Kelabu

Kelabu
#S2 Episode 2


__ADS_3

Benda berbulu nan hangat bergelung di kakiku. Tidak hanya itu, sensasi kasar dan lengket menggelitik ujung jempol dan jemari kaki, membuatku terperanjat, buru-buru menegakkan punggung. Kesadaran yang masih melayang-layang di udara segera terkumpul begitu aku berteriak.


“Shiroooo!!!”


Binatang itu hanya mengeong lemah –alias malas– belum juga beranjak dari ujung kakiku. Menyingkirkannya perlahan, aku tidak suka dia ada di kamarku terlebih di atas ranjang. Bayangkan betapa rambut putihnya yang seperti kembang gula itu akan rontok dan menempel di selimut serta bantal gulingku. Tidak, hidungku sedang tidak menolerir rambut kucing! Aku sendiri tak habis pikir bagaimana ia bisa masuk ke sini ketika pintu kamar kukunci.


Sesuatu yang lebih mengejutkan menyambutku di balik pintu. Eongan binatang sejenis bersahutan begitu kubuka pintu kamar. Kejengkelanku semakin berlipat-lipat.


“Kucing tetanggaa ... JANGAN BERKUMPUL DI RUMAH INI SEENAKNYA, DONG!” geramku kesal. Shiro di gendonganku melompat turun bergabung dengan teman-temannya. Aku sungguh tak habis pikir kenapa kucing-kucing ini sok asik main ke rumah, terlebih nempel-nempel kepadaku. Kenapa tidak di kamar Maurin saja? Ah, jika kuingat semua binatang memang mulai sok asik dekat-dekat denganku. Burung dan tupai di halaman sekolah, ayam dan angsa di pekarangan tetangga juga. Agak beruntung kecoak di sudut kamar mandi atau cecurut di selokan tidak ikut-ikutan. Apa yang sebenarnya mereka lihat dariku?!


“Ada apa, sih? Kakak bangun kesiangan dan teriak-teriak begitu,” kata Ibu muncul dari dapur.


“Bu ... rumah kita bukan penangkaran kucing. Ibu tahu aku juga alergi dengan bulu mereka,” jawabku.


“Semakin Kakak tidak suka, sepertinya mereka semakin rajin apel pagi untuk membangunkan Kakak,” jawab Ayah yang ternyata masih di rumah.


“Aku menyukai mereka, Yah, tapi tidak bila mereka memenuhi seisi rumah. Cukup seekor Shiro saja, oke?” jawabku.


“Wah, padahal bakal seru kalau Shiro beranak dan membiakkan beberapa anak kucing,” jawab Ayah santai.


“Jelas-jelas Ayah lupa. Shiro kan kucing jantan!” balas Ibu.


“Oh iya ya, kalau yang perempuan kan Shira, anak gadis Ayah! Hahaha!”


“Lawakan Ayah tidak lucu!” jawabku malas berlalu menuju dapur, mencari-cari susu dingin di kulkas. Ibu sempat mengomel menyuruhku harusnya minum yang hangat-hangat dulu jika baru bangun tidur. Aku tak begitu peduli karena tak mau kalah bersaing dengan Maurin –sekarang ditambah Shiro– demi mendapatkan minuman kesukaanku yang tinggal sekotak ini.


Tidak seperti Ayah yang biasanya tetap berangkat kerja meski Hari Sabtu, adikku, Maurin justru sudah tidak di rumah pagi-pagi begini. Jogging di sekitar alun-alun kata Ibu. Sejak masuk SMP dia menambah banyak teman dan kegiatan. Ah, dasar bocah tanggung baru gede!


“Kakak tidak ada acara hari ini?” tanya Ibu.


“Tidak,” jawabku bersamaan dengan suara bel. Ayah yang di ruang tengah lebih dulu bergerak ke depan membukakan pintu.


“Ah, hai, silakan masuk! Shira baru saja bangun!” sapa Ayah beramah tamah dengan yang baru datang. Dua orang lawan bicaranya malu-malu masuk ke ruang tamu.


“Yasinta? Yuanda? Kalian ... mengenakan seragam?” tanyaku.


“Iyalah, Ra! Kenapa kamu belum siap-siap? Kupikir kamu belum menghubungiku karena sibuk mempersiapkan diri,” jawab Yasinta.


