Kelabu

Kelabu
#S2 Episode 23


__ADS_3

“Kau tahu tempat ini, Shir?”


Langit hitam pekat menaungi kami berdua. Semilir angin terlihat membelai rerumputan yang samar-samar tersiram temaram cahaya kobaran api berwarna abu-abu, membumbung tinggi seperti api unggun di enam titik, mengelilingiku dan Elang dalam radius sekitar belasan meter.


“Dunia Kelabu ya?”


“Benar,” jawab Elang kali ini senyum tipisnya cukup terlihat, “kamu mulai ingat?”


“Tidak, sih! Aku hanya menebak,” jawabku segera melunturkan senyumnya, “ternyata benar!”


Sesaat kemudian kami menyadari seseorang jatuh bebas dari langit. Aku dan Elang saling menjauh, menghindar dari kemungkinan tertimpa orang itu. Beruntungnya beberapa meter sebelum menghantam tanah, seseorang yang ternyata Kak Garuda ini seolah bisa mengontrol gravitasi, atau sebenarnya dia dengan kekuatannya sedang mengambangkan tubuhnya sendiri di udara, mirip seperti yang kulakukan ketika pertama kali tiba di Alba, di menara tempat tinggal Aquila waktu itu. Kak Garuda pun berhasil mendarat dengan kedua kaki tegaknya tanpa cedera.


“Wah, wah! Untung saja aku tidak ketinggalan kereta!” katanya.


“Ketinggalan kereta?” tanyaku tidak mengerti.


“Ehe, bukan artian sebenarnya. Maksudku, untung saja aku berhasil ikut masuk sebelum portalnya menutup.”


“Heh, kenapa kau menyusul ke sini? Lalu bagaimana dengan tugas pengawasanmu? Dari mana kau tahu telah terjadi sesuatu denganku dan Shira?” serbu Elang mencecar kakaknya dengan pertanyaan. Kak Garuda hanya memamerkan cengiran santai, berbanding terbalik dengan wajah seriusnya beberapa saat lalu ketika berhadapan dengan sosok jahat tadi.


“Kau tidak akan mengerti insting seorang kakak yang selalu tahu bahwa adiknya dalam bahaya!” jawab Kak Garuda bangga, “dan jelas aku lebih mengkhawatirkan kalian berdua daripada tugas apa pun. Tugas kakak yang utama adalah melindungi adiknya ‘kan?”


Itu sungguh kata-kata yang klise, tapi tetap membuatku baper karena dari dulu aku ingin mendengar seseorang bilang seperti itu. Namun, sekalinya kudengar, kata-kata itu bukan untukku.


“Ya, aku tidak punya kakak, tidak ada yang melindungiku,” jawabku minder. Selama ini yang kuinginkan adalah memiliki kakak, bukan menjadi kakak.


“Ah, tenang saja, Shira ... Sebelum menjadi adik ipar, aku akan menganggapmu adik perempuanku dulu, oke?” jawab Kak Garuda segera mendapat toyoran geram dari Elang.


“A ... apaan, sih?!”


“Sudah selesai bercandanya, anak-anak manusia?”


Sapaan itu menginterupsi pembicaraan kami bertiga, menyatukan perhatian kami ke satu sosok tinggi besar di kejauhan. Kobaran api abu-abu di sekeliling kami sempat meredup, membuat wajah orang itu semakin samar dari pandanganku, tetapi tidak ada yang berubah dari bercak-bercak hitam seperti noda aspal di kulitnya. Ia masih sama mengerikan seperti yang terakhir kulihat.


“Selamat datang kembali! Berterima kasihlah karena sudah kuundang ke sini! Kalian jadi tidak perlu repot-repot mencari jalan masuk ke dunia ini lagi ‘kan?” kata sosok itu.


Sialan! Tanpa sadar kami terisap masuk ke sini sebelum pedang milik Elang ditemukan. Ini benar-benar di luar rencana! Bagaimana ini?!


“Terima kasih! Kau ingin booking penjara sebelah mana? Sebentar lagi kami akan segera membuatmu pensiun seperti iblis sebelumnya, tahu!” jawab Kak Garuda di posisi siaga.

__ADS_1


“Oh, hai, Lupus! Kau masih di sana? Memangnya ini semua demi siapa?”


“Tetoot! Salah sambung! Memangnya kau bicara dengan siapa?” balas Kak Garuda. Labe terkekeh hebat sebelum akhirnya mengibaskan tangannya ke udara lalu menyatu dengan atmosfer, hilang.


