
“Shiro ....”
“Yah, namaku Shira! Kenapa Ayah selalu memanggilku seperti itu?”
Aku masih di langit, menyaksikan diriku berbincang dengan Ayah di salah satu bangku taman. Tak ingat persis saat usia berapa ketika aku ada di kilas balik ini. Kaki kecilku berayun-ayun sementara tanganku terulur menyambut es krim vanila dari tangan Ayah. Tanpa ragu kukecup padatan krim dingin itu sebelum meleleh. Aku ingin tertawa ketika hidungku yang lebih dulu menyentuhnya, meninggalkan bekas es krim di sana yang segera kuseka.
“Shiro, dalam bahasa Jepang artinya putih. Ayah ingin menamaimu demikian, tapi ibu tidak setuju karena kedengarannya seperti nama laki-laki. Ya, itu memang sebagian nama kakekmu, sih!” jawab Ayah. Matanya semakin sipit ketika ia tersenyum. Aku tak peduli dengan asal-usul namaku, masih sibuk menjilati es krim yang jadi lebih cepat meluber karena cuaca panas siang itu.
“Selain warna yang bersih dan merupakan lambang kesucian, putih juga warna yang netral dan cocok bersama warna apa pun, bahkan dengan hitam lawannya. Ayah ingin kamu seperti itu. Ayah ingin Shira bisa bergaul dengan siapa pun, menerima dan diterima semua orang.”
“Lalu kenapa akhirnya menjadi Shira? Apakah Shira artinya merah muda?” tanyaku.
“Ah, bukan, sih!”
“Kalau merah muda apa? Kenapa tidak dinamai dengan yang artinya merah muda? Shira kan suka warna itu! Shira ingin jadi merah muda saja!” bantahku. Ayah hanya terkekeh pelan sambil mengelus rambutku. Ada perasaan damai ketika melihat bocah itu.
Tumbuh seperti apa ya dia sekarang? Aku yakin jiwanya tak sebersih dan sepolos dulu, tapi ayahnya memang berharap ada banyak warna yang menghiasi hidupnya. Merah, kuning, biru, bahkan hitam sekali pun. Hidupnya menjadi berharga ketika banyak hal yang bisa ia kenang.
Selanjutnya yang kulihat bukanlah taman kota. Masih tanpa rupa, aku berada dalam sebuah kamar yang cukup lega. Penataan barang yang tepat dan kerapian di dalam sini membuatku betah berlama-lama. Sayang sekali fakta mengejutkan harus membuatku malu. Ini kamar anak laki-laki sementara kamarku sendiri tak pernah serapi ini. Aku bisa tahu sebab yang berbaring di atas tempat tidur adalah anak laki-laki menutup matanya dengan lengan, sementara sebelah lengan yang lain disangga arm sling. Aku penasaran dengan sesuatu yang telah membuat lengannya cedera.
Seragam sekolah yang tergantung di dekat lemari pakaian itu bercorak sama dengan milikku. Bentangan kain bergambar lambang organisasi bela diri menjadi satu-satunya pajangan dinding paling mencolok, pemilik kamar ini teramat membanggakannya. Tidak seperti nakasku yang ditumpuki berbagai buku, hanya ada satu novel dari buku terakhir serial The Hunger Games di sana sementara buku pelajaran dan bacaan lain tersimpan rapi di sudut ruangan tempat khusus belajar. Aku pernah tahu novel itu ada di sudut baca kelasku sebab pemiliknya adalah Elang. Heh?! Demi apa aku bisa ada di kamarnya?!
Ia masih tertidur –jika memang tertidur. Tak ada ekspresi yang bisa kubaca dari matanya yang ditutupi begitu. Suara pembicaraan dari dinding sebelah bocor tertangkap pendengaranku.
“Sampai kapan terus seperti itu? Mama sudah bilang agar ia tak terlalu sedih memikirkan cedera tangannya. Bila itu memang memengaruhi seleksi masuk sekolah intelijen tahun depan, Mama dan papa sudah menyiapkan rencana lain. Aang terlalu menganggap dunia kiamat seandainya tak lolos seleksi sekolah itu,” kata suara wanita terdengar risau.
