
“Baru lima belas menit dimulai dan kamu sudah log out, Shira?” tanya Miss Zahira.
“Iya, Miss,” jawabku.
“Sudah yakin dengan jawabanmu?” tanyanya lagi.
“Um, saya pasrah, Miss.”
Guru berdarah blasteran Indo-Australia itu terkekeh pelan.
“Sayang sekali, seandainya kamu mau lebih teliti kamu bisa dapat nilai sempurna,” jawab beliau kemudian berjalan ke mejaku, menunjukkan hasil ulangan bahasa inggrisku dengan sistem CBT dari ponselnya. Sembilan persis, tidak kurang dan tidak lebih. Yasinta di sampingku ber-puh keras.
“Berapa nilainya, Yas?” tanya Rifani.
“Jangan, nanti kamu iri!” jawab Yasinta.
“Kalian memang harus iri, kalian masih punya banyak waktu. Kerjakan dengan teliti hingga waktu benar-benar habis. Kalian pasti bisa melampaui nilai Shira,” kata Miss Zahira. Tak lama setelah itu Ardian tampak meregang badan.
“Wah, saya baru saja bicara untuk mengerjakan dengan serius. Kamu juga ikutan log out, Dian? Saya harap kamu tidak menyesal mengetahui nilaimu,” kata Miss Zahira.
“Percuma saja, Miss. Saya hanya sedikit mengerti materi ini, meski dikerjakan hingga besok, kalau sudah tidak mengerti, nilai saya ya hanya akan seperti itu. Lebih baik saya log out dari pada menunggu sontekan jawaban,” jawab Dian.
“Saya hargai kejujuran kamu, Dian. Belajarlah lebih tekun lagi agar kamu bisa mengerjakan dengan kemampuanmu sendiri dan mendapat hasil yang bagus.”
“Baik, Miss. Bolehkah saya keluar?” tanyanya.
“Boleh, tapi jangan mengganggu kelas lain ya!”
Tak lama setelah itu, Elang juga berdiri dari kursinya.
“Saya juga sudah selesai, Miss. Saya izin ke perpustakaan,” katanya.
“Silakan, Lang!”
Aku terdiam melihat Elang keluar sambil membawa buku kuno bersampul coklat tua itu. Ah! Pesan balasan dari Sekti!
“Shira, kamu juga boleh keluar jika kamu ingin,” kata Miss Zahira menyadarkanku dari lamunan.
“Eh? Iya, Miss,” jawabku buru-buru keluar menyusul Elang, segera menjajari langkahnya yang menelusuri sepanjang koridor menuju perpustakaan. Kami sempat berpapasan dengan Ardian di kantin yang sepertinya sedang sarapan. Dia menawarkan kami coklat panas. Aku menggeleng, Elang juga. Ini bukan waktu yang tepat untuk bersantai.
“Hei, sejak kapan kamu bisa melihat tulisan dalam buku itu?” tanyaku. Aku ingat waktu itu hanya aku sendiri yang seperti orang bodoh menganggap bahwa buku itu tidak kosong.
“Beberapa hari yang lalu, setelah aku memasuki dunia kelabu. Saat itu aku melihat Rihana menulis puisi untuk mading di lembaran kertas ini. Sangat aneh melihatnya menulis di atas kertas yang sudah dipenuhi tulisan, tetapi Rihana mengatakan kalau kertas ini kosong. Aku mulai mengerti kalau aku bisa melihat tulisan yang kamu lihat waktu itu,” jelas Elang.
“Lho? Berarti satu lembar dari buku ini sudah robek?”
__ADS_1
“Aku sudah menghimpunnya lagi. Kukira itu sangat penting meski aku belum bisa membaca isinya.”
“Wah, kalau kamu maupun aku sama-sama belum bisa menerjemahkan isinya, bagaimana kita bisa mengerti pesan balasan dari Sekti?” tanyaku.
“Untuk itulah aku pergi ke sini,” kata Elang. Kami tiba di perpustakaan. Pintunya tidak dikunci tanpa ada yang menjaga. Mungkin Pak Hanri sedang ada kelas.
