
Aku menatap bosan rintik air yang menetes di jendela. Beberapa menit yang lalu hanya gerimis, sekarang berubah menjadi guyuran hujan deras. Kebanyakan temanku senang karena upacara hari Senin dibatalkan. Kabar buruknya, jam pertama, biologi, eksperimen di laboratorium juga dibatalkan. Padahal aku sudah antusias sekali. Rangkuman yang harusnya dibahas minggu depan jadi harus dibahas sekarang.
“Letakkan catatan di atas meja!” perintah Bu Listiyah, kemudian memeriksa satu per satu catatan murid. Aku hanya pasrah.
“Apa ini, Ra?” tanya Yasinta.
“Diamlah, Yas,” jawabku. Yasinta hanya bengong melihat pekerjaanku. Sebagian besar temanku adalah anak-anak rajin yang sudah jauh-jauh hari menyelesaikan rangkuman meski penilaiannya seharusnya minggu depan.
“Shira, ibu tidak ingin dengar kamu belum merangkum apa pun, tunjukkan catatanmu!” kata Bu Lis.
“Ini, bu,” jawabku menyerahkan selembar kertas gambar A3. Di dalamnya tergambar peta konsep berwarna yang menyenangkan untuk dilihat —menurutku.
“Apa ini?!”
“Itu peta konsep, bu,” jawabku santai.
“Perintah saya adalah membuat ringkasan materi, bukan gambar-gambar begini!” jawab beliau marah. Beberapa anak menertawaiku.
“Ini jauh lebih ringkas, bu. Lebih mudah dipelajari. Saya lebih mudah memahami materi dengan metode ini daripada menulis ulang yang sudah ada di buku.”
“Oh, kamu mau bilang kalau metode saya merepotkan? Baguslah, kamu tetap pembangkang seperti biasa, kalau begitu saya juga akan memberimu nilai dengan metode saya juga. Jangan menangis kalau ada nilai D di rapotmu, Nak!”
Bagaimana bisa begitu? Protesku dalam hati.
“Jangan mentang-mentang kamu pintar lalu kamu mau melangkahi saya! Sekolah ini tidak hanya menilai dari kertas ulangan, tapi perhatikan juga tingkah lakumu yang kurang ajar itu! Orang genius tidak akan sempurna tanpa mengerti adab dan sopan santun!”
Tunggu, kenapa jadi salah paham begini?!
“Maaf, bu ... Tapi Anda ....“
“Saya tidak mau dengar apa pun lagi, Shira! Ini ketiga kalinya kamu menyeleweng dari tugas yang saya berikan. Saya tahu kamu tidak suka pelajaran saya, kamu boleh berdiri di luar!”
“Bu ....”
“Keluar sekarang juga!”
“Bolehkah saya ke perpustakaan? Daripada saya hanya berdiri tidak jelas di koridor,” pintaku. Bu Lis tidak menjawab apa-apa. Kuanggap itu jawaban iya. Seluruh pasang mata memperhatikanku keluar dari kelas. Yasinta tampak mengasihaniku, tetapi aku tidak peduli. Ini bukan pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini.
Hujan beserta angin masih menggila. Perpustakaan berada di gedung seberang. Aku harus menyusuri sepanjang koridor kelas dua belas IPS agar tiba di sana. Ya sudahlah, tidak apa-apa, daripada hanya bengong di sini. Rintik air yang terbawa angin menimpa wajahku. Jasku tertinggal di kelas, udara dingin menyelusup sempurna di setiap syarafku. Melintas di tempat ini membuatku teringat dunia kelabu dalam mimpiku.
Terakhir kali aku berada di sana tidak terjadi kejar-kejaran dengan monster jelmaan Sekti. Aku aman dalam bilik bersama Sakti dan Elang —yang entahlah apa dia memimpikan hal yang sama? Aku belum menanyakannya. Rasanya kunjungan terakhirku di sana cukup menyenangkan, tapi kondisiku sekarang tidak. Meski aku tidak peduli apa pun perlakuan orang kepadaku, tetapi tetap saja, terusir dari kelas itu bukan hal yang menyenangkan.
Aku pun tiba di perpustakaan.
“Halo, Shira! “ sapa penjaga perpustakaan sekaligus guru bahasaku itu, Pak Hanri.
“Bapak tidak mengajar pagi ini?” tanyaku. Guru muda ini tersenyum ramah.
“Saya baru ada kelas nanti setelah istirahat pertama,” jawab Pak Hanri, “kamu ada perlu apa ke mari? Atau sedang jam kosong?”
Aku menggeleng.
