
Seseorang menarikku ke bawah ruang sempit di bawah tangga. Aku tak mengira akan menghadapi situasi ini. Berusaha kulawan, tetapi gerakanku sepenuhnya terkunci, terlebih lagi di tempat sesempit ini.
"Ssssttt! Diam! Jangan berisik!" kata orang yang membekapku. Suara bernada dingin itu tidak terdengar asing. Aku berbalik dan melihatnya.
"ELANG?!" pekikku kaget.
Elang segera menutup kembali mulutku, memelototiku sebal dan menyuruhku diam sebab raungan monster itu terdengar tepat di lorong sebelah. Jantungku berdebar-debar karenanya. Dalam hati berdoa agar monster itu tidak menemukan kami.
Terlepas dari bagaimana Elang bisa ada di sini, aku tidak sempat memikirkannya. Langit-langit ruangan yang merupakan tangga –jaraknya sejengkal di atas kepala dari posisi jongkok– berderak hebat. Aku yakin monster itu sedang berseliweran di atas tangga.
Tepat di atas kepalaku, bunyi derakan semakin kuat, tangga bergetar hebat seolah monster itu sedang melompat-lompat di atasnya, menyebabkan debu-debu luruh dan nyaris memicuku bersin. Elang tidak kalah panik. Dia mati-matian membuatku menahan bersin, menjepit hidungku kuat-kuat dan ternyata itu berhasil meski lumayan sakit.
Namun, kami semakin panik ketika papan sekat ruangan bergerak-gerak. Aku meringkuk ketakutan di sebelah Elang. Tak terasa air mataku menetes. Elang pun tidak pernah terlihat secemas ini. Ia mencengkeram erat pundakku, seolah menguatkanku atas segala kemungkinan terburuk. Sungguh, aku tidak pernah ingin berakhir seperti ini.
Kututup mata erat-erat. Seketika sulit bagiku untuk membukanya lagi. Ini jauh lebih konyol. Bahkan aku mati sebelum tersentuh monster itu sedikit pun? Ini tidak lucu, hei!
"Kak Shiraa! Kak! Bangun!"
Aku mendengarnya! Suara itu?!
"Kak!"
Aku terperanjat. Sinar matahari yang menyilaukan menyambut penglihatanku. Masih dengan napas tersengal-sengal, kuperhatikan sekitar. Aku ada di kamar. Adikku yang sudah berseragam lengkap duduk di ujung tempat tidur, mengomel sebab aku sulit dibangunkan. Sekujur tubuhku benar-benar terasa lemas.
"Pukul berapa ini?" tanyaku.
"Setengah tujuh."
"Oh...."
Tunggu, APA?!
Aku menatap horor pada jam dinding. Seketika lemasku lenyap. Segera melesat ke kamar mandi, kubiarkan adikku yang lagi-lagi mengomel. Aduh! Apa yang sempat kulakukan dalam setengah jam?! Mandi sepuluh menit, ganti pakaian lima menit. Ya ampun! Aku tidak punya banyak waktu!
"Kak, cepatlah! Aku hampir terlambat! Tumben sekali kakak mandi pagi-pagi!" seru adikku. Atas kata-katanya yang tidak sopan kuhadiahi dia lemparan bantal.
"Maksudku, tumben kakak mandi ketika sedang libur?! Bukankah prinsipmu mandi saat libur itu kampungan?"
Aku tertegun. Eh, apa katanya?
"Sekarang hari Sabtu!"
Hah?!
__ADS_1
"Kenapa tidak bilang dari tadi?!" balasku kesal, agak lega juga menyadari kalau hari ini libur.
"Aku membangunkan Kakak agar mengantarku sekolah! Sekalian disuruh mampir ke apotek beli obat untuk eyang," tambahnya. Aku menghela napas panjang dan menerima resep obat itu. Oh, baiklah, terserah!
Sepeda kukayuh ke sekolah adikku. Sepanjang jalan dia banyak mengoceh tentang ujian nasional yang hitungan bulan ke depan akan ia hadapi lalu bertanya SMP mana yang kira-kira cocok untuknya. Yah, mana kutahu! Yang tahu cocok atau tidaknya kan dirinya sendiri. Lagi-lagi dia menggerutu kesal atas jawabanku yang ala kadarnya. Kami sampai lima menit sebelum bel masuk. Aku kembali mengayuh sepeda.
Karena tidak yakin apotek sudah buka jam segini, aku berinisiatif berputar-putar dulu membeli sarapan. Hanya beberapa potong roti dan air mineral, kuhabiskan di taman alun-alun yang kian rapi dan asri. Rasanya menyenangkan bisa santai begini. Duduk sendirian mengamati lalu lalang. Beberapa menit lalu aku masih terbaring tidur dan mimpi buruk yang menegangkan, meski rasanya aku ingat, Sakti, anak yang di dalam mimpiku bilang, kalau itu bukanlah mimpi.
