Kelabu

Kelabu
Episode 24


__ADS_3

Aku keluar dari ruang BK dengan mata berair terkantuk-kantuk. Jika ini bukan jam terakhir, mungkin akan ada sanksi-sanksi merepotkan. Perutku terasa sedikit mual, tak tahan diomeli terus menerus dan tubuhku bereaksi karenanya. Bayangkan saja hampir satu jam Bu Lis menyemprotku tanpa henti. Aku akan berterima kasih kepada Bu Lasmi yang kebetulan sedang menyalin dokumen di sana akhirnya angkat bicara.


“Bu Lis, apa Anda sedang kelebihan energi?” tanyanya singkat dengan wajah tak berdosa. Bu Lis kemudian menyeka sudut bibirnya yang berbusa karena asyik mengomel. Setelah itu bel pulang berbunyi dan aku terselamatkan. Puh, mengerikan!


Aku tak tahu pasti kenapa bel pulang berbunyi satu jam lebih awal dari biasanya. Yasinta menjelaskannya kepadaku terkait dengan persiapan liga olahraga besok. Sekolahku menjadi tuan rumah acara bergengsi itu dan otomatis ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Aku memang bukan anggota ekskul olahraga, tetapi hal ini turut menggembirakan karena aku bisa pulang lebih awal dan mungkin saja ulangan matematika Bu Nindra besok akan ditunda. Meski demikian, sesuatu yang tidak bisa ditunda tetap akan mencegatku besok. Bu Lis yang keras kepala tetap menagih PR-ku. Itu sebabnya aku harus mengambil buku PR dari Nike sore ini juga.


Sambil berjalan kuhubungi Nike, memastikan dia ada di rumahnya sebelum aku ke sana. Cukup lama telepon di ujung sana berdering hingga akhirnya diangkat juga.


“Halo, Nik? Kamu di rumah?” tanyaku. Lengang sejenak, kemudian suara lelaki yang tak kuduga menjawab.


“Hai, Shira! Elang sakit, kamu mau berkunjung ke mari?”


Aku memelototi layar ponselku lalu menepuk jidat demi melihat nama kontak yang kuhubungi. Kenapa aku bisa salah menelepon ke nomor Elang??! Terlebih kontak Nike dan Elang tidak bersebelahan jadi bagaimana bisa salah tekan?! Dan lagi kenapa selalu Kak Garuda yang menjawab teleponku? Apa Elang berbagi ponsel dengannya?


“Halo? Kamu sedang menuju ke mari ‘kan?”


“Ma ... maaf salah sambung!” jawabku asal. Entahlah, alasan macam apa itu?!


“Eh, sebentar, tidak apa-apa! Aku tidak akan meledekmu meski rasanya tidak masuk akal salah sambung begini,” jawab Kak Garuda. Itu tetap saja meledek, ih!


“Tolong ... aku butuh seseorang sore ini. Tugas kuliahku yang harusnya selesai semalam kutunda demi merawat adikku. Aku tidak bisa meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. Jika kamu berkenan, tolong datanglah ke rumah dan bantu aku!” kata Kak Garuda.


“Apa sakit Elang benar-benar parah?” tanyaku. Bukannya Elang hanya demam?


“Semalam dia kejang, tetapi dokter bilang dia hanya demam. Panasnya hanya turun sesaat setelah minum obat, lalu naik lagi. Mungkin juga lemas, seharian dia hanya tidur dan tidak mau makan. Itu sangat mengerikan bagi Elang yang tidak pernah sakit. Aku cukup kerepotan memaksanya bangun untuk makan dan minum obat. Menariknya, ketika kubilang kamu akan berkunjung, dia segera bangun dan mengusirku dari kamarnya,” kata Kak Garuda panjang lebar, “coba tebak apa yang terjadi selanjutnya? Diam-diam dia menghabiskan makanan yang kutinggal dan menelan obatnya. Nah, kamu mengerti maksudku kan, Shira? Kuharap dengan datangnya kamu ke sini aku tidak perlu memaksa-maksanya makan dan minum obat.”


Aku masih terdiam. Jadi aku hanya harus datang dan membujuk Elang yang kekanakan? Itu terdengar ... menggelikan ... dan cerita Kak Garuda itu terlalu dibuat-buat. Aku yakin Elang bukan orang yang seperti itu. Dia sangat benci ketika sakit dan begitu ingin lekas sembuh, jadi dia tidak mungkin rewel. Lagi pula tidak mungkin mereka hanya tinggal berdua hingga Kak Garuda meninggalkan tugasnya terbengkalai. Sudah jelas, Kak Garuda hanya mengarang cerita demi memaksaku berkunjung –tanpa kutahu apa tujuannya. Syukurlah, aku cepat menyadarinya.


