
Melayang-layang di ruangan tanpa hal lain selain warna putih, mual perlahan mengaduk-aduk perutku. Tidak ada gravitasi, tidak ada sesuatu untuk berpegangan atau batas yang kutabrak, yang kulakukan hanya menggapai-gapai ruang kosong.
Jarum pendek jam arloji di tanganku berhenti di angka sebelas. Janjiku adalah pulang setidaknya sebelum tengah hari, tapi bisakah aku kembali pulang setelah entah apa yang akan kuhadapi nanti? Niatanku berangkat tadi pagi hanya untuk menghadiri pameran itu. Berikutnya tak pernah kusangka-sangka akan bertemu dengan seseorang dalam mimpiku dan ... dan Kak Garuda? Apa kaitannya dia dengan Luska? Juga kaitan Luska denganku? Kenapa orang itu terus menerus melindur, memanggilku Yang Mulia-Yang Mulia?
Bila itu terjadi tiga belas tahun lalu saat main-main dengan temanku, mungkin akan terdengar menyenangkan. Pasalnya aku tidak pernah kebagian peran jadi tuan putri atau seseorang yang dipanggil Yang Mulia, tapi untuk saat ini dipanggil demikian jelas-jelas membuatku risih. Lagipula sudah cukup, kepalaku lelah dijejali berbagai pertanyaan. Ini saatnya untuk pingsan, berharap ketika aku terbangun nanti, semua yang terjadi hanyalah bunga tidur belaka.
Sayangnya, kesadaranku belum juga menguap. Begitu menyiksa ketika pening menguasai kepala, memperburuk mual yang mendorongku untuk muntah. Aku tak tahan! Aku tak tahan! Normalnya aku segera pingsan dan tak lagi merasakan apa-apa, tapi kenyataannya tidak. Melayang-layang tanpa tahu berakhir di mana, aku menjerit kaget saat akhirnya gravitasi mulai terasa, menarikku ke atas –atau sebenarnya ke bawah karena posisi tubuhku terbalik– atau entahlah! Pokoknya tubuhku terisap menuju satu titik.
Seseorang meneriakkan namaku dari arah yang tak kuketahui. Aku menoleh ke sana ke mari mencarinya. Sebentar, kejadian ini seolah tidak asing. Jatuh bebas dan berusaha menggapai seseorang yang memanggil namaku. Pernahkah hal ini terjadi?
“Shira!”
Suara itu tiba-tiba berada di sebelahku. Seorang gadis yang menyerupaiku –sangat-sangat menyerupaiku– mengulurkan tangannya. Aku melakukan hal yang sama, berusaha menggapai ‘kembaranku’ ini. Seketika gravitasi kembali menghilang. Kami berdua sama-sama melayang di ruang putih ini.
“Waah, kau benar-benar kosong!” kata anak ini mendekatkan wajahnya, seolah mengintip sesuatu dari mataku.
“Apanya?” tanyaku tidak mengerti.
“Padahal permainan yang sesungguhnya baru dimulai. Masa, sih, tidak ada sedikit pun yang tersisa tentang petualangan pembukaan waktu itu?”
“Aaargh! Kenapa hari ini semua orang membicarakan sesuatu yang tidak kumengerti?! Kenapa aku terus dipaksa bertanya-tanya?! Kamu siapa? Ini di mana?! Persetan apa yang sedang kau bicarakan?!” tanyaku frustrasi nyaris dibunuh rasa penasaran. Sosokku sendiri tersenyum miring.
“Lihat ‘kan? Tidak asyik, deh! Cari tahulah sendiri!”
Setelah itu ia melepasku, membiarkan sensasi tarikan gravitasi kembali menguasai. Kulihat lingkaran hitam seperti lubang menganga di bawah sana, bersiap melahapku. Sebelum tahu bahaya apa yang menanti, pikiranku panik lebih dulu. Aku tidak mau terisap ke sana! Tidak mau!