Seketika gemuruh terdengar beserta guncangan dari tanah yang kami pijak. Retakan segera merekah di sekeliling kami, membentuk lingkaran dengan kami bertiga di dalamnya. Lalu entah bagaimana bisa terjadi, lapisan tanah di luar lingkaran itu bergerak menjauh, menciptakan celah yang jika terus dibiarkan melebar membuat kami terjebak tak bisa banyak bergerak di selingkar tanah sempit tempat kami berpijak. Sebelum celah semakin lebar, Elang yang lebih dulu menyadari hal itu segera melompat menyeberang. Aku yang baru hendak mengambil ancang-ancang tanpa sengaja melihat sesuatu yang muncul merayap dari rekahan celah tadi. Ya ampun! Makhluk apa ini?!


Aku tak bisa menyebutnya komodo hanya karena mereka melata dengan lidah bercabang menjulur-julur, tetapi lebih buruk lagi. Makhluk-makhluk ini berkepala manusia dengan bentuk keempat tangannya untuk melata juga seperti tangan manusia, memiliki lima jari dengan lengan lebih pendek dan cakar-cakar hitam mencuat. Selebihnya, kulit liat dan tebal serta ekor kokoh yang mengibas ke sana-sini itu benar-benar ciri kadal raksasa.


“Ayo, Shira!” seru Kak Garuda menyadarkanku, telah mengambil lompatan ke seberang bersama Elang. Makhluk-makhluk mengerikan ini sempat menyemburkan api kelabu ketika Kak Garuda melompat melangkahi mereka. Sekarang giliranku, sayang sekali makhluk-makhluk ini telah merayap naik ke tepi tanah tempatku berdiri. Kepanikan yang lebih menguasai tak membuatku berpikir dua kali. Dalam sekali entakan kaki, pinggiran tanah tadi kubuat rontok bersama makhluk-makhluk yang merayap di tepinya.


Kabar bagusnya, aku aman dari siluman komodo –kuberi sebutan demikian biar mudah– tetapi kabar buruknya, celah yang merentang ke seberang sana semakin lebar dan terus melebar.


“Kamu bisa melakukan lompatan seperti yang kulakukan, Shira! Jika tetap tidak sampai, gunakan kekuatanmu untuk melayangkan tubuhmu hingga ke sini!” teriak Kak Garuda. Hatiku masih diliputi berbagai keraguan, tetapi bila kuturuti, siluman-siluman tadi keburu sampai ke atas sini lagi. Jadi, persetanlah! Aku berharap pada tolakan dan daya jangkau kakiku. Sesuai perkiraan, tidak sampai. Tanah tempat Elang dan Kak Garuda masih separuh jangkauan lagi. Keinginan tidak ingin mati jatuh ke dalam celah juga masih menguasaiku, membangkitkan kemampuan yang sepertinya memang hanya aktif oleh lecutan emosi.


Seperti yang kuharapkan, tubuhku mengambang beberapa detik di udara. Perhatikan kata-kataku, hanya mengambang, bukan bergerak maju menuju tempat Elang dan Kak Garuda. Celah yang telah berubah menjadi jurang masih menganga lebar di bawahku. Sial! Aku mulai panik karena belum berhasil melewatinya. Kak Garuda mungkin berusaha menarikku dengan kekuatannya ketika aku hampir kehilangan kendali atas tubuhku. Ayolah, sedikit lagi ... dan ternyata tetap tidak sampai. Elang meraih tanganku di detik yang tepat ketika aku kembali terpengaruh gravitasi, nyaris berakhir di dasar jurang bersama siluman-siluman tadi.


“Lain kali jangan kelamaan berpikir!” kata Elang segera menarikku menjauh dari tepi jurang.


“Kamu tidak apa-apa, Shira?” tanya Kak Garuda khawatir betul dengan wajahku yang pucat. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Kaki yang masih gemetar kupaksa bekerja sama untuk tetap berdiri, untuk tetap berlari dari tepian tanah sialan yang terus rontok seolah menginginkan kami bertiga tertelan bumi. Heh, tolonglah! Aku baru tiba beberapa menit lalu dan sudah dibuat susah seperti ini?! Bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku dan Elang pernah selamat dari tempat seperti ini?!


