
Satu minggu kemarin terasa begitu singkat. Segala yang kulalui terasa hanya dalam sekejap mata dan hasilnya membuat alarm waspadaku menyala. Tentang persaingan yang kubuat dengan Elang, sejauh ini mapel yang kami menangkan seimbang. Aku terkejut Elang bisa seserius itu. Aku terkejut kali ini lebih khawatir dikalahkan Elang yang bahkan tak pernah menyentuh sepuluh besar.
Yang kukhawatirkan bukan posisi peringkatku, tapi hasil persaingan ini yang mengarah kepada keputusan langkah menuju hidup atau mati. Menghela napas di antara tumpukan buku, aku tak ingin main-main lagi, dalam hati berdoa semoga aku yang menang.
Tunggu, semoga aku yang menang? Jika aku yang menang artinya harus ada strategi yang harus kusiapkan untuk dipatuhi Elang. Elang mungkin sudah memikirkan rencana penyelidikan final yang matang, memfokuskan sasaran perhatiannya kepada Bu Lasmi yang ia curigai –yang tidak kusetujui. Sementara aku? Bahkan aku belum menemukan ide tentang identitas penyamaran iblis pencipta dunia kelabu. Tak ada satu pun nama yang kucurigai. Awalnya berniat melakukan penyelidikan selama UTS, tapi ternyata aku sempat sakit lalu persaingan ini semakin sengit. Aku pun rasanya tidak bisa melakukan penyelidikan sendiri, menyelinap sana-sini tanpa diketahui seperti Elang. Memang rasanya tidak mungkin bagi kami untuk bergerak sendiri-sendiri seperti ini.
***
Minggu kedua UTS, hari pertama, bahasa Inggris dan mapel lintas minat ekonomi. Kerenggangan di antara aku dan Elang semakin meningkat. Kami sama-sama bersemangat lebih unggul dari yang lain. Aku memang tidak sehebat Yuanda dalam bahasa Inggris, tapi nilaiku tak jauh di bawahnya, menjadi yang kedua tertinggi di kelas, sementara Elang hampir kena remidi. Ada kekesalan di wajahnya setelah kupameri nilaiku.
“Aku akan malu bila nilai bahasa asing lebih tinggi daripada bahasa nasional,” jawabnya enteng. Yuanda yang mendengarnya turut tersulut emosi sebab nilai bahasa Indonesianya memang lebih rendah daripada bahasa Inggris, persis sepertiku.
“Kau saja yang tidak tahu kunci mudah bahasa Inggris, hei! Lagi pula nilai bahasa Indonesiamu bukan satu-satunya yang paling baik di kelas! Kau pikir bla bla bla ....”
Aku berusaha menenangkan Yuanda yang omelannya hanya dianggap angin lalu oleh Elang.
“Sabar, Nda! Bukankah kamu aliansinya?” ujarku.
“Apanya?! Siapa yang mau beraliansi dengan orang yang tidak bisa menghargai kerja kerasku?! Memangnya dia pikir aku tidak sama-sama berjuang di dua mapel bahasa itu, ha?! Bla bla bla ....”
Aku hanya nyengir. Sial, omelan Yuanda tidak bisa dihentikan. Beruntungnya bel masuk membuatnya harus kembali ke bangku.
Jam kedua dimulai, ekonomi. Sebagai mapel lintas minat, mapel inilah satu-satunya yang bernilai B di rapor kolom peminatanku. Seandainya tidak ada, mungkin raporku cantik hanya dengan nilai A pada keseluruhan mapel peminatan. Aku memang agak menganggap mapel lintas minat sebelah mata, tapi karena sudah berniat ingin mengalahkan Elang, aku tak lagi meremehkan mapel apa pun. Baru tadi malam rasanya dalam sejarah panjang hidupku, aku serius belajar sebelum ujian. Selama ini aku selalu menganggapnya hal konyol yang menambah stres, tapi jika lawanku bertekad kuat seperti Elang, sepertinya tidak apa-apa bila aku sedikit menambah stres dengan belajar lagi.
