
“Bagaimana kondisinya?”
“Semua organ vital berfungsi dengan baik. Mungkin Yang Mulia akan sedikit trauma, tapi tidak akan terlalu buruk.”
“Apa ada kerusakan lain yang lebih serius dengan ingatannya? Kuharap tidak, jadi tolong periksa dan pastikan saat ini juga.”
“Maaf, Kesatria Muda, untuk mendeteksi hal itu diperlukan pemindaian ulang atau bertanya langsung kepada Yang Mulia. Dua cara itu hanya bisa dilakukan ketika Yang Mulia sudah siuman.”
Perbincangan yang samar-samar kudengar itu memancing kesadaranku. Indera pendengaranku kembali aktif, tapi mataku tidak mau bekerja sama membuka. Saraf motorik yang bertanggung jawab menggerakkan tubuhku juga sepertinya masih bermalas-malasan. Sial, kenapa aku jadi teramat lemas begini?!
Semakin kesadaran terkumpul, pening menghantam kepalaku semakin keras. Pada akhirnya hanya gumaman tidak jelas yang berhasil lolos dari tenggorokanku, mencoba memanggil siapa pun yang tadi berbincang di dekat sini.
“Yang Mulia? Yang Mulia sudah sadar!” kata Luska yang hanya terlihat melalui kelopak mata setengah membuka.
“Kondisinya masih lemah, Kesatria Muda. Sebaiknya hari ini kita biarkan Yang Mulia beristirahat penuh,” jawab Dokter Kara.
“Ya, aku setuju.”
Setelah raut cemas yang sempat kulihat dari Luska, ia pergi meninggalkan ruangan. Dokter Kara datang untuk melingkarkan jam tangan pemeriksa otomatis yang pernah kucoba tadi pagi. Tadi pagi? Memangnya sekarang sudah pukul berapa? Berapa lama aku tertidur?
“Kara ... Ini di mana?” tanyaku lemah hanya bisa menggerakkan bola mata, mengedar pandang ke seisi ruangan putih polos tanpa jendela ini.
“Kita sudah kembali ke Alba, Yang Mulia. Ini ruang perawatan saya,” jawab Dokter Kara. Kembali ke Alba? Memangnya ... Oh, kunjungan ke penjara Griseo! Kejadian mengerikan yang sempat kuingat tiba-tiba mengumpulkan kekuatanku lagi.
“Tolong ... tolong lakukan pemindaian ingatan lagi untukku!” ujarku tiba-tiba sanggup bangkit dengan luar biasa panik.
“Sebaiknya Yang Mulia istirahat dulu. Hasil pemindaian tidak akan akurat ketika kondisi Anda seperti ini,” jawab Kara kembali menenangkanku.
“Kara, kumohon ....”
“Yang Mulia, jangan khawatir. Setahu saya tidak ada ingatan yang hilang, tidak ada. Ada satu lagi tempat selain otak untuk menyimpan ingatan dan kenangan. Di sini tempatnya,” jawab Kara menyentuh dadaku lembut, membuat detak jantungku sendiri bisa kurasakan.
“Dalam hati kita, semua kenangan berharga yang pernah kita alami akan terus tersimpan meski yang di dalam otak rusak. Itu sebabnya ... jangan khawatir,” bisik Dokter Kara lirih dengan senyum yang kali ini tidak seperti dibuat-buat. Pelupuk mataku tiba-tiba dipenuhi embun basah demi mengakui kebenaran kata-kata Dokter Kara. Seandainya ingatan itu memiliki wujud, aku pasti memeluknya erat-erat sebelum Griseo merampasnya, telah kusimpan rapat-rapat di dalam hatiku. Pada dasarnya aku memang tidak kehilangan apa-apa.
“Aku masih memilikinya ....” ujarku lirih, menangis di pelukan dokter muda itu.
***
Kami berempat –aku, Dokter Kara, Ladra, dan Luska– berada di ruangan dengan monitor tempat menonton jalur pita memoriku. Kali ini kami akan melihatnya untuk yang kedua, setelah pemindaian ulang yang lebih singkat baru saja.
“Jadi, bagaimana hasilnya?” tanya Ladra, “aku tidak sedang ingin mendengar berita buruk.”
