuda ambruk ke lantai, mendengus-dengus tidak jelas sambil menggigit dan menarik-narik benang hitam di pergelangan tangannya, seolah ingin melepas gelang itu. Sosok iblisnya kembali tampak.


“Ah, ma ... maaf,” ujarnya ketika tersadar lagi, “aku tidak menyalahkanmu bila setelah ini menjaga jarak dariku.”


“Ba ... bagaimana Kakak bisa dirasuki kekuatan iblis itu ?” tanyaku ikut merendah, mengintip wajah sendunya meski masih tidak berani mendekat.


“Yah, daripada Aang yang kena ....”


“Eh???”


“Lupus, iblis kedengkian yang paling bengis di antara Griseo mau pun Labe, dulu sebenarnya lebih mengincar Aang,” kata Kak Garuda. Aku masih mengerjap tidak mengerti. Mengincar Elang?


“Seperti yang pernah kuceritakan –kamu ingat atau tidak ya?– meski kakak beradik, hubungan kami tidak sebaik yang seharusnya. Yah, kelihatan jelas dari sikap Aang kepadaku, tapi sungguh, yang terjadi lebih buruk dari itu.”


“Oh, gara-gara Kak Garuda yang kelewat pintar ya? Akhirnya Elang dianggap sebelah mata oleh papa kalian,” tebakku setelah berhasil mengorek-orek cerita lama itu.


“Heh? Kelewat apa? Aduh, itu pasti cerita dari sudut pandang Aang ya! Aku tidak pernah merasa seperti itu dan tidak meminta papa membeda-bedakan kami, tapi ... semuanya terlanjur terjadi, adikku terlanjur membenciku ... Bahkan –jangan kaget ya!– dia pernah mencoba membunuhku,” kata Kak Garuda.


“Hm, iya ... Elang pernah cerita soal itu.”


“Nah, itulah puncaknya, puncak frustrasi dan kebencian yang tak bisa Aang tanggung lagi, mengundang jalan masuk bagi Lupus untuk merasukinya. Sesaat sebelum merasuki Aang, kutawarkan agar iblis itu sebaiknya merasukiku saja. Kuserahkan jiwa dan ragaku kepadanya asal ia tidak menyentuh adikku ... dan iblis itu pun sepakat dengan perjanjian yang kami buat,” kata Kak Garuda entah kenapa malah tersenyum mengingat kejadian itu sementara aku menutup mulut tidak percaya.


“Kak Garuda ... mengorbankan diri Kakak sendiri?”


“Tapi, asal kau tahu, Shira ... ternyata iblis itu justru tidak bisa berbuat banyak hal dengan jiwa dan tubuhku, tidak ada kedengkian dan nafsu jahat yang bisa ia manfaatkan! Lupus malah merasa seperti dipenjara dalam tubuhku! Heheh, aku menertawakannya mengetahui hal itu sambil terus menjauhkan hatiku dari perasaan-perasaan dengki. Selama bertahun-tahun ia tak bisa bangkit dan menguasaiku tanpa perasaan-perasaan itu ... hingga akhirnya ia mulai bangkit belakangan ini setelah aku menggunakan kekuatannya ....”


Jantungku seolah mencelus saat Kak Garuda bilang tentang kekuatan dan aku terlanjur menebak satu hal.


“Kekuatan? Kekuatan apa?! Jangan-jangan ... kekuatan Kak Garuda selama ini ... yang Kakak gunakan untuk melindungiku dan Elang saat misi ... sebenarnya adalah kekuatan iblis?”


“Aaghk!”


Kali ini aku justru mendekat ketika Kak Garuda lagi-lagi mengerang kesakitan, masih berusaha melepas gelang hitam ketat di tangannya. Ketika bingung memikirkan sesuatu yang sekiranya membantu Kak Garuda, ia lebih dulu menjambak kasar rambutku, memaksa wajahku bertatap lurus dengan matanya yang seperti binatang buas.


“Hahaha! Kekuatan iblis! Benar! Bocah tengik ini akhirnya menggunakan kekuatanku dan kau percaya kata-katanya bahwa kekuatan itu didapat karena ia adalah reinkarnasi Kesatria Perak?! Bagaimana Kesatria Perak bereinkarnasi ketika jiwanya masih terjebak di Dunia Kelabu selama ratusan tahun?! Hahaha! Siapa yang bodoh? Siapa?!”


“Kak Garuda ... Kak Garuda tidak seharusnya mendapat balasan seperti ini atas niat baiknya melindungiku dan Elang! Tidak seharusnya!”


