
Seingatku tadi aku berbaring di tempat tidur yang nyaman di dalam kamar. Sekarang posisiku duduk berpeluk lutut bersandar pada sesuatu. Mendongak sedikit, langit-langit yang seperti tangga berjarak sejengkal dari kepalaku. Eh? Ruangan sempit ini kan ....
Aku menoleh, menyadari bahwa sedari tadi aku menyandar di sisi Elang yang juga sedang tidur. Aku terlonjak reflek, kepalaku terantuk langit-langit rendah di atasku. Lumayan sakit, aku mengaduh keras. Elang terbangun karena keributan ini.
“Kenapa kamu ada di sini, hah?!” tanyaku setengah berteriak, masih mengelus kepalaku yang sakit.
“Hei! Bisakah kamu tenang sedikit? Ingatlah kenapa kita bersembunyi di ruang sempit ini!” jawab Elang. Aku mencoba mengingatnya. Oh iya, ada monster di luar sana!
“Sudah berapa lama kita ketiduran di sini?”
“Tidak tahu.”
Aduh! Lagi-lagi dunia berpenghuni monster ini! Aku selalu terisap ke mari ketika tidur di dunia asliku sana. Kalau boleh kusimpulkan, aku baru bisa kembali jika aku jatuh tertidur di sini. Itu masuk akal 'kan?
“Sekarang aku mengerti!” gumamku lirih.
“Apanya?” tanya Elang.
“Sebaiknya kita tidur saja!” seruku yakin. Sebelah alis Elang terangkat pertanda tidak mengerti. Jika di sini agak terang mungkin aku bisa melihat ada semu merah di wajahnya.
“Apa itu ajakan normal bagi anak perempuan kepada anak laki-laki?” tanyanya. Eh? Apanya yang salah? Dia tidak mengerti!
“Begini, Lang, jika kita ingin terbebas dari sini maka ....”
Belum selesai aku bicara, suara ketukan terdengar di papan sekat ruangan. Alarm waspadaku menyala. Siapa itu?
“Ini aku, Sakti. Keluarlah, di situ bukan tempat yang aman,” jawab suara yang kukenali memang milik Sakti itu. Elang masih terdiam tidak mengerti. Aku mengintip dari celah-celah kayu, memang Sakti yang berdiri di luar. Namun, aku tetap waspada, barang kali monster itu menyamar. Jika benar dia Sakti, maka dia akan tahu warna kesukaanku yang sedang kupikirkan.
“Aduh, Shira, itu informasi pribadi, aku senang kau menyukai warna putih sebab rambutku berwarna demikian. Jangan takut lagi, keluarlah, ini memang diriku,” jawab Sakti. Dia bisa membaca pikiranku. Ternyata memang benar dia.
“Kita tertolong, Lang. Ayo temui yang di luar!” ajakku.
“Kau sudah mengenalnya?” tanya Elang. Aku membuka papan sekat demi melihat Sakti yang masih terlihat urat-urat besar di permukaan kulitnya.
“Tidak apa-apa, jangan takut, aku sedang bertransformasi kembali ke wujud manusia. Aku sangat mengkhawatirkanmu dan cepat-cepat ke mari begitu mendapatkan kembali kesadaranku. Syukurlah, kamu baik-baik saja,” kata Sakti.
“Kau?!” seru Elang menatap Sakti.
“Dan sepertinya kamu punya teman?” tanya Sakti kepadaku.
“Kamu mengenalinya?” tanyaku pada Elang. Dia mengangguk.
“Sebaiknya kita mengobrol nanti saja di dalam bilik, di luar sudah sore, sebentar lagi malam. Kamu tahu 'kan apa yang akan terjadi?” kata Sakti. Aku mengangguk. Tentu saja, tak lama lagi monster ricuh itu akan muncul begitu langit menjadi gelap. Syukurlah kami segera menemukan bilik yang layak untuk berlindung. Posisinya sama dengan kelas sebelas MIPA tujuh. Elang tampak ragu-ragu.
__ADS_1
“Kamu yakin memercayai orang ini?” tanya Elang.
“Aku sudah berulang kali ditolongnya,” jawabku memaksa Elang ikut memercayai Sakti. Elang hanya menurut meski ekspresinya menunjukkan kewaspadaan tinggi.
“Mengingat kejadian terakhir di dalam bilik, sepertinya pengunci tidak begitu menjamin keselamatan, jadi sebaiknya kita menjaga papannya bergantian,” kata Sakti. Aku mengangguk setuju.
