
“Kak, sekarang bukan Hari Sabtu. Jangan santai-santai begitu! Lihatlah sudah pukul berapa!” tegur Maurin, satu-satunya adik perempuanku.
“Anggap saja hari ini libur. Sekolahku jadi tuan rumah acara olahraga, tidak ada KBM,” jawabku sambil mengendikkan bahu, menenggak susu kotak dari lemari es.
“Kakak melindur atau bagaimana? Sejak kapan sekolahmu yang terkenal ketat dan disiplin meliburkan muridnya hanya untuk acara yang seperti itu?”
“Acara ‘yang seperti itu' bagaimana maksudmu? Itu festival olahraga tahunan, tahu!”
“Tapi Kakak kan tidak terlibat! Kenapa harus libur juga?!”
“Bawel, ah! Bilang saja kamu iri karena aku libur lebih awal! HAHAHAHA!”
“Kakak curaaang! Antarkan aku sekolah kalau begitu!”
“Enggaaaak! Bodo amat!” jawabku segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Ada sederet panjang episode drama yang harus kutonton hari ini. Maurin menggedor-gedor sambil terus merengek.
Sejenak ia berhenti karena sepertinya ada tamu. Ah, aku mengenal suara itu. Kenapa dia harus datang ke mari pagi-pagi?
“Kak Nikeeee!!!” seru adikku antusias. Nah, benar ‘kan?
“Waaah, adik cantiiik! Lama banget aku enggak ketemu kamuuu!” jawab Nike sama lebaynya memeluk Maurin. Aku hanya mematung di ambang pintu kamar menyaksikan drama itu.
“Dan halo! Kak Shira si muka datar yang belum juga pakai seragam! Ya ampun, Ra! Apel pembukaan dimulai setengah jam lagi, tahu!” seru Nike. Suaranya benar-benar memecah kedamaian suasana pagi di rumahku.
“Menurutmu aku terlibat dengan acara itu? Tidak ‘kan?” jawabku acuh.
“Aduh, aku mengerti jalan pikiranmu. Memang tidak ada KBM, tapi bukan berarti libur dan tidak akan diabsen. Itu sama saja bolos, Ra!”
“Hee? Ya sudahlah, bukankah tidak apa-apa sesekali bolos?”
“Hei, pikun! Kamu sendiri yang kemarin menceramahiku untuk tidak bolos dan rajin datang ke sekolah!”
“Wah, wah! Aku tidak percaya ceramahku langsung kau telan mentah-mentah. Benarkah kamu sedang serius pergi sekolah? Atau hanya ingin melihat seseorang bertanding?” tanyaku telak membuat Nike nyengir.
“Ehe, ketahuan. Iya, iya ... Waldi hari ini bertanding dan aku mana mungkin melewatkannya,” jawab Nike.
“Haha! Bucin!”
“Sudahlah, Ra! Cepat ganti seragam olahraga! Pokoknya hari ini kamu harus menemaniku nonton pertandingan basket! Dari pada hanya menganggur di rumah!” kata Nike. Ajaibnya aku pun menurut. Pertandingan basket ya? Apa Elang juga bertanding hari ini?
***
__ADS_1
Aku dan Nike tiba di sekolah ketika formasi apel sudah terbentuk di lapangan upacara. Barisan bertambah karena ada supporter dari sekolah lain. Kami berdua segera menyesuaikan, bergabung dengan barisan siswa berseragam olahraga hitam abu-abu. Yasinta dengan rompi PMR berada tepat di belakangku, geleng-geleng kepala mengetahuiku baru sampai.
Setengah jam ke depan apel pun selesai bersamaan dengan resminya liga olahraga ini dimulai. Begitu barisan dibubarkan, pusat keramaian berpindah di sekitar gedung olahraga. Sekolahku hanya membuka pertandingan basket, voli, dan bulu tangkis, tapi kemeriahan sama sekali tidak berkurang. Rupanya tidak hanya ekskul olahraga yang terlibat.
Panggung hiburan milik ekskul musik mulai berisik menyambut segenap tamu. Stan makanan dan minuman ekskul wirausaha berjajar rapi di tepi halaman. Beberapa anak mengalungi kamera DLSR dengan seragam khas mulai menyebar, merekalah anggota klub fotografi yang mendokumentasikan acara ini. Salah satu kamera drone terbang rendah di atas kepala, bergerak memasuki gedung olahraga. Nike menggamit lenganku mengikuti arah drone tadi, tidak sabar menonton pertandingan basket. Penonton dan supporter dari delapan sekolah berjejalan mengisi tribun penonton. Masih pagi, tetapi tiba-tiba gerah. Aku tak pernah tahan dengan situasi seperti ini.
Sejujurnya aku lebih tertarik menonton bulu tangkis, tapi apa daya terlanjur terjebak di sini. Nike demi melihat tim basket sekolah memasuki lapangan berteriak histeris mengelu-elukan kelima pemain itu –meski sebenarnya hanya satu yang paling dia perhatikan, Waldi si kapten tim yang merupakan pacarnya. Dia pun masih banyak mengoceh, menjelaskan betapa sulitnya lawan yang dihadapi tim sekolah kami yang jelas-jelas juga sudah kuketahui. Dari pada basket, sekolah kami lebih berprestasi di olahraga voli dan bulu tangkis. Namun, setidaknya kali ini aku berharap tim basket lolos putaran final dan masuk tiga besar.
Sayangnya, kami harus menelan kekecewaan hingga quarter kedua. Selisih skor terlalu jauh. Dengan kemampuan lawan yang demikian, aku ragu tim sekolah dapat membalik keadaan di quarter selanjutnya. Selera menontonku semakin buyar. Beralasan kebelet ke toilet, Nike pun membiarkanku pergi. Entah kenapa udara di luar terasa lebih segar, membuatku ingin berkeliling.