“Ah, ada masalah lagi ya?” tebak beliau seratus persen benar. Melihat wajahku yang mendung begini beliau tentu tahu apa yang baru terjadi.
“Kamu yang sabar ya! Menuntut ilmu memang tidak mudah, selalu ada rintangan dan ujian,” tutur Pak Hanri, “bahkan bagi anak yang terberkati seperti kamu, ujian tulis adalah hal yang mudah bagimu, jadi mungkin beginilah ujian yang harus kamu hadapi, ujian sosial, kamu harus tabah.”
Aku mencabut sembarang buku dari rak dan duduk di dekat konter petugas perputakaan. Cih! Mana ada anak yang terberkati selalu tertimpa sial sepertiku? Istilah apa pula itu ujian sosial? Aku ini anak jurusan saintek! Aduh, Pak Hanri ini ada-ada saja!
“Saya sudah lebih dari tabah menghadapi semuanya, atau bisa dibilang saya tidak peduli? Entahlah, saya sudah terbiasa dimusuhi guru dan sesama teman,” jawabku mengendikkan bahu acuh.
“Dan kamu menerima bendera permusuhan itu begitu saja?”
“Yah, mau bagaimana lagi, sulit meluruskan masalah ini,Pak. Manusia adalah makhluk paling rumit yang pernah saya tahu. Saya tidak bisa mengerti apa mau mereka.”
“Lho, curhatanmu jadi meluas ke mana-mana, tapi tidak apa-apa, ceritakan saja,” kata beliau seperti biasa, menjadi pendengar yang baik.
“Saya tidak tahu kenapa banyak teman-teman yang tidak suka dan iri kepada saya, padahal apa, sih, yang membuat mereka iri? Kecerdasan? Saya hanya dianugerahi sepotong kecerdasan dari sembilan kecerdasan yang ada.”
“Mungkin kamu mendapat potongan terbesarnya,” jawab Pak Hanri. Aku mengibaskan tanganku di udara. Mana ada!
“Saya juga sudah berusaha agar tidak terlalu mencolok, tetapi orang-orang tetap menandai saya sebagai superior yang harus diwaspadai, yang harus disingkirkan. Para guru juga berpikir demikian, paling tidak suka jika mengajar di kelas saya. Sebisa mungkin menghindari pertanyaan saya yang katanya sulit dan aneh-aneh, yang katanya sengaja untuk menguji kemampuan mereka. Padahal saya sungguh sedang ingin tahu.”
__ADS_1
Pak Hanri tersenyum kecil, mengajakku melihat dari sudut pandang lain.
“Baiklah, Shira, seandainya posisimu adalah guru, lalu muridmu bertanya dan kamu tidak bisa menjawab, apa yang kamu lakukan?”
“Ya ... um, akan saya jawab sejujurnya bahwa saya belum bisa memberi jawaban, pertanyaan akan saya simpan dulu,” jawabku.
“Tidak, Shira, orang dewasa tidak seperti itu. Bagi seorang guru, akan sangat memalukan jika tidak bisa menjawab pertanyaan darimu, terlebih jika itu berulang kali, mereka merasa sedang dilecehkan,” tutur Pak Hanri.
“Tapi saya tidak berniat begitu! Saya kan benar-benar ingin tahu!”
“Rupanya, kamu memang sulit mengerti perasaan orang lain ya,” kata Pak Hanri menatapku penuh rasa kasihan.
“Maaf, kalau itu buruk. Saya sudah berulang kali mengalah dengan minta maaf dulu, tetapi itu justru membuat mereka semakin muak. Sebenarnya apa yang mereka inginkan ya, Pak? Apa bapak punya saran agar saya melakukan sesuatu?”
“Wah, kalau sudah sampai di tingkat seperti itu, tidak ada jalan lain.”
“Yang benar, Pak?”
“Tentu tidak, Shira, kamu ini naif sekali!” kata Pak Hanri ternyata bergurau, padahal aku sedang benar-benar mendengarkannya, “kalau begitu, ada satu pertanyaan untuk kamu.”
“Apa kamu juga membenci mereka?” tanya Pak Hanri.
“Hm?”
“Apa kamu membenci mereka yang sudah memperlakukanmu demikian?”
“Sejujurnya tidak, sih. Saya sudah terbiasa dengan itu semua, lagi pula sebenarnya mereka itu baik sekali. Ibu saya bilang, orang-orang itu menyukai saya dengan cara yang berbeda, saya harus banyak berterima kasih dan minta maaf kepada mereka.”
“Nah, kalau begitu, selesai sudah!”
“Apa?”
