Kelabu

Kelabu
#S2 Episode 15


__ADS_3

“Hai, Shira!”


Senyum cerah Kak Garuda sama sekali bukan hal yang mengherankan, termasuk keberadaannya di sini. Meski kudengar dari Elang bahwa Kak Garuda harusnya sedang kerja di luar negeri, tapi aku pernah melihatnya sesaat sebelum Luska menjemputku. Jadi, tidak membuatku terkejut bila saat ini dia muncul. Yang membuatku terkejut justru perempuan di sebelahnya.


“Aquila ....”


Dia ada di sini? Terlihat cukup sehat setelah terluka parah karena tragedi meledaknya menara tempat ia tinggal? Begitu ‘kan laporan yang kudengar? Aku baru saja ingin banyak bertanya sebelum Aquila mendekatiku lebih dulu, menyibak rambut panjang yang menutup tengkukku.


“Lihatlah sendiri, Gar! Tanda ini permanen meski setelah dia kembali ke Nigra,” kata Aquila datar.


“Iya, Qila, jangan tiba-tiba menyentuh Shira begitu, dong! Dia pasti tidak nyaman,” jawab Kak Garuda menarik kembali Aquila dari belakangku. Oh, mereka saling kenal dan sepertinya sudah cukup dekat. Sempat kuingat kata-kata Kepala Dewan bahwa keduanya memang dalam satu sekutu, entah bagaimana bisa begitu.


“Aku senang mengetahui kamu baik-baik saja setelah tidak pulang beberapa hari, Shira! Semoga kamu tetap sehat jiwa dan raga untuk hari-hari ke depannya!” kata Kak Garuda.


“Ah, i ... iya, terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Kak!” jawabku, “tapi sejujurnya yang perlu lebih dikhawatirkan adalah Aquila. Apa kamu baik-baik saja? Kudengar lukamu cukup parah.”


“Kenapa aku harus terluka parah?” kata Aquila justru balik bertanya.


“Eh? Tapi kan ... gara-gara ekspansi Dunia Kelabu, menara tempat tinggalmu meledak bahkan hingga ....”


Kata-kataku tidak berani kulanjutkan melihat tatapan Aquila yang berubah.


“Kenapa kamu malah terlihat tidak tahu apa-apa?” tanyaku kian lirih. Aquila hanya mengusap wajahnya lelah.


“Baiklah, menara itu meledak. Sekarang aku mengerti apa yang terjadi,” jawab Aquila.


“Um, sebaiknya kita bicarakan sambil duduk,” saran Kak Garuda. Kami memilih bangku terdekat di teras minimarket.


“Sebenarnya begini,” kata Kak Garuda, “Aquila tersesat ke sini setelah sistem menara tua itu tiba-tiba mengaktifkan portal menuju ke mari.”


“Aku terseret ke Nigra sore harinya setelah Luska menjemputmu dari menara,” jawab Aquila, “selang beberapa jam, ekspansi Dunia Kelabu terjadi, menara itu hancur, pantas saja aku tidak bisa mengaktifkan portal untuk kembali ke Alba. Ya, begitu ternyata yang terjadi. Harusnya aku kembali lebih cepat!”


“Maaf, aku harus memberi tahu ini ....”


“Nenekku tewas. Jelas. Seandainya ia selamat dari ledakan menara, ia akan tetap mati menjadi bulan-bulanan makhluk buas dari Dunia Kelabu,” jawab Aquila mengatakan hal itu tanpa tekanan. Kupikir dia akan jatuh terpukul atau setidaknya sedikit terkejut karena ternyata ia tidak mengetahui neneknya telah meninggal dalam peristiwa meledaknya Menara Gerbang Dimensi. Eh? Sebentar.


Kepalaku segera bereaksi, menyadari suatu keganjilan. Jika Aquila sudah di Nigra sejak sebelum ekspansi ... lalu siapa satu orang lagi yang ditemukan terluka parah saat kejadian itu?


“Aku turut berduka mendengar kabar itu,” kata Kak Garuda, “tapi sebaiknya kamu tidak heran melihat reaksi cewek minim emosi ini. Ia tidak tampak panik atau cemas ‘kan? Memang begitulah Aquila!”