Jujur, sepertinya aku lupa bernapas karena menghindari gerusan tanah yang terus rontok di belakang kami. Sepertinya jurang yang tercipta sudah selebar ratusan meter, terbukti dari napasku yang mulai tersengal-sengal tidak kuat terus menerus berlari. Rekorku ketika penilaian lari sprint seratus meter bolak-balik adalah satu menit lebih sekian dengan berakhir menghirup inhaler di UKS, sedangkan situasiku saat ini jauh lebih sulit dibandingkan penilaian lari hari itu. Elang yang selalu terlatih sama sekali belum menunjukkan tanda kelelahan, masih terus berlari sambil tetap menautkan tangannya dengan milikku, khawatir aku tertinggal lagi.


Kemudian tanpa kuminta, berlangsung dalam sekejap, tubuhku telah berpindah di punggung Elang. Ia segera menggendongku mengetahui bibirku kian membiru. Menyandar lemah di pundaknya, paru-paruku masih dengan rakus menuntut pasokan oksigen dari udara. Bobot tubuhku seolah tak memengaruhi kecepatan lari Elang, tapi entah kenapa aku tetap merasa telah menyusahkannya. Kekhawatiranku menjadi beban dalam misi ini tak bisa terhindarkan rupanya ... dan aku tidak suka hal itu!


 ***


Aku mendengarnya. Aku mendengar degup kehidupan yang kupikir milikku sendiri, terdengar nyata memenuhi liang telinga, memaksa kesadaranku berkumpul kembali. Sesaat setelah mataku terbuka, kusadari bahwa kepalaku tergolek di atas dada sumber suara degup tadi berasal. Kutegakkan kepala sambil menyembur sejumlah tanah yang terasa asing masuk ke mulutku, juga mengusap wajah dan tanganku yang berdebu.


Pemandangan di sekitar begitu kacau dengan gundukan tanah dan onggokan batuan di sana-sini. Lalu sesuatu yang membuatku panik setengah mati adalah Elang. Ia masih pingsan dengan separuh tubuhnya tertimbun tanah. Berikutnya baru kusadari sebelah tangannya masih melingkar di pinggangku, tapi ya ampun! Apa yang bisa kulakukan untuk menolongnya?!


“Lang?! Lang, bangunlah, tolong! Bangun, Lang!” ujarku mengguncang pipinya yang sama-sama kotor seperti milikku. Setidaknya kekhawatiranku sedikit mereda setelah mengetahui dadanya tetap naik turun menandakan ia masih bernapas. Yang perlu kulakukan berikutnya adalah menggali tanah dan batuan yang mengubur kaki Elang. Aku cukup terkejut ketika kakinya tiba-tiba bergerak menyasar wajahku. Lutut kiri lebih tepatnya, tak ayal membentur hidungku bersamaan dengan erangan yang lolos dari tenggorokan Elang.


“Ah! Sa ... sakit!” rintihnya sambil sesekali mengerjap mata. Aku masih mengelus hidung ketika menyadari sesuatu. Jangan-jangan ... Elang terbangun karena aku tidak sengaja menyentuh bagian kakinya yang terluka?


“Ma ... maaf! Sebelah mana yang sakit?”


“Shira? Kita ada di mana ... Aduh! Ah!”


Entah kepercayaan diri mana yang membuatku berani memeriksa kaki kanan Elang, mencari sumber rasa sakitnya. Pusat nyeri itu ada di tulang keringnya yang terhantam batuan keras, meninggalkan jejak menghitam. Lalu entah keajaiban dari mana, kesiur angin sejuk memancar dari tanganku ketika lebam hitam itu kusentuh. Rintihan lirih lagi-lagi tak bisa ditahan Elang. Aku tahu itu memang sakit, tapi semoga sebentar lagi tidak. Lebam hitam itu semakin memudar, jadi aku belum berniat memindahkan tanganku darinya sebelum benar-benar pudar meski sebenarnya tidak mengerti apa yang sedang kulakukan.

__ADS_1


“Kamu ... seperti Sakti,” kata Elang setelah beberapa detik berlangsung hening.


“Sakti? Kesatria Perak?” tebakku.


“Ya, dia juga ahli menyembuhkan dengan kekuatan seperti ini ... Sejak kapan kamu juga mahir melakukannya?” tanya Elang.


“Baru saja, kok! Jadi, ini yang disebut teknik penyembuhan ya? Wah, aku tahu kemampuanku ini akan semakin berkembang!” jawabku tak bisa menyembunyikan suka cita.


