
Aku kembali ke kelas sebelum Pak Fahri tiba lebih dulu. Rehan yang pertama kali nyengir begitu melihat kedatanganku.
“Ehe, maaf, Ra! That's a prank! Seru kan pagi-pagi jadi olahraga?” kata Rehan demikian entengnya seolah tak punya dosa. Heh?! Seru gundul kau! Aku hanya menggerutu sebal, menuju bangku Elang, dan membuka tasnya. Aku sudah mendapat izin untuk memgambil makalahku. Seingatku Elang bilang ada di dalam map, tapi kok tidak ada ya?
HEEEH?! JANGAN BILANG KALAU ELANG LUPA MEMBAWANYA!
Tidak lucu! Aku pun mengacak-acak bagian lain, termasuk resleting paling depan yang seharusnya tidak muat dimasuki makalah seukuran folio. Eh? Kenapa aku harus memeriksa bagian ini?! Hal itu berakibat kutemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan dalam tas seorang Elang. Aku tertegun beberapa saat, tidak percaya dengan apa yang kulihat.
“Ra, makalahnya sudah kuambil, nih!” seru Rehan dari bangku tempat Yasinta dan Sindi yang telah berkumpul.
“Kita diskusi dulu, Ra!” ajak Yasinta.
“Tidak mau! Aku masih kesal!” jawabku asal-asalan. Fakta bahwa makalah kelompokku tidak tertinggal seharusnya terdengar menyenangkan, tetapi sesuatu yang kutemukan di dalam tas Elang benar-benar mengganggu pikiran. Aku segera meneleponnya meskipun tahu dia sedang sibuk dengan tim mata-mata sekolah. Tidak peduli! Aku butuh penjelasan sekarang juga!
“Halo?! Lang, kumohon segeralah ke mari! Kamu akan terkejut!” ujarku begitu teleponku diterima.
“Wow! Aku terkejut kamu menelepon meski masih di sekolah. Maksudku, kukira jika memang penting kamu bisa menjemputku, tetapi tidak apa-apa sih, aku sedang menuju kelas,” jawab Elang.
“Bagus! Cepatlah!” jawabku kemudian detik berikutnya Elang muncul di ambang pintu.
“Pak Fahri belum datang?” tanya Elang.
“Belum, Pak Fahri bilang di grup akan datang terlambat, kita diminta diskusi dulu. Rapatmu sudah selesai?” tanyaku.
“Bukan rapat, hanya imbauan akan ada razia obat-obatan sebagai tindak lanjut dari kasus narkoba yang pernah kucungkil waktu itu,” jawab Elang. Aku semakin mengerti apa yang terjadi.
“Yah, jika kami tidak bisa menjaring pengedar atau pengguna narkoba kelas berat, setidaknya akan ada beberapa pengguna rokok atau penyalahguna obat-obatan yang dijual bebas ikut terciduk dalam razia ini,” tambahnya. Nah! Terciduk!
“Boleh kutahu sebelum tiba di kelas apa kamu mampir ke suatu tempat dan meletakkan tasmu sembarangan?” tanyaku.
“Hm, seperti yang kamu tahu, sejak pagi aku membantu Bu Lasmi memindah barang-barang dari ruang OSIS lama, lalu ....”
“Lalu?”
“Lalu karena tasku merepotkan, entah ada yang membawakan tasku ke kelas. Sepertinya anak OSIS, tapi aku tidak ingat siapa. Tadi ada banyak sekali anak OSIS di ruangannya yang baru. Ehh? Demi apa kamu menginterogasiku seperti ini?”
Aku terdiam beberapa saat, tidak bisa memungkiri fakta bahwa Elang memang tidak mungkin tahu-menahu tentang barang yang kutemukan di tasnya. Dengan hati-hati kuperlihatkan isi tas di resleting paling depan agar tidak diketahui orang lain. Reaksi Elang benar-benar sesuai dugaanku. Terkejut, jengkel, bingung, kesal, ia tidak bisa menyembunyikan perasaan itu melihat banyak sekali kemasan sachet obat batuk dalam jumlah lusinan di dalam tasnya.
