
“Katakan, ada apa, Shir?”
Aku tersadar setelah Elang menanyaiku untuk kesekian kalinya. Otakku buru-buru bekerja.
“Kafetaria kampus ini sebelah mana ya?” tanyaku panik, masih mengingat betul kata-kata singkat di telepon tadi.
“Setahuku ada banyak area kafetaria di sini,” jawab Elang.
“Yang paling dekat?”
“Di sekitar gedung Fakultas MIPA.”
“Itu di sebelah mana?” tanyaku tetap tak mengerti.
“Akan kuantar. Sambil jalan tolong jelaskan alasan kepanikanmu!” jawab Elang beranjak dari bangku tempat kami duduk tadi. Aku mengekor di belakangnya.
“Seseorang telah menculik Yasinta,” ujarku memberi tahu.
“Sungguh? Di area terbuka dan seramai ini?” tanya Elang.
“Entahlah, yang jelas suara laki-laki di telepon tadi memintaku datang ke kafetaria bila ingin Yasinta selamat.”
“Ini terlalu aneh, orang itu meminta kau datang ke tempat terbuka untuk ... untuk apa? Coba pikirkan, harusnya si penculik menghubungi orang tua Yasinta jika memang menginginkan tebusan. Bukannya kamu, Shir,” jelas Elang yang ternyata sangat masuk akal. Otaknya seolah terbiasa memikirkan sesuatu secepat ini. Ah, atau memang dasarnya aku yang lamban?
“Aku tidak begitu mengerti, tapi Yasinta telah menjadi sasaran kejahatan saat turun dari angkot tadi dan kebetulan aku yang menggagalkannya,” jelasku kemudian kami tiba di kafetaria yang dimaksud. Terlalu banyak orang. Seperti yang dikatakan Elang, tidak mungkin penculik Yasinta memintaku menemuinya di tempat seramai ini. Di mana orangnya? Apa yang sebenarnya ia inginkan dariku?
“Bisa kau jelaskan detail kejadian yang kaumaksud tadi, Shir?”
“Ponsel Yasinta kena copet, lalu aku meminta pencopet itu mengembalikannya. Berhasil, tidak ada perlawanan, tapi aku tidak menduga akan seperti ini jadinya,” jawabku cemas.
“Tanpa perlawanan, heh? Kemungkinan besar penculik Yasinta adalah pencopet yang sama, tapi kenapa dia berani memperpanjang masalah hanya karena gagal mencopet ponsel?” gumam Elang berpikir-pikir sementara aku mulai menghubungi Yuanda yang harusnya tetap bersama Yasinta. Sayang sekali, di ujung sana bahkan tidak berdering. Aku ingat kebiasaan Yuanda yang tidak pernah mengaktifkan ponsel ketika sedang bepergian, kebiasaan ***** yang membuat ponsel kehilangan fungsinya!
“Yuanda juga tidak bisa dihubungi. Kami bertiga pergi bersama tadi pagi,” ujarku cemas. Secarik kertas jatuh dari atas, melayang lambat di depan mataku yang dengan mudah segera kuraih.
“Ah, lupa memberitahumu, datanglah sendiri tanpa ditemani siapa pun. Pindah ke lapangan belakang. Waktunya tiga menit dari sekarang.”
Begitu pesan yang tertulis di sana.
__ADS_1
“Sialan! Lapangan belakang sangat jauh! Lima menit jalan kaki dari sini!” kata Elang sebal.
“Yah, mungkin dia ingin aku berlari,” jawabku mengendikkan bahu, sesekali menengok ke atas, mencari tahu bagaimana pengirim pesan ini menjatuhkannya dari langit.
“Jangan mengambil risiko, Shir. Biarkan aku menemanimu ke sana,” kata Elang.
“Inginku juga begitu, tapi sepertinya akan membahayakan Yasinta jika kita membangkang perintah orang itu. Entah bagaimana saat ini dia juga sedang mengawasi kita, Lang. Jadi, tidak ada pilihan lain. Ah, tiga menit itu waktu yang singkat.”
Elang lagi-lagi mengumpat lirih sama sekali tidak suka dengan situasi ini, “Aku akan membantu sebisa mungkin. Berhati-hatilah, Shir!”
