Kelabu

Kelabu
Episode 17


__ADS_3

Ruangan yang tadinya terang mendadak gulita tanpa ada setitik cahaya pun.


“Lang? Lang, kamu di mana? Jangan jauh-jauh dariku!”


“Wah? Serius kamu bilang begitu?”


“Lang?! Bukan waktunya bercanda! Aku tidak bisa melihat apa-apa!” jawabku kesal menghampiri arah suara Elang berasal, tetapi yang kugapai hanya ruang kosong.


“Aku terkejut ternyata kamu juga takut gelap,” jawab suara Elang masih begitu menyebalkan.


“Aku serius, Lang, kamu boleh meledekku sepuasnya, tapi tidak sekarang. Tolong jangan mempermainkanku, kamu di mana?!”


“Di sini, Shir.”


Masih dari arah yang sama aku terus bergerak mendekat, tetapi juga kosong. Harusnya posisi Elang sudah ada di hadapanku. Aku jadi takut melangkah ke mana-mana.


“Di mana?” tanyaku justru berjongkok takut.


“Sedikit lagi di depanmu.”


“Kenapa kamu bisa tahu posisiku sementara aku tidak? Kamu sedang apa? Tolong jangan biarkan aku kebingungan begini!”


“Aku masih menahan pintu bilik, Shir. Akan sangat berbahaya membiarkannya terbuka. Tiga langkah lagi ke depan,” ujarnya memberi intruksi.


Baru saja aku hendak berdiri, kerlip cahaya keunguan bermunculan seperti mata setan yang mengintai dari segala arah, bermunculan semakin banyak. Tanpa sadar aku merengek, menutup kedua mataku pasrah. Entah kenapa aku tiba-tiba jadi cengeng dan penakut begini. Titik-titik cahaya mencurigakan itu terkumpul menjadi satu, membentuk formasi solid sesosok yang tak asing bagiku. Perlahan ruangan kembali terang seperti baru saja terbit fajar.


“Aduh, ulah siapa ini yang memaksa energi luar masuk ke dalam?” tanya Sakti sambil tersenyum mengulur tangan kepadaku.


“Maksudmu api tadi?”


“Iya, itulah penyebab terganggunya sistem waktu di dalam bilik,” jawab Sakti. Ah, aku juga ingat saat itu ketika ada monster yang menerobos masuk dan menghancurkan dinding bilik, mengacaukan sistem waktu. Akibatnya Sakti berubah menjadi monster sebelum waktunya.


“Jangan khawatir, tadi hanya kekacauan kecil. Energi dari api itu tidak seberapa dibandingkan kejadian yang dulu. Kamu tidak perlu cemas aku akan berubah lagi,” kata Sakti mengerti kekhawatiranku, syukurlah.


“Kamu datang dari mana?” tanyaku mulai sedikit tenang.


“Aku adalah penguasa dalam. Kebalikan dari Sekti, penguasa luar, yang bisa berteleportasi ke mana pun di luar ruangan, aku juga memiliki kemampuan berteleportasi ke bilik mana pun yang bisa kuraih,” jawab Sakti.


“Ak tidak peduli kau penguasa dalam, luar, atau tengah-tengah! Di mana pakaianku?!” tanya Elang yang ternyata memang sedang menyandar menahan pintu bilik dari tadi.


“Oh, hai, Elang! Kamu baik-baik saja?” balas Sakti tetap ramah menanggapi Elang yang terkesan selalu ingin mengajak ribut.


“Aku kedinginan, aku tidak baik-baik saja,” jawab Elang datar, “carikan sesuatu yang layak untuk kupakai!”


“Hm, bagaimana menjelaskannya ya? Jadi begini, sebenarnya tidak ada pakaian,” jawab Sakti. Hening, baik aku maupun Elang tidak bisa menerima kata-kata Sakti barusan. Apa katanya? Tidak ada pakaian? Lalu gaun terusan putih —agak kumal— yang kupakai ini dan celana panjang longgar yang dikenakan Elang itu apa jika bukan pakaian?


“Itu hanya ilusi,” jawab Sakti enteng.


Eh?


“Itu hanya ilusi, Shira,” tegas Sakti sekali lagi.


