
Dua pedang yang berayun bertemu, saling beradu, menciptakan suara khas dentingan logam yang mengiris-iris udara. Di tengah arena kombat, dua orang yang sedang berlatih, Elang dan Luska, belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan sejak latihan tarung jarak dekat dimulai setengah jam lalu. Pedang yang mereka gunakan hanya terbuat dari logam biasa, juga sama sekali tidak tajam karena memang hanya untuk latihan.
Di lain sisi, pedang yang mengaktifkan jalan keluar dari Dunia Kelabu, simbol kekuatan besar milik keturunan Kesatria Perak, yang harusnya ada pada Elang, ternyata tidak ada. Lebih tepatnya hilang sejak satu setengah tahun lalu. Aku tahu Kepala Dewan jadi sedikit meragukan Elang. Itu sebabnya Elang berada di arena latihan kombat, melawan Luska untuk menguji kemampuan fisiknya sementara aku bersama Kak Garuda melatih teknik telekinesisku yang nanti pasti banyak berguna. Yang membuatku heran, kenapa harus Kak Garuda? Jawabannya karena dialah sementara ini yang memiliki kemampuan sama denganku.
“Kamu tidak malu dengan mereka berdua, Shira? Semangat sekali, deh! Masa kamu baru melatih teknik telekinesis sepuluh menit saja sudah loyo?” kata Kak Garuda. Aku yang tergeletak lelah di pinggir arena semakin ingin berguling-guling, melarikan diri dari Kak Garuda yang ternyata amat cerewet selama melatihku.
“Kenyataannya menggerakkan benda tanpa kontak fisik lebih menguras energi, Kak ... dan aku ... belum cukup bersahabat dengan kemampuanku ini,” jawabku.
“Tapi aku pernah melihatmu merobohkan papan iklan saat kita diserang orang asing sebelum lari ke Alba, ingat?”
“Yah, hanya sesekali, aku tidak sering menggunakannya.”
“Oh, pantas saja kamu baru bisa sebatas menggerakkan benda, tapi belum bisa mengendalikan arah geraknya,” jawab Kak Garuda.
Setelah itu ia menjelaskan panjang lebar soal betapa menakjubkannya semisal nanti aku sudah bisa mengontrol gerakan partikel udara, menciptakan angin puyuh dahsyat yang ingin kujawab dengan bantahan betapa menyusahkannya membuat hal seperti itu.
“Ayo, fokus, Shira! Semuanya tergantung kemauanmu! Kekuatan itu akan menurut bila kamu mengakuinya dan terus berlatih menggunakannya!” kata Kak Garuda sekali lagi.
“Fokus ya? Sejujurnya ada bermacam-macam hal yang membuatku sulit fokus, Kak,” jawabku bangkit duduk menatap salah satu orang di tengah arena.
“Aang ya?” tebak Kak Garuda, “padahal lebih ganteng kakaknya tapi kamu malah lebih fokus ke sana!”
“Dih, ini bukan soal mana yang lebih ganteng! Aduh, tolog, deh, Kak, serius!”
“Hehe, iya, iya ... Memangnya ada apa?”
“Apa Elang punya kekuatan seperti Kakak? Seperti punyaku?”
“Kelihatannya bagaimana?”
“Kelihatannya ... tidak, tapi ketahanan fisik dan kemampuan bertarung Elang cukup baik, sih!”
“Nah, kamu sudah tahu, masih ada yang mengganggu pikiranmu?”
“Jika Elang yang terpilih melawan Dunia Kelabu, lalu kenapa justru Kakak yang memiliki kekuatan itu?” tanyaku.
“Kesatria Muda Garuda juga masih keturunan Kesatria Perak, Yang Mulia,” kata Ladra tiba-tiba muncul di belakang kami, “mungkin dia masih mewarisi sebagian kecil kekuatan Kesatria Perak, sedangkan sebagian besarnya berada pada pedang yang berjodoh dengan Kesatria Agung.”
“Tapi pedang itu masih belum ketemu. Apa Elang bisa tetap bertarung tanpa pedang itu?”
“Um, dari cerita Elang sendiri, dulu kalian tidak punya kekuatan apa-apa selama melawan Dunia Kelabu. Pedang itu juga sempat tertanam di punggung Elang dan tidak bisa digunakan,” jawab Kak Garuda.
