Kelabu

Kelabu
#S2 Episode 19


__ADS_3

Pagi ketika aku harusnya menyibuk-nyibukkan diri dengan persiapan diskusi dan segala macam hal di ruang konferensi malah kugunakan untuk berjalan-jalan sejenak. Agenda hari ini adalah diskusi awal mengenai segala hal tentang Dunia Kelabu. Karena ingatanku belum pulih, Elanglah yang menjadi satu-satunya sumber informasi nanti. Aku berniat menemuinya lebih dulu, tapi sepertinya ruangan kamar tidur Elang dan Kak Garuda tertutup, tak ada siapa-siapa di dalam.


Seruan latah terdengar bersamaan setelah teriakan kagetku. Kak Garuda tepat di belakangku ketika aku berbalik.


“Waduh! Shira jangan bikin kaget, dong!” kata Kak Garuda berusaha menelan malu karena kudapati latah seperti gadis-gadis rumpi.


“Ih, Kakak sendiri yang tiba-tiba muncul padahal tadi tidak ada siapa-siapa!” balasku. Saudara kandung Elang itu hanya menunjukkan cengir polos selain mata sayu seperti orang kurang tidur begitu.


“Shira ada perlu dengan Elang ya?” tanyanya, “tadi sempat kulihat ia berkeliling dengan salah satu punggawa.”


“Dia cepat sekali menyesuaikan diri ya!” komentarku yang disetujui Kak Garuda. Hal itu sangat berbalik dengan yang terjadi padaku saat awal-awal tiba di Alba. Rasanya seperti cewek PMS, terus mengomel dan mengamuk Luska, memintanya mengantarku pulang.


“Mau kutemani menemuinya? Aku tidak bisa membiarkan Yang Mulia berjalan seorang diri meski di dalam kastelnya sendiri karena bagaimanapun ini adalah tempat asing, ya ‘kan?”


“Wah, meski sebelum menjadi Yang Mulia, aku sudah punya bakat tersesat yang diakui seluruh dunia, jadi jika tidak merepotkan Kak Garuda, aku memang minta tolong!”


“Ah, kamu boleh minta tolong padaku kapan pun! Jangan bicara terlalu formal begitu! Aku bukan orang penting di sini!” jawab Kak Garuda tidak jadi masuk kamar.


“Dengan orang penting atau tidak, memangnya salah kalau bicara dengan sopan kepada yang lebih tua?” tanyaku.


“Ya ampun, maaf saja ... Aku tidak terbiasa diperlakukan dengan sopan oleh adikku sendiri! Tapi aku pun terharu, huhuu! Tuhan akhirnya mengirimkan calon adik ipar yang baik dan mengerti sopan santun ....”


Sesaat kemudian Kak Garuda tercekat menyadari kebocoran mulutnya.


“Eh, yah, hehe ... Maaf, bercanda, tapi jika kamu menganggapnya serius tidak apa-apa, kok ... Hehe, aduh, jadi malu!” cengir Kak Garuda salah tingkah. Harusnya aku yang malu, hei!


“Ah, anu ... ngomong-ngomong, aku tidak melihat Kak Garuda semalam, memangnya Kakak ke mana?” tanyaku cepat-cepat banting setir pembicaraan. Beberapa prajurit yang berjaga di pintu membungkuk rendah ketika aku dan Kak Garuda lewat. Kami menelusuri halaman samping dari kompleks bangunan yang terpisah dari kastel induk.


“Oh, aku main ke rumah Tagsa, berkumpul dengan teman-teman lama sambil merayakan perdamaian yang mulai disepakati seluruh penduduk, bernostalgia semalaman sampai lupa waktu,” kata Kak Garuda. Aku hanya tersenyum kecil.


“Kakak sendiri juga mudah beradaptasi dengan orang-orang di sini. Aku benar-benar tak habis pikir bagaimana Kakak bisa tetap menjaga hubungan baik dengan mereka setelah berbagai hal yang terjadi tidak memihak kelompok kalian.”


“Yah, bagi kami, teman adalah aset, tak peduli seburuk apa pun yang dulu terjadi, prinsip kami adalah saling menjaga,” kata Kak Garuda, “lagi pula prioritas kelompok kami bukan memerangi Dunia Kelabu, jadi mereka tidak menyalahkanku karena ternyata aku bukan pewaris kekuatan Kesatria Perak yang mereka harapkan.”


