
Seisi kelas merubungiku begitu aku tiba. Beberapa menanyakan kondisiku, sebagian mengomentari keningku yang ditambal plester, sisanya mengkhawatirkan kecerdasan yang tersimpan di kepalaku –apakah berkurang karena benturan keras hari itu? Lelucon yang bagus!
“Ra, tidak boleh ada yang berubah dari isi kepalamu! Kami membutuhkannya di situasi-situasi genting! Seperti UTS minggu depan contohnya,” kata Rihana. Dih, betapa pandainya dia melawak!
“Tapi sungguh, Ra! Aku sempat lihat waktu itu kepalamu bocor dengan luka robek dan sekarang hanya diplester begini saja? Terlalu ajaib!” komentar Marvel. Ah, Sakti ... apa yang harus kujelaskan?!
“Mungkin kamu hanya salah lihat, Vel!” jawabku ngawur. Elang di bangkunya yang menyimak percakapan tadi hanya memutar bola mata. Ya, maaf saja! Aku tidak pintar berbohong.
“Hai, hai, Shira! Aku sama sekali tidak terkejut kamu akan masuk hari ini. Jika saat kami berkunjung saja kamu sudah membaik apalagi sekarang! Ya, aku senang, sih!” sambut Yasinta di tempat duduk kami berdua.
“Hm, sok manis! Aku tahu kamu sudah tahu, Yas!” jawabku. Yasinta hanya nyengir meraih tas jinjingku yang berisi beberapa toples kecil kue kering.
“Hehe, semalam tante Mira japri kalau jatahku akan dibawakan kamu hari ini. Padahal aku ingin mengambilnya sendiri sekaligus main ke rumahmu. Eh, ternyata tante Mira sudah berangkat kerja lagi tadi pagi!”
“Ya, memang harus begitu. Lagi pula tidak biasanya ibu dibolehkan pulang sementara waktu seperti kemarin,” ujarku sambil mengintip susunan kue dalam toples transparan. Ibu memang sangat perhatian kepada teman-temanku, menganggap mereka seperti keponakan sendiri. Bagi-bagi kudapan seperti ini salah satu caranya.
“Nih, buatmu! Tidak usah pengumuman ke seisi kelas! Ibu tidak buat banyak!” ujarku menyerahkan satu toples untuk Yasinta.
“Ah, makasiiih! Siap, dimengerti! Aku paham, kok, tante Mira hanya membagikan untuk teman-teman terdekatmu. Bisa kutebak satu toples sisanya itu pasti untuk Nike,” kata Yasinta.
“Ya, biarlah nanti dia kuhubungi,” jawabku.
“Eh, masih ada satu lagi? Untuk siapa?”
“Wah, sejak kapan kamu suka mengabsen barang orang, Yas?”
“Aku kan penasaran, biasanya tante Mira hanya buat dua tapi sekarang ada tiga!”
“Sisa satu ini punyaku, paham?”
“Tidak masuk akal! Kamu kan bisa makan di rumah. Kenapa dibawa ke sekolah juga?”
Aku tak mungkin terselamatkan dari ocehan Yasinta jika pengeras suara tidak segera berisik, mengingatkan anak-anak agar segera berkumpul di lapangan upacara membentuk barisan. Beberapa anak masih saja membandel duduk di teras kelas, menunggu dipaksa tim ketertiban agar segera turun ke lapangan. Aku masih sibuk mencari topi. Ah, seingatku selalu kutinggalkan di laci, tapi kali ini tidak ada. Bisa gawat jika aku tak lengkap mengenakan atribut. Teman-teman mulai meninggalkan kelas satu per satu ketika yang kucari belum juga kutemukan. Setidaknya kepanikanku meningkat ketika kusadari aku pun tidak memakai dasi. Nah, ******!
“Hei, cepat tinggalkan kelas!” teriak seseorang di ambang pintu, sepertinya anggota tim ketertiban. Aku menoleh dan anak itu pun tersenyum.
“Oh, ternyata kamu, Shira? Aku terkejut kamu sudah masuk hari ini. Apa sudah agak membaik?” tanyanya menghampiriku. Sejak kapan Erik berani basa-basi denganku?
“Aku sudah tidak apa-apa,” jawabku seadanya.
