Kelabu

Kelabu
Episode 47


__ADS_3

Setengah berlari, aku terancam terlambat bila tidak cepat-cepat. Beruntungnya menjelang akhir pekan, isi tasku agak ringan. Aku pun bisa berjalan agak cepat tanpa tersiksa. Jadwal sekolah Hari Jumat memang lebih pendek. Kami para siswa bisa pulang lebih awal, tapi kebanyakan siswa tidak langsung pulang karena masih ada ekstrakurikuler –beruntungnya aku sudah membebaskan diri dari organisasi dan ekstrakurikuler wajib– tapi mungkin segala kegiatan ekskul hari ini diliburkan karena minggu depan sudah penilaian tengah semester.


Langkah kakiku agak santai setelah kutengok arloji. Lima belas menit sebelum bel masuk dan gerbang depan sekolah sudah terlihat di seberang jalan. Aman, aku jauh dari kata terlambat. Berdiri di ujung tempat penyeberangan, aku menanti mobil silver yang tak lagi jauh agar melintas lebih dulu, tetapi rupanya mobil itu menepi di depan sekolah. Tidak ada kendaraan lagi, barulah aku menyeberang. Dari jendela atas di ujung gedung depan, jendela kelasku, wajah Yasinta, Tiara, dan beberapa teman-teman yang duduk dekat jendela barat merapat. Kupikir mereka sedang menyapaku, tetapi ketika kulambaikan tangan mereka tidak merespons. Jelas-jelas mereka tidak sedang memperhatikanku.


Aku menoleh ke arah perhatian mereka, gerbang yang beberapa langkah di belakangku. Penumpang mobil silver tadi keluar dari jok depan di sebelah jok kemudi. Aku segera mengenali wajah mengantuk yang khas itu, Elang. Oh, diantar ya? Tumben sekali, biasanya dia mengendarai motor sendiri. Tak begitu peduli dengan ekspresi cemberutnya meski masih pagi begini, suatu hal lain lebih menarik perhatianku. Seseorang di jok kemudi yang sempat kulihat sebelum kaca samping naik, laki-laki setengah baya dengan wajah tegas dan agak garang. Heh, itu papanya ‘kan? Aku penasaran kenapa kepala keluarga Dirgaraja itu jauh-jauh dari kota sebelah datang ke mari? Untuk mengunjungi anak-anaknya kah? Sejenak aku tahu penyebab kemurungan Elang dan tekanan besar yang menyerangnya. Papanya adalah teror dan ia benci diawasi selama masa ujian dua minggu ke depan.


Kualihkan pandangan ketika sepasang mata tajam di balik kacamata itu juga memperhatikanku, berbalik kembali masuk ke area sekolah. Elang hanya berjalan cepat melewatiku begitu saja tanpa menyapa seolah tak melihatku. Persetanlah dengan sikapnya! Aku paham tekanan yang ia hadapi dan memaklumi sikapnya yang semakin menyebalkan. Yah, barangkali dia butuh pelampiasan. Aku hanya ingin tahu seberapa lama dia bisa tahan menjadi orang lain, berpura-pura seperti itu.


 ***


Sejak jam pertama belum ada guru yang masuk, tetapi fail-fail pdf latihan soal terlalu nyampah di grup kelas. Guru-guru hari ini amat keterlaluan membiarkan kami belajar sendiri. Kenyataannya teman-teman laki-laki justru berlatih untuk penampilan festival budaya nanti sementara teman-teman perempuan sibuk merencanakan tata busananya, mengatur agar pakaian sederhana yang ada bisa terlihat sesuai dengan tema pertunjukan, mengoreksi hal-hal yang kurang, juga menyiapkan properti. Aku berharap bisa turut andil juga dalam persiapan ini.


“Tenang saja, kamu mau menyonteki kami selama ujian nanti, itu sudah terhitung sangat membantu, Ra!” celetuk Rehan segera disetujui yang lain.