“Berarti aku percobaan pertama? Awas ya, jangan sampai malpraktik!”


“Tidak ada jaminan, sih!” jawabku tak begitu yakin. Elang hanya mencibir kesal.


“Ngomong-ngomong, di mana Kak Garuda ya?” tanyaku karena orang itu belum juga terlihat. Aku tak tahu apakah dia sempat selamat dari rontoknya tanah yang menelan kami ke dasar sini.


“Mungkin dia juga jatuh, barangkali di sekitar sini,” kata Elang memerhatikan sekeliling.


“Se ... semoga dia baik-baik saja,” gumamku lirih. Kesiur angin dari tanganku otomatis berhenti setelah lebam di kaki Elang juga hilang. Kami berdua bangkit berdiri dan terperangah demi melihat pemandangan ini.


Langit kelabu berkabut mulai didatangi semburat merah. Dinding jurang tak jauh dari tempat kami berdiri. Dinding tebingnya curam ke atas dengan bibir jurang tak terlihat dari bawah sini. Jauh di seberang lain, tampak seperti menara ramping menjulang tinggi yang setelah kami amati ternyata bukan menara, melainkan lingkaran tanah tempat kami tiba pertama kali di sini yang tidak luruh, tetap berdiri kokoh dengan kami yang saat ini memandanginya dari bawah. Puncaknya tampak diselubungi kabut tipis membuatnya terlihat seperti payung tegak di tengah daratan. Oh, tunggu, aku dan Elang jatuh ke dasar jurang yang merupakan dasar celah yang sama, berarti siluman-siluman komodo itu juga ada di sekitar kami ‘kan?


Kekhawatiranku terjawab di detik berikutnya. Satu tangan tampak meraih-raih udara dari balik batuan seperri adegan bangkitnya zombie dari dalam kubur. Jeritanku bisa ditahan setelah kutahu orang itu ternyata Kak Garuda, bukan siluman komodo yang kubayangkan.


“Wah, adik-adikku! Kenapa kalian terlihat seperti gembel?” tanya Kak Garuda yang ... ya ampun, masih sempat-sempatnya bercanda!


“Aku tidak bergurau, makanya bercerminlah dan lihat penampilan kalian!”


“Seandainya ada cermin pun, aku akan mempersilakanmu memakainya dulu agar kau tahu betapa kau juga sama-sama gembelnya seperti kami!” jawab Elang ketus. Aku hanya terkekeh pelan menyimak cekcok kecil ini. Kak Garuda mengaku baik-baik saja, jadi aku tak perlu cemas.


“Nah, bagaimana situasi kita sekarang?” tanya Kak Garuda sambil mengacak rambutnya yang dikotori tanah dan debu, “aku ingin dengar penjelasan dari orang-orang yang pernah mengalahkan Dunia Kelabu. Sejak kita kembali diseret ke sini, bagaimana caranya keluar dan mengalahkannya?”


“Ini bukan seperti Dunia Kelabu yang pernah kami kalahkan,” jawab Elang memicingkan mata, masih belum bosan mengamati sekitar, “sama sekali tidak sama!”


Aku sendiri tidak bisa memberi banyak komentar. Dunia Kelabu yang sebelumnya memang sudah tak berbekas di kepalaku, tapi yang kuingat berdasarkan cerita Elang, Dunia Kelabu yang pernah kami kalahkan hanya sebatas sisi lain dari sekolah kami. Sepetak tanah dengan tatanan bangunan-bangunan yang posisinya sama seperti bangunan dan ruang-ruang asli di sekolah. Di tempat itulah kami berlindung dari kejaran monster. Namun, Dunia Kelabu yang sekarang sama sekali berbeda.


“Sepertinya ... ini memang bukan Dunia Kelabu yang sama, Lang,” jawabku.


“Ya ... Kupikir setelah menang dari Dunia Kelabu waktu itu, semuanya telah berakhir. Tetnyata ... kita hanya mengakhiri sebagian kecil dari entitas Dunia Kelabu yang ada, Shir. Sisanya masih banyak, membentang luas menantang keberanian dan tekad kuat kita sekali lagi,” kata Elang.


Daratan berkabut di hadapan kami seolah membenarkan kata-kata Elang, membisikkan sesuatu yang tertangkap telingaku.

__ADS_1


*"*Barangkali yang dulu hanya keberuntungan. Bagaimana dengan yang sekarang?”


.Bersambung.


__ADS_2