
“Shiraaa! Ada sampah di lacimu! Ayo bersihkan!” tegur Sindi ketika aku baru sampai di kelas.
“Ra, kamu belum piket! Lain kali datang agak pagi, dong!” sahut Rihana. Ah, aku memang selalu jadi bulan-bulanan tim disiplin kebersihan. Sebenarnya tanggung jawabku sedikit berkurang setelah nenek tidak lagi tinggal di rumahku. Beliau sakit dan sekarang tinggal bersama bibi, tapi itu bukan berarti kesibukan pagiku berkurang. Menyiapkan sarapan dan bekal untuk aku dan adikku memakan waktu yang paling lama. Terlebih aku hanya berjalan kaki menuju sekolah yang butuh waktu lima belas menit. Sepeda satu-satunya kendaraan yang kupunya bermasalah dan sudah lama tak bisa dipakai. Pantas saja Maurin merasa perlu meminta Ayah membelikannya yang baru.
“Iya, teman-teman, aku minta maaf. Aku piket siang ya, oke?” jawabku, belum sempat banyak bicara Arnita menghampiriku.
“Minggu lalu kamu tidak piket, Ra! Dendanya belum dibayar, uang kas seminggu terakhir juga. Totalnya sepuluh ribu. Jika tidak dicicil akan semakin berat, lho!” kata bendahara kelas ini. Heh, yang benar saja! Ini masih pagi dan aku sudah diserang di sana-sini. Yasinta di kejauhan tertawa mengejek kesialan yang tak berhenti menyerbuku sejak kemarin. Ya ampun, kutukan apa yang sebenarnya menimpaku?!
Aku sedikit terselamatkan setelah Elang memasuki kelas, meminta kami duduk di bangku masing-masing.
“Hai, Ra! Tidak salah jadwal lagi ‘kan?” tanya Yasinta kembali ke kursinya.
“Ya tidaklah!”
“Perhatikan, semuanya!” kata Elang di muka kelas, “ada imbauan dari dewan juri lomba kebersihan kelas bahwa minggu ini adalah penilaian final. Hari dan waktu tidak ditentukan, mereka bisa melakukan penilaian sewaktu-waktu. Jadi dimohon agar kelas selalu bersih dan rapi, termasuk taman depan.”
Pantas saja tim kebersihan begitu cerewet akhir-akhir ini. Mungkin mereka sudah tahu kalau minggu ini penilaian terakhir.
“Kelas pemenang akan diumumkan ketika festival budaya. Kita ingin XI MIPA 1 yang dipanggil sebagai juara satu ‘kan?” tanya Elang memancing riuh rendah antusias teman-teman. Mereka terlihat begitu optimis. Segala kerja keras kami sejak dua bulan lalu tidak boleh sia-sia. Ah, terkait dua bulan yang lalu, suatu hal lain juga harus kucari tahu.
“Oke, sejauh ini apakah ada laporan dari masing-masing tim? Barangkali ada masalah? Oh, kudengar tim kerindangan sempat menemui kesulitan ketika aku tidak masuk beberapa waktu lalu. Bagaimana, tim kerindangan?” tanyanya.
“Sudah beres,” jawabku mewakili timku, “tanaman di taman tiba-tiba mati, tapi kami sudah menemukan gantinya.”
“Tiba-tiba mati? Terdengar aneh ....”
“Ya, keanehan itu jadi perbincangan sepanjang koridor hingga XI MIPA 4 karena taman mereka juga mengalami hal yang serupa,” timpal Tria.
“Tapi syukurlah bila sekarang sudah teratasi. Karena kita sudah bekerja sebaik ini, sekarang saatnya sama-sama menjaga hasil kerja kita tanpa peduli itu tanggung jawab tim siapa. Kuharap dengan kita saling memperhatikan, masalah yang terjadi pada tim kerindangan tidak terjadi pada tim lain. Nah, selanjutnya apa ada laporan lagi?”
“Lang ...” Fina unjuk jari, “buku-buku di sudut baca banyak berkurang.”
Aku menoleh ke sudut baca di belakangku. Benar juga, rak segi enam ini terlihat melompong dan tidak enak dipandang.
“Bagaimana bisa? Masih dipinjam ya? Dimohon yang meminjam buku di sudut baca agar dikembalikan dulu. Kita sedang menjaga ketersediaan buku minimum sampai penilaian final,” kata Elang terpaksa mengakhiri diskusi karena bel masuk sudah berbunyi. Perhatianku masih tertuju pada rak sudut baca segi enam di belakang tempat dudukku. Segi enam, heh?
