Kelabu

Kelabu
#S2 Episode 7


__ADS_3

Sengaja. Aku sengaja memamerkan wajah kusutku di tengah berlangsungnya acara yang disebut Konferensi Tubuh Dewan Internal ini. Tampang seperti itu pastilah sangat mengingkari kerja keras pelayan yang susah payah mendandaniku secantik mungkin. Biarlah, aku semakin tidak berselera mengetahui pakaian yang harus kukenakan dalam acara ini, gaun putih yang membuatku terlihat seperti mempelai pengantin, terlebih aku harus dijejerkan di sebelah Luska! Seumur-umur aku tidak pernah salah kostum separah ini!


Tak peduli betapa pun wajah suka cita orang-orang yang mengelilingi meja panjang ini, cemberut berlebih dan suasana hati yang buruk sama sekali tidak bisa kututupi. Konferensi dengan agenda bla bla bla –aku malas mengingatnya– yang intinya membuktikan bahwa aku memang harus diangkat menjadi ratu negeri ini. Pembukaan panjang dari laki-laki paruh baya yang tadi menyambutku di pelataran aula tidak mengurangi kejemuanku. Pidatonya yang hanya numpang lewat masuk telinga kanan keluar telinga kiri tak begitu kucermati.


Namanya Ladra, kepala dewan yang memimpin Tubuh Dewan Internal, sekelompok orang pemegang kendali kebijakan pemerintahan Negeri Putih. Posisi raja atau ratu telah lama kosong. Kekosongan itu tidak bisa diisi sembarang orang di luar silsilah garis keturunan bangsawan Alba. Dari benang silsilah itu pun masih bukan sembarang keturunan yang berhak mewarisi takhta. Intinya ... ribet! Itulah penyebab kosongnya kepemimpinan hingga perlu disokong oleh Tubuh Dewan Internal.


“Masalah tentang kekosongan singgasana berpangkal dari terbukanya rahasia dua dunia, Alba dan Nigra, seribu tahun lalu yang mendorong banyak kesatria kami menjelajah Nigra, termasuk ....”


“Alba adalah nama kastel ini, tapi Nigra itu apa?” tanyaku memotong penjelasan. Tidak sopan memang, tapi daripada tetap tidak mengerti.


“Oh, maaf, Alba sebenarnya adalah sebutan untuk dunia putih, sedangkan Nigra adalah dunia hitam tempat Yang Mulia lahir dan dibesarkan,” jawab Ladra yang sepertinya akan meyampaikan banyak hal ke depannya.


“Terima kasih, dimengerti. Lanjutkan!” jawabku meski sedikit heran kenapa dunia asalku disebut dunia hitam? Lalu dunia ini disebut dunia putih? Ah, entahlah!


Tanpa diperintah, laki-laki muda di sebelah kanan Ladra segera mengaktifkan sesuatu di meja yang ternyata bisa bekerja seperti touchscreen. Hologram berisi berbagai model analisis data memancar untuk mendukung penjelasan Ladra berikutnya.


“Ini hasil kerja keras sejarawan dan tim riset kami,” katanya.


Kilauan hologram ini memantul di mataku. Aksara-aksara asing yang belum pernah kupelajari ini dengan ajaibnya bisa kumengerti. Kumpulan informasi dari catatan lama, perangkat lunak yang memuat data pohon silsilah yang bercabang-cabang, semakin ke bawah semakin banyak dan rumit. Beberapa garis ada yang terputus dengan tanda ‘Migrasi ke Nigra'.


“Sejak terbukanya pengetahuan akan dunia paralel, banyak kesatria kami bertualang ke sana, termasuk keturunan bangsawan Alba yang berusaha kami jaga kemurnian silsilahnya. Namun, hal itu jelas sulit dilakukan setelah migrasi besar-besaran. Silsilah bangsawan menjadi kacau setelah kebanyakan kesatria menetap di Nigra dan menikah dengan penduduk setempat. Itu sebabnya portal menuju Nigra ditutup dengan serangkaian prosedur,” jelas Ladra. Ia berdeham sejenak sebelum melanjutkan penjelasan.


