
Selama ini aku tak pernah ingin tahu dan ikut campur masalah orang lain. Bukan karena apatis, melainkan begitu aku tahu, akan sulit bagiku untuk berhenti khawatir seolah aku juga ikut terlilit masalah itu. Pada akhirnya aku jadi terlalu peduli dan orang yang kupedulikan sama sekali tidak mengerti kecemasanku.
“Kembali ke kelas sekarang juga, Lang! Bu Julia menanyakanmu!” ujarku dalam pesan teks yang kukirim kepada orang yang belum juga kembali hingga jam pelajaran kelima ini. Dia mengetik.
“Bohong, Bu Julia tidak di kelas. Dia selaku wali kelas yang siswanya terciduk membawa rokok sedang di BK,” jawabnya. Aku menggeram sebal.
“Baiklah, jika kamu tidak mau ke mari, biar aku yang ke tempatmu. Katakan kamu ada di mana?”
“Jika kamu menemuiku hanya untuk membahas sesuatu yang sudah kuketahui, sebaiknya kamu duduk manis di tempatmu saja, Shir,” jawabnya. Dia kembali mengetik, cukup lama.
“Aku juga sedang tidak ingin membahas apa-apa. Aku sudah tahu kamu akan memberi tahu tentang Erik yang tadi pagi membawakan tasku ke kelas. Lalu dia juga yang menyebarkan berita miring tentangku, beruntungnya kau sudah tahu yang sebenarnya, jadi kau tahu bahwa dia hanya membual belaka. Sudah jelas tersingkap dengan sendirinya, Shir. Erik yang melakukan semuanya. Dia menginginkanku tersingkir dari jajaran tim pengawas. Itu kan yang ingin kamu sampaikan? Aku sudah tahu.”
Jemariku kemudian menari cepat di atas layar, mengetik balasan.
“Tentang Erik yang membawakan tasmu, memang benar. Dia mengaku tanpa berpikir dua kali. Mana ada penjahat dengan polosnya mengungkap triknya sendiri. Oh ya, perlu kamu ketahui, Erik mendapat kabar miring tentangmu dari Pak Hanri. Kurasa kesalahpahaman itu berasal dari Pak Hanri sendiri,” jawabku. Pesanku terkirim sedetik kemudian. Ada jeda waktu yang lama untuk Elang membalas setelah dua centang biru muncul.
“Aku terkejut kamu membela Erik,” jawab Elang. Aku menghela napas panjang. Sudah kuduga diskusi tidak langsung —melalui chatting begini— akan berujung pada kesalahpahaman.
“Bukannya membela Erik, Lang! Aku hanya meluruskanmu dari dugaan yang salah, agar kamu bisa menemukan pelaku yang sebenarnya,” jawabku melepas pesan suara, malas mengetik. Aku melangkah ke luar kelas, mencari suasana yang lebih lapang.
“Shir, kamu menyedihkan. Kenapa harus orang senaif kamu yang mengetahui masalahahku? Apa hanya karena Erik mengiba, kamu mengira dia benar-benar merasa bersalah dan ingin berdamai denganku?” jawab Elang. Dia kembali mengetik, tetapi aku cepat-cepat membalas.
“Menyedihkan bagaimana maksudmu ha?!”
“Oh iya, aku juga sedih mengetahui Pak Hanri diatasnamakan sebagai sumber berita bohong. Asal kamu tahu, Pak Hanri sepenuhnya memercayaiku,” jawab Elang kemudian off setelah mengirim pesan itu. Otakku semakin buntu. Laporan dari Erik dan Elang saling bertabrakan. Mana yang benar mengenai persepsi Pak Hanri? Siapa sebenarnya yang salah paham?
Entah kenapa, biasanya dalam berjalan acak menuju sembarang arah ketika sedang bingung, aku akan berakhir di perpustakaan. Namun, kali ini aku tiba di gedung olahraga. Aku tak bisa menebak keinginan kakiku kali ini. Suara pantulan bola terdengar dari lapangan basket. Tidak cukup berisik, tetapi tetap saja aneh. Harusnya jam pelajaran kelima sudah tidak ada aktivitas olahraga. Aku melangkah mendekat menuju lapangan dengan ring setinggi 2,75 meter di kedua tepinya.
