
Sejujurnya aku tidak tahu makanan berat apa yang dimaksud teman-teman, tetapi sepertinya tidak akan ada yang menolak mie. Aku dan Elang tidak mau ambil pusing, memesan mie di kedai terdekat dari sekolah —kenyataannya hampir dua kilometer. Aroma khas cabai menyapa indra penciumanku untuk pertama kalinya.
“Syukurlah tidak terlalu ramai,” komentar Elang setelah memesan ke salah satu pelayan, “kita tidak perlu mengantre lama.”
“Sama saja, Lang. Pesanan kita sendiri ada dua belas kotak,” jawabku.
“Memangnya kita bisa membawa sebanyak itu sekaligus?”
“Tidak tahu, mungkin bisa, tapi isinya akan sedikit berantakan.”
“Ah, ya sudahlah bodo amat!” jawab Elang tidak peduli. Dia menyeruput es kopinya sementara aku hanya mengaduk-aduk teh lemonku. Menunggu pesanan sebanyak itu tentu membuat kami haus, tetapi ini adalah kesempatan bagus untuk membahas yang seharusnya dibahas.
“Um ... Lang. Apa kamu ... apa kamu baik-baik saja?” tanyaku ragu-ragu.
“Apa pedulimu?”
“Lang! Aku serius! Kamu tidak ingat yang terjadi semalam?”
“Oh, yang membuatmu menangis hebat itu?”
“Laang! Sekali lagi kubilang, aku serius!”
“Aku juga serius, Shir! Sungguh aku tidak tahu apa yang kamu cemaskan,” jawabnya enteng.
“Aku sama sekali tidak cemas! Hanya saja ... hanya saja aku ingin tahu apa yang terjadi setelah kamu tertangkap,” jawabku.
“Kurasa kamu sudah tahu apa yang akan terjadi bila aku tertangkap, itu sebabnya kamu begitu panik dan meneleponku pagi-pagi, sialnya justru Garuda yang menerima teleponmu. Kau puas? Aku jadi diledek habis-habisan!”
“Aku tidak bertanya tentang itu, Lang! Bisakah kamu benar-benar serius menjawab bagaimana kamu bisa lolos dan selamat? Setahuku kamu memang akan berakhir di tangan monster itu dan tidak akan ada di hadapanku lagi jika kamu sampai tertangkap!”
“Kamu tidak suka jika aku selamat?”
Puh, ingin kuguyurkan es tehku ke kepala biar dingin. Aku hanya ingin penjelasan, bukan perdebatan. Kulihat Elang sempat menahan tawa. Ih! Tidak lucu, dasar bodoh! Tidak ada yang lucu!
“Sebelumnya aku juga penasaran, Shir. Kenapa kamu demikian pedulinya dengan keselamatanku? Bukannya aku jadi baper, tapi kedengarannya menyebalkan kalau nasibku —keselamatanku— bergantung padamu, itu tidak keren.”
“Apa alasan itu penting?”
“Iya, jadi tolong beri tahu aku!”
“Kamu hanya mengalihkan pembicaraan, Lang!”
“Tidak, Shir. Penjelasan dibayar penjelasan. Aku akan menceritakan yang kamu inginkan setelah kamu memberi tahu apa yang kuinginkan juga,” jawab Elang. Kuhela napas sebal. Harusnya aku mengerti bahwa Elang memang demikian keras kepala.
“Baiklah, baik! Kamu ingin tahu kenapa aku harus menyelamatkanmu, ha?! Karena ... itu karena ... karena aku tidak tahu! Aku tidak tahu, Lang! Pokoknya tidak akan kubiarkan siapa pun terjebak di tempat itu! Sekali pun Bu Listiyah yang pernah khilaf mengamuk kepadaku itu juga terjebak di sana, aku juga harus membantunya!” jawabku.
“Cih, kedengarannya naif sekali. Apa benar itu alasan yang logis?” bantah Elang.
“Kamu bertanya tentang kelogisan? Sekarang kukembalikan kepadamu, apa kamu rela terjebak di sana? Bagaimana dengan keluarga dan teman-teman yang kau tinggalkan? Kamu tidak memikirkan perasaan mereka yang akan kehilangan.”
“Kalau begitu kukembalikan juga. Bukankah kamu juga punya keluarga dan teman-teman yang akan kehilangan jika kamu tiada? Kamu juga tidak memikirkan mereka dan sibuk memikirkan cara menyelamatkanku. Jangan membantah, Shir, kenyataannya memang begitu.”