“Bukan, Ma ... bukan karena cedera. Garuda tahu ada sesuatu lain yang ia cemaskan,” jawab suara jernih laki-laki muda, “ia tak bicara apa-apa, lesu sepanjang hari. Garuda pernah tahu dia berperangai seperti itu suatu waktu. Keadaannya sama persis, sepertinya penyebabnya masih sama.”
Hela napas suara wanita itu terdengar berat, “Ini sudah seminggu. Jika ada yang bisa Garuda lakukan, tolong ya! Hanya kamu yang mengerti adikmu.”
Hening lagi beberapa saat. Lalu tanpa permisi pintu kamar ini terbuka. Aku sempat panik karena terlambat bersembunyi. Tampaknya Laki-laki yang tadi berbincang di ruangan sebelah tidak menyadari keberadaanku, tiba-tiba menyelonong masuk.
“Ang, kau tidak ingin menoyor wajahku? Aku melanggar daerah teritorialmu, tahu!” kata Kak Garuda menyingkirkan lengan Elang yang menutup matanya. Yang diganggu hanya berdecak sebal, sesaat melempar tatapan masam lalu berbaring miring ke arah tangannya yang tidak cedera, memunggungi kakaknya.
“Hei ...” bisik Kak Garuda, “ibu Shira mengundang kita ke rumah sakit. Barangkali Shira akan bangun jika kamu yang menjenguknya.”
Beberapa detik tak bereaksi, Elang akhirnya bangun. Tanpa banyak berkata-kata mendorong paksa Kak Garuda keluar dari kamarnya, membanting pintu lalu menguncinya. Segala campur aduk perasaan yang tergambar di wajahnya ia timbun lagi dengan bantal.
“Ya sudah, Ang! Kalau kamu memang belum sanggup melihat keadaan Shira yang sekarang, aku bisa ke sana sendiri, tapi benarkah kamu tidak akan menyesal semisal Shira tak memberimu kesempatan lagi untuk menjenguknya?” tanya Kak Garuda masih di balik pintu kemudian bergumam sendiri, “ya ampun, aku lebih menyesali kata-kataku tadi! Semoga itu tidak terjadi!”
Aku terkejut mengetahui fakta bahwa seharusnya aku ada di rumah sakit. Lalu aku yang sekarang ini apa?
Gadis kecil yang menjilati es krim itu sekarang sendiri, menatapku sinis ketika kuhampiri. Aku sungguh tak mengira ia akan sengaja menumpahkan es krimnya ke pakaianku setelah kudekati. Tentu saja wajah bulat berambut pendek lima senti di bawah telinga itu adalah wajah kanak-kanakku, tapi ekspresi tak bersahabatnya ... apa-apaan itu?
“Ke ... kenapa kamu melakukannya?” tanyaku berjongkok menyejajarkan pandangan kami.
“Dengar ya! Keadaan setelah ini mungkin memang memihakmu, tapi tetap ada sesuatu yang akan terus membuatmu risau! Sama halnya dengan titik balik. Ini bukan kemenangan abadimu! Suatu saat nanti giliranku untuk menang darimu akan kembali!” ujarnya.
“Eeh???” Aku menelengkan kepala tak memahami kata-katanya. Dia bilang apa?
“Satu lagi, jangan senang-senang dengan luka dan rasa sakit yang terhapus dari kepalamu, sebab pengalaman dan pelajaran berharga juga sama-sama hilang. Kamu akan memulai semuanya lagi dari nol ketika menghadapi situasi yang lebih sulit.”
Sekali dua kali aku mengerjap. Sosok kecilku berbalik pergi meninggalkanku berlama-lama tertegun di ruangan serba putih ini, berusaha keras memahami kata-katanya.
