
“Kami para anggota dewan sedang tidak punya waktu meladeni gejolak politik tidak penting itu,” kata Luska sebelum pergi bersama langkah tenangnya meninggalkan ruangan.
Tatapanku jatuh ke lantai demi memikirkan lilitan masalah lain. Tak peduli betapa pun aku mengetahui ceritanya dari awal, pada dasarnya aku tetap tidak berpengalaman soal politik. Dua kubu yang berseturu harusnya berhenti mengungkit-ungkit dan mempermasalahkan kesalahan lampau masing-masing. Tidak ada yang bisa kusalahkan karena keduanya dulu sama-sama sedang mencoba dengan jalan yang diyakini masing-masing.
Jalan yang diyakini, hm? Sepertinya pernah tercatat di kepalaku. Ah, jika memang situasinya sedemikian buruk, aku ingin dua pimpinan fraksi itu bertemu dan menenangkan pendukungnya. Bisakah masalah selesai semudah itu? Tapi aku yakin baik Ladra maupun Aquila tidak menyukai huru-hara yang pecah di tengah masyarakat karena perseteruan lama mereka. Apalagi di situasi genting jelang hitung mundur runtuhnya daratan awan dalam hitungan bulan ini.
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan,” kata Kak Garuda membuyarkan lamunanku.
“Bagaimana tidak terpikirkan bila situasi merepotkan seperti itu masih saja harus terjadi ketika dunia ini nyaris kiamat?” timpal Elang, memahami betul kekhawatiranku meski baru sebagian informasi yang telah ia dengar.
“Ngomong-ngomong, seberapa sulitnya mempertemukan dua pimpinan fraksi itu dan mendamaikan mereka, Kak?” tanyaku kepada yang lebih mengerti.
“Mendamaikan ya?”
“Ya, sebab kurasa Aquila juga akan sulit diajak berunding mengingat sikapnya yang benar-benar menjaga jarak dengan dewan internal kastel, juga Kepala Dewan sendiri yang terlanjur tidak memyukai Aquila,” jawabku.
“Seharusnya ini tidak serumit yang kita bayangkan. Baik Ladra maupun Aquila sama-sama pernah salah perhitungan dan para pendukung mereka sedang mencoba mencari pembenaran ....”
“Dengan menuding pihak lain yang paling salah? Ah, menjengkelkan! Lebih baik aku tidur saja!” kata Elang kembali merebah.
“Eh, i ... iya, sebaiknya kamu istirahat dulu,” jawabku.
“Tapi sejauh ini kau paham posisimu ‘kan, Ang?” tanya Kak Garuda.
“Sangat paham! Intinya aku sedang diharapkan bersama Shira untuk melawan Dunia Kelabu yang menjadi sumber masalah negeri ini, tapi aku sama sekali tidak punya wewenang soal persetanan politik itu!” kata Elang setengah sebal, “kalau kamu sudah mulai tidak tahan, bilang saja, Shir. Setidaknya aku punya wewenang membawamu kabur dari sini.”
Setelah itu aku undur diri dari ruangan, menindaklanjuti apa pun yang terlanjur mengusik. Kata-kata Elang sebebarnya telah menjadi rencanaku sejak awal. Sayangnya untuk sekarang, aku sudah tidak bisa kabur, dan tidak lagi merencanakan hal itu.
***
Oke, kali ini aku sedang mencoba sesuatu yang sulit itu, mempertemukan dua pimpinan fraksi demi mempersatukan kembali segalanya yang telah terpecah. Sudah kutanyakan pada Luska apakah konferensi semacam itu pernah digelar sebelumnya? Ternyata pernah, tapi hanya semakin kacau karena tidak ada penengah di antara dua kubu. Itu sebabnya Luska menyetujui diadakannya konferensi sore ini, memercayaiku bisa menjadi perantara antara komunikasi dua petinggi itu menyampaikan unek-unek mereka.
