Kelabu

Kelabu
Episode 9


__ADS_3

Lima menit lagi jam pertama akan dimulai. Marvel si sekretaris mulai mengisi papan absen.


“Siapa hari ini tidak masuk, hei?” tanyanya kepada seisi kelas.


“Elang, Vel!” sahut Rehan teman sebangku Elang. Ah, benar juga. Jika hingga pukul sekian Elang belum juga datang bisa dipastikan memang dia tidak akan masuk. Memangnya aku yang punya prinsip on time, tidak akan tiba di kelas jika belum benar-benar pukul tujuh?


Ada apa ya? Dia masih belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang terjadi, tetapi kemarin dia mengaku mengalami mimpi yang sama, dengan kronologi yang sama. Ternyata selama ini dia menungguku bertanya dulu dan aku juga menunggunya bertanya dulu. Nah, jadilah kami sama-sama menunggu! Namun, dengan kejelasan darinya, paling tidak mulai sekarang aku dan Elang bisa berdiskusi tentang misteri dunia kelabu itu.


Marvel menghapus nama Elang yang sudah terlanjur ditulis di papan absensi sebab Elang akhirnya memasuki kelas. Ia tampak tergesa-gesa, tetapi tetap berusaha terlihat tenang. Seisi kelas tidak ada yang tidak memperhatikannya.


Ini peristiwa langka, ketika seorang Elang Dirgaraja tiba di kelas pada detik-detik bel masuk. Meski demikian, tidak ada yang berani menegurnya seperti ketika aku yang datang hampir terlambat. Hanya anak bengal seperti Sindi yang masih sempat menggodanya. Elang tidak menjawab apa-apa. Meski penampilannya rapi, suasana hatinya yang kusut itu tak bisa disembunyikan. Rehan sepertinya bertanya-tanya, tetapi Elang hanya menggeleng-geleng kecil.


“Tidak ada apa-apa,” jawabnya. Entah karena efek mengantuk atau memang salah lihat, Elang melempar tatapan kesal padaku. Ada apa, sih?


 ***


Kuturuti saja ke mana pun langkah kaki membawaku. Suasana membosankan di kelas membuatku ingin melayap. Aku bukan bagian dari majelis rumpi cewek-cewek hits atau geng pojok kantin. Tidak banyak yang bisa kulakukan di kelas saat istirahat begini. Terlalu banyak duduk pun membuatku pusing. Ya sudah, aku jalan-jalan saja.


Setelah lima menit berputar-putar, aku tiba di depan ruangan berpintu kaca. Deretan buku bisa terlihat dari luar sini. Ya, perpustakaan.


“Apa kamu yakin yang kamu lakukan ini benar, Lang?”


“Saya rasa benar, Pak. Saya akan menyimpan dulu bukti-bukti pelanggaran itu sambil menelusuri jaringan pengedarnya.”


Lamat-lamat kudengar pembicaraan itu dari balik rak yang rapat tersusun oleh buku. Eh, Elang dan Pak Hanri? Sedang apa? Oh, aku ingat! Pak Hanri kan pimpinan pengawas tata tertib. Jika Elang adalah prajurit mata-mata, maka Pak Hanri lah komandannya.


“Dari mana kamu yakin kalau pengedar itu ada di sekolah?”


“Mereka sendiri yang bilang, Pak. Mereka mendapat barang haram itu dari seseorang.”


“Benarkah? Ini berbahaya sekali! Siapa orangnya?”


Elang menggeleng, “itu yang masih perlu saya selidiki, Pak. Mereka tidak mau memberi tahu, sepertinya mereka juga diancam, saya rasa ...” Elang terdiam. Pak Hanri menanti jawaban.


“Lanjutkan laporannya, Lang!”


“Saya rasa ... saya rasa cukup di sini dulu laporan saya, Pak.”


“Heh???”


Aku buru-buru menutup mulut. Mereka berdua menoleh ke arahku. Duh! Kenapa justru aku yang ricuh atas jawaban Elang? Aku yakin dia pasti memiliki dugaan tersendiri.


“Cih! Penguntit!” cibir Elang mengetahuiku tak bisa bersembunyi lagi.