“Bodo amat!” jawab gadis yang dimaksud.


“Sangat berbeda denganku, saat ini aku sedang dilanda kekhawatiran!”


“Khawatir kenapa, Kak?” tanyaku. Kakak laki-laki Elang itu menghela napas panjang.


“Aang menghilang sejak tiga hari terakhir,” jawabnya.


“Aang? Maksud Kakak, Elang?” tanyaku tak bisa menutupi keterkejutan. Tiga hari, heh? Setelah terakhir kali bersamaku di edufair waktu itu? Pantas saja Elang sulit dihubungi!


“Ah, iya, Elang. Entah kenapa titik waktunya sama dengan penjemputanmu ke Alba, juga meledaknya menara itu. Sepertinya banyak hal yang terjadi tiga hari belakangan ini!”


“Sebenarnya aku juga sedang ingin menemui Elang. Apa Kakak sudah mencoba mencarinya?”


“Sebenarnya Aquila terlambat kembali ke Alba karena salahku yang memintanya membantu mencari Elang. Dia punya kepekaan khusus untuk merasakan hawa keberadaan seseorang.”


“Lalu? Ternyata Elang tetap tidak ketemu? Sudah tiga hari, apa orang tua kalian tidak cemas?” tanyaku.


“Beruntungnya orang tua kami sedang ada urusan di luar negeri sampai minggu depan. Aku hanya perlu membungkam sepupu kami yang sekelas dengan Elang agar ia tidak memberi tahu papa dan mama,” jawab Kak Garuda, “dan selama tiga hari ini kami tidak berhenti mencari.”


“Sayangnya Garuda tidak mau percaya dengan kemampuanku yang mengatakan bahwa keberadaan Elang tidak terdeteksi di mana pun, di seluruh penjuru dunia ini,” jawab Aquila.


“Yang benar saja! Itu artinya Elang sudah mati dan jelas aku tidak bisa menerimanya! Kemampuanmu itu barangkali perlu di-upgrade!” bantah Kak Garuda.


“Memangnya aku perangkat komputer yang sesekali butuh upgrade?!” gerutu Aquila, “asal kau tahu, situasi adikmu bahkan lebih buruk dari hanya sekadar mati. Jika memang benar begitu, harusnya jasad Elang bisa kutemukan, tapi dia benar-benar nihil! Kau tahu artinya?”


“Artinya kemampuanmu perlu di-upgrade, Qila!”


Aquila menggeram sebal atas kekukuhan Kak Garuda. Aku malah menyimak perdebatan keduanya.


“Artinya adikmu tidak berada di dunia ini! Entah hidup atau mati, kemungkinan dia sedang berada di dimensi dunia paralel lain!” jelas Aquila.


“Elang ada di Alba?” tebakku.


“Mana kutahu! Sejak portal antardunia paralel ditutup, tidak sembarangan orang yang bisa mengaktifkannya sehingga bebas keluar masuk Alba, apalagi Elang yang sama sekali tidak tahu menahu soal Negeri Putih!” jawab Aquila. Sial! Sejak kapan situasi berubah menjadi serumit ini?!


“Ngomong-ngomong, kau sendiri bagaimana bisa kembali ke sini setelah satu-satunya menara gerbang dimensi penghubung dengan Nigra itu lenyap?” tanya Aquila. Oh, aku jadi ingat tujuanku sendiri. Kuceritakan semuanya dari awal mengenai nasibku yang tiba-tiba dibebani tanggung jawab selaku pewaris sah singgasana Alba. Aquila dan Kak Garuda sesaat terkejut, tapi keduanya menyimpan keterkejutan itu sementara dan memintaku terus bercerita.


“Karena ingatanku tidak bisa dipulihkan bahkan setelah menemui Griseo, Kepala Dewan membolehkanku kembali ke Nigra untuk menjemput Elang yang ternyata adalah keturunan Kesatria Perak, teman seperjuanganku mengalahkan Dunia Kelabu sebelumnya,” jelasku.


“Wah, wah, waaaah!” seru Kak Garuda akhirnya melampiaskan keterkejutan.