“Aku, sih, tidak keberatan, tapi tidak ada yang tahu kalau tiba-tiba Pak Hasibuan menjaga ruang ujian kita ketika jadwal matematika. Bagaimana, dong? Cara instan enggak aman, tahu!” jawabku. Teman-teman tersenyum kecut mendengar nama guru paling galak di sekolah ini. Kejadian semester lalu ketika beliau menjaga ruang ujian kami tiga hari berturut-turut juga bukanlah kenangan indah. Apalagi bagi Yuanda dan Diana yang ketahuan berbagi jawaban.


“Tapi jujur, aku terkejut kamu akhirnya punya niatan ingin bantu-bantu, Ra! Sementara ketua kelas kita kali ini malah sibuk sendiri!” kata Imelda. Aku melirik sekilas Elang yang tampak serius mengerjakan soal-soal.


“Dia mengerti prioritas, Mel! Bukankah harusnya yang benar begitu? Kita ujian lebih dulu dibandingkan festival,” jawabku.


“Yah, Shira malah membela Elang. Ah, ya iyalah!”


“Apa? Mau bilang apa?!”


Aku baru saja ingin menyemprot Imelda yang mulai memperlihatkan seringaian nakalnya menggodaku tiada bosan.


“Hei!”


“Apa?! Kamu juga mau bilang apa?!” seruku kesal pada orang yang menepuk pundakku. Tercekat kikuk, aku tak menyangka ternyata Elang.


“Eh? Ku ... kukira Yasinta, maaf!” cengirku. Ia tampak tak peduli. Sudah sembuh, eh?


“Kamu sudah mengerjakan soal yang tadi pagi?” tanyanya.


“Ya belumlah! Baru selesai separuh. Kenapa?”


“Kalau soal kemarin? Tapi yang belum dibahas di grup. Pasti sudah ‘kan? Aku pinjam langkah pengerjaanmu untuk kubandingkan dengan milikku!” jawabnya. Aku hanya tersenyum, memintanya bersabar sementara aku mencari lembar langkah pengerjaan di dalam mapku yang ... yang berantakan tempat bercampur-aduknya berbagai dokumen dan lembaran.


Setidaknya aku sedikit lega karena Elang memulai bicara. Barangkali ia sudah lupa dengan kejadian semalam dan bermasa bodoh tentang sandiwaranya. Lagipula karakter temperamen dan tidak sabaran itu sangat tidak cocok dengannya. Terlalu mengejutkan bila ia harus berubah menjadi seperti itu dalam semalam. Terlebih ide untuk membuatku membencinya itu benar-benar pemaksaan! Memangnya pernah ada orang yang kubenci hingga begitu kuinginkan kematiannya?!


“Shir, kamu ada salah di nomor sekian, dasar tidak teliti!” katanya masih serius membandingkan hasil pekerjaan kami.


“Oh ya? Mungkin aku mengerjakannya sambil terkantuk-kantuk,” jawabku mengendikkan bahu.


“Yang nomor ini juga, kau lupa memasukkan tanda minus. Ya ampun, kenapa kamu justru banyak melakukan kesalahan di hal-hal sepele sementara soal-soal tingkat tinggi justru benar semua?!” omel Elang. Ini lebih bisa dikatakan dia sedang mengoreksi jawabanku.


“Ah, entahlah! Mungkin karena tertantang aku jadi sangat memperhatikan tiap detail,” jawabku.


“Ya, beda dengan soal-soal mudah yang kau sepelekan lalu ternyata di sanalah kamu banyak melakukan kesalahan,” timpalnya.


“Sudah sembuh, nih?” tanyaku.


“Apanya?” Elang bertanya balik, kebingungan.


“Kamu!”


“Memangnya aku sakit apa?!”


Sakit jiwa! Balasku dalam hati. Hanya orang sakit yang tidak ingat perubahan perangainya semalam. Barangkali dia memang tidak ingin membahasnya.


“Ah, enggak, deh!” jawabku. Dia hanya mendengus karena ketidak-jelasanku.


