
“Kamu yang menang, Shir!” kata Elang menunjukkan nilainya yang lima angka di bawahku. Eh?! Serius?!
Belum sembuh dari keterkejutan, ponselku bergetar lebih dulu. Satu pesan masuk dari kontak yang lama tidak pernah mengirimiku pesan. Sebaris kalimat yang kubaca membuatku refleks menengok ke jendela, pelataran depan sekolah yang ramai karena baru saja bel pulang berbunyi.
Buru-buru aku berlari dari tempatku. Tiba-tiba melupakan Elang dan pembicaraan kami sebelumnya. Aku tidak mau ditunggu lama.
“Eh, Raaa! Jangan buru-buru pulang, dong! Ujian kan udah lewat! Santai-santai dululah! Kita main-main kayak biasa!” kata Sindi mencegatku di pintu.
“Enggak dulu, kali ini aku sedang buru-buru!” jawabku tak berselera, tetapi Yasinta yang tiba-tiba muncul entah dari mana segera menarik tanganku, mendudukkanku kembali di sebelah Elang.
Sebelum aku banyak mengerti, dari luar Ardian masuk sambil mengoceh dengan ponselnya yang disangga tongsis. Firasatku mulai tidak enak. Jangan-jangan ....
“Ya, kali ini kita udah bersama duo yang lagi terlibat tantangan seru itu! Kita sapa dulu, nih! Ada Shira bintang kelas kita yang hari-hari awal tantangan sempat sakit! Tapi udah sehat kan, Ra? Iya, dong! Dan di sebelahnya ketua kelas kita! Bilang hai, kalian berdua!” kata Ardian membuatku memijit kening. Aku tak mengira vlog kurang kerjaan seperti ini benar-benar dibuat. Teman-teman yang ingin narsis masuk frame terdengar ribut di belakang kami.
“Lang, tolong kali ini usirlah mereka!” pintaku.
“Tidak, aku tidak mau terlibat. Ini salahmu karena membiarkan mereka semua tahu,” jawab Elang justru asyik memainkan ponselnya.
“Salah siapa katamu? Memangnya siapa yang tidak bisa merendahkan suara waktu itu hingga seisi kelas dengar?!” balasku tak terima disalahkan.
“Wah, asyik, nih! Malah ribut depan kamera! Oh, iya, Shira, memangnya kenapa kalau seisi kelas tahu? Kita bisa mendukung kalian, lho! Lagi pula kenapa tujuan persaingan kalian seolah ditutup-tutupi? Ceritakan, dong, siapa jadinya yang menang, nih? Dapat hadiah apa? Terus yang kalah dihukum bagaimana?” tanya Ardian.
“Lang! Bantu jawab! Ke marikan ponselmu, ah!” ujarku merebut ponselnya. Menyebalkan sekali ketika ia tak mau peduli. Elang berdecak sebal menatap Ardian.
“Kenapa kalian semua merasa perlu tahu?” tanya Elang dengan wajah tak bersahabatnya.
“Wah, harus tahu, dong! Kalian berdua tiba-tiba lengket ke mana-mana saja itu sudah mengundang penasaran! Daripada kami bergosip di belakang, bukankah sebaiknya kami minta klarifikasi dari kalian? Sebenarnya ada urusan apa terkait persaingan itu? Kalau memang tidak ada sesuatu yang serius, kalian berdua pasti bisa menjelaskannya kepada kami!” kata Ardian memaksa.
“Tapi, Yan, kurasa memang ada sesuatu, sih!” timpal Yasinta tiba-tiba, “Shira bahkan tidak pernah mau buka mulut kepadaku yang ... yah, kalian semua tahulah! Aku teman dekatnya, tapi Shira tetap main rahasia. Bukankah itu berarti memang ada sesuatu yang serius?”
“Wah, sahabat dekat Shira, kamu pasti tahu banyak hal!”
“Tidak, aku sendiri masih sering dibuat penasaran!”
“Yas, kamu pernah berjanji untuk tidak kompor seperti ini lagi!” ujarku memelototinya geram, tapi ia malah seperti diperintah justru menuai berbagai pernyataan tidak benar. Aku jadi berdebat seru dengannya.
