
“Apa ada yang membawa buku tua bersampul coklat di sudut baca?” tanyaku di grup obrolan kelas. Pesan tersampaikan nyaris ke seluruh anggota. Sebagian besar membacanya, tetapi nihil yang menjawab. Lima menit tanpa respon. Tiba-tiba salah satu temanku promosi bisnis skin care-nya, grup menjadi ramai seketika, dan jadilah pesanku terabaikan.
Kulempar ponselku asal-asalan. Ah, memang dasar diriku makhluk terkucilkan tak tahu diri! Bisa-bisanya menanyakan hal tidak penting di grup dan berharap seseorang membalasnya! Puh, sudahlah! Sebaiknya aku tidur saja.
Bergelung di dalam selimut. Ini pertama kalinya aku ingin cepat-cepat tidur dan berada di dunia kelabu itu. Aku ingin mengumpulkan lebih banyak petunjuk!
****
Raungan menyeramkan membuat mataku refleks terbuka. Langit kelabu berkabut menyambut. Kutebar pandangan ke sekeliling, semuanya dinding kayu. Aku di dalam bilik, tepatnya bilik yang baru saja diperbaiki Sekti sendiri. Setidaknya aku berada di tempat yang aman.
Tunggu, paling aman? Eh, pintunya!
“Hai!”
Seseorang yang amat kukenali sudah berdiri menyandar menahan pintu. Dia menyapaku, tersenyum ramah.
“Tenang saja, pintunya sudah kututup.”
“Sakti!” pekikku senang. Monster di luar berbalas meraung keras. Aku buru-buru menutup mulut.
“Tenanglah, dia akan menjauh sebentar lagi,” kata Sakti. Baguslah kalau begitu.
“Rasanya lama sekali tidak bertemu denganmu, Sakti,” ujarku. Dia hanya terkekeh pelan.
“Itu tidak benar, Shira. Terakhir kali kita bertemu hanya beberapa hari yang lalu. Apa kau sudah demikian rindunya kepadaku?” kata Sakti. Heh? Rindu katanya?
“Aku terkejut kamu ternyata jago gombal juga,” balasku. Kami sama-sama tertawa.
“Aku hanya bercanda,” jawabnya, “kemarin kamu tidak ada, artinya kamu tetap terjaga di dunia sana. Apa kamu memaksakan diri? Itu tidak baik, Shira. Aku khawatir fisikmu lelah dan kamu jatuh sakit. Kamu justru akan lebih banyak tidur dan berada di sini,” tuturnya.
“Iya, Elang juga sudah menasihatiku begitu. Tidak akan kuulangi lagi, kok,” jawabku. Meski begitu, rasanya berbeda ketika Sakti yang menasihatiku.
“Oh, iya, nomong-ngomong soal Elang ....”
“Ada yang ingin kutanyakan!” potongku cepat, selagi aku ingat apa yang perlu kutanyakan tentang Elang. Sakti menggeleng.
“Nanti saja tanya-tanyanya, kita harus mencari Elang dulu,” kata Sakti.
“Mencari Elang?”
“Iya, kemarin dia tersesat ketika di luar sedang malam. Hampir saja aku terlambat mengamankannya. Mungkin saat ini dia juga masih di luar, kita harus cepat!”
“Tapi monsternya ....”
“Kita akan mencari Elang sambil menghindari monster itu sebisa mungkin. Yang penting kita bertiga harus berkumpul dulu. Elang tidak seberuntung dirimu yang selalu ada bersamaku,” kata Sakti dengan hati-hati membuka pintu.
Itu dia! Ternyata Sakti memang tahu!
“Tentu saja aku tahu pertanyaanmu. Apa kamu lupa aku bisa membaca pikiranmu?” jawab Sakti sambil memastikan keadaan di luar.
“Aman?”
“Siap, aman! Ayo, Shira, kamu jangan jauh-jauh di belakangku!” kata Sakti melangkah ke luar. Aku menurutinya dengan patuh. Sepanjang koridor hanya diterangi obor yang memancarkan cahaya kelabu, benar-benar tidak banyak membantu penglihatan. Namun, dari suara raungan yang kudengar, monster itu sepertinya jauh dari posisi kami.
__ADS_1
“Monster itu bisa berteleportasi, Shira. Dia bisa berpindah ke mana pun kecuali ke dalam bilik. Indra pendengarannya juga luar biasa. Aku yakin dia mendengar langkah kaki kita meski sedang berjauhan. Boleh jadi dia akan muncul di depan kita dalam hitungan detik,” kata Sakti.
