Kelabu

Kelabu
#S2 BONUS END : Past or Future?


__ADS_3

Beberapa saat lalu masih kudengar Elang meracau-racau luar biasa senang atas hasil ritual penyegelan yang benar-benar memihak kami, membuka portal kembali ke Nigra dengan aman dan Kak Garuda sepertinya juga berhasil diselamatkan. Beberapa saat lalu juga masih kurasakan dia mengguncang pipiku berulang-ulang, memaksaku bangun hanya untuk kemudian ... ditinggal sendiri di ruang serba putih ini?


Oh, apa sebenarnya aku benar-benar ditinggal? Ngomong-ngomong, aku cukup familier dengan ruang peralihan ini. Ketika pergi dari Alba ke Nigra atau sebaliknya memang sudah lumrah untuk melalui ruangan serba putih itu, tapi ... aku tidak suka tiba-tiba sendiri. Barangkali kami terpisah karena menuju pendaratan masing-masing? Wah, bikin penasaran! Kira-kira aku akan mendarat di mana ya? Di kamar? Di jalan? Atau di tengah-tengah meja makan saat suasana sarapan seperti yang pernah kuharapkan?


Sesaat kemudian bunyi ledakan membuatku terkejut setengah mati. Semakin terkejut ketika pemandangan di sekitarku mulai terisi, bukan hanya ruangan putih monoton, tapi hamparan rumput hijau di halaman yang lumayan lega. Dekat pagar tinggi batas halaman ini terdapat semacam gawang mini, dinaungi teduhnya pohon mangga dengan ayunan di salah satu dahannya. Di bawah pohon itulah suara ledakan tadi berasal.


“Hayo, Gar! Kamu beli petasan ya!” seru seorang bocah sambil berkacak pinggang, memelototi bocah lain berseragam SD yang masih belum meletakkan tasnya, “kubilangin papa, loh! Dasar nakal!”


“Eh? Bukannya Aang juga pengin main petasan setelah dipameri Dinara waktu itu?”


Aang? Gar? Garuda? Sebisa mungkin kutahan tawa ketika menyadari satu hal. Ini masa lalu mereka ya? Terlepas dari keherananku atas apa pun yang membuatku menonton adegan ini, aku lebih ingin bergabung mengobrol dengan dua bocah cilik yang wajahnya masih ... Ampun, deh! Sebuah kebohongan besar bila kubilang mereka tidak menggemaskan. Mereka masih kanak-kanak dan lucu. Terlebih si Aang kecil itu! Entah kenapa aku tidak percaya ia tumbuh menjadi laki-laki sok sangar yang mengundang lemparan sandal, bikin sebal!


“Si ... siapa yang pengin main kayak gitu!” kilah Aang.


“Abang tahu, kok! Kata Dinara, Aang juga diam-diam ngambil kembang api punya dia ya ‘kan? Enggak boleh gitu, tahu, Ang!”


“Habisnya Dinara pelit! Aang minta baik-baik enggak dikasih!”


“Makanya Aang minta sama Abang aja!”


“Tapi Aang enggak suka yang meledak! Kata papa yang kayak gitu bahaya, tahu! Aang maunya kembang api yang panjang! Lebih panjang dari punya Dinara!” kata si kecil itu. Aku masih menahan-nahan diri agar tidak menculiknya.


“Iya, nanti-nanti kita beli ya! Sekarang Abang cuma sempat beli yang pendek, nih! Buat dinyalain nanti malam ya!” kata si abang merogoh sesuatu dari tasnya dan si adik demi melihat satu pak kemasan kembang api berukuran sedang itu berbinar kagum.


“Banyak banget!” serunya antusias, “makasih ya, Gar!”


“Heh, panggilnya Abang, dong!” protes Kak Garuda kecil.


“Punya Garuda yang bisa meledak gitu namanya apa?”


“Bandel bener, udah disuruh panggil Abang!”


“Aang boleh cobain juga, enggak?” tanya bocah itu tak menggubris protes abangnya.


