
Seandainya boleh, aku ingin bergabung main lempar tangkap dengan dua bocah di depanku. Bagai pinang dibelah dua, mereka tidak bisa dibedakan satu sama lain. Rambut hitam, perawakan, mata, hidung, bibir, semuanya benar-benar sama! Sekilas pasangan saudara kembar itu seperti main tendang adu penalti, tapi terkadang dilempar dengan tangan, disundul, menggunakan berbagai cara. Entah permainan apa itu. Anak-anak ini sepertinya tak peduli nama permainan yang mereka mainkan. Aku sendiri masih ingat prinsipku saat masih kecil dulu, main apa pun, yang penting senang.
“Sakti, kayu-kayu yang kita jemur sudah kering. Ayo bantu Ayah memasukkannya kembali ke peti!” seru laki-laki dewasa menghampiri keduanya.
“Baiklah!” jawab salah satu anak tetap ceria meski acara main-mainnya terinterupsi, “kau tunggu dulu ya, Sekti! Atau kau mau bantu juga?”
“Ya! Aku juga membantu ....”
“Tidak, kamu tetap di sini!” jawab ayah mereka tegas, lanjut memerintah yang dipanggil Sakti meninggalkan mereka berdua.
“Kamu tidak ingat siapa yang lupa menutup peti hingga kayu-kayu kita kehujanan kemarin?”
Satu anak yang tetap tinggal itu menunduk, “Gara-gara Sekti, Yah! Maaf.”
“Berapa kali kamu selau teledor, hah? Tak ada kapoknya! Hukuman apa lagi yang bisa membuatmu jera mengulangi kesalahan?!”
“Sekti tidak ingin dihukum ....”
__ADS_1
“Makanya jangan berbuat salah!”
“Sekti ingin belajar dari kakak!”
“Kamu? Menjadi seperti Sakti? Setelah berjemur seharian di sini! Jangan masuk rumah atau berteduh sampai kepalamu benar-benar ingat rasa sakit karena berbuat keteledoran! Hanya dengan begitu kau bisa belajar hal baru, mengerti?!”
Aku mematung demi menonton keduanya. Ini seperti cerita sinetron di televisi ketika salah satu ada yang dianak-tirikan. Tak peduli berulang kali pernah melihat yang seperti itu, aku tetap sedih menyaksikan yang tersuguh di depan mataku. Anak laki-laki yang dipanggil Sekti ini hanya menurut, tetap tinggal di bawah terpaan terik matahari, berjongkok sambil menggores-gores tanah dengan telunjuknya, menyembunyikan kesedihan.
Sesaat kemudian ayahnya menyalak dari kejauhan, memerintahnya agar berdiri. Lagi-lagi bocah ini menurut. Aku jadi ingin memeluknya dan aku pun berhasil memeluknya. Ia begitu dingin dan kosong, siap diisi segala macam bisik iri dengki padahal ia terlalu belia untuk mengenal hal semacam itu.
Beberapa saat kemudian baru kusadari dia hilang dalam pelukku. Hanya udara kosong yang kurengkuh, tampak konyol berdiri dengan kedua lutut karena menyejajarkan tinggi dengan anak tadi.
Suara bariton itu membuatku menegakkan leher. Lagi, seseorang berpakaian semacam cosplay film-film berlatar kerajaan berdiri di hadapanku.
“Negeri Putih sedang dalam ancaman! Hanya kekuatan Yang Mulia yang dipercaya rakyat untuk meredakan huru-hara! Demi peradaban ribuan tahun yang telah dibangun leluhur kita, kembalilah bersama kami, Putri ...!”
Aku masih tercekat di tempat. Tak ingat berapa kali pernah didatangi orang ini dalam mimpi, dengan penampilan yang sama, dengan kata-kata yang sama, aku masih tak juga mengerti yang ia bicarakan. Pertanyaan dalam benakku juga masih sama. Siap dia? Datang dari mana? Apa dia sedang bicara denganku?
__ADS_1
Uluran tangan orang itu tepat di hadapanku ketika aku masih menatapnya tak mengerti. Ia mengangguk mengisyaratkanku agar meraihnya, tetapi ketidak-tahuan –dan kekhawatiran– membuatku masih saja bergeming. Kenapa aku harus ikut dengannya? Tidak, dia salah orang! Aku juga tahu ini mimpi tidak penting yang terus berulang-ulang!
Bagaimana ini?
Bocah berwajah ceria yang tadi tiba-tiba muncul dan memelukku dari belakang.
“Tetaplah pada kebaikan yang kau yakini!” bisiknya di telingaku terdengar nyata.
Terlalu nyata, aku seolah tak asing dengan kata-kata itu.
.Bersambung.
Tesstess! Halo? Ada orang? Yak, episode ini dibuat demi dapet THR dari Noveltoon awokwkwkwk :v Dapet sungguhankah? Iyakah? Tak tahulah!
Intinya, sekuel Kelabu masih dalam tahap bikin kerangkanya, tapi agak keteteran sebab author lagi bikin novel baru –judulnya Humanized yang viewers-nya nggak naik-naik :'v Siapa tahu nanti kalo popularitas Humanized lebih dari dua ribu, author bisa lanjutin Kelabu dengan tenang hzhzhzhz.
Yuk, favoritin dulu Humanized-nya^^ Masih seputar fantasi-petualangan, tapi lagi coba kubumbuin sama romansa, eaaak :v
__ADS_1
Oh ya, sekalian karena besok udah Idul Fitri, author mau minta maaf lahir dan batin, udah jelas aku tuh banyak salah yah, heheh. Stay safe di mana pun pembaca sekalian, jaga kesehatan, tetep dilancarkan rezekinya. Semoga temen-temen sekeluarga tetep dilindungi Tuhan. Aamiiin.
Sekian dulu, see ya! :*