Satu-satunya orang yang men-dribble bola di sana terhenti demi melihatku. Eeh? Ini pasti kebetulan. Aku sama sekali tidak punya ide bahwa Elang akan berada di sini. Sungguh, aku pergi ke sini benar-benar tanpa mengetahui keinginan langkah kakiku.
Dia hanya melirikku sekilas, kemudian kembali menggiring bola dan melemparnya ke ring. Tembakannya meleset, menyisakan decak kecewa lolos dari bibirnya.
“Ih, masa begitu saja tidak masuk!” seruku dari pinggir lapangan. Tatapan tajamnya terlempar kepadaku, benar-benar menunjukkan suasana hatinya yang buruk.
“Kau mengacaukan selera bermainku. Pergilah dari sini!” jawab Elang sinis, memungut kembali bola yang tadi memantul tak jauh di bawah ring. Tanpa sepengetahuannya, bola itu berhasil kurebut dan telah berpindah ke tanganku. Dia semakin cemberut, hanya diam membiarkan bola itu kurebut.
“Sebenarnya kamu memang tidak berselera main. Kamu hanya ingin melampiaskan segala kekesalan yang kamu rasakan,” ujarku sambil memantulkan bola ke lantai beberapa kali, “kamu hanya bermain seolah bola ini adalah beban masalah yang ingin kamu lempar jauh-jauh,” sambungku kemudian menembakkan bola ke dalam ring. Benda bulat itu sempat berputar sepanjang sisi ring lalu akhirnya jatuh ke dalam, masuk.
“Iya ‘kan?” tanyaku. Lawan bicaraku membuang muka.
“Aku tidak pernah membiarkan masalahku diketahui orang lain, bukan berarti aku tidak butuh bantuan, tetapi memang berbagi masalah tidak selalu menyelesaikan masalah itu sendiri. Bahkan terkadang justru memperumit,” jawab Elang yang kini duduk di tribun penonton.
“Akan rumit bila kamu tidak terbuka dengan masukan dan pemikiran orang lain. Kamu ingin bersikukuh mempertahankan dugaanmu sendiri yang belum tentu benar?” jawabku masih memainkan bola.
“Dan kau ingin aku menerima dugaanmu yang juga belum tentu benar? Masih ingat terakhir kali ketika aku menuruti saranmu melarikan diri menuju gerbang depan? Apa yang terjadi? Aku nyaris mati dikeroyok monster dalam sarang mereka sendiri. Lalu sekarang aku harus menurutimu lagi? Mungkin kali ini aku akan berpikir berkali-kali untuk mendengar saranmu, Shir,” jawab Elang membuatku tertegun. Aku batal menembakkan bola lagi karena tanganku melemas tiba-tiba. Bola itu pun menggelinding entah ke mana. Seketika awan mendung bernaung dalam memori kelabu itu.
Elang benar. Aku memang selalu ikut campur dan memberi masukan yang salah. Memang wajar jika Elang bersikap demikian.
“Kamu benar, Lang. Aku hanya memperumit keadaan. Mungkin memang sebaiknya aku diam karena aku sama sekali tidak membantu. Maaf atas kejadian waktu itu, tapi asal kau tahu, hingga detik ini aku masih dilukai rasa bersalahku sendiri. Aku minta maaf ... aku minta maaf,” jawabku lesu kemudian berbalik pergi meninggalkan lapangan basket.
“Apa kata-kataku membuatmu tersinggung?” tanya Elang tiba-tiba saja menghadang langkahku, “maaf, tapi itu memang fakta yang pernah terjadi, kamu tidak boleh marah.”
“Aku tidak marah, Lang. Aku hanya tahu diri, aku pernah hampir menghilangkan nyawamu. Aku sadar bahwa aku memang tidak tahu apa-apa. Kali ini aku akan diam,” jawabku. Sial, kenapa harus ada yang menghangat di sudut mataku?!