“Syukurlah! Aku senang mendengarnya. Hari ini kamu boleh tidak ikut upacara, kok!”
“Sungguh?” tanyaku tidak percaya.
“Iya, jangan capek-capek dulu! Tetaplah di sini, oke?” jawab Erik. Wah, keberuntungan! Aku tidak akan jadi dihukum karena lupa bawa topi.
“Kalau begitu aku permisi dulu. Gedung lain perlu disisir untuk memastikan tidak ada yang sengaja bolos upacara. Jika ada pengawas lain yang menanyaimu, bilang saja ini keringanan dari Pak Hanri. Mereka pasti mengerti,” kata Erik lagi. Aku hanya mengangguk membiarkannya pergi. Tak jauh sebelum meninggalkan kelas, perangkat HT di saku jasnya bergemerisik.
“Ya, Erik di sini. Area depan atas, clear! Apa? Ada yang menerobos pagar belakang?! Cih, kupastikan mereka akan membayarnya!” gerutu Erik telah melesat menuruni tangga. Kata-katanya barusan terngiang di telingaku. Seperti pernah kudengar sebelumnya, tapi di mana? Ah, mungkinkah ... mungkinkah suara terakhir yang kudengar sebelum aku pingsan di tangan anak-anak berandal waktu itu?
“Kupastikan kalian membayar mahal atas semua ini!”
Aku sedikit tidak suka, tetapi itu memang suara yang sama.
***
Satu jam yang terasa singkat, berlalu bagai sekali putaran lagu dari ponselku. Kudengar aba-aba pembubaran barisan. Memang begini ketika tidak ikut upacara, waktu terasa lebih cepat. Padahal aku ingin menikmati suasana tenang di kelas lebih lama. Sangat berbeda ketika turut terpanggang matahari di luar sana. Upacara akan terasa sangat lama. Bagaimana bisa seperti itu ya? Ah, atau memang karena pidato pembina hari ini lebih singkat dari biasanya?
“Kamu tidak ikut upacara, Ra?” tanya Yasinta sambil menyeka keringat di wajahnya. Aku menggeleng.
“Enggak boleh sama Pak Hanri,” jawabku sekenanya.
“Dih, enak ya! Aduh, sebentar lagi kelas olahraga pula! Perubahan jadwal sama sekali tidak menguntungkan kita, Ra! Lagi pula tidak biasanya jadwal diubah-ubah ketika pertengahan semester begini! Kenapa kelas kita dapat jam olahraga setelah upacara?!” gerutu Yasinta.
“Mana kutahu, Yas! Jangan protes kepadaku!”
“Terlebih Pak Aji sama sekali tidak bisa menolerir keterlambatan. Padahal kamu tahu sendiri betapa cewek butuh banyak waktu untuk ganti baju ...”
“Tidak, nih! Aku bisa cepat.”
“... apalagi setelah kelelahan begini rasanya mager sekali mau olahraga, Ra!”
“Sudah tahu begitu, maka cepatlah ganti baju dan berhenti menggerutu, Yas! Ya ampun, kamu tahu sendiri aku tak tahan di dekat orang mengomel!” balasku. Dia hanya nyengir.
“Kamu tidak ganti baju, Ra? Tidak ikut kelas olahraga? Ah, jangan-jangan kamu lupa tidak bawa pakaian olahraga ya?”
“Enak saja! Aku bawa, tahu! Kamu duluan sajalah!” jawabku sengaja ganti baju paling terakhir.
__ADS_1
Kelas sudah sepi ketika aku baru keluar dari kamar mandi, tapi aku tidak khawatir, masih ada lima menit lagi sebelum pemanasan dimulai. Tahu-tahu Elang sudah berdiri di depan pintu kelas, belum mengganti seragam putih abu-abunya.
“Kamu tidak ikut olahraga, Lang?” tanyaku.
“Kamu mau ikut olahraga?”
Lah, malah bertanya balik!
“Kamu lihat ‘kan? Aku sudah ganti baju. Tentu saja aku ikut olahraga,” jawabku.
“Kalau tidak boleh?”
“Siapa yang melarang?”
“Kau baru sembuh, duduk saja di kelas!” perintahnya sambil mnghalangi jalan keluarku.
