Kelabu

Kelabu
#S2 Episode 11


__ADS_3

Ketika Luska bilang kami akan menemui ahli medis, aku sempat mengira akan mengendarai binatang paduan kuda dan garuda itu lagi untuk tiba di Pusat Layanan Kesehatan. Bukannya tidak suka –aku suka, kok– tapi seandainya binatang itu tidak terlalu cepat, aku pasti tiba di sana tanpa terlihat seperti orang mabuk. Yah, beruntungnya memang tidak. Kali ini tidak hanya Luska, Ladra juga turut mengantarku. Kepala Dewan itu pasti perlu tahu langsung apa pun hasil pemeriksaanku nanti. Kami bertiga masuk ke lift berpintu kaca dekat taman indoor semalam.


Lift mulai bergerak naik setelah pintu kacanya bergeser menutup. Dinding-dinding di dalam sini benar-benar mulus tanpa ada panel-panel tombol seperti yang seharusnya ada untuk menentukan tempat yang dituju.


“Kita akan pergi ke Pusat Layanan Kesehatan ‘kan?” tanyaku.


“Benar, Yang Mulia,” jawab Ladra.


“Bukankah ini lift yang semalam kita gunakan menuju ruang inti energi? Di sini tidak ada tombol-tombol untuk menentukan tempat tujuan. Kupikir lift ini hanya akan mengantar ke satu tempat yang sama,” ujarku.


“Lift? Oh, mungkin itu sebutannya di Nigra ya? Tapi kami menyebut ruangan sempit ini gerbong portal instan,” kata Ladra.


“Mode transportasi berbahan bakar minyak atau listrik telah lama ditinggalkan karena sumber daya kami tidak cukup untuk menyuplai kebutuhan transportasi yang seperti itu. Maka, diciptakanlah gerbong portal instan yang menghubungkan kita dengan banyak tempat-tempat penting di Alba dengan lebih cepat dan efisien. Konsumsi energi transportasi ini dari kristal bulan sangat sedikit, juga tidak menimbulkan polusi,” jelas Luska.


Asem, deh! Ketika mereka kekurangan suplai sumber daya, mereka justru berhasil menciptakan mode transportasi yang lebih keren. Apa kristal bulan memang demikian sakti hingga bisa menyokong kehidupan Negeri Putih yang hampir bubar?! Kalau iya, aku ingin minta secuil saja sumber energi itu untuk kubawa pulang ke rumah biar jatah untuk tagihan listrik bisa pindah ke tambahan jajan kuotaku, ehe.


“Jadi ... sudah tidak ada mobil atau kereta lagi ya?” tanyaku.


“Tidak ada, beban daratan awan ini akan semakin besar dengan adanya benda-benda itu!”


“Di dalam kastel ada tujuh titik gerbong portal yang bisa diakses. Semuanya terhubung ke Pusat Layanan Kesehatan, Pendidikan, dan departemen-departemen penting yang tidak berada satu kawasan dengan Kastel Alba.”


Terserah! Aku masih tidak bisa menahan kekesalan terhadap teknologi mengagumkan di sini yang tidak ada di dunia asalku. Lift ... eh, bukan, gerbong portal belum berhenti bergerak, entah untuk berapa lama lagi.


“Bagaimana caranya gerbong ini menuju tempat yang kita inginkan?” tanyaku untuk mengisi waktu, “aku tidak lihat ada tombol-tombol atau mikrofon untuk memasukkan perintah di sini.”


“Oh, jaringan komunikasi dan transportasi beserta keamanannya sudah terintegrasi, Yang Mulia. Melalui perangkat komunikasi tertanam di lengan kita yang selalu online, tempat yang ingin kita tuju dalam pikiran terbaca oleh sensor perintah sistem transportasi ini,” jawab Luska.


“Seotomatis itu?!”


“Benar!”


“Tidak pernah salah?”


“Bisa jadi kalau Yang Mulia melamun dan memikirkan macam-macam hal ketika masuk ke sini.”


“Heeeh?!”


“Jangan membuat Yang Mulia takut, bodoh!” kata Ladra memelototi kesatria muda dengan cengiran menyebalkannya ini.


“Maaf, Kepala Dewan!” jawab Luska. Aku hanya mendengus sebal. Harusnya dia meminta maaf padaku!


“Kita sampai, Yang Mulia!” kata Ladra seiring dengan gerak lift yang melambat –bodo amat, lebih mudah menyebutnya lift. Lorong panjang dengan lantai batu bercahaya terlihat dari pintu kaca yang perlahan menggeser membuka. Aku mengikuti keduanya yang melangkah keluar lebih dulu.


