
“Kita akan mengadakan konferensi?Ketika unjuk rasa rakyat masih menggila di luar sana?!” tanya Luska.
“Konferensi itulah yang mereka inginkan sebagai tindak lanjut kehadiran pewaris sah yang sudah kaujemput. Selain itu, jangan mendramatisasi suasana! Unjuk rasa masih tertib sejauh ini,” jawab Ladra. Keduanya berbicara seolah aku tidak sedang di antara mereka.
“Benar, Kepala Dewan. Semuanya masih tertib hingga mereka tahu konferensi ini tertutup dari media. Rakyat akan berpikir kita memunggungi mereka,” bantah Luska.
“Akibat dari konferensi terbuka beberapa jam lalu adalah mereka akhirnya tahu sikap Yang Mulia, yang secara tidak langsung terkesan mengingkari takdirnya sebagai pewaris sah. Rakyat khawatir pewaris sah yang sekarang sama pengecutnya seperti yang sebelumnya,” jawab Ladra kemudian menjatuhkan pandangannya padaku.
“Maaf, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud membuat Yang Mulia tersinggung, tapi keberpihakan Tubuh Dewan Internal adalah kepada rakyat banyak,” kata Ladra lagi.
“Saya mengerti tanggung jawab Anda, Kepala Dewan. Konferensi beberapa jam lalu memang belum selesai dan saya belum mendapat banyak pemahaman tentang masalah negeri ini, tapi Luska telah menjelaskan semuanya,” jawabku.
“Bagus! Baguslah kalau begitu. Kita bisa mempersingkat waktu dan langsung menuju intinya nanti. Yang Mulia tenang saja, tim humas sedang mencoba menenangkan massa. Jalannya konferensi malam ini akan dipastikan kondusif.”
Aku mengangguk, mengikuti keduanya menuju ruang konferensi yang sama seperti tadi siang.
***
Kali ini pikiranku lebih fokus karena tidak merasa salah kostum. Semua orang di ruang konferensi masih di posisi duduk yang sama, terlihat lebih serius dengan atmosfer ketegangan di luar sana.
“Baiklah, terima kasih kepada segenap yang hadir. Khususnya Yang Mulia, kami minta maaf atas kondisi yang harusnya tidak Anda hadapi pada hari pertama menginjakkan kaki di Alba, tapi yah ... memang beginilah situasi kita sekarang,” kata Ladra di kursi paling ujung dari meja. Laki-laki muda di sebelahnya yang tadi menangani perangkat layar hologram tampak sibuk mengoperasikan hal yang sama.
“Tidak masalah, Kepala Dewan. Saya mulai memaklumi kecemasan banyak orang. Luska telah menjelaskan garis besar masalahnya,” jawabku.
Ladra selaku Kepala Dewan mulai memimpin konferensi, “Mari kita samakan persepsi. Apa yang Yang Mulia tangkap dari persoalan kita?”
“Hm, ekspansi Dunia Kelabu menguasai permukaan. Peradaban Negeri Putih tidak bisa selamanya berada di atas awan. Kita harus mengatur siasat untuk memenangkan perlawanan terhadap sihir jahat Dunia Kelabu dan menyelamatkan peradaban . Begitu ‘kan?” tanyaku.
Ladra mengangguk, “Benar, Yang Mulia. Kurang lebih seperti itu. Sebelumnya kita perlu tahu seberapa buruk kondisi kita saat ini. Terkait kejadian yang menginterupsi konferensi tadi siang, silakan laporannya, tim lapangan.”
Seseorang di seberangku mengambil alih pancaran layar hologram, “Ekspansi Dunia Kelabu beberapa jam lalu, terjadi di dekat pesisir daratan bekas wilayah Alba Timur. Daerah yang terebut hampir berdiameter 20 kilo meter. Hanya ada hamparan hutan dan bukit rendah dalam cakupan area itu.”