“Siap-siap ke mana?”


Yuanda menepuk dahi, “Kamu sendiri kemarin yang mengajak kita datang ke edufair hari ini, loh, Ra!”


“Oh iya ya, hehe!” cengirku. Ternyata aku ada acara pagi ini, huuu!


“Duh, aku tidak butuh cengiranmu! Cepatlah siap-siap! Kita bisa terlambat masuk sesi pertama acara itu, tahu!” balas Yasinta.


“Bakal telat banget ini, sih!” jawabku menengok jam dinding, tiba-tiba mager betul, “sebaiknya kalian berdua saja, deh, yang pergi.”


“Kakak yang mengajak mereka lalu Kakak juga yang membatalkannya. Ayah tidak pernah mengajari Kakak yang seperti itu!” sahut Ayah menimpaku dengan tatapan tegasnya.


“Ah, iya deh, iya! Kalian berdua tunggu sebentar!” jawabku tak bisa mengelak. Mandi kilat dan ganti baju yang hanya menghabiskan waktu lima belas menit, kusandang tas berisi bekal sarapan yang sudah disiapkan ibu sekaligus camilan untuk Yasinta dan Yuanda juga. Setelah berpamitan dan bilang akan pulang sebelum sore, aku pun meninggalkan rumah bersama dua orang ini.


“Serius pulang sebelum jam tiga ya, Kak! Kalau bisa sebelum tengah hari! Langsung pulang, jangan keluyuran atau mampir ke mana-mana dulu!” kata ibu sebelum aku jauh meninggalkan halaman.


“Kak Shira! Dengar kata Ibu ‘kan?!”


“Yaaa!” jawabku singkat, agak malu ketika diledek Yasinta yang juga ikut-ikut memanggilku Kak Shira-Kak Shira. Lagi pula ibu bertingkah seolah aku tidak akan kembali pulang! Berlebihan sekali!

__ADS_1


Kami perlu naik angkot untuk tiba di lokasi pameran yang ternyata kampus paling bonafid di kota ini. Selama lima belas menit perjalanan Yasinta dan Yuanda mendiskusikan banyak hal tentang rencana studi mereka, juga memberikan beberapa saran untukku. Pikiranku melayap ke mana-mana ketika keduanya mengobrolkan beberapa perguruan tinggi terbaik dengan daya saing dan bla bla bla ... hingga akhirnya kami bertiga tiba di tujuan.


Firasatku tidak cukup baik. Dari balik kacamata, netraku tak bisa berhenti menilik hiruk pikuk memperhatikan sekitar, mencari sesuatu yang aku sendiri tak tahu pasti.


“Ra, jangan terlihat linglung di jalanan seperti ini! Bahaya! Kamu bisa jadi sasaran empuk pencopet,” tegur Yasinta.


Ah, itu dia!


“Kamulah yang baru saja dicopet, Yas!” jawabku sesaat kemudian menatap lurus seseorang bertopi yang tadi turun dari angkot berbarengan dengan kami. Setengah sadar, aku buru-buru menyejajari langkahnya.


“Loh?! Ponselku?!” seru Yasinta sempat kudengar sebelum kucekal tangan orang bertopi itu. Ia berbalik kaget, tapi aku yang lebih kaget dengan tindakanku.


“Pak, kembalikan,” ujarku enteng begitu saja, beradu pandang dengan mata berbayang kendur menghitam di bawahnya. Tangan orang itu yang masih di saku menyerahkan kembali barang yang beberapa saat lalu ia pindahkan dari saku Yasinta ke sakunya sendiri, tanpa banyak berkata-kata.


“Terima kasih,” jawabku membuat orang itu terkesiap untuk sesaat kemudian mengumpat. Laki-laki itu buru-buru pergi menjauh. Ah, aku senang –sekaligus terheran– ponsel Yasinta bisa kembali semudah ini tanpa perlawanan.


Sementara si pemilik ponsel bersama Yuanda mematung di trotoar melihatku kembali.


“Nih, kenyataannya meski tidak terlihat linglung, kamu tetap menjadi sasaran kejahatan ‘kan?” ujarku mengembalikan ponsel ini kepada pemiliknya, “lain kali berhati-hatilah.”


Yasinta masih menatapku seolah kehabisan kata-kata.


“Apa yang baru kamu lakukan, Ra?” tanya Yuanda menatapku heran.