“Jangaaaaannnn!!!” teriakku pasrah, gagal melawan gravitasi.
Setidaknya sesuatu yang kulihat berubah sejak memasuki lubang itu. Seolah berada di dalam sumur, kanan-kiriku hanya dinding batu berdiameter selebar rentangan tangan, semakin ke bawah semakin lebar. Lantai yang sama-sama terbuat dari batu menyeringai jahat, tampak senang bila aku terbanting di atasnya. Namun, sesuatu yang tak kuduga menyelamatkanku dari terjadinya hal itu.
Beberapa meter sebelum tulang belulangku patah karena tubuhku terempas, aku berhasil melayang di udara. Mungkin kali ini karena kekuatanku sendiri. Sempat lupa bahwa aku menguasai teknik telekinesis. Terbukti dari benda-benda di dasar sumur –yang ternyata sebuah ruangan– turut melayang-layang di sekitarku. Kain, kursi, buku, dan benda-benda lain masih mengambang di udara bahkan ketika kakiku sudah menapak lantai. Hei, kemampuan telekinesisku mampu mengangkat benda sebanyak ini? Itu artinya ....
Tubuhku segera limbung disusul kembali jatuhnya semua barang tadi. Suara keributan tak terelakkan, tapi aku tak sempat membereskan apa pun. Itu artinya aku berakhir lemas kehilangan banyak energi setelah teknik telekinesis tadi. Yang sempat kulihat sebelum mataku tertutup adalah sesosok perempuan tua, berjalan terbungkuk-bungkuk dengan tongkatnya menghampiriku.
“Aquila? Aquila!!!”
***
Aku terbangun karena sensasi panas menempel di dahiku. Terperanjat kaget, sesosok perempuan renta di sebelah ranjang tempatku berbaring lebih mengejutkan. Ditatap seperti itu membuatku merasa seperti tumbal yang siap dimasak. Senyuman –alias seringaiannya– memperlihatkan gigi perak yang merupakan satu-satunya gigi yang ia punya. Keriput di sekitar mata dan kerut-kerut di wajah membuatku menebak angka puluhan usianya sekitar tujuh atau delapan. Rambut yang keseluruhan telah menjadi uban tergulung ringkas ke atas.
Yah, penampilan perempuan ini tak jauh beda dengan nenek-nenek pada umumnya, tapi pisau di tangannya itu buat apa dibawa-bawa?! Sesuatu yang panas di dahiku ternyata rendaman daun entah apa, bentuknya menjari dengan lendir yang tidak nyaman disentuh.
__ADS_1
“Jangan dilepas!” kata nenek ini tak sadar menunjuk dengan pisaunya yang ternyata tidak tajam, “biarkan seperti itu, Aquila! Kepalamu butuh suhu panas untuk segera membaik.”
“Aquila?”
Sungguh, aku ingin berhenti bertanya sejak beberapa jam lalu. Beberapa jam? Oh, entahlah, memangnya sudah berapa lama aku pingsan? Nah, kan, bertanya lagi!
“Ini di mana?” tanyaku. Bodo amatlah! Malu bertanya sesat di jalan! Aku harus banyak bertanya untuk mendapat banyak penjelasan.
“Berbaringlah dulu! Kau pasti kelelahan setelah banyak bekerja. Mengacaukan ruangan memang teramat nakal, tapi nenek memaafkanmu,” jawab nenek itu terkekeh pelan sebelum akhirnya pergi. Pertanyaanku yang terabai dan sia-sia, percayalah nanti akan kutemukan jawabannya.
