Kelabu

Kelabu
Episode 26


__ADS_3

Aku terkagum melihat gedung depan sekarang berdiri kokoh kembali. Seingatku dalam pertarungan dua lawan satu kemarin –Sakti dan Elang versus monster Sekti– gedung di hadapanku ini rata dengan tanah. Hanya area sekitar UKS yang masih porak poranda. Pulihnya keadaan itu menurunkan kewaspadaanku. Tanpa berpikir dua kali kupanjat tangga menuju lantai dua. Tidak ada lantai berlubang atau dinding bilik yang keropos di sana-sini. Benar-benar tempat yang sempurna untuk berlindung, jika saja monster Sekti tidak mencegatku lebih dulu.


Buru-buru berbalik dan segera kuhindari, tetapi berhubung indra pendengarannya tajam, monster itu menyadari keberadaanku. Sial, aku baru saja sampai dan harus memulai adegan kejar-kejaran seperti ini lagi?! Kenapa hanya Elang yang diberkati senjata hebat dan kemampuan bertarung andal?! Sangat tidak menyenangkan bila harus selalu bergantung kepadanya.


“Ah!” pekikku ketika hilang keseimbangan, jatuh terpelanting di atas halaman berdebu kelabu. Menyadari tak sanggup berlari lagi, aku menggapai-gapai seuatu di sekitarku untuk dilemparkan ke muka monster menjengkelkan yang tak jauh lagi dariku. Batu sebesar bola tenis yang kulempar ditangkapnya, lalu nyaris dilemparkan balik kepadaku jika seseorang tidak lebih dulu menghantam wajah monster itu.


“Kau pikir ini sedang main lempar tangkap, hah? Pikirkan sesuatu yang lebih menarik!” kata seseorang yang tak lain adalah Elang, lanjut menghajar monster tanpa memberinya jeda untuk membalas. Ah, baiklah, biar nanti saja terima kasihnya. Dia hanya akan semakin mengejekku dengan pedas jika tidak segera berlindung. Sayangnya, kaki yang terlanjur terkilir ini tidak mau bekerja sama, memaksaku harus merangkak menuju bilik terdekat.


Dentuman keras terdengar ketika duel keduanya berakhir. Terlihat dari ekor mataku monster Sekti terempas jauh bergulingan di halaman. Elang buru-buru membantuku berdiri, berlindung di bilik 12 MIPA 1. Sejujurnya aku terkejut melihat Elang menjadi sekuat itu, rupanya dugaanku tidak salah. Jemariku yang menambat di lengannya demi dapat berdiri merasakan tekstur kulit kasar yang aneh. Benar, Elang menginduksi kekuatan monster tadi untuk menyerang balik. Tidak dalam jumlah besar, tetapi cukup untuk membuat separuh tubuhnya bertransformasi.


“Setidaknya kita sudah aman sekarang,” kata Elang berdiri menyandari pintu bilik, “yah, meski monster keras kepala itu mencoba mendobrak dari luar.”


Aku hanya diam tertunduk.


“Tapi aku heran, semudah itu kakimu gampang terluka? Untung saja Sakti menguasai teknik penyembuhan, jadi berhentilah cemberut begitu! Dia akan segera memulihkanmu!” kata Elang lagi. Apa dia sedang menghibur?


“Terima kasih, tapi Lang ... bisakah kamu ... bisakah kamu berhenti menggunakan kekuatan monster itu?” pintaku lirih.


“Oh, jadi ini masalahmu? Kenapa? Kau takut, Shir? Tenang saja, aku masih memiliki kesadaranku seutuhnya.”


“Bukan begitu ... Aku hanya khawatir kamu ketergantungan dengan kekuatan tidak wajar itu dan juga khawatir ... akan ada konsekuensi tertentu bila kamu terus menggunakannya,” ujarku tak bisa menutupi kecemasan. Elang turut terdiam sejenak. Separuh wujud monsternya perlahan menghilang.


“Ya, semoga saja tidak ada efek sampingnya. Sungguh aku tidak sadar kenapa bisa tiba-tiba menginduksi kekuatan monster itu. Kemarin aku tidak menggunakannya padahal pertarungan lebih dahsyat, tapi ketika tadi melihatmu terdesak rasanya membuatku kesal, seperti ketika di bilik ruang guru juga. Itu sebabnya ... eh?! Apa-apaan sih kata-kataku tadi?!” ujar Elang tiba-tiba senewen sendiri. Memangnya apa yang salah dari kata-katanya? “dengar ya! Intinya aku tidak bisa mengontrol induksi kekuatan itu, paham?!”


Kemudian kunang-kunang ungu yang tidak asing berpendaran dari berbagai penjuru, berkumpul di satu titik membentuk formasi solid seseorang yang juga sangat kukenali.

