Kelabu

Kelabu
#S2 Episode 29


__ADS_3

Sudah pernah kukira. Semua ini pernah terlintas di kepalaku sejak awal. Aku hanya diperalat ... dengan cerita karangan soal pewaris sah omong kosong itu ... dengan semua perlakuan istimewa yang sejatinya tak pernah kuminta ini. Kupikir itu hanya bisik keraguan untuk mencegahku melakukan kebaikan yang kuyakini. Ketika melihat sekumpulan massa yang memohon-mohon padaku agar diselamatkan waktu itu ... dan melihat diriku yang sekarang, barulah kusadari panggung drama begitu luas dengan durasi tak terbatas.


“Saya tidak menyalahkan Yang Mulia bila menolak bergabung dengan rencana kami. Silakan beristirahat dan menonton setelah menghadiahkan kristal bulan itu. Terima kasih ... Itu hadiah paling berharga yang akan dikenang seisi Alba!”


Tenggorokanku masih terasa sempit ketika ada banyak sekali lahar kemarahan yang ingin kulontarkan, tertahan di dada dan malah menjelma menjadi genangan bening di sudut mataku. Beginikah cara mereka mengucapkan terima kasih? Harus seperti inikah ... balasan yang kuterima atas kebaikan yang kuyakini? Padahal sejatinya aku ... tidak berharap balasan apa pun!


“Yang Mulia ... Ini tidak seperti yang Anda pikirkan ....”


“Jangan sentuh!” bentakku berang menepis Luska.


“Berengsek! Kalian berdua benar-benar berengsek!”


“Bukan seperti itu, Yang Mulia ... Saya tidak pernah ....”


“Jangan sentuh!” ujarku menepisnya jauh-jauh, “sudah kuduga! Sudah kuduga kaulah si berengsek akar masalah semua ini! Harusnya aku tidak perlu mendengarkan orang terkutuk sepertimu! Rendahan! Yang kautahu hanya memanfaatkan orang lain!”


“Yang Mulia ....”


“Lepaskan aku, sialan! Apanya yang mencegah bencana?! Kaupikir kutukanmu akan lenyap setelah ini? Tidak akan! Tidak akan termaafkan!” amukku tak peduli apa pun yang dikatakan Luska, memukul-mukulnya sekena yang kubisa dengan tangan masih dicekalnya.


Aku tak mau dengar! Aku tak mau melihat si berengsek ini! Dikuasai emosi, kupelintir balik tangan Luska yang mencengkeramku, kuempas jauh-jauh. Ladra yang hanya menonton sedari tadi tersenyum puas, melempar sesuatu di dekat kakiku. Benda itu meledak seperti bom asap. Aroma memuakkan yang tak terlihat merasuk ke paru-paru, merenggut kesadaranku.


 ***


Aku tidak seharusnya membantu mereka! Tidak seharusnya! Tidak seharusnya ....


Kata-kata itu terlanjur memenuhi kepalaku, menyudutkanku sedemikian rupa. Yang ada sekarang hanya penyesalan dan berandai-andai semuanya bisa diulang dan aku menolak jatuh dalam perangkap ini. Mataku terbuka seiring dengan lintasan bayangan keluargaku di rumah, yang sempat terbodohi selama beberapa minggu terakhir, yang tidak menyadari aku pergi hanya untuk mengantar bencana kepada mereka. Tiba-tiba aku takut membuka mata.


Logam dingin yang melingkar di pergelangan tanganku terhubung dengan rantai yang terkait di langit-langit ruangan. Entah borgol apa yang membuat tangan dan jemariku membiru, mati rasa seolah membeku. Lantai tempatku tergeletak dan dinding-dinding ruangan yang sama-sama terbuat dari batu begitu bisu, berbeda dengan desing suara jeruji cahaya kemerahan yang berkilat-kilat di hadapanku, sesekali memercikkan kilatan listrik, memperingatkanku agar tidak sesekali mencoba menembusnya.


Itu bukan satu-satunya hal yang membuatku takut. Sesuatu yang ingin membuatku tak terlihat untuk saat ini ada di sel penjara lain di seberang sana. Elang, menatapku dengan tanpa ekspresi.