“Aku sama sekali tidak berharap hal itu terjadi, Sakti!” bisikku lirih. Aku juga takut pembicaraan kami terdengar.
Bilik-bilik yang kami lewati dari tadi pintunya tertutup, tanda tidak bisa dimasuki. Aku menelan ludah. Hingga di ujung koridor, tidak satu pun bilik yang bisa dijadikan tempat berlindung. Bagaimana jika monster itu tiba-tiba muncul di bawah tangga?
Suara derakan terdengar dari bawah. Langkah Sakti terhenti, alarm waspadanya menyala.
“Firasatmu benar, Shira,” kata Sakti bersiaga menarik tanganku, “monster itu sudah ada di bawah!”
“Kita kembali ke bilik yang tadi, Sakti!” seruku panik. Monster itu mulai memanjat ke atas. Gerakannya cepat sekali dengan kaki-kaki pendek itu. Aku ngeri melihatnya.
“Tidak akan sempat!” jawab Sakti.
Lalu bagaimana?!
Tanpa memberi tahu, Sakti sudah menggendongku di punggungnya. Aku sama sekali tidak punya ide tentang apa yang akan ia perbuat.
“Sakti, kamu tidak akan melakukan hal gila ini 'kan?”
“Mari kita coba, Shira.”
Tidak, tunggu! Dia mendekati bibir teras lantai dua yang tidak dibatasi apa pun, untuk sedetik kemudian melompat dari atas sini.
Gila! Sakti sudah gila!
“Sakti! Awas!” pekikku ketakutan. Terlambat sedetik saja, jemari besar monster itu berhasil menggapai kami. Beruntungnya —atau tidak beruntungnya— kami sudah terjun bebas dari lantai dua. Aku tidak bisa tidak berteriak. Mataku menutup reflek. Beberapa meter dari permukaan tanah, anak angin puyuh menyambut kami, menjadi pijakan bagi Sakti seolah angin itu adalah benda solid.
Sakti berhasil mendarat dengan aman. Aku turun dari gendongannya dengan wajah pasi.
Dengan isi perut berwarna kecoklatan seperti lava yang meluber, monster itu tumbang dari ketinggian, berdebum keras menciptakan getaran seperti gempa. Kulihat dari arah datangnya kilatan benda seperti bumerang yang tadi menyerang monster itu. Elang berada di sana, menangkap kembali bumerang yang tadi ia lepaskan. Oh, jadi dia pelakunya!
“Hati-hati, Lang!” seruku melihat ada monster lain di belakangnya. Elang dengan gesit menghindari serangan dari belakang, berbalik cepat dan menusukkan bumerang itu —yang seketika berubah menjadi tombak— ke perut monster yang menyerangnya. Lagi-lagi lava coklat kental bercipratan seiring dengan raungan kesakitan dari monster yang sekarat. Tombak di tangan Elang kini berubah menjadi pedang.
“Kenapa kalian berdua hanya bengong saja? Cepat sembunyi!” seru Elang menyelipkan pedang itu di pinggangnya. Kami tersadar. Entah kenapa terpana melihat Elang terampil menggunakan senjata hebat itu.
Raungan monster lain terdengar tak jauh. Beruntung bilik terdekat —bilik dua belas MIPA dua— dapat kami masuki. Sakti buru-buru menahan pintunya. Monster di luar berusaha mendobrak.
“Cih, monster pembantu lagi! Berapa sebenarnya jumlah mereka itu?” tanya Elang.
“Kau bisa menghitungnya, enam ratus dibagi enam puluh dikali dua, hanya sebanyak itu,” jawab Sakti.
Ah, persetan dengan perhitungan itu! Aku masih tegang dengan suasana seperti ini. Pedang di pinggang Elang masih bersimbah lava coklat menjijikkan.
“Berarti ada dua puluh dan aku baru menghabisi dua dari mereka,” gumam Elang.
“Ya ampun, Lang! Apa yang membuatmu terpikirkan membunuh mereka? Itu berbahaya!” seruku panik atas betapa santainya pernyataan Elang tadi.
“Kenapa? Kau mau menceramahiku bahwa membunuh adalah tindakan kriminal? Maaf, Shir, aku harus membela diri agar bertahan hidup, aku tidak seberuntung dirimu,” jawabnya.
“Apanya yang tidak seberuntung diriku?!” balasku kesal.
“Aku tahu kamu sudah tahu,” jawab Elang. Topik tentang kisah lama itu terbangun dengan sendirinya.