“Dan aku bisa kembali ke sini tanpa portal dari Menara Gerbang Dimensi dengan menggunakan kertas lintas dimensi. Yah, kata Luska itu teknologi baru yang jumlahnya tidak banyak dan efisiensinya masih buruk. Aku hanya membawa dalam jumlah seperlunya,” sambungku.


“Aku punya dugaan mengenai hilangnya Elang, tapi terlalu banyak keanehan,” kata Aquila. Tatapan seriusku dan Kak Garuda sudah cukup memintanya untuk menceritakan dugaan itu.

__ADS_1


“Kemungkinan Elang sudah di Alba sekarang ini. Ada punggawa yang lebih dulu menjemputnya, tapi ... untuk apa Ladra masih meminta Shira kembali ke Nigra bila memang seperti itu?”


“Benar, Alba sedang tidak ingin memboroskan energi kristal bulan untuk mengirimku kembali ke sini bila memang Elang sudah lebih dulu dijemput,” jawabku.


“Selain itu, Elang menghilang sejak tiga hari lalu, anggota dewan di Alba masih belum tahu mengenai peran Elang yang sesungguhnya. Jika benar Elang ada di Alba, aku yakin bukan pihak internal kastel yang menjemputnya,” terang Kak Garuda semakin menambah kecemasanku.


“Lalu siapa yang menjemput Elang lebih dulu?” gumamku.


“Hanya ada satu cara untuk memastikannya,” kata Aquila, “kita semua kembali ke Alba. Aku akan memeriksa keberadaan Elang. Kekuatanku berfungsi lebih optimal di tanah kelahiranku.”


“Masalahnya kertas lintas dimensi yang dibawa Shira jumlahnya terbatas, Qila,” jawab Kak Garuda.


“Tapi ... sepertinya cukup untuk dipakai kita bertiga,” jawabku merogoh tas. Kemarin Luska memberiku dua, satu kupakai saat pergi. Luska meninggalkan dua untuk dipakai Elang dan untuk cadangan. Totalnya aku masih punya tiga.


“Bagus, ayo segera pastikan!” kata Aquila, “kau tidak keberatan pergi sekarang juga ‘kan? Bagaimanapun kau juga berkepentingan dengan mencari Elang.”


“Ah, yah, aku sudah siap pergi kapan pun. Luska pasti akan mengatur semua urusanku di sini,” jawabku.


“Kamu ternyata lebih tegar dari dugaanku. Baguslah,” komentar Kak Garuda. Heh, dia tidak akan bilang begitu bila tahu drama tadi pagi. Keduanya menerima masing-masing selembar kertas krem seukuran sticky note sedang dariku.


“Bagaimana cara kerjanya?” tanya Aquila tampak mengamati kertas itu sambil sesekali mengendusnya.


“Cukup disobek, kita akan luruh menjadi butiran cahaya menuju Alba,” jawabku.


“Kalau begitu, kita tidak bisa serta merta memakainya di tempat terbuka seperti ini,” jawab Kak Garuda, “bisa-bisa kita jadi viral setelah tertangkap kamera CCTV minimarket menghilang menjadi kelap-kelip.”


“Benar juga. Sebaiknya kita pindah ke tempat sepi dulu. Ayo!”


“Asyik! Aku kembali ke Alba setelah lama tidak ke sana!” kata Kak Garuda seolah kita sedang akan bertamasya.


Kami bertiga meninggalkan teras minimarket, mencari sudut lain di kompleks pertokoan ini yang sekiranya minim atensi, tapi, hei ... pusat kesibukan di siang hari sepertinya tidak akan pernah sepi. Entah kenapa aku tidak pernah bisa berdamai dengan keramaian. Di tengah lalu lalang orang begini, selalu ada perasaan waswas seolah sepasang mata sedang mengintai.


“Kita diikuti,” kata Aquila tiba-tiba seolah membenarkan perasaanku.


“Eh? Aku merasakan hal yang sama. Kupikir itu hanya kecemasanku.”


Kak Garuda mengawasi sekitar sambil tetap jalan, “Yah, ini, sih, iblis yang mengincar Shira dan Elang sejak di edufair waktu itu!”