Aku menguap ketika guru pelajaran keempat keluar dari kelas. Istirahat pertama dan aku sudah mengantuk.
“Memangnya apa yang kau kerjakan semalaman hingga harus begadang, Ra? Asal kau tahu, wajah mengantukmu itu menyebalkan!” kata Yasinta. Aku hanya mengendikkan bahu.
“Kebut belajar, Yas. Aku tidak suka belajar semalam sebelum ujian. Eh, ralat, aku tidak mau belajar selama minggu-minggu ujian. Sudah terlalu banyak tekanan. Aku ingin main-main saja!” jawabku.
“Memang hanya kamu yang bisa main-main saat suasana genting begitu! Jangan memengaruhiku melakukan hal yang sama, Ra. Kemampuanku jelas berbeda!”
“Aku tidak sedang memengaruhimu, Yas. Maksudku, jika kamu mencicil belajar dari sekarang, kamu bisa santai nantinya!”
“Hehe, akan kukumpulkan niat belajarnya dulu,” cengir Yasinta. Dih, sudah kuduga. Dia iri dengan kesantaian yang kudapat tetapi tidak ada niatan berjuang lebih. Lagi-lagi aku menguap. Sepertinya ini tidak akan berhenti sebelum aku mendapat pasokan kafein.
Beranjak dari kursi, aku berniat pergi ke kantin. Elang segera menghilang sejak bel istirahat berbunyi. Padahal aku sudah ingat sesuatu yang harusnya kami bahas. Peristiwa dua bulan lalu yang kami lakukan bersama adalah memasang rak sudut baca segi enam itu. Aku ingat meski bukan bagian tim sudut baca, aku dan Elang terlibat. Bentuk heksagonnya membuatku semakin yakin kalau rak sudut baca ada kaitannya dengan enam kunci di enam penjuru –meski rasanya sedih bila titik terbaik di kelas harus kucurigai sebagai lambang setan yang membuat jiwaku tersesat di dunia kelabu. Tapi harus bagaimana lagi? Aku dan Elang tidak melakukan apa pun berdua selain di sekitar rak sudut baca itu.
Sayang sekali Elang harus pergi ketika ingin kusampaikan penemuanku. Entah di mana dia sekarang. Aku tak menemukannya di antara keramaian di kantin. Padahal dia sendiri yang bilang ingin memulai penyelidikan hari ini. Bingung memilih kopi kemasan dengan berbagai rasa, aku terdiam cukup lama di depan mesin pendingin. Aku tak terbiasa minum kopi dan tidak tahu mana yang paling enak. Ah, semua jenis kopi sama saja ‘kan? Aku mengambil acak satu kotak dan mendapat mocha-latte. Jika tidak salah ini kesukaan Elang, sekalian aku mengambil satu lagi untuknya. Ya, untuk membalas utangku yang kemarin. Meninggalkan kantin sambil menyesap kopi yang baru kubeli. Rasanya tidak terlalu buruk!
Kuambil jalan memutar melewati perpustakaan sebelum kembali ke kelas sebab kulihat ada Pak Hanri di depan koridor sebelas IPS. Kerangka novel yang ia minta kemarin kukerjakan asal-asalan dan kutinggal begitu saja di mejanya karena ketika bel pulang Pak Hanri tidak ada. Aku sedang tidak ingin ditegur atau melanjutkan pekerjaan darinya. Penyelidikan tentang enam kunci di enam penjuru harus segera kumulai.
__ADS_1
Aku tiba di depan perpustakaan. Pintunya terkunci. Ini tidak biasa, harusnya ketika Pak Hanri tidak berjaga ada staf lain yang menggantinya. Satu dari kunci perangkap itu sudah kuketahui dan aku memerlukan denah sekolah yang bisa kutemukan di buku data terpadu sekolah ini. Bila dua kunci lain berhasil ditemukan, aku bisa memprediksi letak kunci yang lain dengan menggambar bangun segi enam beraturan di atas denah. Selanjutnya tinggal memastikan saja. Ah, coba pikirkan cara lain! Di mana lagi aku bisa mendapat data seperti itu ya?
Seseorang mengejutkanku ketika aku sedang asyik-asyiknya berpikir. Ingin kutoyor wajah dengan ekspresi tak berdosanya itu setelah membuatku hampir jantungan. Elang selalu tahu caranya memulai adu bacot.
