
Terbangun di tempat dengan langit siang hari berwarna merah darah, Aku segera tahu posisiku. Tidak seperti langit siang di luar bilik yang berwarna kelabu dengan banyak kabut, langit siang di dalam bilik memang cenderung kemerahan, tapi tak pernah kulihat yang demikian mencekam. Harusnya aku senang karena terbangun di tempat terlindungi sehingga tidak perlu repot-repot berkejaran dengan monster, tapi fakta bahwa aku sendirian di bilik dengan suasana seperti ini membuatku tak menurunkan kewaspadaan. Ada apa ini?
Pintu bilik yang hanyalah papan kayu menyandar tegak di posisinya. Sungguh mengherankan mengetahui pintu tertutup rapat tanpa siapa pun yang menyangga. Aku mendekati pintu. Dua langkah sebelum menyentuhnya, energi masif menolak, mengempaskanku jauh ke sudut bilik. Meringis kesakitan sambil mencoba bangun, kulihat keabnormalan lain di langit. Semburat merah seperti aurora bergerak-gerak menangkal satu per satu kunang-kunang ungu yang ingin terbang rendah ke hadapanku. Teleportasi Sakti tertolak. Ini semakin membingungkan.
Sekali lagi kutekadkan mendekati pintu. Lagi-lagi dua langkah sebelum menyentuhnya, kurasakan tolakan energi yang mencegahku mendekat. Kali ini aku lebih berhati-hati, menjauh sebelum terempas lagi. Barulah kulihat cahaya tipis seperti perisai membungkus pintu. Kudekati lagi, perlahan kusentuh. Tanganku menembusnya, tidak ada tanda-tanda penolakan lagi. Kilauan cahaya yang seolah menopang pintu itu pun lenyap, sebagai gantinya papan pintu ini roboh menimpaku tanpa diduga-duga. Tidak terlalu berat, tapi itu cukup mengagetkan.
“Sudah kuduga hanya kamu yang bisa membukanya,” kata seseorang yang baru muncul di belakangku. Dari suaranya bisa kukenali bahwa dia adalah Sakti. Aku menoleh tidak hanya melihat Sakti masih dikerubungi kunang-kunang ungu perantara teleportasinya, tapi juga langit bilik yang semu merahnya melembut, tak lagi mencekam seperti tadi.
“Membuka apa, Sakti?” tanyaku sambil menyingkirkan papan kayu ini, menegakkannya di posisi yang seharusnya.
“Kamu tahu beberapa bilik kadang terkunci dan kita tidak bisa masuk ke dalamnya? Itu terjadi ketika pertahanan bilik terlalu rentan, sangat sensitif untuk dimasuki energi lain. Pertahanan mutlak melindungi bilik yang seperti itu, mengunci bilik dari segala sisi dan mencegah siapa pun masuk. Nah, itulah yang baru terjadi pada bilik ini,” jelas Sakti turut bersandar di papan pintu.
“Lalu bagaimana aku bisa terbangun di sini bila memang tadi bilik ini dalam pertahanan mutlak?” tanyaku tak mengerti.
“Entahlah, mungkin karena kemunculanmu dari dunia asal tidak dapat dideteksi, terlalu acak. Kamu sendiri juga tidak bisa memilih ingin muncul di posisi tertentu ‘kan?”
“Iya, sih! Kadang pernah keterlaluan, aku muncul di puncak atap lantai dua, di dekat gerbang sarang monster. Adrenalin segera memacuku ketika terjadi yang seperti itu!” ujarku kesal. Sakti hanya terkekeh pelan.
“Tapi bagaimana aku bisa mengakhiri pertahanan mutlak bilik ini? Apakah tidak apa-apa?” tanyaku.
“Energi yang kamu bawa sepertinya cocok dan dianggap tidak membahayakan. Sebenarnya kamu lebih aman dalam bilik dengan mode pertahanan mutlak, tidak ada yang bisa masuk dan kamu juga tidak bisa keluar, tapi bukankah kita ingin menyelidiki celah cahaya malam ini?” tanya Sakti.
“Ah, benar juga! Apa kamu sudah melihat Elang?”
“Belum, aku curiga dia terjebak di bilik dengan mode pertahanan mutlak yang sama.”
“Lalu bagaimana? Apa kamu bisa mengantarku ke sana untuk membuka kuncinya?”