Aku baru saja ingin membuat surat undangan kepada Aquila, tapi ternyata ... aku sungguh ratu yang gaptek. Di Alba hal-hal semacam itu sudah tidak lagi menggunakan tinta di atas kertas. Undangan elektronik padahal sudah umum dipakai di duniaku, tapi aku tetap tidak sempat berpikir ke sana karena aku sama sekali belum melihat perangkat komunikasi elektronik di sini. Belum melihatnya karena perangkat itu tertanam di lengan kiri tiap orang dan selalu tertutup pakaian lengan panjang mereka.
Luska sepertinya pernah menjelaskan tentang perangkat itu. Sistem komunikasi yang terintegrasi dengan sistem transportasi, selalu online selama penggunanya masih hidup. Kepala Dewan akan segera memasangnya untukku, katanya. Itu akan menjadi oleh-oleh paling keren sepulangnya dari Alba nanti –aku akan tetap pulang, ingat!– dan membuat Yasinta iri.
“Aquila pasti akan mengabaikan pesan teks. Dia baru percaya bila yang bicara benar-benar suara Yang Mulia,” kata Luska bersiap merekam.
“Oh, semacam voice note ya?” tanyaku. Luska mengangguk kemudian aku pun menurut, mengucapkan beberapa baris kalimat tanpa basa-basi –aku yakin Aquila lebih suka begitu– memintanya datang ke konferensi sore ini. Sebelum pesan dilepas, sempat kutambah penekanan bahwa aku benar-benar membutuhkan kehadirannya. Kuharap ia benar-benar mengerti.
“Sudah terkirim, Yang Mulia. Aquila telah mendengar rekaman Anda dan sedang merespons,” kata Luska kurang dari semenit kemudian.
“Wah? Benarkah? Bagaimana katanya?”
“Dia sendiri akan memenuhi undangan Yang Mulia, tanpa diwakilkan.”
“Bagus!” jawabku senang. Selanjutnya aku baru ingin bertanya-tanya soal cara kerja sistem komunikasi yang keren itu –maksudku, bagaimana bisa ada perangkat elektronik beroperasi di bawah lapisan kulit dan otot?– sebelum akhirnya suara lain terdengar.
“Jadi ... Agenda konferensi hari ini hanya temu kangen dua pimpinan fraksi?” tanya sebuah suara berasal dari koridor di belakang kami. Aku dan Luska menoleh bersamaan.
“Elang? Oh, kamu meninggalkan tempat tidur? Ah, pasti bosan ya?” tanyaku. Lengan kirinya sudah tidak diperban, tapi jalannya masih tampak sedikit pincang. Ia tampak cocok dengan pakaian yang serupa dengan milik Luska, pakaian bergaya semi-armor yang sepertinya dirancang menonjolkan kesan gagah bagi pemakainya.
“Aku sudah jauh membaik, Shir,” jawab Elang.
__ADS_1
“Kemungkinan besar pertemuan ini tidak seperti bincang-bincang basa-basi seperti yang kau pikirkan,” jawab Luska.
“Tolong berbahasalah yang baik, Luska,” tegur satu orang lain lagi, “bagaimanapun dia tamu agung kita, keturunan Kesatria Perak yang telah bersama Yang Mulia mengalahkan Dunia Kelabu.”
“Saya sudah tahu, Kepala Dewan, “ jawab Luska, “itu sebabnya saya harus menahan malu dalam pertemuan nanti. Oh, bukan, kita semua yang akan malu karena seseorang yang kita anggap hanya tokoh dongeng ternyata berdiri di depan mataku sendiri.”
“Ternyata kau tetap tidak paham tujuan Yang Mulia menggelar konferensi ini, Luska,” jawab Ladra, “ah, yah, sebenarnya ini masalah antarpendukung, ya ‘kan? Mereka yang di bawah masih saja tidak bisa diam soal perseteruan lama ketika aku dan Aquila sudah menerima takdir masing-masing, terus saja mempermasalahkan ini itu, tapi tidak apa-apa, semuanya akan jelas saat di meja diskusi nanti.”
Luska memghindari tatapan Kepala Dewan lalu melangkah pergi, meninggalkan kami bertiga.
