
Hawa dingin menyelusup sempurna membelai kulitku. Agak terbiasa dengan kondisi sekitar yang gelap di dunia lain ini, aku berjalan agak cepat melintasi koridor lantai dua gedung depan, deretan kelas sebelas MIPA. Tepat di ujung koridor sana adalah kelasku, titik pertama aku tersesat berada di dunia kelabu. Saat itu ketika masih tenggelam dalam kebingungan, bulan purnama adalah satu-satunya sesuatu yang memikat mata, begitu dekat seolah dapat kuraih.
Tak kusangka kemunculan bulan itu selanjutnya berarti dimulainya pertarungan antara hidup dan mati. Entah sekarang malam ke berapa sebelum purnama ketiga. Yang jelas waktu terus bergulir. Siap atau tidak, purnama ketiga ketika celah cahaya harus sudah kutemukan akan datang. Kuharap waktu yang kurang dari sebulan ini bukan episode-episode terakhir dalam hidupku, juga bukan bagi Elang.
Angin dingin sekali lagi menyapuku. Sesaat kemudian aku bersin karenanya. Apakah akan turun salju lagi? Kuharap iya, bagaimanapun monster jelmaan Sekti tidak terlalu merepotkan karena hibernasi sesaatnya ketika musim salju, tapi mungkin aku harus sedikit berjuang bertahan di udara dingin.
Baru saja terlintas di pikiranku, raungan monster itu terdengar di gedung seberang. Aku tiba di depan bilik kelasku, pintunya terbuka. Baru saja ingin kumasuki, seseorang terlihat tergeletak di tangga. Sekilas aku segera tahu kalau itu Elang. Buru-buru ia kubangunkan untuk segera berlindung, tapi ia tidak segera terbangun.
“Lang! Hei, bangunlah! Lang!” seruku tidak sabar menjepit hidungnya. Ia pun terbangun dengan agak gelagapan, memprotesku kesal. Aku tak sempat banyak menjelaskan situasi karena bunyi derakan kayu anak tangga dari bawah terdengar, juga deru napas memburu itu. Kami segera naik tanpa berpikir dua kali. Keributan langkah kaki kami mengundang raungan marah dari bawah. Bisa kutebak monster itu segera menyusul ke atas.
Beruntungnya bilik tedekat yaitu bilik kelas kami bisa dimasuki. Dengan degup jantung yang tak karuan aku dan Elang sama-sama menyandar di pintu bilik menjaganya agar tetap tertutup. Semoga monster itu belum sempat melihat kami masuk ke sini, atau jika tidak ia akan mendobrak pintu bilik ini sekuat tenaga hingga jebol.
Aku masih ingat ketika pertama kalinya Sakti bilang bahwa monster itu tidak akan bisa menerobos selama pintu biliknya tertutup, tapi mengingat kekuatan monster semakin menggila jelang purnama ketiga, wajar saja jika akhir-akhir ini berlindung di dalam bilik pun bukan satu-satunya hal yang menjamin keselamatan. Monster jelmaan Sekti tetap bisa menerobos seperti kemarin, menghancurkan pintu bilik dalam sekali pukul. Strategi bertahan yang bisa diterapkan adalah menghindari terdeteksi dari monster itu, tapi rasanya mustahil dengan ketajaman indera pendengarannya.
Geraman rendah terdengar di balik pintu. Aku dan Elang hanya saling pandang, sepakat tidak membuat pergerakan sekecil apa pun. Bahkan jika bisa kami ingin menahan napas beberapa saat khawatir monster itu bisa mendengar embusan napas kami. Seperti yang kukatakan tadi, sekalinya monster itu tahu kami ada di dalam sini maka habis sudah. Usaha kami untuk melarikan diri akan lebih merepotkan. Mungkin tidak bila Sakti membawa kami berteleportasi ke bilik yang jauh dari jangkauan monster itu. Sayangnya, Sakti tidak sedang bersama kami.
Satu menit berlalu lengang. Baik aku dan Elang masih tidak berani mengeluarkan suara bahkan hanya untuk berbisik. Dengan sisa ketegangan di dada kuberanikan mengintip lewat celah-celah kecil di pintu, memastikan keadaan di luar. Kuharap aku tidak melihat apa-apa karena monster itu telah beranjak pergi.