Aku ingin mati saja!


Atau menghilang dan menyelamatkan diri dari tatapannya, tetapi yang kulakukan saat ini hanya menunduk sedalam yang kubisa, tak akan sanggup membalas tatapan di seberang sana untuk sekadar meminta maaf atau mengakui kebodohanku. Dia sudah tahu bahwa aku memang senaif ini ... dan mungkin dia juga sudah tahu bahwa kenaifanku berujung pada malapetaka.


Kak Garuda bahkan harus menggunakan kekuatan iblis itu demi melindungiku mengundang bencana. Aku tahu Elang akan teramat murka dan tak mau mengenalku lagi. Mungkin itu memang ganjaran yang pantas kudapatkan, tapi air mata yang tak bisa ditahan-tahan ini mengingkari kepantasan itu. Dengan sisa kelancangan, aku masih bermimpi dia mau memaafkanku. Lancang sekali memang ....


.


“Lang ...” gumamku serak, masih tidak berani mengangkat wajah, “maaf ... karena telah melibatkanmu ... dan kakakmu.”


Hening. Yang terikat dan tergantung hanya kedua tanganku, tapi leherku seolah merasakan hal yang sama. Tiba-tiba seolah tercekik karena harus terus berkata-kata.


“Harusnya ... harusnya aku tidak ... tidak pernah membantu ....”


Tolong, aku tidak sanggup lagi. Kata harusnya dan harusnya semakin meracuniku, semakin tidak tepat dan membuatku tersiksa. Aku bahkan tak sadar rantai yang menggantung tanganku terputus dan menghantam punggung serta kepala. Yang ingin kulakukan hanya menutup mata serapat-rapatnya, mengusir sisa air mata yang membuatku tampak mengiba.


“Harusnya dan harusnya ... Kita tidak akan menggumamkan hal itu seandainya kita tahu yang terjadi hari ini ...” kata suara Elang tiba-tiba terdengar dekat sekali. Tanganku yang mati rasa tak bisa merasakan sentuhan hangat di sana. Detik berikutnya darahku seolah kembali mengalir mengantar sensasi kesemutan luar biasa setelah Elang membuka borgolku. Masih tertunduk layu, aku tidak tahu menahu bagaimana ia bisa lepas dari borgolnya sendiri dan menembus dua lapis jeruji cahaya semacam laser yang memisahkan kami.


“Sayangnya kita tidak pernah tahu, Shir. Kita tidak diberi pilihan untuk mengetahuinya. Menggumamkan harusnya dan seharusnya hanya membuat situasi kita semakin salah.”


Sentuhan hangat itu sekarang tidak hanya bertaut di tanganku, tapi juga di pipiku, menghapus jejak basah di sana. Kepalaku semakin berat tak tertahankan, jatuh di pangkuannya. Aku semakin tidak sanggup melihat wajah Elang.


“Tapi setidaknya kita pernah melakukan hal yang benar dengan melakukan kebaikan yang kita yakini ... Kau telah memaksaku memercayai hal itu ...” katanya.


“Dan kau tidak menyesal setelah tahu balasan atas kebaikan kita?” tanyaku.


“Menyesal? Ubur-ubur konyol itu mengaku tidak menyesal setelah menukar jiwanya dengan kekuatan iblis demi kebaikan yang ia yakini. Aku masih tidak mau kalah darinya ... Aku juga tidak sedang menyesali kebaikan yang kita yakini, Shir ...” kata Elang kemudian mengangkat wajahku, “dan yang memberi balasan atas perbuatan kita bukan orang-orang berengsek itu. Aku sedang tidak menyesali apa pun ... atau mengkhawatirkan apa pun. Kali ini aku yang ingin mengajakmu memercayai hal itu.”


Cengeng, aku sungguh-sungguh cengeng! Demi apa aku malah kembali menangis sejadi-jadinya. Kali ini dadaku seperti dibebaskan dari sesak, sebagian kekhawatiranku menguap bersama sedu sedan yang mengguncang pundak. Benar-benar terasa aneh karena Elang sekarang justru mengelus rambutku ketika aku telah bersiap menghadapi ledakan amuknya. Lega, itu satu-satunya perasaan yang mengisi rongga dadaku.