“Kenapa kita harus bersembunyi di sini? Bukankah kamu bilang di dalam bilik tidak aman?” tanya Elang.
“Siapa yang bilang begitu? Justru di luarlah yang berbahaya!” jawabku.
“Dia sendiri yang bilang, Shir. Di dalam bilik bisa saja ada monster yang melepaskan gas racun berbau busuk mematikan,” jawab Elang.
“Eh? Jadi kalian sudah pernah bertemu?“ tanyaku.
“Um, sepertinya aku tahu apa yang terjadi,” kata Sakti yang bersandar menahan papan kayu. Urat-urat besar di kulitnya telah lenyap. Ia sepenuhnya berwujud manusia sekarang.
“Yang dia temui adalah saudara kembarku, namanya Sekti. Yah, kami memang sangat identik,” jawab Sakti.
Apa katanya? Saudara kembar?
“Sakti? Sekti? Sepertinya sama saja,” jawab Elang.
“Tidak sama, Elang.”
“Dia bisa membaca pikiran, Lang,” jelasku.
“Mengerikan, aku tidak mau berlama-lama di sini!” kata Elang.
“Aku tahu kekhawatiranmu, Elang. Yang kubicarakan memang benar, untuk saat ini, bilik ini sangat aman, tetapi yang dikatakan saudaraku juga benar, bilik ini bisa jadi tidak aman jika di dalam sini sedang malam. Apa kamu tidak menyadari perbedaan waktu di dalam dan di luar?” jelas Sakti.
“Sangat sadar. Aku hanya khawatir kau mengelabuiku. Gadis ***** ini mungkin bisa diperdaya, tapi aku selalu waspada,” jawab Elang lalu kuhadiahi jambakan kasar atas kata-kata pedasnya. Dia menggerutu kesal.
“Aku memang belum cerita kalau aku punya saudara kembar. Dia adalah monster penghancur yang selalu mengincarmu, Shira,” jawab Sakti, “kau tahu sistem waktu di luar dan di dalam berkebalikan. Jika di luar sedang siang, maka di dalam sedang malam, aku berubah menjadi monster beraroma racun, membuat saudaraku menjauhi bilik yang kutinggali. Begitu juga sebaliknya, ketika di sini siang dan di luar malam, saudaraku berubah menjadi monster liar mengerikan, mengamuk dan menghancurkan semua yang dilihatnya, membuatku harus bertahan di dalam bilik. Itu sebabnya aku disebut penguasa dalam dan Sekti disebut penguasa luar.”
“Pertanyaan,” kata Elang mengangkat tangan seperti audien presentasi, “apa di tempat ini hanya ada kalian berdua? Atau banyak orang-orang tersesat seperti aku dan Shira?”
Pertanyaan bagus, Lang!
“Kenapa kamu tanya begitu?”
“Karena aku melihat ada dua monster pemarah ketika sampai di sini, satunya mengejarku, satunya lagi menuju ke tempat lain, sepertinya ke bilik kalian berdua waktu itu. Kemudian yang mengejarku turut pergi menyusul temannya. Kurasa Sekti punya teman sesama monster,” jawab Elang.
“Mungkin ada hubungannya dengan jiwa yang tersesat. Aku sempat tahu setiap enam dekade selalu ada yang tersesat di sini, jiwa itu berakhir di tangan monster jelmaan Sekti. Kurasa mereka menjelma menjadi monster penghancur juga, tetapi kehadiran mereka hanya dikehendaki oleh monster Sekti. Jika Sekti butuh, maka monster pembantunya akan muncul. Dari awal kukatakan agar kamu tidak tertangkap monster itu, Shira. Sudah jelas nanti kamu tidak akan bisa kembali lagi ke dunia aslimu,” jelas Sakti.
__ADS_1
Aku merinding memikirkannya.
“Sekarang aku mengerti kenapa kemarin pengunci bisa jebol, karena dua kekuatan monster bersatu menghancurkannya. Puh, mengerikan!” kata Sakti.
“Apa tidak ada pengamanan yang lebih baik?” tanya Elang.
“Tidak ada, sentuhan seperti ini jauh lebih baik daripada pengunci yang kemarin kubuat, tetapi makhluk yang masih punya tubuh fisik seperti kalian boleh jadi justru menghancurkan papan ini jika terlalu kuat menekannya. Itu pernah terjadi dan akibatnya, jiwa yang harusnya selamat itu berakhir menjadi monster pembantu.”