“Eh, sejak kapan papamu berkunjung ke sini?” tanyaku akhirnya membahas hal lain. Elang masih tak menjawab, tetap fokus membandingkan pekerjaannya dengan milikku. Mungkin membahas tentang papanya bukan sesuatu yang menyenangkan, tapi biarlah. Biar segala unek-unek dan kekesalannya tidak ia telan sendiri.

__ADS_1


“Lang, aku bertanya, tahu! Sampai kapan papamu berkunjung? Dengan mamamu jugakah?”


“Tidak ada urusannya denganmu, Shir. Memangnya kenapa kalau orang tua itu selama satu minggu ke depan ada di rumah?”


“Wah, lama banget! Urusan kerjaan bagaimana?”


“Mana kutahu! Aku belum banyak bicara dengannya dan memang tidak berniat banyak bicara!”


“Segitu buruknya ya hubungan kalian?”


“Lebih buruk dari yang ingin kau tahu,” jawab Elang acuh tak acuh.


“Ingin tetap terus seperti itu? Atau ada rencana untuk berdamai?”


“Orang tua itu? Berdamai? Denganku? Dia ke mari hanya ingin memulai peperangan baru, asal kau tahu!”


“Bagus, dong! Bukankah itu kesempatan buat kamu? Tinggal menangkan perang itu lalu kamu akan diakui di mata papamu!” jawabku. Elang meletakkan kertas yang dipegangnya, menghela napas panjang.


“Seenak itu kamu bicara ya!”


“Memangnya kenapa? Apa terlalu sulit sampai kamu ingin melarikan diri? Aku tak habis pikir ternyata kesediaanmu untuk mati dan dikorbankan di dunia kelabu hanya alasan untuk lari dari setiap masalah yang kau hadapi,” jawabku.


“Mana ada aku bilang seperti itu ....”


“Bahkan kamu sempat punya ide bersandiwara, memainkan lakon jahat agar aku membencimu. Kamu pasti lelah dan ingin berakhir seinstan itu.”


“Apa, sih, yang kau bicarakan, Shir? Aku tidak mengerti dengan sandiwara-sandiwara yang kau maksud!” kata Elang bangkit dari bangku di depanku kemudian kembali membawakan buku kuno dan kertas-kertas salinannya berisi terjemahan isi buku itu.


“Dan jika kamu masih mempermasalahkan penyelesaian dari jalan keluar itu ... Nih, aku sudah membacanya sampai catatan terakhir. Tadi malam aku memang agak keterlaluan kepada Sakti. Habisnya dia sendiri seolah menghalangi rencanaku dan selalu mempengaruhimu, tapi yang jelas tentang pengorbanan jiwa hitam itu benar adanya, Shir. Tak peduli kau percaya atau tidak!” kata Elang. Aku masih lanjut membaca terjemahan yang ia tulis.


“Tentang ramalan titik balik itu memang sempat dibahas di buku ini. Aku sempat membicarakannya denganmu dulu, ingat? Tapi tanda-tanda yang disebutkan Sakti tidak pernah ada, termasuk jaminan berlangsungnya peristiwa itu sendiri. Itulah alasanku tidak ingin mempercayainya. Pedang yang tertanam di punggungku ini mungkin memang ada kaitannya dan jika memang peristiwa titik balik yang diramalkan Sakti terjadi, itu bukan berarti aku bisa turut selamat dari dunia itu. Justru sebaliknya, mungkin ritual penumbalanku harus melibatkan pedang itu,” jelas Elang.


“Tidak, Lang. Peran pedang itu dalam ritual penumbalan tidak pernah disebutkan di buku ini!” bantahku.


Aku menghela napas panjang, “Kamu jelas sudah lupa dengan kesepakatan kita, Lang! Bukankah kamu sudah tak peduli lagi bagaimanapun cara keluar dari sini, tidak boleh ada yang dikorbankan!”