“Boleh! Tapi lemparnya jauh-jauh ya! Juga jangan bilang-bilang papa ya!” kata Kak Garuda membuat kesepakatan yang disetujui anggukan Aang. Sekali dua kali coba, tidak ada suatu hal mengkhawatirkan. Hingga akhirnya salah satu petasan yang dilempar belum juga meledak setelah keduanya menutup telinga selama beberapa saat. Penasaran dengan yang terjadi, keduanya mendekati petasan bekas yang tidak jadi meledak itu.


Oh iya, ngomong-ngomong soal petasan dan kembang api ... Aku baru ingat satu hal menarik yang sempat diceritakan Kak Garuda. Elang takut benda-benda itu ‘kan? Dan bila tebakanku benar, kejadian berikutnya adalah penyebabnya. Ketika keduanya berjongkok mengamati petasan yang dikira tidak lagi meledak itu, ternyata ... Dor! Kak Garuda refleks mendorong Aang dan memakan ledakan itu sendiri. Entah petasan jenis apa yang membuat efek ledakan itu dapat melukai Kak Garuda. Ia tampak meringis kesakitan sambil memegangi kening kirinya sementara Aang menatap horor penuh ketakutan.


Yah, padahal Kak Garuda yang kena, tapi tebaklah siapa yang mengalami trauma? Sebenarnya aku terkejut mengetahui orang seperti Elang ternyata juga bisa trauma! Hehe!


“Ang, mau tahu, tidak? Alis kiriku hilang, loh!” kata Kak Garuda suatu waktu mencoba menghibur adiknya –dia pikir itu lucu. Sayangnya, dengan perban masih menempel di kening kirinya yang hampir menyentuh mata itu hanya malah membuat Aang kecil berkaca-kaca.


“Abang ... Aang minta maaf ....”


Senyum Kak Garuda terbit, “Akhirnya dipanggil Abang juga!”


Setelah itu adegan masa kanak-kanak keduanya berganti. Masih di kediaman Dirgaraja, tapi kali ini Elang bukan lagi bocah lima tahun, sudah tidak berpipi bulat kemerahan seperti di adegan sebelumnya, sama sekali berbeda. Perawakan dan suaranya telah sama-sama membesar. Wajah uring-uringan khas itu juga bukan sesuatu yang asing kulihat darinya.


“Papa sudah pernah cek. Materi ini ada di video bimbel online-mu, di catatan kamu sendiri juga ada. Jangan dikira Papa hanya sibuk dengan pekerjaan sampai tidak memerhatikan hal sekecil ini,” kata pria paruh baya geleng-geleng kepala melihat kertas ulangan dengan coretan tinta merah di sana-sini, “tapi kelihatannya kamu tetap tidak bisa ya, Ang? Papa betul-betul heran, bimbel seperti apa lagi yang sekiranya manjur buat mendongkrak belajarmu?! Habisnya anak Papa yang satunya tidak pernah ikut bimbel, tapi selalu bikin bangga tiap ambil rapor.”


Aku tak bisa melihat wajah Elang yang membelakangi papanya, tak tahu kekesalan seperti apa yang tergambar di wajahnya, tapi kepalan tangan yang semakin mengeras itu tidak bisa ia sembunyikan.


“Garuda ya Garuda, Aang ya Aang, Pa ... mana bisa dipaksa biar sama!” bela perempuan yang segera bangkit mengelus pundak putranya.


“Paling tidak usaha Aang harus bisa dipaksa biar sama seperti abangnya!”


“Kalau Papa mau perhatikan, Aang sudah berusaha melebihi Garuda. Bimbel online, kelas tambahan, apa pun yang Papa inginkan sudah Aang turuti sampai dia tidak pernah ikut ekskul dan kegiatan kesukaannya.”


“Dan Mama tidak mempertanyakan apa yang salah dengan anak ini? Setelah semua itu ia bahkan tidak ....”


Perempuan itu menutup telinga Elang meski suara papanya mungkin masih tetap terdengar.