“Benar, aku sembuh total! Aku bebas kembali pada aktivitas normal! Jangan menghalangiku!” balasku berusaha menyingkirkannya dari pintu.
“Dasar merepotkan! Kamu sengaja cari perhatian ya?!”
“Apa maksudmu?!”
“Ini fakta, kepalamu sering terkena lempar bola. Setelah itu kamu akan pingsan dan dikerumuni banyak orang, apa itu rencanamu pagi ini?” balas Elang benar-benar berbakat menyulut cek-cok.
“Lang, aku sedang mencoba tidak ingin bertengkar denganmu, jadi tolong ....”
“Jadi tolong, hematlah dulu tenagamu, Shir, oke?” kata Elang mendorongku masuk ke kelas lagi.
“Aku belum izin Pak Aji, tahu!”
“Sudah kupintakan izin!”
“Wah, ini sih hanya rencanamu agar aku tidak ikut kelas olahraga!” seruku kesal.
“Yah, ada benarnya, tapi kurencanakan demikian bukan tanpa tujuan,” jawab Elang sambil mencari-cari sesuatu dalam tasnya, menunjukkan buku tua bersampul coklat.
“Ah, benar juga! Aku selalu mencari kesempatan untuk mendiskusikannya!” jawabku menempati bangku Ardian yang posisinya di depan meja Elang, “tapi apa alasanmu absen dari kelas olahraga hari ini? Setahuku Pak Aji tidak segampang ini memberi izin.”
“Kakiku yang cedera belum sembuh benar, Shir,” jawab Elang.
“Bohong tapi ‘kan?”
“Bohong, ah! Kamu pernah terluka seratus kali lebih parah dari itu dan masih hidup! Mustahil luka kecil begitu belum juga sembuh dalam tiga hari! Bilang saja kamu lupa tidak bawa pakaian olahraga, iya ‘kan?” cecarku. Elang tak bisa menahan cengirannya sambil mengalihkan pandangan.
“Sejak kapan aku mudah terbaca seperti ini?!” gerutunya. Heh, dasar!
“Oh iya, ada titipan dari ibu!” ujarku pergi mengambil sesuatu di laci, “ini janjinya yang waktu itu.”
Elang menerima setoples kecil kue kering ini, “Wah, dibuatkan sungguhan.”
“Iya, Yasinta dan Nike juga dapat, kok! Ibu tidak pernah hanya basa-basi. Yah, bisa jadi dia hanya pamer kehebatannya. Dasar orang dewasa!”
“Sampaikan terima kasihku ya! Tetap saja kuakui ibumu memang keren, makanan olahannya selalu enak, tapi aku tak habis pikir kotak bekalmu isinya hanya itu-itu saja. Sepertinya kemampuan tante Mira tidak diwariskan kepadamu ya?”
“Se ... sejak kapan kamu berani mengomentari kotak bekalku?! Lagi pula aku tidak memasak yang aneh-aneh demi menghemat uang untuk ditabung, tahu!” balasku kesal. Elang hanya mencibir. Itu-itu saja katanya!
Angin dari utara membuat tirai jendela di sebelah bangku Elang berkibar-kibar, bahkan membuka beberapa lembar buku bersampul coklat di hadapan kami. Aku mengeluarkan ponsel, mengaktifkan kamera, memotret beberapa lembar. Hasil tangkapan kamera menunjukkan tiap halaman yang bersih tanpa tulisan, berbeda dari yang terlihat di mataku.
“Sudah jelas, tulisan di dalamnya hanya kita berdua yang bisa melihatnya, Shir,” kaya Elang mengunyah sekeping kue kering.
“Iya, aku tahu. Aku ingin menduplikasinya di ponselku agar bisa kupelajari di rumah, tapi sepertinya memang tidak bisa,” jawabku.
“Jangan khawatir, aku mulai menulis salinannya langsung dengan bahasa yang bisa dimengerti.”
“Wah, itu bagus! Informasi apa saja yang telah kamu dapat dari buku ini, Lang? Harusnya kamu mengajariku membaca aksara sandi ini juga!”
“Aku tak tahu pasti kunci sandi dalam buku ini, Shir. Tak pernah kupelajari, tapi dalam sekali lihat aku bisa mengerti secara otomatis pembahasan di dalamnya,” kata Elang. Wah, mirip seperti Sekti!