“Apa di sini ada penerjemah bahasa buku ini?” tanyaku. Elang menatapku malas.
“Mana ada yang seperti itu!” jawabnya kembali ke mode tidak ramahnya, “kita butuh banyak informasi. Kurasa tempat ini cukup memadai.”
Aku memilih duduk, membiarkan Elang memilah-milih buku. Buku kuno yang ia tinggalkan di meja kubuka-buka iseng. Tulisan-tulisan aneh ini masih ada dan sekarang tidak hanya aku yang bisa melihatnya. Elang belum juga kembali dari rak paling belakang, entah masih mencari buku apa.
“Apa, sih, yang kamu cari? Bilang, dong! Aku di sini juga berkepentingan, jadi biarkan aku membantu!” ujarku menyusulnya. Elang hanya berdecak pelan.
“Jangan berisik! Bantu aku cari Ensiklopedia Sejarah Indonesia!” katanya. Sejarah Indonesia? Buat apa?
“Kenapa tidak dicari lewat katalog? Kan lebih mudah begitu,” jawabku.
“Eh? Memangnya ada? Kenapa tidak bilang dari tadi?!”
“Ya ada! Makanya bilang, dong!” jawabku. Sebagai mantan anggota ekskul literasi —yang sekarang sudah bubar— tentunya aku memiliki data digital semacam katalog perpustakaan.
“Ada selusin lebih buku yang seperti itu, Lang. Kamu mau yang mana?”
“Yang mana saja. Ada di mana?” tanyanya tidak sabar.
“Terserahlah, aku tidak peduli!” jawab Elang kemudian pergi ke tempat yang kumaksud. Aku mencibirnya kesal.
Ia mencabut salah satu buku Seri Sejarah Indonesia jilid ke sekian. Jujur saja aku belum tahu informasi apa yang dibutuhkan Elang.
“Daripada membandingkan aksara itu dengan ribuan aksara yang ada, aku lebih tertarik mencari latar belakang sosok Sakti dan Sekti,” katanya mulai menjelaskan, “aku ingin tahu situasi zaman ketika mereka masih hidup. Dengan menemukan titik waktunya, kita akan lebih mudah mengetahui bahasa apa yang digunakan pada zaman itu.”
“Apa kamu yakin mereka dari Indonesia?”
“Nama mereka tidak terdengar seperti nama orang asing, Shir. Aku yakin mereka dari kepulauan Nusantara dan kalau tidak salah ... kalau tidak salah mereka hidup pada zaman enam ratus tahun lalu,” kata Elang. Aku terkejut mengetahui Elang bisa menyimpulkan banyak hal seperti ini, juga terkejut mengetahui ternyata Elang bisa berdamai denganku.
“Aku juga tahu mereka berdua sudah ratusan tahun terjebak di dunia kelabu itu, tetapi dari mana kamu memastikan kalau mereka hidup enam ratus tahun yang lalu?” sanggahku.
“Masih ingat ketika aku bertanya ada berapa jumlah monster pembantu di sana? Sakti menjawab melalui suatu perhitungan, enam ratus dibagi enam puluh dikali dua.”
“Lalu?”
“Kukira kamu mulai mengerti, perhitungan itu jelas ada artinya. Sejak enam ratus tahun lalu, setiap enam dekade, ada dua jiwa yang tidak bisa meloloskan diri dari sana, berakhir di tangan monster Sekti dan menjadi pengikutnya. Begitulah maksudnya!”
Puh, aku menepuk jidatku.
__ADS_1
“Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu!” jawabku.
“Sebab kamu memang tidak sepintar kelihatannya,” jawab Elang pedas. Aku menertawai diri sendiri. Elang tetaplah Elang. Mana bisa?! Mana bisa dia berdamai denganku?! Kata-katanya selalu bisa jadi amunisi perang.
“Baiklah, lalu ada peristiwa apa enam ratus tahun lalu? Abad ke-15? Kedatangan bangsa Belanda?”