“Jangan dengarkan,” katanya. Kertas ulangan tadi kembali berpindah ke tangan Elang.


“Remedinya dikumpulkan besok ‘kan? Sana minta tolong abang biar bantu ajari Aang.”


Perempuan bermata teduh itu tersenyum dengan kesan yang juga meneduhkan hati. Aku sedikit lega mengetahui ibu keluarga Dirgaraja ini bersifat demikian.


“Mana bisa begitu? Sukanya mengganggu Garuda yang juga sedang sama-sama belajar! Papa tak habis pikir, kenapa Mama selalu membela anak ini?!”

__ADS_1


“Sssttt! Mama juga heran dengan Papa yang selalu membela Garuda padahal Garuda sendiri tidak pernah keberatan diganggu adiknya.”


Tanpa banyak bicara lagi Elang segera pergi. Mungkin tak tahan dengan cekcok itu, mungkin ingin cepat-cepat mengerjakan tugas remedinya, atau mungkin juga tak tahan dengan keadaannya sendiri. Ia enggan mengetuk pintu terlebih dahulu atau mengucap permisi ketika masuk kamar kakaknya, seperti kebiasaan Maurin dan mungkin kebiasaan kaum para adik di seluruh dunia. Kak Garuda tertangkap pandangannya sedang bersila main PS, belum menyadari keberadaan Elang karena sedang seru-serunya.


“Gar ... Kamu enggak belajar?” tanya Elang masih mematung di ambang pintu.


“Oh, Ang? Heheh, udah, sih!” jawab Kak Garuda singkat.


“Masa? Kapan?”


“Udah, kemarin belajar, minggu-minggu lalu kan juga udah belajar ... Ah, last boss! Sebentar ya, Ang, tanggung, nih!”


Elang sempat terdiam beberapa saat memandangi punggung kakaknya. Barangkali ada segaris perasaan iri yang ingin ia tutup-tutupi.


“Gar ... gimana, sih, caranya bisa belajar sambil tetap main-main?” tanyanya lirih yang mungkin dikalahkan suara audio game, “dan tetap bisa bikin papa bangga ....”


Jawaban dari Kak Garuda hanya sorakan ricuh setelah berhasil memenangkan game. Sesaat kemudian perhatiannya kembali pada adiknya di depan pintu.


“Eh, iya, gimana? Kamu bilang apa tadi, Ang? Pasti ada perlu sama aku ‘kan?”


“Enggak ... Enggak, kok!” jawab Elang menyingkir dari ambang pintu, menutupnya kembali. Barangkali ada segaris perasaan iri yang ingin ia tutup-tutupi ... dan di kemudian hari segaris perasaan itu bersama kekecewaannya sendiri tumbuh subur, menggumpal semakin gelap, menjadi undangan bagi Lupus untuk datang pada suatu malam.


Persis seperti yang diceritakan Elang mau pun Kak Garuda, kejadian malam itu menjadi tontonanku kali ini. Urut dari semenjak Kak Garuda membawa kabar telah diterima di universitas ternama tanpa tes, sementara papa mereka yang tahu Elang pernah menginginkan suatu jam tangan, tapi tak kunjung mengabulkan dan sekarang jam itu dihadiahkan untuk Kak Garuda di depan Elang sendiri, disengaja, seolah mencolok mata.


“Papa bukannya pilih kasih, Ang ... tapi ketika kamu menginginkan sesuatu ... Sebaiknya kamu juga memantaskan diri,” kata orang tua itu setelah Kak Garuda pergi.


“Apa Aang juga tidak pantas untuk dihargai, Pa?” tanya Elang serak, menahan segumpal perasaan di tenggorokannya yang nyaris meledak, “Kupikir itu telah menjadi hak yang melekat sebagai statusku yang tertera di kartu keluarga. Bila Aang tidak pernah mendapatkan hak itu, maka sejatinya hanya ada satu anak di keluarga ini ... sisanya entah disebut apa.”