“Begitu saja kaget!” jawabnya enteng, “kau mencariku ‘kan?”
“Tidak! Tidak ada urusan denganmu! Tolong jangan terlalu percaya diri begitu!” jawabku ketus.
“Oh, sayang sekali! Padahal aku sudah tahu salah satu posisi kunci perangkap,” jawabnya.
“Aku juga sudah tahu!” balasku tak mau kalah.
“Di sudut baca kelas kita!” ujar kami bersamaan. Yah, akhirnya kami sama-sama tahu. Mungkin Elang juga sadar setelah Fina membahas sudut baca tadi pagi.
“Nih, utangku yang kemarin lunas!” jawabku menyerahkan satu lagi kopi kemasan tadi.
“Eh, padahal aku tidak sedang ingin minum.”
“Bagaimana dengan kunci selanjutnya?” tanyaku.
“Jangan buru-buru, Shir. Kita perlu memastikan sesuatu yang membuat rak sudut baca itu menjadi kunci terbukanya celah cahaya,” jawab Elang pada akhirnya menyedot kopinya juga.
“Menurutku dari bentuknya, Lang! Aku pernah baca di internet bahwa ritual-ritual pemujaan iblis melibatkan lingkaran sihir dengan lambang pentagon atau heksagon!”
“Nah, kalau begitu mari kita cari benda-benda berbentuk heksagon di seluruh sekolah ini!” ajaknya meninggalkan teras perpustakaan.
“Menurutmu di mana saja bagian dari sekolah ini ada yang seperti itu?” tanyaku menyejajari langkah Elang.
“Orang yang tidak pernah patroli keliling sekolah memang tidak banyak tahu,” jawabnya tersenyum sombong. Dih, memangnya demi apa aku harus berpatroli keliling sekolah?!
“Sekolah tidak ingin mengecat ulang dinding ini karena tidak terlihat menganggu dari halaman utama. Selain itu, seni grafiti di sini terlalu bagus untuk dihapus,” kata Elang kemudian berjalan menelusuri puluhan meter tembok belakang gedung olahraga. Aku juga melakukan hal yang sama meski belum sepenuhnya mengerti sesuatu yang kami cari. Kutemukan beberapa kata tak senonoh bersanding dengan selarik sajak puitis, gambar-gambar tak pantas dan coretan unik.
Di dinding ini semua yang baik dan tidak baik menyatu sempurna tanpa ada batas. Benar-benar mewakili gambaran lingkungan di sekolah ini. Tidak semua orang punya prestasi bagus dan tidak semuanya berkelakuan baik. Beberapa di antara kami adalah pemabuk, pengedar narkoba, bahkan iblis sekali pun. Tapi jika aku menolak ada di sekolah ini hanya karena khawatir dengan gambaran keburukan tadi, maka sesungguhnya aku tidak bisa berdiri di mana pun. Keburukan dan kejahatan selalu ada di mana-mana, eksis bersisian dengan kebaikan.
“Ah, di mana coretan itu ya?” tanya Elang yang beberapa meter jauhnya dariku. Suaranya menggema di sepanjang lorong. Aku masih terpaku di depan sebuah gambar.
“Ketemu ...” gumamku lirih. Suaraku juga menggema membuat Elang menghampiriku.
“Ini yang kau cari ‘kan, Lang?” tanyaku menyentuh gambar bercorak segi enam dengan mata tunggal setengah tertutup di tengahnya.
“Ah, ini dia!” jawab Elang bersemangat. Kemudian seperti ilusi, mata tunggal itu berkedip sekali. Aku dan Elang saling pandang.
“Kamu juga melihatnya ‘kan?” tanyaku. Elang mengangguk. Aku tak tahu bagaimana pastinya, tapi sesuatu yang tidak wajar ini sudah jelas bagian dari perangkap enam kunci. Seketika gambar yang tadi kami lihat berubah, sekarang tampak seperti hologram jingga menyala-nyala. Mata tunggal di tengahnya bergerak-gerak, mengerjap dan melirik ke sana-sini. Gambar-gambar di sekitarnya turut bergerak, hidup, dan bersuara, tertawa mencicit memenuhi liang telinga. Lututku terlalu gemetar untuk segera lari dari tempat ini.