“Bukan, Belanda pertama kali mencapai kepulauan Nusantara tahun 1596. Sudah terlewat satu abad.”
“Lalu siapa? Inggris?”
“Tolol! Inggris justru tiba pada abad ke-17. Apa pengetahuanmu demikian dangkalnya?”
“Maaf, nilai Sejarah Indonesiaku C,” jawabku malas.
“Aku tidak akan bangga jika jadi kamu,” balasnya cuek.
“Aku juga tidak bangga, kok!” seruku kesal. Oh, ya ampun, jika seperti ini keadaannya bagaimana kami bisa berdiskusi baik-baik dan menemukan jalan keluarnya?!
Pada akhirnya kami berdua lebih sering mendebatkan hal-hal tidak penting daripada mencari informasi. Lupakan soal pada masa kapan si kembar Sakti dan Sekti hidup. Elang justru menceramahiku soal penjelajahan samudera oleh bangsa Eropa. Bukan sekali dua kali dia mengataiku bodoh atau ***** hanya karena kesalahan sepele —seperti salah menyebutkan nama penjelajah samudera dari Portugis.
“Berhenti mengataiku bodoh, Lang! Aku hanya tidak tertarik mengetahui hal-hal itu! Lagi pula aku anak MIPA. Meski susah minta ampun, fisika kuantum lebih menarik daripada cerita-cerita sejarah itu!” balasku.
“Ini pengetahuan umum, Shir, anak SMP bahkan sudah tahu. Kuncinya hanya membaca. Ini juga mapel wajib, anak MIPA juga harus tahu,” katanya. Aduh! Aduh! Kututup telingaku rapat-rapat. Benar 'kan?! Akhirnya dia lupa tujuan awal membuka ensiklopedia itu.
“Cukup, Lang, aku mau kembali ke kelas,” ujarku beranjak dari kursi, enggan berdebat lebih panjang lagi.
“Ya sudah, aku juga mau kembali,” jawabnya ikut berdiri dan menutup buku.
“Kenapa? Kamu tidak bisa menemukan informasi itu sendiri? Kukira kamu serba tahu,” jawabku setengah menyindir.
“Setelah kupikir-pikir, bertanya langsung kepada Sakti lebih baik daripada repot-repot begini,” jawabnya.
“Benar 'kan dugaanku?! Dari tadi kamu memang hanya sengaja mengajakku bertengkar! Buang-buang waktu saja!” seruku kesal segera berbalik.
“Aku tidak berniat begitu ....“
“Sudahlah, diam!” bentakku kasar. Eh? Kenapa aku jadi temperamen begini?! Aku menoleh ke belakang demi mendapati Elang terdiam menatapku.
“Aku tidak bermaksud begitu,” ujar kami bersamaan. Aku terkejut Elang juga berkata demikian. Beberapa detik yang hening menelan kami. Tidak, bukan berarti aku merasa bersalah karena telah membentaknya barusan —yang harusnya merasa bersalah adalah dia. Entahlah, rasanya begitu aneh ketika emosi tiba-tiba terlepas begitu saja. Eh, sepertinya sama saja!
“Cukup, Shir,” kata Elang terlihat sekali tidak tahu harus berkata apa, “kamu benar, ini hanya buang-buang waktu,” ujarnya kemudian menyerahkan buku kuno itu kepadaku, “ini milikmu, rahasia jalan keluar di dalamnya juga untukmu, bukan untukku.”
“Maksudku bukan ....“
“Percuma saja aku ikut mencari tahu. Cepat atau lambat kamu bisa mengerti isinya tanpa bantuanku. Berhenti meyakinkanku kalau aku juga bisa keluar dari sana,” katanya kemudian pergi berlalu sebelum aku sempat membalas sepatah kata pun.
__ADS_1
Aku hanya membisu, meremas tepian meja. Dia marah, tak berminat memecahkan misteri ini lagi, atau dia putus asa, seolah tahu bagaimana kisah ini berakhir seperti seharusnya.
.Bersambung.