“Tidak apa-apa kamu dibenci banyak orang, asalkan kamu tidak membalas mereka dengan kebencian yang sama. Ibarat kamu menemui bara api, kamu tidak menyiramnya dengan bensin. Meski tersakiti oleh bara api kecil itu, setidaknya ia tidak membakarmu, kamu akan baik-baik saja,” kata Pak Hanri menepuk pundakku.
“Oh iya, kamu bercerita seolah semua orang memusuhimu, jangan seperti itu! Orang yang tulus menyayangimu juga tidak sedikit, kok!”
Aku tersenyum kecil mendengarnya. Iya, tidak sedikit, kok. Hanya kalah jumlah dengan yang membenciku. Tidak apa-apa, aku tetap baik-baik saja.
“Hei, kamu tidak bawa ponsel?” tanyanya dengan nada dingin seperti biasa.
“Bawa,”jawabku.
“Tapi tidak aktif?”
“Iya.”
“Merepotkan saja! Berhenti membuat benda kehilangan fungsinya ketika di tanganmu!”
“Maaf, tadi masih banyak petir.”
“Ya sudah, cepat ke ruang BK!” kata Elang. Ruang BK? Ah, aku mencium aroma masalah.
“Tidak apa-apa, biar saya temani,” kata Pak Hanri sambil menutup pintu perpustakaan. Aku masih bengong tidak paham.
“Anggap saja saya menjadi pengacara kamu, ada sesuatu yang perlu diluruskan,” tambah beliau. Aku tidak bisa mengatakan apa pun selain terima kasih. Pak guru satu ini selalu baik kepada siapa saja.
“Hatchi!”
“Wah, sepertinya kamu kena flu, sebaiknya kita jangan lama-lama di luar!”
“Hatchi!”
Istirahat kedua, hujan yang tadi sempat reda kembali menggila. Bahkan kilat terlihat bercambukan dengan udara. Biarlah, kalau bisa hujan saja terus begini sampai pulang nanti. Aku sedang ingin hujan-hujanan.
“Ra! Tutupkan tirainya, dong! Ngeri banget lihat kilat di luar,” pinta Yasinta. Aku menengok ke jendela. Masa begini saja ngeri? Kilatan petir kembali menggurat di angkasa, memancarkan sepersekian cahaya yang membuat teman-teman perempuan menjerit.
“Ra! Cepat, tutup!” seru Yasinta tidak sabar.
__ADS_1
“Nanti jadi gelap, Yas. Listrik sedang padam juga. Kalau takut tidak usah lihat jendela,” jawabku.
“Masalahnya kanan dan kiri kelas sama-sama ada jendela, Ra! Lagi pula kamu sedang mengerjakan apa, sih?!”
“Diam, Yas, aku galau!” balasku tiba di lembar terakhir buku latihan soal, “ah, sial! Sudah habis! Aku masih galau, bagaimana ini?”
“Gila kamu ya? Sedang galau malah menghabiskan soal latihan. Masih galau 'kan? Nih, buku soalku banyak yang kosong,” cengir Yasinta. Aku menatapnya tidak berselera. Enak saja dia!
“Jadi, tadi bagaimana?” tanya Yasinta akhirnya menutup sendiri tirai jendela di sebelahku. Posisi meja kami memang dekat jendela.
“Bagaimana apanya?”
“Kudengar kamu dipanggil ke BK. Kamu tidak sampai dapat SP 'kan? Orang tuamu tidak dipanggil ke sekolah 'kan?”
“Ya tidaklah, masa hanya masalah begitu orang tuaku sampai harus dipanggil?”
“Makanya, dong, kamu itu sesekali menurut. Bukannya aku membela Bu Lis, tapi dia yang berkuasa memberi nilai. Justru aku kasihan jika ada nilai D di rapormu.”
“Begitukah? Bukannya aku sombong ya, Yas! Dunia pasti memepertanyakan bagaimana bisa nilai ujian sempurna, tetapi nilai di rapor D?” Bantahku, “lagi pula mungkin Bu Lis lah tadi yang sedang khilaf. Apa kamu tahu? Tadi di ruang BK justru Bu Lis yang minta maaf kepadaku, harusnya beliau menerima dan terbuka dengan segala metode baru, harusnya beliau tidak perlu mengusirku dari kelas karena hal itu, begitu katanya.”
“Benarkah?”
“Iya, bahkan Pak Hanri tidak jadi menengahi masalah kami karena Bu Lis minta maaf dulu. Ternyata Bu Lis memang sudah emosi sejak dari rumah, lho! Makanya mudah tersulut ketika di kelas. Meski begitu, aku juga tetap minta maaf.”
“Oh, jadi begitu. Syukurlah!” jawab Yasinta ikut senang, “tapi kenapa kamu masih galau?” tanyanya.