Namun, memang tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Ujian ekonomiku yang tak pernah menyentuh sembilan puluh kali ini melampauinya.
“Berapa?” tanya Elang di akhir waktu. Kutunjukkan kotak nilaiku yang belum kututup.
“Kamu berapa?” ujarku bertanya balik.
“Sialan, kamu menang lagi,” jawab Elang dengan wajah muram.
“Tentu, aku memang akan memenangkan sisa mapel yang ada. Bersiaplah untuk berlapang dada bila aku menang keseluruhan nanti ya!” jawabku. Elang hanya berdecak sebal kemudian pergi.
“Anu, Ra ...” kata Yasinta ketika kami bersiap pulang, menuruni tangga.
“Ada apa, Yas?” tanyaku menyadari kegelisahannya. Seseorang tiba-tiba mendekapku dari belakang, mengagetkanku.
“Kamu sehat-sehat saja ‘kan, Ra? Tidak panas, nih! Kita jadi belajar bareng ya ‘kan? Mimpi burukku yang lain belum selesai, tahuuu!” kata suara cempereng itu cukup mengganggu telingaku.
“Heh, mengagetkan saja!” jawabku melepas pelukan Nike. Baru kuingat besok ada mapel matematika umum. Berada di peminatan MIPA memang membuat kami harus menghadapi dua jenis mapel matematika –yang pada dasarnya sama-sama menghitung. Sesaat aku juga mengerti kegelisahan Yasinta. Kenyataan buruk saat ujian matematika peminatan minggu lalu harus membuatnya menghadapi remidi. Tak bisa kubayangkan bila ia harus remidi dua mapel matematika sekaligus.
“Baiklah, kali ini di rumah siapa?” tanyaku menyetujui permintaan Nike.
“Di rumah Shira, yuk! Minggu lalu sudah pernah di rumahku dan rumah Yasinta!” jawab Nike.
“Wah, tidak! Di rumahku kali ini sedang tidak bisa. Di rumah Yasinta saja, sudah kuputuskan!” jawabku segera, tak ingin dua orang ini tahu bahwa ibu pulang dan ada di rumah. Aku sedang tak ingin mereka mengetahui sesuatu yang akan ibu perbuat. Kepulangan ibu saja sudah menjadi hal aneh, mereka pasti akan bertanya-tanya.
“Tidak apa-apa ya, Yas? Aku janji tidak akan menghabiskan wafer coklatmu, kok!” ujarku. Sejenak kegelisahan di matanya hilang. Ia pun setuju. Aku akan berusaha semampuku membantu teman-temanku sebab ... sebab setelah UTS aku tidak akan punya waktu membantu mereka menyelesaikan remidi. Penyelidikan jalan keluar dari dunia kelabu tak bisa kutunda lagi.
***
Dua poin lebih unggul dari Elang, minimal harus dua mapel lagi yang kumenangkan agar mutlak mengalahkan Elang secara keseluruhan, tapi rencanaku adalah memenangkan seluruh sisanya. Jika kuperhatikan, empat sisa mapel yang belum diuji masih dalam jangkauanku. Hari ini, matematika umum dan pendidikan jasmani sementara besok biologi dan TIK. Bila matematika peminatan kukerjakan dalam kondisi tidak fit dan tetap dapat bagus, harusnya dengan kondisiku sekarang yang sehat, aku harus mendapat nilai sempurna.
“Ayo, semangat, Ra!” kata Yasinta di sebelahku. Baguslah, dia agak percaya diri hari ini. Aku segera log in, mulai mengerjakan soal. Empat puluh lima menit, barulah semua soal selesai kukerjakan. Memang agak lama dibandingkan matematika yang satunya. Porsi materi matematika umum memang lebih banyak. Sisa waktuku juga tidak sedikit, tapi aku memilih berhati-hati dan tidak buru-buru. Ingat betul yang pernah dikatakan Elang kepadaku. Justru soal-soal mudah tempatku sering berbuat salah. Namun, ternyata jenuh juga meneliti soal berulang-ulang. Lima belas menit sebelum bel istirahat, aku pun log out, meyakini tidak ada yang perlu kuperbaiki lagi. Kemudian yang terjadi selanjutnya, aku menyesali keputusan itu. Nilaiku tak menyentuh sembilan puluh. Itu cukup mengecewakan bagiku sebab teman-teman banyak mendapat nilai di atasku.