Sentuhan hangat dan lembut yang terasa di tangan cukup mengejutkanku. Ingin kugenggam balik, tapi tenagaku masih belum terhimpun. Bahkan untuk membuka kelopak mata saja susah. Seolah sudah lama terekat, mataku enggan membuka. Bibirku bersusah payah menyebutkan sembarang kata, berharap suaraku sempat lolos dari tenggorokan dan didengar siapa saja. Genggaman di tanganku berganti menjadi guncang. Seseorang mengulang-ulang namaku. Silau tak tertahan menyerang mata ketika akhirnya sedikit demi sedikit terbuka.
Deras air mata dari perempuan yang menggenggam tanganku adalah hal pertama yang kulihat. Aku tak bereaksi ketika ia menyerbuku dalam peluk. Isak tangisnya terdengar bahagia berulang kali berbisik, “Selamat pagi, Putri Tidur! Selamat pagi!”
Agak aneh rasanya karena jam di dinding menunjukkan pukul tiga, suasana terang. Jelas-jelas sekarang pukul tiga sore. Udara yang kuhirup melalui selang di hidungku cukup segar, mengalir ke dalam paru-paru memberi sensasi nyaman, tapi kepalaku yang masih terasa berdenyut membuatku ingin jatuh tertidur lagi.
Sejenak kukenali perempuan ini adalah ibu dan ruangan tempatku berbaring sepertinya ruang inap di rumah sakit. Seseorang yang baru memasuki ruangan sempat membatu sesaat, menghela napas penuh lega, menghampiriku lalu merendah mencium keningku, tak membiarkan hanya ibu yang melakukannya. Kurang satu orang lagi untuk menjadi reuni keluarga. Ke mana adikku? Dia pasti terkejut melihat Ayah dan Ibu akhirnya pulang dan saling bertemu setelah lima tahun terakhir.
Aku tak ingat pasti penyebabku berada di sini, tapi aku masih ingat bahwa Ayah dan Ibu telah lama tidak bersamaku, tinggal di luar kota. Ketika mereka berdua akhirnya sama-sama pulang seperti sekarang pastinya telah terjadi sesuatu yang serius. Selanjutnya mereka memberi penjelasan. Satu minggu yang lalu, aku ditemukan pingsan di kamar mandi saat malam festival budaya dengan kondisi pucat dan pernapasanku terhambat. Dugaan paling masuk akal adalah kambuhnya penyakit bawaanku, asma, dan mungkin karena tidak segera ditemukan, jantungku melemah, bahkan denyut nadi pun nyaris tidak terasa. Itulah yang membuatku tak sadarkan diri hingga satu minggu ini, kata Ibu.
Aku sedang tidak ingin memikirkan macam-macam, tapi harusnya kambuhnya penyakitku disebabkan oleh suatu hal. Sudah lama tidak pernah kumat, aku sempat dinyatakan lebih kuat dan tidak lagi terlalu sensitif dengan debu atau udara dingin. Lalu kenapa? Stres berlebih? Atau kelelahan mempersiapkan festival budaya? Eh, memangnya sudah UTS? Bukankah festival budaya diselenggarakan sesudahnya? Sepertinya tidur terlalu lama membuat ingatanku tumpul.
“Kamu jangan banyak berpikir dulu, Sayang! Lekaslah pulih agar kita bisa kembali berkumpul di rumah,” kata Ibu tersenyum di sebelah Ayah. Justru merekalah yang membuatku tak habis pikir.
“Kalian sudah baikan?” tanyaku. Keduanya saling pandang.
__ADS_1
“Ayah sudah berjanji tidak akan membuat Kakak menangis lagi,” jawab Ayah. Aku hanya mengerjap tak mengerti. Ibulah yang terlihat paling bersalah, matanya sembab seolah hanya menangis yang ia kerjakan, menyesali sesuatu.
“Ibu minta maaf, selanjutnya Ibu tak ingin anak-anak Ibu menderita lagi,” ujarnya sendu.
“Ah, entahlah! Kalian ini bicara apa?!” tanyaku memejam mata, bertambah pusing saja!
“Sudahlah, jangan memikirkannya dulu,” jawab Ayah.