Tatapan keduanya sempat beradu sengit untuk beberapa saat. Milik Elang lebih tampak tercampur-campur dengan bermacam perasaan yang tak hanya kecewa. Dengki, frustrasi, minder, semuanya ... termasuk tampaknya mata Lupus di balik sorot redup itu, mengembuskan sebersit ide terkutuk ketika hanya gelap yang ada di kepalanya.


Aku tak percaya harus menyaksikan kejadian ini sendiri, ketika Elang lagi-lagi menyelinap masuk ke kamar Kak Garuda saat si pemilik kamar tertidur pulas di atas meja belajarnya. Tatapan Elang masih sama redup ketika ia setengah sadar memungut pisau cutter demi melancarkan ide terkutuk itu. Mungkin dia masih terlalu muda untuk mengetahui risikonya atau mungkin ia memang telah gelap mata.


“Andaikan kau tak pernah terlahir, Gar ... atau seandainya detik ini juga kau berakhir ....”


Itu bukan kata-kata Elang ketika mata serigala yang terlihat darinya ketika pisau itu menempel di pergelangan tangan Kak Garuda. Ia baru kembali dalam kesadarannya sendiri saat Kak Garuda terbangun dan mencekal tangan yang memegang pisau itu.


“Eh? Kupikir tadi itu cuma mimpi!” katanya menyadari Elang masih terduduk lemah di lantai dengan pisau cutter yang belum ditutup di tangannya.


“Ang ... tadi itu bukan kamu ‘kan?” tanya Kak Garuda mengangkat wajah Elang yang menunduk, memaksa pandangan mereka saling temu.


“Ternyata memang bukan ya!” ujarnya setelah melihat mata serigala dari mata Elang.


“Berhenti meremehkanku lagi setelah ini!” kata Elang menarik kasar kerah Kak Garuda.


“Aku tidak kenal, tapi siapa pun kamu ... Tolong, jangan ambil adikku,” jawab Kak Garuda menanggapi perlakuan itu dengan senyum.


“KENAPA KAU MASIH MENYEBUTKU ADIK SETELAH AKU BERNIAT MEMBUNUHMU!”


Cara Kak Garuda menyentil dahi Elang berikutnya sama seperti yang biasa Elang lakukan padaku. Hanya dengan begitu Elang jatuh pingsan di depan kakaknya.


“Guncangan emosi masa transisi memang satu-satunya hal yang bisa kaumanfaatkan dari Aang, tapi jika kau mengambilku ... Aku punya kecerdasan dan kegantengan yang tidak dimiliki Aang, yang bisa kaumanfaatkan sesukamu! Seluruh jiwa dan ragaku ini rela kuberikan asal kau tidak menggunakan Aang ....”


Kata-kata Kak Garuda teramat jauh dari kesan persuasif, tapi entah kenapa iblis yang ada di tengah-tengah merek tetap saja merespons.


“Katakan bahwa kau memang menerimaku tanpa syarat apa pun ...” jawab suara serak yang sama sekali bukan suara Elang.


“Aku menerimamu dengan suka rela tanpa paksaan, tanpa imbalan ... Pindahlah dari jiwa adikku!” jawab Kak Garuda.


“Katakan dalam hati bahwa kau memang mengundangku masuk ke dalam jiwamu!”


Kak Garuda memejamkan mata sejenak. Ada perasaan sedih yang memberontak dalam dadaku ketika menyaksikan hal itu, menyaksikan seluruh rangkaian situasi penyebab terjadinya hal ini.


“Sudah ...” jawab Kak Garuda, “sudah kuhayati betul-betul ... dan selamat datang!”


Tidak! Bagaimana Kak Garuda melakukan semuanya tanpa berpikir dua kali? Apa yang sempat ia pikirkan demi menukar jiwanya dengan keselamatan Elang?! Tak bisa disamakan denganku, aku sendiri mungkin harus berpikir berulang kali seandainya berada di posisi Kak Garuda. Tanpa tahu wujud air mataku atau bahkan wujudku sendiri yang menonton semua adegan ini dari awal, aku ingin menangis haru atas semua pengorbanan Kak Garuda.