“Ah, kau mengubah bunyi kesepakatannya, Shira! Kita sepakat mencari celah cahaya itu bersama, tak peduli siapa pun yang harus dikorbankan atau siapa pun yang bisa lepas. Itu bukan berarti aku harus setuju dengan keinginanmu agar tak mengorbankan siapa pun. Ketentuannya hanya kamu yang bisa keluar, memang seperti itu, sementara kamu dan Sakti begitu keras kepala mencoba meyakini hal lain yang terlalu berisiko. Aku tidak mau coba-coba, Shir!”


“Berarti aku juga boleh tetap meyakini sesuatu yang kupercaya?”


“Terserah saja, lalu apa gunanya kesepakatan itu bila kita tetap menempuh jalan sendiri-sendiri?”


“Kamu sendiri tidak mau mengambil jalan tengah dan selalu merasa benar dengan jalan yang kau percaya, Lang!”


“Kamu dan Sakti juga sama! Jangan hanya menyalahkanku, dong!” jawab Elang.


Ah, satu kekhawtiran Sakti terjadi lagi. Padahal aku sudah berbangga diri berkata kepada Sakti bahwa aku dan Elang tetap satu suara dalam penyelesaian masalah ini. Namun, ternyata menyatukan pendapat memang hal yang tidak mudah. Dalam kondisi tidak ditemuinya jalan tengah, salah satu tetap harus ada yang mengalah, tapi aku tidak mau.


 ***


Sebisa mungkin kucoba untuk meredam keegoisan. Meski diam-diam tidak bisa sependapat lagi dengan Elang, aku tak ingin hal itu membuat kami harus bergerak sendiri-sendiri. Namun, perbedaan mengenai sesuatu yang kami pikirkan memang terlalu banyak. Masih ada beberapa hal lagi yang ingin kubantah darinya, yang sangat bertentangan dengan pemikiranku. Tentang kecurigaannya kepada Bu Lasmi. Aku baru ingin mendiskusikannya tapi Elang sudah pergi setelah bel istirahat pertama, entah ke mana.


Berjalan menuju perpustakaan, aku ingin menikmati ketenangan di sana. Sayangnya petugas yang jaga hari ini kebetulan Pak Hanri. Aku tak sempat balik kanan sebelum ia menyadari keberadaanku di depan pintu. Beliau menyapaku lebih dulu, terlalu tidak sopan bagiku untuk segera kabur dan pura-pura tidak dengar. Tak ada pilihan lain, aku pun masuk.


“Hai, kamu sudah lama tidak berkunjung ke perpustakaan, Shira! Ruangan yang sepi ini jadi semakin sepi tanpa pengunjung rutin seperti kamu. Ada apa? Rasanya kamu juga jadi semakin sulit dihubungi,” kata Pak Hanri di meja petugas.


“Ah, ti ... tidak, kok, Pak! Masa saya sulit dihubungi? Oh, akhir-akhir ini saya memang mengurangi menyentuh ponsel. Mungkin pesan dari Bapak tertimbun dan baru saya baca beberapa hari setelahnya. Maaf ya, Pak!” jawabku sebisa mungkin mengarang. Pak Hanri hanya mengangguk-angguk.


“Hm, masuk akal. Sebentar lagi ujian dan kamu jadi lebih banyak menyentuh buku daripada ponsel ‘kan?” jawab Pak Hanri. Rasanya ini pertama kalinya aku berhasil mengarang alasan.


“Sudah saya pindahkan, Pak. Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya suara seseorang. Aku menoleh demi mendapati Erik dengan beberapa sarang laba-laba tersangkut di rambutnya.


“Oh, hai, ada Shira di sini! Pekerjaan ini akan lebih cepat setelah ada kamu!” ujarnya riang seperti biasa.

__ADS_1


“Pe ... pekerjaan apa?”


“Memindahkan buku lama ke gudang. Ada banyak buku baru datang sementara rak di sini tidak cukup. Jadi harus ada yang dipindah,” jawabnya.


“Sudah dulu, Rik. Yang dibawah belum saya data. Kamu terlalu bersemanagat,” jawab Pak Hanri. Sejak kapan Erik jadi suka bantu-bantu di sini? Tapi mengingat Erik adalah anggota pengawas di bawah pembinaan Pak Hanri, mungkin saja Pak Hanri meminta bantuannya untuk apa pun.