Dokter datang memeriksa, mengatakan bahwa aku butuh dirawat beberapa hari lagi untuk masa pemulihan. Kata Ayah, Yasinta dan Nike menjenguk dua hari lalu, tapi aku belum bangun. Dua orang itu selalu yang paling cemas bila terjadi sesuatu padaku. Ibu baru akan menyambungkan panggilan video kepada mereka, tapi seseorang muncul di ambang pintu lebih dulu.
“Wah, tepat waktu!” kata Ibu menyambut ... Elang. Dia sendirian saja?
“Ah, Ayah tidak banyak tahu, tapi memang kenyataannya Shira bangun hanya dengan niatanmu menjenguk. Ajaib ya? Mari, silakan masuk!” jawab Ayah.
“Terima kasih, Om, Tante! Tidak ada kabar yang lebih menggembirakan selain sadarnya Shira setelah koma satu minggu yang panjang kemarin, tapi ... saya bukan Elang, saya Garuda, kakaknya,” jawab Elang yang ternyata bukan Elang.
“Wah?! Serius?! Kakak kembar? Apa satu sekolah juga?” tanya Ibu.
“Kembar? Ah, banyak yang mengira begitu, padahal selisih usia saya dengan Elang lima tahun.”
“Bisa semirip ini ya?” tanya Ibu masih terheran-heran. Pertanyaan Ibu berulang di benakku.
“Aduh, maaf ya jadi merepotkan Garuda. Elang pasti masih tidak boleh ke mana-mana setelah kecelakaan sampai patah tulang. Jatuh dari tangga ya?" tanya Ayah.
“Tidak repot, kok, Om! Iya, Elang tidak sengaja memergoki pesta miras saat festival budaya malam itu, dilawan hingga jatuh dari tangga, tapi ia sudah baik-baik saja. Elang memang tak pernah tega bila harus menengok orang sakit. Lagi pula saya sendiri juga ingin melihat keadaan Shira,” kata Kak Garuda mendekati sisi ranjangku, “hai, akhirnya kamu bangun juga! Pasti masih tidak enak bila harus mengobrol banyak ya? Tidak apa-apa, istirahatlah saja!”
Aku mengalihkan pandangan, tak begitu nyaman dengan tatapan Kak Garuda. Ah, tidak, masalahnya ada padaku. Aku tak terbiasa ditatap wajah yang serupa Elang tapi dengan murah senyum dan ramah tamah yang sama sekali bukanlah sifat ketua kelasku itu. Lagi pula dia berbicara seolah kami telah akrab padahal adiknya yang sekelas denganku bisa kuhitung sekali dua kali saja bicara bila ada perlunya.
“Maaf, Kak, apa kita saling kenal sebelumnya?” tanyaku tak bisa menahan diri.
Kak Garuda sesaat terkejut kemudian tersenyum lagi, “Kamu kan pernah main ke rumah. Tentu saja kita saling kenal!”
Jawaban Kak Garuda semakin membuatku bingung. Memangnya sudah sedekat apa aku dengan dua bersaudara itu hingga pernah main ke rumah mereka?
“Kamu ... tidak ingat?” tanya Kak Garuda. Aku menggeleng.
“Itu memang kebiasaan Shira. Mungkin setelah tertidur lama dia melupakan banyak hal, tapi nantinya dia akan mengingat semuanya lagi,” jawab Ibu. Ayah tiba-tiba beranjak dari ruangan setelah ekspresinya berubah tidak senang. Sesaat kemudian ia kembali bersama dokter.
“Sesedikit apa pun sesuatu yang dilupakan Shira, kita harus memeriksanya. Kita pernah membuatnya depresi hingga tak mengenali adiknya. Aku hanya ingin memastikan kali ini tidak seburuk yang dulu,” bisik Ayah kepada Ibu yang sempat tercuri pendengaranku. Kak Garuda diminta keluar. Hanya ada orang tuaku ketika dokter bertanya-tanya dan memeriksa ini itu.