Namun, sesuatu yang kulihat sama sekali tak pernah kubayangkan. Ah, tidak juga! Aku pernah melihat kejadian ini persis pada malam pertama aku tersesat di dunia ini. Monster mengerikan itu semakin mengerikan setelah kulit cokelat keabu-abuannya melepuh dan tampak mengelupas perlahan dengan sendirinya. Rekahan di kulit kepalanya terus meluber bersama lendir-lendir yang menetes di wajahnya dengan ekspresi mendelik dan mulut ternganga. Pemandangan itu membuat badanku tiba-tiba bergetar. Suara erangan kesakitan monster itu menambah sensasi tidak enak di telingaku. Aku sudah menutup mata, tetapi pemandangan tadi seolah terlanjur tercetak di kepalaku dan terus muncul tak mau enyah.
Kudengar Elang bertanya apa yang terjadi ketika teriakan tak bisa kutahan lagi. Tiba-tiba aku tersiksa hanya karena sesuatu yang kulihat dari monster itu. Mual, jijik, marah, mendadak semua itu menyerangku bersamaan. Aku roboh, kesulitan mengendalikan tubuhku yang mengejang tak karuan. Berulang kali Elang meneriakkan namaku. Ia belum berani meninggalkan pintu tidak tertopang, di lain sisi mulai panik dengan yang terjadi padaku. Ingin kukatakan agar ia tetap menjaga pintunya, tetapi yang lolos dari tenggorokanku hanyalah jeritan dan racauan histeris.
“Hei?! Apa yang terjadi, Shir? Katakan ada apa?! Shira!”
Elang tak bisa menyembunyikan kepanikannya, mengabaikan pintu dan menghampiriku, bingung apa yang harus ia lakukan untuk menenangkanku. Sementara rasa sakit yang tak kupahami mulai menghampiri. Memukul, menendang, meronta, aku menolak disentuh sebab entah kenapa rasanya sakit sekali. Ketika tubuhku semakin hilang kendali dan mati rasa ditelan nyeri, Elang menahan tanganku yang memukul-mukul sembarang arah. Hanya air mataku yang akhirnya menetes, menjelaskan betapa sakitnya ketika Elang mencengkeram pergelangan tanganku, menekannya ke lantai, menahan segala pergerakanku.
“Shira, tenanglah!” kata Elang dengan kilauan cahaya jingga di matanya yang sempat kulihat dari pandangan kaburku karena digenangi air mata.
Seperti dibebaskan dari segala rasa sakit, syarafku melemas. Aku juga kehilangan semua sisa tenaga yang kupunya, terkulai lemah, seolah lumpuh bahkan tak sanggup bicara untuk mengingatkan Elang bahwa pintu bilik tidak dijaga.
“Shir! Shira, katakan sesuatu! Jangan membuatku khawatir, hei! Shira!” kata Elang mengguncang pipiku.
Rasanya aneh ketika aku masih mendapatkan kesadaran meski tubuhku telah menderita demikian hebatnya. Pada dasarnya hanya tenagaku yang hilang dan mataku terpejam, tapi indera pendengaranku masih aktif, mendengar apa pun di sekitarku, mendengar Elang berulang kali berdecak kesal, tak banyak tahu apa yang baru terjadi dan apa yang harus diperbuat.
“Sakti!” serunya ketika ia baru akan membopongku, “kurasa kau sedikit terlambat!”
Ah, akhirnya Sakti datang juga. Aku tak tahu pasti apakah dia datang melalui pintu atau berteleportasi lalu muncul perlahan melalui wujud kunang-kunang ungu yang menyatu. Mataku masih terpejam tak bisa kubuka.
“Ya ampun, Lang! Apa yang terjadi pada Shira?” tanya Sakti. Kurasakan telapak tangan menempel di dahiku.
“Entahlah, Shira tiba-tiba histeris dan hilang kendali seperti orang kesurupan. Ia akhirnya diam sendiri setelah beberapa saat, tapi itu hanya meningkatkan kekhawatiranku!” jawab Elang. Selanjutnya ada sentuhan hangat di telapak kakiku. Sensasi nyamannya perlahan seolah menyatu dengan darah yang mengalir di seluruh tubuhku.
“Apa kau ada penjelasan terkait kejadian ini?” tanya Elang.
“Apa tadi ada monster di luar bilik ketika kalian berjaga?” ujar Sakti bertanya balik.
“Ya, lalu Shira mengintip keadaan di luar,” jawab Elang.
“Ah, sebenarnya Shira pernah mengalami hal ini, tapi saat itu aku segera menanganinya,” jawab Sakti. Sudah kuduga ini kejadian yang sama dengan malam pertama aku tersesat di sini!