__ADS_1
“Ah, ya ampun! Baiklah, aku juga minta maaf. Aku tidak pernah tahu tentang rasa bersalah yang selalu ingin membunuhmu. Seharusnya aku juga tidak perlu mengungkit kejadian itu, tapi asal kau tahu, aku tidak bermaksud memintamu diam. Aku hanya ingin kamu berpikir lebih jauh lagi, karena ... yah, kau tahu ... Kamu itu terlalu naif, Shir,” jawab Elang. Aku hanya diam. Elang bukan satu-satunya orang yang pernah berkata demikian. Pak Hanri juga pernah bilang begitu, Yasinta juga, Nike juga.
“Mungkin ini akan lebih membuatmu tersinggung, tapi aku harus mengatakannya. Kamu terlalu lugu untuk terlibat dalam masalahku, Shir. Ini bukan seperti main tebak-tebakan yang bisa kamu menangkan dengan petunjuk verbal. Kamu tidak mengerti bagaimana hebatnya aktor di balik semua ini dan kamu dengan mudahnya terperdaya hanya karena dia memasang wajah memelas,” tutur Elang tetap bersikeras menuding Erik.
“Kamu perlu tahu beginilah kejamnya kehidupan, Shir. Ini belum seberapa, lihatlah nanti ketika kita sudah bekerja dan punya reputasi, mereka yang tidak suka dengan prestasi kita akan melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan kita. Aku khawatir jika kamu masih saja naif seperti ini. Kamu akan menjadi bulan-bulanan empuk yang mudah sekali dieksekusi. Jadi, ke depannya bertindaklah lebih defensif untuk dirimu sendiri,” ujarnya sekali lagi.
“Iya, terima kasih sudah mengingatkanku,” jawabku meski di kepala ini masih banyak perlawanan. Apa salahnya? Apa salahnya mencoba memercayai orang lain? Selalu menaruh curiga juga tidak berakibat baik untuk ketenangan batin, pikirku.
“Oh iya, lagi pula sebaiknya kamu lebih khawatir dengan masalah kita di dunia kelabu,” kata Elang sengaja menggeser haluan pembicaraan. Kami memutuskan kembali ke kelas setelah perdebatan panjang tadi.
“Ah, benar saja! Seharian ini aku hanya memikirkan masalahmu, seolah masalah itu muncul untuk melupakanku dengan masalah di dunia kelabu,” celetukku begitu saja. Eh, bagaimanapun kata-kataku terasa benar. Apa keduanya memiliki keterkaitan? Tadi pagi aku ingin sekali membahas tentang Elang yang sudah bisa membaca naskah kuno itu, tetapi terlupa begitu saja setelah masalah ini hadir.
“Lang, bagaimana caramu bisa membaca naskah di buku kuno itu?” tanyaku agak berbisik. Aku tidak mau mengambil risiko didengar orang lain meski koridor panjang yang kami lintasi lumayan sepi. Kelas lain sedang berlangsung KBM.
“Hm? Bagaimana ya?”
“Lang, aku tidak mau dengar jawaban kalau kamu tidak tahu caranya dan dengan tiba-tiba saja bisa membacanya,” jawabku.
“Wah, sayang sekali, tapi memang begitulah yang terjadi. Entah sejak kapan, sepertinya setelah aku tertangkap monster dan nyaris menjadi bagian dari mereka. Seolah ada bagian dari jiwa Sekti yang berbaur denganku, yang membuatku bisa memahami isi buku itu,” jawabnya.
“Wah! Benarkah?!”
“Iya, aku juga mencurigai pedang yang tertanam di punggungku. Barangkali juga berkat benda itu.”
Aku menutup mulut tidak percaya. Elang banyak terberkati kemampuan-kemampuan berharga karena benda hebat itu.