Namun, ini semua hanya kilas balik ‘kan? Dua bersaudara itu sekarang sama-sama selamat ‘kan? Setelah perasaan sedih sekaligus haru ini menyingkir dariku, aku ingin menemui keduanya dan bilang, “Kalian berdua rukunlah selalu!” sambil menjitak kepala Elang agar dia memanggil kakaknya dengan sebutan yang pantas.


Tenang saja, ini semua hanya kilas balik, sepotong memori Elang yang tidak diketahui banyak orang, yang ternyata di balik ekspresi garangnya itu menyimpan semua kemelut ini. Tidak apa-apa, tidak masalah bagiku untuk mengetahuinya. Dia yang kukenal adalah dia yang sekarang. Tak peduli sekelam apa pun masa lalunya, itu hanya catatan hitam yang lumrah dimiliki banyak orang, yang pastinya kumiliki juga.

__ADS_1


Kuhela napas lega setelah sensasi kesemutan terasa menjalar di seluruh tubuh. Aku merasakan tubuhku lagi setelah sedari tadi hanya menjadi kamera tak kasat mata yang merekam potongan adegan kilas balik itu. Aku bisa melemaskan leherku lagi, melentukkan jemari, mengayun-ayunkan kaki. Posisiku saat ini duduk di sebuah selasar bangunan semacam ... kantor? Kutebak demikian karena lalu lalang orang-orang di sini berpakaian rapi dan bersepatu pantofel, benar-benar dandanan khas pegawai kantor. Beberapa tampak membawa map, melempar senyum ramah.


Kemudian entah datang dari mana, bocah laki-laki setinggi setengah paha sengaja menabrakku –atau memelukku? Eeeh?! Ini, sih, muka bocahnya Elang! Tapi mata bulat coklat yang jernih itu bukan milik Elang, bukan. Terlebih senyum cerahnya yang hangat seperti matahari pagi. Aku ingat Aang kecil terlihat menggemaskan karena wajah ketus dan pipi bulatnya, bukan karena sikap ceria dan senyum imut seperti ini.


Mengoceh dengan cara bicaranya yang cadel, bocah ini memaksaku keluar, menunjuk-nunjuk taman di pelataran gedung. Tanpa bisa menolak, aku mengikutinya yang menarik tanganku penuh antusias. Sebenarnya ini adik siapa? Semoga aku tidak disangka penculik dengan bermain-main bersamanya.


Hiperaktif, bisa kukatakan demikian. Setelah kuturuti mendekati kolam air mancur di tengah taman, ia naik ke tepi mangkuk raksasa itu dan berlarian memutarinya. HEH! NANTI KALAU SAMPAI TERCEBUR BAGAIMANA?! Ketika kuminta turun dia malah mencopot sepatunya dan mencelupkan kaki ke dalam kolam, mengusir kawanan ikan koi yang berenang-renang.


“Aduh, adik kecil! Maksudku turun ke sini! Bukan turun ke dalam kolam!” ujarku cepat-cepat mengentasnya. Kolam dangkal itu hanya membasahi ujung celana pendeknya. Dengan kaki telanjang, ia lanjut berlarian ke sana sini memaksaku turut mengejar. Aku sudah lupa rasanya punya adik kecil, tapi seingatku Maurin dulu tidak seperti ini! Tidak sama sekali!


“Eh, su ... sudah ya, adik kecil! Kita kembali ke dalam! Ayo, panas, nih!” bujukku. Beruntungnya dia setuju ... sekaligus mengajakku balapan mencapai pintu depan gedung. Aku terlambat memulai langkah ketika bocah itu sudah ambil langkah seribu, kembali ke gedung lantai tiga yang sekarang terlihat jelas dari posisiku di tengah pelataran. Deretan huruf yang sepertinya nama perusahaan kantor ini terpajang di dinding lantai teratas bangunan seperti mahkota kebanggaan, kueja lambat-lambat ... Dirgaraja Group.