Ah, iya, kenapa aku masih galau ya? Aku membuang pandangan ke jendela yang tidak tertutup tirai di sisi kiri kelas, melihat riangnya air hujan mengguyur bumi. Yasinta turut menengok ke arah yang sama.
“Dimarahi Elang lagi ya? Ada apa?” tanyanya. Aku menelengkan kepala tidak mengerti. Kenapa jadi membahas Elang?
“Kamu menengok ke arah Elang, kukira kamu bertengkar lagi dengannya,” kata Yasinta. Ah, memang benar jendela di sisi kiri belakang itu bersebelahan dengan Elang yang sedang duduk memainkan ponselnya.
"Sudahlah, dia bukan siapa-siapa, jangan sakit hati karena kata-katanya,” kata Yasinta menepuk bahuku. Hah, aku menutup wajah lelah. Siapa pula yang sedang melihat ke arah Elang dan siapa pula yang bertengkar dengannya?
Terlepas dari galauku, sebenarnya memang benar. Tentang Elang, aku belum tahu kenapa ia berada di mimpiku dalam dunia kelabu itu. Bagaimana caraku mengetahuinya tanpa harus bertanya? Duh, bagaimana, sih, mauku?
“Ra, sudahlah! Jangan dipikirkan!”
“Lupakan saja, Yas!” jawabku malas, mulai mencorat-coret tidak jelas.
“Kamu butuh waktu sendiri? Baiklah, aku pergi dulu.”
Yasinta pergi, mengobrol dengan Fina dan Dila. Aku masih sangat nyaman di kursiku. Udara dingin membuatku bersin. Sial! Bahkan meski sudah pakai jas lengan panjang juga masih kedinginan. Kuselusupkan kedua tanganku ke dalam saku. Puh, tidak banyak membantu.
Aku beranjak menuju dispenser, berniat mengambil air hangat. Sayangnya, dispenser ini mungkin sudah rusak sebab meski kutekan kran berwarna merah, air yang keluar bersuhu normal. Bersinku semakin beruntun. Orang yang duduk di meja paling belakang dekat dispenser itu menoleh, merasa terganggu.
“Duh, berisik!” ujarnya jutek. Syukurlah aku sudah terbiasa dengan sikap tidak ramahnya. Ya, siapa lagi jika bukan Elang.
“Lang, dispensernya rusak, kasih tahu sarpras biar diganti atau diperbaiki,” ujarku.
“Rusak bagaimana?”
“Pemanasnya tidak berfungsi, air dari kran merah tidak hangat,” jawabku. Ia mengamati sejenak, lalu memutar bola mata sebal, menghampiriku.
“Makanya kamu banyak minum vitamin, dong, biar cerdas! Kalau mau panas, colokkan dulu kabelnya, tunggu beberapa menit, kalau mau panas sekali tekan tombol ini!” katanya. Aku mengerjap beberapa kali. Oh iya! Tadi belum kusambungkan ke sumber listrik, ehe!
“Tapi tetap tidak menyala, Lang. Biasanya setelah tersambung ke listrik lampu indikatornya menyala,” jawabku. Elang meletakkan ponselnya sebentar, memastikan kabel tidak kendur atau barang kali ada kerusakan lain. Aku curi-curi pandang ke ponselnya yang lupa tidak ia kunci. Sepertinya dia tadi sedang membaca artikel, tentang ... tentang apa, sih, itu? Vivid dream? Lucid dream? Macam-macam mimpi? Buat apa? Eh, tunggu! Tentang mimpi!
“Entahlah, sepertinya memang ada yang rusak,” kata Elang menyimpulkan, “hei! Kenapa kamu lihat-lihat, hah?!” serunya galak mengambil kembali ponselnya dariku.
“Tunggu, Lang! Tentang mimpi ... tentang mimpi, sebenarnya ... hatchi!” kata-kataku terpotong karena bersin itu. Elang tertegun, seolah mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Masalah dispenser ini tergeser dengan sendirinya.
“Ada apa?” tanyanya tidak sabar. Aku masih sibuk menyeka hidung dengan tisu.
“Kenapa kamu mencari informasi tentang macam-macam mimpi?” tanyaku.
“Kenapa kamu menanyakannya?” ujarnya balik bertanya. Duh, tidak bisakah ini tidak berbelit-belit begini?! Aku kembali ke bangkuku, memungut kertas yang tadi kucorat-coret. Ada sketsa monster penghuni dunia kelabu yang tadi kubuat di kertas itu.
“Apa kamu pernah melihat makhluk ini?” tanyaku menunjukkan gambar itu kepada Elang.
Ia tercekat melihatnya.
__ADS_1
.Bersambung.