Stan minuman tidak bisa hanya kulewati. Kenalan adik kelasku cukup pandai merayu agar mencoba produk mereka. Selanjutnya stan permainan, pameran seni bertema olahraga, semuanya begitu menarik mata.
“Kudengar tim basket tertinggal jauh ya?” Anak di sebelahku mengobrol dengan temannya.
“Iyalah, coba saja Kak Elang main juga. Sayang sekali pemain berbakat cuma jadi cadangan ‘kan?” sahut temannya.
“Kak Elang yang mana?”
“Ah, yang itu, lho! Aku juga tidak tahu dia kelas apa. Memang jarang ikut latihan, tapi aku pernah tahu dia bermain dengan bagus. Rumornya dia sendiri tidak mau diposisikan jadi pemain utama.”
“Wah, kenapa?”
“Entahlah!”
“Hm, aku baru tahu kalau kehebatanku diakui publik,” kata seseorang bermasker di sampingku. Sepasang matanya yang masih terlihat menandakan ada senyum terlewat percaya diri dibalik maskernya.
“Se ... sejak kapan kamu ada di sini, hah?!” seruku kesal. Apa-apaan ucapannya tadi itu?! Apalah artinya kehebatan jika dia tidak mau turun tangan membantu timnya yang terseok-seok berjuang di lapangan?!
“Apa kau punya hak melarangku untuk muncul di mana pun?” ujarnya bertanya balik. Ah, memancing emosi benar-benar bakat seorang Elang!
“Hei, orang sakit! Bukankah kamu harus berbaring lebih lama?!” tanyaku.
“Hei, orang pikun! Setelah berhasil menyelamatkanmu semalam apa menurutmu aku masih harus berbaring? Kau pikir aku tahan berdiam saja di rumah?!”
“Ah, baiklah! Terima kasih untuk yang semalam. Habisnya kamu masih mengenakan masker begitu. Aku tidak mau dekat-dekat orang sakit apalagi sampai tertular!”
“Apa kau juga lupa kemarin sudah berkunjung ke rumahku dan masih berlaga tidak mau dekat-dekat? Ya ampun, aku tak mengira ingatanmu demikian tumpul!”
“Ah, terserah, Lang! Mana mungkin aku bisa memenangkan debat denganmu! Aku menyerah! Kamu yang menang, puas?!” jawabku tak peduli. Elang hanya terkekeh pelan.
“Tidak perlu cemas, aku sudah sepenuhnya sehat ....”
__ADS_1
“Memangnya siapa yang cemas?!”
“ ... masker ini hanya untuk penyamaran,” katanya.
“Penyamaran? Penyamaran apanya ... oh, aku mengerti! Pengawas tata tertib seperti kamu pasti menjadi satgas keamanan ‘kan?” tanyaku. Ia nampak tersenyum kecut.
“Maaf ya, Shir! Tapi ingatanmu benar-benar tumpul! Kau pasti lupa bahwa aku sudah keluar dari jajaran pengawas,” jawab Elang membuatku menepuk jidat.
“Ya ampun, aku sungguh lupa! Maaf jika itu mengingatkanmu dan membuatmu sedih! Aku tidak bermaksud ....”
“Sudahlah, tidak apa-apa! Aku tidak sedih, kok! Itu keputusanku sendiri. Lagi pula menjadi satgas keamanan tidak perlu menyamar seperti ini. Penyamaran yang sempurna adalah benar-bebar berbaur tanpa mengenakan atribut mencolok,” jawabnya.
“Wah, kamu masih hafal prinsip-prinsip itu. Benarkah kamu rela keluar dari tim pengawas? Yakin tidak ingin bergabung lagi?”
“Rela? Sebenarnya tidak, sih! Asal kau tahu, sebenarnya aku sendiri lupa kalau sudah tidak menjadi tim pengawas. Awalnya aku tidak ingin datang ke sekolah hari ini, tapi karena teringat tugasku menjadi satgas seperti biasa aku pun berangkat,” jawabnya. Padahal jelas dia tidak ingin keluar.
“Lalu kau pun ingat, ternyata kamu sudah bukan anggota pengawas dan tidak perlu jadi satgas. Akhirnya tidak banyak yang bisa kamu lakukan di sini ‘kan?”
“Yah, tidak juga ....”
Kata-kata Elang terpotong ketika ia menerima panggilan telepon. Keramaian membuatnya harus mengaktifkan loud-speaker dan aku pun tanpa sengaja mendengar pembicaraan itu.
“Halo, Lang? Bisa-bisanya kamu datang sekolah tapi tidak bergabung dengan tim! Kami menunggu kerja samamu, kondisi kami tidak beruntung!”
“Aku masih di rumah, Di!”
“Jangan bercanda! Kamu sedang di depan panggung hiburan!”
“Aku di depan TV!”
“Kamu pakai masker, ada cewek berambut sepunggung di sebelahmu. Kau tidak bisa membodohiku!”
Elang berdecak kesal lalu memutus sambungan telepon.
“Maaf, aku pergi dulu,” katanya kemudian. Aku hanya melambai tangan. Semoga berhasil!
"Kak ..." Anak laki-laki yang tadi mengobrol di sebelahku memanggil, “barusan itu Kak Elang ya?”
“Iya, kenapa?” jawabku balik bertanya.
“Dia dipanggil untuk bermain ‘kan? Wah, kita tidak bisa melewatkannya! Ayo kita lihat!”
__ADS_1
“Ayo, ayo!” jawab teman perempuannya menyusul berlari ke arah gedung olahraga. Entah kenapa aku turut mengekori mereka.
.Bersambung.