“Tidak bisa, Shira. Kamu tahu sendiri teleportasiku tadi tertolak dan kamu tidak bisa masuk dari luar. Satu-satunya cara hanya menunggu,” jawab Sakti.
“Benarkah? Apa akan sangat lama?”
“Um, entahlah, kita segera tahu jika Elang sudah bisa keluar karena dia ada di bilik sebelah.”
“Benarkah? Ah, semoga saja tidak lama,” harapku. Bisa kubayangkan betapa Elang tak tahan terkunci di dalam sana dan harus berdiam saja ketika sudah ada sesuatu yang direncanakan.
Sakti menanyakan penyelidikan enam kunci di enam penjuru. Ia terkejut aku dan Elang sudah menemukan posisi enam kunci itu.
“Belum kami pastikan seluruhnya, sih! Bahkan satu titik yang kami curigai tidak ditemukan apa-apa di sana,” jawabku. Selain itu aku dan Elang juga belum tahu apa yang harus diperbuat selanjutnya.
“Sabar, itu perkembangan yang cukup bagus! Kita akan menemukannya bersama. Langkah selanjutnya mungkin akan kita ketahui setelah posisi celah cahaya juga ditemukan,” jawab Sakti.
“Ya, semoga saja. Kuharap penyelidikan celah cahaya malam ini tidak menemui kesulitan, meski ... ya, meski ....”
“Kamu masih trauma dengan kejadian di gerbang depan itu ya?” tanya Sakti. Aku hanya diam tertunduk. Siapa pun pasti tidak akan senang melihat temannya nyaris terbunuh. Lalu sekarang kami harus menyisir tepian dunia ini yang merupakan sarang monster. Tentu saja ada kekhawatiran kalau tragedi itu akan terulang lagi.
Tangan Sakti di puncak kepalaku mengejutkanku.
“Jangan khawatir, aku tidak takut mati karena memang sudah mati. Aku tidak merasa sakit karena terluka. Aku selalu siap untuk menjadi tameng terdepan bila terjadi sesuatu pada kalian,” katanya tersenyum hangat. Sejenak aku menyesali diriku yang terlalu cengeng, selalu merengek takut sebelum berperang. Padahal seseorang tak peduli menghadapi bahaya demi melindungiku. Elang juga demikian. Yang harusnya kulakukan hanyalah terus bergerak maju.
“Aku mendeteksi perubahan energi di sekitar sini. Sebentar ya, biar kuperiksa bilik sebelah,” kata Sakti kemudian keluar. Aku yakin dia akan berhati-hati tanpa kuingatkan. Beberapa saat kemudian ia kembali bersama Elang. Sisa-sisa ekspresi sebal teman sekelasku itu benar-benar tidak bisa ditutupi.
“Bagaimana, teman-teman? Kalian punya rencana?” tanya Sakti segera memulai diskusi.
“Aku ingin dengar pertimbangan dari orang yang sudah lama tinggal di sini dan cukup tahu segala seluk-beluknya,” jawab Elang. Benar, kami perlu informasi itu untuk menentukan pergerakan.
“Apa yang bisa kuberi tahu ya? Sebenarnya batas-batas dunia ini sama seperti batas sekolah kalian. Di luar itu aku tak tahu ada apa saja. Hanya atmosfer hitam sejauh yang bisa kulihat di luar batas. Dunia ini didesain seperti penjara yang mempersulit akses keluar. Semakin mendekati tepi batas, semakin kuat pengaruh sihir hitam dan semakin banyak kesulitan yang kita temui,” jawab Sakti.
“Bisa lebih kamu perjelas, Sakti? Kesulitan macam apa saja?” tanyaku.
__ADS_1
“Contohnya dua gerbang di depan dan belakang adalah sarang monster, kita tak bisa mendekati area itu dengan kewaspadaan rendah. Kemudian Lorong di batas sebelah selatan sangat gelap dan semakin menyempit jika kita tak segera keluar dari sana. Terakhir, halaman kecil di belakang gedung utara, ada banyak pasir isap tempat yang paling banyak memakan korban. Jiwa-jiwa tersesat banyak berakhir di sana,” jelas Sakti. Nah, sudah kuduga memang akan sesulit itu. Sekarang tinggal memikirkan cara menghadapinya.
“Lorong sebelah selatan itu lurus ‘kan?” tanya Elang.
