Kelabu

Kelabu
Episode 49


__ADS_3

Suasana di dalam bilik cukup lengang. Aku terlalu kurang kerjaan hingga harus menggambar-gambar tidak jelas di atas lantai berdebu sementara Elang menyibukkan diri melatih kemampuan bela dirinya. Kami masih terjebak di bilik dengan mode pertahanan mutlak yang tak tertembus ini. Tak banyak yang bisa kami lakukan.


“Saat masih kecil aku juga sering menggambar seperti ini,” komentar Sakti ikut berjongkok di sebelahku. Dia pun tidak tahu harus berbuat apa.


“Ini ayah, ibu, aku, dan Sekti. Keluarga utuh seperti itu yang kuinginkan, tapi kenyataannya orang tuaku menolak Sekti. Ah, kita jadi membicarakan kisah kelam itu! Sudahlah, lagi pula kamu pernah mendengarnya dari Sekti sendiri ‘kan?” kata Sakti.


“Aku juga pernah mendengarnya dari orang lain, dengan versi berbeda,” jawabku melirik sekilas Elang yang masih bertarung dengan udara kosong.


“Oh ya? Dari siapa? Elang?”


Aku mengangguk membenarkan tebakan Sakti, “Ketidakmampuan memenuhi tuntutan orang tua selalu berujung diskriminasi, berakhir kecemburuan kepada saudara yang lebih dibanggakan keluarga. Aku percaya jika Elang memang keturunanmu. Kisah lama itu berulang pada Elang dan kakaknya,” jawabku.


“Wah, sungguh? Tapi Elang tidak terjebak pada dosa yang sama ‘kan?”


“Menurutku, sih, tidak. Hanya percobaan pembunuhan anak kecil dengan pisau berkarat, tapi Elang terlanjur meyakini bahwa memang itulah kesalahan yang membuatnya layak dikorbankan di tempat ini.”


“Ah, memang jauh berbeda dengan yang dilakukan Sekti. Harusnya ia tak perlu merasa seperti itu.”


“Sakti, kurasa kita meyakini hal yang sama. Tiap orang berhak mendapat pengampunan, sama berhaknya ketika ia melakukan kesalahan ‘kan?” tanyaku memandang langit bilik yang masih kemerahan, seolah mencari jawaban pertanyaanku di sana.


“Harus ada penebusan dosa. Itulah yang mereka yakini,” jawab Sakti.


“Harusnya bukan hanya Elang yang perlu merasa seperti itu. Aku juga punya kesalahan dan terlambat menyadarinya. kurasa aku lebih pantas dikorbankan di sini,” jawabku lirih. Gambar sederhana empat orang yang terlihat seperti keluarga buatanku ini membawa manis-pahit berbagai kenangan. Aku sempat memiliki hangatnya rumah dan orang tua, tetapi ketika kebahagiaan itu diuji aku tak bisa mempertahankan apa-apa. Masih kuingat hari itu, ketika ayah bertanya kerelaanku seandainya ia berpisah dari ibu, jawaban yang bukan seharusnya keluar dari mulutku.


“Aku tak peduli! Ibu dan Ayah sama-sama sudah dewasa dan lebih mengerti daripada anak kecil sepertiku! Seandainya aku ingin kalian tetap tinggal, kalian tak akan benar-benar tinggal! Kalian tak akan mendengarku! Lakukan apa pun terserah kalian dan biarkan aku melakukan apa pun terserahku. Aku tak peduli dan jangan memedulikanku lagi!”


Kututup telingaku, terlalu menakutkan mendengar kata-kataku sendiri terngiang lagi. Sejak dulu aku memang tak pernah tahu keinginanku, mengungkapkan kemauan yang salah. Setelah itu semuanya semakin tidak jelas. Ayah dan Ibu menjauh tanpa kejelasan status. Sepertinya itu lebih membingungkan dan menyiksa. Mereka harus berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja di hadapan Maurin, khawatir adikku terluka seperti aku sementara sejatinya ada jurang besar antara keduanya. Aku melihat jurang pemisah itu dan semakin muak dengan cara mereka memperbaiki keadaan. Sejak itu yang ada di kepalaku hanyalah tak peduli dan tak peduli! Bila mereka memang ingin berpisah maka berpisahlah saja!