“Delapan puluh lima, Ra! Aduh, aku bersyukur sekali! Terima kasih banyak ya, sudah banyak membantuku kemarin!” kata Yasinta memelukku senang.
“Wah, iya, bagus! Aku berharap bisa membantumu lebih banyak lain kali!” jawabku.
“Ciee traktiran ya! Kamu pasti dapat seratus ‘kan?”
“Ti ... tidak juga,” jawabku tersenyum hambar, “nilai kita sama, Yas.”
“LHO? EH, JANGAN BERCANDA! Kamu sedang mabuk atau bagaimana, Ra?!”
__ADS_1
“Hehe, entahlah,” cengirku. Agak penasaran juga di mana letak kesalahanku, Yuanda mendiskusikannya denganku. Ia sempat men-screenshot semua soal. Tiga soal yang kucurigai tergarap dengan salah ternyata memang salah. Sekarang barulah kusadari betapa berharganya lima belas menit yang kubuang percuma tadi.
Elang yang rupanya sebagai peraih nilai tertinggi di mapel ini muncul di depanku dengan seringai sombongnya.
“Wah, padahal kupikir kamu tepat di bawahku, ternyata jauh lebih di bawah. Kamu salah makan apa hari ini, Shir? Bukankah kau bilang akan memenangkan sisa mapel yang ada?” ejeknya.
“Aduh, senang sekali ya? Bagus, deh! Aku sengaja sedikit mengalah untuk berbagi sedikit poin agar kekalahanmu tidak terlalu telak, khawatir kamu terlalu malu bila itu sampai terjadi ....”
Kata-kataku terpotong ketika Elang tiba-tiba menarik kasar krah seragamku.
“Memangnya siapa yang akan kalah?!” ujarnya lirih dengan alis menyatu, “kaulah yang akan kalah dan akan mengikuti semua rencanaku!”
Belum sembuh dari keterkejutan, kusentil dahinya yang terlalu dekat denganku.
“Teruslah bermimpi!” jawabku menyingkir dari hadapannya. Seisi kelas mematung memperhatikan kami tadi. Yasinta juga sempat berdiri berniat meleraiku tapi tampaknya urung. Sejauh ini yang selalu menarik perhatian teman-teman adalah tingkah Elang sendiri. Ah, dasar!
Aku berusaha tak mengingkari kata-kataku. Jam kedua kumenangkan mapel pendidikan jasmani. Memang bila secara praktik lapangan aku lemah, tapi bila ujian tulis dan teori itu bukan masalah. Kekesalan Elang tak menurun sedikit pun. Dengan begini aku lebih unggul tiga poin. Tinggal memenangkan mapel biologi esok hari, maka mutlak sudah aku yang menang keseluruhan karena sekalipun Elang memenangkan mapel TIK, tetap poinku yang lebih banyak.
“Ra, menurutku sudah tidak lucu lagi,” kata Yasinta.
“Apanya yang tidak lucu, Yas?” tanyaku.
“Kamu dan Elang,” jawabnya. Alisku mengernyit. Memangnya kami sedang melawak?
“Pertengkaran kalian sudah tidak lucu. Tolong berhentilah memancing emosi Elang. Kata Rehan dia sedang dilanda masalah karena papanya. Dia bisa lupa diri dan serius mengapa-apakanmu, tahu!” kata Yasinta. Aku hanya terkekeh pelan.
