Kelabu

Kelabu
#S2 Episode 6


__ADS_3

“AKU TIDAK SUKA TEMPAT TINGGI!!!” jeritku ketika binatang tunggangan kami terus menanjak bergerak ke atas, menantang langit.


“Sebentar lagi Yang Mulia akan menyukainya,” jawab Luska yang tak bisa kulihat wajahnya, tapi aku yakin ada senyum kemenangan menyebalkan terulas di sana.


Darahku berdesir demi menetralkan adrenalin. Sekali kepak sayap terakhir melesatkan kami menembus naungan awan. Telingaku sempat berdenging bersamaan dengan sensasi sejuk embun dan kristal es bertabur di wajahku. Berikutnya udara yang kuhirup lebih kering daripada beberapa waktu lalu. Makhluk terbang tunggangan kami menutup sayapnya, menapakkan keempat kakinya di daratan putih yang solid.


“Selamat datang di Alba, Negeri Putih, tanah leluhur kita!” kata Luska bersamaan dengan kubuka mataku perlahan. Gapura raksasa menyambut penglihatanku, membingkai pemandangan susunan gedung kotak-kotak di kejauhan serta bangunan paling megah dan tinggi seperti kastel. Tanah –atau awan– yang kami pijak melepaskan kabut asap rendah setinggi betis, benar-benar memberi kesan bahwa negeri ini sama sekali tidak di permukaan bumi.


Beberapa orang mengenakan pakaian serupa dengan Luska, tapi lebih sedikit corak tanpa jubah bermotif benang emas berdiri di sekitar gapura, dipersenjatai dengan tombak dan busur panah di punggung mereka. Menyadari kedatangan kami berdua, mereka segera bersimpuh memberi hormat. Begitu juga makhluk campuran kuda dan garuda yang tampak lebih garang dengan bulu sepenuhnya hitam dan mata bengis berwarna merah, turut merendah menundukkan kepalanya ketika tunggangan kami lewat.


“Mereka adalah prajurit penjaga perbatasan. Karena ini adalah unit ibukota, penjagaannya lebih ketat. Biasanya tentara garang dan binatang pengawas mereka perlu menginterogasi dan memeriksa ini itu demi protokol keamanan, tapi tentu saja hal seperti itu tidak berlaku bagi kita,” jelas Luska.


“Kenapa?”


“Yang Mulia masih bertanya kenapa? Memangnya itu perlu dilakukan pada penguasa baru Negeri Putih? Ah, sepertinya Anda memang tidak biasa berada di tempat dan kedudukan yang tinggi, tapi mulai sekarang ... terbiasalah!”


Dahiku semakin berkerut dipenuhi berbagai tanda tanya. Sebelum aku mulai menanyakan alasan Luska memanggilku Yang Mulia juga kata-katanya yang berulang kali menyebutku penguasa baru atau apalah itu, suara berdesing terdengar mendekat. Beberapa benda terbang seukuran lalat yang tak teramati jelas olehku merendah di sekitar kepala kami.


“Zzzz ... terkonfirmasi, Kesatria Muda Luska berhasil menjemput Yang Mulia pewaris sah takhta kepemimpinan!”


“Terkonfirmasi ... zzz ... Tanda bukti garis keturunan bangsawan Negeri Putih teramati, cocok dengan sumber resmi yang dirilis dari menara berita.”


“Zzzz ... Meneruskan informasi ke Balai Warta ... Zzzz ... perintah mengumpulkan informasi diterima!”


Aku hanya terbengong-bengong menyimak benda-benda bernada monoton yang berulang kali ber-zzz ini. Sesaat kemudian bunyi desing mereka lenyap, terbang lebih senyap dengan lampu merah berkedip lambat.


“Balai Warta dan seluruh penjuru negeri, saat ini kita terhubung dengan Kesatria Muda Luska,” kata salah satu benda itu kali ini dengan suara lebih berintonasi, “Silakan keterangan Anda, Kesatria Muda ....”


Sayang sekali, suara perempuan yang enak didengar dari benda itu terpotong ketika binatang tunggangan kami melengkingkan suaranya, mengusir benda-benda terbang tadi.


“Kami baru saja sampai. Yang Mulia butuh banyak penyesuaian dengan lingkungan kita,” tegas Luska, “jadi, dimohon pengertiannya untuk tidak langsung menyerbu kami seperti ini. Perkembangan informasi bisa diakses dari menara berita Kastel Alba. Petugas kami akan selalu memperbarui informasi tiap enam jam. Sekarang silakan bubar!”


“Dimengerti, Kesatria Muda Luska. Kami akan terus memantau perkembangannya. Segenap kru Balai Warta mengucapkan selamat datang kepada Yang Mulia! Kehadiran Anda menjadi harapan ....”


Lagi-lagi suara itu terpotong saat Luska mengisyaratkan tunggangan kami melebarkan sayapnya, menciptakan angin yang mengempas benda-benda terbang tadi.


“Sudah kubilang jangan mengganggu!” gerutu laki-laki di belakangku ini.


“Tadi itu apa?” tanyaku penasaran.