“Sayang sekali, masalah terlanjur tak bisa dicegah. Harusnya keturunan bangsawan Alba tidak meninggalkan Negeri Putih. Sejak itu, penentuan pewaris takhta tiap periode selalu berujung kesulitan. Menemukan pewaris sah sesuai hukum di Alba saja sudah sangat sulit. Hal itu memaksa kami memfokuskan penelitian akan dugaan adanya pewaris sah yang tinggal di Nigra. Di lain sisi, khawatir terjadi kekosongan, seseorang yang tidak berhak pernah terpaksa diangkat menjadi raja, tapi hal itu justru mengundang bencana. Mau tidak mau kami harus betul-betul mencari pewaris sah itu di mana pun ia berada dengan berbagai cara.”


“Dan kalian berakhir memercayai bahwa aku adalah pewaris sah itu?” tanyaku.


“Ya, salah satu rekam jejak yang kami temukan adalah migrasi seorang keturunan bangsawan spesialis pengobatan. Ia meneruskan garis keturunan bangsawan Alba di Nigra hingga berakhir pada nama Yang Mulia.”


“Aku percaya data kalian memang akurat, tapi garis silsilahnya sudah terlalu jauh dan sama sekali tidak lagi murni. Masa tidak ada keturunan bangsawan di Alba yang lebih dekat, yang lebih layak untuk diangkat menjadi pemimpin?” tanyaku.


“Masalahnya, pewaris sah bukan ditentukan hanya dari keturunan murni atau bukan, juga tidak hanya dari dekat jauhnya kekerabatan. Tak peduli tercampur seperti apa pun, darah bangsawan Alba yang terpilih untuk menjadi pewaris sah tak akan bisa tersingkir karenanya. Peristiwa semestalah penanda direstui atau tidaknya seseorang yang duduk di singgasana.”


“Peristiwa semesta? Kedengarannya tidak rasional untuk dipercaya bangsa yang telah berperadaban maju seperti kalian.”


“Seperti yang sudah dijelaskan di awal, bencana akan datang ketika seseorang yang tidak berhak diangkat menjadi pemimpin. Seandainya tidak ada hal semacam itu, pasti tidak ada yang keberatan bila saya sendiri, yang masih sama-sama keturunan bangsawan Alba dengan prestasi memimpin fraksi dewan ini diangkat menjadi raja,” kata Ladra.


Seisi ruangan tertawa.


“Maaf, Yang Mulia. Saya bercanda,” tambahnya.


Otakku mencoba mencerna informasi, menyadari sesuatu, “Wah, dengan ketentuan itu, apa kalian tidak khawatir akan terjadi bencana selanjutnya karena telah salah memilihku?”


“Kami mencoba optimis memercayai bahwa benar Yang Mulialah pewaris sah itu karena tanda-tanda yang muncul pada diri Anda.”


“Tanda-tanda apa? Aku hanya bocah yang bahkan belum genap sembilan belas tahun. Menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepadaku adalah bencana itu sendiri.”


“Yang Mulia terlalu merendahkan diri. Soal pemerintahan, ada kami, Tubuh Dewan Internal yang akan membantu, tapi terkait tanda pewaris sah, terlalu jelas tanpa bisa ditutupi,” kata Ladra. Kali ini dia sendiri yang mengutak-atik layar hologram. Gambar lingkaran dengan motif rumit di tengahnya yang muncul sama sekali tidak asing bagiku. Itu motif tato di kening Luska, mungkin juga motif yang sama seperti di tengkukku.

__ADS_1


“Selain corak seperti tato yang merupakan tanda lahir di tengkuk Yang Mulia –itu ciri umum keturunan bangsawan Alba. Saya, Luska, dan beberapa orang di sini memilikinya– tapi Yang Mulia juga memiliki ciri khusus sebagai pewaris sah, yaitu kekuatan luhur yang diwariskan secara acak!”