Terdengar mengerikan memang, tapi rasanya tidak mungkin bila tangan yang berulang kali menyelamatkanku justru melukaiku hanya karena masalah sepele. Aku sendiri sempat lupa kalau Elang diawasi papanya. Mungkin dia tak tahan dengan kata-kataku tadi.
“Ra, aku serius! Kalau bisa batalkan saja tantangan atau persaingan apalah itu. Aku yakin kamu yang menang, tapi tak yakin Elang rela jika itu terjadi. Batalkan saja ya!”
“Tidak, Yas! Tidak bisa!”
“Memangnya kenapa kalian harus bersaing seperti itu?!”
“Tentu ada alasan tersendiri dan kamu memang tidak perlu tahu!” jawabku membuat Yasinta semakin cemberut, “tenang saja! Elang bukan monster yang kutakuti karena dia memang tidak akan berbuat di luar batasnya. Kamu jangan khawatir, oke?”
Sayangnya, persainganku dengan Elang tidak mungkin tiba-tiba batal bila esok adalah hari yang paling menentukan. Terima atau tidak, siapa pun yang kalah harus mengikuti keinginan yang menang. Aku percaya Elang bukan orang yang suka mengingkari kesepakatan.
****
Rupanya ada seseorang yang jauh lebih khawatir daripada Yasinta. Siapa lagi jika bukan Sakti. Perselisihanku dengan Elang telah menjadi mimpi buruknya sejak lama. Aku mencoba bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa di depan Sakti agar ia tidak terlalu khawatir, tapi Elang benar-benar tidak bisa bekerja sama.
“Tolonglah, aku sempat senang tanda ramalan titik balik muncul pada kalian berdua, tapi jika kalian tidak bisa kompak dan terus berselisih seperti ini, tetap tidak akan berakhir baik!” kata Sakti cemas.
“Tidak akan berakhir baik karena kamu dan Shira memercayai hal lain!” jawab Elang.
“Kamu masih saja merasa paling benar! Tidak ada jaminan bahwa yang kau percaya juga benar!” balasku tak mau kalah.
“TIDAK ADA JAMINAN KEBENARAN BILA KALIAN BERJUANG SENDIRI-SENDIRI!” bentak Sakti mengejutkanku. Elang juga akhirnya terdiam. Aku jadi merasa bersalah karena membuat orang yang tidak pernah marah akhirnya marah.
“Entah sudah berapa kali aku bilang seperti itu, tapi kalian berdua sama sekali tidak mengerti,” kata Sakti kali ini terlihat putus asa, “Shira lebih setuju dengan pendapatku, Elang lebih setuju dengan Sekti, pada dasarnya sumber yang kalian berdua percaya sama. Aku dan Sekti sama-sama memercayai titik balik itu. Jika ada sedikit perbedaan, tak bisakah kalian berdamai dan mencari titik tengahnya?” pinta Sakti.
“Titik tengah mana yang bisa diambil jika itu terkait penyelesaian paling penting?! Harus ada yang dikorbankan sementara kamu memercayai hal berbeda! Katakan, jalan tengah apa yang bisa diambil?!” jawab Elang. Sakti terlihat semakin pening.
“Ah, maafkan Elang yang terlanjur memaha-benarkan semua tulisan Sekti di buku kuno itu, Sakti. Seandainya pendapatmu juga tertulis di sana, mungkin kepalanya akan sedikit terbuka!” ujarku setengah menyindir.
“Aku juga menulis buku yang sama, Shira. Tulisanku ada di sana,” jawab Sakti.
“Tidak ada, Sakti. Hingga salinan terakhir yang diterjemahkan Elang, semua catatan ditulis dari sudut pandang Sekti, tidak ada namamu di sana. Aku sempat heran karena kalian saling berbalas pesan melalui buku itu, maka seharusnya tulisanmu juga ada di sana, tapi tidak ada,” jawabku.
“Tentu saja, Shira. Catatan yang kubuat memang terpisah dari milik Sekti. Masing-masing kami memiliki catatan sendiri. Jika kamu cocokkan, catatan kami seperti pesan yang saling berbalas bantah dan berujuk runding. Coba kalian teliti lagi!”