Awal tahun ajaran baru, aku masih ingat peristiwa yang terjadi seputar itu. Hari pertama di kelas sebelas, aku ingat kebagian tempat duduk pojok belakang karena datang kesiangan. Lalu hari-hari berikutnya yang berjalan terlalu normal tanpa ada sesuatu yang menarik untuk diingat. Aku menyerah, tak berhasil mengingat banyak hal, berjanji akan mengingat semuanya setiba di rumah setelah melihat catatan harianku.
Dokter tampaknya telah menyimpulkan sesuatu, tapi membahasnya di luar. Dari jendela sempat kulihat seseorang baru datang menghampiri Kak Garuda. Telinganya menyimak penjelasan dokter sementara pandangannya tertuju kepadaku. Aku yakin kali ini dia benar-benar Elang. Lengannya yang disandang arm sling membenarkan kata-kata Ayah tadi bahwa ia memang menderita patah tulang. Mataku belum berkedip sejak Elang tiba dan memperhatikanku. Sejauh yang kuingat kami tak pernah dekat sebatas teman sekelas, tapi bila Ibu bahkan mengenal Elang dan kakaknya juga mengenalku, itu artinya ... mungkin dia sudah selevel Yasinta dan Nike dalam lingkar pertemananku.
Terlebih kenapa dia harus memperhatikanku seperti itu? Ada apa dengan tatapannya yang ....
“Ah!”
Rasa sakit yang tak biasa berdenyut di kepalaku tanpa peringatan. Erangan yang tak sempat kutahan merebut perhatian Ayah dan Ibu. Bertanya-tanya cemas apa yang terjadi, orang tuaku memasrahkan dokter untuk segera mengambil tindakan. Rong-rongan ngilu belum lenyap dari kepalaku. Meski telah kututup mata, aku tetap bisa melihat Elang menempel sedekat mungkin dengan jendela demi menatapku secemas yang ia bisa.
“Amnesia parsial,” jawab Yasinta ketika teman-teman bertanya. Ia bertingkah paling tahu soal keadaanku, tapi kenyataannya memang dia yang paling tahu, “hanya sebagian ingatan Shira yang hilang.”
Yah, ini hari pertamaku masuk sekolah setelah keluar dari rumah sakit.
“Katanya kamu tidak ingat yang terjadi dengan peristiwa sejak awal semester ya, Ra? Berarti kamu lupa sama semua materi pelajaran? Iya enggak, sih?” tanya Yuanda kedengarannya senang sekali.
“Aku pernah lihat di sinetron. Kalau amnesia kepalanya mesti dipukul ulang biar sembuh!” kata Tiara terdengar mengerikan.
“Tapi aneh ya, kepala Shira kan tidak terluka. Bagaimana bisa sampai ada masalah dengan ingatannya?” tanya Marvel.
“Kamu tidak tahu ceritanya, Vel!” jawab Yasinta.
“Dan tolong kamu yang tahu, jangan memulai gosip, oke?” pintaku. Yasinta hanya nyengir.
Aku sedikit mendapat penjelasan bahwa klimaks keretakan antara Ayah dan Ibu membuatku lagi-lagi jatuh stres dan depresi. Asmaku juga bisa kambuh karenanya dan diriku sendiri tak menerima kejadian itu, secara otomatis menyingkirkan ingatan tidak menyenangkan dari kepalaku bersama ingatan lain sejak beberapa bulan terakhir. Begitulah penjelasan paling masuk akal. Faktanya rasa sakit itu benar-benar tak berbekas di kepalaku, cukup terobati dengan membaiknya hubungan Ayah dan Ibu.
Sebelum benar-benar menandatangani persetujuan gugat cerai, Ayah menemuiku di hari ulang tahunku dan melihat aku tak pernah rela dengan keputusan Ibu. Itu sebabnya Ayah belum juga menandatangani surat itu hingga sekarang, hingga keduanya memutuskan untuk tak akan lanjut mengurusinya. Ayah dan Ibu berdamai. Ibu memutuskan untuk berhenti bekerja di kapal pesiar, tinggal di rumah mengurus aku dan adikku sambil memulai bisnis katering.
