Kelabu

Kelabu
Episode 18


__ADS_3

“Maafkan aku ... maafkan aku, harusnya tidak seperti ini ...”


“Ini bukan salahmu,” kata Sakti kembali muncul bersamaan dengan terbitnya fajar. Aku menepis tangannya yang menyentuh pundakku. Tidak perlu, aku tidak perlu dihibur dengan omong kosong lagi, akan semakin menyakitkan di akhir seperti saat ini.


“Sungguh ini bukan salahmu, yang terjadi pun tidak seperti yang kamu pikirkan,” kata Sakti lagi. Aku berusaha mati-matian menahan isak tangisku mengetahui Elang perlahan mulai kembali berubah normal. Otot-otot besar di lengannya menyusut, begitu juga dengan kulit coklat keabuan khas monsternya pun perlahan mengelupas dengan sendirinya.


“Transformasi Elang yang baru saja terjadi bukan karena dia akan menjadi monster selamanya,” kata Sakti, “aku juga terkejut menemui fenomena ini untuk pertama kali. Pedang yang tertanam di punggung Elang, aku yakin itu bukan hanya pedang atau senjata biasa, benda itulah yang menginduksi kekuatan dan energi masif dari monster-monster tadi, membuat Elang memiliki kekuatan yang sama, bahkan lebih besar. Ternyata benda itu jauh lebih berguna setelah menyatu dengan Elang.”


Aku terdiam mendengar penuturan Sakti. Apa aku boleh mempercayainya?


“Kamu memang harus mempercayai Sakti, Shir,” jawab Elang seratus persen telah pulih, “dengan kondisimu yang sekarang, itu jauh lebih baik dibandingkan mempercayai perasaan dan emosimu yang kian labil.”


Aku ingin sekali menimpuk Elang atas pendapatnya yang tidak sopan, tetapi apa yang dikatakannya memang benar. Akhir-akhir ini aku memang cengeng dan emosional. Eh, tunggu, apa barusan Elang mengerti isi pikiranku?


“Sepertinya iya, Elang juga bisa menginduksi kekuatanku juga. Dia dapat melakukan keajaiban yang bisa kulakukan,” jawab Sakti. Aku melongo tidak percaya. Pedang yang tertanam di punggung Elang semakin membuatnya hebat saja.


“Dari awal aku sudah mengagumi kehebatan pedang itu dan bersyukur ternyata senjata itu berjodoh dengan orang yang tepat. Aku yakin kelak akan terjadi sesuatu yang hebat,” gumam Sakti.


“Sesuatu hebat yang bagaimana?” tanyaku.


“Sesuatu hebat yang tidak akan kuceritakan, agar hal itu benar-benar terjadi,” jawab Sakti tersenyum penuh misteri. Aku masih terdiam tidak mengerti.


“Membocorkan peristiwa yang akan terjadi di masa depan dapat berakibat membatalkannya, sebaiknya kita memang tidak perlu tahu, Shir,” jawab Elang.


“Itu karena kamu menebak peristiwa yang kumaksud adalah peristiwa yang baik,” balas Sakti.


“Dan tebakanku benar,” kata Elang. Lagi-lagi Sakti hanya berbalas senyum. Tunggu-tunggu! Jadi begini rasanya menjadi orang bodoh yang tidak bisa melibatkan diri dalam pembicaraan dan hanya menebak-nebak apa yang dibicarakan? Teknik telepati memang menyebalkan —karena akulah satu-satunya yang tidak menguasainya.


“Sudahlah, tidak perlu iri begitu, efek induksiku perlahan mulai lenyap, aku tidak merasakan hawa energi apapun lagi,” kata Elang.


“Tapi ... tapi apa kamu baik-baik saja?” tanyaku.


“Tidak, aku masih sangat terkejut mengalami kejadian tadi,” jawab Elang, “dan sangat terkejut mengetahui ternyata kamu memang punya air mata untukku.”


Kemudian ledakan emosi yang tidak biasa seakan pecah begitu saja dalam diriku.


“Astaga! Ya ampun, kamu orang menyedihkan masih saja mengira aku menangisimu! Tolong jangan pernah meyakini bahwa aku rela menitikkan air mata hanya karena takut kehilangan kamu! Tidak pernah! Itu tidak akan pernah terjadi!” omelku panjang lebar. Ah, betapa percaya dirinya makhluk satu ini!


“Semakin mengelak semakin terlihat,” jawab Elang acuh tak acuh.


“Tidak apa-apa, Elang. Selain bisa membaca pikiran dan meramal masa depan, aku juga bisa melihat sesuatu yang tidak diakui,” jawab Sakti.


“Aku tidak peduli, Sakti. Apalah artinya pengakuan?”


“Sakti, kamu ada di pihak siapa?! Sangat aneh melihat kalian berdua sependapat begini, jadi tolong berhenti sama-sama mempermainkanku!” protesku kesal. Elang dengan wajah menyebalkannya berusaha mati-matian menahan tawa.


“Kalian berdua selalu menyenangkan, kuharap kita bertiga akan menghabiskan waktu lebih lama, tapi sekarang sudah giliranku memasuki fase monster,” tutur Sakti.