“Beruntungnya, saya juga tidak akan menyampaikan hal buruk,” jawab Dokter Kara, "dari analisis komputer, hasil pemindaian kedua masih serupa dengan yang pertama. Itu artinya, semua masih normal, tidak ada yang berkurang atau bertambah. Griseo memang tidak memanipulasi apa pun lagi dari ingatan Yang Mulia,“ jelasnya. Itu terdengar sedikit melegakan.
Dokter Kara lanjut menjelaskan dengan memperbesar titik merah sumber masalahku, “Sepertinya Griseo memang berusaha memulihkan ingatan Yang Mulia, tapi sayang sekali, gelombang destruktif yang hanya bisa dinetralkan dia sendiri terlanjur tidak bisa diutak-atik karena adanya pola gelombang konstruktif ini.”
“Dari mana asalnya gelombang konstruktif itu? Apa tidak bisa dihilangkan?” tanyaku.
“Um, menyingkirkan gelombang konstruktif lebih rumit dibandingkan menetralkan gelombang destruktif. Jejak gelombang konstruktif membangun ingatan orang lain di pita memori Yang Mulia, tapi Yang Mulia harus berterima kasih kepada siapa pun yang memasukkan gelombang konstruktif itu, karena tanpanya kerusakan parah yang Anda derita bisa merenggut nyawa.”
“Siapa yang melakukan hal itu?”
“Kesatria perak,” jawab Ladra yakin.
“Oh, seseorang yang meminta dirinya dikirim ke Dunia Kelabu enam ratus tahun lalu?” tebak Luska, “kupikir itu hanya dongeng karena kenyataannya ia tak pernah kembali.”
“Itu bukan dongeng. Ternyata hal itu bukan dongeng. Kesatria perak benar-benar ada dan hanya satu orang itu yang berhasil masuk ke Dunia Kelabu,” jawab Ladra, “segala ramalan tentang Kesatria Perak dan keturunannya yang akan mengakhiri entitas Dunia Kelabu ... itu juga nyata.”
“Tapi Kepala Dewan tidak memercayai hal itu sebelumnya ....”
__ADS_1
“Kita bahas hal itu nanti, Luska! Yang terpenting adalah Yang Mulia dulu,” jawab Kepala Dewan itu lanjut menanyaiku, “apa benar ada ingatan Kesatria Perak yang pernah Anda lihat dalam mimpi atau lamunan, Yang Mulia?”
“Aku ... baru pertama kali ini mendengar sesuatu tentang Kesatria Perak, jadi aku tidak tahu atau sempat memimpikannya,” jawabku.
“Nama aslinya Sakti. Ia memaksa masuk ke Dunia Kelabu demi menyelamatkan adik kembarnya yang terjebak di sana. Kemungkinan besar Yang Mulia berperang di Dunia Kelabu tempat adik Kesatria Perak tertahan.”
Aku tertegun setelah mendengar penjelasan Ladra. Sakti? Kembar? Dua petunjuk itu mengingatkanku pada bocah yang ada di mimpiku. Si kembar yang salah satunya diperlakukan tidak adil dan satu yang lain memelukku hangat, mebisikkan kata-kata yang seolah seperti mantra untuk mengakhiri mimpi. Kuusap wajahku sejenak, memastikan hal itu memang pernah ada dalam mimpiku.
“Yang Mulia mengingatnya?”
“Ya ...” gumamku lirih, “ingatan masa kecil salah satu saudara kembar itu pernah kulihat dalam mimpiku.”
“Berarti yang dikatakan Griseo benar. Kesatria Perak berhasil menyelamatkan Yang Mulia dengan mengisi kerusakan itu dengan ingatannya sendiri, tapi sebagai konsekuensi ingatan Yang Mulia tentang Dunia Kelabu tidak bisa dipulihkan,” kata Ladra tampak risau, “bagaimana ini? Satu-satunya yang tahu kunci kehancuran dunia terkutuk itu hanya Yang Mulia!”
“Sebenarnya ... tidak juga,” kata Luska tiba-tiba, “jika Griseo bisa dipercaya, kita masih punya satu harapan lagi, Kepala Dewan.”
“Apa?”
“Griseo sempat mengatakan padaku bahwa ada satu orang lagi yang berjuang bersama Yang Mulia mengalahkan Dunia Kelabu dan ingatan orang itu masih utuh,” kata Luska.