“Heee?!”


Aku belum sempat terheran lebih lama atas kata-kata Kak Garuda setelah ia menepuk tangan tinggi-tinggi ke udara yang membuat keramaian di sekeliling membeku seolah waktu terhenti. Semuanya, orang-orang yang berjalan, seliwer kendaraan, benar-benar bergeming di posisi terakhir masing-masing, kecuali satu orang di kejauhan yang semakin melebar-lebarkan langkahnya berlari mendekati kami.


Aku tak sempat melihat wajahnya ketika orang itu melepaskan angin dahsyat yang mengelupas lapisan trotoar, menerbangkan material kerasnya ke arah kami. Kak Garuda dengan sigap mengarahkan kedua tangannya ke depan, sama-sama membuat perisai dari angin untuk melindungi kami bertiga.


“Tidak perlu ikut-ikutan! Biar terserah apa kata Garuda!” kata Aquila buru-buru menyeretku pergi.


“Aquila, tolong larikan Shira dulu! Kuserahkan padamu!” jawab Kak Garuda yang akhirnya terlibat pertarungan jarak dekat dengan orang asing tadi.


“Mana kertasmu? Kita pergi ke Alba sekarang juga!” kata Aquila bersiap dengan kertasnya.


“Kak Garuda ditinggal?”


“Dia bisa menyusul!” jawabnya. Sekali lagi aku sempat memperhatikan pertarungan Kak Garuda yang sudah berpindah ke atas jembatan penyeberangan. Sejujurnya aku tidak ingin meninggalkan siapa-siapa lagi sejak terakhir kali meninggalkan Elang dan mengetahui akhirnya seperti ini.


“Garuda tidak akan mati dengan mudah! Percayalah!” tegur Aquila sekali lagi. Tak ingin membuat perlawanan Kak Garuda sia-sia, aku pun menuruti Aquila. Setelah kurobek kertas lintas dimensi mikku, gadis ini melakukan hal yang sama.


Kota asalku, sampai ketemu!


 ***


Setelah ruang putih yang berlangsung menelan kami beberapa menit, aku dan Aquila muncul di suatu tempat. Sebuah ruangan seperti dapur dengan meja yang kutebak meja makan ada di tengahnya. Sial, ini seperti tatanan dapur di rumah! Bikin kangen saja!


Seorang perempuan setengah baya yang baru muncul dari pintu membulatkan mata sempurna mengetahui keberadaanku bersama Aquila. Keranjang yang penuh dengan butiran semacam buah ceri jatuh dari tangannya, membuat bulatan merah-merah itu menghambur di lantai. Kupikir dia akan meneriakiku maling, tapi aku jelas lupa posisiku di tempat ini.


“Ya ... Yang Mulia!”


Perempuan itu segera bersimpuh rendah. Seorang lagi muncul, kali ini laki-laki yang kutebak suaminya. Wah, perwakilan massa yang memimpin unjuk rasa waktu itu.


“Nona Aquila ...”


“Tagsa ...” kata Aquila ternyata mengenali bapak-bapak ini, “harusnya kau menyapa ratumu dulu!”


“Ah, ma ... maaf, Yang Mulia!” Tagsa mengambil sikap yang sama seperti istrinya.


“Um, tidak apa-apa, berdirilah! Aku harusnya minta maaf karena muncul seenaknya di rumah kalian,” jawabku tak enak hati.


“Mulai sekarang aku juga harus memanggilmu Yang Mulia, tapi kelihatannya kau benar-benar tidak terbiasa.”


“Itu sebabnya, tidak apa-apa memanggilku dengan nama saja.”


“Tidak, tidak. Aku masih jadi panutan beberapa orang dan sedang di depan pendukung setiaku,” jawab Aquila.


“Oh? Fraksi oposisi? Benar, Aquila pemimpinnya ya?” tanyaku.


“Maaf, Nona Aquila kembali bersama Yang Mulia? Saya memang sudah lama menunggu adanya koalisi dan sepertinya itu terwujud tak lama lagi,” kata Tagsa. Aduh, aduh! Bahasa politik yang tidak kumengerti!