Jam pelajaran pertama dimulai. Bu Dewi guru bahasa Indonesia kami saat kelas sepuluh dulu hanya meninggalkan tugas setelah penjelasan singkat. Agak kerepotan mengajar dua kelas. Tidak ada pilihan baginya sebab sejauh ini belum ada guru pengganti setelah Pak Hanri mengundurkan diri, pamit untuk lanjut kuliah. Impiannya adalah menjadi dosen di kampus-kampus luar negeri yang membuka program studi Bahasa Indonesia. Aku benar-benar tak habis pikir dengan guru luar biasa itu! Ia banyak beruntung sebab kepala sekolah mengizinkannya. Sayang sekali aku belum sempat menemuinya untuk yang terakhir kali.
Waktu yang luang ini kugunakan untuk membuka catatan harianku, menapaki jejak ingatan yang tertulis di sini. Entah kenapa aku merasa sangat perlu mengingat semuanya kembali karena ... yah, semuanya terasa asing. Seolah ada yang hilang dari kepalaku, meninggalkan lubang menganga. Ketika seseorang membahas sesuatu dan aku hanya pasang tampang bodoh karena tidak mengingat apa pun, itu benar-benar menyebalkan! Terlebih ... tak sengaja pandanganku bertemu dengan Elang yang juga menatapku. Terlebih dengan anak satu itu. Ada teka-teki besar yang harus kupecahkan.
__ADS_1
“Ra ...” kata Yasinta menggangguku yang tidak menemukan banyak hal di catatan berantakan ini.
“Apa?” tanyaku sibuk memeriksa ponsel, memeriksa aktivitas atau pesan-pesan masuk akhir-akhir ini. Sayangnya ini ponsel baru sementara ponsel lamaku rusak tepat sebelum UTS, kata ibu.
“Kamu tidak ingat tentang Elang?” tanyanya.
“Kamu tahu sesuatu, Yas?!”
“Sudah kuduga, kamu juga lupa. Pasti itu yang membuatnya muram. Saat kamu masih koma pun dia benar-benar puasa bicara.”
“Seserius itu?! Memangnya ada apa antara aku dengannya?!”
“Kamu penasaran ‘kan?! Haha, rasakan! Itu salahmu karena tidak mau berbagi cerita denganku! Harusnya orang pikun sepertimu wajib mencadangkan ingatanmu kepadaku. Tidak akan ada kenangan berharga yang terlupa!”
“Kenangan berharga?”
“Entahlah. Aku tak tahu pasti, tapi ini satu-satunya yang sempat terekam,” kata Yasinta menunjukkan video ketika teman-teman mengerjaiku di hari ulang tahunku. Entah apa yang Ardian bahas mengenai persaingan atau sesuatu yang ia yakini sedang kututup-tutupi dengan Elang dari publik. Bagaimana aku bisa melupakan semua ini?!
“Aduh!”
Lagi-lagi denyut menyakitkan mendera kepalaku tiap kali berusaha mengingat semua ini. Yasinta tak bisa menyembunyikan kepanikannya, membuatku jadi pusat perhatian seketika.
“Tolong, jangan memaksanya,” kata seseorang.
“Ma ... maaf, Lang, aku tidak bermaksud ....”
“Sudahlah, cepat bawa Shira ke UKS!”
“Tidak ... tidak perlu, aku baik-baik saja!” jawabku memaksa tersenyum, berusaha menetralkan rasa sakit, tidak ingin teman-teman mencemaskanku. Perhatian mereka teralih ketika Pak Hasibuan tiba-tiba muncul. Guru BK itu meminta Elang untuk ke ruangannya. Kata beliau Elang sudah ditunggu.
“Baik, Pak. Maaf, saya minta waktu lima menit. Setelah itu saya akan segera ke sana,” kata Elang.
“Ya, saya mengerti,” jawab guru paling galak itu kali ini melembut.