“Kita sudah di Pusat Layanan Kesehatan?” tanyaku.


“Benar, Yang Mulia. Cepat ‘kan?” jawab Luska.


“Iya, sih, tapi jujur perjalanan yang seperti itu kurang seru. Padahal aku ingin berkuda di atas daratan berkabut sambil melihat-lihat kota,” jawabku.


“Oh, terakhir kali kita mencobanya, Yang Mulia pusing dan muntah-muntah, ingat? Saya pikir Yang Mulia tidak cocok dengan perjalanan seperti itu, “ jawab Luska.


“Itu karena kau bodoh!” timpal Ladra, “siapa pun pasti muntah-muntah bila menunggang paxii bersamamu!”


Oh, jadi binatang campuran kuda dan garuda itu disebut paxii. Baik, akan kuingat!


“Sebelah sini, Yang Mulia!” kata Ladra memimpin perjalanan paling depan. Ruangan di belokan lorong dengan pintu sederhana yang biasa kulihat membuka dengan sendirinya. Namun, siapa sangka isi ruangan itu sama sekali tidak biasa. Aku pernah membayangkan ruangan serba putih ini ada dalam pusat kendali misi luar angkasa, tapi hei, ini Pusat Layanan Kesehatan! Seseorang yang tadinya sibuk di depan monitor layar hologram buru-buru berdiri menyambut kami.


“Wah, tiga tamu agung!” seru perempuan muda bersetelan putih-putih itu setengah gugup, buru-buru membungkuk rendah. Bandana merah muda di kepala yang mencegah jatuhnya anak rambut tampak cocok dengan senyum manisnya.


“Kami datang cepat karena tidak akan sempat berbasa-basi. Segera lakukan pemindaian yang katanya memakan waktu lama itu!” kata Ladra.


“Dimengerti, Kepala Dewan!”


“Yang Mulia, ini Dokter Kara, terapis sekaligus spesialis syaraf terbaik di departemen kesehatan,” kata Luska, “mulai dari sini, prosedur pemindaian pita memori Yang Mulia akan ditangani Dokter Kara.”


“Kami undur diri, Yang Mulia!” kata Ladra segera berbalik keluar bersama Luska.


“Heh?! Lalu siapa yang akan menemaniku di sini?!” tanyaku yang hanya terabaikan.


“Salam, Yang Mulia!” kata Dokter Kara tiba-tiba sudah bersujud di kakiku, “sebuah kehormatan bagi saya untuk berkesempatan berinteraksi langsung dengan Yang Mulia!”


“Eh? Heh? Ti ... tidak perlu begini! Do ... dokter Kara ... harusnya saya yang merasa senang karena ... Dokter, tolong jangan memperlakukan saya dengan berlebihan ....” jawabku selalu tidak enak hati tiap kali seseorang harus bersikap seperti ini padaku.


“Eh? Tapi Yang Mulia memang seseorang dengan kelebihan luar biasa yang telah dan akan menyelamatkan Negeri Putih ....”


“Tapi ... tapi tolong, aku tidak terbiasa dengan perlakuan ini dan sama sekali tidak nyaman karenanya! Do ... dokter Kara juga orang yang sama-sama hebat, jadi jangan merendahkan diri seperti ini,” jawabku. Kadang aku tak habis pikir. Di tengah kehebatan perkembangan teknologi yang dekat dengan aroma modernisasi, budaya lampau yang demikian mengagungkan seorang raja atau ratu juga tetap ada di tengah masyarakat ini.


“Yang Mulia benar-benar baik seperti yang saya lihat di berita tadi malam,” kata Dokter Kara, “saya sempat dengar bahwa Yang Mulia dibesarkan sebagai gadis biasa di Nigra, apa itu benar?”


“Benar, benar-benar biasa! Bayangkan betapa gilanya aku tiba-tiba harus menghadapi semua ini!” jawabku.


“Saya seorang terapis kejiwaan, jadi saya mengerti perasaan Yang Mulia,” kata Dokter Kara.


“Bagus, bagus! Aku sedang membutuhkan seseorang yang bisa mengerti keadaanku!”

__ADS_1


“Karena semuanya terlalu melelahkan bagi Yang Mulia, bolehkah saya bersikap biasa seperti sesama teman kepada Anda? Yang Mulia bisa memanggil saya Kara saja.”


“Teman? Boleh! Dokter Kara juga boleh berhenti memanggilku Yang Mulia-Yang Mulia. Aku tak mendengar seseorang memanggil dengan namaku sejak tiga hari terakhir!”