“Oh, berarti kita harus berpencar dulu,” jawab Elang.


“Iya, tapi kalian berdua usahakan selalu bersama, agar ketika kembali ke fase manusia aku tidak kesulitan menemukan kalian,” jawab Sakti.

__ADS_1


“Ya, kami mengerti,” jawabku.


“Kalau begitu, cepat tinggalkan aku di tempat ini, jika kalian beruntung, kalian bisa bertemu Sekti dan menduskusikan jalan keluar,” kata Sakti.


Oh, benar! Sekti!


“Baiklah, kalau begitu, sampai jumpa, Sakti,” kata Elang. Aku hanya mengekor di belakangnya setelah melambai tangan kepada Sakti.


Langit siang hari di luar bilik berwarna kelabu sarat akan kesan suram. Ditambah dengan hadirnya kabut yang sama sekali membatasi jarak pandang. Seketika aku tidak berani melangkah lebih jauh lagi karena aku bahkan tidak menemukan Elang yang tadi berjalan satu langkah di depanku. Kabut ini seolah menelannya, atau menelanku yang sekarang tidak bisa melihat apa-apa, menjadikanku buta.


“Lang? Kamu di sebelah mana?” tanyaku menggapai-gapai kabut putih di sekelilingku.


“Sebelah sini,” jawabnya yang terdengar tidak jauh. Sial! Kejadian ini sama persis seperti beberapa saat lalu ketika mendadak gelap di dalam bilik.


“Di mana?” tanyaku panik. Aku merasa dia menarik tanganku dan aku pun menyadari bahwa memang kami tidak terpisah terlalu jauh.


“Di sebelah sini!” jawabnya. Kali ini baru terlihat sosoknya di antara kabut kelabu pekat. “Bagaimana kamu bisa tahu posisiku sementara aku tidak? Tadi di dalam bilik gelap juga begitu!” gerutuku.


“Karena aku Elang,” jawabnya santai. Aku mendengus sebal.


“Kupikir kamu sudah tahu betapa mata elang lebih tajam dan jeli daripada yang lain. Harusnya kamu tidak perlu heran bagaimana aku bisa melakukannya,” jawab Elang terkesan sekali sombongnya.


“Oh, begitu. Jika demikian harusnya kamu juga sudah melihat sosok Sekti di antara kabut ini,” jawabku.


“Apa kamu hanya ingin menantangku?”


“Tidak, Lang, aku serius ingin memberitahumu bahwa Sekti ada di sana, sedari tadi mengawasi kita,” jawabku menunjuk ke arah sepasang mata pualam yang dingin itu mengintai. Kemudian Sekti berpindah, melebur bersama kabut.


“Tidak, dia tidak ada di sana,” jawab Elang.


“Tidak, Lang! Sekti kabur karena kita menyadari telah diintainya, dia menuju deretan gedung belakang, di lantai dua,” ujarku.


“Shira, jangan ke sana!” teriak Elang. Namun, aku terlanjur mengambil langkah dan lenyap ditelan kabut.


 ****


Mimpi berkabut, pagiku pun kalang kabut. Aku tidak ingin membahas kejadian ketika aku nyaris menemukan Sekti, tidak sekarang. Bayangkan saja ketika jam pertama akan ada presentasi dan Rehan lupa belum mencetak materinya. Alhasil aku berlarian di sepanjang koridor, buru-buru menuju ruang OSIS. Setahuku printer di sana boleh digunakan sepanjang untuk kepentingan sekolah.


Syukurlah hari ini aku datang setengah jam lebih awal, seolah firasatku berbisik akan terjadi sesuatu, dan yah, benar saja. Aku pun tiba di ruangan paling ujung belakang dengan plakat bertulis Ruang OSIS menggantung di atas pintu, terayun-ayun nyaris lepas. Pintu kayu di depanku terkunci. Ah, habis sudah! Kutekan sekali lagi daun pintu lalu kudorong, kali ini terbuka. Mungkin pintu bangunan paling tua di sekolah ini tadi sedikit bermasalah.


Aku melangkah masuk, mengucap permisi. Aroma lembab dan suasana remang di dalam menyisa lengang. Komputer tabung di sudut belakang ruangan menyala, masih dalam proses booting. Itu artinya komputer ini baru saja dinyalakan dan seseorang baru saja berada di ruangan ini.


“Ada yang bisa saya bantu, Nak?”


Suara serak itu menegur begitu saja membuatku terkesiap kaget. Aku buru-buru berbalik, mendapati salah satu staff wanita, Bu Lasmi, telah berdiri di belakangku.


“Eh, anu, saya minta izin menggunakan printer, ada materi yang perlu dicetak,” ujarku. Sekali dua kali mata beliau berkedip di balik kacamata minus tebal itu, seolah memproses kalimatku, kemudian menjawab beberapa detik setelahnya. Itu menjadi ciri khas seorang Bu Lasmi yang telah diketahui seisi sekolah.