Pandanganku menyasar segala benda di ruangan ini. Beberapa benda sempat kukenali saat beberapa waktu lalu melayang terpengaruh telekinesisku. Tempatku terbaring berseberangan dengan jendela tempat cahaya masuk. Ah, bagaimana menjelaskannya ya? Ruangan ini berbentuk lingkaran, jadi tidak ada sudut dan menurut geometri, lingkaran hanya punya satu sisi. Ketika mendongak, aku merasa seolah tinggal di dasar sumur. Di atas sana, lubang tempatku jatuh terisap dikelilingi dinding batu, tapi tertutup rapat. Aku tak habis pikir bagaimana bisa menembus masuk bila seperti itu?
Nenek tadi menuruni lubang di dekat meja menuju tempat lain di bawah lantai. Setelah ia menghilang, aku turun dari ranjang, mengintip sejenak lubang yang ternyata ada tangga menghubungkan dengan ruangan lain di bawah. Belum berani mengikutinya, aku lebih penasaran dengan pemandangan di luar.
Dari satu-satunya jendela di ruangan ini, aku melongok, mendapati hamparan hijau perbukitan dan pepohonan sejauh mata memandang. Menengok ke bawah, aku tak berani berlama-lama. Aku takut ketinggian, hore! Menengok ke atas, silau. Tiba-tiba aku merasa menjadi Putri Rapunzel dalam menara. Sayangnya, aku tidak punya rambut pirang emas menjuntai panjang hingga ke bawah sana atau seseorang yang berteriak, “Rapunzel! Turunkan rambutmu!”
Tidak, tidak ada!
Ya, bangunan ini adalah menara di tengah hutan, bersebelahan dengan tebing bukit, seolah bersaing soal ketinggian. Hei, seperti dalam negeri dongeng! Apa aku betulan sedang terjebak di menara penyihir yang menyandera Putri Rapunzel? Ah, di mana putri cantik itu sekarang?!
Kecemasanku soal karakter fiksi itu buyar dengan sendirinya setelah kulihat sesuatu melesat dari angkasa, terbang merendah dengan rentangan sayap yang melebar setelah tak begitu jauh dari jendela menara ini. Seseorang berpakaian hitam, arah terbangnya menuju ke mari. Kutundukkan kepala saat ia nyaris menabrakku. Seseorang itu menerobos masuk, tampak tidak siap dengan pendaratannya. Ia sempat terjungkal, tapi segera menguasai keseimbangannya lagi.
“Kenapa kau berdiri di depan jendela dan menghalangiku?!” ptotes orang itu kesal. Rambut kuncir kuda lurus terlihat menjuntai hingga sepaha setelah ia melepas helm-nya. Ya, mari anggap bulatan pelindung kepala itu adalah helm. Pakaian hitam yang menempel di tubuh ramping itu harusnya terlihat berkelas, hanya saja selaput tipis di lengan membuat modelnya terlihat seperti bajing terbang, atau mungkin pakaian ini didesain untuk berfungsi seperti itu?
“Kau ... jelas-jelas bukan berasal dari dunia ini,” katanya meurunkan sesuatu yang tersandang di punggungnya.
“Aku senang kau cepat menyadarinya,” jawabku, “memangnya aku ada di mana?”
Dunia mimpi, harapku.
Sehingga aku hanya perlu bangun untuk kembali. Sebelum gadis itu sempat menjawab, nenek yang tadi muncul dan beeteriak histeris.
“SIAPA KAU?!”
Wajah gadis itu kusut seketika.
“Nek, ini aku, Aquila!”
“Tidak! Bukan! Tolong Nenek, Aquila! Ada orang yang mencoba mengaku-ngaku menjadi dirimu! Entah apa yang dia inginkan, selamatkan Nenek!”
Orang tua itu menarikku menjauh sambil bersembunyi di balik punggungku. Gadis yang mengaku bernama Aquila hanya berdecak sebal.
__ADS_1
“Dia sudah pikun! Sering tidak ingat dengan cucunya sendiri,” ujarnya.
“Oh, ya, aku mengerti perasaanmu. Mendiang nenekku juga seperti ini,” jawabku, “tenanglah, Nek! Yang bernama Aquila di sebelah sana.”