“Wah, sungguh?! Kara akan menjadi dokter paling beruntung dengan diperkenankan memanggil nama Yang Mulia, tapi ssttt ... jangan bilang-bilang kepala dewan! Pak tua yang kaku itu agak galak!”


Aku terkekeh pelan, “Baiklah, baik! Namaku Shira. Jadi, kapan kita memulai sesi pemindaian itu?”


“Sebentar lagi, mari masuk ke dalam sini!” ajaknya dengan senyum riang.


Aku mengekori Kara menuju dinding yang ternyata bisa bergeser ke atas, menunjukkan ruangan lain di dalam.


“Nah, silakan duduk, Yang Mulia ... eh, maksudku, Shira ....”


“Terima kasih,” jawabku menjatuhkan pantat di sofa tunggal warna putih, terpisah oleh meja kaca dengan satu sofa serupa di hadapanku.


“Oh ya, Kara tahu permintaan Kara berlebihan. Dasar tak tahu diri padahal bisa sok akrab dengan Shira, tapi ... bolehkah Kara berfoto dengan Shira untuk diunggah di media sosial?”


“Eeh?!”


“Hehe, tidak boleh ya?”


“BOLEH! BOLEH! Kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau ada media sosial di dunia ini?!”


“Apa? Shira baru tahu?! Kesatria Muda Luska belum menceritakan hal itu pada Shira?”


“Belum!”


“Yah, berarti Shira belum punya akun dan Kara jadi tidak bisa menandai Shira nanti!” kata Dokter Kara yang entah kenapa mengingatkanku pada Yasinta. Ya ampun, aku tidak percaya harus mengakui ini, tapi aku benar-benar merindukan makhluk ceriwis itu!


Sebelum berfoto, Kara memintaku mengenakan bandana merah muda serupa dengan yang ia pakai. Aksesoris favoritnya, kata Kara. Kami pun berswafoto, menghadap satu titik letak kamera mikro yang terbang sejajar dengan posisi kami. Hanya dengan perintah deteksi suara, kamera itu otomatis menjepret gambar kami. Sungguh, aku ingin pelayan di kastel ada yang bisa diajak seru-seruan seperti Kara.


“Sip! Aku akan membuat iri seisi Alba!” katanya tampak puas melihat jepretan foto-foto kami. Aku hanya tertawa geli, membayangkan betapa fotoku akan laris manis bila dijual di sini.


Kami lanjut mengobrolkan hal-hal seru lainnya. Aku bahkan tak ingat dengan sesi pemindaian yang merupakan tujuan utamaku datang ke sini. Kara memintaku bercerita tentang kehidupan di Nigra, tentang sekolahku, keluarga, dan teman-teman. Aku yang pada dasarnya sedang merindukan mereka menceritakan tiap detail dengan antusias. Ia menyimak dengan sama antusiasnya, sesekali membandingkan dengan keluarganya sendiri.


Ternyata Kara telah lama menjadi yatim piatu sejak serangan makhluk buas dari Dunia Kelabu ketika ekspansi yang merenggut desanya. Ia menceritakan hal itu dengan senyum yang jelas menahan rasa sakit akan tragedi buruk yang melintas di kepalanya. Aku jadi merasa bersalah karena menceritakan hanya hal-hal menyenangkan dari keluargaku.


“Yah, sekarang aku adalah seorang Kara yang sebatang kara, hehe!” ujarnya.


“Asal kau tahu, orang tuaku sebenarnya tidak serta merta rukun seperti sekarang ini. Dulu pernah ada prahara yang memecah keluarga kami. Aku bahkan hingga jatuh depresi dua kali demi memikirkannya,” ujarku setidaknya membiarkan ia tahu bahwa aku juga pernah mengalami fase tidak menyenangkan.


“Tapi syukurlah semuanya kembali membaik! Shira terhitung beruntung ya!”


“Iya! Meski tidak tahu penyebab membaiknya hubungan mereka, aku lebih memilih banyak bersyukur.”


“Eh, um, entahlah! Sepertinya ... tidak ingat karena semuanya membaik setelah aku depresi hingga koma selama satu minggu. Aku yakin itulah yang membuat hilangnya sebagian ingatanku,” ujarku.


Setelah itu barulah Kara bertanya-tanya perihal kejadian sebelum aku koma dan ingatan terakhir yang masih tertinggal di kepalaku. Hei, itu sudah satu setengah tahun lalu dan sedikit sekali detail yang kuingat.