“Daerah itu dekat dengan Menara Gerbang Dimensi ‘kan?” tanya Luska. Ketika ia menyebutkan menara, pikiranku teringat pada menara tempatku pertama kali sampai di sini. Apa lagi dari namanya, Menara Gerbang Dimensi?
“Benar, penangkal sihir dan sejumlah komponen pengamanan tidak bisa menahan energi negatif yang tiba-tiba muncul di sekitarnya, meledakkan menara itu, memakan korban jiwa meliputi seorang lansia dan seorang pemuda ditemukan luka parah.”
“Aquila dan neneknya?!” tanyaku luar biasa cemas. Tentu saja! Tentu saja, dua orang itu pasti Aquila dan neneknya! Ya ampun, bagaimana kondisi Aquila sekarang? Dia terluka? Dia pasti lebih terluka mengetahui neneknya tewas.
Penyampai laporan sempat melirik Ladra sebelum menjawab pertanyaanku, “Orang tua itu tidak bisa dipungkiri memang nenek Aquila, tapi si pemuda ....”
“Kita fokus ke dampak ekspansi,” potong Ladra, “berapa banyak sekarang daratan permukaan yang diambil alih Dunia Kelabu?”
“Hm, delapan puluh tujuh persen ... lebih. Hanya pulau-pulau kecil di tenggara benua utama yang masih bisa dipijak dengan aman. Lautan masih bebas, tapi tidak ada jaminan bahwa dasarnya tidak menimbulkan bahaya ekspansi.”
“Seandainya dasar laut memang tidak berbahaya, kita tak akan sempat membuat peradaban murni dengan kekuatan kita sendiri dengan waktu tersisa. Kekuatan dari kristal energi bulan akan habis dalam waktu dekat sementara kelangsungan peradaban di atas awan ini bergantung padanya,“ jawab Ladra memijit kening, “berapa lama bagi kekuatan kristal itu untuk bertahan hingga benar-benar habis?”
“Ngomong-ngomong, Yang Mulia belum tahu soal kristal energi bulan itu,” kata Luska. Ah, terima kasih karena telah mewakili pikiranku, tapi entah kenapa dia agak terabaikan.
“Kita sudah menggunakan separuh daya dari energi kristal itu dalam satu setengah tahun terakhir. Berarti kita punya lima puluh persen,” jawab si pelapor, “tapi kita tidak bisa bertahan di atas hingga dayanya benar-benar nol persen. Ketika dayanya tersisa sepuluh persen, daratan awan ini tidak lagi solid ... dan ya, bayangkan saja ada banyak beban, bangunan, dan orang-orang di atas daratan empuk itu.”
__ADS_1
“Baiklah, lima puluh persen untuk satu setengah tahun, anggap sekarang kita hanya punya empat puluh persen daya, artinya waktu kita tersisa ... empat belas bulan lagi,” kata Ladra menyimpulkan, “tim analisis, bagaimana kemungkinan penyelamatan peradaban kita?”
Seorang perempuan di sisi meja lain tampak gugup, mengetikkan sesuatu, “Saya tidak terlalu suka dengan kemungkinan yang sangat kecil, tapi kita akan tetap bergantung padanya,” kata perempuan itu.
“Upaya penekanan atau bahkan pemberantasan kekuasaan Dunia Kelabu sama sekali sulit dengan pasukan artileri kita yang seadanya. Jumlah daratan yang terebut terlalu banyak. Ketika jumlahnya masih sedikit saja pasukan kita menderita kekalahan telak melawan sihir mengerikan itu. Jika kebijakan beralih pada pembangunan peradaban di laut –baik di dasar atau permukaannya– kita butuh sesuatu yang sama ajaibnya seperti kristal energi bulan.”
“Kesimpulannya?”
“Kesimpulannya, kita hanya bisa berharap selama empat belas bulan itu pada Yang Mulia, sebagai satu-satunya pewaris sah yang pernah menang melawan Dunia Kelabu. Jika satu kubah Dunia Kelabu saja berhasil dikalahkan, kita bisa punya satu kristal bulan lagi untuk membangun ulang tempat tinggal yang baru.”