“Wah, gila! Kalian benar-benar tidak bisa diam ya?! Lang, jangan hanya bengong saja! Berikan penjelasan pada mereka!” ujarku tak tahan terus menerus dipermainkan.
“Apa? Kau ingin aku menjelaskan yang sebenarnya?!” jawab Elang.
“Ja ... jangan, dong! Mengaranglah sesuatu atau apalah begitu!” jawabku kesal. Tumben sekali dia kurang cerdas. Tak menyangka kata-kataku tadi justru mengundang penasaran, teman-teman semakin berisik. Sungguh, aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni omong kosong ini!
Kanan-kiri terkepung, satu-satunya jalan untuk melarikan diri hanya dengan lompat melangkahi meja. Tidak sopan memang, tapi yang teman-teman lakukan kepadaku jauh lebih tidak sopan, mengorek-ngorek privasi seperti itu! Aku segera berlari meninggalkan kelas untuk kemudian menabrak seseorang di pintu. Kotak yang ia bawa jatuh dan kue di dalamnya jadi berantakan.
__ADS_1
“Yaaah! Shiraaa!” rengek orang itu yang ternyata adalah Nike. Aku tertegun melihat kue tar dengan krim yang telah berlepotan di beberapa bagian. Juga lilin berangka tujuh belasnya tumbang dan padam.
Berikutnya musik diputar dari sound kelas, teman-teman bersamaan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun milik Jamrud, mengelilingiku yang masih terbengong-bengong ketika Yasinta mengacak rambutku. Nike dengan bersungut-sungut menyelamatkan kue yang sebagian terlanjur rusak dan menyalakan lilinnya kembali.
“Tiup lilin, Ra! Buat permohonan!” katanya. Ardian masih merekam dengan ponselnya. Ulang tahun, eh? Aku sudah lama tidak merayakannya dan banyak melupakan hari ulang tahunku, menganggapnya tiada berbeda dari hari-hari biasa.
“Waduh, serius, nih, reaksi Shira cuma begini saja? Kenapa, Ra? Kurang meriah ya kejutannya?” tanya Sindi.
“Eh, tidak ... tidak, bukan begitu. Kupikir Yasinta memberi tahu kalian kalau aku tidak suka merayakan yang seperti ini,” jawabku.
“Memang, Ra! Tapi ini yang ketujuh belas! Sweet seventeen-mu! Kami ingin menghadiahkan sesuatu yang tak akan kamu lupakan!” bantah Yasinta. Sweet, hah? Aku menelan gelak tawaku, menunduk. Sedikit terharu karena mereka memedulikanku sejauh ini, tapi seharusnya mereka tidak perlu repot-repot sebab orang tuaku juga telah memberi kado yang sama, yang tak ‘kan kulupakan ... meski tak semanis yang seharusnya.
Terlalu kebetulan bila orang tuaku harus berpisah ketika usiaku tujuh belas tahun.
“Lantas kalau kau tidak suka, kau tidak mau menghargai teman-teman yang sudah menyiapkan semua ini?” tanya Elang baru beranjak dari bangku Yasinta di sebelahku tadi, mencolek krim kue yang terlanjur berantakan dan memainkannya di tangan, “entah kenapa meski aku yang tidak terlibat dengan semua ini agak sedikit kesal, apalagi teman-teman yang telah repot-repot. Bahkan aku tidak mendengarmu sekadar bilang terima kasih. Dasar!”
Aku terkejut ketika Elang tiba-tiba mengoleskan krim di tangannya tadi ke pipiku.
“Nah, benar! Setidaknya berpura-puralah terkesan!” jawab Yasinta melakukan hal yang sama di pipi sebelahku diikuti lainnya juga. Acara mencoreng-moreng mukaku dengan krim berlangsung heboh. Aku turut membalas siapa saja yang mengotori wajahku. Masih melanjutkan vlog-nya, Ardian memintaku memotong dan membagi sisa kue yang belum rusak.
Baru mengiris potongan pertama, aku menyadari topping coklat putih pada kue ini yang mengingatkanku pada seseorang.