“Ah, bagaimana, Ra? Sudah coba bilang ke Elang?” tanya Erik.


“Bilang apa ... Oh, yang itu. Belum, sih!” jawabku. Masalah kami yang lebih penting bahkan belum sempat terbahas.


“Tentang apa? Kalau membujuknya agar kembali ke tim pengawas, saya sendiri sudah berulang kali memintanya, tapi dia tetap menolak,” jawab Pak Hanri, “saya tidak bisa memahami penolakannya itu. Harusnya setelah ia tidak terbukti bersalah dia tak perlu segan untuk kembali bergabung.”


Aku tak berkomentar. Harusnya Pak Hanri bisa mencegah Elang keluar dari tim pengawas waktu itu.


“Sepertinya dia masih menuduh saya, Pak. Entah apa yang harus saya lakukan agar kesalahpahaman ini berakhir,” jawab Erik sendu.


Aku kaget dengan seseorang yang lewat begitu saja dari sampingku, keluar menuju pintu.


“Permisi, Pak,” katanya dengan senyum yang jelas dipaksa, sekilas memandang kami bertiga satu per satu lalu pergi. Pak Hanri dan Erik sempat membisu beberapa saat.


“Kita membicarakannya sementara dia ada di sini dari tadi?” kata Erik tidak percaya.


“Saya belum melihat Elang masuk dan tiba-tiba saja dia sudah keluar,” timpal Pak Hanri. Aku tak lagi heran. Itu memang bakat alaminya menyelinap lalu menghilangkan hawa keberadaannya seolah lenyap dan tak terlihat. Sebenarnya aku menyadari ada seseorang di balik rak pertama ini, tapi aku tidak tahu kalau itu Elang.


“Anu, saya juga harus permisi, Pak,” jawabku pamit buru-buru menyusul Elang.


Ia kudapati sudah jauh di sekitar area kantin sana. Rasanya dia hampir kucapai tapi aku segera kehilangan jejaknya di tengah keramaian kantin. Sial! Cepat sekali menghilangnya! Aku pun memutuskan mampir membeli susu lebih dulu. Sempat kulihat Yasinta dan Nike mengobrol berdua agak jauh dari tempatku. Aneh, mereka memang sama-sama temanku, tapi tidak pernah sedekat itu, jarang main berdua jika aku tidak di tengah mereka. Gara-gara memperhatikan keduanya aku jadi menabrak seseorang di depanku.


“Ya ampun, memangnya matamu melihat ke mana?!” protes orang yang kutabrak. Beruntungnya –atau tidak beruntungnya– dia adalah Elang. Susu kalengku yang baru kubuka sedikit tumpah mengenai pakaiannya.


“Aduh, maaf, deh! Tidak sengaja, sungguh!”


“Minum susu terus tapi enggak tinggi-tinggi!” jawabnya terdengar menohok.


“Aku tidak memintamu berkomentar tentang tinggi badanku, heh!” balasku selalu geram bila siapa pun mengejekku tentang hal itu. Lagi pula siapa pun pasti setuju bahwa susu lebih enak daripada mochalatte-nya yang itu-itu saja.


“Sudah, jangan kabur-kabur lagi! Ada banyak hal yang ingin kubicarakan, tahu!” ujarku menyejajari langkahnya.


“Apa? Jika kau memintaku bergabung ke tim pengawas harusnya kau tahu diri. Pak Hanri pimpinan tim yang memintaku saja kutolak apalagi kamu yang bukan siapa-siapa!” jawab Elang.


“Bukan tentang itu ...” jawabku tapi pada akhirnya lupa dengan yang seharusnya kutanyakan. Aku justru menanyakan hal lain, “Eh, tapi serius, kamu masih berprasangka buruk kepada Erik?”