__ADS_1
“Sakti, kamu harus meyakinkan Elang kalau cerita Sekti itu tidak benar,” ujarku kepada Sakti yang dari tadi hanya menonton. Tolong yakinkan Elang kalau sebenarnya dia juga akan selamat dari tempat ini. Sakti terdiam cukup lama.
“Sayangnya, yang diceritakan Sekti itu benar, Shira. Aku tidak bisa menutupi kenyataan,” jawab Sakti. Elang juga terdiam memalingkan wajah.
“Itu memang kenyataan pahit, bagimu dan bagiku juga,” kata Sakti, “sejak lama aku ingin melupakan kejadian itu, berpura-pura seolah aku tak mengingatnya, tetapi aku tidak bisa lari dari kenyataan betapa suramnya kisah masa lalu itu, dan semakin menyedihkan melihat jiwa-jiwa yang tersesat di sini mengalami kisah yang sama.”
Tidak, Sakti. Itu omong kosong!
“Aku sengaja tidak menceritakannya kepadamu, agar kamu tidak perlu tahu tentang kisah itu, agar kamu bisa bebas dari sini, rupanya kamu sudah tahu. Jika begini, kamu pasti ingin menyelamatkan Elang juga, kamu hanya akan mengulang kisah yang sama.”
“Pati ada yang bisa dilakukan, Sakti! Aku akan mengumpulkan banyak petunjuk tentang tempat ini!” jawabku mantap, “sejak aku terjebak di sini, aku menemukan buku kuno yang tidak kumengerti, aku akan mempelajarinya dan mencari jalan keluar! Aku yakin buku itu ada hubungannya dengan tempat ini!”
“Buku apa ....”
“Seandainya kau temukan jalan keluarnya, itu jalan keluar untukmu, bukan untukku,” jawab Elang.
“Lang, aku tidak pernah mengenalmu sebagai seorang yang pesimis!”
“Tunggu! Buku apa maksudmu?” tanya Sakti.
“Buku kuno bersampul coklat tua, isinya kertas-kertas kaku seperti dari serat kayu warna abu-abu. Di atasnya ada banyak tulisan aneh, apa kamu tahu sesuatu?” tanyaku pada Sakti.
“Sungguh? Kau menemukan buku itu?” tanya Sakti tidak percaya. Aku mengangguk.
“Apa kau masih ingat kalau sebenarnya aku sedang menunggu pesan balasan?” tanya Sakti. Oh, itu yang dikatakan Sakti pertama kali ketika kami bertemu, “sebenarnya aku dan Sekti masih sering berkomunikasi melalui buku itu, aku menuliskan catatan sebelum berubah menjadi monster, meninggalkannya di suatu tempat agar Sekti membaca dan membalasnya. Sekti juga melakukan hal yang sama, ketika aku berubah kembali menjadi manusia, aku akan membaca balasan dari Sekti, begitu seterusnya sepanjang hari. Akhir-akhir ini aku mencari buku itu ke segala tempat, tetapi tidak kutemukan juga, ternyata ada padamu!”
“Um, maaf, Sakti, sebenarnya buku itu sekarang juga hilang dari tanganku,” jawabku.
“Apa?!”
“Aku meninggalkannya di sudut baca kelas dan sekarang hilang.”
“Itu berarti petaka, Shira! Pesan balasan terakhir yang kutunggu-tunggu dari Sekti adalah tentang jalan keluar dari tempat ini! Kamu harus segera menemukannya lagi!”
Aduh, bagaimana ini?!
“Bukunya ada padaku,” kata Elang.
“Ada padamu?”
“Iya, aku membawanya pulang sejak bisa melihat ada tulisan di dalamnya,” jawab Elang. Aku menghela napas lega.
“Syukurlah! Syukurlah!” seruku senang. Elang sama sekali tidak menunjukkan tanda kegembiraan. Aku lupa kalau manusia satu ini minim emosi.
“Ngomong-ngomong, senjatamu itu keren ya, Elang,” kata Sakti, “dari mana kamu mendapatkannya?”
“Eh? Aku kira kamu yang memberikannya untuk Elang agar dia bisa membela diri,” jawabku. Sakti menggeleng.
“Aku sama sekali tidak pernah melihat yang seperti itu selama ini,” tambah Sakti. Elang masih saja diam dari tadi.
“Ya ampun, Lang! Katakanlah sesuatu, kami sedang bicara denganmu!” seruku kesal.
“Diamlah, Shir! Aku juga sedang berpikir! Kamu kira aku tidak bingung tiba-tiba memiliki benda sekeren ini?!” jawab Elang.
__ADS_1
Eh? Jadi dia juga tidak tahu?
.Bersambung.