“Ah, kita sedang tidak lagi membahas kebijakan-kebijakan lama itu ‘kan? Orang-orang sedang menunggu kebijakan dan strategi baru dari cerita pengalamanmu dan Elang nanti.”


“Atau mungkin dari Elang saja,” jawabku, “sepertinya aku akan lebih banyak menyimak dan mengingat-ingat.”


“Oh, benar, ingatanmu ... semoga lekas pulih ya! Jika itu bisa hilang, maka harusnya juga bisa kembali!”


“Terima kasih, Kak. Aku sangat berharap demikian,” jawabku. Terlepas tentang ingatan, satu hal lain sedikit membuatku risau sejak semalam. Aku sedang ingin memercayai Kak Garuda bisa menetralkan segala keruwetan pikiranku.


“Oh ya, ngomong-ngomong ... ada yang ingin kutanyakan, Kak,” ujarku melambat-lambatkan langkah, berharap tidak bertemu Luska atau Elang dulu sebelum pembicaraanku dengan Kak Garuda selesai, “apa menurut Kakak memungkinkan bagiku untuk kembali ke Nigra setelah semuanya selesai?”


“Shira sendiri berharap bagaimana?”


“Kuharap memang mungkin ....”


“Tapi jika kamu bertanya, artinya kamu meragukan harapanmu ‘kan?” balas Kak Garuda seratus persen benar. Tentu saja, pasti ada kemungkinan bahwa aku tidak bisa kembali pulang. Memangnya benarkah tanggung jawabku hanya sebatas berperang melawan Dunia Kelabu? Seandainya semua berakhir sesuai rencana, akankah orang-orang di sini melepasku pergi?


“Um, faktanya begini ... orang-orang di Alba telah lama mendambakan hadirnya pewaris sah yang sesungguhnya untuk menjadi pemimpin, bukan hanya untuk mengalahkan Dunia Kelabu sumber mimpi buruk mereka, tapi juga menjadi pemersatu semua golongan dan setir pemerintahan. Kuharap kamu dan Elang memang berhasil mewujudkan harapan semua orang, tapi bisakah kamu membayangkan setelah permukaan kembali bersih dan kamu meninggalkan singgasana Alba dalam kekosongan? Gejolak politik di sana-sini akan muncul kembali!” jelas Kak Garuda. Yah, aku tahu, kemungkinanku untuk tidak bisa kembali memang sangat besar.


“Tapi jika Elang menyadari hal itu, dia tidak mau membantuku. Untuk sementara ini dialah pemegang utuh semua informasi kelemahan Dunia Kelabu. Apa yang harus kulakukan, Kak? Aku ingin dua-duanya! Menyelamatkan peradaban negeri ini lalu kembali ke Nigra setelahnya,” ujarku sungguh-sungguh, “mustahil tidak ada cara yang bisa kutempuh untuk mendapatkan keduanya!”


“Um, sebenarnya ada, sih!” kata Kak Garuda membuat leherku menegak lagi, “masalahnya adalah kekosongan singgasana setelah kamu pergi. Penyelesaiannya sederhana, kamu hanya perlu mencari raja atau ratu pengganti.”


Wah?! Benar juga! Tapi salah!

__ADS_1


“Raja atau ratu Alba ditentukan dengan kekuatan pewaris sah yang terikat secara turun temurun ... dan kekuatan itu telah melekat padaku hingga mati,” jawabku menyadari batu penghalang dari ide Kak Garuda.


“Nah, itu dia! Tapi ... hm, asal kau tahu, aku sedang tidak tinggal diam membiarkan Shira tidak bisa pulang. Aku mengerti perasaan adikku ... eh, maksudku, perasaanmu juga,” kata Kak Garuda, “itu sebabnya aku sedang mencari cara.”


“Selama cara itu belum ketemu, kerisauan tidak bisa enyah dari pikiranku,” jawabku menghela napas panjang, mengusap wajah yang ototnya tak bisa berhenti menegang sejak semua ini dimulai.


“Shira jangan khawatir,” kata Kak Garuda tersenyum hangat, “memikirkan yang terjadi pada masa depan memang penting, tapi seberapa pentingnya bila akhirnya itu hanya membuat Shira semakin risau? Akan lebih merisaukan lagi bila Shira tidak segera memulai sesuatu yang bisa diperbuat sekarang.”