Tanpa mengulur waktu lagi aku segera berlari menuju tempat yang diminta meski ... yah, meski, hei, kalau mau ke lapangan belakang lewat mana ya? Pertama kali masuk ke kampus ini, bukan salahku bila aku tidak tahu. Bodo amatlah, pokoknya lari terus melawan arah pintu masuk utama kampus. Semakin ke belakang semakin sepi. Tak ada yang curiga dengan melihatku lari-lari karena memang tidak ada siapa-siapa.
Tidak ada siapa-siapa, benar. Orang jahat itu sekarang memilih tempat yang tepat. Semoga saja masih ada yang bisa mendengar teriakanku bila saja terjadi sesuatu. Kuharap Elang juga memikirkan rencana yang bagus atau setidaknya keajaiban yang bisa kulakukan akhir-akhir ini cukup membantu di situasi-situasi sulit. Aku boleh berbangga diri setelah sampai di tanah lapang luas di belakang gedung unit perpustakaan. Yah, ini pertama kalinya aku tidak tersesat.
Kutengok arloji, terlambat sedikit, tapi jika orang itu tidak bisa menoleransi keterlambatanku, aku juga akan menyalahkannya karena ia belum terlihat setelah aku sampai di sini.
“Mencari siapa?” tanya sesosok laki-laki berambut memanjang hingga menyentuh pundak, tiba-tiba muncul ketika aku masih mengatur napas. Tidak, dia bukan pencopet yang di angkot tadi. Mungkin mahasiswa di sini. Dandanannya seperti anak band, terlihat dari ikat kepala ala rocker dan tas gitar tersandang di punggungnya. Sesaat aku sama sekali tidak curiga hingga akhirnya ia tersenyum penuh misteri.
“Sepertinya kamu memang datang sendiri, baguslah!” katanya membuatku terenyak.
“Jangan-jangan ... kamu orangnya!” jawabku beringsut mundur menjaga jarak dari laki-laki ini, “di mana Yasinta? Apa keperluanmu denganku?”
“Ha? Lalu yang kaumaksud dengan keselamatannya yang terancam bila aku terlambat ....”
“Nah, di situlah nantinya mungkin kau akan menganggapku orang jahat, tapi sebenarnya tidak. Aku terpaksa harus bilang seperti itu karena kau sama sekali tidak memedulikan pesanku sejak beberapa minggu lalu.”
“Tolong jangan berbelit-belit! Aku tidak mengerti sesuatu yang kamu katakan! Intinya Yasinta baik-baik saja?”
“Iya, aku tidak mengapa-apakannya sebab dari awal kaulah yang berurusan denganku, Yang Mulia!”
Lagi-lagi aku terlambat menyadari bahwa orang ini adalah laki-laki yang datang di mimpiku belakangan ini, yang membahas tentang huru-hara, negeri putih, dan bla bla bla ... omong kosong panjang itu!
“Sudah kuduga kau bukan orang baik!” balasku.
“Yah, mari lihat sendiri nanti, apakah aku orang baik atau bukan?” katanya sambil mengeluarkan isi tas gitarnya yang ternyata sama sekali bukan gitar, “tugasku hanya membawa Yang Mulia kembali.”
Setelah berkata demikian, pedang kayu yang dipoles cantik tertarik keluar dari dalam tas itu. Masih bersiaga atas segala kemungkinan, aku tak banyak mengerti ketika ia menancapkan mata pedang ke tanah. Seketika kesiur angin datang, awalnya hanya berdesir menggoyangkan rerumputan, kemudian semakin lama semakin ribut. Kilauan cahaya perlahan tampak meluas di tanah, berpusat dari bagian yang tertancap pedang itu.
__ADS_1
“Aku akan membawa ragamu sekaligus. Bersiaplah, Yang Mulia!”
“Jangan seenaknya! Memangnya kamu siapa?!” tolakku tak terima.
“Luskaaa! Bodoooh!”
Suara dari langit itu membuat kami mendongak bersamaan. Silau matahari membuatku tak bisa melihat dengan jelas satu sosok lagi yang seolah terjun bebas dari angkasa. Ia mendarat mulus di satu titik belasan meter dari kami berdua, melompat belasan meter lagi ke titik lain, terus seperti itu hingga enam titik mengelilingi kami. Aku tak habis pikir bagaimana ia bisa melakukan lompatan-lompatan itu tanpa menderita patah tulang, seolah tanah solid ini adalah trampolin yang lentur baginya. Terakhir, ia melompat di sebelah laki-laki tadi dengan kedua kaki dan satu tangan, sementara tangan yang lain berada di mulut, menggigit telapak tangannya.