“Maaf, Kak. Sejujurnya aku ingin, tapi sore ini aku sudah ada janji dengan teman,” jawabku sama-sama mengarang.


“Tidak bisa dibatalkan?”


“Tidak bisa, ini penting sekali!”


“Oh, ya sudahlah kalau begitu. Kamu boleh berkunjung kapan pun meski Elang tidak sakit. Kamu juga boleh menelepon ke sini tanpa beralasan salah sambung.”


OH?! MENYINDIR YA!


“Aku ... tadi itu memang salah sambung, hei!”


“Baiklah, sampai nanti!” ujar Kak Garuda kemudian mengakhiri telepon. Ya ampun, sebenarnya apa yang dipikirkan Kak Garuda, sih?!

__ADS_1


Tanpa sadar aku sudah tiba di depan rumah Nike. Ibunya yang sudah sangat mengenalku menyambutku hangat, membiarkanku masuk.


“Permisi ya, Tante! Maaf kalau saya mengganggu Nike yang sedang istirahat,” ujarku.


“Eh, tidak apa-apa! Silakan diganggu! Anak itu tidak benar-benar sakit, kok! Masa seharian kerjanya nonton drama terus di depan laptop, padahal tadi pagi bilangnya pusinglah, panaslah, banyak alasan!” omel Tante Sandra, mama Nike yang awet muda itu. Aku hanya nyengir menanggapi ceritanya.


“Mungkin jenuh dengan sekolah, Te! Kadang saya juga begitu, kok!”


“Wah, kalau kamu sih biarpun bolos setiap hari tetap pintar selalu dapat peringkat atas , kalau Nike? Ah, mana dia sudah ....”


“Mama, sssstt! Berisik!” Kepala Nike nongol dari pintu kamarnya, “masuk, Ra!” katanya. Tante Sandra hanya geleng-geleng kepala.


“Lain kali kalau main ke sini langsung masuk ke kamarku, tidak usah sok kenal sok dekat sama mama, deh!” kata Nike bersungut-sungut, kembali rebahan di kasurnya.


“Habisnya kamu juga, mau jadi apa kalau sering bolos? Biarpun malas seperti aku, yang penting datang sekolah!” jawabku ikut merebah, menekan ikon play dari serial drama yang sempat dijeda Nike.


“Kamu? Malas? Cih, itu memang fakta tapi dunia tidak pernah percaya! Mana mungkin anak pintar pemalas seperti kamu?! Sekali kamu berada di atas, orang-orang tidak akan percaya keburukan dan kekuranganmu. Sebaliknya, aku? Mama tidak tahu aku begadang mengerjakan tugas yang ternyata esok harinya tetap dapat nilai enam!”


“Mana kutahu tentang penilaian orang lain?! Kamu sudah tahu begitu jangan malah kendor, dong! Mamamu akan semakin meremehkan kamu jika kamu seperti ini!”


“Aduh, aduh, Ra! Aku tidak butuh ceramah, aku butuh jajan! Kamu tidak bawa apa-apa?” tanya Nike.


“Hehe, dimarahi Bu Lis ya?”


“Oh, jadi kamu memang sengaja biar aku dimarahi?!”


“Ya enggaklah, aku enggak sejahat itu!” jawab Nike bangkit menuju rak bukunya yang sama berantakan seperti punyaku, “nih, terima kasih ya! Tidak perlu sedih, kok! Nanti aku pasti akan dipanggil ke BK juga!”


“Santai sekali kamu bilang seperti itu ya!” balasku memasukkan buku ke tas. Nike hanya nyengir. Dasar anak satu itu!


“Kamu mau langsung pulang? Dramanya lagi seru, nih!” tanyanya.


“Aku bisa menontonnya sendiri di rumah,” jawabku.


“Ah, kalau begitu boleh sekalian minta tolong?”


“Enggak!” jawabku segera tanpa bertanya dulu. Aku tahu permintaan Nike selalu merepotkan.


“Tolonglah! Aku kan sedang sakit dan tidak boleh keluar ...”


“Omong kosong!”