“Bukannya serta merta membelamu, aku hanya tidak terlalu bodoh untuk menyadari bahwa sebenarnya kamu telah dijebak,” jawabku. Tentu saja, bahkan pelaku penyalahguna yang sebenarnya tidak akan segampang ini menyimpan barang yang seharusnya tidak diketahui orang lain. Jelas sekali, seseorang menginginkan Elang tertuduh dan tersingkir dengan mudah.
Elang menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya yang sempat mengeras beberapa saat lalu. Ia tampak sedikit lebih tenang.
“Aku tahu, Shir, hal ini pasti akan terjadi. Aku telah mengganggu kesenangan si bebal tukang rusuh itu dan memang sewajarnya dia ingin menyingkirkanku,” jawab Elang kemudian justru terlihat menahan tawa, “tapi syukurlah, dengan begini semakin jelas terkelupas topeng orang bebal itu, dia sendiri yang membuka identitasnya, haha! Sudah kuduga dia memang sebodoh ini, hahaha!”
Kali ini Elang benar-benar tertawa, tawa dingin yang begitu aneh didengar. Itu membuatku khawatir.
“Lang, bagaimanapun kamu tidak boleh mengeksekusi semuanya sendiri! Ingat, kamu butuh teman-temanmu untuk memelihara akal sehatm dari hal-hal di luar batas! Sejahat apapun dalang di balik semua ini, kamu tidak boleh diam-diam menikam perutnya atau mematahkan lehernya! Tidak boleh, Lang! Tidak boleh!” tegasku panjang lebar. Ia semakin terkekeh geli.
“Apa kamu menilaiku demikian sadisnya? Jangan khawatir, Shir! Meski idemu brilian sekali, aku tidak akan pernah berani mencobanya.”
“Lang! Aku serius! Jangan lakukan hal-hal yang mengecawakan Pak Hanri dan kesatuan teman-temanmu!”
“Iya, Shir, iya! Kamu terlalu khawatir! Terima kasih atas kekhawatiranmu dan tolong simpan informasi ini jauh dari pendengaran teman-teman kelas, mengerti? Aku akan bicara empat mata dengan Pak Hanri terkait penemuan ini. Baiklah, sampai nanti!” katanya kemudian kembali meninggalkan kelas.
Ah, sial! Aku lupa mengingatkannya bahwa dia punya dua utang penjelasan untukku. Kulirik jam dinding. Pak Fahri telah terlambat nyaris setengah jam. Teman-teman sekelompokku pada akhirnya hanya diskusi bertiga —begitu juga dengan kelompok Elang. Aku menghela napas panjang kemudian turut bergabung dengan Rehan, Yasinta, dan Sindi. Mereka bertiga memprotesku, terutama Yasinta yang melebih-lebihkan situasi, memercayai bahwa akhir-akhir ini aku dan Elang terlihat akrab satu sama lain.
“Tidak, Yas, tidak seperti yang kamu kira,” bantahku.
“Apapun itu, sedikit-banyak pasti telah terjadi sesuatu di antara kalian berdua! Aku yakin itu!” jawabnya begitu keras kepala.
“Aku tidak peduli argumenmu tentang diriku! Bagaimana argumenmu untuk permasalahan sub-bab ketiga ini, ha? Inilah yang perlu dibahas sekarang!” jawabku. Yasinta nyengir, menjelaskan sepatah dua patah kalimat. Situasi diskusi kembali kondusif, tetapi pikiranku masih saja terpecah-pecah.
Hari ini aku datang beberapa menit lebih awal. Firasatku berbisik seolah akan ada sesuatu yang terjadi. Yah, benar saja, kenyataannya banyak sekali hal yang terjadi. Seperti inilah yang terjadi.
__ADS_1
***
Sejenak kupijit keningku. Istirahat pertama, aku ingin menggunakan waktu dua puluh menit ini sesuai judulnya, istirahat. Sayang sekali, ketika baru saja kuletakkan kepala di meja, suara cempereng seperti panci dilempar ke lantai pecah di telingaku. Aku terperanjat.
“WOI! TIDUR MELULU KERJAAN LU!”