“Elang?!” pekikku tidak percaya. Ia berdiri sambil meludahkan darah yang dihisap dari tangannya ke tanah. Kilauan cahaya di tanah berhenti meluas. Satu hal lain membuatku terkejut. Cahaya dari enam titik tadi bangkit ke udara seperti benang yang terus bercabang kemudian saling bertautan, membentuk kubah cahaya rapat seperti mangkuk terbalik dengan kami bertiga di dalamnya.
“Hai, Shira! Aku sedih karena kau selalu mengira aku adalah Elang, padahal yang meniru wajahku adalah adikku, tapi kau tidak pernah berteriak ‘Garuda!’ ketika bertemu Elang. Adikku sungguh curang ya!”
Oh? Apa? Jadi dia bukan Elang? Kak Garuda ya? Tidak, itu bukan salahku. Salahkan wajah mereka berdua yang teramat mirip! Selain itu aku sama sekali tidak menyangka Kak Garuda bisa melakukan atraksi sekeren tadi dan membangkitkan kubah cahaya ini.
“Hentikan bertingkah sok akrab dengan Yang Mulia!” tegur laki-laki di samping Kak Garuda menatapnya sinis.
“Wah, kau tidak boleh iri! Yang Muliamu memang kenalan baikku, asal kau tahu! Lagi pula dia pasti tidak suka dengan orang jelek, kaku, berotak dangkal, dan teramat sembrono sepertimu!” jawab Kak Garuda. Aku masih terbengong-bengong menyimak obrolan ini. Mereka ... saling kenal?
“Kau bukan satu-satunya yang paling sempurna, jadi jangan terus menerus mengejekku!”
“Nah, maaf karena terlalu mendadak, Shira! Orang ini pasti belum mengenalkan diri, tapi sudah sering mengganggumu, iya ‘kan? Namanya Luska. Sayang sekali, obat sembrono tidak dijual di apotek padahal dia sangat membutuhkannya! Eh? Memangnya obat sembrono pernah dibuat?”
Yang diperkenalkan balas menjitak kepala Kak Garuda sambil menyumpah serapah dengan segala kosa kata tidak sopan yang ia tahu. Serius, deh, kenapa aku malah menonton orang gelut?
“Hei, hei, kesatria mabuk, kau belum juga sadar diri? Mengaktifkan portal masuk seenak jidat tanpa memasang pengaman! Memangnya ini lapangan nenek moyangmu?! Atau kau memang sengaja ingin menjadi viral di dunia ini dengan menarik perhatian besar? Kenapa? Sudah menyerah menarik perhatian orang-orang dari duniamu sendiri?”
Aku memekik khawatir ketika Luska melepas pukulan yang membuat Kak Garuda terlempar menghantam atap kubah cahaya. Sungguh, sebenarnya aku tidak tahu masalah mereka berdua, tapi kata-kata Kak Garuda memang terlalu sarkastis. Wajar bila akhirnya Luska semarah itu.
“Sudahi omong kosong ini!” geram Luska kesal, “aku tidak punya banyak waktu meladenimu! Jika kau datang hanya untuk mencegahku, berarti kau adalah musuh!”
Kak Garuda yang beberapa waktu lalu terkulai kini bangkit lagi dengan senyum menantang, “Dan bila kau membawa paksa Shira sebelum memberinya banyak penjelasan, sebelum ia sempat berpamitan kepada siapa pun, berarti kau penculik! Penculik antardunia paralel! Huuu, mengerikan! Mana mungkin aku bisa tinggal diam?!”
“Kau selalu tahu cara untuk merepotkanku!” balas Luska kemudian melepas ikat kepalanya. Suatu motif yang seperti tato di keningnya berkilauan, ternyata merupakan motif yang sama dengan di gagang pedang kayu.
Ketika Luska mencabut pedang itu, kilauan cahaya di tanah yang tadi sempat berhenti meluas sekarang bergerak dalam sekedip mata, menjadikan seluruh tanah dalam kubah ini cahaya putih yang segera menelanku amblas ke dalamnya. Sebelum tertelan ruangan putih tak bertepi, sempat kulihat Luska mengayunkan pedangnya ke arah Kak Garuda yang tak bisa bergerak bebas di kubah tertutup itu.
Aku ingin mencemaskannya, tapi sepertinya aku harus mencemaskan diri sendiri.
__ADS_1
Ke mana aku akan berakhir?
.Bersambung.