Kata-kata Kak Garuda terdengar seperti angin sejuk yang mendinginkan hatiku. Benar, ini bukan tentang kebaikan mana yang harus kuyakini, tapi tentang kebaikan yang bisa kulakukan sekarang!


“Baiklah, aku mengerti, Kak!” jawabku mantap, agak lega karena setidaknya sebagian keraguanku menyingkir, tapi aku masih berharap Kak Garuda benar-benar bisa membereskan sisanya. Ah, bukan, kuharap aku sendiri bisa membereskan sisa kekhawatiran itu.


Tak lama kemudian seorang punggawa menyampaikan bahwa aku diminta datang ke ruang konferensi. Bagus, saatnya mendengar cerita masa lalu!


“Rupanya sudah dimulai, Kak. Aku harus pamit. Terima kasih untuk semuanya!” ujarku sebelum pergi.


“Ya, sama-sama! Aku akan lanjut jalan-jalan meski hanya sendiri!” jawab Kak Garuda.


“Maaf, tapi Tuan Garuda juga diminta hadir.”


“Wah? Wah! Asyik! Aku juga diundang! Ayo, ayo, Yang Mulia Shira! Jangan membuat mereka menunggu!”


 ***


Tatanan ruang konferensi ternyata banyak berubah dibandingkan dengan semalam terakhir. Mungkin tidak perlu banyak kerja keras, hanya mengganti meja kotak panjang dengan meja melingkar besar berkapasitas sepuluh orang. Entah kenapa aku lebih suka yang seperti ini. Semua orang berada di satu sisi, dalam satu visi dan tekad bulat yang sama.


Kali ini tidak semua anggota dewan hadir, tapi beberapa yang duduk di tepian meja adalah orang-orang yang kukenal –Ladra, Luska, Elang, Aquila, dan dua anggota dewan lain– sisanya belum pernah kutemui sebelumnya.


“Ah, maaf telah membuat teman-teman menunggu,” ujarku kemudian dipersilakan menempati kursi di sebelah Elang.


“Teman-teman, heh? Kaupikir ini diskusi sebelum presentasi?!” gumam Elang lirih yang sempat kudengar. Aku hanya nyengir, sama sekali tidak punya ide untuk menyebut sekelompok orang ini, itu sebabnya kupanggil teman-teman saja!


“Wah? Aku dapat gelar itu lagi?” tanya Kak Garuda yang menempati kursi di sebelah Aquila.


“Dalam rangka menghormatimu karena bagaimanapun kau adalah saudara kandung Kesatria Agung,” jawab Aquila, “meski tidak mewarisi kekuatan untuk mengakhiri Dunia Kelabu, kau masih sama-sama keturunan Kesatria Perak.”


“Namaku diganti jadi Agung, menyebalkan!” gerutu Elang lirih yang lagi-lagi hanya aku yang bisa mendengarnya.


“Apa, sih, Lang?! Bukan begitu maksud mereka!” bisikku sama lirihnya.


“Oh ya, sebelumnya saya perkenalkan terlebih dahulu kepada Yang Mulia dua orang yang tidak pernah terlihat di ruang konferensi sebelumnya,” kata Ladra, “ini Profesor Cakra dari Balai Waspada Bencana.”


Seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahunan yang diperkenalkan menyapaku dengan hormat.


“Lalu di sebelahnya sejarawan muda, Nona Yastra, lulusan terbaik di bidangnya, pernah secara langsung berada di bawah didikan nenek Nona Aquila.”


Gadis manis di seberang sana menyapaku sama hormatnya seperti yang dilakukan Profesor Cakra.


“Senang bertemu kalian berdua! Kalian pasti orang-orang pilihan Dewan Internal yang dipercaya sanggup banyak membantu. Mohon kerja samanya ya!” ujarku membalas mereka.


“Sebuah kehormatan bisa bergabung langsung untuk mendukung misi besar bersama Yang Mulia dan Kesatria Agung! Kami akan berusaha sebaik mungkin!” jawab Yastra.