Mataku mengernyit. Polusi suara terdeteksi. Yak! perkenalkan semuanya! Gadis berambut keriting sebahu ini adalah Nike, teman sekelasku sejak SMP yang sekarang jadi penghuni kelas sebelah.
Niatnya ke mari hanya meminjam novel, tetapi terdengar seperti pernyataan perang.
“Jadi ... mana novelmu? Nanti jam terakhir kelasku jam bahasa. Aku sengaja tidak bawa bahan bacaan karena kamu bilang mau pinjemin,” ujarnya masih konsisten berbisik.
“Novel yang kujanjikan untuk kamu pinjam sudah hilang, kamu pinjam yang lain saja ya?” jawabku. Seketika Nike menunjukkan wajah cemberut kekanakannya.
“Iya, Ra, aku tahu itu novel baru kesayanganmu. Sekalinya tidak mau meminjamkan tidak perlu beralasan hilang segala! Katakan sejujurnya kalau kamu sedang pelit!” jawab Nike.
“Heehh?! Tapi aku serius, novel itu sudah hilang sejak ....” aku tercekat seketika. Sejak kapan? Sejak ... Sejak novel itu berubah menjafi buku kuno milik Sakti dan Sekti yang tiba-tiba berada di tasku.
“SEJAK KAPAN, RA? KAMU BAHKAN BARU MEMILIKINYA SEKITAR SEBULAN YANG LALU! MANA MUNGKIN HILANG SECEPAT INI! DASAR CEROBOH!”
Teman-teman yang lain menatapku sinis, merasa terganggu atas keributan yang sungguh tidak penting ini. Aku pun menyeret Nike keluar.
“Nik, sepasang kupingku masih normal, bicaralah dengan taraf intensitas seperlunya. Suaramu hanya memperpanjang daftar polusi berbahaya di bumi,” jawabku panjang lebar, tak tahan juga ingin mengatai anak ini. Pipinya semakin menggembung menggemaskan.
“Aku tidak peduli kamu percaya atau tidak, tapi aku tidak bohong, Nik! Novel itu sungguh telah hilang,” jawabku. Nike justru merengek-rengek manja menjadi perhatian sepanjang koridor. Aku menelan ludah, harus segera memawangi anak ini.
“Eh? Ngomong-ngomong kenapa kamu mengalungi flashdisk begitu? Mau nge-print?” tanyaku mengalihkan topik dan memang sudah kuduga akan semudah ini. Nike hanyalah remaja yang dirasuki jiwa anak-anak sehingga tidak sulit membujuk atau mengelabuinya, persis seperti merawat adikku sendiri.
“Iya, Ra. Ini malah tugas jam kelima, setelah istitahat pertama ini. Temenin aku ke ruang OSIS buat nge-print ya?” ajaknya.
“Iyaa ... Aku temani,” jawabku setengah hati. HAHAHAHAHA! Aku mengejek diri sendiri sepuasnya. Pada akhirnya waktu dua puluh menit ini tidak bisa kugunakan sesuai judulnya, istirahat. Tidak, tidak bisa!
Sepanjang perjalanan menuju ruang OSIS di gedung selatan, Nike mengocehkan banyak hal, mulai dari alasan dipindahnya ruang OSIS —yang sudah kuketahui tadi pagi dari Elang— dan pembicaraan berujung pada cerita tentang pacarnya. Yah, mungkin hanya ini bagian dari Nike yang tidak kekanakan. Mana ada anak kecil yang pacar-pacaran, ya ‘kan?
Setibanya di ruang OSIS aku hanya menunggu di luar. Suasana ruang OSIS yang baru memang jauh lebih menyenangkan dibandingkan ruangan lama yang pengap dan kurang pencahayaan, tetapi di dalam tampaknya sedang ada kumpulan dan aku tidak begitu nyaman berada di tengah acara seperti itu. Berbeda dengan Nike yang pede-pede saja. Sebab apa? Sebab pacar Nike adalah salah satu anak OSIS di dalam sana, jadi dia tidak perlu merasa canggung sedikit pun.
“Eh, maaf, kamu anak IPA satu ya?” sapa seseorang membangunkanku.
“Ha?”