“Jadi, aku tidak tahu bagaimana harus mengajarimu. Selain itu, tidak semua informasi bisa kuserap sekaligus. Maksimal lima halaman tiap hari, selebihnya tak peduli betapa pun aku berusaha, tulisan di halaman berikutnya tak bisa kubaca sampai esok hari,” tambah Elang.
“Tersisa berapa halaman yang belum terbaca, Lang? Apa kira-kira akan selesai sebelum bulan depan?” tanyaku khawatir.
“Sudah kuhitung dan syukurlah, aku bisa menyelesaikan membaca buku ini bahkan sebelum musim purnama ketiga,” jawab Elang terdengar melegakan.
“Tidak apa-apa, mungkin kita memang harus memikirkannya perlahan,” jawabku. Elang mengaktifkan aplikasi pengolah kata di ponselnya, membuka fail tempat ia mengetik terjemahan dari buku kuno ini.
“Hanya itu yang sempat kutahu. Halaman-halaman awal lebih banyak menceritakan kisah lama Sakti dan Sekti. Mungkin kamu sudah tahu, tapi yang tertulis di sana lebih detail daripada yang diceritakan Sekti,” kata Elang. Aku sibuk mencermati terjemahannya. Bagian tentang kisah lama itu kulewati begitu saja. Entah kenapa terlalu muak bila harus kutahu berkali-kali bahwa harus ada yang dikorbankan ... tidak ada ampunan ... memaafkan kejahatan juga termasuk kesalahan. Aku tak bisa menerima hal semacam itu dan perasaanku akan terus menentangnya.
__ADS_1
Informasi terakhir yang Elang tulis adalah tentang celah cahaya, satu-satunya portal yang memungkinkan bebasnya kami dari sana. Sekti menjelaskan bahwa celah itu aktif secara periodik, enam puluh tahun sekali. Celah cahaya termasuk portal dua arah yang memungkinkan sesuatu masuk atau keluar melaluinya. Itulah kenapa celah cahaya aktif dua kali dalam siklus enam puluh tahunnya, yaitu aktif pertama dengan mengisap jiwa-jiwa tersesat ke dalam dunia kelabu saat musim purnama pertama. Ah, aku masih ingat malam pertama ketika tersesat di sana, yang kulihat adalah bulan purnama melayang rendah, terlihat sejajar dengan pandangan mataku yang berdiri di lantai dua.
Aku lanjut menggeser layar ponsel. Lalu untuk kedua kalinya celah cahaya aktif pada malam purnama ketiga dengan arah keluar. Namun, karena dunia kelabu itu dirancang seperti penjara, akses keluar tentu lebih sulit daripada akses masuk. Hanya jiwa yang pantas dan bersih yang bisa lolos dari tempat itu.
“Putih tidak lagi putih ketika di dekat hitam. Ternoda, kebaikan yang kau punya terlalu lemah, tak ‘kan bisa menyelamatkanku, tapi terlalu kuat hingga bahkan berbalik mencelakaimu. Itulah kenapa, sebelum menjadi pahlawan untukku, jadilah pahlawan untuk dirimu sendiri!”
Ah, percuma saja. Buku itu ditulis oleh Sekti yang berseberangan pola pikirnya denganku. Mungkin aku akan menemukan banyak hal-hal yang tidak kusuka dari cara pandangnya, tapi sejauh ini tidak ada petunjuk yang lebih memadai daripada buku ini.
Masih banyak yang perlu kucermati. Aku berniat mengirimkan fail ini ke kontakku tapi sepertinya Elang tidak menyimpan nomorku. Eh, atau tidak juga. Kontak bernama Shiro ini jangan-jangan ... KAN BENAR!
“Jangan seenaknya ganti-ganti nama orang, dong!” seruku kesal. Elang yang tak kusangka dari tadi juga memainkan ponselku hanya pasang tampang polos.
“Heh, apa?”
“Aku akan balas mengganti nama kontakmu juga, Emprit!” balasku kesal.
“Hei! Siapa yang menyuruhmu buka-buka kontak, ha?!”