“Ya, mulut lorongnya tertutup berbagai penghalang. Letaknya di belakang bilik terdepan dari gedung selatan, agak terlihat dari gerbang. Kita harus membukanya dengan hati-hati agar tak menarik perhatian para monster. Sedangkan ujung lorong yang lain ada di samping bilik yang kalian sebut gedung olahraga. Dilihat dari posisi gedung deretan bilik dengan gedung olahraga yang segaris bisa kupastikan lorong itu memang lurus,” jawab Sakti.
“Baiklah, aku ingin memulai penyelidikan dari lorong selatan dulu. Tidak masalah bila lorong itu semakin menyempit dan gelap asalkan lurus, yang perlu kita lakukan hanya bergerak secepat mungkin,” jawab Elang. Ah, dia memang tetap bisa melihat dalam gelap.
“Dengan kondisi lorong yang seperti itu, aku yakin para monster tidak akan mengejar kita. Untuk sementara aku ingin menghindari mereka dulu,” kata Elang lagi.
“Itu pertimbangan yang bagus. Bagaimana Shira?” tanya Sakti.
“Aku ikut rencana Elang,” jawabku untuk sementara juga ingin menghindari berkejaran dengan monster.
“Baiklah, kalau begitu ayo kita segera berpindah!” kata Sakti menggandeng tangan kami, luruh menjadi kunang-kunang ungu yang beterbangan dan lenyap di langit. Sesaat kemudian kakiku terasa menapak lagi di tanah setelah tiba di bilik pertama gedung selatan, bilik XI MIPA 5.
“Sebaiknya kalian tunggu di sini, aku akan mengamankan keadaan di luar dan membuka penghalang di mulut lorong,” kata Sakti. Aku dan Elang mematuhinya, tetap di dalam bilik sambil menjaga pintu tetap tertutup.
“Sepulang sekolah tadi aku sudah memeriksa area parkir, Shir. Kunci perangkap di titik itu ada di pohon beringin tepat di tengah area parkir,” kata Elang memecah keheningan.
“Oke, empat titik positif. Berarti tersisa greenhouse yang belum kita periksa,” jawabku.
“Itu agak sulit, bukan mudah mendapat izin masuk ke sana,” jawab Elang.
“Oh ya? Menurutmu dari mana aku dapat tanaman pengganti di taman yang sudah mati? Dari greenhouse, Lang! Mudah sekali minta izin ke Bu Lasmi!”
“Oh, Bu Lasmi ya? Menarik!”
“Kenapa?”
“Tidak, aku masih perlu beberapa bukti.”
“Heeh?”
“Aku paham kenapa kalian ingin menghindari monster-monster itu. Mereka memang merepotkan,” kata Sakti.
“Ada apa tadi?” tanyaku.
“Aku sempat mengalihkan perhatian monster-monster di sekitar gerbang. Jumlah mereka sudah berkurang di titik itu. Sebaiknya kita cepat bergerak, mereka mungkin tak akan lama. Penghalang di mulut lorong juga berhasil kusingkirkan,” jawab Sakti.
Aku dan Elang mengangguk, mengekori Sakti yang memimpin di depan sementara Elang berjaga di belakangku.
“Apa kita perlu obor?” tanyaku mengambil satu yang terpasang di sisi koridor.
“Tak akan banyak membantu, tapi coba saja kamu bawa,” jawab Sakti. Kami tiba di mulut lorong. Kulirik sebentar gerbang depan dengan atmosfer hitam di sisi luarnya, sepi. Kegelapan di dalam lorong juga tak kalah pekat.
Sensasi menegangkan akhirnya baru terasa setelah kami masuk beberapa langkah. Dinding lorong yang mengapit kami hanya selebar kacak pinggangku, terasa dingin dan bisu. Cahaya obor yang sudah berpindah di tangan Sakti tak terlihat olehku yang bahkan hanya di belakangnya, terlalu suram. Aku ragu apakah obor itu mampu menerangi jalan satu meter di depannya. Sempat menoleh ke belakang, sama gelapnya. Elang tak jauh di belakangku ‘kan?
“Jalan terus, jangan tengak-tengok, Shir!” kata Elang. Ah, seandainya aku juga bisa melihat dalam gelap seperti dia!
“Jangan lupa tujuan kita, teman-teman! Tolong sambil perhatikan setiap dinding, lantai, dan langit-langit. Harusnya mudah menemukan cahaya di tempat segelap ini,” kata Sakti.