“Eeeh??! Jadi maksudmu sebenarnya kami tidak memakai apa pun?” tanyaku panik.

__ADS_1


“Tepat sekali!” jawab Sakti begitu polosnya.


Bagaimana mungkin Sakti bisa menjawab demikian seolah-olah itu hal yang biasa? Jangan-jangan ... Jangan-jangan selama ini dia memang terbiasa melihat ....


“Tidak, Shira, tidak yang seperti kamu pikirkan,” jawab Sakti segera. Elang mendengus sebal.


“Aku cukup tahu, Sakti, kamu memang sehebat itu —bisa bertelepati dan membaca pikiran orang lain. Lanjutkan saja, aku hanya akan berusaha menyimak dan menebak-nebak apa yang sebenarnya kalian bicarakan,” jawab Elang setengah menyindir. Eh, tidak, dia memang menyindir.


“Lang, Aku turut prihatin dengan kondisimu. Udara dingin ini pasti membuat otakmu salah bekerja. Aku memaklumi ketidakstabilan emosimu. Silakan katakan apa saja yang kamu mau,” balasku.


“Aduh-aduh, Shira! Bukannya aku memihak Elang, tapi harusnya kamu ingat bagaimana kamu menangis hebat ketika hampir kehilangan Elang kemarin. Kupikir kalian berdua akan berdamai setelah itu,” jawab Sakti.


“Eeh? Benarkah perempuan ini punya air mata? Untukku?” jawab Elang demikian berbakat memulai keributan. Manusia satu ini!


“MEMANGNYA SIAPA YANG MENANGISIMU?! Kamu memang pembual, Sakti! Aku tidak menangisinya!”


“Baguslah kalau begitu. Sama sekali tidak keren jika aku ditangisi orang sepertimu!”


OH, BEGITU?!!


Aku hanya membuang napas kesal, memalingkan pandangan. Bodo amat! Terserah apa yang dia katakan! Aku tidak peduli!


“Sudah ya, kalian berdua!” kata Sakti di lain sisi hanya menonton sambil senyum-senyum sendiri. Cih, dia pikir apanya yang lucu?!


“Begini, Shira, meski hanya ilusi, pakaian ini memang dapat melindungi dan menutup tubuh, tapi sejatinya tidak memiliki wujud fisik. Aku juga tidak tahu bagaimana cara melepas atau mengenakannya, dan ketika rusak pun aku tidak tahu cara mengembalikannya,” jelas Sakti kembali ke bahasan awal.


“Jadi aku akan dibiarkan seperti ini selamanya?” tanya Elang.


“Tidak juga, Elang. Ilusi semacam itu dapat pulih seperti semula dan memang memerlukan waktu. Oh iya, ilusi pakaianmu mungkin saja rusak karena peristiwa kemarin. Aku yakin darahmu yang meluber demikian banyak itulah penyebabnya.”


“Selain itu, teknik penyembuhanku juga mengikis banyak energi di sekitarmu. Mungkin aku tidak sadar telah menggunakan energi ilusi itu, tapi sepertinya tidak sia-sia, sebab akhirnya kamu dapat tertolong,” kata Sakti.


“Teknik penyembuhan? Oh, jadi sebenarnya Elang selamat karena itu ‘kan? Bukan karena dia bunuh diri?” tanyaku.


“Singkatnya, bunuh diri atau tidak, Elang akan tetap mati. Namun, akhirnya mungkin akan berbeda. Monster itu memang membutuhkan jiwa Elang untuk dikorbankan. Jika Elang mati sebelum ritual penumbalan, maka Elang tidak akan menjadi monster. Tindakan Elang untuk bunuh diri memang pilihan terbaik untuk saat itu, tetapi jika aku terlambat sedetik saja mungkin Elang juga tidak akan bertahan. Syukurlah keberuntungan masih berpihak padanya.”


Syukurlah, ujarku dalam hati.


“Kamu dengar itu, Lang! Berterima-kasihlah kepada Sakti yang telah menyelamatkanmu!” ujarku.


“Aku hanya akan berterima kasih kepada Tuhan, Sakti hanya perantara,” jawab Elang masih saja keras kepala. Ih, dasar!