“Niat baik, heh? Dengan menggunakan kekuatan jahat? Dia sudah tahu akibatnya seperti ini dan tetap memakai kekuatanku. Sudah seharusnya ... Sudah seharusnya ia menerima segala konsekuensi!”


Seringaian di wajah orang ini terlihat asing. Aku tak pernah melihat yang seperti itu dari Kak Garuda. Itu mengerikan, aku tidak rela sosok baik dan ramahnya tersingkirkan oleh kekuatan jahat mana pun!


“Tidak, Kak Garuda! Tidak! Kakak hanya bercanda!”


“Namaku Lupus, Yang Mulia!”

__ADS_1


“Kenapa Kakak harus mengambil semua risiko ini sendiri?!”


Detik berikutnya cengkeraman kuat di rambutku mengendur. Kepala Kak Garuda lunglai jatuh di pundakku.


“Karena aku ... menyayangi adikku ... dan orang yang ia sayangi juga,” bisiknya lemah. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya atau menahan rembesan bening dari mataku. Kak Garuda selalu punya kata-kata klise yang tetap mangaduk-aduk perasaan. Bagaimana mungkin aku tidak percaya bila ia adalah reinkarnasi Sakti ketika sifat dan kebaikan keduanya benar-benar sama, teramat persis malah.


“Harusnya tidak perlu sampai mengorbankan diri Kakak sendiri. Berbuat baik tidak harus sebodoh ini ....”


“Kelihatan bodoh ya? Kan sudah kubilang aku memang tidak kelewat pintar,” jawabnya mengangkat wajah dari pundakku, “aku tidak sedih, kok! Tidak ada yang kusesali ... Meski kelihatan sebodoh apa pun, kebaikan tetaplah kebaikan!”


Juga kata-kata itu ... Aku benar-benar merasa seperti berhadapan dengan Sakti saat ini.


“Aduh, aku membuat Shira menangis! Maaf ya kalau yang tadi itu sakit. Tanganmu sampai berdarah juga. Itu benar-benar di luar kendaliku. Lain kali aku tidak akan membiarkan Lupus menguasaiku!” kata Kak Garuda merapikan rambut pendekku lagi.


“Apa ada yang tahu tentang hal ini?” tanyaku sambil menghapus jejak basah di pipi, berharap bisa bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi pada Kak Garuda.


“Ada ... Aquila tahu. Gelang jimat ini kudapat darinya tadi sore. Mungkin Lupus bereaksi karena pengaruhnya. Selama tidak lepas, aku tidak apa-apa, kok! Jangan khawatir berlebih ya!”


“Hanya Aquila yang tahu?”


“Hanya Aquila dan Shira yang tahu ... untuk saat ini.”


“Elang tidak tahu?”


“Heeh?! Tidak tahu dan jangan dikasih tahu!” jawab Kak Garuda kembali ke perangai aslinya, “dia mungkin akan semakin membenciku.”


“Tapi Kakak telah berkorban untuk dia!”


“Itu malah lebih buruk!” jawab Kak Garuda semakin senewen sendiri, “jika Aang sampai tahu aku berkorban untuknya, dia hanya akan termakan rasa bersalah ... dan asal kamu tahu, adikku itu bisa mati hanya karena merasa bersalah ... Jadi, jangan biarkan dia tahu, oke?"


Aku belum mengangguk atau menggeleng. Kata-kata Kak Garuda tak bisa kupungkiri. Elang yang kelihatan kuat lahir dan batin itu sejatinya rapuh bila diungkit tentang kesalahan lampaunya, tetapi aku tidak mungkin merahasiakan sesuatu sepenting ini darinya. Tidak mungkin ... karena ternyata Elang sendiri entah sejak kapan telah berdiri di balik pintu, tak sengaja membuat derit yang membuat kami menoleh ke arahnya.


“Eh? Ang?! Se ... sejak kapan kamu berdiri di sana? Kenapa tidak langsung masuk ....”


“Lang! Berhenti! Kamu mau ke mana?!” seruku mengejarnya yang melangkah lebar-lebar tanpa menoleh.


“Lang?!”


“Berhenti mengikutiku!” jawabnya sebelum aku sempat mendekat, mencabut pedang di pinggangnya untuk ditempelkan di lehernya sendiri.


“Turunkan benda itu!” perintahku.


“Kubilang, menjauhlah!”


“Jangan membantah titah Yang Mulia! Dasar keras kepala!” sahut sebuah suara dari belakang Elang, menyemprotkan sesuatu di wajahnya hingga ia lumpuh terduduk seketika. Pedang telanjang di tangan Elang jatuh beradu dengan lantai.