“Kamera pengumpul informasi dari Balai Warta. Mereka satu-satunya organisasi media pendistribusi berita dan informasi di unit ibukota.”


“Oh? Semacam wartawan? Jurnalis?”


“Hm, anggap saja demikian.”

__ADS_1


“Wah, sudah tidak menggunakan manusia? Tadi itu menggunakan teknologi apa?”


“Yang Mulia, ada banyak hal yang lebih layak untuk memuaskan rasa penasaran Anda. Kami telah menyiapkan tur eksklusif setelah Yang Mulia beristirahat dan bertatap muka dengan Tubuh Dewan Internal pemerintah. Di sanalah penjelasan panjang untuk Anda terbayar lunas,” jawab Luska kembali memacu kecepatan tunggangan kami.


“Ah, baiklah!” jawabku mengencangkan pegangan, mempertahankan posisiku tetap stabil di atas laju makhluk ini yang membelah angin, mendekati pusat keramaian di sekitar situs paling besar dan ikonis di tempat ini, Kastel Alba, istanaku, kata Luska.


 ***


Muntah, itu satu-satunya hal yang kulakukan setibanya memijakkan kaki di pelataran ruang aula Kastel Alba. Aku tak sempat melihat berubahnya suasana keramaian yang menyambutku dengan suka cita menjadi penuh cemas dan risau demi melihatku, Yang Mulia yang mereka elu-elukan berjalan sempoyongan seperti orang mabuk.


Fakta menggelikan, perjalanan udara dengan perlawanan penuhku mengatasi ketinggian sama sekali tidak berefek apa-apa dibandingkan perjalanan darat dua kilo meter yang ... ugh, ditempuh dalam dua menit. Itu sama sekali tidak lebih cepat dibandingkan Ardian yang terkenal ugal-ugalan dengan motor setannya, tapi jangan bandingkan dengan motor di jalanan stabil, ini kuda –kuda setengah garuda lebih tepatnya– dan merupakan pengalaman pertamaku. Jelas-jelas aku tidak terbiasa.


“Aku semakin yakin otakmu tertinggal di Nigra, Luska,” kata seorang laki-laki paruh baya kulihat menuruni undakan, menghampiri kami.


“Kepla Dewan ....”


“Harusnya Yang Mulia dijemput dengan cara yang lebih baik, tapi kau sudah menghilang pagi-pagi buta dan memutuskan penjemputan dengan paxii polosmu ini?”


“Yang Mulia kita bukan orang yang tergila-gila dengan emas atau kehormatan. Aku khawatir sesuatu yang berlebihan membuatnya tidak nyaman,” jawab Luska.


“Kenyataannya Yang Mulia sangat-sangat tidak nyaman dengan perjalanan ke mari yang kaurencanakan!”


“Itu karena paxii tidak bisa terbang di atas unit awan kita.”


Tak lama kemudian sepasang gadis muda keluar dari dalam, salah satunya mendorong sesuatu semacam kursi roda atau entah apa, aku tak peduli!


“Bawa Yang Mulia ke kamarnya! Pastikan Beliau mendapat layanan terbaik dan istirahat yang cukup.”


“Baik, Tuan,” jawab mereka bersamaan, mengambil alih penangananku dari Luska.


Kenyamanan segera menguasaiku hanya karena aku berbaring di atasnya. Mataku segera terpejam demi mengusir pening, membuatku tak sempat melihat interior Kastel Alba selama diantar menuju kamarku.


*** 


Aku terbangun setelah matahari tergelincir. Wah, sepertinya fasilitas prima yang kudapatkan membuatku menjadi semakin patut digelari sebagai tukang tidur. Sungguh melebihi ekspektasi, kamar yang kutempati begitu lega dengan ranjang kelewat besar dihias berbagai pernak-pernik benda yang mustahil bakal kumiliki sebelumnya –mutiara dan kristal permata misalnya. Sepertinya benda-benda itu terlalu mubazir bila hanya untuk menjadi roncean tirai di sekeliling ranjangku.


Segera beranjak dari tempat yang membuatku terlihat seperti boneka di tengah gumpalan kapas, kujelajah seisi ruangan yang tampaknya memungkinkan untuk menyelenggarakan pertandingan futsal di dalam sini. Ya, terlalu luas untuk ditempati satu orang, amat berlebihan bagi gadis yang biasa menghuni kamar sempit dan semakin dijejali buku –hei, apa kabar kamarku di sana?– tapi aku bukannya tidak senang berada di sini, senang sekali malah.


Kepalaku sedari tadi berusaha mengenali aroma segar yang kusuka, tapi tak kunjung berhasil. Aroma itu bersinergi dengan kesan sejuk yang mendamaikan. Bukan seperti dinginnya ruangan ber-AC yang membuat asmaku kambuh, sensasi sejuk ini seperti ketika pertama kali membuka tenda pagi-pagi saat berkemah di alam terbuka, sangat natural.