“Satu-satunya bencana berbahaya di Alba sejak ratusan tahun terakhir adalah Dunia Kelabu, itu sebabnya penelitian Balai Waspada Bencana hanya terfokus ke sana. Profesor Cakra akan memberi banyak gambaran situasi medan perang yang sekarang sudah amat meluas beserta pertimbangan yang dibutuhkan, sementara Nona Yastra menguasai banyak pemahaman tentang naskah-naskah kuno, serta petunjuk dari filsuf-filsuf terdahulu yang pasti dibutuhkan dalam misi ini,” jelas Ladra, “jadi yang dikatakan Yang Mulia memang benar, mereka akan sangat mendukung kita.”


“Namun, yang paling ingin kita dengar dan jadikan acuan saat ini adalah cerita pengalaman Kesatria Agung. Untuk itu, tanpa mengulur waktu lagi, kami persilakan kepada Kesatria Agung Elang menceritakan semuanya.”


“Nah, benar, jika tidak ada yang keberatan, aku sanggup menjadi moderator pertemuan ini,” kata Kak Garuda yang sepertinya disetujui semuanya, “sebagai kakak yang tinggal seatap dengan Elang, jujur aku terkejut dia pernah bertualang ke Dunia Kelabu dan tidak tahu hal itu sebelumnya. Bagaimana awal dari semuanya, Ang?”

__ADS_1


Elang sempat berdeham sejenak sebelum menjawab.


“Mulanya aku dan Shira juga tidak begitu paham. Kami seperti terjebak dalam mimpi buruk yang sama tiap malam, berada di sisi lain dari sekolah kami yang amat suram. Kemudian seseorang dalam mimpi itu meyakinkan kami bahwa lingkungan mengerikan itu bukan sekadar mimpi, kami bertiga sama-sama terjebak di dunia dipenuhi monster, harus terus menghindarinya sambil mengupas misteri jalan keluar dari dunia itu sedikit demj sedikit,” kata Elang.


“Seseorang dalam mimpi yang kaumaksud tadi ... siapa?” tanya Kak Garuda.


“Sakti, yang kalian sebut Kesatria Perak. Mungkin kalian sudah tahu, dia terjebak di sana karena masih terus mencari jalan keluar untuk saudara kembarnya yang terjerat kutukan, terperangkap di Dunia Kelabu selamanya. Saktilah yang banyak membantu dan melindungi kami berdua selama di sana.”


Nama itu berulang di kepalaku beberapa saat. Sakti ... Sakti ya? Kesatria Perak yang memasukkan sebagian ingatan masa kecilnya ke kepalaku demi menyelamatkanku.


Kamera mikro dan mikrofon di atas sana otomatis merekam suasana diskusi dan seluruh urutan kronologi yang diceritakan Elang sementara kami terus menyimak dengan saksama. Aku sungguh tak percaya semua itu pernah terjadi, tetapi tak satu pun yang berbekas di kepalaku. Dari cerita Elang aku mencoba menebak-nebak sosok dewasa Kesatria Perak yang baik dan ringan tangan itu. Aku terbawa suasana tegang dan gemas menebak-nebak dalang dibalik semuanya dengan cara Elang bercerita –yang kuakui cukup impresif.


Hingga akhirnya aku dibuat patah hati setelah mengetahui Griseo, iblis berwajah aspal itu pernah bersembunyi di balik topeng sosok Pak Hanri yang amat kuhormati –yang katanya sekarang hiatus dari aktivitas dunia maya karena sibuk lanjut kuliah demi mewujudkan ambisinya– yang ternyata, oh ternyata sekarang tertangkap, dipenjara dan menjomlo seorang diri di tengah pulau terpencil.


“Tidak mungkiiiinnn!” seruku tidak percaya, “itu terlalu berat untuk kuterima, Lang! Kenapa harus Pak Hanri yang ganteng, muda, dan banyak followers-nya itu?! Aku yakin seisi sekolah, terutama angkatan kita bakal tidak terima bila mendengar hal ini!”


Elang hanya membalas kata-kataku dengan tatapan masam tak berselera seolah dirinya yang paling patah hati tentang topeng penyamaran Griseo, teramat kecewa bahkan tak bisa dijeritkan seperti yang kulakukan. Aku baru ingat bahwa Elang pernah digosipkan menjadi anggota pengawas tata tertib dan menjadi kepercayaan Pak Hanri. Ah, pantas saja! Sepertinya itu bukan gosip dan Elang memang betul-betul pernah menjadi tim mata-mata sekolah.