__ADS_1


“Sayangnya bukan. Aku tidak sedang ingin mengusung ulang propaganda kita. Nanti-nanti saja. Situasinya lebih rumit. Aku harus mengantar Yang Mulia ke suatu tempat lebih dulu,” jawab Aquila.


“Eh? Posisi Elang sudah ketemu?”


“Sudah!”


Mantap! Aku tak bisa menyembunyikan kekagumanku.


“Baguslah, ayo segera pastikan!” sahut suara lain tiba-tiba muncul.


“Bung? Garudaa!” seru Tagsa teramat senang. Syukurlah Kak Garuda berhasil menyusul ke mari tanpa cacat sedikit pun.


“Hai, Bung! Maaf telah menjadi tamu kurang ajar yang seenaknya datang dan pergi. Percayalah aku segera ingin mengadakan reuni bersama yang lain juga!” jawab Kak Garuda merangkul hangat Tagsa.


“Maaf karena telah menjadi tuan rumah yang tidak ramah. Harusnya kami menyiapkan penyambutan sepantas mungkin untuk tiga tamu agung. Ngomong-ngomong soal reuni, tentu! Kita akan reuni sebelum Alba kiamat! Hahaha!”


“Ya, maaf untuk kali ini kami sangat buru-buru!” ata Aquila mengakhiri basa-basi ini, melenggang keluar lebih dulu, “permisi!”


Aku dan Kak Garuda mengekor di belakangnya, turut berpamitan pada tuan rumah. Daratan berkabut negeri di atas awan menyambut pemandanganku setelah keluar dari rumah kotak ini.


“Jadi, di mana keberadaan Elang sekarang?” tanyaku.


“Sel interogasi Kastel Alba,” jawab Aquila tanpa intonasi.


“Ya ... am ... puuun!” balas Kak Garuda yang terlihat paling panik seketika. Ya, aku mengerti. Mendengar kata interogasi pasti bukan hal yang menyenangkan, apalagi seseorang yang diinterogasi sendiri.


 ***


Luska menyambut kedatanganku bersama dua orang ini dengan tatapan tidak bersahabat –yah, tatapan itu jelas untuk Aquila dan Kak Garuda.


“Sudah kubilang agar kau mengawal Yang Mulia selama di Nigra, Luska!” kata Ladra yang turut muncul, “dugaanku selalu benar bahwa orang-orang oposisi ini akan terus mengincar Yang Mulia.”


“Kepala Dewan tidak perlu khawatir,” jawabku, “mereka berdua mengawalku dengan baik dan yang satu ini ... Kak Garuda, kenalanku sejak sebelum mengenal Negeri Putih. Mereka orang-orang baik.”


Tatapan sengit Ladra tidak berkurang karena kata-kataku, terlebih kepada Kak Garuda, tapi bukan itu masalahku sekarang.


“Oh iya, tentang pencarianku terhadap Elang, harusnya aku tidak perlu kembali ke Nigra. Jujur aku merasa konyol karena merengek-rengek kesepian sementara temanku ada di lingkungan kastel ini sejak hari yang sama dengan penjemputanku. Tahu artinya? Elang ada di sini! Di ruangan bernama sel interogasi!” jelasku.


“Kita bisa menemuinya sekarang –sejak tiga hari yang lalu juga bisa, sih!”


“Baiklah, urusanku selesai. Sampai jumpa!” jawab Aquila berbalik pergi begitu saja. Aku baru akan menahannya, tapi Kak Garuda mencegahku. Sebaiknya jangan memaksa Aquila beramah tamah dengan orang-orang internal kastel untuk saat ini, katanya. Aku pun hanya menurut, meneriakkan terima kasih yang mungkin sempat didengar.


“Oh iya, Kak Garuda ini kakak Elang, jadi biarkan dia menemui adiknya. Keduanya sama-sama keturunan Kesatria Perak ‘kan? Aku tidak sabar menemui Elang dan mendengar kembali soal Dunia Kelabu yang tidak ada lagi di ingatanku,” ujarku kemudian menatap Luska dan Ladra bergantian, “aku juga akan menagih penjelasan tentang alasan Elang yang harus ditempatkan di sel interogasi selama tiga hari lalu.”