“Ada masalah apa lagi, Lang?” tanya Rehan.
“Tidak ada apa-apa,” jawab Elang terdiam sejenak menjatuhkan pandangannya ke lantai, ”aku hanya ingin pamit.”
Teman-teman di sekeliling kami tiba-tiba membisu.
“Aku tinggal dengan kakakku yang sudah semakin repot dengan magang dan kuliahnya. Tidak banyak yang bisa kulakukan sendirian dengan kondisiku yang sekarang. Jadi, yah, aku harus kembali tinggal bersama orang tuaku, pindah ke rumah utama di kota sebelah,” jelas Elang. Masih hening.
“Bercanda ini ya?” respons Sindi.
“Enggak, aku sungguhan. Maaf ya kalau aku ada salah dengan kalian semua,” kata Elang. Teman-teman laki-laki segera merangkulnya satu per satu. Aku sendiri masih tertegun. Entah bagian mana dalam diriku yang begitu aneh menginginkannya tetap tinggal.
“Ngagetin banget, sih, Lang! Kenapa tidak bilang jauh-jauh hari kalau mau pindah?” tanya Marvel.
“Ya, sejujurnya aku sendiri tidak ingin pindah dan masih mencoba membujuk orang tuaku agar setidaknya aku tetap di sini hingga akhir semester, tapi ... ternyata memang tidak bisa," jawab Elang.
“Setidaknya sampai ingatan Shira kembali, Lang. Kamu yakin harus pergi sekarang?” tanya Yasinta yang sudah berkaca-kaca. Kenapa dia harus sesedih itu, sih?
“Kamu hanya mendramatisasi keadaan, Yas!” jawab Elang terkekeh pelan, “aku tidak berharap lebih, tahu! Shira bangun dan berada di tengah-tengah kita lagi sudah cukup membuatku lega. Aku tak peduli bila ingatan tidak penting itu hilang dari kepalanya.”
Aku terkejut mengetahui Elang bisa tersenyum. Ada kata-kata yang tertahan di tenggorokanku. Ingin kulontarkan tapi aku tidak tahu. Pada akhirnya yang sempat kusampaikan hanyalah kalimat klasik agar jaga diri dan tetap menjaga hubungan baik dengan teman-teman di sini. Kami sekelas sempat berfoto sebentar sebelum Elang benar-benar pergi.
“Kenapa kalian harus berpisah dalam keadaan seperti ini?!” sesal Yasinta.
“Kenapa jadi kamu yang paling sedih?” tanyaku.
“Habisnya ... gosip tentang kalian berdua yang terlanjur seru tidak bisa dilanjutkan lagi,” jawabnya membuatku menepuk jidat. Sungguh? Demi itu?!
Hingga mobil keluarga yang menjemput Elang keluar dari gerbang sekolah, aku masih berharap ada suatu hal yang bisa kusampaikan kepadanya. Dari jendela di sebelah tempat dudukku, kulihat kendaraan itu semakin menjauh dan hilang di antara gedung-gedung yang menghalangi pandangan. Kursor di ponselku hanya berkedip-kedip beberapa saat hingga akhirnya kuputuskan mengetik sesuatu.
“Aku belum bisa berhenti penasaran, Lang. Kata Ayah, sekecil apa pun, aku tidak boleh melupakan sesuatu. Doakan agar aku segera mengingat semuanya lagi ya!”
Pesan itu terkirim kepada kontak Elang. Butuh beberapa saat hingga dua centang biru muncul. Jemari di sana sepertinya balas mengetik, berhenti, mengetik lagi, kemudian offline padahal aku sudah menanti balasannya. Saat hendak kusimpan ponselku di saku barulah pesan balasan masuk.
“Jangan memaksakan diri ya! Sehatlah selalu!”
Hanya itu.
.Selesai.
__ADS_1
Tuh, selesai. Serius kali ini deh, bener-bener selesai. Salam-salam sama ucapan makasihnya secara khusus kusampaikan di bonus end nanti. Mueheh, apaan lagi tuh? Just wait😉