
“Lang, kamu ingin skenario yang berbeda?” tanyaku masih berlari ke sembarang arah. Entahlah, kali ini kami menelusuri koridor dua belas IPS, gedung tengah.
“Apa maksudmu?” tanya Elang.
“Kita tidak akan sembunyi, kita akan menuju gerbang depan,” jawabku berhenti sejenak tanpa menurunkan kewaspadaan.
“Ada apa di gerbang depan?” tanya Elang lagi.
“Masih ingat ketika aku terkunci di kelas tadi sore?”
“Ya, kau ingin terkunci sekali lagi?”
“Tidak, tapi begitulah keadaan kita sekarang, terkunci di dunia aneh ini. Apakah selama ini kita pernah terpikirkan untuk pergi ke gerbang depan dan membuka kuncinya?”
“Bagaimana sempat berpikir demikian jika di tengah jalan kita langsung diserang monster?” balas Elang.
Lendir coklat lengket menetes dari atap. Elang juga mendapat tetesan yang sama.
“Jangan menengok ke atas, Shir,” bisik Elang, tapi terlambat, aku terlanjur mendongak dan disambut dengan raungan monster yang sedang menggelantung di langit-langit. Jeritanku terlepas reflek. Elang mengangkat pedangnya yang berubah menjadi tombak. Ia tak mengira serangannya akan meleset. Sebelum Ia sadar, tendangan telak mengenai dadanya. Ia terpental beberapa meter, terhempas di lapangan yang basah.
Aku menjerit panik. Tombak milik Elang dipungut monster itu, nyaris dilesatkan balik, tetapi seolah tahu pemiliknya, tombak itu menghilang dan muncul kembali di genggaman Elang.
“Lang! Lang, bangun, Lang!” seruku mengguncang bahunya. Ia mengerang pelan, kemudian kembali bangkit. Kulihat ada bercak darah di sudut bibirnya.
“Sebaiknya kita lari saja!”
“Diamlah, Shir,” jawab Elang.
Tombaknya berubah menjadi senjata semacam double stick —sepasang silinder logam yang dihubungkan rantai. Aku pernah melihat benda itu di film dan terkejut mengetahui ternyata Elang terampil sekali menggunakannya, memutarnya ke sana ke mari dan beberapa kali pukulannya mengenai monster itu. Memang senjata itu sangat efektif untuk pertarungan jarak dekat, tetapi jika aku yang menggunakannya, benda itu pasti lebih sering mengenai diriku sendiri.
Entah bagaimana caranya, rantai senjata itu yang tadinya hanya sepanjang satu jengkal, kini bertambah panjang, melilit penuh tubuh monster yang sudah babak belur itu, membuatnya meraung marah.
“Apa yang kau tonton? Kita harus pergi!” seru Elang menyadarkanku yang sedari tadi hanya tercengang.
“Eh? Tapi senjatamu ....”
Elang segera menarik tanganku, pergi menjauh.
“Ke mana menurutmu kita harus pergi?” tanyanya.
“Gerbang depan,” jawabku mantap.
“Apa kau yakin di sana pintu keluarnya? Kita bahkan belum memastikan pesan balasan di buku kuno itu!”
“Kurasa kita harus mencoba melihatnya dulu, Lang!”
__ADS_1
“Mungkin kamu benar. Pertama kali aku sampai di tempat ini, posisiku ada di lobi dekat gerbang depan. Jika aku masuk dari sana, mungkin di sana jugalah pintu keluarnya,” jawab Elang.
“Nah! Benar kan apa kataku?! Ayo cepat pergi ke sana!” seruku antusias. Bayangan untuk dapat bebas dari dunia ini telah berkecamuk di kepalaku.
Sayangnya, sedikit lagi menuju jalan keluar, kami terhenti di depan lobi. Elang memuntahkan darah yang tidak sedikit. Wajahnya pucat seketika. Baru kali ini aku sangat khawatir dengan keadaannya.
“Lang! Lang, bertahanlah! Gerbang sudah tidak jauh lagi! Kita akan segera keluar!” ujarku meyakinkannya.
“Sebentar, Shir ... dadaku sakit sekali,” jawabnya yang masih limbung. Aduh, jangan-jangan karena tendangan yang mengenai dadanya tadi? Bagaimana kalau ada tulang rusuknya yang patah?!
“Ayo, Lang! Kamu harus kuat!” ujarku lagi kemudian melingkarkan lengannya di pundakku, membantunya berjalan. Dia mendesis lirih. Tidak apa-apa, jalan keluar sudah di depan mata! Penderitaan ini akan segera berakhir.
Ketika aku mulai optimis berpikir demikian, suara raungan yang sama sekali tidak ingin kami dengar tak jauh menyusul di belakang. Makhluk itu kembali, telah bebas dari jeratan senjata tadi. Aku berdecak sebal. Bahkan Elang yang masih kesakitan berusaha berjalan agak cepat. Namun, melihat cepatnya langkah monster itu, sepertinya hanya dalam hitungan detik kami akan tersusul.