“Heh, aku memang tidak sehebat Garuda dalam menenangkan adik kecil yang menangis, tapi kita harus cepat-cepat pergi dari sini,” katanya membantuku bangkit berdiri.


“Terima kasih, Lang! Akan kupastikan aku bertanggung jawab atas semua ini!” ujarku.


Elang masih pada ekspresi datarnya, “kita semua yang akan bertanggung jawab, Shir.”


“Kesatria Agung? Yang Mulia?! Kalian baik-baik saja?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari lorong keluar yang akan kami tuju. Tanganku yang masih setengah kesemutan perlahan mengepal demi melihat Luska. Kemudian tanpa peringatan kepalan tangan ini kuhantamkan sekuat yang kumampu ke arahnya. Jarakku dengan Luska masih sekitar lima langkah, tapi efek pukulanku seolah diantar udara, merambat dan menyasar pipinya sebelum sempat ia hindari. Entah mendapat kekuatan dari mana, pukulanku mengempaskan Luska jauh-jauh hingga menghantam dinding lorong.


“Wah ... wah! Aku tidak ikut-ikut!” kata Elang angkat tangan di belakangku. Dadaku masih naik turun seolah belum puas melihat Luska terlempar seperti tadi.


“Lagi ... Yang Mulia,” ujar Luska sambil bangkit mengelap bercak darah di sudut bibirnya, “lakukan lagi ... bila Yang Mulia masih kesal.”

__ADS_1


“KAMU MENANTANGKU, HA?!”


“Ah, tahan dulu, Shir! Kita akan menghajarnya sama-sama setelah keluar dari tempat ini, oke?” jawab Elang menahan tanganku dari nafsu membunuh, “nah, jalan keluarnya lewat mana?”


“Se ... sebelah sini,” jawab Luska berjalan lebih dulu dengan terpincang-pincang.


“Kenapa kamu memercayainya, Lang?!” protesku.


“Dia telah menepati janjinya meretas pengamanan penjara untuk membebaskan kita, jadi aku ingin lihat seberapa jauh lagi ia bisa dipercaya,” jawab Elang.


“Yang Mulia ....”


“DIAM! Aku tidak mau dengar suaramu!”


“Wah, kucing kecil yang tadi menangis sekarang berubah menjadi macan buas,” komentar Elang. Aku hanya mendengus sebal, menghindari tatapan Luska yang sok mengiba. Aku tak mau teperdaya meski sejatinya Luska yang memimpin rute pelarian ini. Agak terkejut juga karena Elang kali ini dengan mudahnya memercayai seseorang.


Kami berencana kabur ke persembunyian Kak Garuda dan Aquila. Ia sudah diketahui memiliki kekuatan iblis. Kerusuhan meletus di luar sana. Sebagian kelompok dari departemen pertahanan dan teknologi tampaknya tidak memihakku, menjadikan Kak Garuda sebagai alasan penangkapanku yang telah bersekutu dengan kekuatan iblis, sementara orang-orang yang masih tahu berterima kasih lebih banyak lagi, mengepung kastel dan berhasil menguasai kastel sejauh ini. Ladra terpaksa mundur ke departemen kesayangannya.


“Selagi situasi menguntungkan, kita harus cepat-cepat meninggalkan daratan awan ini. Kepala Dewan menguasai dua departemen penting dan akan segera membalik keadaan,” kata Luska. Aku masih tak habis pikir kenapa ia malah membelot dari ayahnya sendiri dan seolah memihakku. Hanya ‘seolah’ ‘kan? Awas saja bila akhirnya nanti dia semakin mengacaukan segalanya. Awas saja!


Lorong yang kami telusuri berujung di sebuah pintu besi melingkar yang tampak kokoh. Luska mengutak-atiknya sejenak, memasukkan kode akses yang diminta sistem keamanan. Sistem itu berulang kali mengoceh akan risiko pelanggaran protokol keamanan dengan membuka pintu ini, mengonfirmasi berulang kali tindakan Luska.