__ADS_1


“Oh, Shira, saya kira siapa?!” kata Pak Hanri. Aku hanya nyengir.


“Menguping itu tidak baik tahu!” kata Elang menatapku ketus.


“Sebenarnya bukan salah Shira, sih! Kita membicarakannya di tempat seperti ini, jadi wajar jika ada yang dengar. Lain kali kita diskusikan di sekretariat kesiswaan saja,” kata Pak Hanri membelaku.


“Awas saja kalau informasi ini sampai bocor ya!”


“Bukan urusanku, kok!” jawabku tak kalah ketus. Pak Hanri hanya terkekeh pelan.


“Kalian ini teman sekelas, tapi tidak pernah akur. Sudah, ya! Bapak ada kelas setelah istirahat. Kalau kalian kembali ke kelas, pintunya tidak usah dikunci, nanti akan ada staf pengganti,” jelas Pak Hanri membereskan catatan di konter petugas lalu menyandang tasnya.


“Baik, Pak!” jawabku.


“Seperti kata Elang, kamu juga harus menjaga rahasia tadi ya, Shira,” kata beliau memastikan. Aku mengangguk. Guru muda itu pun meninggalkan perpustakaan. Tinggallah aku berdua dengan Elang di sini. Ngomong-ngomong, aku masih penasaran.


“Jadi, anak-anak yang kamu pergoki di bawah tangga itu pakai narkoba ya? Kukira mereka hanya merokok,” ujarku.


“Tidak ada yang namanya ‘hanya merokok' Shir. Merokok pun sama-sama pelanggaran yang serius.”


“Tapi tingkat keseriusannya beda 'kan?”


“Iya, itu sebabnya aku harus hati-hati menghadapi kasus ini.”


“Iya, aku tahu! Barusan aku mendiskusikannya langsung dengan Pak Hanri.”


“Tapi ada yang tidak kamu sampaikan kepada Pak Hanri, kan?” tebakku. Elang menatapku tidak mengerti.


“Kamu pasti sudah punya dugaan tentang pengedar narkoba itu. Kenapa tidak kamu katakan?”


Lagi-lagi Elang hanya terdiam, benar-benar tidak ingin mengatakannya.


“Jujur, Lang, aku penasaran! Ceritakan padaku ya?!” pintaku.


“Kukira itu bukan urusanmu?” jawabnya. Ah, baiklah! Aku tidak peduli lagi. Aku hanya membuang muka sebal.


“Aku tidak bisa mengatakannya karena tidak punya bukti, Shir, tetapi petunjukku mengarah ke sana,” kata Elang pada akhirnya bercerita juga, “aku juga tidak tahu pasti siapa orangnya, yang jelas dia adalah anggota pengawas.”


“Kamu mencurigai teman-temanmu sendiri?!”


“Itu memang tidak baik, tapi aku tidak bisa memungkiri. Jajaran pengawas sudah disusupi sesama anak nakal seperti mereka. Setiap kali kutemukan bukti pelanggaran berat, selalu ada yang mengaburkannya. Itu membuatku curiga, Shir.  Sebab itulah mulai sekarang aku menyembunyikan semuanya sendiri,” kata Elang.


“Menurutmu siapa yang berkemungkinan melakukannya?” tanyaku.

__ADS_1


“Sudah kubilang aku belum tahu pasti! Kalau pun aku tahu, tidak akan kubocorkan informasi itu kepadamu!” jawab Elang. Cih, aku mencibirnya kesal.


“Daripada kamu ikut mengurusi hal ini, sebaiknya khawatirkan urusanmu sendiri!” katanya. Topik pembicaraan berganti dalam sekejap.


“Semalam kamu tidak tidur karena menghindari terjebak di dunia kelabu itu! Dasar bodoh!”


Aku nyaris mengumpat atas ejekannya. Tentu saja dia tahu kalau aku tidak tidur, sebab jika demikian, aku tidak akan terseret masuk ke dunia aneh itu. Semalam dia pasti berjuang sendirian di sana, menghindar dari amukan monster. Pasti itu yang membuatnya bangun kesiangan hingga nyaris terlambat.


“Cih! Bilang saja kamu takut sendirian tanpa aku di sana!” balasku. Tahu-tahu dia sudah menyentil dahiku. Aku mengaduh keras.