Selain tentang kristal bulan yang tak kumengerti, kata-kata perempuan itu ternyata sama anehnya. Apa katanya? Siapa yang pernah menang melawan Dunia Kelabu?
“Jadi, demikian situasi kita sekarang. Kelihatannya memang memaksa Yang Mulia untuk berjuang sendiri, tapi kami akan mengatur semuanya terkait kehidupan Yang Mulia di Nigra selama Anda berperang di sini,” kata Ladra menatapku sungguh-sungguh, juga semua orang seisi ruangan, “oleh karena itu, karena Yang Mulia telah berpengalaman mengalahkan sepetak Dunia Kelabu, kami harap Yang Mulia bisa menang menaklukkan sisanya, mengembalikan teritorial Negeri Putih seutuhnya.”
Aku tertegun lama, lama sekali setelah kata-kata mereka terdengar begitu asing. Kekhawatiranku tentang mereka yang salah mengira bahwa pewaris sah itu adalah aku kembali datang. Kenapa mereka berpikir aku pernah menang melawan Dunia Kelabu? Aku bahkan baru tahu ada bermacam-macam dunia paralel setelah penjelasan yang kudengar tadi siang. Gawat, jangan-jangan mereka benar-benar salah orang!
“Jika Yang Mulia butuh perencanaan, kami akan membantu sejak malam ini juga. Kira-kira apa yang kami bisa bantu? Bagaimana Yang Mulia dulu berhasil masuk ke sana? Ada apa saja di dalamnya? Apa yang Anda lakukan untuk menghancurkan sihir jahat itu?”
Laki-laki muda di sebelah Ladra menunggu jawabanku, bersiap mengetikkannya. Tenggorokanku tiba-tiba terasa kering. Dari mana aku bisa mengarang jawaban yang mereka inginkan?
“Ma ... maaf,” ujarku gugup, “aku tidak mengerti yang kalian maksud,” jawabku.
Aku tahu, aku tahu seisi ruangan menatapku kecewa, tapi mau bagaimana lagi?
“Pertanyaan demi pertanyaan tadi tak mungkin bisa kujawab karena aku memang tidak berpengalaman berperang mengalahkan Dunia Kelabu. Luska menjemputku sebagai gadis remaja yang tidak pernah bertualang ke sisi dunia lain mana pun. Jadi ... jadi aku benar-benar tidak tahu,” jawabku apa adanya, lupa bahwa jawaban itu sama sekali tidak akan disukai.
“Yang Mulia ... Anda sudah bilang untuk tidak lari dari tanggung jawab,” kata Luska di sebelahku.
Ketika ruang konferensi senyap, larut dalam kekecewaan, di luar sana unjuk rasa mulai berubah menjadi kerusuhan. Teriakan demi teriakan penduduk kali ini terdengar tepat di luar ruang konferensi, memaksa masuk. Entakan demi entakan di pintu menciptakan cahaya tipis seperti perisai yang menahan dobrakan dari luar. Tak ada siapa pun yang berhasil menerobos ke dalam sini.
“Kepala Dewan, ada kamera dari luar menyusup masuk dan meliput semua yang kita bahas sejak tadi,” lapor laki-laki muda di sebelah Ladra.
“Apa?!”
“Benar, rahasia tentang sisa waktu peradaban di atas awan ini dan tanggapan Yang Mulia tentang Dunia Kelabu tersiar ke seluruh penjuru negeri, membuat massa semakin kalap.”
“Itu karena bertentangan dengan yang kita katakan bahwa kita masih bisa tinggal di atas sini sampai lima tahun lagi. Bohongnya keterlaluan!” komentar Luska.
“Kenyataannya rakyat marah setelah tahu yang sebenarnya! Padahal kebohongan memang sengaja kita poles untuk menghindari kericuhan semacam ini!” gerutu Ladra tampak pening.