“Ayo, potongan pertama buat siapa, nih?” tanya Ardian.
“Anu ... apa ada orang lain lagi di balik semua ini?” tanyaku memandang Yasinta dan Nike bergantian. Kemungkinan mereka berdualah yang tahu.
Aku terperanjat, sempat lupa harus menemui orang itu. Ah, jangan-jangan dia sudah pergi karena sudah memberiku kue? Lagi-lagi kutengok tepi jalan depan sekolah dari jendela, agak sepi. Sedan tua putih itu kukenali, juga laki-laki yang membuka pintu mobil hendak masuk.
“Yaaaahh!!!” teriakku sekuat tenaga. Laki-laki itu menoleh ke arahku. Tak sempat menelepon, aku hanya melepas pesan suara.
“Tetap di sana! Jangan ke mana-mana! Memangnya siapa yang mau hanya diberi kue murahan!” ujarku kemudian segera turun menemuinya, melupakan acara potong kue tadi. Teman-teman tak ada yang menghalangiku lagi.
Tak banyak berubah sejak terakhir kali kutemui, laki-laki di depanku bukan terlihat seperti ayah dua orang anak. Kemeja lengan pendek warna krem yang ia kenakan begitu cocok dengan kulit cerahnya.
“Shira ....”
Serta caranya menyebut namaku masih saja cadel, terdengar lucu bila orang dewasa yang bicara seperti itu. Memangnya dia balita yang baru belajar bicara? Sesaat kemudian ia tertawa, harus menutup mulut demi menahan gelaknya.
“Apa yang Ayah tertawakan, heh?!” tanyaku kesal kemudian menyadari wajahku yang berlepotan krim kue.
“Aduh, yang benar saja! Perayaan ulang tahun anak SMA masih saja sama dengan anak TK! Hahaha ...” jawabnya masih berusaha meredam tawa. Dengan sisa rasa malu kulap wajahku dengan ujung lengan seragam. Jadi, sepanjang koridor tadi aku berlarian dengan wajah seperti ini?
“Aduh, hei! Jangan sembarangan dilap begitu, dong! Nanti kalau nodanya tidak bisa hilang bagaimana? Kakak sudah tujuh belas tahun ‘kan? Memangnya tidak malu kalau seragamnya jadi warna-warni begitu?” tanyanya.
__ADS_1
“Aku lebih malu mengobrol dengan Ayah sambil diperhatikan teman-teman seperti ini!”
“Oh ya? Ah, itu mereka! Halo, terima kasih sudah menjadi teman anak gadisku yaa!” kata Ayah melambai ke arah teman-teman yang menonton dari jendela kelas. Sindi yang paling ganjen balik melambai tampak berselisih dengan Nike yang sama ganjennya.
“Tidak usah tebar pesona! Ayo pergi dari sini!” jawabku geregetan menariknya masuk ke mobil.
“Bakat pencemburu seperti ibu mulai terlihat pada Kakak, nih!” kata Ayah.
“Ayah senang membuat ibu cemburu?” tanyaku.
“Tidak, seumur hidup Ayah tidak pernah berniat membuat ibu merasa seperti itu –meski sebenarnya lucu,” jawab Ayah sambil mengemudi.
“Tapi kenyataannya itu yang menjadi pemicu keretakan kalian! Ternyata itu sama sekali tidak lucu!” bantahku. Satu menit berlalu lengang. Mata redup Ayah seolah membalas, “Tidak hanya itu.”
Seiring berjalannya waktu aku perlahan mengerti drama dimulainya prahara ini. Tak ada yang salah dan bisa disalahkan. Konflik memang selalu ada sebagai ujian, tapi kadang aku merasa terlalu konyol bila konflik ini dipicu oleh sifat kekanakan orang tuaku. Harusnya ... bagaimana ya? Terlalu lancang bila aku mengomentari hidup berumah tangga sementara aku sendiri baru hidup selama tujuh belas tahun dan belum berpengalaman mencintai seseorang. Maksudku, bukankah mereka sudah dewasa? Harusnya mengerti cara mempertahankan sesuatu yang mereka cintai.