“Shira tanpa sengaja melihat proses pergantian kulit monster itu. Kulit baru artinya kekuatan baru. Semakin mendekati purnama ketiga, kulit monster itu semakin gelap, menandakan semakin bertambahnya kekuatan,” kata Sakti. Ah, aku baru tahu bahwa kulit tebal monster itu tidak hanya berfungsi sebagai bantalan pertahanan yang meredam segala pukulan dan benturan, tapi juga tempat menyimpan kekuatannya, menyebar di seluruh permukaan tubuhnya.
“Ketika proses pergantian kulit monster Sekti, sisa-sisa energi negatif yang disimpan kulit sebelumnya terlepas ke atmosfer. Memang jumlahnya sedikit, tapi Shira tak tahan dengan pengaruh energi negatif itu, tubuhnya bereaksi dan berusaha menolak hingga ia harus demikian tersiksa,” jawab Sakti.
“Lalu sekarang bagaimana kondisinya? Kenapa dia tiba-tiba pingsan? Tidak terjadi sesuatu yang fatal ‘kan?” tanya Elang.
__ADS_1
“Jika Shira sendirian, mungkin dia tidak akan tertolong. Aku memang terlambat menanganinya, tapi beruntunglah ada kamu!”
“Jangan bercanda! Aku tidak melakukan apa-apa!”
“Berbeda dengan Shira yang menolak energi negatif itu, kamu justru menerima, menyerap beberapa yang menyerang Shira, lalu menetralkannya. Shira terrolong karena itu, meski sebagai konsekuensi tenaga Shira sendiri turut terserap, tapi tidak apa-apa. Ia akan segera membaik!” tutur Sakti.
“Sungguh? Shira baik-baik saja?” tanya Elang. Ya ampun, memangnya dia pikir aku akan mati semudah itu?! Sakti hanya terkekeh pelan.
“Shira justru mengira kekhawatiranmu berarti meremehkannya! Saat ini dia tidak benar-benar pingsan dan masih bisa mendengar kita. Gelombang otaknya normal seperti orang sadar. Ia hanya kehilangan banyak tenaga,” jelas Sakti mengakhiri sentuhan hangat di kakiku.
“Heh? Sungguh? Kau bisa dengar, Shir? Dengar, ya! Kamu harus minta maaf karena tadi sempat menendang daguku!” kata Elang benar-benar banyak omong. Ya sudahlah, memangnya kapan lagi aku punya kesempatan menendangnya? Kudengar Sakti lagi-lagi tertawa kecil, mengerti benar sesuatu yang kupikirkan.
“Bantu aku menahan Shira di posisi duduknya, Lang! Ada masalah dengan pernapasannya,” kata Sakti yang dipatuhi Elang. Aku sendiri berusaha menahan tubuhku yang limbung. Sebelah tanganku sedikit bisa digerakkan, berpegangan pada entah lengan siapa. Teknik penyembuhan Sakti tadi mungkin sedikit memberiku kekuatan.
Berikutnya sentuhan hangat Sakti ada di punggungku, seolah menembus ke dalam paru-paru. Seketika rongga dadaku seperti dipenuhi rasa nyaman, menyebar sempurna bersama udara yang mengalir sejuk di tenggorokanku. Mataku terbuka ketika aku terbatuk karena sensasi menenangkan itu seolah meledak di dada. Kekuatanku berangsur-angsur pulih.
“Hai, masih ada yang sakit?” tanya Sakti di sebelahku. Aku menggeleng dan tersenyum.
“Sudah tidak, Sakti. Terima kasih banyak ya!” ujarku.
“Iya, iya ... sama-sama, Shir!” jawab Elang yang juga di sebelahku cukup tidak enak didengar. Aku berdecak sambil memutar bola mata sebal.
“Ya ampun, apa-apaan denganmu?! Oke, baiklah, terima kasih juga, Lang! Kau puas?!” jawabku sewot membuat Elang melengos kesal.
“Eh?! Tidak ada yang menjaga pintu?” tanyaku menyadari hal yang paling penting.
“Aku sudah memasang teknik kuncian. Setelah pergantian kulit, monster itu akan banyak berdiam di sarangnya. Kita sebaiknya juga tidak di luar karena kamu mungkin akan melihat monster lain berganti kulit dan terpapar energi negatif itu lagi,” jawab Sakti. Ah, benar juga.
Aku menatap langit di dalam bilik yang bersemu kemerahan. Petualanganku di dunia kelabu bermula di sini.
“Eh? Kenapa ya?” Rupanya Sakti pun baru memikirkan alasannya.