“Yang Mulia tidak keberatan menonton drama keluarga ‘kan?” tanya seseorang itu yang ternyata Aquila. Aku tidak tahu maksud kata-katanya, tapi yang jelas Elang berhasil ditenangkan. Kami membawanya kembali ke ruangan Kak Garuda.


Sekembalinya kami ke sana Kak Garuda kembali berubah menjadi iblis yang terus berupaya melepas jimat di tangannya, memaki-maki kami yang baru tiba. Aku sungguh kasihan melihat keadaannya yang demikian. Bekas-bekas kemerahan dan luka karena cakarnya sendiri terlihat buruk di pergelangan tangan. Bagaimana bila itu juga melukai pembuluh nadinya?.


“Lepaskan jimat sialan ini, keparat! Kau pikir seutas benang bisa menghalangiku, ha?!”


“Hentikan, Kak! Hentikan!” cegahku menyingkirkan cakar itu dari tangannya sendiri, “Kakak sudah bilang tidak akan kalah dari Lupus, Kakak harus ingat itu!”


Cakar hitam itu terayun ke arahku sebagai jawaban, nyaris mencabik wajah jika saja seseorang tidak menarikku pada detik yang tepat. Kak Garuda kembali tersadar seketika.


“Ang ...” gumamnya menatap seseorang yang menarikku. Elang masih setengah limbung karena pengaruh obat penenang, tetapi ia cukup kuat hanya untuk menarik kerah panjang Kak Garuda dengan kasar. Kejadian berikutnya bisa kutebak. Ingin kulerai keduanya, tapi Aquila menahanku.


“Apa maksudmu, hah?! Selalu berlaga sok keren dari dulu! Siapa yang memintamu berkorban untukku?! Peduli amat bila iblis itu menginginkanku! Kenapa kau malah bertingkah sok pahlawan dan bertindak sebodoh ini?!” amuk Elang.


“Hei, dinding ruangan ini tidak kedap suara. Anda ingin didengar seisi kastel?”

__ADS_1


“DIAM!”


Aquila hanya memutar bola mata sebal ketika peringatannya dibantah mentah-mentah. Garis rahang Elang telah mengeras dengan kepal tangan sama mengerasnya, tetapi Kak Garuda malah tersenyum bersama sisa-sisa rasa sakit.


“Apa ini artinya kau mencemaskanku, Ang? Aku tidak bermaksud begitu, tapi entah kenapa senang mengetahuinya,” jawab Kak Garuda.


“Ini akan sangat lama. Sebaiknya Yang Mulia kembali istirahat saja,” kata Aquila, “sungguh akan sangat lama karena yang satu meledak-ledak sementara satu yang lain tetap tidak bisa serius. Ini adalah drama keluarga paling menyebalkan yang pernah ada!”


“Qi ... Qila, mereka tidak sedang bermain peran,” jawabku kemudian dikejutkan dengan suara hantaman kuat tinju Elang di dinding.


“Sialan! Aku sungguh tak habis pikir, apa yang membuat iblis bodoh itu akhirnya kepincut memilih ubur-ubur konyol sepertimu?!”


“Mungkin karena aku lebih ganteng?”


Tolong, deh! Sopankah aku menyembur tawa pada saat seperti ini?


“Persetan, Gar! Aku muak bila harus menghadapi iblis dalam orang-orang terdekatku, tapi aku tidak pernah takut bila iblis itu ada dalam diriku sendiri! Katakan padanya aku masih cukup layak untuk ia rasuki!”


“Sudah, Lang, cukup! Kamu bukan satu-satunya yang pantas merasa bersalah. Aku juga bertanggung jawab. Bertahun-tahun Kak Garuda tak membiarkan iblis itu bangkit dan hal ini baru terjadi sekarang setelah Kak Garuda membantuku dengan terpaksa memakai kekuatan iblis itu,” jawabku, “aku juga layak kaumarahi.”


Elang hanya mendengus sebal sambil mengalihkan pandangan, masih terlihat jengkel luar biasa.


“Seharusnya tidak ada yang pantas merasa bersalah,” kata Kak Garuda, “aku melakukan hal ini bukan karena terpaksa melindungi kalian ... sama sekali tidak terpaksa dan itu sama sekali bukan hal yang salah. Setidaknya itulah kebaikan yang kuyakini. Jujurlah pada diri kalian. Tidak hanya Aang, tapi Shira juga, kalian tidak bisa dihentikan ketika sedang memperjuangkan kebaikan yang kalian yakini ‘kan?”