 ***


Setelah didatangi, sel interogasi tidak seperti yang kubayangkan dengan pencahayaan gelap dan satu-satunya meja tersangka tersorot lampu menyilaukan. Tidak, tidak begitu. Memang sempit dan terkesan seperti penjara, tapi ini tidak jauh beda dengan kamar biasa, berisi dipan dan satu kursi yang sepertinya memang sengaja disiapkan untukku.


Di atas dipan itu seseorang berbaring dengan perban melilit dada dan lengan kirinya. Aku menutup mulut tidak percaya melihat lebam-lebam membiru di dagu dan sudut bibir yang tampak buruk itu. Ini ... Elang? Sungguh?!


“Pemuda ini kami temukan di sekitar lokasi ekspansi Dunia Kelabu tiga hari lalu, Yang Mulia,“ kata Luska setelah sekali berdeham, “saat itu kami jelas tidak tahu kalau dia bernama Elang. Kami merawatnya secara diam-diam di sini ....”


“ ... Kalian menyembunyikan Elang dari Shira karena mengira Elang adalah aku yang merupakan orang gila, yang tidak terbukti memiliki kekuatan keturunan Kesatria Perak. Bagus! Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa adikku!” timpal Kak Garuda.


“Sama-sama,” jawab Luska setengah hati.


Keributan ini mengusik yang terbaring tak berdaya. Mengerang pelan, Elang perlahan mengerjapkan matanya. Kak Garuda mencegahnya banyak bergerak, tapi tatapan Elang sudah jatuh kepadaku. Punggungnya terlanjur tegak bahkan agak condong ke depan seolah memastikan sesuatu yang ia lihat dariku.


“Lang?”


Jujur, aku tidak sanggup melihat keadaannya. Akan sangat bodoh bila aku masih bertanya apakah dia baik-baik saja? Tidak, mungkin tidak, atau jelas-jelas tidak.


“Shi ... ra ....” gumamnya terbata-bata. Mata sayu itu seperti bersusah payah agar tetap terbuka, terlihat rapuh dan lemah, tapi ia masih punya kekuatan untuk menarikku.


Kejadian berikutnya terasa dalam satu detik yang singkat. Ketika sadar, batang hidungku telah membentur tonjolan tulang selangka dan tanganku demi menahan kecondongan tubuh tanpa sengaja menyentuh dada berbalut perban dengan canggung. Tekanan lembut di belakang kepalaku masih menahan posisi ini hingga beberapa detik. Yang ingin kulakukan hanya bilang ... Heh? Heeeeeeh?!


“Masih hidup ... kau masih hidup ... syukurlah!” Demikian bisik lemah yang kudengar. Ha ... harusnya aku yang bilang begitu ‘kaaan?!


“Waduh, enggak bawa kamera,” celetuk Kak Garuda membawa keadaan kembali normal. Aku mengambil napas setelah lepas dari ... Hm, aku tidak mau mengakui dengan muka merah padam bahwa Elang tiba-tiba memelukku. Kalau boleh aku ingin pinjam bantal sebentar untuk mengubur mukaku dalam-dalam.


Elang masih terdiam, sama bisunya dengan Luska yang hanya menonton sedari tadi. Petugas medis yang berpakaian seperti Dokter Kara datang, bilang harus segera memeriksa Elang yang akhirnya siuman setelah tiga hari ini. Kami bertiga keluar. Sempat kutinggalkan kata-kata canggung seperti ketika menjenguk teman sakit semacam ‘semoga lekas sembuh’ yang terdengar seperti sampaaaah sekali karena kuucapkan dengan tergagap luar biasa.


Aku tidak tahu apakah wajah tomatku mereda setelahnya, tapi kurasa semakin memburuk saat Luska bertanya.


“Apa kalian sepasang kekasih?”


Bom! Dia sama-sama tidak punya sopan santun seperti Yasinta. Lebih parah malah.


“Ti ... tidak mungkin!” jawabku segera.


“Tidak mungkin? Atau tidak ingat?” tanya Kak Garuda yang sempat kulupakan keberadaannya.


“Ti ... tidak tahu ....” jawabku pada akhirnya.


.Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2