“Kau bukan Aquila? Jadi cucuku tidak ada? Aku tidak punya cucu!”
“Nek! Aku di sini!”
“Jangan sentuh aku! Aku orang tua menyedihkan yang didatangi dua orang asing, yang ternyata bukan Aquila! Huhuuu, aku tidak akan tertolong!”
“Ka ... kami bukan orang jahat, Nek!” ujarku berusaha menenangkannya. Sejenak ia menjadi lebih tenang setelah bertemu pandang denganku. Orang tua ini akhirnya mau berbaring istirahat di tempatku tadi.
“Kau siapa dan datang dari mana?” tanya Aquila setelah nenek ini tertidur pulas.
“Namaku Shira, aku datang dari atas,” jawabku benar-benar menunjuk ke atas. Aquila memutar bola mata sebal.
“Baiklah, pertanyaanku memang salah. Pertama, dari pakaianmu, kau mengingatkanku pada seseorang yang bukan berasal dari negeri ini, jadi jelas kau datang dari jauh. Kedua, bukan sembarang orang dari jauh yang bisa datang ke sini. Kau pasti punya keterlibatan penting. Ceritakan saja, bagaimana kau bisa ada di sini?”
“Ngomong-ngomong soal tiba di sini, apa kau kenal seseorang bernama Luska?” tanyaku teringat dialah yang bertanggung jawab atas tersesatnya diriku.
“Luska? Kau terlibat masalah dengan orang itu? Pantas saja! Ah, berikutnya sudah bisa kutebak!” jawab Aquila beranjak dari tempatnya.
“Hei, hei, kau bisa menebaknya sementara aku tidak! Kau tak mengerti betapa kepalaku ingin meledak karena terus berputar-putar mencari tahu penyebab persoalan ini,” cegahku menahan Aquila, “selain itu, pertanyaanku sama sekali tidak terjawab sejak tadi. Aku ada di mana? Keterlibatan penting apa yang kaumaksud?!”
“Wah, wah! Luska masih saja berengsek, bertindak seenaknya tanpa memberi penjelasan ya! Memang benar isi otaknya tidak lagi penuh!” gumam Aquila.
“Jangan malah mengobrol dengan udara! Jawablah pertanyaanku!” balasku kesal.
“Ngomong-ngomong, apa Garuda tidak menghentikannya?”
“Garuda? Kau kenal Kak Garuda?”
“Ya, dia juga datang secara misterius seperti kedatanganmu hari ini, kemudian segera diketahui bahwa ia berasal dari dunia hitam dan merupakan keturunan Kesatria Perak, yang diharap-harap tahu cara menyelesaikan masalah negeri ini.”
“Oh? Wah! Lalu ini negeri apa?” tanyaku mengikuti Aquila yang berjalan mendekati jendela.
“Selamat datang di Negeri Putih! Tempat huru-hara tak pernah mereda sejak puluhan tahun terakhir. Itu sebabnya aku harus menyingkir jauh dari pusat kota, mengamankan nenekku di sini,” jawab Aquila menerawang jauh, memandang puncak-puncak bukit yang dipeluk awan.
“Ngomong-ngomong soal Luska dan lain-lainnya, aku terlalu malas membahas hal itu. Mungkin besok rombongannya akan menjemputmu, jadi biar mereka sendiri yang menjelaskan padamu.”
“Puh, jangan menggantung-gantung penjelasan! Jika kau tahu sesuatu, ceritakan saat ini juga! Aku khawatir Luska adalah orang yang berbahaya!” jawabku tidak tenang, tetapi Aquila malah terkekeh pelan.
__ADS_1
“Sebagian dari diri kita telah mengandung bahaya, jadi apa yang kautakutkan untuk menghadapinya?” balas Aquila enteng, meninggalkanku mematung di depan jendela yang membingkai wajah resahku.
.Bersambung.