“Aku hanya tak habis pikir bagaimana kamu bisa mendapat senjata pamungkas itu, Lang? Sakti saja yang sudah ratusan tahun berjibaku melawan adiknya sendiri —simbol kejahatan— di tempat itu, tidak pernah mendapat apa-apa. Bahkan dia juga heran kamu bisa menemukan benda itu,” ujarku.
“Titik balik?”
“Ya. Tempat itu pernah diciptakan, maka akan tiba masanya ketika tempat itu dimusnahkan. Kejahatan pernah merenggut jiwa tak berdosa, maka akan tiba masanya ketika kebaikan mengembalikan semuanya. Mungkin pedang yang kumiliki ini ada kaitannya dengan titik balik itu.”
“Itu kabar bagus, Lang! Kamu boleh berbangga diri, sebab setelah ratusan tahun, takdir akan runtuhnya tempat terkutuk itu memilihmu!”
“Apanya yang perlu dibanggakan? Aku bukan pahlawan super yang mengakhiri adegan dengan jubah berkibar dan kejahatan akan sepenuhnya lenyap setelah itu. Tidak, bukan seperti itu, Shir. Ini hanya titik balik, bukan titik akhir.”
“Ehh???”
“Hidup ini berjalan seperti siklus yang terus berulang. Ada kalanya kebaikan kalah, berada di titik terbawah, tapi suatu hari nanti juga akan kembali berjaya di titik teratas. Namun, itu bukanlah pertanda kemenangan abadi. Baik dan buruk berjalan bersisian, mengizinkan satu sama lain menang bergiliran.”
Tanpa terasa kami tiba di kelas bertepatan dengan bel istirahat kedua. Seisi kelas meledek kami berdua, menuduh kami bolos. Aih, barangkali mereka sedang bercanda. Bagaimana mungkin mereka menghakimi kami berdua sementara terkadang mereka sendiri juga nongkrong di kantin ketika jam kosong? Haha, biarlah! Aku basa-basi menanyakan kepada Yasinta apakah ada tugas. Pastinya ada dan sekali lagi kutegaskan bahwa aku hanya basa-basi. Meski sudah kutahu ada tugas, tetap saja tidak ingin kukerjakan sekarang. Masa bodohlah, ini jam istirahat.
“Mau ikut ke perpustakaan? Kita bisa diskusikan banyak hal,” ajak Elang menunjukkanku buku kuno itu. Ah, benar, dia sudah bisa membacanya.
“Lang, aku baru saja tiba di kelas. Sebentar ya, aku capek,” jawabku meregang badan lalu menyandar nyaman di kursiku. Tiba-tiba saja mager karena memang melelahkan. Perpustakaan memang jauh di gedung seberang.
“Wah, padahal kukira kamu penasaran dengan titik terang yang sudah kutemukan dari buku ini,” jawabnya. Hm, iya sih, tapi kok mager banget!
“Padahal Shira sudah menolak, Lang. Apa kamu sedang memohon-mohon agar Shira selalu mengekorimu?” balas Yasinta.
“Apa, sih, Yas?” sahutku malas.
“Jangan GR dulu, Ra! Aku hanya kesal karena akhir-akhir ini kamu sering menghabiskan waktu bersama Elang daripada denganku!” jawab Yasinta demikian polosnya. Ah, ya ampun! Memangnya apa yang perlu dikhawatirkan dari hal itu?
__ADS_1
“Oh, kekanakan sekali! Aku tidak akan merebut sahabatmu karena ... yah, buat apa? Kamu ingin bersama Shira juga saat ini? Baiklah, kita diskusi bertiga di sini, Shir!” jawab Elang seenak jidatnya berkata demikian.
“Ide buruk. Sangat buruk! Sudahlah kalian berdua, hentikan keributan ini! Sekarang juga menjauh dariku minimal radius dua meter!” seruku tegas. Kumohon, aku butuh istirahat! Aku lelah! Kalian semua menghabiskan energiku!