Elang memasang sikap siaga. Mungkinkah kakinya juga terpaku tak bisa lari dari sini? Cahaya di matanya tampak sejingga lambang setan di hadapan kami.
“Lang ....”
“Shira!”
Kata-kataku belum tuntas terucap ketika tubuhku ambruk lebih dulu. Kekuatan asing mencoba mengambil alih kesadaranku. Elang yang bisa menebak kejadian selanjutnya segera membawaku pergi dari lorong ini. Suara tawa itu masih saja memenuhi kepalaku.
“Lawan, Shir! Jangan biarkan dia menguasaimu! Lawan dengan keberanian! Jangan takut kepadanya!” kata Elang memberiku sedikit kekuatan. Dia benar, tidak boleh ada rasa takut di hatiku! Mulut lorong masih beberapa meter lagi di depan kami. Perlahan kukuasai lagi seluruh kesadaranku. Napas yang tak beraturan, kakiku masih terasa limbung. Elang membiarkanku duduk sebentar di undakan samping gedung olahraga setelah kami lolos dari lorong tadi.
“Kau tidak apa-apa ‘kan? Halo? Kau bisa mendengarku, Shir?” tanya Elang. Aku hanya mengangguk. Dia malah menyentil dahiku sekeras biasanya.
__ADS_1
“Aduh, sakit tahu!” seruku kesal.
“Maaf, itu untuk memastikan kalau kesadaranmu benar-benar telah kembali,” cengirnya menyebalkan.
“Harusnya ada cara yang lain!” protesku sambil mengelus dahi.
Deheman seseorang mengejutkan kami berdua. Aku tak mengira Erik akan muncul di sini.
“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya menatapku dan Elang bergantian dengan wajah penuh curiga, “kalian berdua dari belakang gedung ini ‘kan?”
Saat aku tak tahu harus mengarang jawaban apa, Elang menjawab dengan santai, “Kami sedang berpatroli.”
Aku tak tahu apakah itu berhasil meyakinkan Erik, tapi reaksi Erik selanjutnya benar-benar di luar dugaanku.
“Kamu ingin kembali bergabung di tim pengawas ‘kan, Lang?” tanyanya dengan mata berbinar. Ekspresi sok detektifnya lenyap hanya karena Elang berkata demikian.
“Kamu rindu dengan tugas rutin itu ‘kan? Asal kau tahu, ada banyak keteledoran yang kami buat setelah kamu keluar. Itu sebabnya kami selalu menantimu dengan tangan terbuka!”
“Sayangnya, bukan berarti rindu dan sebagainya. Aku hanya belum berhenti mengusut dan memburu orang yang berusaha mencemarkan nama baikku hari itu. Aku masih belum lupa dan akan terus memburunya!” jawab Elang sengit.
“Dan kamu masih menuduhku?” tanya Erik. Elang hanya mengalihkan pandangan. Ada kebimbangan di matanya.
“Shira, apa Pak Hanri sudah mengabarimu?” tanya Erik.
“Tentang apa?”
Erik masih tersenyum dari tadi, tampak begitu ceria, “Mungkin kamu belum membaca pesan dari Pak Hanri. Jadi akan kutunjukkan padamu,” kata Erik mengaktifkan ponselnya. Pesan dari Pak Hanri? Ya, memang ada pesan masuk dari Pak Hanri semalam, tapi aku tidak membukanya khawatir itu adalah perintah selanjutnya untuk proyek mengarangku. Aku sedang menghindari itu.
Erik menunjukkan pesan dari Pak Hanri di ponselnya. Ini terkait hukuman yang kuberikan kepada Danil untuk menulis tentang perasaannya setiap hari minimal satu halaman. Pesan ini diteruskan dari Papa Danil. Sebagian besar foto tulisan tangan Danil hanya terbaca ‘Aku benci kalian!’, ‘Papa mati saja!’, ‘Bawa aku ke neraka!’ Hanya itu-itu saja sejak tiga hari terakhir, ditulis besar sekali memenuhi halaman kertas. Jujur, bukan begini maksudku menulis minimal satu halaman. Ah, dasar!