Dirgaraja Group, kuulangi lagi. Aku tidak salah baca ‘kan? Apa ini masih di kilas balik masa lalu Elang? Lalu laki-laki berjas yang bicara dengan ponsel di telinganya, melangkah keluar dari pintu depan itu siapa? Perhatianku yang sempat teralih dari bocah tadi kembali tertuju padanya setelah teriakan bersambung dengan pecah tangis kencang –kencang sekali– juga merebut perhatian laki-laki itu. Jatuh terguling-guling di tangga saat naik ke teras depan, wajar bila bocah ini menangis tanpa bisa didiamkan.


“Sshhh ... Hei, cup, dong, Jagoan! Puk puk ... Mana yang sakit, mana? Sini kakak tiup,” ujarku berusaha menenangkannya. Lelaki yang setengah jalan di teras tadi juga cepat-cepat menghampiri kami, menggendong bocah ini lalu mendelik marah kepadaku.


“Kamu benar-benar enggak bisa jaga anak ya?! Selalu saja jatuh kalau sama kamu!”


Ha?! Sejak kapan aku bertanggung jawab menjaganya?!


“Ssshhh ... Sudah, sudah, cup! Aduh, ini yang sakit? Iya, iya ... Papa elus gini udah enggak sakit ‘kan? Duh, Mama emang enggak becus ya!”


Eh?


HEEEEEHHH???!!!


Otakku sampai terkentut-kentut demi memahami situasi ini, selama beberapa saat hanya tertegun membanding-bandingkan wajah keduanya yang teramat mirip –sama-sama mirip Elang. Heh, mereka ini siapa?! Kenapa aku bisa ada di sini dan bertemu orang-orang ini?! Elang yang masih seumuran denganku di mana?!


Tetap mematung ketika laki-laki itu membuka pintu mobil berwarna silver yang berhenti di depan kami, aku baru tersadar setelah dia menyalak keras.


“MALAH BENGONG! Cepat masuk! Kita pulang!”


Pulang, ini memang dunia asal tempatku seharusnya pulang, tapi ....


“KENAPA BISA BEGINIII???!!!”


.Tamat.


Author : Udah ya, betulan tamat ini.


Elang : Iyeehh akhirnyaa. Setelah satu musim yang penuh fanservice😥


Garuda : Loh? Beneran selesai? 😏Tapi judul episode ini ... past or future? Kayak nawarin spin-off lagi gitu ya? Masa cuma aku yang nyadar?


Elang : Kamu sukanya manjang-manjangin cerita, deh, Gar!😑


Garuda : Mweheh


Shira : Thor, klarifikasi, dong? Gimana jadinya, nih?


Author : Eh? Um ... gini, jadi sebenarnya aku mau fokus ke judul sebelah yang udah kutelantarin dan nggak nyampe deadline bulan lalu ... atau mungkin next project yang kujanjiin sama Kevin. Halo? Ada yang inget Kevin di episose pertama musim ini?


Kevin : cuma nengok lanjut ngacir


Garuda : Yah 💔tapi biasanya tergantung request pembaca juga kan? heheh


Elang : Lagian apa sih yang masih mau diterus-terusin dari series ini?


Shira : Aang selalu nggak pernah antusias soal kelanjutan cerita ini ya?


Elang : Kamu antusias? Eh? Heh! Yang panggil Aang cuma orang-orang di keluarga!


Garuda : Shira nggak boleh jadi bagian dari keluarga kita?


Elang : Maksudnya apa cobaaa?!


Shira : Eh, udah, dong! Kita masih dibaca temen-temen, nih! Makasih atas antusiasme teman-teman yeng terus mendukung dan membaca kisah kami🙆


Author : Kalau temen-temen kangen sama kita boleh intip instagram @ngglendhemi_i karena aku berniat meramaikannya dengan apa pun tentang Kelabu –ilustrasi, quotes, cuplikan adegan, dan keseruan lainnya^^ Last but not least, thanks a lot guys! Semoga next project bisa lebih menghibur lagi :*

__ADS_1


__ADS_2