Aku tertegun, jangan-jangan ... kekuatan aneh yang kukuasai belakangan ini?!


“Yang Mulia pasti diam-diam telah menyadari hal itu. Biar saya beri penjelasan singkat. Itu adalah pertanda mutlak pewaris sah yang kami cari-cari selama ini. Yang Mulia mewarisi kekuatan itu dari nenek Anda setelah beliau meninggal. Dialah pewaris sah yang kami cari, tapi nenek Yang Mulia meninggal sebelum sempat diangkat menjadi ratu, kekuatan itu secara acak memilih Anda sebagai pewarisnya.”


Aku sempat mengerjap tidak percaya, “Mana mungkin orang tua pikun itu memiliki benang silsilah keturunan bangsawan negeri ini! Tolong, periksa lagi data-data kalian!”


“Seandainya data kami memang salah, apakah Yang Mulia punya penjelasan tentang asal kekuatan yang Anda kuasai akhir-akhir ini? Saya yakin kekuatan itu bukan hal yang lumrah di Nigra,” jawab Ladra.


Ah, sial! Setelah kupikir-pikir memang tidak ada yang bisa kubantah. Kekuatanku muncul setelah nenek meninggal. Sebelumnya aku tidak bisa melakukan banyak keajaiban. Namun, penolakan demi penolakan tetap mengisi kepalaku.


“Tetap saja, harusnya aku tahu bila nenek punya kesaktian yang kau maksud, tapi selama ini nenekku benar-benar hanya manusia normal,” jawabku. Ladra menggeleng.


“Kenyataannya Yang Mulia memang tidak cukup tahu, atau nenek Yang Mulia sendiri menyadari kesaktian itu terlalu aneh sehingga tak perlu menceritakannya.”


Aku menghela napas. Ayo cari ide, cari ide! Buat bantahan yang tidak bisa dibantah lagi! Aku tidak mau menjadi ratu di tempat asing ini, tak peduli betapa pun mereka bilang ini tanah leluhurku atau apalah itu! Aku harus kembali ke dunia asalku. Menjadi remaja yang galau dengan sederet jadwal ujian sama sekali lebih enak daripada mengemban tanggung jawab besar satu dunia.


Alih-alih lanjut mendebat, satu pertanyaan lain melintas di kepalaku. Ada yang belum terbahas sedari tadi. Sesuatu yang berulang kali disampaikan Luska dalam mimpiku. Aquila juga sempat membicarakannya, tentang huru-hara ... keselamatan banyak rakyat ....


“Izin melapor, Kepala Dewan!” seru seseorang tiba-tiba memasuki ruang konferensi, mengalihkan perhatianku sebelum rasa ingin tahuku bersuara.


“Sepertinya kau lupa bahwa tidak boleh ada interupsi selama konferensi,” jawab Ladra memandang orang itu dengan tatapan tidak enak.


“Saya ingat, Kepala Dewan,” balasnya sambil menetralkan napas yang terengah-engah, “bila saya akhirnya berani menginterupsi, bayangkan betapa daruratnya situasi kita!”


“Itu menjadi tanggung jawab departemen pertahanan!” kata Ladra pada orang itu yang kemudian menjawab sepatah dua patah kata dengan gugup. Wajah uring-uringan kepala dewan ini semakin memperburuk firasatku dan semua orang yang ada di sini.


“Maaf, Yang Mulia. Konferensi akan kita lanjut lain waktu. Saya yakin masih banyak ketidakpuasan yang ingin Yang Mulia protes. Kesatria Muda Luska akan menjawab semua informasi yang Anda butuhkan,” kata Ladra kemudian meminta para anggota dewan lain bergegas. Laki-laki muda yang duduk di sebelah Ladra tadi meninggalkan ruangan paling akhir setelah menon-aktifkan hologram di meja.


“Hei, hei! Tadi itu ada apa?” tanyaku pada satu-satunya orang yang masih tinggal di ruangan selain aku.


“Oh, mungkin telah terjadi sesuatu terkait ekspansi dunia kelabu,” jawab Luska.