“Aku baru menyadari sesuatu. Harusnya bila hanya cahaya yang dicari, kita tidak perlu masuk dan menelusuri sepanjang lorong ‘kan? Kita hanya perlu melongok di mulut lorong. Bila hanya gelap tanpa ada kerlipan cahaya, itu berarti sesuatu yang kita cari tidak ada,” kata Elang. Wah, benar juga!
“Itu masuk akal dalam keadaan normal, tapi ....”
Kata-kata Sakti terpotong ketika akhirnya gelap total. Cahaya redup obor itu memang tak banyak membantu, tapi sekalinya ia padam yang kurasakan seolah buta. Kami ditelan kegelapan. Aku sedikit tenang setelah meraih punggung Sakti di depanku.
“ ... tapi sihir hitam di area ini terlalu kuat bahkan bisa menelan cahaya. Lihatlah obor kita padam. Tanda celah cahaya yang kita cari mungkin tidak terlihat dari mulut lorong. Kita harus memastikannya dari dekat,” lanjut Sakti.
__ADS_1
“Selanjutnya bagaimana?” tanyaku.
“Selanjutnya tetap jalan, dinding di sekitar kita semakin menyempit,” jawab Elang mendorong pundakku. Yang dikatakannya tidak salah. Jarak antar-dinding sekarang hanya selebar setengah lengan lencang kanan. Sejauh ini yang kami cari belum juga ditemukan.
Entah sudah sejauh mana kami masuk. Kuharap kami sempat lolos sebelum terjepit menjadi gepeng di sini.
“Apa dinding-dinding ini benar-benar bergerak menyempit? Bisa jadi memang lorong ini meruncing di ujung sana,” ujarku.
“Tidak, aku pernah memasuki lorong ini dari ujung yang lain, awalnya longgar. Setelah kusadari semakin menyempit, aku berbalik kembali dan mendapati ujung lorong tempatku masuk tidak selebar mulanya,” jawab Sakti, “ah, sebentar, aku ingat ketika memasuki lorong ini hari itu. Dua ratus langkah setelah masuk akan ada ... Aduh!”
Sakti refleks melangkah mundur. Aku yang tak siap terdorong ke belakang menabrak Elang.
“Ada apa?” tanyaku.
“Ini dia, mulai dari sini banyak bebatuan tajam hingga entah seberapa jauh. Pergerakan kita juga semakin terbatas ke depannya,” jawab Sakti.
“Biar kuperiksa,” kata Elang maju melewatiku. Entah apa yang dia lakukan.
“Wah, cukup tajam. Ini semacam pecahan kaca, tapi tertanam di tanah,” kata suara Elang terdengar rendah. Sepertinya ia berjongkok. Berikutnya terdengar suara dentingan beberapa meter di depan kami, berulang dua kali.
“Dari pantulan bunyinya kurasa tidak terlalu panjang. Lantai beling ini hanya dua puluh meter, tapi seandainya kita memaksa lewat, kaki kita akan terluka,” jawab Elang. “Dua puluh meter itu terlalu panjang bila untuk melewati lantai menyiksa seperti ini, Lang!” jawabku.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba seolah ada sesuatu yang mengangkatku, kaki tak lagi menapak tanah. Sakti dan Elang juga.
“Sepertinya kita diperbolehkan terbang di atasnya,” kata Elang terdengar cukup senang. Ia menarik tanganku yang tertinggal di belakang dan kami pun melanjutkan penelusuran. Kekuatan apa pun yang tiba-tiba membantu kami melayang ini, aku sangat berterima kasih karenanya.
Namun, entah kenapa kami melayang semakin tinggi, seolah tersedot ke atas kian cepat. Aku mengantisipasi hal ini dengan melindungi kepala. Sedetik kemudian tubuhku seolah dijungkir balik menghantam lantai dingin. Kudengar Elang mengumpat lirih, tak menyangka-nyangka kejadian tadi.
“Aduh! Apa-apaan tadi itu?!” tanyaku sambil mengelus leherku yang terasa sakit. Hanya Sakti yang terdengar tidak mengeluh.
“Arah gravitasinya berubah,” jawabnya.
“Keuntungan kita sekarang adalah bisa lewat tanpa terluka ... Ah, sial! Ada benda tajam jatuh dari atas!” kata Elang.