“Itu sebabnya, Yang Mulia jangan khawatir. Kekuatan terbesar umat manusia adalah akal pikiran dan kebaikan yang tulus. Pedang itu memang penting, tapi hanya berguna pada saat-saat terakhir ‘kan?” jawab Ladra.
Aku jatuh termenung setelahnya, berusaha memasukkan pasokan semangat dan pereda cemas dari orang-orang ini ke dalam hatiku. Kecemasan itu belum mau enyah karena diam-diam aku mengerti kekhawatiran yang disembunyikan Nona Yastra saat pertemuan tadi. Itu pedang yang menyimpan kekuatan besar. Bisa bayangkan seandainya pedang itu terlantar dan mengundang minat siapa pun yang berniat menggunakannya untuk kejahatan? Yah, kira-kira seperti itulah yang sempat terlintas di kepalaku.
Dua orang di tengah arena tampak menyudahi latihan mereka dengan dada naik turun mengumpulkan oksigen sebanyak-banyaknya. Kepala Dewan menyapa keduanya, mengajakku dan Kak Garuda turut berkumpul di tempat lapang di tengah arena.
“Bagaimana latihanmu?”/“Bagaimana latihan Yang Mulia?”
Dua orang itu saling pandang sejenak setelah tanpa sengaja bersamaan menanyakan hal yang sama.
“Tenang saja! Shira berada di bawah pelatih yang tepat! Dia akan banyak mengalami perkembangan!” jawab Kak Garuda menepuk pelan puncak kepalaku, membuat keduanya mendengus bersamaan.
“Saya sudah memperhatikan kemampuan Kesatria Agung, itu tidak mengkhawatirkan. Sekarang saya mengerti alasan Yang Mulia bisa terlindungi di penaklukan Dunia Kelabu sebelumnya karena Yang Mulia bersama orang seperti Anda,” kata Ladra.
Elang sempat menghela napas sejenak sebelum lanjut bicara, menyeka keringat yang membuat beberapa helai rambutnya jatuh menempel di dahi.
“Untuk kesekian kalinya kukatakan, aku tidak butuh disanjung-sanjung. Harusnya Kepala Dewan tahu, kemampuan bertarung jarak dekat yang hanya mengandalkan kemampuan fisik tidak terlalu menjamin. Kenapa Kepala Dewan begitu percaya Shira tetap aman hanya dengan bersamaku? Dulu Kesatria Peraklah yang banyak melindungi aku dan Shira,” jawab Elang.
“Kesatria Agung tidak perlu khawatir. Yang Mulia sekarang telah menguasai beberapa kekuatan meski belum begitu mahir. Semakin lama kekuatan Yang Mulia akan semakin berkembang,” jawab Ladra.
“Lalu bagaimana? Kudengar misi ini akan benar-benar hanya mengirim Yang Mulia dan Kesatria Agung Elang ke Dunia Kelabu,” kata Luska, “apa Kepala Dewan serius? Kita pernah membawa seribu pasukan dan yang kembali hanya sepersepuluhnya.”
__ADS_1
“Menurutmu hitungan seperti itu berlaku ketika dua orang legenda yang pergi ke medan perang? Jangan remehkan benang takdir, Luska! Walau terlihat tidak masuk akal, keduanya telah terbukti berhasil menang dari Dunia Kelabu,” kata Ladra.
“Bukan, bukan begitu, Kepala Dewan ... Aku bukannya meremehkan. Maksudku, maksudku ... aku berkenan jika harus turut pergi bersama Yang Mulia dan Kesatria Agung,” kata Luska.
Ladra tersenyum kecil, “Akhir-akhir ini banyak kudengar orang bilang seperti itu, tetapi semuanya punya kewajiban berjuang di jalannya masing-masing, termasuk kau, Luska. Kau sudah punya peran sendiri!”
“Maaf, Kepala Dewan belum memberi tahu mengenai peran saya. Memangnya apa?”
“Oh? Belum ya? Ah, aku memang baru mengirimimu pesan beberapa menit yang lalu ketika kau masih berlatih,” jawab Ladra, “ intinya kau akan mengisi peran sebagai Kesatria Agung di Nigra.”
“Haaa?!”