Tak mau pusing memikirkannya, aku lebih memilih mensyukuri keadaanku yang sekarang. Tanpa terasa aku sudah bersantai setengah jam lamanya. Aku segera beranjak dan kembali mengayuh sepeda. Apotek yang kutuju lumayan jauh dari sini. Lau lintasnya padat, aku tiba di sana dalam lima belas menit, tentunya dengan jalan pintas tercepat. Kulihat antreannya panjang sekali. Puh, menyebalkan! Tahu begini aku datang dari tadi!
Apotek besar ini tak pernah sepi pelanggan. Bahkan meski pagi dan baru buka begini. Setelah mencantumkan resep dan nomor antrean, aku menunggu di tempat yang disediakan. Nomor antreanku masih lama, aku memilih duduk di satu-satunya kursi yang tersisa. Kumainkan ponsel untuk mengusir bosan sebab pada dasarnya aku paling tidak suka menunggu. Entah kenapa ada yang aneh dengan orang di sebelahku. Aku merasa seperti diperhatikan. Laki-laki bermasker dan juga mengenakan topi itu membuang pandangan ketika kutoleh. Dari sorot matanya jelas sekali aku mengenalinya.
"Elang?" sapaku.
"Maaf, salah orang," jawabnya. Cih! Justru dengan nada dingin itu kamuflasenya semakin terbongkar, dasar bodoh!
"Wah, syukurlah, aku memang berharap tidak bertemu dengannya pada hari libur yang damai ini," jawabku. Dia hanya mendengus.
Heh, tiba-tiba yang tidak ingin kuingat justru muncul di hadapanku. Ya, tentang mimpiku tadi, aku ingat bahwa Elang juga ada di sana. Jika memang itu bukan mimpi seperti yang dikatakan Sakti, harusnya Elang juga memimpikan hal yang sama. Harusnya kami mengalami mimpi yang sama, tetapi ... tetapi mana mungkin aku menanyakan hal seperti itu kepadanya?! Tapi ... tapi jika tidak kutanyakan, aku akan terus digerogoti rasa penasaran, dan aku tidak akan baik-baik saja ketika sedang penasaran.
Kulirik arlojiku, sepertinya masih banyak waktu untuk membicarakannya, tapi apa tepat di tempat umum begini? Apalagi jika membayangkan reaksinya nanti! Lalu bagaimana? Ah, malah bingung sendiri! Setidaknya aku harus mencoba.
"Ada yang ingin kutanyakan," ujarku bersamaan dengannya. Kami saling tatap.
"Kukira kamu salah orang?" sindirku. Ini menarik, barangkali dia akan menanyakan hal yang sama denganku. Aku ingin dia yang menanyakannya dulu.
"Tidak, kamu dulu..." jawabku. Dia terdiam sejenak.
"Um... kamu sedang beli apa?" tanyanya. Aku mendengus kesal.
"Pertanyaan tidak penting! Cuma basa-basi!" gerutuku, "pertanyaanku jauh lebih penting! Aku ingin kamu serius menanggapinya."
"Apa, sih?"
Ah, um ... benar kan, aku tidak yakin bisa menanyakannya. Bagaimana kalau ternyata Elang tidak memimpikan hal yang sama? Lantas dia mengejekku habis-habisan karena aku memimpikannya! Argh! Aku benci keadaan itu. Kudengar dia berdecak tak sabar. Tunggu, aku menyusun kata-kata dulu.
"Kenapa kamu menyembunyikannya?" tanyaku. Pada akhirnya itu yang keluar dari tenggorokanku.
"Ha?"
Elang menelengkan kepalanya tidak mengerti.
"Kenapa kamu menutup-nutupi kelakuan anak-anak nakal itu? Bukankah tanggung jawabmu sebagai pengawas tata tertib melaporkannya?" tanyaku lebih jelas. Duh! Kenapa malah membicarakan ini?! Sebagian dalam diriku menyesalinya. Sejenak Elang tertegun, tatapannya seolah berkata, "bagaimana kamu tahu?"
__ADS_1
Dia membuang pandangan.
"Kamu tahu apa yang terjadi jika aku langsung melaporkannya?" ujarnya bertanya balik.
"Yah, mereka akan dipanggil ke BK," jawabku.
"Benar, lalu mereka akan segera dikeluarkan dari sekolah," jawabnya.
"Tapi memang seharusnya begitu 'kan? tidak adil jika kamu begitu cerewet atas pelanggaran kecil, tetapi justru menutupi pelanggaran besar –seperti merokok dan mabuk di sekolah," protesku, "untuk apa, Lang? Kamu ingin mereka tunduk dan loyal kepadamu? Kamu ingin menaklukkan mereka sendiri? Tidak bisa demikian. Asal kamu tahu, pada akhirnya mereka hanya menakutimu, tetapi ketika di luar sana mereka tetap berbuat onar karena merasa tidak kamu awasi."