Dengan perasaan bingung dan terpaksa, keduanya mundur mengiyakan titahku. Kubuat diriku senyaman mungkin dengan tidur sambil memeluk tas, kepala menyandar di dinding. Ini adalah rencana tidur yang gagal kulakukan sejak istirahat pertama tadi. Jika ditanya apakah aku penasaran tentang petunjuk yang Elang dapatkan, maka jawabannya iya, aku sangat penasaran. Namun, entah rasanya tiba-tiba hilang minat, seolah ... seolah apa ya? Rasanya kurang menyetujui takdir bahwa Elang yang bisa membaca naskah kuno itu, Elang begitu terberkati karena pedang hebat yang berjodoh dengannya itu. Maksudku, kenapa harus Elang?
“Suasana hatinya tiba-tiba saja berubah,” komentar Elang samar-samar kudengar.
“Kurasa dia mulai PMS,” jawab Yasinta.
“PMS itu apa?”
Sial! Aku ingin tertawa. Tidak ah, aku ingin tidur.
“Ya ampun! Serius kamu tidak tahu?”
“Aku khawatir ada kata-kataku yang membuatnya tersinggung.”
“Kamu selalu menyinggung perasaan lawan bicaramu, Lang, tapi hei?! Kamu hanya khawatir ketika Shira yang tersinggung? Memangnya kenapa jika dia marah padamu?”
“Ha? Apanya yang kenapa?”
“Jangan berbelit-belit, Lang! Aku tahu telah terjadi sesuatu di antara kalian. Mengakulah! Aku tidak suka Shira merahasiakan sesuatu dariku!”
Ya ampun! Aku tidak percaya bahwa sedari tadi aku menyimak percakapan mereka berdua. Awas saja jika Elang sampai membocorkan cerita tentang dunia kelabu itu, maka aku akan siap melempar mukanya dengan kamus Oxford.
“Eh? Kalau sudah tahu kenapa kamu masih memaksaku mengaku?” balas Elang. Ah, syukurlah! Namun, aku tidak tahu jika jawabannya justru bermakna ganda bagi Yasinta.
“Baiklah, Lang! Terserah padamu. Aku tidak melarang sahabatku dekat dengan laki-laki manapun, tapi tolong jangan jadikan dia bucinmu! Aku juga berhak menghabiskan waktu dengannya.”
“Eh? Bucin itu apa?”
“WOI! GIBAHNYA BISA AGAK JAUH NGGAK, SIH?! DARI SINI MASIH KEDENGARAN! YA AMPUN, NGGAK CERDAS!” teriakku ngegas. Seisi kelas jadi menatapku seperti singa yang harus segera dipawangi. Bodo amatlah!
Aku bersyukur tidak banyak hal menyebalkan terjadi selama jam ke tujuh hingga terakhir. Paling tidak aku bisa menghemat energi yang tersisa. Awalnya aku ingin langsung pulang, tetapi urung mengingat buku PR-ku tadi dipinjam Nike. Aku harus mengambilnya sebab besok juga PR itu akan dikumpulkan. Sayangnya, ketika kutengok di kelas XI MIPA 2 yang tersisa tinggal Pak Hanri dan Natan, ketua kelas MIPA 2. Keduanya terlihat sibuk memeriksa tumpukan buku.
“Kalau jumlahnya sudah lengkap tolong bawakan ke meja saya ya, Tan! Erik, tolong bantu Natan bawa ini semua ya!”
“Baik, Pak!” jawab Erik yang ternyata masih ada di dalam. Ia melempar senyum singkat.
“Eh? Hai, Shira! Mencari siapa?” tanya Pak Hanri menyadari keberadaanku.
“Anu ... maaf, Pak! Apa Nike sudah pulang?” tanyaku.
“Anak satu itu segera lenyap begitu mendengar bel pulang,” jawab Natan. Huhuhu ... buku PR-ku!
“Oh, begitu ya? Ya sudahlah, kalau begitu, saya juga pamit, permisi!”
“Shira, tunggu sebentar!” cegah Pak Hanri, “ada yang ingin saya bicarakan....”
.Bersambung.
__ADS_1