“Kesatria Perak sendiri?” tebak Ladra, “apakah dia masih hidup setelah ratusan tahun?”
“Bukan, bukan Kesatria Perak, tapi keturunannya ....”
“Seseorang dari Nigra sekutu Aquila waktu itu? Garuda ‘kan? Dia hanya orang biasa yang mengaku-ngaku sebagai keturunan Kesatria Perak!” jawab Ladra kesal, “kita sudah melihatnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk Alba!”
“Bukan Garuda, Kepala Dewan, tapi Elang,” jawab Luska membuat darahku berdesir seketika. Elang? Elang terlibat?!
“Apa Yang Mulia mengenal seseorang bernama Elang?”
***
Kronologinya begini. Ketika Luska bertanya apakah aku mengenal Elang? Mulanya kupastikan dulu, Elang Dirgarajakah yang ia maksud? Yah, tentunya ia tidak tahu, tapi meski aku hanya mengenal satu orang bernama Elang, Kepala Dewan tetap percaya bahwa Elang yang itulah yang terlibat dengan Dunia Kelabu, sama sepertiku. Itu sebabnya, demi strategi mengalahkan Dunia Kelabu yang telah hilang dari ingatanku, Ladra membolehkanku kembali ke Nigra untuk menjemput Elang dan kembali setelah dua puluh empat jam –siaal, aku ingin di sana lebih lama.
Sebenarnya agak tidak percaya bahwa Elang juga turut terlibat karena ia tidak pernah bilang apa-apa. Ia pindah sekolah tepat di hari ketika aku baru pulih setelah keluar dari rumah sakit, tapi harusnya Elang memberitahuku hal sepenting ini melalui pesan atau telepon. Kita juga sempat bertemu saat edufair –terakhir kali aku melihatnya– tapi dia juga tidak menyinggung apa-apa soal Dunia Kelabu. Kenapa dia seolah menutup-nutupinya dariku?
“Yang Mulia?”
Suara di balik pintu kamar segera membuatku terlonjak girang.
“Hai! Kau sudah kembali?” ujarku membukakan pintu mendahului pelayan.
“Um, ya ... Yang Mulia sepertinya senang sekali,” kata orang itu yang jelas-jelas Luska.
“Oh, sangat senang, asal kau tahu!” jawabku. Lawan bicaraku hanya tersenyum, “kau sudah menormalkan kembali apa-apa di sana? Hipnotis yang membungkus keluargaku tentang diriku? Sudah dibereskan?”
“Sudah, Yang Mulia, mulai besok mereka kembali normal.”
“Bagus,” jawabku tak bisa menyembunyikan perasaanku yang berbunga-bunga, “ngomong-ngomong kenapa aku tidak langsung ikut bersamamu saja tadi?”
“Oh, sejak Menara Gerbang Dimensi terakhir meledak, tidak ada lagi akses portal menuju Nigra, tapi beruntungnya sebelum itu terjadi, ilmuwan kami berhasil menemukan antisipasinya,” kata Luska merogoh sesuatu di balik jubahnya. Semacam bendelan kertas seperti sticky note berwarna krem membosankan. Sepertinya aku pernah melihat kertas yang seperti ini.
“Ini Kertas Lintas Dimensi. Penggunaannya sekali pakai untuk satu orang. Cukup disobek, kita akan tiba di Nigra dengan instan. Bila posisi kita sedang di Nigra, merobek kertas ini akan mengantar kita ke Alba. Yah, karena sistemnya instan, energi yang diambil dari kristal bulan cukup besar. Setara penggunaan daya harian untuk satu rumah tiap sekali pakai. Itu sebabnya kita harus menghemat pemakaian kertas ini,” jelas Luska.
“Oh, baik, aku mengerti,” jawabku menerima dua lembar darinya.
“Itu untuk perjalanan pergi dan pulang. Kertas untuk dipakai Elang saat kembali ke sini sudah saya letakkan di laci meja belajar Yang Mulia ....”
“Kau masuk ke kamarku?!”
__ADS_1
“ ... Saya meninggalkan dua di sana, yang satu untuk berjaga-jaga," jawab Luska mengabaikan pertanyaan protesku.
“Baiklah, hanya tinggal disobek, ya ‘kan?”