“Ha? Ekspansi dunia kelabu? Peristiwa apa lagi itu?” tanyaku. Luska bangkit dari kursinya, meregangkan badan sejenak.


“Yang Mulia, saya ingin memperkenalkan tanah leluhur kita dari sisi terbaiknya dulu. Selain itu, saya yakin masih banyak sesuatu yang ingin Anda tanyakan,” jawab Luska. Menatap mukanya saja membuatku yakin aku masih teramat ingin memukulinya sampai babak belur.


“Mari, Yang Mulia! Sebelum matahari tenggelam, masih ada cukup waktu untuk tur eksklusif Anda!”


“Bodo amat! Aku ingin ganti baju dulu,” jawabku bersungut-sungut.


“Eh, kenapa? Padahal Yang Mulia cocok mengenakan gaun ini ... Aduh!”


Tanganku hanya menggampar udara kosong, tapi efek pukulannya cukup sampai untuk mengenai wajah si tukang komentar yang tidak kuminta. Kali ini aku sengaja melakukannya.


“Aku tidak butuh pendapatmu!” balasku ketus, “tolong katakan pada pelayan agar selanjutnya berhenti menyiapkan pakaian yang menyusahkanku!”

__ADS_1


“Dimengerti!” cengir Luska sambil mengelus dahinya, “ngomong-ngomong, kamar Yang Mulia bukan di sebelah sana.”


“Oh,” balasku singkat, berbalik arah sambil menahan malu.


 ***


Aku belum juga keluar dari kamar setelah berganti pakaian sejak satu jam lalu. Kusempatkan mandi dengan pengalaman yang tak jauh beda seperti di menara Aquila, berendam dalam air hangat, tanpa sabun atau shampo, tetapi tetap bersih dan segar. Entah bagaimana air yang merembes dari dinding-dinding cekungan kolam bisa memberi sensasi demikian.


Pelayan perempuan yang melayaniku sejak tadi pagi telah menyiapkan gaun terusan onepiece putih tanpa lengan yang tampak lebih sederhana daripada ballgown merekah merepotkan seperti tadi. Lebih sederhana, tapi tidak mengurangi kesan istimewa karena harus dipakai oleh –aku masih tidak mau percaya– calon ratu penguasa Negeri Putih, diriku sendiri.


Aku masih betah duduk di dekat jendela sambil membaca buku yang kutemukan. Luska mungkin sudah menunggu karena ia bilang akan mengajakku tur keliling-keliling kastel atau museum, tapi tidak, aku sedang mager dan masih teramat kesal padanya. Jadi, daripada aku merasa berdosa karena terus memukuli Luska, lebih baik aku tidak di dekatnya dulu.


Matahari mulai merebah di kaki langit ... eh, bukan, ini kan di atas awan. Jadi, apa ya sebutan yang lebih tepat? Hm, entahlah, intinya sebentar lagi malam dan kerisauan tidak bisa berhenti menggangguku. Bayangkan, sudah malam lagi sementara aku belum memberi kabar kepada orang rumah. Ditambah besok adalah Hari Senin, aku sudah harus masuk sekolah.


“Aaargh! Luska sialan!” umpatku kesal. Aku masih belum bisa berhenti menyalahkannya karena bagaimanapun dialah yang seenak dengkul membawaku ke mari sebelum pamit kepada siapa-siapa. Satu-satunya yang sempat tahu bahwa aku pergi bersama Luska adalah Kak Garuda. Wah, iya, Kak Garuda! Aku masih tidak paham hubungannya dengan semua ini, tapi jelas dia mengenal Luska. Diam-diam aku setuju dengan kata-kata Kak Garuda bahwa Luska memang penculik antardunia paralel yang harus dimassa sampai tak berupa!