“Um, ngomong-ngomong soal keselamatan Elang, sebenarnya aku masih sedikit khawatir,” kata Sakti sambil mengusap tengkuknya.


“Memangnya ada apa?” tanyaku.


“Elang, berbaliklah,” pinta Sakti. Masih dengan wajah bersungut-sungut Elang pun menurut, berbalik menghadap ke arah pintu yang sedari tadi ia sandari, menampakkan punggungnya yang membuatku ternganga tidak percaya.


Mungkin aku tidak menyadarinya dari tadi karena di luar sedang gelap, tapi dengan kondisi bilik yang terang ini aku bisa melihat siluet gelap berbentuk pedang tepat di sumbu tulang belakang Elang, seolah benda itu tertanam di dalamnya.


“Lang, apa itu sakit?” tanyaku.


“Aku bahkan tidak mengerti apa yang kalian maksud dari tadi,” jawab Elang.

__ADS_1


“Kemarin aku hampir kehabisan energi ketika berusaha memulihkan Elang dan tanpa kuduga-duga pedang yang menusuk Elang itu tertancap semakin dalam, semakin dalam seolah tertanam di dalam tubuhnya, hingga akhirnya benar-benar lenyap,” tutur Sakti.


“Ah! Yang benar saja?!” seruku.


“Benar, Shira, awalnya aku khawatir itu akan berakibat buruk, tapi ternyata kondisi Elang justru semakin membaik setelah itu.”


“Wah! Apa kamu merasakan sesuatu yang beda, Lang? Semacam energi kekuatan yang besar?” tanyaku.


“Yang ada aku justru merasakan kekesalan yang besar karena harus kehilangan pakaian dan senjata kesayanganku! Menyebalkan!” jawab Elang.


“Aku tidak peduli! Memang jarang sekali melihatmu dalam suasana hati yang baik, kamu selalu saja terlihat uring-uringan begitu!” jawabku enteng.


“Tapi memang merepotkan jika Elang tidak bisa menggunakan senjata itu lagi. Mau tidak mau kita akan kesulitan menghadapi situasi buruk,” jawab Sakti. Kuharap memang tidak ada hal buruk untuk sementara ini. Tolonglah, aku masih belum lepas dari trauma karena insiden kemarin di dekat gerbang.


Namun, siapa sangka hal buruk itu datang pada detik berikutnya. Entakan kuat dari luar nyaris merobohkan pintu yang ditahan Elang. Raungan monster terdengar garang di luar, berusaha mendobrak masuk. Sial! Posisi kami ketahuan. Aku dan Sakti buru-buru membantu menahan pintunya.


“Ingat, jangan ditekan, Shira,” ujar Sakti.


“Bagaimana kami tidak akan menekannya sekuat tenaga jika yang di luar sana juga mendobrak sekuat tenaga?” balas Elang.


“Ini hanya perasaanku atau memang pintu ini lebih rapuh dari pada bilik yang lain?” tanyaku.


“Pertahanan bilik ini melemah karena masih masa pemulihan setelah masuknya energi dari luar tadi,” jawab Sakti. Aku berdecak sebal, lagi-lagi karena salahku yang membawa masuk api itu.


“Sialan! Sepertinya tidak hanya ada satu monster di luar sana!” kata Elang masih menahan pintu.


“Aku tidak yakin bilik ini akan bertahan, semuanya pegang tanganku erat-erat! Kita akan berteleportasi ke bilik atas!” perintah Sakti yang segera kupatuhi. Berbeda dengan Elang yang masih tidak bergeming dari balik pintu. Sedikit demi sedikit sebilah pintu kayu itu runtuh, tetapi Elang hanya diam menahannya sambil menunduk. Kenapa dia diam saja?


“Lang! Apa yang kamu lakukan?!” teriakku tidak sabar segera menyambar tangannya. Tidak, ada yang aneh! Bukan hanya aku kesulitan menarik Elang agar menyingkir dari tempatnya berdiri, tetapi lihatlah corak bentol-bentol kelabu dan tekstur kulit Elang yang tidak biasa. Aku menggeleng. Tidak, tidak mungkin!


“Sakti, ada apa dengan Elang?!”


Pertanyaanku dijawab dengan hancurnya pintu bilik. Kepingannya terpental ke mana-mana. Sakti buru-buru menarikku menjauh, meski pada akhirnya aku terkena beberapa.