Suara Luska dan Elang terdengar serempak menyerukan sepotong keterkejutan itu.
“Apa maksudmu?!”
“Begini, Kesatria Agung. Selama Anda menjalankan misi di Alba, sosok Anda menghilang di Nigra. Daripada menimbulkan kecemasan dan kehebohan, sebaiknya memang ada pemeran pengganti. Saya memilih Luska untuk menggantikan sekaligus mengurus segala urusan Anda di Nigra,” jawab Ladra.
“Wah! Harusnya aku juga diberi pemeran pengganti!” sahutku.
“Iya, pemeran pengganti Yang Mulia adalah Aquila.”
“Tolong, aku masih tidak paham dengan semua ini! Bagaimana bisa Luska tiba-tiba bisa menjadi aku dan mengatasi semua urusanku?!” protes Elang terlihat begitu sebal, “lagi pula aku sudah menghilang beberapa hari. Aku yakin sudah terjadi kehebohan! Sepupuku pasti sudah memberi tahu orang tuaku dan mereka memasang iklan orang hilang di tiang-tiang lampu!”
“Mukamu pasti bersanding dengan iklan sedot WC ya, Ang?” timpal Kak Garuda.
“Diam, Gar! Kau juga! Bagaimana kau bisa begitu enteng meninggalakan pekerjaanmu beberapa hari terakhir, ha?”
“Kenapa kamu baru panik sekarang?!”
“Habisnya kupikir ini hanya mimpi seperti dulu!”
Ladra tampak urung menjelaskan karena Elang tiba-tiba senewen sendiri.
“Benar, Yang Mulia. Saya hanya bisa mengandalkan hipnotis itu, tetapi efeknya tidak permanen, sangat tidak efektif bila harus bolak-balik Alba ke Nigra hanya untuk mengaktifkan ulang pengaruh hipnotis,” jelas Luska, “selain itu, saya tidak bisa menghipnotis semua orang yang mengenal Yang Mulia atau Kesatria Agung secara keseluruhan. Seperti yang Anda tahu, rumit sekali melakukannya.”
“Dengar, Shir! Dia sendiri bilang tidak bisa!” kata Elang.
“Namun, itu bisa diatasi dengan skenario pemeran pengganti. Luska adalah boneka yang akan dibuat menyerupai Kesatria Agung, ditanami ingatan dan alam bawah sadar milik Kesatria Agung agar bisa memainkan perannya dengan baik,” jelas Ladra.
“Wah? Bisa seperti itu? Kalian punya triknya?” tanyaku penasaran.
“Hanya make-over pengganti wajah dan lagi-lagi memanfaatkan hipnotis kecil. Pernah kudengar sebelumnya bahwa di Alba ditemukan teknik make-over yang dapat mengubah penampilan seseorang sesuai model yang diinginkan, Shira,” jawab Kak Garuda.
“Semacam operasi plastik, begitukah?”
“Lebih mengerikan lagi! Hasilnya sangat memuaskan karena kau tidak bisa membedakan mana yang boneka dan mana yang model asli. Karena itulah teknik itu akhirnya dilarang, tapi sepertinya teknik itu berguna untuk saat ini.”
“Yang diceritakan Kesatria Muda Garuda memang benar. Kami terpaksa menggunakan teknik itu ditambah hipnotis ringan untuk mengatasi seandainya ada yang menyadari keanehan karena beberapa kegagalan,” jelas Ladra.
“Gila! Kalian sungguh gila!” gerutu Elang masih saja tidak terima.
“Dan mengenai penanaman ingatan itu ... jangan-jangan melalui pemindaian pita memori seperti yang pernah kualami waktu itu ya?” tebakkum
“Benar, kami sudah mendapat salinan rekam jejak pita memori Yang Mulia. Kami hanya perlu merekonstruksinya di kepala Aquila agar ingatan Anda tidak merusak ingatan Aquila sendiri dan bisa ditarik kembali setelah misi selesai.”
“Itu malah lebih gila! Kalian ingin aku berbagi ingatanku dengan Luska?! Tamatlah privasiku!” kata Elang.
“Itu tidak bersifat permanen ....”
“Bodo amat! Daripada privasiku terinjak-injak ....”