“Jangan tidur di sini, kalau sakit sebaiknya di UKS saja,” ujar anak laki-laki ini. Ah, aku sedikit mengenali wajahnya. Dia teman sekelas Nike, anak OSIS juga, tapi entah siapa namanya.
“Aku tidak sakit, hanya bosan menunggu temanku, Nike. Apa banyak sekali dokumen yang dia cetak?” tanyaku.
“Tidak, sih. Sudah selesai dari tadi. Dia malah sedang ngobrol dengan pacarnya di dalam.”
“Heehh? Bucin! Masa kamu diam saja ketika ruangan bersama ini dipakai untuk pacaran?!” protesku kesal. Lawan bicaraku hanya nyengir.
“Tunggu di dalam saja, yuk! Di luar sini masih berantakan, banyak perabotan yang belum dibereskan, nih!” ajaknya ramah.
“Terima kasih, mood-ku jauh lebih berantakan melihat pasangan weird itu. Sebaiknya aku di sini saja,” jawabku. Seketika otakku bereaksi sepersekian detik melihat perabotan dengan rantai kejadian tadi pagi.
“Eh, tunggu, ada siapa saja tadi pagi yang memindahkan barang-barang ini?” tanyaku.
“Um, anak-anak OSIS,” jawabnya.
“Ada lagi!” tegasku.
“Iya, teman sekelasmu, Elang, juga membantu. Aku tidak tahu ada kepentingan apa sehingga dia mau repot-repot membantu anak OSIS yang sama sekali tidak ada kaitan dengan dirinya, tapi dia sangat membantu. Sampaikan terima kasih untuknya ya!”
“Oke, baiklah,” jawabku hanya manggut-manggut kemudian bertanya, “apa kamu tahu siapa yang membawakan tas Elang ke kelas?”
“Yang membawakan tasnya? Oh, aku sendiri,” jawabnya membuatku terenyak beberapa saat. OH! RUPANYA!
__ADS_1
“Kamu?!”
“Iya ... Aku. Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Apa ada barangnya yang hilang?” tanyanya begitu khawatir, “sungguh aku tidak mengambil apa pun! Jika itu benar terjadi aku harus segera meluruskannya. Aku tidak ingin hubunganku dengan Elang semakin memburuk.”
Aku menahan napas, mengamati tingkah polah anak ini. Sebentar, aku tidak akan langsung menuduhnya. Akan kupancing agar dia menceritakannya sendiri.
“Apa sebelumnya kamu dan Elang sudah bertengkar?” tanyaku.
“Um, bagaimana ya? Tidak bertengkar, sih, tapi rasanya seperti itu. Elang masih normal menyapaku, tetapi perlakuannya kian hari kian dingin, tidak seperti yang pertama kukenal dulu, terlebih perlakuan itu hanya berlaku untukku.”
“Barangkali kamu tahu penyebabnya berubah demikian?”
“Aku tahu, sangat tahu! Aku memang sering membuatnya terkena masalah. Aku pernah tidak sengaja membuatnya cidera saat berlatih basket, aku pernah terlambat hampir satu jam dan membuatnya jengkel, sesekali aku menghilangkan pulpennya ketika rapat pengawas. Intinya aku sangat merepotkan,” sesal anak itu mengusap wajahnya.
“Aku merasa bahwa Elang memang sengaja menjaga jarak dariku dan itu memang karena salahku. Kuakui Elang adalah teman yang baik, aku ingin memperbaiki persahabatan dan kekeluargaan kami seperti dulu. Aku hanya mencoba berbuat baik untuknya tapi lagi-lagi aku membuatnya jengkel. Ah, aku ini memang payah ya!” kata anak itu lagi. Sejenak tuduhan jelekku untuknya kutarik mundur. Tidak, bukan dia yang memasukkan obat-obatan itu ke dalam tas Elang. Jika memang dia pelakunya, dia tak akan mengaku bahwa dirinya yang membawakan tas Elang ke kelas.
“Ngomong-ngomong siapa namamu?” tanyaku.
“Eh? Kita bertetangga dan kamu tidak mengenalku?” ujarnya balik bertanya. Ah, maaf ya, tetangga! Apa kepentinganku demi menghafal namamu?