“Kenyataan bahwa bangsa kita terusir dari permukaan telah menjadi sumber sakit hati kami, kami sudah terbiasa!” kata sebuah suara entah di sebelah mana dalam ruangan ini, “lalu pemimpin sekalian merahasiakan hal tentang sisa waktu bertahannya peradaban kita yang sebenarnya? Katakan, apa yang sedang kalian rencanakan di belakang kami?!”
“Yang kami rencanakan adalah menyelamatkan kalian semua, sialan!” balas Luska kesal.
“Di mana posisi kamera itu?!”
Keadaan semakin kacau. Entah nyali dari mana yang hinggap di punggungku, kuberanikan beranjak dari kursi menuju pintu, tak mendengarkan Luska yang sempat mencegahku. Cahaya tipis perisai pintu ini lenyap setelah kontak tanganku dengan gagang pintu. Wajah-wajah berang menyambutku begitu pintu terbuka.
Jeda hening sepuluh detik terasa begitu lama ketika yang kulakukan hanya menatap orang-orang ini satu per satu. Aku tak pernah menghadapi situasi seperti ini dan belum sempat menyiapkan banyak kata-kata, tapi tetap ada sesuatu dalam lubuk hati yang menuntut untuk disampaikan. Tentang penyesalanku bahwa aku ternyata bukan pewaris sah yang mereka harapkan.
__ADS_1
Bibirku baru hendak membuka, tapi semua orang tiba-tiba bersimpuh merendahkan kepalanya di hadapanku, membuatku semakin salah tingkah.
“Maaf, Yang Mulia, saya yang bertanggung jawab atas ini semua,” kata laki-laki seumuran Ladra yang berada paling depan di antara gerombolan massa. Aku ikut merendah menyejajarkan posisi dengannya, benar-benar merasa aneh karena telah membuat bapak-bapak dan seluruh orang yang lebih tua dariku merendah.
“Ti ... tidak apa-apa, bangunlah! Maksudku, kita bisa membicarakan semuanya baik-baik,” ujarku gugup. Orang itu malah lebih gugup ketika aku turut duduk di bawah, tepat di depannya.
“Yang Mulia, ka ... kami tidak bermaksud ....”
“Wah, kau membuat Yang Mulia harus merendah begitu!” kata Luska, “Anda tidak perlu melakukannya, Yang Mulia!”
“Ampun, Kesatria Muda Luska! Maaf karena tindakan kami yang sangat tidak pantas, tapi keinginan kami hanya menemui Yang Mulia pewaris sah, berbicara langsung padanya bahwa kami ingin tetap hidup dan diselamatkan,” kata orang itu belum mengangkat tatapannya. Aku semakin tak enak hati. Sekian banyak orang di depanku merendah pada bocah sepertiku, mengira aku bisa menyelamatkan mereka? Coba beri aku ide untuk menyampaikan yang sebenarnya tanpa melukai hati mereka.
“Ketika kalian terlalu berharap kepadaku sementara aku bahkan tidak tahu menahu soal Dunia Kelabu itu, aku berharap semoga masih ada satu dua hal yang bisa kulakukan untuk kalian. Kuharap begitu,” ujarku lirih.
“Kami mengerti, Yang Mulia. Yang Mulia dibesarkan di Nigra dan baru dijemput tadi pagi. Pastinya banyak hal yang tidak bisa Anda terima. Membayangkan memerangi Dunia Kelabu memang sangat mengerikan. Jika Yang Mulia belum cukup memiliki keberanian, kita akan menghadapinya bersama. Kami benar-benar khawatir Yang Mulia meninggalkan kami seperti pewaris sah sebelumnya.”
“Kita akan menghadapinya bersama, heh? Ketika kalian tidak memercayai Tubuh Dewan Internal?” tanya Luska sebal, “hal buruk apa yang sempat kalian semua pikirkan terhadap kami para anggota dewan? Mari kita bahas juga selagi Yang Mulia ada di tengah kita!”
“Jangan-jangan kau pendukung fraksi oposisi? Wah, aku tak habis pikir! Sempat-sempatnya memikirkan catur politik ketika keadaan kita semakin terpuruk,” sahut Ladra.