“Senang melihat Anda telah jauh membaik, Kesatria ....”
“Panggil Elang saja, aku tidak sedemikian gila hormat,” jawab Elang yang entah kenapa terdengar agak menohok buatku.
“Tapi kenyataannya kehormatan Anda memang layak membuat Anda dipanggil demikian, Kesatria ....”
“Sudah kubilang, Elang saja! Pemaksa sekali, sih!” kata Elang tak mau dibantah. Dia tidak mengerti orang-orang di Alba amat terobsesi dengan siapa pun yang dipercaya menyelamatkan masa depan mereka.
“Baiklah, tanpa mengurangi rasa hormat saya, Elang ... Aduh, rasanya aneh tidak memanggil seseorang dengan gelar yang sepantasnya,” kata Ladra terkekeh pelan.
“Saya sering mendengar Kepala Dewan tidak memanggil Luska dengan gelar lengkapnya, tapi kelihatannya itu tidak masalah?” bantahku. Ladra hanya berdeham pelan, tidak menyangkal atau memberi penjelasan.
“Um, jika tidak keberatan, Anda boleh hadir di konferensi itu juga,” kata Ladra kepada Elang, “Anda pasti perlu tahu perkembangan masalah. Selain itu, dengan hadirnya Anda di tengah-tengah kami, akan menunjukkan keterbukaan pihak kastel mengenai keturunan Kesatria Perak.”
“Tapi jika kamu masih ingin beristirahat, tidak apa-apa, kok!” tambahku.
“Aku sudah cukup beristirahat, Shir. Terima kasih, aku akan hadir,” jawab Elang.
“Suatu kehormatan bagi kami! Dua pahlawan Alba akan muncul di konferensi nanti. Publik pasti menyukai hal itu,” jawab Ladra. Karena ternyata konferensi akan dimulai setengah jam lagi, kami pun segera besiap. Namun, hingga lima menit sebelum dimulai, Aquila belum juga datang.
***
Posisiku berada di paling ujung meja panjang ini, tidak di sisi kanan atau kiri. Elang juga turut hadir seperti yang sudah ia sepakati, diposisikan di sisi kiri meja yang berhadapan dengan Luska. Ruangan ini memang hanya berisi anggota dewan dan tamu undangan dari pihak oposisi, tidak lebih dari dua puluh orang, tapi aku yakin seisi Alba sedang turut menyaksikan. Di tiap sudut atas ruangan, kamera mikro dari Balai Warta secara legal meliput acara ini ... dan itu membangkitkan kesadaranku agar sama sekali tidak salah bicara.
Yah, sebenarnya aku memang tidak berniat banyak bicara. Biar dua orang itu yang lebih banyak menyampaikan sesuatu.
“Jadi, sebenarnya apa yang masih menjadi masalah di tengah masyarakat kita? Perbedaan kebijakan masing-masing fraksi? Mari kita diskusikan di sini,” ujarku.
“Harusnya itu bukan jadi masalah lagi, Yang Mulia. Karena fraksi saya yang memenangkan hati rakyat dan membuat saya diangkat menjadi Kepala Dewan, tak peduli sebeda apa pun, kebijakan fraksi sayalah yang tetap harus dilaksanakan,” kata Ladra.
“Sayangnya, caramu memenangkan hati rakyat beberapa tahun lalu adalah dengan menyudutkanku atas kegagalan Garuda. Kau menertawakan sesuatu yang kami percaya, keturunan Kesatria Perak itu, yang sekarang kita semua bisa melihatnya berada di ruangan ini,” jawab Aquila.
“Tapi kenyataannya itu memang kesalahan yang sangat kaprah, Nona Aquila. Ngomong-ngomong soal menyudutkan, kau juga melakukan hal yang sama ketika banyak dari pasukan yang tidak kembali dari medan perang. Kau pikir itu juga salahku? Mereka sudah bertekad mengusir penjajah mengerikan kita, Dunia Kelabu, tapi kau merebut simpati rakyat dengan menjanjikan kehidupan yang lebih baik, menyingkir dari permukaan,” kata Ladra.