Eh? Apa katanya tadi?
“Maksudmu, harusnya ada dua buku?” tanya Elang.
__ADS_1
“Ya, dua-duanya dirampas iblis pencipta tempat ini,” jawab Sakti.
“Kenyataannya hanya ada satu!”
“Benar, hanya ada satu yang kutemukan!”
“Ya, sepertinya buku milik Sekti yang tiba di tangan Shira. Aku sendiri penasaran bagaimana bisa seperti itu,” jawab Sakti.
Seketika persainganku dengan Elang terlupa. Ketika bangun nanti aku ingin segera mencari tahu tentang buku milik Sakti. Elang sendiri terdiam, tampak memikirkan hal yang sama.
****
Seseorang bersinggungan denganku di dasar tangga. Sepertinya kami sama-sama sedang memikirkan sesuatu dalam-dalam di kepala hingga tak memperhatikan jalan masing-masing. Tak menyapa dan tak menegur, kami lanjut naik ke atas menuju kelas yang sama. Sesuatu ingin kukatakan agar ia sebaiknya menyerah saja dan mendengar apa kataku, tapi itu akan terlihat seolah aku takut terkalahkan, memohon kemenangan dengan memintanya menyerah.
Yasinta melambai tangan kepadaku dari bangkunya, terlihat sumringah sekali.
“Wah, kalian berdua berangkat bareng ya? Sudah baikan?” tanyanya. Aku melirik Elang yang menuju bangkunya.
“Tidak, kami tidak berangkat bersama seperti yang kau pikirkan, Yas! Hanya kebetulan berpaspasan di tangga,” jawabku tak berselera.
“Oh, yah ... Lalu kapan baikannya?”
“Tck! Mana kutahu, Yas!”
“Kenapa, sih, sering uring-uringan seperti ini?” tanya Yasinta.
“Kenapa, sih, kamu kelihatan bahagia sekali?” ujarku bertanya balik. Yasinta semakin menahan tawa.
“Aduh, iya, deh, maaf! Harusnya aku tidak terlihat seperti itu di depan temanku yang sedang galau. Makanya kalau tidak tahan berantem, mending baikan saja!”
“Ah, Yasintaa! Tolonglah mengerti, aku bukannya galau karena bermusuhan dengan orang ituu!” jawabku menyangga kepala dengan kedua tangan. Segala masalah menyerangku dari segala sisi, aku tak tahan karena itu!
Aku bahkan tak yakin bisa fokus mengerjakan ujian biologi yang merupakan target untuk kumenangkan. Kalimat demi kalimat soal tiba-tiba terbaca aneh dan tak kupahami. Pilihan jawaban yang mirip satu sama lain begitu menjebak, menuntut ketelitian dan daya ingatku terhadap hal-hal spesifik.
Seolah ada asap mengepul dari kepalaku, rasanya UTS hari terakhir ini memberi banyak tekanan. Tekanan untuk menang, tekanan memikirkan langkah selanjutnya untuk menemukan celah cahaya, ditambah lagi petunjuk baru dari Sakti tentang bukunya. Kemungkinan buku itu masih di tangan sang iblis, tapi kenapa buku milik Sekti bisa ada padaku? Kucoba mengingat-ingat lagi kronologi kutemukan buku kuno itu.
Aku tiba-tiba berdiri begitu mengingatnya, seolah tercambuk untuk segera mencari tahu. Seisi kelas menoleh ke arahku dengan tatapan ganjil, pengawas ujian juga.
“Anu ... maaf, saya izin ke toilet,” kilahku gugup meninggalkan kelas, justru banyak bengong di toilet. Aku ingat buku kuno itu semula adalah novel hadiah lomba membuat resensi. Baru satu malam kubawa ke rumah, esok harinya sudah berubah menjadi buku yang demikian anehnya. Benar, jika aku menanyakan panitia lomba dari mana asal-usul buku itu, aku pasti bisa membidik penyamaran sang iblis! Elang harus tahu! Ah, tidak! Aku harus memenangkan persaingan ini dulu! Ya ampun, aku harus segera kembali ke kelas!