__ADS_1


“ ... pelangganku sudah menunggu, lho! Aku bisa tidak dipercaya kalau pesanannya tidak diantar hari ini juga!” pintanya. Ah, benar kan, aku disuruh jadi kurir gratis lagi! Biarpun tidak niat sekolah, Nike sudah punya penghasilan sendiri dari bisnis online-nya. Entah produk perawatan kulit, accesories, tas, Nike sudah memulainya sejak lama dan ia belajar langsung dari ahlinya, mamanya sendiri yang merupakan agen tupperware.


“Tolong ya, Ra! Dia teman sekelasmu, kok! Itu sebabnya aku minta tolong kamu!”


“Apa harus hari ini juga?”


“Iya, rumahnya tidak jauh, kok! Di perumahan sebelah.”


“Perumahan elite itu? Maaf saja, Nik, satpam bisa saja langsung mengusirku melihat dandananku yang kampungan.”


“Aduh, ya enggaklah! Itu kan cuma ada di sinetron! Makanya, nih, pakai produk skin care dari aku biar kekinian! Bulan ini lagi promo diskon 25%, tapi gratis buat kamu kalau mau mengantarkan barang ke rumah Sindi. Mau ya?” kata Nike lancar sekali bila disuruh promosi.


“Duh, aku tidak berminat, Nik, tapi kalau kamu punya jajan atau susu kotak satu liter mungkin aku mau,” jawabku.


“Oke, sebentar ya!” kata Nike membuka lemari pakaiannya. Ternyata memang benar ada berbagai makanan dan minuman ringan di sana. Gila! Padahal tadi dia menanyakan jajan dariku sementara dia menimbun semua ini?


“Kalau disimpan di kulkas bakal rebutan sama mama, jadi ini tempat paling aman!” jawabnya memasukkan beberapa bungkus roti dan susu ke dalam kantong plastik. Nike terlanjur mengabulkan permintaanku jadi aku juga harus mau menurutinya.


“Kamu serius membawakanku sebanyak ini?” tanyaku. Aku memang tidak keberatan –malah senang– dapat stok makanan gratis, tapi ini jajanan mahal yang seharusnya tidak dibagi-bagi hanya karena aku mau mengantarkan barang pesanan.


“Tidak apa-apa, aku untung besar bulan ini! Jadi kamu juga harus merasakan rasa senangku. Nih, adikmu pasti suka!” katanya. Ah, jadi dia memberiku bukan karena aku mau jadi pesuruh, tapi karena dia memang baik.


“Oke, makasih! Ke rumah Sindi ‘kan?” jawabku.


 ***


Sudah lima kali aku berputar-putar di area yang sama, di blok suatu perumahan yang sepi seolah tak berpenghuni, tanpa ada yang bisa kutanyai. Sindi memang teman sekelasku sejak satu tahun lalu tapi aku belum pernah sekalipun main ke rumahnya, jadi maaf saja jika aku tersesat.


“Tidak ada rumah warna biru muda di blok D4, Nik! Mungkin alamatnya salah,” ujarku dalam pesan teks kepada Nike. Sudah kupastikan aku berada di area yang benar.


“Oh, maaf, bukan biru muda. Itu rumah pelangganku yang lain. Rumah Sindi warna abu-abu,” jawab Nike. Aku mengumpat dalam hati. Dia pikir bagaimana repotnya aku karena kesalahan kecil seperti itu?!


Selanjutnya masalahku bukannya terselesaikan. Di kanan dan kiri jalan berpaving tempatku berdiri sekarang, kedua rumah sama-sama bercat abu-abu dan aku tidak tahu mana yang rumah Sindi.


“Hei, Sindi suruh keluar!” Demikian aku melepas pesan teks, tapi Nike sudah offline, Sindi sendiri juga. Tak mau ambil pusing, akhirnya aku mencoba menebak-nebak. Rumah yang dihuni anak gadis pasti akan ada taman bunga yang cantik di pelatarannya. Aku memutuskan menekan bel rumah bercat abu-abu dengan desain minimalis di kanan jalan, meyakini itu rumah Sindi. Tadi pagi Sindi sangat peduli dengan rusaknya taman mini di sekolah, jadi aku yakin di rumah dia sangat perhatian dengan taman bunganya sendiri.


Namun, seseorang yang membukakan pagar membuatku membatu seketika.


Heeh?! Apa yang dia lakukan di sini?!


.Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2