“Apa sebenarnya Sekti itu jahat?” tanya Elang lagi. Dia selalu memiliki pertanyaan bagus.
“Kenapa kamu bertanya begitu?” kata Sakti balik bertanya.
“Sebab kamu dan dia berada di sisi yang berlawanan. Selain itu, Sekti yang pernah kutemui sifatnya pun juga berlawanan denganmu,” jawab Elang.
“Kamu bertemu dengannya dalam wujud manusia?” tanya Sakti tidak percaya.
“Tadi sudah kubilang, pertama kali tiba di sini, aku bertemu orang yang mirip sepertimu, namanya Sekti, dia sangat menyebalkan dan tidak ramah, menyuruh-nyuruhku membantunya memperbaiki beberapa tempat. Dia pikir aku ini kuli bangunan?!” jawab Elang bersungut-sungut kesal.
“Aku tidak percaya kalau ada orang yang lebih menyebalkan dan lebih tidak ramah daripada kamu,” jawabku. Elang membalasku dengan tatapan dingin.
“Dia memang lucu ya! Menghancurkan banyak hal, lalu ketika sadar dia berusaha memperbaikinya lagi meski nanti juga akan dia hancurkan. Terus saja begitu yang dia lakukan selama ini,” kata Sakti tersenyum lembut membayangkan saudaranya, “sebenarnya dia bukan orang yang jahat. Apa yang dilakukannya dalam mode monster itu benar-benar di luar kendalinya, berbeda denganku yang masih memiliki separuh kesadaran ketika sedang berubah.”
“Oh, jadi begitu,” jawabku. Kulihat ekspresi Sakti berubah sejak Elang membicarakan Sekti.
“Kamu sempat bertemu dengannya dalam wujud manusianya 'kan?” tanya Sakti pada Elang, “bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja?”
“Dia kelihatan baik-baik saja. Dia berpesan padaku agar tidak sembarangan memasuki bilik mana pun, di luar adalah tempat yang paling aman. Tak lama setelah itu dia memasuki ruangan, terdengar raungan kesakitan, lalu yang keluar adalah monster mengerikan yang mengejarku,” jawab Elang.
“Itu tidak benar, bagaimana pun kita lebih aman di dalam sini, sebab meski berwujud monster, Sakti tetap memiliki separuh kesadarannya, daripada Sekti yang benar-benar hilang kendali. Dia sedang dalam transformasi ketika dalam ruangan yang kau lihat, bukan berarti ruangannya yang berbahaya,” sanggahku.
“Yang paling benar adalah hindari monster jenis apa pun, Shira. Pergilah ke tempat langit berwarna kelabu. Mode monsterku juga berbahaya,” jawab Sakti, “nanti ketika di dalam sini sedang malam, kalian harus cepat pergi dan temui Sekti, sampaikan salamku padanya. Aku sangat ingin menemuinya. Sayang sekali, aku tidak bisa berada di ruang dan waktu yang sama dengannya dalam wujud manusia,” ujar Sakti menunduk, menyembunyikan wajah sendunya. Di kejauhan terdengar raungan monster Sekti, seolah mengetahui kami sedang membicarakannya.
“Aku sangat ingin bertemu dengannya,” kata Sakti lagi, menerawang jauh langit ruangan yang berwarna kelabu. Jika aku teliti, sebenarnya itu adalah upaya Sakti menahan air matanya agar tidak menetes. Tentu saja kedua mata hitam yang memesona itu sedang berkaca-kaca. Bayangkan, ratusan tahun dia harus menghindar setiap bertemu jelmaan saudaranya padahal dia sangat ingin menemuinya. Tiba-tiba aku ingin menggenggam kedua tangannya.
“Kamu tidak boleh sedih, Sakti!” seruku.
Suatu hari nanti kalian pasti akan bertemu lagi! Itu yang ingin kukatakan, tetapi karena aku tidak bisa menjaminnya maka kata-kata itu tidak bisa kuucapkan. Aku hanya ingin menghiburnya. Sejak awal aku tidak suka melihat kesedihan di matanya.
“Terima kasih, Shira, tentu saja kami akan bertemu lagi suatu hari nanti, meski entah kapan,” jawabnya berusaha tersenyum. Aku lupa kalau dia bisa membaca pikiranku. Elang berdeham keras.
“Kurasa sekarang giliranku berjaga,” kata Elang.
.Bersambung.
__ADS_1