“Apanya?”


“Bagaimana bisa pencopet itu tiba-tiba menurutimu? Jangan-jangan kamu bisa menghipnotisnya ya?”


Itu dia yang membuat diriku sendiri heran. Aneh memang, tapi dugaan Yuanda jelas-jelas tidak mungkin. Jadi, aku menggeleng demi membantahnya.


“Barangkali orang itu tidak ingin memperpanjang keributan yang bisa membahayakannya sendiri. Di sini cukup ramai. Dia pasti khawatir dihajar massa, makanya mengalah begitu saja,” pikirku.


“Makasih, Ra! Makasiiiih!” kata Yasinta menyadari sesuatu yang harusnya ia ucapkan dari tadi, “mungkin ini hanya perasaanku, tapi kamu memang semakin keren akhir-akhir ini.”


Aku hanya terkekeh pelan, membantahnya dalam hati. Kami bertiga menyeberang jalan untuk memasuki area kampus.


Tidak, Yas. Itu hanya perasaanmu saja. Semakin keren, hah? Semakin menakutkanlah sejatinya! Aku sendiri terlalu takut mencoba memahami yang terjadi. Memangnya apa penyebab meletup lampu kamarku hingga jaringan listrik di rumah konslet saat emosiku meledak waktu itu? Juga yang terjadi saat simulasi ujian di lab komputer? Sebenarnya kejadian dengan pencopet barusan tidak ingin kutambahkan, tapi itu juga terhitung aneh ... dan mau tahu yang paling membuatku merinding? Ah, sudahlah! Aku tak mau membahasnya!


 ***


Baru lima belas menit mengikuti arus pameran, aku mulai gerah tak tahan dengan keramaian. Tertahan di stan kampus idaman Yuanda, ikut sosialisasi di sana. Kami sudah sepakat untuk tidak berpencar dan saling menunggu bila salah satu dari kami masih mengikuti sosialisasi. Yasinta yang sejatinya tidak berkepentingan terlihat sama antusiasnya, menanggapi penjelasan dan turut bertanya-tanya. Sementara aku? Ah, pikiranku melayap ke mana-mana.


Sempat hampir tertinggal kedua temanku ketika mereka selesai tanpa bilang-bilang. Mereka malah menyalahkanku karena hobi melamun. Biasanya ketika sedang kacau begini, aku jadi lebih sensitif terhadap sesuatu yang ganjil seperti saat keluar dari angkot tadi. Perasaan tidak tenang ini mengganggu pikiranku lagi.


“Ayo, Ra! Kamu ingin ikut sosialisasi di stan kampus mana? Dari tadi hanya tengak-tengok tanpa mampir!” kata Yuanda.


“Hm, sebentar,” jawabku semakin gelisah. Apa yang salah? Di sebelah mana?


Lalu lalang di sekitar semakin membuatku pusing. Aku baru saja ingin memutuskan untuk menepi dan beristirahat sebentar sebelum akhirnya sempat kulihat papan baliho setinggi lima meter dekat pintu gedung perlahan miring, nyaris menimpa beberapa orang di bawahnya yang tak menyadari hal itu. Kepanikan otomatis meningkat dalam diriku. Teriakan peringatan tak sempat lolos, hanya tanganku yang terulur mengarah ke depan. Gerakanku tampak seolah menahan papan itu, tapi mustahil aku bisa melakukannya karena posisiku lima belas meter jauhnya dari pintu masuk gedung yang dipenuhi lalu lalang.


Benar, harusnya mustahil, tapi kenyataannya papan itu berhenti merebah dan kembali menegak kembali ke posisi semula mengikuti arah gerak tanganku. Yang patut dipertanyakan adalah bagaimana bisa papan baliho sekokoh itu bisa nyaris roboh? Apa panitia pameran tidak memperhitungkan penempatan posisi perlengkapan? Ah, kenapa aku malah meributkan hal itu?! Satu-satunya yang patut dipertanyakan harusnya diriku sendiri. Untuk entah ke berapa kalinya masih terheran, bagaimana aku bisa melakukan hal tadi?