Aku tersenyum pahit. Mana ada! Siapa yang akan kehilangan jika aku tiada?! Menggelikan sekali!
__ADS_1
“Aku menerima alasanmu, Shir. Mungkin kamu memang senaif dan sebodoh itu, tapi ingatlah, kita memang berjuang bersama, semata-mata hanya untuk keselamatan diri sendiri. Aku tidak mau ada yang berkorban seperti kisah Sakti dan Sekti,” kata Elang, “dan aku paling tidak suka jika kamu yang berkorban demi diriku, itu tidak keren, aku tidak suka!”
“Baiklah, aku juga menerima usulanmu. Memang dasar kamu keras kepala dan suka ngeyel! Tapi ingatlah, aku tidak peduli apa kamu keren atau tidak, itu tidak penting!” jawabku. Aku lega ternyata perdebatan ini berakhir damai.
Gelas Elang sudah kosong sementara es tehku masih separuh tersisa. Kulirik arloji, baru sepuluh menit. Apa masih lama?
“Sekarang giliranmu. Jujur aku senang ternyata kamu selamat, tapi bagaimana caranya?” tanyaku.
“Um, sebenarnya aku juga tidak begitu mengerti, sih!”
“Jangan menghindar lagi! Kamu pasti melakukan sesuatu 'kan?”
“Kamu yakin ingin mendengarnya?”
“Aku sudah memintamu sejak tadi, Lang!”
“Yah, kamu tahu sendiri keadaanku ketika tertangkap. Karena tidak bisa melawan lagi, jadi aku memilih menikamkan pedang ke dadaku sendiri.”
Aku terbatuk demi mendengarnya.
“Bukannya tanganmu sudah lumpuh?” bantahku.
“Tangan kanan, tapi beruntungnya tangan kiriku masih baik,” jawabnya.
“Beruntung dari mananya, heh!”
“Monster itu sepertinya tidak ingin aku mati sebelum aku ditumbalkan. Oleh karena itu, sebelum disingkirkan, kutarik pedang yang tertancap di dadaku ke bawah, semakin dalam hingga merobek perutku ....”
Elang hanya menyeringai, “Padahal kamu sendiri yang memintaku menceritakannya.”
“Dasar gila! Kau pikir keselamatanmu terjamin setelah bunuh diri begitu?”
“Kenyataannya iya.”
“Kenyataannya kamu itu psikopat, dasar masokis! Ah! Entahlah, Lang! Kamu itu selalu saja menyebalkan!” jawabku kesal. Suasana hatiku jadi berantakan setelah Elang menceritakan adegan berdarah itu. Aku jadi tidak berselera dengan sisa es tehku. Dia hanya terkekeh pelan.
Aku tahu Elang ingin bercerita lebih banyak tentang bunuh-bunuhannya —Yah, dia sengaja mempermainkanku. Beruntungnya, pesanan kami sudah siap dan kami harus segera kembali ke kelas. Teman-teman yang kelaparan sudah menanti kami.
“Shir, ceritaku belum selesai!”
“Aku tidak peduli, Lang!” jawabku bersungut-sungut kesal. Sisa pertanyaan di pojok kepalaku bersuara. Benarkah Elang memang selamat karena tindakan bunuh dirinya?
****
Butiran embun beku meluruh dari langit. Yang tak sempat menyentuh tanah melayang rendah kemudian tersangkut di rambutku. Api kelabu dari obor di sepanjang koridor meliuk-liuk molek, terbelai embusan angin dingin, tak kunjung padam. Aku memang berharap cahayanya tak padam sebab tidak ada lagi penerangan yang lebih baik di tempat ini. Bulan purnama yang pertama kali kulihat di dunia ini tak pernah terlihat lagi. Entah ke mana.
Dengan jemari yang mulai mati rasa karena kedinginan, aku terus menelusuri koridor belakang —deretan kelas sepuluh IPS— mencari-cari dengan cemas keberadaan Sakti dan Elang.
Sesekali kutatap langit gelap yang masih menumpahkan salju. Sungguh aku begitu cemas, takut jika seandainya tiba-tiba salju mulai mencair. Sering menengok ke atas membuatku tidak memperhatikan ke depan. Jerit kutahan demi mendengar dengkuran rendah dari makhluk mengerikan yang berdiri mematung lima langkah di depanku. Matanya terpejam, masih dalam mode hibernasinya. Dengan detak jantung yang masih tak karuan karena terkejut, aku buru-buru berbalik, berlari-lari kecil berusaha tidak menciptakan keributan. Semoga indera pendengaran monster itu menjadi tumpul selama hibernasinya.