Barulah tulisan tangan Danil berikutnya bisa disebut surat. Dia mengungkapkan kekesalannya selama ini karena keluarganya yang tidak utuh. Mamanya yang materialistis pergi ketika papanya tersandung masalah. Teman-teman baik yang ia percaya hanya memanfaatkan hartanya sebelum akhirnya Danil memilih pergaulan kotor yang ia nilai jauh lebih tulus dan apa adanya dibandingkan teman-teman munafik sebelumnya. Ia tak mau disalahkan. Menurutnya ia bisa jadi demikian karena tak pernah ada orang baik yang menyelamatkannya. Ia tak percaya orang baik benar-benar ada. Selanjutnya ia mengakui segala kejahatan yang pernah ia lakukan, mencoba bertaruh apakah masih ada orang-orang baik yang bisa menyelamatkannya setelah mengetahui keburukannya.
Tulisan itu berlanjut di halaman berikutnya. Ada banyak coretan dan betapa kusutnya kertas tempat ia menulis, menunjukkan berbagai emosi ikut tumpah ruah dalam surat ini. Danil benar-benar mendaftar segala kebobrokan yang pernah ia lakukan. Memang terlalu mengerikan untuk kuketahui. Tak pernah kubayangkan anak SMA berani melakukan hal-hal seperti ini, tapi akhirnya kutemukan poin yang ingin ditunjukkan Erik kepadaku.
“Kak Danil mengaku bahwa dialah yang menyelundupkan lusinan obat batuk di tasmu untuk sengaja mencemarkan nama baikmu, Lang,” ujarku. Sempat kulihat kedua mata Elang melebar. Kutunjukkan pesan itu kepadanya. Ia membacanya sesaat, kemudian masih dengan wajah uring-uringan, Elang mengembalikan ponsel Erik lalu pergi. Erik sempat menahannya.
“Lang, kembalilah ke tim pengawas. Sebelum Danil mengaku pun kami tidak pernah percaya kalau kamu melakukannya,” pinta Erik. Garis rahang Elang masih mengeras, ia tak berani menoleh. Egonya belum juga runtuh. Ia hanya mendengus, melempar tatapan singkat yang bisa kuterjemahkan ‘tidak’.
Erik membiarkan Elang pergi sambil menghela napas, pundaknya terlihat turun.
“Sudahlah, mungkin dia merasa malu dan bersalah karena tuduhannya kepadamu tidak terbukti,” jawabku.
Ah, mungkin aku juga merasa seperti itu.
“Terserahlah, tapi tolong ya, Ra! Bujuk dia agar kembali bergabung di tim pengawas. Jika kamu yang memintanya dia pasti mau,” pinta Erik. Aku terkekeh pelan.
“Kau pikir aku bisa bicara seajaib apa agar dia mau menurutiku?”
“Entahlah, pokoknya Elang harus tetap ada di tim pengawas agar bisa menolong lebih banyak orang,” kata Erik sedikit tak kupahami.
“Ketika membaca surat Danil aku tak bisa menahan tawa. Aku segera menghubunginya dan menerima taruhan yang ia katakan di surat itu,” kata Erik lagi. Taruhan yang ... oh, Danil bertaruh apakah masih ada orang baik yang menyelamatkannya setelah ia diketahui sebobrok itu.
“Aku berani bertaruh akulah yang menang karena telah melalui apa yang dirasakan Danil. Asal kau tahu, aku dulu bagian dari gengnya, berlatar belakang kondisi keluarga dan sosial yang sama. Saat itu apa yang ada di pikiranku ya? Berkelakuan nakal, putus asa, melarikan diri dari masalah dengan membiarkan diri sendiri jatuh sedalam-dalamnya. Sama sekali tidak malu melakukan itu semua. Syukurlah seseorang segera mencidukku, memberi tahu cara ‘memprotes’ keadaan dengan cara yang lebih keren. Ia tak hanya memberiku kesempatan kedua, tapi juga menerimaku sebagai teman meski tahu aku hanyalah sampah. Itulah yang kusebut terselamatkan dan begitulah rasanya diselamatkan, Ra! Aku ingin Danil juga diselamatkan dengan orang yang sama. Bagaimanapun Elang tetap harus ada di tim karena hanya dia yang bisa menyelamatkan orang-orang seperti aku yang dulu, menyelamatkan orang-orang seperti Danil,” terang Erik panjang lebar.
Aku tak bisa menahan senyum. Seseorang di posisi jiwa hitam yang merasa amat berdosa itu tak pernah sadar bahwa seseorang merasa terselamatkan karenanya. Erik begitu berharap, tapi Elang pernah bilang bahwa ia tetap bisa memburu kejahatan meski di luar tim pengawas. Sayang sekali!
__ADS_1
.Bersambung.