Elang memutar bola mata sebal, “Tetap saja itu yang kamu bahas, Shira! Tapi tidak apa-apa, orang senaif kamu memang mudah percaya begitu saja! Kamu perlu mendengar penjelasan panjang. Biar kuberi tahu, surat dari Danil yang Erik tunjukkan tentang pengakuannya itu tidak benar, boleh jadi palsu!”


“Apa?! Bagaimana bisa?”


“Pertama, meski tulisan tangannya mirip, tapi itu tidak seperti surat Danil hari-hari sebelumnya yang berisi kata-kata singkat. Terlalu ajaib bila Danil tiba-tiba bisa mengungkapkan seluruh perasaannya dengan gamblang dan lancar,” jelas Elang, “kedua, alasan paling kuat, pada hari kejadian obat-obatan itu ditemukan di tasku, Danil bolos. Aku tahu karena saat razia siang harinya Danil alpa di kelasnya, jadi bagaimana dia menaruh barang bukti di tasku bila ia sendiri bahkan tidak datang sekolah?!”


Aku terkejut mengetahui fakta itu, “Tapi ... tapi bisa saja Danil sempat datang pagi harinya lalu segera bolos begitu mengetahui akan ada razia.”


“Tidak, Shir! Mustahil dia datang pagi-pagi ke sekolah sebelum ramai orang,” jawab Elang. Ah, mungkin saja! Ketika ada niatan buruk seperti itu Danil bisa melakukan apa pun sesukanya 'kan?


“Jika menurutmu surat itu palsu maka sama saja kamu mencurigai Pak Hanri, Lang! Hanya Pak Hanri yang mengawasi masa skorsing Kak Danil termasuk hukuman menulis surat itu juga!” jawabku.


“Kau benar-benar tidak mengerti, Shir! Bukan demikian! Danil dan Erik adalah teman lama! Erik pernah menjadi cecunguk yang sama dan ia sama sekali belum berubah! Dia hanya berpura-pura baik, menyusup dalam tim pengawas, diam-diam melindungi jaringan anak-anak nakal kawanannya, juga ingin menyingkirkanku yang selalu mengganggu kesenangan mereka. Lalu ketika Erik gagal menyingkirkanku dan justru kedoknya nyaris terkuak, posisinya terancam dikeluarkan dari pengawas, maka Danillah yang berkorban. Dia yang mengakui perbuatan Erik, melindungi agar Erik tetap di posisinya. Karena bila Erik sampai dikeluarkan dari tim pengawas, Erik tak bisa melindungi kawanan cecunguk yang tersisa. Apalagi dikeluarkan dengan kasus seperti itu dapat membahayakan teman-temannya. Pak Hanri pasti akan dengan mudah menciduk teman-temannya yang lain dari keterangan Erik. Apa kau masih belum mengerti juga? Kau masih saja termakan tingkah sok baik dan wajah pura-pura bersalahnya!”


Aku terdiam, masih ingin membantah. Tak peduli apakah surat Danil itu palsu atau tidak, Erik benar-benar tidak seperti yang Elang pikirkan. Jika memang benar Erik demikian, ia tak mungkin menolongku ketika dikeroyok kawanan Danil sendiri. Bagaimana caraku menjelaskan kepadanya yang sudah dikuasai prasangka?


“Maaf ya, Shir! Aku jadi semakin meremehkanmu. Kamu memang pintar dan selalu mendapat nilai bagus di kelas, tapi jika menghadapi dunia penuh intrik ini aku jauh lebih baik dibandingkan kamu!” kata Elang menepuk pelan puncak kepalaku. Aku melihatnya, dagu Elang terangkat.


Kebencian, prasangka, kesombongan, tiba-tiba begitu pekat membungkus hatinya. Semalam dia sempat bersandiwara menjadi lakon jahat, menjiwai peran jiwa hitam agar aku membencinya dan percaya bahwa dia memang layak dikorbankan. Aku tahu itu hanya sandiwara, tapi kali ini rasanya ... rasanya tidak dengan yang kulihat baru saja. Dia sungguh membiarkan sifat-sifat buruk itu menutup matanya. Tiba-tiba aku merasa sedih.


.Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2