Namun, baru-baru ini kusadari kalau itu bukan kemauanku. Jelas, jika Ayah dan Ibu juga mengerti, itu bukan kemauanku. Segala ketidak-pedulianku harusnya mereka mengerti sebagai bentuk protes, tapi yang bersalah tetaplah yang tidak bisa mengungkapkan keinginannya dengan benar. Seandainya aku menangis hebat sambil menggenggam kuat tangan keduanya mereka pasti luluh dan tak akan pergi. Sayangnya memang sudah terlalu terlambat. Kesadaranku datang tepat ketika diriku sendiri disibukkan urusan terkait nyawaku, tepat ketika pertanda paling buruk muncul di depanku. Kepulangan Ibu pasti membawa suatu berita dan firasatku semakin tidak enak ketika ibu mengaku bekerja di tempat Mr. Lee.


“Tidak ada kata terlambat, Shira,” ujar Sakti yang otomatis mengerti isi pikiranku tadi. Aku jadi agak malu karena Sakti tahu tentang hal itu.


“Aku juga sedang mencoba memperbaiki kesalahanku hingga saat ini. Seandainya dulu aku lebih cepat menyadari Sekti yang terasingkan, mungkin aku masih sempat mencegah kebencian merasuki hatinya. Kita sama-sama terbayang rasa bersalah, baik jiwa putih dan hitam. Mungkin itulah penyebabnya kita sama-sama terkurung di sini ... dan rasanya memang tidak adil jika hanya jiwa hitam yang dikorbankan,” jawab Sakti.


“Nah, benar ‘kan? Memang salah rasanya jika hanya salah satu yang mati. Kemungkinan yang kupikirkan ada dua. Aku dan Elang sama-sama harus dikorbankan atau sama-sama terbebaskan,” jawabku.


“Tapi kenyataan bahwa pasangan jiwa-jiwa tersesat yang sama-sama terbunuh menunjukkan kematian mereka tidak mengakhiri entitas dunia ini. Yang ada hanya bertambahnya kekuatan sihir hitam. Aku baru merasakannya akhir-akhir ini,” kata Sakti.


“Kalau begitu aku semakin yakin memperjuangkan kebebasanku dan Elang. Akan kubuat Elang juga meyakininya,” jawabku bertekad memenangkan permainan kecilku dengan orang keras kepala itu.


“Dari dulu aku selalu memintamu meyakini kebaikan yang kamu percaya, Shira.”


“Eh, tidak! Aku bukannya baik atau apa, tapi seperti katamu, baik jiwa putih dan hitam sama-sama pernah menanggung dosa. Jadi, keduanya harus dihukum bersama, menebus dosanya bersama, dan juga diampuni bersama-sama!”


“Lain kali sampaikanlah hal itu kepada Elang agar dia mengerti.”


“Ah, entahlah! Di tengah perdebatan tiba-tiba aku merasa bisu dan tidak bisa mengatakan sesuatu yang seharusnya. Yah, dari dulu aku memang begitu!”


“Tapi mungkinkah ini hanya perasaanku saja? Elang seolah menjaga jarak dari kita. Yang dilakukannya sedari tadi hanya terus berlatih,” kata Sakti memperhatikan Elang di kejauhan. Bilik yang kami tempati sepertinya aula sekolah, terasa luas dan lega.


“Barangkali dia merasa sungkan setelah mengatakan yang tidak-tidak kemarin,” jawabku teringat bahwa Elang sempat menyesali sikapnya.


“Bukan hanya denganku, tapi juga denganmu, Shira. Apa kalian bertengkar?” tanya Sakti.


“Wah, selalu! Tiada hari tanpa sesuatu yang kami perdebatkan! Itu sebabnya kamu tidak perlu khawatir, tidak ada yang terlalu serius dari pertengkaran kami!” jawabku.


“Kamu mencoba mengendalikan situasi dengan persaingan yang kamu ciptakan ya, Shira?” tanya Sakti akhirnya mengerti juga yang terjadi antara aku dan Elang. Memang tak ada yang bisa kusembunyikan dari Sakti.