“Maafkan aku, Shir, sebaiknya kamu pergi sendiri saja,” kata Elang.
“Ini bukan saatnya berdebat, Lang! Aku tidak peduli! Sempat keluar atau tidak, kita tidak boleh berpisah! Sakti yang bilang begitu!” jawabku.
“Baiklah, apa kelemahan monster itu?” tanyanya.
“Eh? Aku tidak tahu!” jawabku. Aku tak pernah melihat monster itu dikalahkan selain dengan senjata milik Elang yang sekarang tidak ada di tangannya.
“Kalau begitu apa kelebihannya?” tanya Elang. Monster itu mulai melintasi lobi. Otakku berputar cepat.
“Um, pendengarannya! Dia punya indra pendengaran yang tajam!” jawabku, “eh?! Kenapa justru bertanya tentang kelebihannya?!” tanyaku. Aku sama sekali tidak punya ide mengenai apa yang akan dilakukan Elang. Yang jelas aku sudah bersiap mengucapkan selamat tinggal ketika monster itu lima langkah lagi hampir meraih kami berdua.
Aku menutup mata tak sanggup melihatnya. Berbeda dengan Elang yang menyeringai puas untuk kemudian terbatuk hebat.
“Aku baik-baik saja, Shir,” jawab Elang sambil menyeka darah di bibirnya. Bagaimana mungkin yang seperti ini dibilang baik-baik saja?!
“Aku terkejut, efeknya bahkan bisa membunuh. Itu keren sekali! Seandainya tahu begini, aku pasti sudah menggunakan peluit itu dari dulu,” kata Elang sudah dapat berdiri dengan stabil.
“Tadi itu peluit apa?”
“Entahlah, aku tidak tahu pasti, yang jelas peluit itu memiliki suara yang amat buruk. Bagi kita mungkin hanya seperti dengingan mikrofon rusak, tapi bagi makhluk dengan pendengaran tajam hal itu akan sangat menyiksa. Asal kamu tahu, benda itu juga bukan milikku,” jelas Elang.
“Kamu selalu menemukan benda-benda berguna, Lang.”
“Tidak, benda itu sendiri yang datang kepadaku,” jawab Elang. Eh? Bagaimana bisa? Ah, entahlah, aku tidak tertarik membahasnya. Memangnya penting mengetahui asal-usul benda-benda tadi? Lebih baik bersyukur, sebab tanpa benda-benda itu kami tidak akan sampai di depan gerbang ini.
Gapura tua dari kayu-kayu rapuh ini sama sekali berbeda dengan gerbang sekolahku. Dari sini dapat kulihat atmosfer hitam di luar sana. Entah kenapa ketika hanya kegelapan yang kulihat, aku teringat pencipta tempat ini. Kenapa tiba-tiba aku takut melangkah ke luar ya?
“Kamu dulu, Shir,” kata Elang. Aku masih terdiam ragu. Inilah yang kucari-cari selama ini. Aku harus pergi dari tempat ini! Demikian aku berusaha meyakinkan diri. Kuulurkan tanganku ke depan, perlahan hingga sebatas siku menembus udara hitam di luar gerbang. Tiba-tiba tanganku seolah menjadi mata dan telinga, melihat dan mendengar dengan jelas apa yang dibalik gerbang ini. Refleks kutarik kembali tanganku.
“Ada apa, Shir?”
__ADS_1
“Bukan di sini, Lang! Bukan di sini! Bahaya! Cepat pergi!” jawabku terpotong-potong. Pemandangan mengerikan di dalam benar-benar membuat otakku salah bekerja.
Belum habis rasa kagetku, sepasang tangan gempal menembus dari balik udara hitam, menggapai-gapai berusaha menangkap kami. Elang mengangkat tangannya ke udara, senjata yang tadi tertinggal di suatu tempat kembali muncul di tangannya. Kali ini berubah menjadi pedang, memotong tangan-tangan menjijikkan tadi. Kemudian seluruh sosok monster menampakkan diri, lagi-lagi meraung garang, tidak terima kehilangan sepasang tangannya.
Dua monster lain turut muncul. Elang kembali meniup peluit tadi. Ketiga monster di hadapan kami mengaum ganas, menutup telinga kesakitan. Sempat mengira kami akan berhasil seperti sebelumnya, tetapi di luar dugaan, monster lain turut berdatangan. Dengan cepat menggerombol mendekati aku dan Elang.
“Lang, kenapa mereka semakin banyak?!” tanyaku panik.
“Itu artinya, mereka ingin tiupan yang lebih kencang. Kamu juga tutup telinga ya, Shir!” kata Elang bersemangat meniup peluit itu. Bunyi dengingan semakin tidak karuan. Aku bahkan tidak tahan mendengarnya, apalagi monster-monster ini. Satu-dua mulai tumbang dengan kepala meledak, tetapi sisanya masih kuat merangsek maju, semakin mendesak posisi kami.