“Kenyataannya kita sekarang memang telah menyingkir dari permukaan, barangkali kau lupa,” jawab Aquila, “berterima kasihlah karena itu ideku.”
“Terima kasih, Nona Aquila, atau, hei ... ada yang lebih berhak untuk ucapan terima kasih itu! Terima kasih, Yang Mulia, karena kehidupan di atas sini berlangsung berkat kristal bulan yang tertinggal setelah Yang Mulia mengalahkan Dunia Kelabu,” kata Ladra. Ah, sudah kuduga memang akan sesengit ini. Aku tidak bisa terus membiarkan atmosfer terasa seperti ini.
“Nah, hanya itu yang menjadi masalah? Karena ini ideku, idemu, atau sesiapa yang paling menyudutkan? Lalu jalan apa yang kalian inginkan agar keributan ini mereda?” tanyaku, “aku yakin kalian tidak suka melihat masyarakat kita terpecah di luar sana.”
“Jujur, saya sendiri sudah tidak menginginkan apa-apa sejak kehadiran Yang Mulia. Perseteruan itu sudah basi karena tujuan kami menemukan pewaris sah telah tercapai. Kami akan mengembalikan setir pemerintahan kepada Yang Mulia sepenuhnya,” jawab Ladra.
“Begitu? Lalu ... Aquila?”
__ADS_1
“Aku bukannya ikut-ikutan sok keren seperti Kepala Dewan, tapi sesuatu yang dipercaya fraksi oposisi juga telah datang sendiri tanpa perlu bagi kami untuk memenangkan persaingan. Kehadiran keturunan Kesatria Perak termasuk kemenangan kami yang sesungguhnya,” jawab Aquila.
“Oke, kedengarannya kalian tidak lagi peduli soal persaingan itu. Baguslah, ada lagi yang perlu disampaikan?” tanyaku sedikit lega. Luska unjuk tangan, izin menyampaikan sesuatu.
“Ini bukan hanya permasalahan antarpemimpin. Kami para pendukunglah yang selalu menjadi korban atas berbagai kebijakan, dari fraksi mana pun. Belum lagi harga diri kami yang telah mendukung masing-masing panutan setengah mati, lalu sekarang keduanya begitu manis di hadapan Yang Mulia mengatakan tidak peduli soal perseteruan itu. Apa maksudnya? Mereka ingin bilang semua kekacauan ini karena kami, para pendukung yang sering membuat keributan? Memangnya demi siapa?” kata Luska.
“Ya ampun ...!” respons Elang setengah mengejek.
“Itu pesan dari Tanpa Nama yang masuk lewat perangkat komunikasiku,” jawab Luska membalas tatapan Elang.
“Memangnya seberapa mahal harga diri orang-orang itu?!”
“Lang, maaf ....”
“Maaf, Shir, ini memang harus disampaikan dengan sekasar mungkin karena orang-orang di luar sana tidak suka kelembutan,” jawab Elang, “harga diri mereka jelas tidak semahal peradaban negeri ini, tidak terlalu berharga bila harus diprioritaskan di atas kelanjutan riwayat Alba.”
Aku tahu Elang memilik bakat mendebat yang juga pernah kulihat saat presentasi di depan kelas, tapi aku tidak tahu dari mana ia belajar hal itu dengan demikian bagusnya.
“Jika kalian pikir kalian yang menjadi korban, coba pikirkan sekali lagi! Kamilah korban yang sebenar-benarnya dirugikan, aku dan Shira ... oh, maksudku ... aku dan Yang Mulia,” kata Elang terus saja berbicara, “sangat-sangat rugi karena kami harus dijemput jauh-jauh, meninggalkan dunia asal kami dan segala urusan di sana. Demi apa? Demi menyelamatkan Alba dan rakyatnya yang mementingkan egonya masing-masing? Bodo amat, Shir! Kita juga boleh mementingkan kehidupan kita. Kita boleh kabur dari sini kapan saja!”