“Kalau hanya karena kami pasangan jiwa putih dan hitam, bagiku terlalu tidak masuk akal! Aku yakin ada jiwa yang jauh lebih suci dibandingkanku atau jiwa lain yang lebih angkara daripada Elang,” ujarku berargumen.
“Aku sendiri juga tidak begitu tahu. Barangkali kalian ingat kegiatan yang kalian lakukan bersama dua bulan terakhir? Bisa jadi karena kalian sendiri yang membuka satu kunci terakhir dari enam kunci di enam penjuru,” jawab Sakti cukup mengejutkanku. Elang juga jadi menghentikan gerakannya.
“Apa katamu? Kami berdua yang membuka sendiri kunci terakhirnya?” tanya Elang.
“Ya, bisa jadi! Coba kalian ingat apa yang kalian kerjakan bersama di sekolah dua bulan terakhir!”
“Dua bulan lalu adalah persiapan lomba kebersihan kelas. Ada banyak hal yang kita lakukan bersama karena kami memang teman sekelas,” jawab Elang. Ah, tentu saja! Persiapan lomba itu. Memang banyak sekali yang dikerjakan. Kami sekelas sempat ribut beberapa hari karena tidak tahu harus membenahi bagian apa dulu. Kemudian Elang membagi kelas menjadi beberapa tim yang bertanggung jawab terhadap hal spesifik –misalnya tim dekorasi, kelengkapan inventaris, disiplin kebersihan, kerindangan, dan lain-lain. Aku dan Elang bukan di tim yang sama jadi sebenarnya kami tidak benar-benar selalu bersama. Lantas apa ya?
“Oh ya, Sakti. Apa ada sesuatu yang bisa kita lakukan terkait enam kunci itu? Kau bilang karenanya celah cahaya aktif dan mengisap kami ke sini. Apa dengan merusak formasi enam kunci itu celah cahaya akan aktif lagi dan melempar kami keluar dari sini?” tanyaku.
“Kau pikir kita akan dilempar keluar semudah itu? Ingatlah kita juga harus tahu posisi celah cahaya sendiri!” timpal Elang.
“Ah, membingungkan! Menurutmu mana yang harus diselidiki lebih dulu, Sakti? Posisi celah cahaya atau posisi enam kunci itu?” tanyaku.
“Menurutku sebaiknya kita selidiki posisi celah cahaya dulu, Shir,” jawab Elang ketika Skati masih terdiam berpikir, “kita tidak perlu mencari enam titik. Selain itu jelas kita punya kepentingan demi mencari celah cahaya. Tidak seperti posisi enam kunci yang sekalinya ditemukan tapi kita belum tahu apa yang harus diperbuat setelahnya. Waktu kita terbatas dan bila diminta, aku lebih memprioritaskan menyelidiki posisi celah cahaya itu.”
Begitu argumen Elang. Aku menoleh kepada Sakti, menunggu pertimbangan darinya.
“Rencana Elang juga bagus, Shira, tapi seandainya bisa, sebaiknya kalian selidiki tentang keduanya bersamaan. Posisi celah cahaya itu memang penting, tapi dengan mengetahui posisi enam kunci itu kalian bisa melacak penyamaran iblis pencipta dunia kelabu di dunia kalian. Dengan begitu kalian mungkin bisa mencuri informasi jalan keluar langsung darinya,” jawab Sakti.
“Benar juga. Mari kita kumpulkan petunjuk!” kata Sakti kembali bersila di sebelahku, “Tentang celah cahaya, ia adalah satu-satunya benda bercahaya di tempat ini. Berdasarkan kejadian kilas balik di bilik gedung olahraga, petunjuk itu cocok. Aku melihat Shira ditelan lautan cahaya di tengah formasi segi enam beraturan. Hanya itu cahaya paling terang yang pernah kulihat di sini. Aku percaya itu memanglah celah cahaya.”
__ADS_1
“Apakah celah cahaya akan selalu muncul di bilik gedung olahraga? Tidak pasti ‘kan? Bukankah kamu sendiri yang bilang posisi celah itu akan selalu berpindah-pindah, Sakti? Bagaimana cara kita menemukan pola perpindahannya?” tanyaku.
“Untuk pola perpindahan, aku sendiri tidak banyak mengerti, tapi yang jelas ketika kalian ingin keluar dari suatu wilayah maka kalian harus keluar melalui apa?” pancing Sakti.
“Melalui apa? Bukan selalu pintu gerbang ‘kan?” tebak Elang. Ah, selalu muncul perasaan tidak enak ketika ia membahas tentang gerbang. Kilas memori tidak menyenangkan berkelebat di kepalaku.