Aku tidak tahu jika salah satu monster yang paling kuat ternyata ada di belakangku, menarik pundakku kasar kemudian menyeretku seperti sampah. Aku berusaha berontak. Perhatian Elang terpecah, ia mengejar monster yang menyeretku mencoba menikamkan pedangnya di perut monster ini. Namun, sepertinya monster di sini semakin pintar menghindari serangannya. Dengan sekali tendang, pedang di tangan Elang terpental. Syukurlah pedang itu dapat dengan cepat kembali ke tangan Elang.
Sekarang pedang itu berubah menjadi gada besar, menghantam kepala monster yang menyeretku, membuatnya terhuyung. Kesal mendapat pukulan telak, monster ini membantingku marah kemudian berbalik ke arah Elang. Entah bagaimana caranya menjelaskan betapa remuknya tubuhku diempaskan sekuat tenaga hingga tanah di sekitarku melesak sekian senti. Bahkan aku tidak sanggup merintih lagi.
Sempat kudengar Elang berteriak khawatir. Namun, yang lebih perlu dikhawatirkan adalah dirinya sendiri. Lihatlah bagaimana monster-monster itu mengerumuninya yang hanya seorang diri. Aku benar-benar merasa tidak berguna membiarkan temanku berjibaku sendirian melawan mereka. Senjata itu memang hebat, tapi kondisi Elang sendiri sudah memprihatinkan. Fisiknya yang mulai melemah membuatnya sesekali lengah, mengizinkan satu-dua pukulan menghunjam perutnya. Sudah cukup! Aku tidak tahan melihat Elang tersiksa menerima itu semua. Berusaha bangkit, setidaknya aku ingin berada di sisinya. Setidaknya kami berdua tidak terpisah.
Sesosok monster menggeram rendah, menuju ke arahku. Elang yang sudah tergeletak kembali bangkit, berteriak marah, melemparkan gadanya sebelum monster ini melukaiku. Sebagai konsekuensinya, monster lain menyerang Elang tanpa ampun.
“Hentikan! Hentikan itu! Berhenti menyakitinya! Kubilang hentikan!” jeritku menangis hebat, terlebih ketika mereka mulai menyeret Elang yang sudah terkulai lemas. Gada yang tadi terlempar kembali melekat ke tangan Elang, berubah menjadi pedang. Namun, salah satu monster menginjak tangan Elang kuat-kuat, membuat Elang sekali lagi mengerang kesakitan. Berakhir sudah, tidak akan berguna senjata itu jika tangan Elang sudah remuk.
Ke mana? Ke mana mereka akan membawa Elang pergi?! Elang tidak boleh tertangkap dan berakhir di sini! Tidak akan kubiarkan! Dengan sisa tenaga aku bangkit berdiri dan mencoba menyusul mereka menembus udara hitam di balik gerbang, tetapi seseorang telah menahanku lebih dulu.
“Lepaskan aku! Lepaskan! Kubilang lepaskan!”
“Shira! Shira, sadarlah! Itu bahaya!” kata suara yang kukenali milik Sakti itu.
“Biarkan! Biarkan aku pergi! Elang juga sedang dalam bahaya! Kita harus menyelamatkannya, Sakti! Cepatlah sebelum terjadi sesuatu padanya!”
“Shira, tenanglah! Yang terpenting adalah kamu! Elang memang ditakdirkan demikian!” kata Sakti.
“Takdir apa, Sakti?! Apa yang kamu tahu tentang takdir? Jika kamu mempercayai hal itu maka tidak akan ada orang yang bisa selamat dari tempat ini!” seruku menolak kata-katanya. Ia hanya terdiam.
“Siapa yang berkuasa menentukan takdir? Bukan kamu! Bukan kisah lama itu! Juga bukan iblis pencipta tempat ini! Kita akan melihat takdir setelah berusaha!” ujarku sekali lagi. Aku tak bisa menahan tangis. Bayangan Elang yang disiksa tanpa ampun tidak mau enyah dari kepalaku. Sesuatu pasti akan terjadi padanya dan aku tidak mungkin diam saja.
“Aku harus menyusulnya, Sakti. Apa pun risikonya,” ujarku masih terisak-isak, kemudian berbalik, membulatkan tekad menembus udara hitam di luar gerbang. Lagi-lagi Sakti menahanku, memelukku erat. Seketika rasa hangat yang tidak biasa menjalar, membuat emosiku berangsur-angsur mereda.
“Aku mengerti perasaanmu. Tentu kita akan menyusul Elang, tapi tidak sekarang,” bisik Sakti lirih. Aku kembali meronta, tidak suka dijinakkan seperti ini. Tidak boleh ada yang mencegahku menyusul Elang!
“Minggir, Sakti! Jangan menghalangiku! Lepaskan! Lepaskan aku!”
“Iya, Shira! Aku tahu! Kau harus tenang dulu!”
“Tidak mau! Kamu hanya menghalangiku!”
Aku semakin kalap, kian meronta, tetapi Sakti mengunci gerakanku demikian kuat. Hanya dengan cubitan kecil di pangkal hidungku, dia membuatku jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
“Maaf, untuk sementara, kamu harus tenang dulu.”
.Bersambung.