“Sekali ***** tetap saja *****!” ejeknya semakin pedas, “kau sengaja ingin mengacaukan pola tidurmu ya?!”


“Dari dulu pola tidurku memang berantakan, asal kau tahu!” jawabku acuh.


“Aku serius, Shir. Kamu sendiri yang bilang jika kita tidur, kita akan terseret ke dunia kelabu. Itu hal yang tidak bisa dihindari. Sekalipun kamu terjaga semalaman, kamu pasti akan lelah, kemudian tidur dan kembali terseret ke tempat itu. Justru itu lebih berbahaya, dalam kondisi lelah, kamu akan tertidur lebih lama dan akan semakin lama terjebak di sana,” jelasnya. Tunggu, kenapa dia malah menceramahiku? Kesannya seperti menakut-nakuti pula! Tapi yang dikatakannya benar juga.


Elang meletakkan kembali buku yang sedari tadi hanya ia bolak-balik.


“Berhenti bersikap konyol, jaga pola tidurmu! Memang aku tidak suka terjebak sendirian di sana. Selain itu, sama sekali tidak menyenangkan melihat wajah pucat dan mengantuk seperti itu!” katanya kemudian beranjak. Aku hanya menghela napas. Setidaknya wajahku lebih enak dipandang daripada wajahnya yang sama sekali tidak ramah itu.


Aku juga turut beranjak meninggalkan perpustakaan. Bel masuk sudah berbunyi. Jujur saja, kelasku di lantai dua rasanya jauh sekali. Beberapa langkah meninggalkan perpustakaan kepalaku mulai terasa semakin berat. Memang beginilah efek dari begadang semalam penuh sebab hal ini bukan pertama kalinya bagiku, tetapi ... ini pertama kalinya aku benar-benar merasa pusing seolah berjalan di atas kapal. Punggung Elang yang beberapa langkah di depanku tak lagi terlihat. Aku menoleh ke sembarang arah. Semuanya gelap.


 ****


Masih sekeliling yang gelap, aku mencoba mempertahankan kesadaranku. Aku yakin —seratus persen yakin— masih mendengar dengan jelas keributan di sekelilingku, itu pertanda bahwa indraku masih aktif dan belum pingsan. Namun, keributan yang kudengar bukan teriakan panik seperti yang biasa kudengar ketika aku pura-pura pingsan. Ini aneh, suara-suara seperti kesibukan di area pembangunan itu terdengar semakin jelas.


Silau, mataku sibuk menyesuaikan dengan cahaya yang menimpa. Aku terbangun di tangga yang posisinya tak lagi asing, tangga menuju kelasku, dan ini sama sekali bukan duniaku. Yah, sepertinya aku gagal memertahankan kesadaran, jatuh pingsan, dan lagi-lagi terjebak di dunia kelabu ini. Oh, menyebalkan!


Aku bangkit dan mengawasi sekitar. Terakhir kali yang kutahu, tangga ini telah hancur sepenuhnya, dan jika tidak salah, sisi depan salah satu bilik di lantai dua sana —bilik sebelas MIPA tiga— juga hancur menjadi korban amukan monster. Aku merinding mengingatnya kembali, tetapi lihatlah sekarang, tangga ini jauh lebih baik daripada yang pertama kali kulihat.


Ragu-ragu aku naik ke atas. Sosok yang tidak asing bagiku berada di sana. Rambut putih sutranya terlihat menakjubkan diterpa cahaya matahari.


“Sakti!”


Aku berseru memanggilnya. Dia tidak menoleh, masih terlihat sibuk memperbaiki bilik rusak yang tadi kumaksud. Sungguh, satu-satunya hal yang menyenangkan di tempat ini hanyalah bertemu Sakti.


“Sakti! Bagaimana kabarmu?” tanyaku berhasil menghampirinya. Yang kusapa menoleh, tampak terganggu karena pekerjaannya kuinterupsi. Tatapan matanya benar-benar tidak bersahabat.


“Aku bukan Sakti,” jawabnya datar.


Eh?


“Namaku Sekti.”

__ADS_1


.Bersambung.


__ADS_2