“Memangnya kamu sendiri tahu namaku?”
“Iya, kamu Shira ‘kan? Seisi sekolah pastinya mengenalmu. Nike di kelas juga tak jarang membicarakanmu,” jawabnya. Mungkin aku yang tolol. Aku bahkan tidak tahu jika aku punya popularitas dan reputasi.
“Ah, lupakan saja, jadi siapa namamu? Berarti kamu anggota pengawas tata tertib seperti Elang juga ‘kan?” tanyaku.
“Ya, Aku Erik, dan kamu benar, aku juga anggota pengawas tata tertib.”
“Oh, begitu,” jawabku.
“Shira, terkait dengan Elang dan statusnya di tim pengawas, aku sedikit khawatir,” kata Erik agak serius.
“Ada apa?” tanyaku antusias. Barangkali ini informasi mengenai musuh di balik selimut yang mencoba menikam Elang.
“Apa kamu sudah dengar kabar? Elang menyerahkan diri bersama sekantong penuh obat batuk cair yang selama ini dia gunakan. Katanya dia lebih baik menyerahkan diri daripada terciduk saat razia.”
“APA?!”
“Iya, dia panik begitu dengar kabar tentang adanya razia dan segera menyerahkan diri.”
“Hei, tunggu! Kamu dapat informasi itu sejak kapan dan dari mana?” serbuku.
“Baru saja, Pak Hanri yang memberi-tahuku, tapi Elang tidak perlu khawatir, informasi ini hanya didengar kalangan kepercayaan tim pengawas, agar kami bisa sama-sama merehabilitasi Elang dengan baik. Tenang saja, kami memaafkan Elang karena dia belum lama melakukan hal itu dan dia mau menyerahkan diri baik-baik,” tutur Erik panjang lebar.
Pak Hanri? Sebentar! Pak Hanri salah paham! Pantas saja Elang tidak segera kembali! Ke mana perginya sekarang?!
“Oh iya, Shira, kamu sebagai teman dekatnya akan dimintai sedikit kesaksian untuk jadi keterangan nanti.”
“Sebentar, Erik! Apa sejauh ini kamu percaya begitu saja apa yang dikatakan Pak Hanri? Elang tidak mungkin melakukan perbuatan itu! Pak Hanri sendiri telah salah paham! Aku yang tahu persis kejadiannya! Aku ingin bersaksi untuk Elang! Dia tidak melakukan perbuatan menyeleweng itu! Seseorang telah sengaja mecemarkan nama baiknya!” jawabku tak mau dibantah. Sungguh, ini sangat menyakitkan bagi Elang.
Bel masuk berbunyi bersamaan dengan kulihatnya Nike yang telah berdiri mematung di depan pintu.
“Wah, tadi itu drama apa?” tanyanya polos.
“Rik! Aku bertanya, apa kamu dengan mudahnya mempercayai kabar itu?!” tanyaku tak memedulikan Nike. Erik terdiam, pandangannya jatuh ke lantai.
“Sejujurnya aku juga tidak percaya. Rasanya tidak mungkin Elang melakukan hal semacam itu,” jawabnya.
“Maka dari itu, apa kamu hanya akan diam saja ketika Elang tertuduh demikian? Apa berita itu hanya akan kamu biarkan tersebar luas?”
“Tidak, Shira! Tidak! Aku juga akan bersaksi untuk Elang, untuk keadilan, dan siapapun yang telah mencoba mencemarkan nama baik temanku tidak akan kumaafkan,” jawab Erik. Ada sedikit rasa lega di dadaku yang kemudian dirusak oleh tepuk tangan Nike.
“Waah! Wah! Keren! Judul dramanya apa, nih?” tanya Nike antusias.
__ADS_1
“Judulnya .... Ayo balik kelas! Wahai kau bucin!!!” tegasku sambil menyeretnya. Tak lupa kulambai tangan kepada Erik yang tak lagi banyak bicara. Jika memang dia bisa membela Elang, aku yakin hubungan persahabatan mereka berdua akan membaik lagi, pasti.
.Bersambung.