Ah, ya ampun! Lupakan hal itu! Sepertinya ada banyak hal yang harus kutahu tentang dunia ini. Pelan-pelan, kucoba menyusun jurnal catatan seperti yang biasa kulakukan di dunia asliku sana. Kutanyakan pada pelayan barangkali ada pena atau buku kosong lagi, tapi ia bilang benda-benda itu sudah lama tidak digunakan. Buku di tanganku ini adalah buku lama kesukaan raja yang terakhir menduduki takhta, yang sepertinya tertinggal di sini.


Semua kegiatan catat mencatat di dunia ini telah digantikan dengan mekanisme input-output data melalui perangkat layar sentuh seperti di ruang konferensi. Sejenak aku paham bahwa meja di ruangan itu juga berfungsi sebagai tablet super besar pengolah data.


Aku benci mengakuinya, tapi aku kagum dengan mutakhirnya teknologi peradaban negeri ini. Mungkin yang demikian juga ada di dunia asalku, tapi kenyataannya tidak semua penduduk bisa menikmati kecanggihan piranti semacam itu. Kenyataannya tidak padaku sendiri. Yah, bisa kutebak aku akan menjadi ratu yang gaptek! Haha, negeri ini akan segera berakhir di tangan ratu seperti itu!


“Izin masuk, Yang Mulia!” kata suara seseorang setelah mengetuk pintu.


“Jika tidak kuizinkan?” balasku mengenali si pemilik suara di luar sana pastilah Luska.


“Saya akan sedih,” jawabnya, “sebab saya sudah menunggu lama tanpa tahu alasan Yang Mulia mengulur-ulur waktu.”


“Bagus, bersedihlah lebih lama,” jawabku tak peduli.


“Maaf atas semuanya, Yang Mulia!” kata Luska tiba-tiba sudah di belakangku.


“Bukankah kau tidak kuizinkan masuk?!” semburku kesal, tapi lagi-lagi Luska hanya tersenyum.


“Pasti semua ini berat dan Yang Mulia kurang bisa menyesuaikan diri, tapi itu semua hanya urusan waktu. Sesuatu yang membuat Yang Mulia mencintai Nigra dan orang-orang di sana pasti adalah waktu panjang yang telah Anda habiskan bersama mereka. Itu sebabnya, saya akan sebisa mungkin membuat Yang Mulia juga mencintai Alba, karena Yang Mulia jelas akan menghabiskan waktu lebih panjang di sini, sepanjang sisa usia Yang Mulia.”


Aduh, aku masih ingin memukul Luska atas kata-katanya yang lagi-lagi terdengar sembarangan, tapi kali ini kutahan karena urat kasihanku sedang berfungsi dengan benar.


“Tolong, katakan kepada siapa pun jangan terlalu berharap padaku!” jawabku sambil menutup buku yang tadi kubaca, “dengan segala keistimewaan yang kudapat, bukan berarti aku ingin menetap di sini! Selain keluarga dan teman-teman yang kusayang, aku juga punya cita-cita yang sudah kususun di dunia asalku dan sedang berjuang mewujudkannya! Berhentilah memaksaku menjadi ratu kalian!”


“Saya mengerti perasaan Yang Mulia! Sekali lagi, ini semua hanya urusan waktu. Silakan katakan apa pun yang Anda suka, tapi perasaan manusia bisa berubah kapan saja,” jawab Luska.


“Memangnya apa yang membuatmu yakin aku bisa betah di negeri yang penuh huru-hara?” tanyaku akhirnya kesampaian membahas hal itu. Senyum Luska sempat memudar beberapa detik.


“Jangan kaupikir aku tidak tahu! Kamu sendiri yang mengatakannya padaku. ‘Demi peradaban ribuan tahun yang telah dibangun leluhur kita, hanya kekuatan Yang Mulia yang mampu meredakan huru-hara'. Karena terlalu sering kudengar, aku tanpa sengaja jadi menghafalnya,” tambahku mengulang kata-katanya dalam mimpiku. Luska belum bersuara, melemparkan tatapannya ke luar jendela.


“Jujurlah, aku dijemput dan dijadikan ratu hanya untuk diperalat ‘kan?”

__ADS_1


.Bersambung.


__ADS_2