“Ini pintu darurat yang terhubung langsung ke dasar daratan awan, kita bisa melarikan diri ke tempat persembunyian Garuda dan Aquila dengan aman hanya melalui pintu ini,” jelas Luska.


“Bodo amat! Sebenarnya kau betul-betul tahu kode itu atau hanya sok tahu?” tanya Elang tak tahan juga dengan sistem cerewet ini, “jangan-jangan kode akses itu sudah disetel ulang dari pusat. Ladra memegang kendali atas orang-orang di pusat kendali sistem terpadu ‘kan?”


“Ah, benar. Jika begitu aku juga harus menon-aktifkan perangkat komunikasiku!”


“Harusnya kaulakukan itu dari tadi!” ujarku sebal.


“Um, ternyata kode akses untuk membuka pintu ini memang baru disetel ulang ... dan setelan perangkat komunikasiku juga ... tiba-tiba tidak bisa dinon-aktifkan,” kata Luska.


“Artinya apa?”


“Artinya, kita tidak bisa keluar dan akan segera terlacak,” jawab Elang mengambil alih panel input di pintu. Kali ini dia yang sok tahu menekan sembarang angka dan memang dasar aku tidak tahu isi kepala Elang. Dengan sembarang angka yang ia masukkan, pintu lingkaran dari logam tebal di hadapan kami berhasil bergeser membuka.


“Dari mana Anda tahu kode akses yang baru?” tanya Luska.


“Yah, jika baru disetel ulang kemungkinan masib menggunakan kode standar hingga lima menit ke depan, angka satu sampai delapan. Itu yang pernah kudengar dari buku audio di pangkalan data,” jawab Elang mengendikkan bahu.


“Ayo cepat, Shir! Pintu ini hanya membuka dua menit sebelum akhirnya tertutup lagi!” kata Elang buru-buru menarik tanganku, terjun bebas menembus kabut tipis yang sesaat kemudian disambut hamparan luas bentang samudera.


“Apa rencana kita, Lang?!” tanyaku perlu berteriak sambil tetap mengeratkan pegangan kami.


“Ada yang menjemput kita sebentar lagi lalu mengantar ke tempat Garuda!” jawab Elang.


“Sebentar lagi? Sebelum kita tercebur dan tenggelam ‘kan?”


“Ah, tergantung, sih!”


“Apa maksudmu?!”


“Jika kau bisa memperlambat gerak jatuh bebas ini, mungkin lebih baik! Gunakan kekuatanmu!” jawab Elang seenaknya.


“Aku sudah melakukannya dari tadi, tapi kau itu berat, tahu! Sama sekali tidak mudah menanggung bobot tubuh dua kali lipat lebih dari bobotku sendiri!” balasku harus menarik kedua tangannya demi memaksimalkan usahaku.


“Berjuanglah, Shir. Sebentar lagi!”


Pada detik berikutnya suara lengking garuda yang tak asing terdengar membelah atmosfer. Rentangan lebar sayap paxii di kejauhan tampak menyambut, menyambar kami berdua tepat waktu. Dengan posisi yang sama sekali tidak enak di punggung binatang ini, aku dan Elang harus bertahan hingga menyentuh bibir pantai. Di sanalah kami baru membetulkan posisi duduk yang tepat dan melanjutkan perjalanan.


Paxii bergerak semakin dalam ke suatu pulau. Aku tak habis pikir bagaimana binatang ini tahu tempat persembunyian Kak Garuda dan Aquila, tapi kenyataannya ia mengantar kami ke tempat yang tepat. Di kaki bukit kapur, lubang gua yang hanya bisa dilalui orang satu per satu itulah tempat paxii akhirnya berhenti. Kepala seseorang muncul dari dalam.


“Oh, hai, cepat masuk dan jangan berlama-lama di luar! Tempat ini bernama persembunyian! Mari gunakan sebaik-baiknya!” kata Aquila. Ia memeriksa sejenak paxii yang tadi kami tunggangi, membisikinya sesuatu lalu binatang itu kembali terbang.