Fraksi oposisi, hm? Sepertinya aku pernah mendengar istilah itu. Dari siapa ya? Sebentar, oh ... Aquila! Aquila yang malang, pernah kudengar darinya bahwa dia adalah mantan oposisi. Jadi begitu, kemungkinan orang-orang ini bergerak karena Aquila terdampak ekspansi Dunia Kelabu beberapa waktu lalu.
“Kalau begitu kita boleh menangkap orang ini atas pecahnya kerusuhan di bawah kendalinya ....”
“Tidak, tunggu, sebentar ... Tolong semuanya tenang. Aku tidak begitu paham suhu politik di negeri ini sebelumnya, tapi seperti yang tadi kalian katakan, kita akan menghadapi masalah ini bersama. Semua itu mustahil bila masih ada yang namanya fraksi ini dan fraksi itu. Kenapa kita tidak melebur menjadi satu kekuatan?” ujarku kembali berdiri.
“Kepala Dewan, kita tidak akan memberi ruang penjara kepada bapak ini atau siapa pun yang terlibat unjuk rasa tadi. Keinginan mereka hanyalah menemuiku dan akhirnya semua jelas setelah kita saling bicara,” sambungku.
“Baiklah, yang dikatakan Yang Mulia memang benar. Sebenarnya Tubuh Dewan Internal sendiri sudah sejak lama mencoba merangkul semua pihak, tapi ternyata masih ada saja yang ingin mengungkit-ungkit soal persaingan politik waktu itu. Ah, ada-ada saja!” kata Ladra.
“Maaf, Kepala Dewan, saya hanya meluruskan. Pergerakan massa malam ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan unsur politik, kami bergerak karena murni ingin menemui Yang Mulia dan mengadukan nasib kami langsung,” jawab laki-laki tadi.
“Oh, baguslah kalau begitu. Seperti yang sudah tersebar, kita memang sedang di ambang kiamat. Kami merahasiakannya agar tidak menimbulkan kepanikan rakyat banyak, tapi kalian semua telah terlanjur tahu. Jadi, seperti yang dikatakan Yang Mulia, kami mohon dukungan dari segenap penduduk untuk penyelesaian masalah ini,” kata Ladra.
“Tetap lakukan aktivitas seperti biasa dan jangan menambah kerusuhan yang merepotkan kami. Begitulah dukungan paling mudah yang kami harapkan,” sambung Luska di sebelahku.
“Kami mengerti, Kesatria Muda, Kepala Dewan, juga Yang Mulia ... Maaf atas keributan malam ini!” kata perwakilan massa itu.
“Tidak apa-apa, aku senang semuanya berakhir damai,” jawabku.
“Kalian tidak perlu khawatir Yang Mulia meninggalkan kita. Yang Mulia hanya butuh penyesuaian, tapi akan kami usahakan agar tidak terlalu lama, agar langkah pemulihan teritorial kita segera bisa dilakukan,” tegas Luska.
Setelah itu massa membubarkan diri. Aku ingin ikut ke gerbang seperti tuan rumah yang mengantar tamu pulang hingga depan pintu lalu melambai tangan, tapi tidak, ini bukan acara bertamu basa-basi dan kali ini aku bukan tuan rumah biasa. Telingaku sempat menangkap seliweran kata-kata yang samar terdengar.
“Senang semuanya berakhir damai, heh? Ratu kita sama lembutnya seperti orang-orang oposisi yang antiperang. Apa orang yang demikian itu benar-benar bisa menaklukkan Dunia Kelabu?”
Perhatianku segera menelusuri sekitar, mencari-cari seseorang yang mengatakan hal itu, tapi terlalu banyak orang di sekitarku dan aku tak berhasil menemukannya. Seseorang menepuk pundakku saat aku masih kebingungan mencari.
“Konferensi belum selesai, Yang Mulia. Kita baru tiba di bagian paling membingungkan.”
__ADS_1
.Bersambung.