“Baiklah, terima kasih, Kesatria Agung Elang, kami akan mengungkap ulang beberapa poin penting dari cerita Anda tadi,” kata laki-laki muda sekretaris Tubuh Dewan Internal, menggeser-geser layar hologram dari meja di depannya, “pertama, Kesatria Agung dan Yang Mulia terseret ke Dunia Kelabu setelah tanpa sengaja mengaktifkan sesuatu yang disebut perangkap enam kunci di enam penjuru, benar?”


“Benar.”


“Selanjutnya, Anda dan Yang Mulia terus mencari jawaban misteri itu melalui catatan dari Kesatria Perak sebagai sumber informasi.”


“Ya, harusnya ada dua catatan, tapi satu yang lain tidak berhasil kami rebut.”


“Oh, baik ... Lalu, akhirnya Anda dan Yang Mulia berhasil keluar setelah siklus periodik purnama ketiga membuka celah cahaya?”


“Ya, tapi bukan tinggal diam menunggu siklus purnama itu datang dan membuka celah cahaya sendiri. Seperti yang kujelaskan tadi, celah cahaya membuka saat aku dan Shira memenangkan perlawanan puncak mengalahkan kegelapan di hati masing-masing, lalu dengan pedangku dan barisan mantra yang diucap Shira, segel celah itu aktif dan membebaskan apa saja di dalam Dunia Kelabu,” kata Elang.


“Oh, baik, baik ... ringkasannya sudah saya perbaiki. Kira-kira tiga poin tadilah yang diperlukan untuk merancang strategi.”


“Tapi kami tetap minta salinan cerita detailnya ya!” kata Yastra.


“Benar, kami perlu memerhatikan detail sekecil apa pun dari cerita Kesatria Agung,” sambung Profesor Cakra.


“Baik, dimengerti. Bila ada pembaruan pun akan tetap saya cantumkan,” jawab sekretaris itu. Setelah berterima kasih, kami sempat bincang-bincang singkat mengenai teknis perencanaan misi selanjutnya.


Kepala Dewan akan memfasilitasi apa pun yang dibutuhkan aku dan Elang –aku menanti-nanti operasi penanaman perangkat komunikasi yang keren itu!– beserta pelatihan dan lain-lainnya. Aquila di sisi lain mengajukan tetap dibuatnya skenario rencana cadangan seandainya misi ini tidak berjalan mulus, terutama yang berkaitan dengan evakuasi penduduk. Ladra bilang bahwa ia akan mempertimbangkan hal itu. Kak Garuda juga mengatakan akan memberi bantuan semampunya. Hanya satu orang yang tidak banyak bicara dari tadi, hanya termenung seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


“Ngomong-ngomong, kamu punya ide atau usulan, Luska?” tanyaku membuyarkan lamunannya. Perhatian semua orang segera tertuju pada kesatria itu.


“Maaf, Yang Mulia ... saya agak lancang menanyakan hal ini,” katanya ragu-ragu, “dari cerita Kesatria Agung tadi sempat disinggung mengenai suatu pedang yang mengaktifkan celah cahaya, yang merupakan simbol kekuatan kebajikan keturunan Kesatria Perak.”


“Iya, lalu kenapa?”


“Sejak Kesatria Agung ditemukan, saya tidak pernah melihat pedang itu padahal kita sedang membutuhkannya. Apa pedang itu tertinggal di Nigra?”


“Wah, benar! Kamu menyimpan pedang itu di mana, Ang? Aku tidak pernah melihatnya di rumah. Kamu pasti menyembunyikannya dengan rapi,” kata Kak Garuda.


Elang sempat terdiam sejenak. Ekspresinya yang selalu tenang tidak menunjukkan tanda-tanda kebingungan.


“Aku memang tidak menyembunyikannya, Gar,” jawab Elang, “karena pedang itu tidak lagi pernah kulihat.”


Berikutnya Yastra sempat kelepasan nyaris berteriak refleks demi mendengar kata-kata Elang. Entah kenapa ia yang tampak paling panik mengetahui pedang itu ternyata tidak di tangan Elang sejak satu setengah tahun lalu.


“Memangnya kenapa, Nona Yastra?” tanyaku.

__ADS_1


Gadis itu tampak berusaha menelan kecemasan.


.Bersambung.


__ADS_2