“Aku mau kirim fail tadi! Apa-apaan namaku di kontakmu itu?!”
“Ya ampun, begitu saja dipermasalahkan! Kukira ada apa?!” jawab Elang santai kembali memerhatikan ponselku, “itu hanya salah ketik. Perbaiki sendiri kalau kamu tidak suka.”
“Mana mungkin salah ketik?! Shira jadi Shiro? A dan O jauh sekali posisinya di papan ketik, tahu!” amukku sementara Elang seolah tuli masih menggeser-geser layar ponselku, “kamu sedang apa, hei?!”
Aku berusaha merebut ponselku darinya. Sempat ketahuan dia membuka fail-fail naskah novel lamaku. HEH! TIDAAAK, ITU AIB!
“Kembalikan, Lang!”
“Sshshsh! Diam, aku penasaran!”
“LAAAANG! KUMOHON JANGAN MEMBACANYA LEBIH JAUH!”
“Tidak apa-apa, aku perlu tahu masa-masa khilafmu yang pernah mengarang cerita seperti ini!”
KU ... KURANG AJAR!
“Eh, ada yang menelepon, nih!”
“Makanya, kembalikan!”
“Iya, iya ... sepertinya sudah terjawab, Shir,” bisik Elang. Tuh, kan kena pencet!
“Halo, Shiro?” suara penelepon cukup terdengar. Aku buru-buru menurunkan volume panggilan telepon, memelototi Elang sejenak kemudian keluar dari kelas.
“Namaku Shira, Yah! Ayah sudah lupa?” jawabku. Suara jernih di seberang sana terkekeh pelan.
“Ayah tidak boleh bercanda? Baiklah, baik ... Bagaimana kondisimu, Kak? Jangan banyak bergerak dulu, pastikan kamu benar-benar sehat!” tuturnya.
“Eh? Aku bahkan sudah masuk sekolah,” jawabku.
“Oh ya? Kakak selalu saja begitu! Tapi Ayah dengar dari Adik kalau Kakak memang sudah pulih, itu kabar bagus! Semoga kalian sehat selalu.”
“Ya ... Ayah juga.”
“Bagaimana sekolahmu? Minggu depan UTS ya? Sudah belajar? Tagihan apa yang perlu dibayar?”
“Aku sudah belajar setiap hari,” jawabku tapi bohong. Aku hanya belajar ketika sedang ingin, “semua tagihan buku dan iuran beres sejak awal semester. Uang dari Ayah waktu itu sudah cukup.”
“Baguslah ... Kakak tahu? Dik Maurin ingin dibelikan sepeda karena katanya sekolah SMP jauh.”
“Dih, padahal masuk SMP baru tahun depan!”
“Iya, tidak apa-apa ‘kan? Kakak juga boleh minta sesuatu, kok!”
“Aku? Sesuatu yang bagaimana?”
“Ya ... bagaimana ya? Kakak memang tidak seperti Adik yang langsung tahu keinginan diri sendiri, sih! Apa-apalah gitu, Kak!”
“Aku memang tidak pernah minta apa-apa, tapi sekalinya minta akan sangat merepotkan! Aku ragu Ayah bisa mengabulkannya,” jawabku diam-diam tersenyum dingin.
“Wah? Benarkah? Kakak tidak minta dipetikkan bintang seperti dulu ‘kan?”
Kata-kataku sempat tergantung di langit-langit, cukup aneh untuk pertama kalinya meminta sesuatu.
“Aku ingin Ayah dan Ibu kembali berbaikan. Walau beberapa jam saja, aku ingin kita berempat berkumpul dalam suasana hangat tanpa kepura-puraan, dengan senyum tulus bahwa kalian memang saling menerima satu sama lain ... Bisa?” tanyaku berakhir lengang hampir semenit. Apa boleh tiba-tiba meminta seperti ini setelah aku bermasa bodoh sekian lama? Apa tidak terlalu lancang karena tiba-tiba saja menginginkannya? Kekhawatiran terbesarku hanyalah sesuatu yang kuinginkan menjadi terlalu mustahil. Ayah hanya berdeham di ujung sana. Kumatikan sambungan telepon, tersenyum hambar.
“Mustahil memang ... sudah kuduga!”
__ADS_1
.Bersambung.