“Jadi ... Shira hanya mengingat sebatas itu?” tanya Kara.


“Ya ....”


“Apa Shira pernah mengalami mimpi atau dejavu yang dirasa kuat berkaitan dengan ingatan Shira?”


Aku terdiam beberapa saat. Sejak semuanya kembali baik-baik saja, aku bahkan tak ingat mimpi-mimpiku karena yang terjadi di dunia nyata sudah cukup manis untuk dijalani. Mimpi yang masih kuingat adalah penjemputan oleh Luska –aku ingat karena mimpi itu mengantarku menuju kondisi menyebalkan saat ini– dan sesosok anak kecil yang datang memelukku sebelum mimpi berakhir. Yah, hanya itu.


“Bagaimana?” tanya Kara.


“Ah, aku tidak merasa mimpi atau lamunanku berkaitan dengan kejadian pada masa lalu,” jawabku.


“Oh, begitu ....”


“Kenapa tidak segera kita mulai saja prosedur pemindaian pita memori. Aku yakin Luska dan Kepala Dewan telah lama menunggu.”


“Hm, benar,” jawab Kara mengangguk, mengambil sesuatu seperti jam tangan lalu mengenakannya di pergelangan tangan kananku. Sesaat setelah diaktifkan, alat itu menampilkan informasi tekanan darah, pindaian detak jantung, dan pernapasanku. Kara memintaku menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskannya kuat-kuat. Ia menganalisis sebentar sebelum akhirnya menon-aktifkan kembali alat tadi.


“Baiklah, sudah!” jawab Kara memyimpan kembali jam tangan tadi lalu kembali menghadapku dengan kesan yang ... berbeda.


“Secara fisik dan psikis, kondisi Yang Mulia baik secara keseluruhan,” katanya.


“Heh, kamu sepakat memanggilku dengan nama, ingat?”


“Kita tinggal menunggu preview jejak rekam pita memori Yang Mulia sebentar lagi beserta analisis kerusakannya,” jawab Kara tiba-tiba menjadi orang lain. Senyum dan wajah riang yang ia tampakkan sepanjang obrolan tadi berganti menjadi raut datar yang serius.


“Sesi pemindaian berakhir, Yang Mulia. Silakan lepas bandana di kepala Anda,” katanya lagi.


“Serius, sudah selesai? Tapi jam tangan pintar tadi hanya memindai kinerja paru-paru dan kardiovaskuler, bukannya jalur syaraf memoriku!”


“Memang benar, pemindaian pita memori Yang Mulia telah dimulai sejak Yang Mulia mengenakan bandana ini sambil bercerita dari tadi. Setiap detail cerita yang Anda sampaikan membentuk pola yang bisa dipetakan secara teratur,” kata Kara sambil melepas bandana yang ia maksud dari kepalaku. Aku masih mengerjap tidak mengerti.


“Yang Mulia tidak menyadarinya ‘kan? Memang begitu prosedur paling aman dan akurat untuk pemindaian pita memori. Saya sudah terlatih untuk mendekati pasien tanpa membuatnya tegang atau stres yang akan banyak berpengaruh terhadap hasil pemeriksaan.”


“Jadi ... jadi yang tadi itu hanya akting?”

__ADS_1


“Akting? Hm, entahlah. Itu yang saya pelajari sebelum mendapat lisensi terapis.”


Sial, aku merasa dikerjai. Jadi sebenarnya Kara tidak benar-benar ingin menjadi temanku? Aku baru mengenalnya dan entah kenapa agak kesal hanya karena hal itu. Apa demikian menyedihkannya aku yang sekarang hingga harus merengek ketika bayangan mendapat teman baru tersuguh dan luntur dalam waktu bersamaan? Bagaimanapun memang tidak ada yang bisa menggantikan posisi Yasinta.


“Mari kita kembali ke ruang depan, Yang Mulia. Bandana pemindai ini terhubung dengan monitor di sana. Rekam jejak pita memori Yang Mulia bisa kita teliti bersama,” kata Kara. Aku hanya mengangguk lemah, menurutinya. Ladra dan Luska sudah kembali ke ruang depan, menatap langkah kami keluar.


“Wah, ternyata lebih cepat dari yang kukira,” komentar Luska.


“Itu karena saya mengerti keterburu-buruan Tuan sekalian,” jawab Kara.


“Hm, semoga itu tidak mengurangi keakuratan diagnosamu,” timpal Ladra.


“Yah, mari kita lihat hasilnya!”