Seisi ruangan dibuat terkejut dengan kata-kata Elang. Kepala Dewan, Luska, bahkan Aquila yang jarang menunjukkan ekspresi, semua orang. Semuanya seolah tertampar akan kemungkinan itu ... dan kuharap orang-orang di luar sana yang masih menyekat-nyekat diri mereka sebagai pendukung fraksi ini dan fraksi itu juga tertampar oleh kesadaran untuk bersatu di tengah bencana, bukannya membuat bencana baru.
***
Kata-kata Elang di konferensi tadi terdengar seperti ultimatum, tapi efeknya sungguh luar biasa. Satu jam setelah konferensi berakhir, lampion atau entah apa yang tampak seperti ribuan kunang-kunang terlepas dari daratan Alba, terbang perlahan di gelapnya langit malam, berlatar belakang cahaya rembulan yang lembut dipandang. Hei, ada apa ini?
“Lentera perdamaian, Yang Mulia,” jawab sebuah suara dari belakang seolah mengerti pertanyaan di kepalaku. Surai lurus orang itu sama-sama berkibar seperti milikku ketika angin di atap lapang kastel bersesir-desir menerpa kami.
“Kata para penduduk, itu lentera perdamaian,” jelas Luska sekali lagi, “mereka akhirnya sadar bahwa terkait yang disampaikan Kesatria Agung Elang tadi benar adanya ... dan harapan Yang Mulia agar tidak ada lagi jurang-jurang egoisme di antara mereka sepertinya mulai terwujud. Masyarakat kita telah menyatakan tekad untuk benar-benar bersatu setelah dua pimpinan fraksi juga berdamai.”
“Itu terdengar menyenangkan!” jawabku.
“Ya ... entah apa hubungannya, penduduk melepas ribuan lentera ini untuk menandakan kesungguhan mereka mendukung Yang Mulia bersama Kesatria Agung, agar kalian tidak perlu berpikir untuk kabur dari sini ....”
Aku terkekeh pelan demi mendengar penjelasan Luska, “Jadi, pertunjukan ini hanya bujukan agar aku dan Elang tidak kabur ya? Tapi jika akhirnya mereka benar-benar berdamai, tidak apa-apa, sih!”
“Yang Mulia ... jika ada hal lain yang bisa kami perbuat agar Yang Mulia dan Kesatria Agung sama sekali tidak memikirkan untuk kabur dari sini, maka akan kami lakukan,” kata Luska menatapku sungguh-sungguh, “kami tidak sedang membujuk Yang Mulia seperti membujuk bayi dengan permen, masalahnya kami benar-benar bergantung pada Yang Mulia!”
“Wah? Kebiasaan kalian adalah terlalu berharap, lalu kecewa dan saling menyalahkan ketik harapan kalian kandas,” jawabku.
“Saya serius, Yang Mulia! Tolong, jangan tinggalkan Alba! Saya pribadi sangat menekankan agar Yang Mulia tidak lari dari tanggung jawab!”
“Aku pernah bilang bahwa aku tidak merencanakan hal itu lagi ‘kan?”
“Saya sungguh tidak ingin Yang Mulia seperti pewaris sah sebelumnya yang lari dari tanggung jawab. Saya tidak ingin Yang Mulia berakhir seperti saya ....”
Kata-kata Luska mendadak terdengar seperti paradoks membingungkan. Butuh beberapa detik bagiku untuk memahaminya. Jantungku semakin berdebar menyadari suatu hal.
“Maksudmu ... maksudmu, pewaris sebelumnya yang bunuh diri ... adalah kamu, Luska?” tanyaku memastikan kesimpulan itu. Luska yang entah sejak kapan sudah menghapus jarak di antara kami berbisik rendah.
“Benar, Yang Mulia. Sayalah si pengecut itu!”
Aku tidak berani menoleh menatap sosoknya untuk saat ini, hanya memejamkan mata ketika aku ingin terus bertanya.
__ADS_1
“Lalu dirimu yang sekarang ini apa?”
.Bersambung.