Hening sejenak. Kami larut dalam pikiran masing-masing. Bila yang dilakukan Kak Garuda kusebut kebodohan, maka sejatinya aku juga bodoh karena mau-maunya berjuang demi negeri asing di belahan dunia paralel, meninggalkan sesaat dunia asalku dan segala urusan di sana. Begitu juga dengan Elang. Yah, apa mungkin kami hanya sekumpulan orang bodoh yang saling mencemaskan satu sama lain? Mungkin tidak, kami hanya sekumpulan orang yang memperjuangkan kebaikan kami masing-masing, untuk menjaga dan melindungi satu sama lain. Entah kenapa, rasanya menyenangkan sekali menjadi bagian dari orang-orang inj.


“Wah? Kalian langsung diam! Kata-kataku pasti terdengar keren ya? Aku sudah berlatih berulang kali untuk bersiap dengan situasi ini! Fyuh, latihanku tidak sia-sia!” kata Kak Garuda.


“Sudah selesai bercandanya?” tanya Aquila yang sedari tadi hanya menonton, “saatnya penyelesaian. Aku yakin kalian tidak akan tinggal diam membiarkan Kak Garuda kesayangan kalian ini dikuasai iblis, itu sebabnya aku sedang mencari cara mencabut paksa kekuatan jahat itu.”


“Bagaimana caranya?”


“Saya masih mencarinya, Yang Mulia, bukan berarti menemukannya. Setahu saya, kekuatan jahat yang dibiarkan masuk secara suka rela tidak bisa dicabut,” jawab Aquila.


Elang berdecak pelan, “Kau hanya belum menemukan caranya, bukan berarti benar-benar tidak bisa.”


“Hm, yah, anggap saja begitu. Untuk sementara ini yang bisa kita lakukan hanya menahan timbulnya pengaruh itu. Sangat tidak lucu bila Garuda tiba-tiba berubah menjadi Lupus di tengah-tengah konferensi atau di depan banyak orang. Beberapa jimat terbukti bekerja, tetapi yang kutemukan itu tidak terlalu efektif,” tunjuk Aquila pada benang hitam melingkar di tangan kiri Kak Garuda yang terlanjur berdarah-darah.


“Jimat apa itu?” tanya Elang.


“Salah satu koleksi nenekku. Dia punya banyak dan dititip-titipkan ke kenalannya sebelum menjadi orang tua pikun. Orang yang dititipi sepertinya lebih hafal dan paham soal jimat-jimat seperti ini,” jawab Aquila kemudian menatap Garuda, “besok kita temui kakek tua itu lagi, Gar. Bilang padanya bahwa jimat yang ini tidak cukup kuat untuk menahan iblis semacam Lupus.”


“Itu artinya akan ada orang lain yang tahu?” tanya Kak Garuda.


“Mau bagaimana lagi?”


“Um, Dewan Internal kastel belum tahu soal ini?” tanyaku merasa penting akan hal itu.


“Belum, Yang Mulia. Sebaiknya kita jauhkan hal ini dari pendengaran mereka dan itu menjadi peran Anda. Tolong alihkan perhatian dan bersikaplah sewajarnya seolah tidak terjadi apa-apa karena Ladra tidak akan berpikir dua kali untuk mengarantina siapa pun yang memiliki kekuatan iblis,” jelas Aquila.


“Baik, aku mengerti,” jawabku.


“Kesatria Agung juga. Saat ini kalian sama-sama menjadi pusat perhatian. Silakan bilang bahwa saya dan Garuda sedang mengumpulkan informasi untuk penaklukan sisa Dunia Kelabu selanjutnya, barangkali ada yang tanya.”


“Aku dan Aquila tidak akan berhenti mencari tahu cara untuk mencabut atau setidaknya meredam bangkitnya Lupus. Jadi, jangan terlalu dipikirkan ya!” timpal Kak Garuda.


Lagi-lagi aku mengangguk sementara Elang lebih banyak diam. Setelah semuanya ditentukan, kami kembali ke ruangan masing-masing. Aquila akan berjaga di kamar Kak Garuda sepanjang malam, khawatir Lupus tiba-tiba bangun dan melepas jimat yang sementara ada ini. Aku berpamitan pada keduanya, menyusul Elang yang berjalam keluar melalui pintu.


“Lang ...” panggilku sebelum ia masuk ke ruangan sebelah, kamarnya. Ia hanya berhenti dan menoleh tanpa membalas sepatah kata pun.


“Kamu masih belum kepikiran memanggil kakakmu dengan sebutan yang seharusnya?” tanyaku, “sama seperti kamu yang ingin diakui papamu, Kak Garuda akan terus berulah dan bersikap sok pahlawan agar diakui sebagai kakak. Kira-kira seperti itu yang kupahami.”

__ADS_1


.Bersambung.


__ADS_2