“Tidak ada tanda-tanda alat pelacak padanya, jadi kubiarkan ia kembali. Luska mungkin masih memerlukannya,” kata Aquila memandu kami masuk lebih jauh. Setelah beberapa meter lubang sempit itu terasa mengimpit, barulah ruangan di dalamnya terasa begitu lega. Hampir seluas aula sekolah dengan batuan bercahaya berpendaran di langit-langit gua, memberi pencahayaan yang indah di dalam sini. Seseorang yang sok santai rebahan di salah satu batuan datar segera bangun demi melihat kedatangan kami.


“Adik-adikkuuu!”


“Kak Garudaaa!” seruku menyambut sapaan hangatnya. Biarlah, memang aneh! Sebenarnya siapa yang adik kandung Kak Garuda?


“Kakak baik-baik saja?” tanyaku.


“Hum! Aku masih ganteng dan sehat!” jawabnya dengan tingkat kepercayaan diri yang sama sekali tidak berkurang, “Shiralah yang membuatku cemas setelah penangkapan yang ... Ya ampun, ini tanganmu kenapa memar-memar begini?!”

__ADS_1


“Wah? Ini jimat baru ya, Kak?” tanyaku mengalihkan perhatian, melihat ada kalung manik-manik hitam dengan bantalan kecil berisi serbuk yang sama hitamnya.


“Iya! Keren ‘kan?”


“Yang terpenting adalah kegunaannya. Semoga ini lebih baik dari jimat sebelumnya,” harapku. Kak Garuda seolah tak ingin membahas hal itu. Ia menyapa adik kandungnya sendiri tanpa meninggalkan lawakan khas yang sama sekali tidak merebut hati Elang. Adiknya itu lebih berminat mengobrol dengan Aquila terkait topik serius yang terjadi beberapa jam terakhir.


“Kamu sadar atau tidak ya? Aang dan Aquila itu sebelas dua belas, lho!” kata Kak Garuda. Aku mengerjap sejenak, memperhatikan keduanya, dari ekspresi datar tak bergairah, nada bicara yang sama datarnya, juga ketegangan dan keseriusan di wajah keduanya yang menolak untuk tidak tampak. Iya ... Sama!


“Bisa dibilang, Aquila ini Aang dalam versi cewek!”


“Ih, benar, Kak! Sejak awal ketemu Aquila aku bingung menerka-nerka, kesannya seolah tidak asing! Ternyata mirip Elang!” balasku.


“Heh, kalian berdua merumpi apa?!” balas Elang sewot.


“Ini, nih, Ang! Aku mau kasih tahu Shira soal cerita di balik alis kiriku yang ada bekas gores sampai putus begini. Kamu sendiri masih ingat, eenggak? Yang akhirnya bikin kamu takut sama kembang api sampai sekarang!” kata Kak Garuda.


“Heeh? Elang takut kembang api?” tanyaku tidak percaya.


“Kembang api, petasan juga. Coba, deh, ajak Aang keluar saat malam tahun baru kalau dia memang mau!”


“Wah, waah! Memangnya kenapa bisa seperti itu, Kak?”


“Kamu ... berhenti meladeni om-om kurang kerjaan itu! Ya ampun, sungguh tidak ada yang berubah darimu ya, Gar! Bahkan setelah situasi genting begini! Sesekali berpikirlah serius!” jawab Elang.


“Aku memang tidak menginginkan ada yang berubah, Ang! Sama sekali tidak menyenangkan bila kalian terus menerus tegang dan mencemaskanku!” jawab Kak Garuda.


“Maaf, Gar. Kami sudah terlanjur mencemaskanmu, jadi diamlah!” sahut Aquila.


 ***


Setelah kata-kata Aquila tadi Kak Garuda benar-benar diam, memilih kembali merebah sambil menutup kedua matanya dengan lengan, tidur. Aku tahu situasi seperti ini memang buruk bagi orang yang tidak pernah bisa serius sepertinya.


“Konspirasi segera menyebar di tengah masyarakat, mengait-ngaitkan kegagalan Garuda yang dulu sebagai alasannya bersekutu dengan iblis demi membalaskan dendam kepada seisi negeri, bersama Yang Mulia seolah-olah menjadi pahlawan padahal ada rencana besar penaklukan seluruh Alba dengan menggunakan Yang Mulia sebagai boneka. Begitulah omong kosong yang dipercaya pengikut Ladra,” kata Aquila.