Luska mengangguk, “Jangan lupa, Yang Mulia harus kembali sebelum dua puluh empat jam. Jika tidak, saya akan tetap menjemput Yang Mulia bersama Elang yang tentunya akan memboroskan banyak energi. Itu sebabnya, tolong jangan membuat saya sampai harus menjemput.”
“Boleh aku meminta sesuatu yang lebih?” tanyaku banyak berharap.
“Harusnya tidak,” jawab Luska sesuai perkiraanku, “tapi saya akan mengusahakannya untuk Yang Mulia.”
Senyumku sendiri merekah seketika.
“Yang Mulia ingin lebih lama di Nigra ‘kan? Saya mengerti perasaan Yang Mulia dan saya pikir, Yang Mulia memang berhak berlama-lama sebelum akhirnya lebih lama menghadapi hal-hal serius di sini,” jawab Luska.
“Jadi, aku boleh kembali setelah tiga hari?” tanyaku.
“Um, akan saya usahakan. Jika sebelum tiga hari saya sudah menjemput, itu berarti tidak boleh.”
“Semoga saja boleh! Tolong buatlah Kepala Dewan mengerti, kuserahkan padamu!”
Luska tidak menjawab apa-apa lagi setelahnya, berbalik pergi menyusuri selasar senyap. Namun, sempat kudengar ia berbisik, “Selamat mudik!” sebelum sosoknya lenyap di belokan. Heheh, dari mana dia mengerti istilah itu? Tapi boleh juga, aku akan mudik sejenak sebelum kembali ke tanah rantau di dimensi lain.
Tanpa mengulur waktu lagi, satu kertas lintas dimensi di tanganku kurobek mantap. Seketika butiran cahaya putih membawaku luruh ke udara.
***
Luruhan cahaya di langit yang tertangkap mataku terlihat sama mengagumkan. Sungguh, aku seperti dikelilingi ribuan kunang-kunang. Selain pemandangan itu, sesosok lain juga tertangkap mataku yang separuh terbuka. Dari posisiku, dagu dan garis rahang tegasnya yang paling terlihat. Kepalaku menyandar nyaman di dadanya, di atas lengan-lengan kokoh yang membopong tubuhku. Dari pandanganku yang bergoyang-goyang, bisa kupastikan ia terseok-seok menyeret langkahnya demi membawaku entah ke mana.
Sebaris kata-kata yang lolos dari bibirnya terus saja berulang-ulang.
“Tetaplah hidup, tetaplah hidup! Kumohon, tetaplah hidup!”
Ia menunduk menatap wajahku bersamaan dengan mataku yang kembali menutup.
Eh? Ini mimpi yang mana ya? Dan ... laki-laki tadi itu siapa ya?
Aku masih ingin terus bertanya-tanya sebelum akhirnya kembali ditelan ruangan serba putih yang memelukku dengan perasaan nyaman luar biasa.
***
Tersentak kaget, suara bip berulang-ulang seperti detik-detik meledaknya bom memaksaku terbangun. Selain pemandangan yang kulihat di sekeliling, suara bip-bip itu membuatku senang setengah mati.
Itu suara alarmku!
Dan aku berada di sekotak dunia zona teritorial paling membahagiakan sepanjang masa remajaku. Kamar tercinta! Dengan seprei dan selimut yang sama-sama bergambar Doraemon Stand by Me, dengan buku-buku dan map plastik yang memuntahkan kertas-kertas di atas nakas, dengan dinding-dinding yang tertempeli warna-warni sticky note yang ... Ya ampun! Aku tidak percaya saat ini aku terbangun di kamarku sendiri!
Aku melonjak-lonjak girang ke sana ke mari, bergulung-gulung di atas ranjang dan memeluk cium dinding-dinding dengan gila. Terbukanya pintu dan longokan kepala di sana menginterupsi acara selebrasiku.
“Ya ampun!” kata suara kekanakan itu, “alarm Kakak sungguh tidak berguna! Buat apa dipasang bila Kakak tidak segera keluar dari kamar setelah alarm berbunyi?!”
Aku menatap haru si bocah yang belum kuajak gelut sejak tiga hari terakhir.
“Adikkuuuuuu!!!”
Ia buru-buru menutup pintu sebelum aku sempat memeluknya, membuatku berakhir menabrak pintu dingin dan keras itu. Sialan! Jidatku!
“Buuu! Kakak gilaaa!”
Sekali lagi, sialan!
__ADS_1
.Bersambung.