__ADS_1


“Ya, aku mencoba menghindari perdebatan tidak penting yang buang-buang tenaga. Selama ini aku dan Elang masih berbeda pendapat. Jadi kuharap dengan persaingan dan kesepakatan baru itu kami bisa punya satu arah pandang, siapa pun pemenangnya nanti,” jawabku.


“Haai, Lang! Istirahatlah dulu! Di sini tidak ada air untuk diminum. Akan mengerikan jika kamu sampai dehidrasi!” seru Sakti kepada Elang yang akhirnya jatuh telentang mengatur napas. Tuh ‘kan! Kecapaian sungguhan! Aku dan Sakti menghampirinya tapi Elang segera bangun. Ia masih dengan program irit bicaranya. Aku tak begitu paham. Harusnya persaingan kecil yang menyenangkan ini tak perlu membuat situasi antara kami menjadi canggung.


Cahaya yang melapisi dinding-dinding bilik masih berkilauan. Tak tahu sampai kapan kami akan terus terkurung sementara hitung mundur menuju purnama ketiga sudah tak ‘kan lama. Sekti mendapat petunjuk-petunjuk yang dipercayai Elang dari tiap elemen di tempat ini. Seandainya mereka juga bisa membisikkan sesuatu kepadaku. Tentang celah cahaya yang sekarang tak bisa kami selidiki lagi. Seandainya saja.


 ****


Adanya orang lain di meja makan sungguh terasa lain. Ah, sebenarnya sarapan sebelum pukul tujuh pada Hari Sabtu saja sudah sangat aneh. Aku dan adikku tidak biasa makan sebelum pekerjaan rumah selesai, jadi aku baru masak di atas pukul sembilan setelah semua urusan beres. Namun, kali ini sungguh berbeda.


“Kalian boleh tambah jika mau! Ayo, Ibu terkejut kalian makan terlalu sedikit. Pantas saja Maurin kurus kering. Kakak tidak pernah memaksamu makan banyak ya? Ayo, Shira sendiri juga!” kata Ibu menambah porsi makan kami. Aku mencegahnya menambah lebih banyak lagi ke piringku.


Meja makan kembali lengang, hanya denting piring dan sendok yang terdengar. Ibu masih pasang tampang normal seolah tidak terjadi apa-apa sementara kepulangannya yang tiba-tiba jelas menandakan akan ada sesuatu. Mengode Maurin, aku ingin bicara dengannya nanti. Barangkali dia sedikit tahu. Perangainya masih normal sejak kemarin. Ia memang sama pendiam sepertiku, tapi bisa menjadi sangat cerewet ketika ada sesuatu yang tidak lazim. Jelas-jelas dia sudah tahu dan belum memberitahuku. Keterlaluan!


Setelah sarapan Ibu pamit ke supermarket. Maurin juga keluar, mau nge-print tugas katanya. Bagus, keluarlah sana kalian! Aku akan mencari tahu! Kuoperasikan ponsel adikku yang tertinggal, memeriksa pesan-pesan terakhir dari Ibu atau Ayah. Tidak ada tanda-tanda kalau ia diberi tahu rencana kepulangan Ibu. Ah, Ayah! Apakah Ayah tahu kalau Ibu bekerja di tempat Mr. Lee? Aku ingin sekali menghubunginya tapi urung. Teringat Ayah punya mata dan telinga di mana-mana, bisa kusimpulkan bahwa ia memang sudah tahu. Sialan! Semua orang sudah tahu sementara aku satu-satunya yang paling tertinggal!


“Maaf, Kak, ponselku ketinggalan. Tugasku ada di sana,” kata Maurin tiba-tiba muncul mengejutkanku, “apa yang kau cari?”


“Kau tahu sesuatu?” tanyaku tak pernah ingin basa-basi terkait masalah ini.


“Sesuatu apa?”


Aku berdecak sebal, “Jelas kau sudah tahu alasan kepulangan Ibu! Ada urusan yang ingin ia selesaikan ‘kan?! Sejak kapan kau suka main rahasia denganku?!”


Maurin mengambil ponselnya dari tanganku sambil tersenyum mengejek, “Wah, bukankah Kakak tidak peduli?”


“Oke, terima kasih! Akan kucari tahu sendiri!” jawabku tak ingin memperpanjang pembicaraan.