“Kamu sakit, Ra?” tanya Yasinta begitu aku kembali. Jawabanku hanya geleng. Lanjut mengerjakan soal dengan sisa waktu setengah jam. Entah apa yang bisa kuperbuat untuk menjawab separuh soal yang tersisa. Hari ini aku benar-benar kacau dan semakin kacau mengetahui nilaiku di akhir waktu. Tujuh puluh enam, itu nilai mapel peminatan paling buruk sepanjang ujian. Kepalaku tergeletak ketika pesan dari Elang masuk, mengirimkan tangkapan layar nilainya. Mungkin iavterlalu malas untuk memamerkan nilainya seperti biasa. Aku pun sama, tak terlalu bangga memamerkan nilai pas-pasan begini.
Elang dapat tujuh puluh delapan. Beda tipis, sepertinya dia juga merasakan stres yang sama. Jarang sekali pelajaran hafalan begini nilainya tak menyentuh delapan puluh. Bagaimanapun tetap dia yang menang. Aku semakin tidak tenang, jika mapel TIK nanti Elang yang menang, maka kondisi paling mengkhawatirkanlah yang terjadi! Poin kami lagi-lagi seimbang dan perselisihan tak menemui ujungnya. Aku telah mencoba berdamai bila seandainya harus mengikuti kemauan Elang, tapi harga diriku yang pernah bilang akan memenangkan persaingan ini menolak berdamai. Diriku sendiri yang menuntut kemenangan.
Kemudian mapel ujian terakhir yang harusnya kuperjuangkan setengah mati justru berlalu seolah dalam sekejap mata. Aku bahkan tak ingat sempat memeras otak untuk mengerjakannya. Aku masih tergugu di tempat ketika bel pulang sudah terdengar. Sudah kuketahui nilaiku. Mungkin Elang lagi yang menang. Mustahil anak yang tahu banyak tentang komputer dan benda-benda teknologi nilainya berada di bawahku.
“Berapa?” tanya Elang singkat, menempati bangku kosong di sebelahku yang pemiliknya entah ke mana.
“Tunjukkan punyamu dulu!” pintaku. Ia malah menjatuhkan kepalanya di meja setelah menyerahkan ponselnya.
“Aku tertekan sekali hari ini,” kata Elang lirih.
“Ya, sama ...” jawabku. Kami seolah tak berani mengetahui nilai satu sama lain, “... apa sebaiknya dibatalkan saja kesepakatan kita?”
“Itu hanya membuat peningnya kepalaku seharian ini sia-sia! Kau tahu jika nilaiku kali ini lebih tinggi, bukan berarti aku menang, justru posisi kita seri. Situasi itu jauh lebih menyulitkan. Kurasa memang sebaiknya kau yang menang,” kata Elang mengambil ponselku, melihat kotak nilai dengan ragu-ragu. Aku memejamkan mata, sama-sama merasa sulit dengan hasil mana pun.
“Jika memang aku yang kalah ....” kata Elang menjeda. Ada tangan mendarat di puncak kepalaku, menepuk lembut.
“ ... aku bersedia mendengarkan apa pun yang kau percaya! Selamat ya!”
Eh? Mataku membuka. Apa katanya?
“Kamu yang menang, Shir!” kata Elang menunjukkan nilainya yang lima angka di bawahku. Aku masih menganga tidak percaya. Yang benar saja?!
Belum sempat berkata apa-apa terkait kelanjutan kesepakatan ini, ponselku lebih dulu bergetar, satu pesan masuk dari seseorang. Membacanya sejenak kemudian kutengok tepi jalan di depan sekolah lewat jendela. Aku segera mengambil langkah seribu.
__ADS_1
Sungguh, dia ada di sana?!
.Bersambung.