“Tidak selalu, begini saja! Bayangkan kita sedang duduk dalam lingkaran. Bagaimana kalian harus keluar dari lingkaran itu?”
“Dengan melangkahi garisnya ... Dengan melewati batasnya, oh, aku mengerti! Melalui batas!” jawab Elang.
“Benar sekali! Hanya dengan melalui batasnya kalian bisa dikatakan keluar dari suatu tempat. Itu yang kumaksud, untuk mencari posisi celah cahaya selidikilah batas-batas dunia kelabu! Carilah benda bercahaya di batas-batasnya. Ini tidak sulit karena dunia ini hanya seluas sekolah kalian!” jawab Sakti. Baiklah, aku akan mencatatanya di kepalaku. Setidaknya kami punya fokus penyelidikan.
“Tapi agak sulit bila kami menyelidikinya sambil kucing-kucingan dengan monster-monster jelek itu!” kata Elang.
“Benar, kalau tidak salah, di setiap gerbang keluar dari tempat ini adalah sarang monster. I ... iya ‘kan?” tanyaku.
“Tenang saja, aku selalu siap menjadi tameng kalian berdua!” jawab Sakti tapi itu tetap terdengar berisiko.
“Ah, bagaimana kalau kita selidiki ketika di luar bilik sedang siang hari? Sekti dalam fase manusia, jadi kita bisa bebas bergerak tanpa rasa was-was!” usul Elang.
“Tidak bisa, Elang!” jawab Sakti segera.
“Kenapa tidak bisa?!”
“Sulit bagi kita untuk meraih dunia kelabu ketika waktu di luar bilik sedang siang hari,” timpalku segera, “seingatku aku hanya dua kali pernah bertemu Sekti, pertama ketika pingsan ... dan kedua juga ketika pingsan. Tidak ada jalan yang normal untuk tiba di dunia kelabu saat siang hari.”
“Bukan, bukan hanya karena itu, Shira! Maksudku bagaimana kalian bisa menemukan sesuatu yang bercahaya ketika sedang terang? Butuh kegelapan untuk menentukan sesuatu bercahaya atau tidak, teman-teman!” kata Sakti.
“Berarti kita tetap perlu menyelidikinya ketika di luar sedang malam?” tanya Elang.
“Ya, tidak ada pilihan!” jawab Sakti.
“Baiklah, aku percaya padamu, Sakti! Mohon bantuannya ya! Kami juga akan berusaha melindungi diri sendiri sekuat tenaga!” jawabku.
“Oke, tenang saja! Kita akan berjuang bersama-sama!”
“Lalu bagaimana dengan posisi enam kunci? Yang benar saja, apa kita benar-benar harus mencari enam titik dalam waktu sesingkat ini?!” keluh Elang.
“Jika tiga posisi kunci berhasil ditemukan, kunci yang lain bisa diprediksi. Aku mengerti cara menghitungnya asalkan ada denah sekolah dengan skala yang tepat,” jawabku.
“Masalahnya satu kunci pun belum kita temukan, Shir!”
“Petunjuk pertama adalah menelusuri kegiatan yang kalian lakukan dua bulan lalu! Coba ingat-ingat! Lambang setan pasti tidak sengaja ditempatkan sehingga membentuk formasi perangkap itu. Lalu kalian yang berada paling dekat dengan kunci terakhir berakhir terseret masuk ke sini,” jawab Sakti.
Langit dalam bilik mulai gelap bersemburat ungu pekat. Kami tahu ini sudah waktunya.
“Yah, sekarang giliranku memasuki fase monster. Kurasa aku akan tinggal di bilik ini saja,” kata Sakti.
“Ah, ya, kita harus berpisah dulu ‘kan?” kata Elang dibalas anggukan Sakti.
“Hari ini banyak sekali petunjuk yang kita temukan. Jantungku selalu berdebar-debar memikirkan kalian akan segera menemukan jalan keluar dan segera terbebas dari tempat ini. Apa lagi kalian berdua sudah mulai kompak. Itu menyenangkan!” kata Sakti tersenyum demikian tulusnya.
Keinginan ini akan tetap ada di benakku. Setelah Elang berdamai dan tidak lagi memaksa dirinya harus dikorbankan, aku berharap satu atau dua orang lagi bisa selamat dari tempat ini dan tetap hidup setelahnya ... tapi rasanya memang mustahil, sih! Aku menertawai diriku sendiri yang terlalu pemaksa. Yah, apa salahnya berharap?
.Bersambung.
__ADS_1