
Aku terbangun dengan sensasi terentak yang tidak menyenangkan. Sekujur tubuh mengejang beberapa saat seperti tersengat listrik. Langit-langit ruangan berwarna putih yang pertama kali kulihat hanya membisu. Kutebar pandangan ke sekitar, membuat kepalaku memprotes dengan berdenyut cukup menyakitkan, tak bisa membuatku menahan rintihan.
Kusentuh dahi yang kuduga sebagai sumber rasa nyeri. Rupanya kepalaku telah dibebat perban, begitu juga pergelangan tangan kiriku. Detak jarum jam yang menunjukkan waktu hampir pukul tiga sore menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi ruangan ini. Ranjang tempatku berbaring terasa nyaman, tetapi fakta bahwa ruangan ini bukan UKS adalah sesuatu yang benar-benar mengganggu pikiranku. Di mana ini? Rumah sakit? Apa yang terjadi hingga aku berada di sini?
“Syukurlah, kamu siuman lebih cepat dari perkiraan dokter,” kata seseorang yang baru memasuki ruangan ini.
“Pak Hanri?”
“Semoga kamu juga pulih lebih cepat,” tambahnya lagi, “jangan khawatir, sudah saya pastikan kamu mendapat penanganan yang terbaik. Bagaimana keadaanmu, Shira? Pasti masih sakit ya? Istirahatlah dulu. Saya sudah menghubungi orang tuamu.”
“Eh? Orang tuaku?”
“Iya, ibumu, nanti dia yang akan berjaga di sini.”
“Tapi itu tidak mungkin! Di mana teman-teman, Pak? Apa yang ... apa yang telah terjadi?” tanyaku tak berhasil mengingat-ingat.
“Untuk sementara dokter melarang siapapun berkunjung selain keluarga ... dan sebaiknya pulihkan dulu kesehatanmu. Urusan ini separuhnya menjadi tanggung jawab sekolah.”
“Urusan apa?”
Lagi-lagi Pak Hanri hanya tersenyum, “Sudah saya katakan, lekaslah sembuh dulu!”
Berkata demikian beliau keluar dari ruangan, sementara aku mengabaikan pening yang tak kunjung enyah, kembali berpikir keras. Memangnya aku sakit apa?
Di luar terdengar Pak Hanri berbincang-bincang singkat dengan suara perempuan. Kemudian suara hak sepatu mendekat, berada di ambang pintu ruangan. Sepasang mata itu tetap cemerlang seperti ketika terakhir kali aku melihatnya. Garis-garis usia tertutup make up membuatnya terlihat jauh lebih muda. Mendengar perempuan itu menyebut namaku dengan suara gemetar benar-benar sesuatu yang lain. Aku mengalihkan pandangan demi meredam ledakan emosi yang mulai menggumpal di dada.
“Kamu benar-benar tidak pernah berhenti membuat ibu khawatir,” katanya menggenggam tangan kananku yang bebas dari selang infus.
“Kalau begitu ... jangan mengkhawatirkanku lagi jika itu mengganggu hidup ibu,” jawabku tak berselera.
“Ibu tidak pernah bilang begitu,” katanya mengelus lembut pipiku, “kita baikan dulu ya!”
“Terserahlah!” jawabku tak peduli.
__ADS_1
Akhirnya datang juga, seseorang yang harusnya kurindukan. Namun, kurasa aku sendiri sudah lupa rasanya rindu dengan pelukan hangat seorang ibu dan utuhnya keluarga. Bahkan rasa rindunya saja aku lupa. Lima tahun sejak kami memilih jalan masing-masing. Ayah dan Ibu merasa tak bisa lagi saling percaya, tetapi tak ada keberanian untuk melepas satu sama lain. Benar-benar keadaan yang menyebalkan.
Karena mereka lebih mementingkan ego masing-masing, maka kurasa aku juga berhak melakukan hal yang sama. Tak lagi peduli, aku bermasa bodoh dengan apa yang terjadi ketika seharusnya masih ada beberapa hal yang bisa kuselamatkan. Namun, mungkin memang beginilah takdirnya. Kami menempuh jalan kami masing-masing, melayani ego kami masing-masing, menjauhkan diri satu sama lain. Beralasan demi bekerja untuk mempersiapkan masa depanku, Ayah pergi, ibu juga menyingkir, dengan memperebutkan aku dan adikku. Beruntungnya, aku punya kesadaran yang sama untuk menempuh jalanku sendiri. Kuputuskan untuk tidak memilih siapapun di antara mereka. Di rumah peninggalan kakek itu aku tinggal bebas berdua bersama Maurin di bawah pengawasan nenek –yang sejak setahun ini kamilah yang mengawasi nenek karena beliau sakit.
Syukurlah pilihanku sama sekali tidak salah. Dengan begitu Ayah dan Ibu sama sekali tidak terbebani menempuh karirnya, mencari kebahagiaan masing-masing. Lalu nasib sesuatu yang kusebut ‘keluarga’ ini? Ah, itu membuatku penasaran, berapa lama lagi semua ini akan bertahan? Aku sendiri muak bila harus menganggap semuanya baik-baik saja ketika perlahan mulai tertimpa reruntuhan kenyataan tentang betapa keroposnya ‘rumah’ tempatku bernaung ini.