Di kamarku yang normal dan berantakan dengan buku saja aku bisa tahan tidur siang menyambung tidur sore hingga berjam-jam apalagi di tempat seperti ini, tapi jujur aku kangen rumah. Sedikit berharap dalam hati aku bisa segera kembali ke sana setelah mimpi indah ini. Mimpi? Iyalah, hanya mimpi! Begitulah yang kupercaya. Ini bukan kisah Sofia The First yang seperti dalam lagunya ‘dalam semalam menjadi putri' lalala ... aku tidak hafal lanjutannya.


Salah satu gadis muda yang mengantarku ke mari tadi menegurku ketika aku berdiri di depan jendela, terkesima menyaksikan negeri di atas awan dengan kesibukan penduduknya berlalu lalang di antara permukaan berkabut yang mereka pijak. Bagaiamana mereka bisa membangun peradaban demikian mengagumkannya? Namun, betapa pun merasa senang, kesadaran penuh masih tersimpan di akal sehatku. Ini hanyalah tempat asing. Rumahku bukan di sini, ceoat atau lambat aku harus segera kembali.


“Sudah saatnya makan siang, Yang Mulia. Kami telah berusaha menghidangkan sajian terbaik,” ujarnya sopan, mendorong semacam kotak berisi beragam jenis makanan yang sama sekali asing bagiku. Alisku berkerut bukan karena tidak cocok dengan makanan ini –ya kan memang belum kucoba.

__ADS_1


“Apa ini penghinaan?” tanyaku segera membuat gadis yang sepertinya pelayan di tempat ini memasang raut ketakutan.


“A ... ampum, Yang Mulia! Saya tidak sadar telah berbuat kesalahan!”


“Kau pikir aku si rakus yang harus diberi makan sebanyak ini?!”


“Maaf, saya tidak bermaksud demikian.”


“Kalau begitu bantu aku menghabiskannya, jika perlu ajak juga temanmu. Semua ini tetap tidak akan habis hanya dimakan berdua,” ujarku segera membuat pelayan ini salah tingkah.


“Ta ... tapi, mana bisa seperti itu?! Saya ...”


“Oh, membantah?”


“Bu ... bukan, Yang Mulia! Sa ... saya tidak terlalu terhormat untuk berkesempatan makan bersama Anda,” cicitnya pelan. Aku hanya menghela napas panjang.


“Asal kau tahu, Nona! Aku terlalu terkejut tiba-tiba mendapat semua perlakuan istimewa ini. Dua malam lalu aku hanya gadis biasa yang susah tidur dihantui berbagai stres dan masalah anak muda. Kau mengerti perasaanku ‘kan? Aku sama-sama mengira tidak begitu terhormat untuk mendapat semua ini. Jadi, yang kubutuhkan hanya penjelasan sebelum banyak mendapat keuntungan dari tempat ini, paham?” jelasku.


“Maaf, Yang Mulia! Saya tidak memahami perintah Anda.”


“Aku ingin menemui Luska atau siapa pun yang bisa memberiku penjelasan. Hanya itu!”


“Konferensi Tubuh Dewan Internal dan tur eksklusif Anda terjadwal satu jam lagi. Saat ini semua orang yang ingin Yang Mulia temui masih mempersiapkan segala sesuatunya,” jawab gadis ini, “saya ditugaskan membantu Yang Mulia menyiapkan diri sebelum itu semua dimulai.”


Menggaruk kepala sebal, aku sudah tak tahan diulur-ulur seperti ini. Sialan! Kepalaku kembali berdenyut pening. Aku tak sempat mendengar ketukan di pintu. Seseorang masuk setelah pelayan membukakannya.


“Saya datang memeriksa, Yang Mulia,” kata laki-laki yang membuatku dongkol sejak kemunculannya di mimpiku, “sepertinya kondisi Anda tidak semakin membaik. Apa ada sesuatu yang salah?”


“Kau yang salah! Semua ini salahmu!” jawabku semakin uring-uringan, “kau datang dalam hidupku tanpa permisi dan menculikku ke mari! Kriminal sekali!”


Luska malah tersenyum yang hanya menambah kejengkelanku, “Saya pikir Yang Mulia akan senang karena diculik untuk dijadikan ratu negeri ini. Itu adalah impian liar tiap gadis yang tidak sembarangan terwujud.”


“Apa negeri ini sudah kekurangan gadis berimajinasi liar yang lebih layak untuk dijadikan ratu hingga kau harus repot-repot menculikku?”


“Yang Mulia ... jawaban pertanyaan itu menunggu Anda di ruang konferensi. Segeralah bersiap!”


“Aku sudah sangat siap saat ini juga!”


“Tidak terlalu! Pelayan, lakukan tugasmu!” perintah Luska sebelum meninggalkan ruangan.


Geregetan, aku berharap tangan kosongku sempat meninjunya yang sudah jauh nyaris menghilang di balik pintu. Ternyata betulan kena! Luska mengaduh sambil mengelus belakang kepalanya.


“Pukulan yang bagus!” komentarnya melempar cengiran sumber kedongkolanku. Ah, tinjuan jarak jauh mungkin varian lain dari teknik telekinesis. Yah, lain kali aku harus berhati-hati dengan kekuatanku!


.Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2