Kelabu

Kelabu
Episode 23


__ADS_3

Coba tebak apa yang membuatku berangkat sekolah tiga puluh menit lebih awal? Hm, sebenarnya tidak ada alasan. Lagi-lagi karena perasaanku, rasanya tidak enak berlama-lama di rumah. Terlebih grup obrolan kelasku begitu ramai pagi-pagi buta tadi –hal yang tidak biasa. Sayangnya, sebelum sempat kubuka, ponselku tiba-tiba mati sebab semalam tidak ku-charge dalam keadaan data seluler menyala! Ponselku sayang, maafkan aku karena tidak becus merawatmu, huhu!


“Pagi, Shira! Sepertinya akhir-akhir ini datang pagi terus ya? Dunia benar-benar mau kiamat, nih!” gurau Pak Aslan, petugas keamanan sekolah.


“Ya ampun, Pak! Bapak kan belum menikah, jangan menyinggung soal kiamat dulu, dong! Serem!” balasku meladeni candaannya. Lelaki muda itu menekuk wajah, sama sekali tidak senang bila status jomblonya disinggung-singgung. Aku hanya nyengir, cukup terhibur karenanya. Meski demikian, aku tetap menghormati petugas keamanan itu. Bayangkan saja ketika sekolah masih sepi, ia sudah datang dan siap bertugas di sini. Dedikasinya menjaga keamanan lingkungan sekolah sungguh tidak main-main, seolah tempat ini adalah urat nadinya sendiri yang harus dilindungi. Tak terbayang seandainya ia tahu adegan di dunia kelabu tadi malam, tentang hancurnya gedung depan ini. Dia pasti tak bisa berkata-kata, tetapi syukurlah, di dunia nyata gedung ini tetap utuh tak terpengaruh.


“Gimana bisa kayak gini, sih?!”


“Mana kutahu! Kemarin masih baik-baik saja!”


“Tidak! Kamu tidak menyiramnya dari kemarin!”


“Tapi tidak mungkin langsung mati hanya karena itu!”


Kelasku di ujung koridor lantai dua membuatku bisa mendengar suara keributan teman-teman ketika melewati tangga. Ternyata benar, telah terjadi sesuatu!


“Ada apa?” tanyaku melihat Rifani, Tria, dan Sindi mengerumuni taman mini di depan kelas.


“Ra, kamu ingat kan kalau hari ini penilaian kebersihan kelas?” tanya Tria. Tidaklah, aku hanya ingat kalau penilaian akan dilakukan dalam waktu dekat, tapi tidak tahu kalau tepatnya hari ini.


“Apa ada masalah? Bukankah semua kelengkapan sudah beres?” tanyaku.


“Iyaaa tapi lihatlah taman kita, Raa! Kerja keras tim kerindangan! Kenapa bisa seperti ini?” balas Sindi. Aku tertegun melihat susunan tanaman dalam pot kecil-kecil yang kemarin masih hijau –dan sempat diam-diam kupetik bunganya– sekarang banyak yang kering dan mati. Tidak mungkin bila hanya sekali lupa disiram, tidak mungkin hanya karena aku diam-diam memetik salah satu bunganya, tidak! Lantas kenapa?


“Apa yang harus kita pertanggungjawabkan kepada Elang? Dia pasti marah besar,” ujar Tria khawatir.


“Mungkin kalian beruntung hari ini karena Elang tidak masuk, tapi jika hari berikutnya ia tahu ....”


“Elang tidak masuk?” tanyaku memotong kata-kata Sindi.


“Eh, iya. Dia sakit. Ada surat dokternya juga,” jawab Sindi.


“Wah? Memangnya Elang bisa sakit ya?” timpal Rifani. Yang benar saja! Sakit apa dia ya?. Apa ada kaitannya dengan peristiwa semalam? Oh, aku ingat lukanya belum pulih benar. Mungkinkah karena itu? Tapi jika dia sudah berkunjung ke dokter setidaknya aku tidak perlu khawatir.


“Sebaiknya kalian cepat bertindak, aku yakin teman-teman lain juga akan kecewa jika mengetahui hal ini,” kata Sindi serius.

__ADS_1


“Masalahnya bukan kami penyebab matinya tanaman-tanaman ini, Sin. Lagi pula tim kerindangan bukan berarti harus selalu menjaga taman ini dua puluh empat jam dan memastikannya baik-baik saja!”