“Kamu boleh pakai,” jawab Bu Lasmi singkat, tanpa ekspresi seperti biasa, kemudian menuju balik tirai di sudut lain dari ruangan ini.


“Terima kasih, Bu!” jawabku segera mengoperasikan komputer. Bu Lasmi tidak menjawab apa-apa lagi karena terlihat begitu sibuk memindahkan barag-barang.

__ADS_1


“Sudah saya pindahkan, Bu! Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya seseorang yang baru datang.


“Terima kasih, untuk sementara hanya itu dulu. Perabot-perabot besar ini tidak mungkin kamu angkat sendirian. Sebaiknya kamu kembali ke kelas,” jawab Bu Lasmi.


“Oh, baik, Bu! Jika tenaga saya diperlukan sewaktu-waktu, saya akan selalu siap.”


“Ya, terima kasih, Elang,” jawab Bu Lasmi kemudian kembali beres-beres di balik tirai.


Ah, dari awal aku memang mengenali itu suara Elang tapi aku tidak peduli apa yang dia perbuat di tempat ini. Sesuatu yang lebih mengkhawatirkan membuatku panik.


“Hei, kamu? Apa yang kamu lakukan dengan printer rusak itu?” tanya Elang pada akhirnya.


“Sebentar, jangan mengajak ribut dulu ya! Eh? Apa katamu? Printer ini rusak?” tanyaku. Setidaknya kepanikanku sedikit mereda. Aku sama sekali tidak punya ide ketika hasil cetak makalahku berantakan seperti ini. Tintanya meluber di beberapa bagian, beberapa lembar tercetak belang, semakin ke belakang semakin pudar. Aku bingung sekali.


“Sudah lama printer di sini rusak. Lagipula apa yang begitu mendesak untuk dicetak pagi-pagi begini?”


“Materi untuk presentasi, Lang. Jam pertama. Rehan lupa mencetaknya,” jawabku berusaha menahan nada memelas.


“Eh? Mungkin dia hanya mengerjaimu. Semalam dia yang memintaku mencetak makalah untuk kelompok kalian,” jawab Elang. Sebentar, aku terdiam beberapa saat, tanpa sadar meniru gaya Bu Lasmi yang lambat mencerna perkataan orang lain. Oh! Jadi maksudnya ....


“Jadi maksudmu, sebenarnya makalah untuk kelompokku sudah dicetak dan ada padamu?!”


“Ada di tas,” jawab Elang santai. Puh, aku menghela napas kesal. Kalau tahu begini aku tidak perlu panik dari tadi.


“Kalian berdua, sebelum meninggalkan ruangan ini tutup pintunya, tidak perlu dikunci. Oh ya, komputernya juga tidak perlu dimatikan, sebentar lagi masih diperlukan, mengerti?” kata Bu Lasmi.


“Baik, Bu. Urusan saya juga sudah selesai. Kami pamit, Bu, terima kasih!” jawabku undur diri diikuti Elang. Dia bercerita bahwa ruang OSIS dipindah ke gedung yang baru dibangun sementara ruangan tua tadi dialih-fungsikan menjadi gudang. Rupanya Elang sudah sejak pagi tadi membantu Bu Lasmi memindahkan beberapa barang.


“Apa yang kamu rencanakan?” tanyaku menanggapi cerita Elang.


“Eeh???”


“Apa yang kamu rencanakan, Lang? Kamu jelas tidak punya urusan dengan OSIS. Apa yang membuatmu sampai repot-repot mau membantu Bu Lasmi demikian?” tanyaku lebih jelas. Pertanyaanku dijawab dengan seringaian dingin.


“Aduh, jika kamu saja menyadarinya, apalagi Bu Lasmi sendiri,” gumam Elang.


“Tentu saja, tindakanmu begitu mencolok. Coba katakan apa rencanamu? Bagaimanapun kamu tidak boleh bertindak sendiri,” jawabku. Tepat setelah itu bel masuk berbunyi. Kami berdua terhenti sebelum tiba di kelas karena Elang menerima telepon dari seseorang sementara aku masih menunggu jawaban.


“Lang? Ada apa?”


“Pak Hanri tiba-tiba meminta tim pengawas tata tertib untuk rapat kilat. Aku akan ke ruang BK dulu. Eh, makalahmu ada di tasku, di dalam map, ongkos cetak dan jilidnya lima belas ribu,” jawab Elang begitu tergesa-gesa.


“Aduh, Lang! Aku tidak bertanya tentang itu! Tentang rencanamu bagaimana? Apa yang sebenarnya tadi?”


“Ceritanya panjang, Shir. Intinya aku menemukan banyak sekali petunjuk sejak aku bisa membaca naskah dalam buku kuno itu dan aku sedang mencari tahu banyak hal.”


“Haah?! Kamu bisa membacanya?! Sejak kapan?!”


“Sejak ... Sejak ... Ah, kita bahas lagi nanti ya, Shir! Aku buru-buru, dah!” jawab Elang tak bisa ditahan lagi. Aku menggigit bibir kesal. Tak bisakah orang itu berhenti menggantung jawaban yang semestinya kubutuhkan? Menyebalkan! Selalu.


.Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2