Namun, aku justru menabrak sosok lain di belokan koridor. Dengan perasaan yang masih kacau aku ingin segera kabur tanpa mengetahui siapa yang kutabrak. Dia lebih dulu menangkapku, membekap mulutku rapat.
“Sssttt! Jangan berisik!” bisik orang itu. Aku berhenti meronta ketika mengenali suara itu.
__ADS_1
“Lang! Kamu ....”
“Ya ampun! Padahal sudah kubilang jangan berisik!” serunya lirih. Aku mundur beberapa langkah darinya dan berbalik sambil menutup kedua mataku setelah menyadari sesuatu.
“Lang, kenapa kamu telanjang?”
“Tidak usah berlebihan! Aku hanya telanjang dada!”
“Menurutmu itu etis dilihat perempuan?”
“Kau pikir di mana pakaianku?!”
“Harusnya aku yang bertanya begitu!” seruku sebal.
“Jika aku tahu aku tidak mungkin bertanya, Shir!”
“Lupakan saja, Lang! Kita harus cepat berlindung,” ujarku beranjak dari tempat itu sementara Elang hanya mengekor di belakangku.
“Enak saja bilang begitu! Seandainya ini terjadi di dunia nyata mungkin aku sudah viral karena telanjang dada ketika badai salju!” omelnya sesekali menggigil kedinginan. Ah, kasihan juga, sih! Aku memungut salah satu obor api di sisi koridor. Apinya yang berwarna kelabu melenggok nyaris padam diterjang angin dingin. Elang mendekatkan tangannya di sekitar nyala api. Kuharap itu bisa sedikit membantunya.
“Hangatnya tidak bertahan lama, Shir. Sebaiknya kita terus bergerak maju,” kata Elang.
“Kalau begitu kamu saja yang membawa obor ini selama perjalanan,” jawabku. Dia menggeleng.
“Tidak bisa, obornya akan padam ketika kita melintas lapangan terbuka. Tujuan terakhir kita adalah gedung sebelah bukan? Deretan ruang guru dan ruang staf belum kita periksa. Barangkali di sana masih bisa digunakan untuk berlindung,” jawab Elang kemudian lanjut berjalan lagi. Selembar ingatan singkat terlintas di kepalaku, membuatku begidik ngeri.
“Artinya kita akan melintasi lobi?” tanyaku.
“Kamu takut?”
“Karena di sana dekat dengan sarang monster. Terakhir kali kita melintas di sana kita tertimpa nasib buruk, Lang,” ujarku mengingatkan.
“Maka dari itu, agar tidak tertimpa nasib buruk untuk kedua kalinya, kita harus melintasi tempat itu sebelum salju mencair, sebelum hibernasi para monster berakhir.”
“Aku hanya tidak ingin bertindak gegabah seperti kemarin,” jawabku masih ragu. Elang berdecak sebal dan menarik tanganku tidak sabar.
“Banyak omong! Tidak segera mengambil keputusan juga akan berakibat fatal!” jawabnya memaksaku menurutinya berjalan menuju gedung depan. Aku nyaris terpeleset ketika berlari melintas lapangan terbuka yang dipenuhi es dan salju, beruntungnya Elang masih menahan tanganku.
Kami tiba di gedung depan dengan rambut dipenuhi serbuk salju putih. Jemariku semakin mengeriput kedinginan. Kondisi Elang jauh lebih buruk, tetapi dia berusaha terlihat baik-baik saja.
Aku hanya mengekor di belakang Elang yang seperti tidak memiki trauma, berjalan tegap melintasi lobi seolah tidak pernah terjadi apa-apa di tempat itu. Kuharap kejadian kemarin memang tidak akan terulang.
Syukurlah tebakan Elang benar, bilik ruang guru dapat dimasuki. Suasana di dalam sedang siang hari dengan pencahayaan yang cukup, tetapi suhu masih dingin seperti di luar.
“Aku akan mengambil obor di dekat sini, kita akan membuat api unggun di dalam,” usulku. Elang menyetujuinya.
Aku dan Elang segera memasuki bilik ketika tahu salju mulai mencair. Namun, baru selangkah obor ini kubawa masuk ke dalam bilik, apinya padam dan semua yang kulihat hanyalah hitam.
"Lang? Apa yang terjadi?" tanyaku panik.
"Laang?!"
.Bersambung.
__ADS_1