“Seberapa mahalnya privasi Anda, Kesatria Agung Elang? Apa lebih mahal dibandingkan keselamatan orang-orang seisi negeri?” tanya Luska setengah menyindir.
__ADS_1
“Luska, apa-apaan ....”
“Maaf, Kepala Dewan, saya hanya mengulang kata-kata Kesatria Agung sendiri. Beliau berhasil meluluhkan ego sekian ribu penduduk Alba, tetapi bagaimana dengan egonya sendiri? Wah, melawan diri sendiri dari dulu memang paling sulit ya!” kata Luska kemudian angkat kaki. Yang sempat kulihat dari Elang sebelum akhirnya ikut pergi adalah garis rahangnya yang mengeras ketika menatap punggung Luska.
***
Cekcok di arena latihan kombat tadi siang tidak mengurungkan jadwal agenda pemindaian pita memori Elang. Prosedur itu tetap harus dilakukan karena telah menjadi bagian dari rencana yang terlanjur tidak bisa diubah. Luska akan tetap meggantikannya di Nigra dan hasil pemindaian rekam jejak ingatan itu sangat-sangat dibutuhkan.
Aku bersama Ladra turut mengantar dua orang ini ke ruangan Dokter Kara di Pusat Layanan Kesehatan. Jika tidak ada halangan, Luska akan sekaligus diperiksa sebelum ingatan Elang diselaraskan di kepalanya. Aku benar-benar tak habis pikir karena manusia ternyata bisa seperti perangkat ponsel yang dipasang memori tambahan lalu dicopot setelah selesai. Ilmuwan Alba memang gila! Gila jeniusnya maksudku.
Sepanjang perjalanan di dalam gerbong portal instan terkesan sungguh dingin karena sepertinya gesekan emosi antara Elang dan Luska masih berlangsung meski dalam senyap. Kepala Dewan Ladra pun tidak banyak berkomentar. Ah, seandainya aku menemukan cara untuk mendamaikan keduanya! Ketika aku baru ingin memulai basa-basi, pintu gerbong portal terbuka. Kami tiba di lorong menuju ruangan Dokter Kara. Kekesalan di wajah Elang semakin pekat. Dia jelas-jelas masih tidak rela bila Luska mengetahui isi kepalanya sementara Luska sendiri juga tampak tidak senang bila harus menggantikan Elang di Nigra.
Aku hanya menghela napas, sangat iri dengan Kepala Dewan yang sama sekali tidak terpengaruh dengan sikap dua orang ini. Ia tanpa basa-basi seperti dulu segera meminta dokter muda itu memulai sesi pemindaian. Dokter Kara yang kelihatannya sedang tidak menjadi dirinya mengajak Elang masuk ke ruangan di balik dinding. Memang begitulah caranya melakukan pensekatan psikologis dengan pasien. Sementara itu aku dan Luska menunggu berdua di ruang depan karena Kepala Dewan harus menemui Aquila. Orang tua itu tampak berjuang menangani banyak hal.
“Eh, Luska ...” ujarku memecah keheningan yang tanpa terasa membungkus atmosfer lima menit sejak Ladra pergi. Laki-laki di sebelahku tidak merespons, menandakan sedang jauh dalam lamunan. Sekali lagi kuoanggil namanya, barulah ia tersadar.
“Maaf, Yang Mulia ... Anda bicara sesuatu?” tanyanya.
“Kamu tidak boleh membenci Elang ya!” ujarku tanpa basa-basi, “aku berpikir begitu karena terlihat ketika kalian berlatih pedang, seolah ingin betul-betul menghabisi satu sama lain. Jika kamu punya masalah dengannya biar kusampaikan agar dia tidak membuatmu kesal ... begitu juga sebaliknya.”
Luska menghela napas sejenak, “Sejak Elang bilang akan membawa Yang Mulia kabur, saya tidak menyukainya. Pada dasarnya saya tidak menyukai siapa pun orang-orang dari Nigra yang menjauhkan Yang Mulia dari Alba. Tolong sampaikan padanya agar sama sekali tidak berencana menggagalkan misi ini.”
Aku hanya mengangguk, dalam hati berencana hanya menyampaikan separuh kata-kata Luska. Akan semakin runyam bila Elang tahu Luska tidak ingin aku meninggalkan Alba suatu hari nanti, atau sebenarnya dia memang sudah tahu? Entahlah!