"Baiklah, giliranku bicara," kata Elang menatapku serius. Suaranya agak tidak jelas karena masker yang dipakainya, "maaf jika kesannya memang tidak adil, sebagai orang yang kadang kurang disiplin seperti kamu pastinya selalu langganan mendengar omelanku. Pelanggaran kecil –seperti tidak pernah pakai dasi atau salah mengenakan kaos kaki dan pelanggaran kecil lainnya– adalah awal dari pelanggaran besar. Aturan sepele itu sering diremehkan, hingga timbul pemahaman bahwa aturan ada untuk dilanggar. Pada akhirnya setiap orang berbuat seenaknya dan akhirnya terjadilah pelanggaran besar itu."
Cih, padahal meski kadang kurang disiplin aku sama sekali tidak memiliki niatan untuk merokok atau mabuk di sekolah, tahu!
"Selain itu, mungkin hanya aku di antara semua pengawas yang menyadari bahwa setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua," katanya. Aku tertegun. Mode baik hati Elang yang jarang sekali terlihat kali ini aktif.
"Mereka telah terjerat kasus yang besar, dikeluarkan dari sekolah bukan satu-satunya jalan terbaik. Belum tentu ada sekolah lain yang mau menerima mereka lagi. Jika demikian, masa depan anak-anak itu semakin hancur. Kebejatan mereka bisa semakin parah. Itu sebabnya, aku ingin memberi kesempatan kepada mereka untuk merenung dan menyadari kesalahan mereka sendiri."
Pembicaraan kami terpotong sebab nomor antrean Elang dipanggil. Ia beranjak untuk mengambil obat yang dibelinya. Tak lama kemudian giliranku. Elang sudah pergi lebih dulu, sedangkan aku agak lama karena menunggu kembalian. Rupanya dia masih berdiri di depan pintu masuk. Masker yang tadi ia pakai telah dilepas, lebam di rahang kirinya belum hilang.
"Masih menunggu apa?" tanyaku.
"Sebentar, aku kesal padamu."
"Ha?"
Dia menyentil dahiku lumayan keras.
"Aduh! Apa, sih?!" seruku marah.
"Enak saja! Menuduhku mencari pengikut loyal dengan cara sepertu itu! Menyebalkan, selera pengikutku bukan seperti itu!" jawabnya menggerutu kemudian pergi, menyalakan motornya. Aku masih tertegun di tempat.
Yang seharusnya dibahas malah terlupakan.
***
Besok hari Minggu. Normalnya masih libur dan tidak perlu belajar, tetapi tugas tidak sedikit. Aku tidak yakin bisa menyelesaikannya besok malam sekaligus. Apalagi dengan kemauan menulis cerpen yang sedang tinggi dan proyek menggambar yang belum selesai. Jika kedua hal itu belum rampung, keseriusan belajarku akan terganggu. Maka sebaiknya ... maka sebaiknya menggambar dan menulis dulu, baru mengerjakan tugas kemudian. Dipaksa belajar pun percuma, tidak akan khusyuk dan ilmunya tidak akan terserap.
Aku memilih menggambar dulu, meneruskan sketsa realis hitam putih penyanyi favoritku. Minggu lalu aku jadi stress karena gagal menggambar hidungnya. Kali ini pun, setelah dua jam berkutat dengan arsiran, rasanya aku terancam stress lagi. Baiklah, lupakan! Sepertinya tidak ada darah seni mengalir dalam tubuhku. Berikutnya kuaktifkan aplikasi pengolah kata di ponselku, melanjutkan cerita. Tanpa terasa aku sudah melanjutkan hingga menambah hampir lima ribu kata.
Kulirik jam dinding. Ya ampun! Sudah lewat tengah malam! Lagi-lagi aku kebablasan! Jika tidak segera tidur aku bisa bangun kesiangan lagi! Pekerjaan rumah dan tugas sekolah belum diurus. Ya Tuhan! Maafkan aku! Aku merebah dan menarik selimut setelah mematikan lampu kamar. Tidak, tunggu ... jika aku tidur apakah lagi-lagi aku bermimpi di dunia aneh itu lagi? Tiba-tiba aku tidak berminat tidur. Aduh! Yang benar saja! Sudah susah payah aku berdamai dengan insomnia, haruskah sekarang terjangkit lagi karena takut mimpi buruk? Jangan, dong! Itu menyebalkan!
Segelas air berhasil menenangkanku. Tidak apa-apa ... tidur saja, sesulit apa pun keadaanku di sana, aku pasti bisa kembali terbangun lagi –meski kesiangan. Tidak apa-apa, setidaknya aku bisa bangun lagi. Sudahlah, aku membaca doa dan memejamkan mata, memaksa diri menuju alam bawah sadar. Namun, rasanya susah sekali. Ah, tidak! Aku tidak ingin menderita insomnia lagi! Aku kembali membuka mata, berniat minum untuk menenangkan diri, untuk kemudian ....
__ADS_1
Terbangun di tempat yang sama sekali bukan kamarku.
.Bersambung.