“Shira, ayo!”


“Tidak, Sakti! Telah terjadi sesuatu pada Elang!” jawabku masih tak mengalihkan pandanganku dari sosok Elang yang jauh bebeda dari yang pernah kukenal. Tatapannya kosong tanpa ekspresi, dengan wujud setengah monsternya, Elang berusaha menghalau tiga monster yang terlanjur memasuki bilik. Waktu di dalam bilik pun terintervensi, berbaur dengan waktu malam dari luar. Aku tidak begitu banyak memperhatikan Sakti yang mulai memasuki fase perubahaannya juga. Pikiranku terlanjur kacau, menebak-nebak apa yang terjadi pada Elang hingga ia memiliki wujud yang demikian?


“Shira, aku harus pergi dulu. Ingatlah, kamu harus tenang! Menghindarlah dari monster itu sebisa mungkin. Aku akan segera kembali!” kata Sakti kemudian luruh menjadi cahaya keunguan, seperti kunang-kunang yang kemudian berpendar ke segala arah, menghilang. Aku tahu dia menghindari waktu malam hari di bilik ini agar tidak berubah menjadi monster juga. Ia pergi tanpa memaksaku ikut sebab cukup tahu betapa keras kepalanya aku, yang tidak akan meninggalkan temanku berjuang sendirian, tanpa jaminan keselamatan.


Aku hanya terpaku di tempatku berdiri, lupa jika harus bersembunyi. Tanpa perlu bersembunyi pun sebenarnya aku akan tetap aman. Elang dengan kekuatan barunya yang lebih mengerikan menghajar monster mana pun yang berani mendekatiku. Sungguh, dia sangat berbeda dibandingkan pertarungan terakhirnya dengan para monster. Daya tahan tubuhnya meningkat, kebal dihantam tinju. Kian lincah meski tubuhnya bertransformasi semakin besar, mengelak segala serangan dan menghindar. Pertandingan tiga lawan satu yang telak dimenangkan Elang.


Meski demikian, rasa khawatir lebih menguasai diriku. Aku justru menatap sedih sosok Elang yang demikian. Sehebat apapun dia yang sekarang, jika dia bukan lagi manusia, maka aku telah gagal. Aku hanya akan dihantui janji yang pernah terucap dari bibirku bahwa aku akan menemukan jalan pulang sebelum terjadi sesuatu pada Elang. Aku pernah berjanji seperti itu, tetapi kenyataannya aku sudah gagal.


Kenapa? Kenapa Sakti membohongiku? Bukankah dia bilang dia berhasil menyelamatkan Elang sebelum ritual penumbalan itu? Harusnya Elang tidak akan pernah berubah menjadi monster seperti sekarang! Kumohon, jika yang dikatakan Sakti memang hanyalah omong kosong, kuharap masih ada alternatif lain agar Elang bisa kembali ke wujud normalnya. Bayangkan apa yang harus kujelaskan jika Elang tidak bisa kembali? Bagaimana jika orang tuanya bertanya? Kak Garuda, juga teman-teman?


Aku jatuh terduduk tak tahan digerogoti rasa bersalah. Entah bagaimana akhirnya monster-monster tadi tumbang satu per satu di tangan Elang. Satu monster terakhir limbung dilempar oleh Elang yang masih mengamuk, mengenai tiang di tengah bilik yang seketika turut hancur. Reruntuhan di atasnya nyaris menimpaku berhasil ditahan Elang pada detik yang tepat.


Sekali lagi melihat sosok Elang yang seperti sekarang membuatku dirajam rasa bersalah.


“Maaf...” ujarku lirih menyentuh separuh wajahnya yang bukan wajah manusia lagi. Tanganku gemetar didera ketakutan. Elang hanya menggeram rendah. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.


“Maafkan aku ... maafkan aku, harusnya tidak seperti ini ...” sesalku pelan-pelan larut dalam tangis. Sekarang apa yang bisa kupertanggung-jawabkan? Pertanyaan itu kian berulang kian mengecilkan hatiku, berakhir pada kenyataan bahwa aku memang tidak bisa apa-apa.

__ADS_1


.Bersambung.


__ADS_2