Tak terasa lebih dari satu jam lewat, bertambah lagi satu jam. Ladra telah kembali ketika aku bosan setengah mati menunggu. Luska sendiri sudah kehabisan topik pembicaraan. Kami mengulang dua jam lagi dengan Luska yang mengizinkanku mengutak-atik perangkat komunikasi di lengan kirinya. Total waktu empat jam, Elang dan Dokter Kara belum juga keluar. Ketika kami sedang meneak-nebak yang terjadi, dinding ruangan bergeser ke atas. Dokter Kara muncul sambil memijit kening dan Elang masih dengan wajah uring-uringannya mengekor di belakang.
“Sudah selesai?” tanyaku.
“Maaf, Yang Mulia, ini sungguh mencoreng reputasi saya. Untuk pertama kalinya, empat jam terbuang sungguh sia-sia. Tidak ada hasil pemindaian yang saya dapatkan,” jawab Dokter Kara.
“Kenapa? Alat pemindainya rusak?” tanya Ladra.
“Bukan, Kepala Dewan. Saya gagal melakukan pendekatan psikologis dengan Kesatria Agung karena belaiu sendiri tanpa sadar secara persisten menolak untuk terbaca. Saya yakin pemindaian hari ini sama sekali tidak dikehendakinya."
Elang diam, tidak menyangkal. Kepala Dewan menatapku bergantian dengan Elang, lalu menatap Luska yang mendengus sebal keluar ruangan.
“Mungkin kita istirahat dulu,” kata Ladra menyusul Luska keluar.
“Benar, saya juga butuh istirahat,” jawab Dokter Kara. Elang menjatuhkan pantatnya di sofa empuk di sebelahku, mengusap wajahnya, menghindari tatapanku.
“Lang ...” panggilku pelan dan Elang masih bergeming di posisinya, “kamu pasti stres ya? Luska kan hanya pinjam ingatamu sebentar. Nanti dikembalikan lagi, kok!”
“Dikembalikan lagi dan benar-benar dijaga kerahasiaannya. Ketika ingatan itu ditarik kembali, Kesatria Muda Luska tidak mengingat selembar peristiwa apa pun dari memori Kesatria Agung,” jelas Dokter Kara.
“Tuh, begitu kata Dokter Kara. Sebenarnya apa yang kamu khawatirkan? Jika memang benar-benar ada informasi pribadi, aku akan meminta Luska betul-betul merahasiakannya, deh! Dia pasti menurutiku!” bujukku.
Namun, Elang bukanlah anak kecil yang mudah diiming-iming. Aku tidak mengerti suatu hal apa yang tidak ingin ia bagi dengan Luska, tapi sepertinya itu sangat penting hingga ia harus demikian risau.
“Lang, kupikir kau betul-betul ingin membantuku menyelesaikan semua ini dan segera kembali ke Nigra,” bujukku sekali lagi. Berikutnya kulihat leher Elang yang dilingkari kalung dengan liontin logam tampak memerah dan warna itu ternyata merata di wajah dan telinganya. Heh, apa dia sampai harus sakit seperti ini? Ketika kuperiksa dahinya ternyata tidak begitu panas. Setidaknya aku tidak terlalu khawatir.
“Iya, Shir, iya ...” bisik Elang kemudian, menggenggam tanganku yang masih menempel di dahinya, “aku memang ingin membantumu.”
Tatapan sendu Elang membuatku sempat membatu beberapa saat hingga kudengar Donter Kara berseru.
“Akhirnya!”
“Eh?!”
“Empat jam bersamaku tanpa hasil apa-apa, empat menit bersama Yang Mulia dengan seluruh hasil pemetaan lengkap. Ingatan penting Kesatria Agung ketika bersama Yang Mulia sepertinya memuat banyak cerita tentang masa lalu juga. Baguslah! Aku bisa segera memprosesnya!” kata Dokter Kara bersuka cita, melepas liontin yang sepertinya perangkat pemindai dari leher Elang.
Elang sendiri masih setengah merebah tak berdaya ketika Luska dan Ladra kembali ... dan aku buru-buru menarik tanganku dari genggaman Elang.
.Bersambung.
__ADS_1