“Kamu pasti terkejut dengan kedatangan Ibu ‘kan? Yah, kebetulan kapal pesiar tempat Ibu bekerja sedang berlabuh di Singapura. Begitu dikabari tentang kamu, Ibu segera ambil penerbangan tercepat. Syukurlah, benar-benar tepat waktu!” ujar Ibu mulai berceloteh, “bayangkan bila posisi Ibu sedang di Turki, Itali, atau bahkan di Belanda! Pasti butuh waktu ....”
“Yang mengejutkan adalah tumben sekali Ibu segera diizinkan pulang?”
“Yah, siapa yang akan menghalangi seorang Ibu menemui anaknya yang terluka seperti ini?!”
“Kalau tahu begini aku pun tidak akan ragu melompat dari lantai dua sejak dulu agar Ibu pulang cepat,” sahut bocah yang masuk membawa parsel besar buah-buahan.
“Maurin, kenapa kamu lama sekali?” tanya Ibu.
“Dan apa-apaan kata-katamu tadi?!” sambungku.
“Dia sudah jauh-jauh datang ke sini, tetapi kenapa tidak sekalian menemuimu, Shira? Apa yang ada di pikiran laki-laki itu?!” gerutu Ibu kesal.
“Ya ampun, barangkali Ibu sudah lupa. Kalian membuat kesepakatan untuk tidak saling bertemu,” jawabku.
“Kesepakatan apa, Sayang?”
“Kesepakatan apa? Berhentilah bertingkah seolah tidak ada apa-apa, Bu! Aku sudah tahu sejak ini dimulai.”
“Kau mau kukupaskan apel, Kak?” tanya Maurin.
“Iya, tolong!” balasku.
“Dan kamu sepertinya baik-baik saja ....” kata Ibu lirih.
“Apanya?”
__ADS_1
“Sepertinya kamu baik-baik saja mengetahui keretakan ini. Ibu sedikit senang ....”
“Bu, kupikir Ibu jauh-jauh datang ke mari bukan untuk membahas sesuatu yang tidak menyenangkan seperti itu. Mari kita bahas lain kali bila Kakak sudah sembuh,” potong Maurin.
“Apanya yang tidak menyenangkan, Dik? Kita sudah berada dalam situasi seperti itu sejak lama dan berhasil bertahan sejauh ini. Jelas-jelas itu hal yang biasa, tidak memengaruhi hidup kita ... dan satu lagi, aku tidak sedang sakit,” bantahku menerima apel kupas lalu mengunyahnya.
“Terserahlah apa katamu, Kak. Mungkin Kakak hanya menahan rasa sakitnya. Mengaku kesakitan setelah benar-benar hancur adalah dirimu sekali!” jawab Maurin acuh tak acuh. Aku mengernyit tak percaya bocah dua belas tahun ini bisa mengatakan sesuatu tentangku. Memangnya apa yang dia tahu?!
Yang lebih mengejutkan adalah Ibu yang benar-benar diam setelah kata-kata Maurin tadi. Ah, sejujurnya aku tak pernah ingin melukai perasaannya, tapi sesuatu yang kulakukan tidak salah ‘kan? Aku dan adikku hanya bercermin dari apa yang orang tuaku perbuat, mencari kebebasan –meski yang baru bisa kami lakukan hanyalah bebas berbicara.
“Hei, sebenarnya kenapa aku bisa di sini?” tanyaku.
“Harusnya Kakak bisa mengingat penyebab bocornya kepalamu. Rasa sakit menjadi ingatan paling berkesan yang terlalu sayang untuk dilupakan,” jawab Maurin.
“Apa kamu sedang belajar bicara? Kata-katamu terdengar bagus tapi terlalu tidak masuk akal!” bantahku. Bagaimana mungkin rasa sakit bisa dibilang berkesan?!
“Sayang, dokter bilang sebaiknya kita tidak membahas itu dulu! Ibu khawatir kakakmu mengalami trauma,” jawab Ibu. Adikku membantah, meyakini bahwa aku tidak akan bisa tidur sebelum mendapat jawaban.
Aku baru saja akan ikut menyela sebelum dokter datang memeriksa, menanyaiku keluhan-keluhan yang masih dirasakan.
“Sejauh ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi kondisi pasien perlu diawasi setidaknya sampai besok sore untuk memastikan semuanya baik-baik saja,” kata dokter sebelum pergi dan meninggalkan beberapa obat.
“Terima kasih, Dokter!” jawab Ibu setelah itu menyuapiku, tak membiarkanku makan sendiri. Tangan kiriku memang diperban, tetapi aku penasaran dengan penyebab rasa perih di baliknya, sementara tangan kanan cukup ngilu dengan bekas cengkeraman yang tertinggal. Heeh??? Bagaimana aku bisa mendapat semua ini?
Seolah menyerangku bersamaan, ingatan tentang kejadian kemarin menyerbu kepalaku. Jeritan ketika tanganku disundut rokok terngiang lagi di telingaku. Wajah anak-anak berandal itu, semua yang kuingat berakhir dengan suara pecahan kaca. Aku menghela napas panjang, memejamkan mata.
Pantas saja ... pantas saja Pak Hanri juga merasa bertanggung jawab. Bahkan Ibu pun sampai memaksa pulang. Ah, barangkali ini memang akan menjadi masalah serius yang membuatku tidak bisa hidup tenang ke depannya.
Namun, masalahku yang paling serius adalah dunia kelabu itu. Bagaimana reaksi Ibu seandainya dia tahu?
.Bersambung.
Eh, udah episode 30, nih! Makasih buat yang tetep baca sampe sejauh ini :) Kritik dan sarannya kutunggu ya!
__ADS_1