“Ada apa? Kakak mulai khawatir? Berarti benar, aku memang lebih kuat dari Kakak. Aku tidak pernah palsu sepertimu, yang lisannya bilang tidak peduli tapi rapuh di dalam. Baiklah, selamat mencari!”


Aku terkejut bocah yang lima tahun lebih muda dariku itu bisa menamparku telak hanya dengan kata-katanya. Kejadian selanjutnya dengan mudah berhasil kutebak. Memang benar ada urusan yang ingin Ibu selesaikan di sini. Entah itu karena campur tangan Mr. Lee atau tidak, yang jelas aku melihat ada lembaran surat gugatan cerai dalam map di atas meja kamar ibu. Rentetan kejadian yang mungkin terjadi berikutnya berputar-putar di kepalaku. Ayah dan Ibu akan resmi bercerai. Sempat kuingat terakhir kali ketika ayah menghubungiku. Ia membisu saat kuminta kembali pada Ibu. Ya, permintaanku terlalu mustahil karena ibu sudah menyiapkan semua ini.


Ada kedai minuman susu baru buka di dekat alun-alun.


Aku segera mengenakan jaket dan pergi keluar. Setelah jauh-jauh jalan kaki ke sana, lokasi yang kutuju masih tutup dengan gambar maskot sapi di depan pintu ditempeli tulisan penundaan bukanya kedai tersebut hingga seminggu ke depan. Menahan diri agar tidak mengumpat, kutendang kerikil di depanku. Kenapa info penundaannya tidak diumumkan di media sosial?! Dengan tangan hampa aku berbalik pergi. Menuju sembarang arah, aku lebih suka jalan kaki meski layanan ojek daring sedang menjamur. Entah sudah berapa lama aku berjalan tapi tidak segera sampai di rumah, baru menyadari aku menuju arah yang salah. Heh, memangnya apa yang kupikirkan?! Beruntung riangnya titik air yang jatuh dari langit segera menghiburku. Asyik! Aku sudah lama tidak hujan-hujan!


Kusengajakan berlama-lama di jalan, menikmati dinginnya air mengguyur kepala. Aku baru ingat pulang setelah mulai bersin-bersin. Jejak becek tercipta di lantai teras, terus ke dalam ketika aku masuk rumah. Samar-samar kudengar pembicaraan ibu dan Maurin.


“Tidak bisa dihubungi!”


“Nah, hayo, Kakak minggat! Cepatlah dicari selagi belum jauh!”


“Siapa yang mengajarinya minggat-minggatan seperti ini? Ibu tidak rela dia mewarisi sifat buruk ayah!”


“Ya ampun, tidak sadar diri! Seandainya ibu segera memberi tahu kakak lebih dulu pasti tidak akan terjadi seperti ini!”


“Ibu khawatir melukai perasaanya.”


“Wah, sayangnya ibu sendiri sudah melukai perasaanya, melukai perasaan kami dengan rencana perceraian itu. Jangan khawatir, ibu sudah melakukannya!”


“Maurin ....”


Sungguh, bukan aku yang mengajari adikku bicara seperti itu. Dia memang sudah tumbuh terlalu keren. Suara bersinku menginterupsi pembicaraan keduanya. Ibu menemukanku mematung di ruang tamu dengan tetes-tetes air jatuh dari ujung rambut dan rokku. Raut ibu terlihat sedikit lega.


“Kenapa tidak bawa payung?” tanyanya. Aku bersin lagi.


“Ya ampun, apa karena giliranku mengepel hari ini Kakak sengaja membuat becek? Menyusahkan saja!” kata Maurin.

__ADS_1


“Biar Ibu yang bereskan, Maurin,” jawab ibu memelototi bocah itu lalu menyuruhku segera mandi air hangat. Maurin hanya mencibir.


“Habis dari mana saja? Kalau ditelepon dijawab, dong!” kata ibu.


“Tidak ada yang menelepon, kok!” jawabku.


“Ada! Shira bawa ponsel ‘kan?” tanya ibu segera membuatku tergopoh merogoh saku jaket. Rembesan air menetes dari celah case ponselku. Layarnya gelap meski coba kuaktifkan beberapa kali. Aku hanya nyengir ketika ibu menepuk jidatnya.