“Benar kata Shira! Kami juga sudah berjuang sebisa kami!” sambung Rifani mendukungku.


“Aku tidak bermaksud menyalahkan kalian, tapi tim kelengkapan kelas lain juga sama-sama telah bekerja keras, berharap kelas ini bisa jadi pemenang. Mereka pasti akan kecewa jika kelas kita kalah hanya gara-gara rusaknya taman ini. Jadi, demi kepentingan bersama, kumohon berjuanglah sekali lagi!” kata Sindi.


Aku terdiam, mengerti benar kekhawatirannya. Kedua teman satu timku tampak kesal, berkali-kali mengutuk siapa pun penyebab rusaknya taman kami.


“Jangan-jangan ini ulah kelas sebelah! Aku tahu, dari awal mereka tidak suka melihat kekompakan kelas kita! Pasti mereka penyebabnya!” kata Tria.


“Sepertinya bukan, Tri! Taman mereka juga rusak, lihatlah! Satu deret taman kelas hingga MIPA empat sana, semuanya rusak, tanaman mereka juga tiba-tiba mati seperti milik kita,” jawab Rifani.


Aku terenyak. Mungkinkah ini imbas dari kejadian semalam? Kerusakan yang terjadi mungkin tidak berpengaruh pada benda mati, tetapi makhluk hidup seperti tanaman-tanaman mungil ini terkena dampaknya. Entah bagaimana bisa seperti itu, tetapi kenyataannya memang seperti ini. Aku memeriksa pohon palem yang pucuknya sejajar dengan muka kelasku. Biasanya banyak burung-burung kecil hinggap dan bersarang di sini. Rupanya sarang mereka sudah jatuh berserakan di halaman. Tidak salah lagi!


“Rifani, Tria, berhenti berdebat! Tidak ada gunanya mencari tahu pelaku semua ini!” ujarku menengahi keduanya, “kita harus cepat menemukan tanaman penggantinya sebelum bel masuk.”


“Sebelum bel masuk? Yang benar saja!”


“Lima belas menit lagi, Ra! Itu mustahil!”


“Tidak, tidak ada yang mustahil! Kalian berdua sisihkan dulu tanaman-tanaman mati ini, setelah menemukan yang baru, aku akan menghubungi kalian, oke?”


“Eh? Shira? Kenapa lari-lari? Ada yang ketinggalan ya? Aduh, tapi sebentar lagi sudah masuk. Kalau memaksa pulang lagi nanti bisa terlambat, lho!” kata Pak Aslan ketika kuhampiri.


“Bukan tentang itu, Pak. Saya minta izin meminjam beberapa tanaman dari green house. Boleh ya, Pak?” pintaku. Ya, benar. Green house adalah sepetak taman kecil berisi ragam tanaman hias donasi para murid setiap awal tahun sekolah di sini. Itulah satu-satunya harapanku!


“Buat apa? Kamu tahu kan green house itu tidak boleh sembarangan dimasuki orang. Khawatirnya ada tanaman yang rusak,” jawab Pak Aslan. Aku tak berhenti memohon-mohon. Pak Aslan masih teguh pada pendiriannya. Ah, ini memang sulit!


“Baiklah, kalau kamu memang memaksa. Mintalah izin Bu Lasmi dulu. Dia yang lebih berkuasa di bagian ini, saya tidak mau melangkahinya,” jawab Pak Aslan pada akhirnya dan itu sama sekali tidak membantu.


“Paak, Bu Lasmi mana mungkin sudah datang jam sekian ....”


“Green house tidak dikunci,” ujar suara bernada datar dari belakangku. Panjang umur, Bu Lasmi tiba-tiba muncul, tapi tak bisakah dia muncul dengan cara yang normal? Bikin jantung copot saja!


“Green house tidak dikunci, jika ada tanaman yang diperlukan kamu boleh bawa beberapa,” kata Bu Lasmi sekali lagi. Kata-katanya cukup jelas, tapi aku malah tertegun lebih lama memperhatikan Bu Lasmi berbalik dan meninggalkan kami. Cara Bu Lasmi berbicara tanpa ekspresi dan intonasi itu benar-benar sesuatu yang menarik –menurutku.