Aku hanya mengusap wajah lelah. Jangan bilang siapa-siapa, sebenarnya aku pernah sadar bisa mengendalikan benda-benda dari jauh. Sempat kucari tahu di internet, istilahnya telekinesis, tapi jelas itu sama sekali tidak rasional bagi manusia biasa sepertiku. Memangnya berapa banyak tenaga yang diperlukan untuk menggerakkan otot meski hanya dalam aktivitas ringan? Cukup banyak, lalu bayangkan betapa lebih banyak lagi energi yang kuperlukan tanpa kontak fisik untuk mengendalikan benda-benda di sekitarku! Yang jelas lebih banyak lagi. Hal itu terbukti karena setelah melakukan teknik telekinesis aku segera terjatuh lemas.


Meski menguasainya, aku tidak sering mencoba-coba hal itu, cukup tahu akibatnya akan seperti ini. Terduduk lemah di lantai, aku masih bertanya-tanya bagaimana orang-orang tidak menyadari keadaanku? Hei, siapa pun, aku butuh minum atau uluran tangan untuk berdiri. Yasinta? Yuanda? Ke mana mereka?


Tolonglah, ini berlebihan. Keramaian di sekitarku terlampau tak peduli seolah aku tidak terlihat atau berada di dimensi berbeda. Setelah berangsur-angsur membaik dan sanggup kembali berdiri, barulah seseorang yang menyenggolku mendelik sebal. Hei, harusnya aku yang marah, tapi akhirnya bisa kembali berinteraksi dengan sekitar membuatku sedikit lega. Silakan dorong atau senggol aku sepuasnya! Itu sama sekali tidak mengerikan daripada menjadi entitas yang seolah tak kasat mata, tidak disadari keberadaannya.

__ADS_1


Ah, sudahi omong kosong ini! Aku akan menjitak kepala Yasinta dan Yuanda bergantian karena mereka meninggalkanku, atau menjitak kepalaku sendiri karena begitu berbakat terpisah dari teman-teman di tengah kerumunan begini. Yah, memang nasib! Aku pun melanjutkan sisa waktu pameran dengan berkeliling sendiri. Sempat ingin mampir di salah satu stan yang mengadakan demonstrasi kuis terkait psikologi, tapi kubatalkan karena sudah terlalu banyak orang dan ... dan tiba-tiba aku ingin cepat pulang. Hal aneh tak henti-hentinya menggangguku hari ini.


Sekarang suara yang seolah berasal dari sembarang arah tertangkap pendengaran, memanggil-manggil namaku. Terdengar lemah seolah dari kejauhan, tapi mustahil suara pelan masih bisa terdengar di hiruk pikuk ini. Menelan ludah merinding, aku cepat-cepat melengang menuju pintu keluar. Persetanlah dengan rencana mencari pencerahan untuk studi lanjutanku! Akuuu ingiin pulaaang!!!


“Raaaa...!!!”


Kali ini suara itu terdengar cukup nyata, semakin dekat dari sebelahku. Kuberanikan berhenti dan menoleh, mendapati anak laki-laki dengan garis rahang mengeras tampak marah teringin membanting ponselnya. Ia menyadari sedang kuawasi lalu menyembur dengan tidak ramahnya.


“APA?!”


Umpatan di tenggorokan berusaha kutahan. Apa-apaan, sih?! Aku kan tidak mengganggu! Justru dia yang berteriak-teriak tidak sopan!


“Eh, ma ... maaf! Kupikir kamu tadi memanggilku. Sepertinya aku salah dengar ya? Maaf, permisi!” jawabku mengalah lalu pergi dengan sisa-sisa rasa sebal. Dasar cowok aneh!


“Shira!”


Langkah kakiku terhenti setelah memastikan sesuatu yang kudengar.


“Tuh! Kali ini aku tidak salah dengar ya! Jelas-jelas kamu menmanggil namaku!” balasku mengomeli laki-laki tinggi yang membuatku harus mendongak demi menatapnya. Sesaat kemudian dia malah tersenyum. Sebentar, jika dia tahu namaku berarti ... dia mengenalku. Ya ampun, ini, sih ....


“Elang?! Kamu Elang ‘kan?!” tanyaku menyadari hal itu. Senyumnya hanya semakin melebar.


“Ya ampun, Shir! Ini betulan kamu?!” balasnya kemudian tertawa. Heh? Aku sudah lama tidak melihatnya dan sekarang aku melihatnya sambil tertawa? Maksudku, dia bisa tertawa? Sungguh?! Aku hanya balas memukul-mukul Elang pelan dengan gulungan brosur yang kubawa karena ia telah menularkan tawanya kepadaku. Aduh, apa-apan dia itu?!