“Ya ampun, Shira ....”


“Wah, asyik! Kakak akan punya ponsel baru! Kakak selalu tahu cara menghabiskan uang Ibu!” celetuk Maurin.


“Kau juga mau? Sini kulempar ponselmu ke bak mandi!” jawabku kemudian sejenak menyesali keteledoran ini. Seandainya aku ingat ada ponsel di sakuku mungkin aku tak akan hujan-hujanan. Meski ponsel baru terdengar menyenangkan, tapi fail-fail soal dan foto-foto aib Yasinta di ponsel ini belum sempat kusalin di laptop.


Ibu memberiku vitamin setelah mandi. Bukan lagu lama, tubuhku segera menggigil setelah hujan-hujanan tadi. Hidungku yang mulai memerah terlihat buruk.


“Sudah tahu mau ujian, harusnya jangan aneh-aneh!” kata ibu membantu mengeringkan rambutku dengan handuk.


“Biar kulakukan sendiri, Bu,” jawabku berusaha tetap tegak di kursi.


“Ti ... tidak, biar Ibu saja,” jawab Ibu meminta agar aku tak banyak bergerak.


Aku menghela napas, “Ibu ingin berdamai denganku?”


“Tidak, Shiralah yang harus berdamai dengan Ibu,” jawab Ibu memaksa tersenyum.


“Dengan rencana yang Ibu siapkan? Bukankah Ibu tahu bagaimanapun sikapku, aku tak pernah rela keluarga ini terpecah?”


“Ya, tapi Shira tetap harus rela! Ibu akan membangun keluarga baru yang lebih baik, bukan yang berantakan seperti sekarang.”


“Bagaimana Ibu bisa membangun yang baru dengan lebih baik jika sebelumnya dibiarkan berantakan?!”


“Shira ...” suara Ibu terdengar lembut di telingaku, juga lengannya yang hangat memelukku, “Ibu tak mau kamu tumbuh di tengah situasi tidak menyenangkan keluarga ini, harus berakhir dengan kejelasan ....”


“Harus diperbaiki dengan kasih sayang! Aku ingin ada di tengah keluarga seperti itu!”


“Ayah Lee sanggup menyayangimu lebih dari ayahmu sendiri,” jawab Ibu membuatku menahan tawa geli. Ibu berani melabeli nama orang asing itu dengan embel-embel ayah? Sungguh menggelikan!


“Kalau memang ayah orang lain itu menyayangiku, harusnya ia tak pernah merebut ibu dariku, dari Maurin, dan dari ayahku sendiri!” bantahku.


Ibu yang memelukku dari belakang tak bisa kulihat wajahnya. Mungkinkah ia kesal dengan jawabanku? Marah? Kecewa? Menangis? Aku tak tahu, hanya tangannya yang terasa gemetar di pundakku, tangannya yang berusaha melunakkan hatiku dengan berbagai cara itu.


“Maaf, aku terlalu keras kepala, Bu,” ujarku lirih. Jeda singkat yang panjang sempat mengisi tenggorokanku, “aku ingin berdamai dengan Ibu.”


Terdengar desah napas lega di telingaku. Kakiku di bawah meja menjulur membuka pintu kamar yang setengah tertutup. Firasatku benar, Maurin menguping pembicaraan di balik pintu dari tadi.


“Aku menyetujui apa pun keputusan Ibu, tapi Ibu juga harus menyetujui apa pun keputusanku dan Maurin,” ujarku.


“Toss!” kata Maurin terdengar seperti bercanda tapi ia serius.


“Aku akan belajar banyak darinya dengan menyibukkan diri dan tak memedulikan apa pun yang terjadi,” lanjutku.


“Ya, karena tidak ada yang terasa menyakitkan ketika kami tidak peduli!” sambung Maurin.


“Ini masih keinginan kami yang sama, kami tak mau diseret-seret ke pihak ayah atau ibu. Biarkan kami bebas menempuh jalan kami sendiri-sendiri, persis seperti yang ayah dan ibu lakukan.”


Ibu masih tergugu. Aku dan adikku merasa benar. Kami hanyalah cerminan dari orang tua kami. Kami hanya bertindak sesuai contoh.

__ADS_1


.Bersambung.


__ADS_2