“Harusnya, sih, begitu ...” ujarku lirih.
“Kakak bilang sesuatu?” tanya Ayah tak mendengar jelas kata-kataku tadi.
“Ayah mencintaiku?” tanyaku kemudian.
“Kakak masih bertanya seolah tak bisa melihatnya, padahal Kakak tahu meski sejauh apa pun kita selama ini, Ayah tetap berusaha memenuhi segala kebutuhan Kakak, kebutuhan adik juga.”
“Kebutuhan kami tidak hanya materi. Kami tidak mungkin besar dan terlahir hanya dicukupi dengan uang. Aku dan adikku lahir karena Ayah dan Ibu pernah saling cinta. Memangnya sekarang sudah tidak lagi?” tanyaku. Tiba-tiba tenggorokan ini terasa sempit mengingat pulangnya Ayah ke kota ini adalah untuk menanggapi serius gugatan cerai ibu.
“Jika jawabannya tidak, maka aku ... aku merasa seperti benih tumbuhan yang disemai, dibesarkan, lalu dibiarkan mati setelah dua orang yang menanamku tak lagi saling peduli. Aku tak mungkin bisa terus hidup tanpa cinta Ayah dan Ibu yang selama ini membesarkanku ....”
Suaraku kian hilang ketika ada isakan yang ingin meledak dari dalam dada. Menangis dan meminta agar ayah dan ibu tetap bersama adalah sesuatu yang ingin kulakukan sejak lama. Mobil yang kami kendarai menepi di depan rumahku, tetapi tidak masuk ke halaman. Terdengar hela napas panjang dari laki-laki di sebelahku. Matanya yang jernih menatapku dengan sisa harapannya.
“Ayah juga tak akan bisa hidup sebagai ayah tanpa kalian berdua. Itu sebabnya, tetaplah hidup dengan menjadi anak Ayah selamanya. Tinggallah bersama Ayah setelah ini. Cinta Ayah untuk Kakak dan adik tetap ada meski tak bersama ibu,” jawab Ayah lirih. Pandanganku mengabur ketika titik-titik air mulai menggenangi mataku. Ayah masih saja tak mengerti! Bukan itu jawaban yang seharusnya kudengar. Itu terdengar seolah ia tidak dihadapkan dengan pilihan lain padahal mestinya ada! Mestinya jika Ayah mencintaiku ia juga mencintai ibu yang melahirkanku dan tak akan melepas cintanya.
Tanpa membalas sepatah kata pun, aku keluar dari mobil, masuk ke rumah berpapasan dengan Maurin yang juga baru pulang sekolah.
“Jika ingin berpisah ya berpisahlah saja!”
Begitulah kata-kataku waktu itu, aku mengingatnya, tapi sekalinya terkabul kenapa aku justru merasa terpukul? Memang sepertinya tidak mungkin tiba-tiba mengganti permintaan, kepalang terlanjur.
“Wah, Shira sudah datang!” seru Ibu, “bagaimana ujian hari terakhirnya? Aduh, kenapa bajumu ... eh, Shira menangis?” tanyanya sesaat kemudian menyadari Ayah berdiri di ambang pintu.
“Ada apa?” tanya Ibu lagi. Mulutku masih bisu. Kutepis tangannya lalu masuk ke kamar. Tanganku terasa lemas tapi pintu kamarku terbanting keras. Mengubur wajah ke bantal dalam-dalam, aku ingin air mataku segera mengering begitu keluar. Ini tidak nyaman, ini aneh ketika akhirnya aku bisa menangisi orang tuaku, tapi tetap saja keinginanku tak tersampaikan. Sampai kapan pun mereka tak akan mengerti.
“Aku tak pernah melihatnya menangis! Apa yang kau perbuat?!” Suara Ibu terdengar meninggi. Ayah menyahut tak ingin tertandingi.
__ADS_1
“Kakak tidak pernah menangis! Apa yang sudah kalian perbuat?!” balas suara adikku hanya mengulang kata-kata Ibu. Ajaibnya setelah itu senyap. Yang kudengar hanya isak tangisku sendiri.
.Bersambung.