Kara menyalakan monitor, mengoperasikannya sebentar hingga garis-garis yang terlihat seperti jalur-jalur jalan dalam peta satelit memenuhi layar.


“Ini hasil pindaian pita memori Yang Mulia,” kata Kara. Oh, ternyata itu bukan peta satelit, tapi peta ingatanku.


“Jelaskan!” perintah Ladra.


“Inti masalahnya di sini,” tunjuk Kara memperbesar satu titik berwarna merah, “kerusakan di bagian ini akibat adanya gelombang destruktif dan konstruktif yang bersisian. Ini fenomena paling aneh yang pernah saya temui.”


“Seberapa anehnya hal itu untuk bisa dipulihkan?” tanya Ladra.


“Dipulihkan? Apa Kepala Dewan bercanda? Judul kegiatan hari ini adalah Pemindaian Pita Memori. Saya baru menyelesaikan pemindaian untuk mencari sumber kerusakan ....”


“Aku memasukkan nominal sepuluh kali lebih banyak ke rekeningmu dan meyakini kau tidak akan keberatan langsung menangani sesi pemulihan hari ini juga,” potong Ladra.


“Maaf, Kepala Dewan, ini bukan semata-mata soal nominal biaya. Mohon perhatikan dulu,” jawab Kara, “jejak gelombang destruktif yang terpindai sama sekali tidak normal dibandingkan penyebab kerusakan yang terjadi secara alami. Terlebih adanya gelombang konstruktif juga.”


“Kesimpulannya, Dokter ingin mengatakan kalau hilangnya ingatan Yang Mulia ini disengaja?” tebak Luska.


“Tepat sekali!”


“Kita tidak mempermasalahkan apakah kerusakan itu disengaja atau tidak. Yang terpenting pemulihannya!” tegas Ladra.


“Benar, Kepala Dewan, pemulihannya! Dengan kerusakan yang disengaja seperti ini, prosedur pemulihan yang ada saat ini terlalu berisiko untuk dijalankan. Sejujurnya, manusia mana pun akan mati diserang gelombang destruktif mengerikan yang mengacau syaraf, tapi Yang Mulia selamat dengan adanya gelombang konstruktif yang mengimbangi kerusakan parah itu. Sekarang, kita semua menginginkan pemulihan Yang Mulia secara instan, dengan mengutak-atik serabut syaraf rapuh yang terlanjur berantakan itu? Kita hanya akan membunuh Yang Mulia ....”


“Kita tidak sedang merencanakan hal itu!”


“Tentu! Itu sebabnya, saya dengan berat hati menyatakan bahwa untuk sementara ini, ingatan Yang Mulia belum bisa dipulihkan,” kata Kara segera mengisi hening di ruangan ini. Apa katanya?


“Lima belas kali lipat dari biaya normal. Apa tetap tidak bisa?” tanya Ladra.


“Kepala Dewan, saya tidak sedang bercanda! Sekali lagi ini bukan soal biaya! Perkembangan pemulihan ingatan belum sampai pada kasus yang disengaja. Dalam kasus secara alami, waktu pemulihannya butuh sekitar satu sampai lima tahun.”


“Negeri Putih keburu kiamat!”


“Benar, Kesatria Muda Luska. Itu bila kasus kerusakan ingatan secara alami. Untuk kasus yang disengaja, bisa lebih lama.”


Aku belum banyak berkomentar, agak sedih juga harapan kembalinya ingatanku pupus secepat pupusnya harapanku berteman dengan Kara.


“Pasti ada jalan lain!” kata Ladra mengusap wajahnya lelah.


“Memang ada,” jawab Kara sedikit melegakan.


“Apa itu?” tanyaku kali ini bersuara.


“Satu-satunya yang bisa melakukan pemulihan dengan instan dan aman adalah orang yang menciptakan gelombang destruktif di pita memori Yang Mulia,” jawab Kara.


“Maksudmu pelaku perusakan ingatan Yang Mulia?” tanya Luska.


“Ya!”


“Mana mungkin kita mengetahuinya!” jawab Luska kesal.


“Aku tahu,” jawab Ladra, “aku tahu pelakunya.”


“Siapa?” tanyaku tidak sabar.


“Griseo!”


.Bersambung.


Author : Lang!


Elang : Ha?


Author : Kamu masuk adegan sekitar dua sampai tiga episode lagi ya? Siapin jadwal!


Elang : He'em!


Garuda : Mantap!


Author : Udah jangan ribut! Kita gak boleh bikin author note panjang-panjang!

__ADS_1


Garuda : Ish ish issshh!


__ADS_2