“Aku sebenarnya sadar kalu kamu Elang, tapi tingkahmu yang menatapku asing begitu membuatku khawatir salah orang, makanya aku langsung pergi!” kilahku.


“Ah, alasan! Bilang saja kamu memang lupa!” jawabnya.


“Ya enggaklah! Satu-satunya manusia paling ketus dan sedikit-sedikit marah kan hanya kamu!”


“Ya, dan satu-satunya orang yang gampang sekali terpisah dari temannya lalu berakhir tersesat di tengah kerumunan sendirian juga hanya kamu!” jawab Elang selalu tahu cara memenangkan perdebatan. Cengiranku membenarkan kata-katanya.


“Hei, apa kabar?”


Pertanyaan sederhana Elang membuat kami berakhir membicarakan banyak hal. Sejenak membuatku tidak ingat dengan hal-hal mengerikan yang baru terjadi atau kedua temanku yang sekarang entah ada di mana. Mendapat bonus ketemu teman lama sebelum tujuan utama datang ke sini terpenuhi, aku tak mau ambil pusing. Ya sudahlah, Lagi pula ini sama sekali di luar rencana!


Duduk di salah satu bangku taman pelataran gedung pameran, kami mengobrolkan ini itu setelah pembicaraan langsung kami yang terakhir satu setengah tahun lalu. Ya, hanya berjarak satu setengah tahun, tapi lihatlah betapa Elang banyak berubah! Masih kuingat betul kelas sebelas dulu tinggiku sebatas telinganya sedangkan sekarang aku jauh tertinggal karena puncak kepalaku sekarang hanya sejajar dengan pundaknya. Bikin minder ya!


Sebenarnya ingin kutanyakan berapa liter susu yang ia habiskan untuk pertumbuhan yang mengagumkan ini. Ibu sendiri menjatahku dua kotak susu seperempat liter tiap hari demi naiknya tinggi badanku, berharap aku bisa tumbuh lima atau sepuluh senti lagi agar bisa diterima akademi penerbangan, menjadi calon pramugari. Sayangnya, sejak satu setengah tahun lalu aku tidak tumbuh satu milimeter pun! Ah, ke mana larinya asupan kalsiumku ya?


Elang lebih dulu berkomentar tentang perubahanku yang menurutnya semakin periang atau apalah. Hei, harusnya aku yang bilang seperti itu! Elanglah yang sekarang tampak ceria. Mungkinkah karena situasi di sekolah baru lebih menyenangkan? Nilai-nilainya semakin baik? Sudah punya rencana kuliah yang matang? Gebetan? Hehe, entahlah!


Kenyataannya meski sama-sama bingung dengan pilihan universitas, Elang yang sejatinya calon pewaris posisi penting di perusahaan keluarganya sudah memiliki tujuan jelas. Sementara aku? Hm, niat dan tujuanku masih terbang lompat-lompat di atas awan, belum sempat kukumpulkan.


Getar ponselku menginterupsi pembicaraan kami. Sebuah panggilan masuk. Nama penelepon yang tertera di layar membuatku mengedarkan pandangan ke sekitar. Yasinta, dia pasti ada di dekat sini, diam-diam mengawasiku bersama Elang lalu berencana meledekku sepuasnya. Awas saja kau nanti!


“Kenapa tidak diangkat, Shir?” tanya Elang, “Yasinta ‘kan? Dia pasti mencarimu.”


“Ah, be ... benar,” jawabku. Apa boleh buat. Elang terlanjur tahu. Setelah memastikan volume panggilan serendah mungkin hingga Elang tak bisa mendengarnya, panggilan dari Yasinta kujawab.


“Halo?! Kamu di mana?” tanyaku menempelkan ponsel di telinga. Hening. Sesaat terdengar dehaman suara laki-laki. Alisku berkerut.


“Halo, Yas?”


Tanpa tahu menahu mengenai suara lelaki itu, kata-kata yang kudengar berikutnya membuat mataku membulat sempurna.


“Ada apa, Shir?” tanya Elang tanpa bisa kujawab.

__ADS_1


“Shir?”


.Bersambung.


__ADS_2