__ADS_1


“Hai, hai, kalian berdua! Senangnya melihat kalian sudah berlindung dengan aman tanpa duel serius!” kata Sakti hangat seperti biasa.


“Ya, akan sangat merepotkan bila setiap hari ada yang terluka karena selalu bertarung,” jawabku. Elang mendengus sebal karena ucapanku.


“Wah, ngomong-ngomong soal luka, lagi-lagi kakimu ya, Shira. Apa pernah ada riwayat luka serius di kakimu?” tanya Sakti memulai teknik penyembuhan sebelum kuminta.


“Dulu pernah kecelakaan sampai patah tulang, tapi sudah sangat lama,” jawabku. Sakti hanya mengangguk-angguk paham.


“Hm, pantas saja! Kondisimu bagaimana, Elang? Seingatku kemarin teknik penyembuhanku belum selesai. Kurasa akibatnya akan sangat buruk,” kata Sakti.


“Ya, sangat-sangat buruk! Aku tidak bisa bangun dari tempat tidur seharian!”


“Tapi sepertinya sekarang sudah tidak apa-apa setelah istirahat penuh.”


“Ah, benar! Kamu tidur seharian ‘kan, Lang? Kamu pasti terseret ke mari dan bertemu Sekti!” seruku antusias. Sakti juga tak kalah penasaran. Dia selalu tertarik mendengar cerita tentang saudaranya.


“Oh ya? Dia bilang apa?”


Elang hanya membuang muka, “Sudah kubilang kau tidak akan suka, Shir.”


“Tapi aku juga berhak tahu ‘kan?” protesku. Sakti juga tiba-tiba terdiam, seolah membenarkan kata-kata Elang, tahu benar apa isi kepalanya.


“Kurasa kamu sudah pernah mendengarnya langsung dari Sekti, Shira,” jawab Sakti.


“Tentang apa? Tentang kisah lama itu? Tentang aku yang harus meninggalkan Elang di sini? Kita tidak ....”

__ADS_1


“Tetap harus ada yang dikorbankan, Shir, dan itu adalah aku. Sampai detik terakhir jika kamu tetap keras kepala, maka jalan keluar untukmu tidak akan pernah terbuka,” jawab Elang menyisakan lengang. Kepalaku dipenuhi perlawanan atas kata-katanya.


“Terserahlah, mungkin kau akan lebih percaya jika Sakti yang mengatakannya. Aku terkejut Sakti diam saja dari tadi. Hei, katakanlah sesuatu agar gadis bebal ini mengerti!” kata Elang sekali lagi.


“Sejujurnya dari awal aku memang setuju jika hanya Shira yang bisa keluar dari sini. Berdasarkan kisah-kisah jiwa yang tersesat sebelumnya –ah, mungkin kisahku sendiri juga. Aku yang keras kepala, tidak mau pergi dari sini sebelum Sekti juga bisa keluar, lihatlah akhirnya! Aku pun juga terjebak di sini selamanya. Begitu juga kisah-kisah setelahku,” jelas Sakti.


“Aku lelah membahas kisah itu lagi. Bukankah katamu Sekti sudah tahu jalan keluar dari sini? Hanya itu yang ingin kutahu. Aku tidak peduli tentang siapa yang harus dikorbankan dan siapa yang bisa keluar,” ujarku setelah menghela napas panjang.


“Pada musim purnama ketiga, ada celah untuk jiwa putih agar bisa lolos, mungkin semacam portal. Kunci untuk melewatinya hanyalah kesediaanmu untuk mengorbankan jiwa hitam,” jawab Elang.


“Jiwa putih? Jiwa hitam? Apa-apaan itu?” tanyaku.


“Jiwa putih, mewakili kebaikan dan kasih sayang, adalah kamu, Shira,” jelas Sakti.


“Kebalikannya, jiwa hitam, mewakili angkara dan kebencian, adalah aku, Shir,” sambung Elang. Aku terkekeh pelan.


“Aku baru tahu kebaikan dan keburukan bisa diwakili dengan warna. Hei, itu berbau rasisme! Aku tidak bisa setuju,” jawabku. Sakti mengendikkan bahu.


“Itu perumpamaan yang paling mudah, sih,” katanya.


“Lagi pula apa kamu setuju diposisikan sebagai orang jahat, Lang? Aku sendiri geli bila harus menjadi jiwa putih yang terdengar suci itu,” balasku.


“Kenapa tidak, Shir?” balas Elang masih dengan nada dinginnya, menatapku penuh keseriusan, “aku jauh lebih kotor dari yang kau kira. Mungkin kau akan menyesal pernah mengenalku seandainya kau tahu.”


Hening tiba-tiba, monster di luar sana berhenti mendobrak. Aku tak menjawab apa-apa lagi, hanya membatin dalam hati. Memangnya dia pikir aku sendiri tidak membusuk tertimbun dosa?

__ADS_1


.Bersambung.


__ADS_2