“Aku tak peduli soal konspirasi atau perang saudara yang segera menghabisi negeri ini. Yang paling penting bagaimana cara mencabut kekuatan iblis itu dari kakakku?” tanya Elang.


“Dengan menyegelnya bersama kekuatan Yang Mulia di daerah bernama terminator, batas antara siang dan malam,” sahut sebuah suara ikut bergabung dengan pembicaraan.


“Luska? Kau sudah berhasil menon-aktifkan perangkat komunikasimu?” tanya Elang.


“Ya, Kesatria Agung ... Saya juga sambil mencari beberapa informasi,” jawab Luska. Aku masih menyimpan kekesalan, tapi kali ini akan kutahan.


“Ngomong-ngomong, perangkatmu sendiri bagaimana, Aquila?”


“Sudah kunon-aktifkan jauh-jauh hari,” jawab Aquila.


“Anu ... tadi bagaimana katamu, Luska? Kekuatan iblis itu harus disegel bersama kekuatanku?” tanyaku.


“Benar, Yang Mulia. Kekuatan jahat itu hanya bisa dinetralkan oleh kekuatan luhur pewaris sah, disegel bersama-sama dalam pedang kristal Kesatria Agung. Kita perlu melakukannya di sebuah pulau terpencil di tengah samudera ketika daerah yang sejatinya juga batas dua dunia itu dilalui garis terminator, batas siang dan malam,” jelas Luska, “begitu catatan yang kudapat dari Nona Yastra.”


“Pulau terpencil di tengah samudera? Yang dilalui garis terminator ya? Di mana posisi daerah itu?” tanyaku.


“Um, saya tidak tahu pasti. Tempat itu sejatinya juga batas dua dunia, tempat paling memungkinkan untuk membuka portal raksasa yang dikehendaki Kepala Dewan untuk invasi ke Nigra. Penyegelan kekuatan iblis bersama kekuatan Yang Mulia ini juga bisa sekaligus mengunci permanen potensi portal raksasa. Kita bisa sekaligus mengurungkan rencana invasi itu dan menyelamatkan dua dunia!”


Penjelasan Luska membuatku semakin semangat berpikir.


“Hm, sebentar, pulau terpencil di tengah samudera ya? Mungkinkah ... pulau karang tempat Griseo dipenjara?” tebakku. Hanya itu satu-satunya pulau terpencil di tengah samudera yang pernah kukunjungi.


“Oh, benar! Benar, Yang Mulia! Pulau itu! Rasanya juga tidak mungkin disebut kebetulan bila Griseo dipenjara di sana. Hal itu pasti disengaja agar tidak siapa pun sembarangan mendekati pulau itu sebelum rencana Kepala Dewan terlaksana!” jawab Luska. Keterkaitan itu terlalu cocok memang!


“Kalau begitu, yang perlu kita lakukan hanya bergerak lebih cepat dari Ladra. Selagi di atas awan sedang terjadi huru-hara, kita harus menyelesaikan segala sesuatunya sebelum pasukan Ladra menguasai wilayah itu!” sahut Elang.


“Baiklah, jangan mengulur waktu! Ayo, semuanya, kita pergi ke sana!” seruku bersemangat. Penyelesaian yang menjanjikan telah di depan mata!


“Lang, ngomong-ngomong di mana pedangmu? Aku tidak pernah melihatnya sejak kita kembali dari Dunia Kelabu,“ tanyaku.


“Tersemat di punggungku seperti waktu itu. Aku bisa menariknya ketika nanti dibutuhkan,” jawab Elang.


“Oh, baguslah! Ayo, Kak Garuda juga bersiap ...”


Raut antusiasku lenyap mengetahui Kak Garuda juga lenyap dari tempatnya. Tadi ia tidur di atas batu itu, tapi sekarang ... yang tersisa hanya hamburan manik-manik hitam dari kalung jimatnya yang telah terputus.


“Kak Garuda ....”

__ADS_1


.Bersambung.


__ADS_2