__ADS_1


Akhir kata, akhirnya taman mini kelasku terisi tanaman baru, terselamatkan. Nasib taman kelas sebelah belum tentu seberuntung taman kami. Teman-teman dari tim lain juga sibuk bekerja pagi ini meski semua aspek penilaian sudah terhitung lengkap, tetap ada saja yang perlu dibenahi menurut mereka. Dasar orang-orang perfeksionis!


Matinya tanaman-tanaman yang begitu mendadak ini jadi perbincangan sepanjang koridor. Banyak spekulasi bermunculan, tetapi aku memilih pura-pura tidak tahu. Ah, setidaknya aku bisa sedikit lega karena tanggung jawabku terselesaikan. Namun, agenda kami hari ini bukan hanya penilaian kelas, tetapi juga ulangan Bahasa Indonesia yang semalam dibicarakan Pak Hanri. Beliau mengabsen, menyadari ketidakhadiran murid kesayangannya.


“Wah, Elang sakit? Hm, demam, tidak biasanya ya!” gumam Pak Hanri mengamati surat dokter yang dilampirkan bersama surat izin Elang.


“Kalau ada waktu dibesuk ya! Mungkin Elang drop karena banyak pikiran. Dia telah melakukan banyak hal untuk kelas ini ‘kan? Ini saatnya menunjukkan kepedulian dan solidaritas kalian,” kata Pak Hanri. Aku melempar pandangan ke luar jendela ketika Pak Hanri mengerling padaku. Beruntung hanya Yasinta yang menyadarinya.


“Dengar kata Pak Hanri, Ra? Dibesuk, lho!” godanya yang membuatku pura-pura tuli.


Ulangan berlangsung seperti yang direncanakan. Kupikir cukup di sini saja kesulitanku hari ini, tapi ya ampun ... semakin tak kuharapkan masalah seolah datang kian bertubi-tubi. Puncaknya ketika kelas biologi Bu Listiyah. Mulanya dia memuji kerapian dan kebersihan kelas kami. Sedikit rasa optimis menyelusup di hati teman-teman. Bu Listiyah adalah salah satu juri lomba kebersihan kelas. Jika beliau terang-terangan memuji, tampaknya terang pula kemungkinan menangnya kelas kami.


Nah, bagian terburuknya baru saja dimulai. Ketika Bu Listiyah meminta agar buku PR dikumpulkan, di situlah aku mendadak pucat di tempat. ******! Buku PR-ku masih dibawa Nike!


“Bu, saya izin ke toilet!” pamitku.


“Ah, iya! Jika buku PR-mu belum ketemu, silakan tunggu di ruang BK ya, Nak!” jawab Bu Listiyah disusul gelak tawa teman-teman. Cih, dasar cenayang! Aku meninggalkan kelas dengan bersungut-sungut.


 ***


“Buku PR saya dipinjam Nike dan hari ini dia tidak masuk,” jawabku apa adanya ketika disidang di ruang BK. Huh! Nike sialan!


“Kenapa kamu biarkan buku PR-mu dipinjam Nike? Jika itu buku catatan, saya masih bisa memaklumi, tapi itu PR. Apa yang membuatmu rela membiarkan Nike menyalin kerja kerasmu, Nak?” tanya Bu Listiyah terdengar menekan nada tinggi, “Bu Lis bukannya marah, tapi khawatir kalau kamu diancam atau diapa-apakan sampai kamu rela melakukannya. Jika memang iya, kamu bisa bicara kepada Bu Lis, Nak!”


“Tidak terjadi apa-apa, Bu,” jawabku menahan tawa hambar. Marahnya Bu Lis yang ditahan-tahan seperti ini justru terasa lebih menyebalkan. Apa-apaan panggilan ‘Nak ... Nak' itu bila sepasang matanya berebutan hendak melompat keluar.


“Tidak terjadi apa-apa. Hanya karena dia teman baik saya, itu saja.”


“Oh, teman baik ya? Lalu kamu membiarkannya bersikap curang? Siapa lagi sahabatmu yang sudah kau biarkan terjerumus mencurangi diri mereka sendiri?! Berulang kali Bu Lis bilang bla bla bla bla ....”


Sial, kepalaku ingin meledak.


“Nak ... Bu Lis kira kamu pintar dan tidak mudah dimanfaatkan! Jika kamu memang ingin membantu temanmu, bukan seperti itu caranya ... bla bla bla ....”


Aku menunduk, menengok arloji. Sungguh, ini akan sangat lama.

__ADS_1


.Bersambung.


 


__ADS_2