“Ah, aku juga kena!” timpalku merasakan sesuatu yang jatuh menggores tanganku.
“Wajar saja, posisi kita sekarang terbalik. Lantai berbatu tajam sekarang ada di atas dan batu-batu itu mungkin akan segera luruh menimpa kita,” jawab Sakti. Tanpa aba-aba kami segera bangun dan setengah berlari. Denting guguran batu-batu tajam itu terdengar di belakangku. Setelah beberapa meter, tubuhku terangkat lagi.
“Bersiap, teman-teman! Daerah lantai berbatu tajam sudah kita lewati. Gravitasinya kembali berbalik normal!” ujar Sakti memperingatkan. Harusnya aku segera bersalto menukar posisi kaki dengan kepala, tapi itu tidak mudah di tempat sempit dan gelap ini. Aku tak tahu harus bergerak ke mana, lagi-lagi jatuh dengan posisi kepala lebih dulu. Meski kepala sempat kulindungi dengan tangan, tapi leherku tak terlalu lentur untuk menahan bantingan sekeras itu.
“Shir, kamu baik-baik saja? Hei?” tanya Elang mengguncang pundakku. Aku tak menjawab, masih meringkuk menahan nyeri yang sempat menjalar. Apanya yang baik-baik saja?! Leherku terasa hampir patah, napasku pun mulai sesak. Baru kuingat bahwa asmaku bisa kambuh di tempat dengan kondisi seperti ini, tapi aku tak ingin membuat siapa pun khawatir. Aku sudah berjanji agar mencoba tetap kuat sepanjang sisa petualangan di dunia kelabu.
Sakti menyentuh bagian leherku yang sakit, memulai teknik penyembuhannya. Tentu saja ia mengerti tanpa kuberi tahu. Pikiranku terbaca olehnya, tapi aku menolak, memaksa agar kami terus bergerak maju. Dinding lorong ini semakin sesak. Ia pun tak punya pilihan lain. Kami melanjutkan perjalanan. Semoga ujung lorong lain tak jauh lagi. Aku tak tahan berada di dalam sini!
Ini baru penelusuran salah satu sisi, masih tiga tepi batas lain yang belum diperiksa. Kuharap petunjuk tentang celah cahaya segera kami temukan, sehingga kami tak perlu memeriksa tepi batas yang lain. Sayangnya, hingga sejauh penelusuran lorong gelap ini, belum setitik cahaya pun yang kami temui. Sekalinya ketemu pun, itu bukan cahaya yang kami inginkan.
Langkah kami terhenti. Sepasang titik cahaya jingga berkilat-kilat belasan meter di depan. Dalam posisi terjepit seperti ini bertemu cahaya jingga itu sama sekali bukan hal yang bagus. Ini petaka! Iblis pencipta dunia ini siap mengeksekusi kami. Rengekan lirih yang nyaris lolos dari tenggorokan segera kutelan kembali. Elang membekap mulutku rapat-rapat.
“Jangan bersuara!” bisiknya rendah. Aku hanya menelan ludah.
“Dengar, dia tidak bisa melukai kalian dengan wujud itu, yang diincar iblis itu adalah aku. Biar kuladeni dulu,” bisik Sakti, “beberapa langkah lagi belok ke kiri, ujung lorong ini mengarah ke halaman utama. Kalian berdua segeralah berlindung dalam bilik, mengerti?”
Elang menjawab dengan tindakan. Ia menarikku pergi menuju jalan yang telah diarahkan Sakti. Sesaat kemudian terdengar desau angin dan keributan susul-menyusul. Kuharap Sakti masih bisa melakukan banyak hal dengan ruang gerak yang tidak banyak itu. Semoga ia bisa lolos dari bahaya.
Mulut lorong tempat kami seharusnya keluar tertutup papan kayu. Elang segera menghancurkannya dalam sekali tendangan. Sesuatu yang lebih mengejutkan mencegat kami berdua.
Segerombol monster mengepung kami.
Aku segera menyadari sesuatu. Kata-kata Sekti dan kekhawatiran Sakti yang sama terngiang di telingaku. Tentang jiwa-jiwa tersesat yang berakhir sebelum purnama ketiga. Jika boleh memohon, aku tak ingin malam ini menjadi episode terakhirku.
__ADS_1
.Bersambung.
Oke, Shira nego. Author musti gimana, nih? :v